Arsip Kategori: Kerusuhan

Arsip Kompas: Jakarta Membara dan Soeharto Siap Mundur


Mei 1998. Jakarta dilanda kerusuhan massa, masyarakat berkabung (atas kematian empat mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta, akibat luka tembak), rupiah melunglai, Indeks Harga Saham Gabungan anjlok, dan Presiden Soeharto siap mundur. Empat berita yang dimuat di harian Kompas, Kamis, 14 Mei 1998 ini, memiliki korelasi yang erat. Penembakan empat mahasiswa Trisakti, 12 Mei, memicu aksi kerusuhan massa yang lebih luas, yang akhirnya menyebabkan rupiah melunglai dan IHSG anjlok. Kondisi dalam negeri yang memburuk itu memaksa Presiden Soeharto mempersingkat kunjungannya di Mesir dan menyampaikan pernyataan bahwa dirinya siap mundur setelah berkuasa selama 32 tahun.

“Kalau memang rakyat tidak lagi menghendaki saya sebagai Presiden, saya siap mundur. Saya tidak akan mempertahankan kedudukan dengan kekuatan senjata. Saya akan mengundurkan diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Esa dan dengan keluarga, anak-anak dan cucu-cucu. Tetapi, semua itu harus dilakukan secara konstitusional. Kalau ada yang ingin melakukannya secara inkonstitusional, itu berarti mengkhianati Pancasila dan UUD 1945,” kata Presiden Soeharto dalam acara temu muka dengan masyarakat Indonesia di Mesir, sehari sebelumnya. Hal itu terungkap dalam berita berjudul “Kalau Rakyat Tak Lagi Menghendakinya, Presiden Siap Mundur” yang ditulis wartawan Kompas, J Osdar dan Musthafa Abd Rahman, dari Kairo, Mesir.

Arsip Kompas Jakarta Membara

Soeharto membantah informasi yang menyebutkan dia dan keluarganya menguasai hasil kekayaan Indonesia, juga informasi yang menyebut dia orang terkaya keempat di dunia setelah Ratu Inggris Elizabeth II, Raja Arab Saudi Fahd, dan Sultan Brunei Hassanal Bolkiah. Soeharto menyebut informasi-informasi itu fitnah.

Presiden Soeharto waktu itu berada di Mesir menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi G-15 dan mempersingkat kunjungannya. Dia batal melakukan kunjungan kepada Presiden Mesir Hosni Mubarak di Istana Koubbeh. Namun, Mubarak mengunjungi Soeharto di Hotel Sheraton Heliopolis.

Pernyataan Soeharto ditanggapi Ketua MPR/DPR Harmoko, seperti dimuat Kompas, 15 Mei 1998, “Pimpinan MPR Adakan Rapim Segera”. DPR, kata Harmoko, segera membahas pernyataan Presiden Soeharto yang disampaikan di Mesir. DPR akan membahasnya dalam Rapat Pimpinan MPR. Pada hari yang sama, pimpinan DPR menerima para praktisi hukum yang dipimpin Adnan Buyung Nasution yang meminta MPR segera menggelar sidang istimewa. “Kalau dalam keadaan normal, kita memang harus memakai mekanisme sesuai Tata Tertib MPR. Tapi, kalau sudah begini, siapa yang bisa menjamin pembakaran-pembakaran akan berhenti. Karena itu harus secepatnya,” ucap Adnan Buyung Nasution.

Dalam berita di hari yang sama berjudul “Para Tokoh Bentuk Majelis Amanat Rakyat, Siap Pimpin Bangsa secara Kolektif” disebutkan, sedikitnya 50 tokoh nasional di Jakarta, Kamis, 14 Mei 1998, membentuk kelompok pro demokrasi bernama Majelis Amanat Rakyat (MAR). Itu merupakan wadah kerja sama berbagai organisasi dan perorangan yang memiliki komitmen terhadap reformasi untuk demokrasi. MAR dibentuk setelah mereka melihat perkembangan di Indonesia yang makin memprihatinkan menyusul kemarahan massa terhadap pemerintah.

