Lupa Membangun Transportasi Massal


ROBERT ADHI KSP
Mobil murah ramah lingkungan seharga seratusan juta yang diproduksi Toyota, Daihatsu, dan Honda, pekan lalu, diluncurkan. Menurut Menteri Perindustrian Mohammad S Hidayat, pemerintah memberikan kesempatan kepada rakyat kecil untuk memiliki mobil murah.

Pernyataan Menperin itu mendapat reaksi dari sejumlah pihak. Salah satunya dari Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, yang mengingatkan bahwa Jakarta bakal bertambah macet dengan kehadiran mobil-mobil murah tersebut.

Kita garis bawahi pernyataan Joko Widodo. Kemacetan lalu lintas di Jakarta saat ini sudah sangat parah. Hampir setiap saat Jakarta dilanda kemacetan. Ini tidak mengherankan karena jumlah kendaraan bermotor yang terdaftar di Samsat DKI Jakarta sampai Januari 2013 tercatat 13,3 juta unit, terdiri dari 2,5 juta mobil dan 9,8 juta sepeda motor. Sisanya mobil beban dan bus.

Sangat wajar apabila Joko Widodo mencemaskan kondisi lalu lintas Ibu Kota. Sekarang saja Jakarta sudah macet, apalagi jika makin banyak mobil baru berseliweran. Bukan mustahil suatu saat lalu lintas Jakarta stagnan.

Banyak yang mempertanyakan mengapa pemerintah tidak berpihak kepada transportasi massal. Angkutan cepat massal (mass rapid transit/MRT) dan monorel yang sudah direncanakan sejak lebih dari 20 tahun silam belum juga terealisasi.

Bus transjakarta belum menjangkau seluruh wilayah Jakarta, layanannya pun belum memuaskan. Sementara KRL commuter lineyang menjangkau wilayah Jabodetabek—saat ini menjadi salah satu alat transportasi alternatif bagi warga—masih menghadapi sejumlah persoalan, antara lain kurangnya jumlah kereta dan jadwal yang terbatas. KRL terlalu padat pada jam-jam sibuk sehingga layanannya masih jauh dari nyaman.

Namun, melarang masuknya mobil murah pun kurang tepat selama mobil masih menjadi simbol kemakmuran kelas menengah. Pertumbuhan kelas menengah di Indonesia, menurut McKinsey Global Institute, diperkirakan melesat dari 45 juta pada 2012 menjadi 135 juta pada 2030.

Kelompok kelas menengah adalah segmen paling konsumtif dalam membelanjakan uang, termasuk untuk produk otomotif. Jumlah mobil yang terjual selama tahun 2012 mencapai 1,1 juta unit. Kondisi ini konsekuensi logis dari pertumbuhan kelas menengah di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Yang patut kita pertanyakan adalah mengapa pemerintah selama ini mengabaikan pembangunan infrastruktur yang mendukung pertumbuhan kelas menengah.

Penjualan mobil yang relatif tinggi tidak diimbangi dengan pertambahan jalan dan pembangunan transportasi massal. Ibaratnya, pertumbuhan jalan seperti deret hitung, sementara pertumbuhan kendaraan bermotor seperti deret ukur. Tidak seimbang!

Tidak sedikit orang membeli mobil karena tak punya pilihan. Belum ada transportasi massal yang nyaman, yang menghubungkan kantor dengan kawasan sekitar perumahan. Karena itu, pemerintah harus membuktikan komitmennya menyelesaikan pembangunan MRT dan monorel secepat mungkin, serta membangun jalan baru di seputar Jabodetabek sesegera mungkin.

robert.adhiksp@kompas.com

SUMBER: SUDUT PANDANG – KOMPAS SIANG, SENIN 16 SEPTEMBER 2013

 

© 2013, PT. Kompas Media Nusantara.

Iklan