Aplikasi ”Laut Nusantara” Mudahkan Nelayan Tangkap Ikan


IMG_7233

Wayan Kartika (45), nelayan asal Perancak, Jembrana, Bali, biasanya menangkap ikan di perairan Tabanan, sekitar 17 kilometer dari kampungnya.

”Sudah bertahun-tahun saya melaut. Seperti nelayan lainnya, saya hanya menebak-nebak lokasi ikan berkumpul. Tapi, setelah saya mengunduh aplikasi Laut Nusantara, saya mengetahui persis lokasi untuk menangkap ikan,” kata Wayan.

Setelah menggunakan aplikasi Laut Nusantara, lanjut Wayan, jumlah ikan yang didapatnya meningkat dua kali lipat, dari 5-10 kilogram menjadi sekitar 20 kilogram.

Hal senada disampaikan Mispandi, nelayan Air Kuning. ”Nelayan menikmati teknologi. Berkat aplikasi ini, kami lebih mudah mendapatkan ikan,” katanya, beberapa waktu lalu.

IMG_7286.jpg

Aplikasi Laut Nusantara diciptakan untuk membantu nelayan kecil perseorangan yang selama ini mengandalkan tangkapan untuk menopang kehidupan keluarga mereka sehari-hari.

Aplikasi ini hasil kolaborasi antara Balai Riset dan Observasi Laut (BROL), Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta perusahaan telekomunikasi PT XL Axiata Tbk.

”Selain memuat informasi tentang lokasi ikan di lautan, aplikasi ini memberi informasi tentang kondisi cuaca. Ini sangat bermanfaat dan menjadi panduan bagi nelayan,” kata Kepala BROL Dr I Nyoman Radiarta, MSc di Jembrana.

Sampai pertengahan September, sudah 1.500 orang yang mengunduh aplikasi Laut Nusantara dan sebagian besar nelayan. Saat ini, aplikasi ini baru tersedia untuk sistem operasi Android. Karena sistem iOS lebih rumit dan membutuhkan verifikasi dari Apple, pengguna ponsel iPhone masih harus bersabar menunggu.

Penyuka olahraga memancing juga bisa memanfaatkan aplikasi ini. Yang ingin memakai aplikasi ini bisa mengunduhnya di tautan https://play.google.com/store/apps/details?id=com.klik.lautnusantara.

IMG_7162

Aplikasi Laut Nusantara memiliki basis data perikanan yang lengkap. Informasi tentang daerah penangkapan ikan, misalnya, meliputi sebaran ikan dan potensinya, data tentang cuaca (arah angin, kecepatan angin, curah hujan, kondisi cuaca, dan tinggi gelombang pada koordinat tertentu), serta status untuk melaut, apakah aman, waspada, atau bahaya.

Informasi arah gelombang di perairan di seluruh Indonesia dan ketinggiannya diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Demikian pula informasi tentang arah angin di perairan Indonesia.

Aplikasi ini juga memuat informasi ”Lapor Tangkapan”. Nelayan dapat melaporkan tangkapannya ke dinas dan pihak terkait, jenis ikan yang didapat, serta berat (dalam kilogram) ikan yang ditangkap. Nelayan juga dapat mengecek nama-nama ikan dalam bahasa daerah serta bahasa Inggris dan Latin.

Nelayan makin terbantu karena dengan aplikasi ini bisa mengetahui informasi harga ikan di sejumlah pelabuhan. Data harga ikan diperoleh dari Pusat Informasi Pelabuhan Perikanan pada Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Melalui aplikasi ini, nelayan juga memperoleh informasi tentang prakiraan harga bahan bakar minyak (BBM), termasuk simulasi prakiraan BBM yang dibutuhkan nelayan jika menuju lokasi tertentu dan simulasi biaya yang harus dikeluarkan untuk menuju lokasi tertentu.

Aplikasi Laut Nusantara diciptakan PT XL Axiata Tbk sebagai upaya membantu meningkatkan kesejahteraan nelayan.

”Aplikasi ini dibuat dalam waktu lima bulan. Ini merupakan aplikasi kedua XL setelah m-Fish. Perbedaannya, aplikasi Laut Nusantara memiliki basis informasi yang lebih lengkap, real time, dan mendapat pasokan data resmi dari BROL yang akurasinya tidak diragukan lagi,” tutur Direktur Teknologi XL Axiata Yessie D Yosetya.

Dari sisi pelanggan, XL pada kuartal kedua 2018 menempati posisi kedua setelah Telkomsel, yaitu 52,9 juta. ”Dari jumlah ini, 79 persen merupakan pelanggan layanan data,” kata Group Head Corporate Communication XL Axiata Tri Wahyuningsih.

Aplikasi ini bisa digunakan nelayan ketika melaut sejauh ponsel mereka masih bisa menangkap sinyal data dari operator. Hasil uji coba di sejumlah daerah, aplikasi ini masih bisa dibuka sampai jarak 10 mil dari pantai. Jarak ini dianggap relevan untuk nelayan kecil karena daya jangkau perahu jukung dan perahu tradisional kecil lainnya rata-rata kurang dari 20 mil dari pantai.

Berawal dari survei
Pembuatan aplikasi ini berawal dari survei yang dibuat XL di sejumlah komunitas nelayan di beberapa daerah. Survei ini untuk mengetahui kebutuhan nelayan atas informasi seputar kegiatan penangkapan ikan.

”Banyak nelayan kecil yang modal melaut pas-pasan, kapasitas hasil tangkapnya kecil, tetapi risiko yang mereka hadapi sama besar dengan nelayan besar. Mereka bertaruh dalam mencari ikan dan mengeluarkan BBM yang dibutuhkan. Berangkat dari fakta inilah, muncul ide untuk mengubah budaya mencari ikan melalui inovasi digital,” ujar Tjetjep Witjahjono, Social Innovation Project PT XL Axiata Tbk.

Dari luas total Indonesia 7,81 juta kilometer persegi, luas lautan Indonesia mencapai 5,8 juta kilometer persegi dan sisanya daratan. Namun, sebagian besar produk domestik bruto (PDB) Indonesia berasal dari kontinental. ”Laut hanya menyumbang 3,89 persen,” ucap Kepala BRSDM Kelautan dan Perikanan Prof Ir R Sjarief Widjaja, PhD FRINA.

Laut merupakan ”raksasa” yang sedang tidur. Jika dikembangkan secara maksimal, laut dapat menyumbang PDB lebih besar. Nelayan-nelayan Indonesia harus diberdayakan agar tangkapan ikan lebih banyak dan pada gilirannya kesejahteraan mereka meningkat.

Aplikasi Laut Nusantara merupakan satu langkah untuk mewujudkan cita-cita itu. Inilah saatnya di era digital, nelayan menikmati kekayaan laut Indonesia. (ROBERT ADHI KSP)

SUMBER: RUBRIK GAWAI, HARIAN KOMPAS, SELASA 18 SEPTEMBER 2018

Iklan