Ada tiga tuntutan MAR. Pertama, menyerukan kepada Presiden Soeharto untuk mengundurkan diri dengan kebesaran jiwa dan kehormatan demi kepentingan bangsa agar seluruh proses reformasi untuk demokrasi dapat berjalan dengan lancar dan damai. Kedua, menyerukan kepada aparat keamanan untuk menghindarkan diri dari segala bentuk penggunaan kekerasan kepada rakyat sehingga keadaan yang lebih buruk dapat dicegah. Ketiga, mengimbau mahasiswa, generasi muda, dan rakyat pada umumnya untuk sungguh-sungguh dan secepatnya menciptakan perubahan situasi yang memungkinkan pemulihan segera kehidupan masyarakat secara wajar.

Lanjutkan membaca Arsip Kompas: Jakarta Membara dan Soeharto Siap Mundur

Iklan

Pembantaian Tiananmen dan Penghapusan Sejarah


tiananmenduper

ROBERT ADHI KSP

PEMBANTAIAN Tiananmen di Beijing, Tiongkok, yang terjadi 25 tahun silam, tak mungkin terhapus dalam sejarah dunia. Pada 4 Juni 1989, tentara Tiongkok membantai ratusan hingga ribuan mahasiswa pro demokrasi pengunjuk rasa yang sudah tujuh pekan mengokupasi kawasan di jantung kota Beijing itu. Apakah anak-anak muda Tiongkok saat ini tetap mengenang peristiwa berdarah itu atau malah sebaliknya, tak paham apa yang terjadi?

Pemerintah Tiongkok merilis angka korban tewas dalam pembantaian Tiananmen itu sebanyak 246 orang. Namun, menurut dokumen Tiananmen Square, 1989: The Declassified History yang diterbitkan lembaga Arsip Keamanan Nasional Universitas Washington, Amerika Serikat, jumlah korban tewas berkisar antara 500 orang dan 2.600 orang.Gerakan pro demokrasi dan pembantaian Tiananmen pada 1989 hingga kini tidak masuk dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah di Tiongkok. Bahkan, gambar dan informasi terkait peristiwa itu tidak dapat ditemukan di internet yang diakses dari seluruh negeri itu.

”Anak-anak muda Tiongkok tak mengerti apa yang telah terjadi pada 1989 dan kini mereka tidak terlalu tertarik membahas peristiwa itu,” kata penulis buku China, The People’s Republic of Amnesia, Louisa Lim.

Di empat sekolah terkemuka di Beijing, dari 100 pelajar, hanya 15 orang yang mengetahui foto ”Tank Man”, foto seorang lelaki berdiri di depan tank-tank berkaitan dengan peristiwa Tiananmen (”Chinese dare recall Tiananmen Square massacre”, USA Today, 1 Juni 2014).

Lanjutkan membaca Pembantaian Tiananmen dan Penghapusan Sejarah

Kekerasan dan Marjinalisasi di Xinjiang


Gambar

ROBERT ADHI KSP

AKSI terorisme terus mengguncang Tiongkok. Serangan terbaru terjadi di pasar terbuka di Distrik Shayibake, Urumqi, ibu kota Xinjiang, Tiongkok barat laut, pada 22 Mei lalu, yang menewaskan 39 orang dan melukai 90 orang lainnya. Mengapa kekerasan makin meningkat di Xinjiang?

Aksi-aksi terorisme di Tiongkok dalam dua tahun terakhir ini memang mencemaskan pemimpin ”Negeri Tirai Bambu” itu. Pada 1 Maret, serangan mematikan terjadi di stasiun kereta di Kunming, yang menewaskan 29 orang. Adapun pada 30 April, ledakan bom di stasiun kereta di Urumqi, menewaskan tiga orang termasuk dua pelaku, serta melukai 79 orang lainnya. Beberapa hari setelahnya, lelaki bersenjata pisau menyerang penumpang di stasiun kereta di Guangzhou, melukai enam orang.

Awal Oktober 2013, sebuah jip menabrak kerumunan orang di Lapangan Tiananmen di Beijing, menewaskan lima orang termasuk pelaku.

Pemerintah Tiongkok meyakini bahwa kelompok teroris Uighur memiliki jaringan yang kuat dengan kelompok teroris di luar negara itu. Otoritas Tiongkok menemukan bukti bahwa pelaku melakukan perjalanan ke Afganistan.

Meredupnya perang di Afganistan diduga merupakan salah satu pemicu utama meningkatnya aksi terorisme di daerah otonomi khusus Xinjiang, yang wilayahnya berbatasan dengan Afganistan. Tentara Amerika Serikat dan pasukan NATO meninggalkan Afganistan untuk mengakhiri perang di negeri itu. Para pejuang Afganistan diduga mengalihkan ”perang” ke Xinjiang.

Lanjutkan membaca Kekerasan dan Marjinalisasi di Xinjiang

Serangan Mematikan di Kunming


Kunming

ROBERT ADHI KSP

China diguncang teror lagi. Sekelompok orang bertopeng dan berpakaian hitam menggunakan pisau besar menyerang para penumpang di stasiun kereta api di Kunming, kota di barat daya China, yang selama ini populer sebagai destinasi wisata. Serangan yang terjadi pada Sabtu (1/3) pukul 21.20 waktu setempat, selama 12 menit, itu menewaskan sedikitnya 29 orang dan melukai lebih dari 130 orang. Siapa pelaku serangan itu?

Pemerintah China menyebut serangan di stasiun kereta di Kunming, yang sudah direncanakan secara matang, itu sebagai serangan teroris. Kantor berita resmi China, Xin Hua, melukiskan, serangan Kunming mirip ”serangan lain 11 September di China” dan merupakan ”kejahatan atas kemanusiaan”.

Lanjutkan membaca Serangan Mematikan di Kunming

Maduro dan Pemerintahan Sosialis Venezuela


Gambar

ROBERT ADHI KSP

Suhu politik di Venezuela meninggi. Negeri sosialis di Amerika Latin itu bergolak. Sedikitnya 10 orang tewas dan 100 orang lainnya luka-luka dalam aksi unjuk rasa, akhir-akhir ini. Demo anti pemerintah itu mengancam kekuasaan Presiden Nicolas Maduro. Mungkinkah demo tersebut mengakhiri pemerintahan sosialis Venezuela?

Pekan lalu, Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengusir tiga diplomat Amerika Serikat. Maduro menuduh Amerika Serikat memihak mahasiswa pengunjuk rasa. Maduro juga mencabut izin peliputan tujuh jurnalis CNN pada Jumat (21/2). Jurnalis CNN diminta angkat kaki dari negara tersebut. Sebelumnya Maduro mencabut kanal TV Kolombia NTN24 dari layanan televisi kabel di negara itu.

Lanjutkan membaca Maduro dan Pemerintahan Sosialis Venezuela

Singapura Rusuh!


singapura

ROBERT ADHI KSP

Singapura dilanda kerusuhan. Peristiwa ini berawal ketika pada hari Minggu (8/12) pukul 21.23 waktu setempat, sebuah bus swasta menabrak seorang pekerja asing berkebangsaan India hingga tewas di persimpangan Race Course Road dan Hampshire Road di kawasan Little India.

Lanjutkan membaca Singapura Rusuh!

Thailand Diguncang Demo


Image

ROBERT ADHI KSP

Thailand diguncang demonstrasi lagi. Puluhan ribu orang menuntut Perdana Menteri Yingluck Shinawatra mundur. Pendemo menyerbu gedung-gedung pemerintahan. Polisi melepaskan tembakan. Sedikitnya empat orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Yingluck diungsikan ke suatu tempat.

Akar persoalan gonjang-ganjing politik Thailand saat ini adalah Thaksin Shinawatra. Nama mantan Perdana Menteri Thailand ini mendominasi situasi politik negeri itu lebih dari satu dekade meski kini ia dalam pengasingan pasca-kejatuhannya setelah dikudeta pada 2006.Penggulingan Thaksin memicu gelombang protes pada 2010. Pendukung Thaksin berkaus merah menduduki kota Bangkok, menuntut Thaksin kembali.

Lanjutkan membaca Thailand Diguncang Demo

Writing is the Painting of the Voice

%d blogger menyukai ini: