Arsip Kategori: Internasional

Teori Konspirasi dalam Kematian Putri Diana


oleh ROBERT ADHI KSP

 

Diana1
Putri Diana dan Pangeran Charles saat menikah pada 29 Juli 1981. DOKUMENTASI HARIAN KOMPAS

 

Sabtu, 30 Agustus 1997, malam. Putri Diana (36) dan kekasih barunya, Dodi al-Fayed (41), putra Mohammad al-Fayed—pengusaha Inggris berdarah Mesir—menikmati makan malam dalam kamar suite berinterior suasana abad ke-18 di Imperial Suite di Hotel Ritz Paris, Perancis.

Diana dan Dodi baru saja tiba di Paris setelah berlibur di Pulau Sardinia, Italia. Diana dan kekasihnya menghabiskan satu minggu di atas kapal pesiar mewah sepanjang 60 meter bernama ”Jonikal” yang berlayar di pesisir Pantai Emerald di Pulau Sardinia. Kapal pesiar mewah itu milik Mohammad al-Fayed. Jonikal berkali-kali berhasil menghindari para paparazi yang mengejarnya. Diana tampak kecewa karena dia diburu seperti itu. Suasana hati Diana tegang. Diana memberi tahu Dodi bahwa dia ingin ke Paris ”sesegera mungkin”.

Diana dan Dodi baru saja tiba di Paris setelah berlibur di Pulau Sardinia, Italia. Diana dan kekasihnya menghabiskan satu minggu di atas kapal pesiar mewah sepanjang 60 meter bernama Jonikal yang berlayar di pesisir Pantai Emerald di Pulau Sardinia.

Dalam hitungan jam, pesawat Gulfstream-IV mendarat di bandara pribadi Sardinia. Jet pribadi itu kemudian terbang dari Sardinia menuju bandara Le Bourget, sekitar 16 kilometer sebelah utara Paris.

Henri Paul, pelaksana tugas kepala keamanan Hotel Ritz Paris, menjemput mereka di bandara Le Bourget, lalu membawa mereka ke Hotel Ritz yang berlokasi di Place Vendome No 15. Hotel yang dibangun tahun 1898 oleh pengusaha hotel asal Swiss, Cesar Ritz, dan berkolaborasi dengan chef asal Perancis, Auguste Escoffier, itu dibeli oleh Mohammad al-Fayed pada tahun 1979 yang kemudian merenovasinya.

Pada tahun 1997, Mohammad al-Fayed (tahun 2017 ini berusia 88 tahun) adalah pemilik department store Harrods di Knightsbridge, London. (Harrods dijual Mohammad al-Fayed pada 2010 ke perusahaan Qatar dengan nilai 2,4 miliar dollar AS.)

Pukul 23.45, Mohammad al-Fayed menelepon Henri Paul. ”Kamu harus menyopiri mobil itu hati-hati. Kamu tidak boleh lupa, nyawa ibu calon raja Inggris dan putra tercinta saya ada di tanganmu. Saya percaya kamu tidak akan melupakan itu. Hanya Tuhan yang tahu betapa saya memercayaimu,” kata Al-Fayed.

Pukul 23.50, pengawal Diana dan Dodi, Trevor Rees-Jones, berada di dalam bar Ritz bersama staf keamanan hotel lainnya dan Henri Paul. Mereka mendiskusikan rute mana yang akan diambil. Paul sangat optimistis. ”Hotel akan menyediakan dua Range Rover untuk menipu para paparazi. Tipuan ini akan memberi Paul cukup waktu untuk meloloskan dari kejaran paparazi. ”Kendengarannya bagus,” kata Rees-Jones.

Minggu, 31 Agustus 1997, pukul 00.15. Henri Paul di lobi hotel menggunakan ponselnya untuk menggerakkan dua kendaraan tipuan. Empat menit kemudian, dua Range Rover itu keluar dari Place Vendrome di depan Ritz dan melaju kencang. Sejumlah paparazi tergoda untuk mengejar dua mobil itu.

Pukul 00.20, di pintu belakang Hotel Ritz, Henri Paul tiba dengan Mercedes dan menjemput Diana dan Dodi. Dua sejoli itu naik Mercedes S-280 yang disopiri Henri Paul. Mobil itu melaju di jalan-jalan di kota Paris, berusaha menghindari kejaran para paparazi yang masih menunggu di sekitar hotel.

Pukul 00.22, sebuah Fiat Uno warna putih melintasi lampu pengatur lalu lintas (traffic light) di Place de la Concorde. Paul menghentikan Mercedes di traffic light itu.

Lanjutkan membaca Teori Konspirasi dalam Kematian Putri Diana

Iklan

Richard Nixon, Presiden Pertama AS yang Mundur karena Skandal


Jumat, 9 Agustus 1974. Richard Milhous Nixon (saat itu berusia 61 tahun) mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden ke-37 Amerika Serikat. Nixon merupakan presiden pertama AS yang mengundurkan diri dalam sejarah 185 tahun lembaga kepresidenan AS.

Berita mundurnya Nixon menjadi berita utama harian Kompas, Sabtu, 10 Agustus 1974, dengan judul ”Nixon Mundur – Gerald Ford Dilantik jadi Presiden ke-38 AS”.

Halaman muka Harian Kompas Sabtu 10 Agustus 1974
Halaman muka Harian Kompas Sabtu 10 Agustus 1974. ARSIP HARIAN KOMPAS

Richard Nixon lahir di Yorba Linda, California, 9 Januari 1913, menyelesaikan pendidikan hukum di Duke University School of Law pada 1937. Nixon memulai karier politiknya sejak tahun 1946 di Califonia ketika dia merebut kursi Kongres dari Jerry Voorhis. Generasi tahun 1940-an melihat dia sebagai tokoh Republik yang sangat antikomunis.

Anak-anak dari generasi tersebut memberikan suara mereka yang pertama dalam pemilihan Presiden Dwight D Eisenhower, saat itu Richard Nixon sebagai wakil presiden. Richard Nixon menjabat wapres pada 20 Januari 1953 hingga 20 Januari 1961, selama dua periode, satu paket dengan Dwight D Eisenhower, yang terpilih lagi sebagai presiden untuk empat tahun kedua.  

Generasi 1960-an melihat Nixon kalah tipis dari John F Kennedy yang terpilih sebagai Presiden AS. Setelah itu, tahun 1962, Nixon kalah lagi dalam perebutan kursi Gubernur California, tempat asal Nixon. 

Kekalahan demi kekalahan yang dialaminya tidak membuat Nixon patah semangat. Akhirnya dalam pemilihan presiden tahun 1968, Richard Nixon menang tipis atas Hubert Humphrey. Nixon menjadi presiden ke-37 AS, menggantikan Lyndon B Johnson. Wakil presiden bagi Richard Nixon pada periode 1969-1973 adalah Spiro Agnew, sedangkan pada periode kedua (sampai 1974) adalah Gerald Ford. 

Dalam masa jabatan pertamanya, Richard Nixon berhasil mengakhiri Perang Vietnam, mengatasi konflik-konflik rasial, dan pergolakan mahasiswa di dalam negeri, serta mengekang inflasi. Nixon berkunjung ke Moskwa dan Peking (Beijing) untuk membuka era baru hubungan Timur dan Barat.

Dalam pemilihan presiden berikutnya tahun 1972, Richard Nixon terpilih kembali sebagai Presiden AS dengan kemenangan mutlak, merebut kemenangan di 49 negara bagian dari 50 negara bagian di AS.

Lanjutkan membaca Richard Nixon, Presiden Pertama AS yang Mundur karena Skandal

Raja Arab Saudi Faisal Bertamu ke Indonesia pada Juni 1970


Kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz al-Saud ke Indonesia pada 1-9 Maret 2017 menarik perhatian khalayak. Ini merupakan kali kedua Raja Arab Saudi berkunjung ke Indonesia. Sebelumnya, pada 10-12 Juni 1970 atau 47 tahun yang lalu, Raja Arab Saudi Faisal bin Abdul Aziz pernah melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia.

 

11-06-1970-raja-arab
Berita Harian “Kompas” Kamis 11 Juni 1970 berjudul “Raja Faisal Tiba di Jakarta”

 

Harian Kompas, Senin, 8 Juni 1970, mengabarkan, Raja Faisal kelahiran Riyadh yang berusia 65 tahun itu juga menjabat menteri luar negeri. Faisal diangkat ayahnya, Raja Arab (saat itu) Abdul Aziz, pada 1929 ketika mengubah direktorat urusan luar negeri menjadi kementerian luar negeri. Beberapa kali Faisal memimpin misi ke luar negeri, menghadiri konferensi dan pertemuan internasional. Faisal ke Bahrain dan kota-kota di Eropa sebagai Utusan Raja Abdul Azis. Faisal ikut dalam proses pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan menandatangani pernyataan bersama untuk membentuk PBB di San Francisco (Amerika Serikat) pada 1945, serta hadir dalam sidang yang membahas rencana Piagam PBB.

Faisal mengunjungi AS pada 1937 atas undangan Presiden AS Franklin Delano Roosevelt, menghadiri Konferensi Menteri-menteri Luar Negeri Negara-negara Arab yang diselenggarakan di Kairo, Mesir.

Kunjungan Raja Arab Faisal ke Indonesia pada Juni 1970 untuk memperat hubungan persahabatan kedua negara. Menteri Luar Negeri Indonesia Adam Malik, seperti dikutip harian Kompas, Rabu, 10 Juni 1970, mengatakan, Raja Faisal membicarakan masalah Arab-Israel, hubungan ekonomi-perdagangan Indonesia-Arab Saudi, dan masalah haji. Menurut Adam Malik, kunjungan Raja Faisal tidak dapat dipisahkan dari hasil Konferensi Islam di Jeddah sebelumnya.

Lanjutkan membaca Raja Arab Saudi Faisal Bertamu ke Indonesia pada Juni 1970

Berkunjung ke Markas Besar Interpol di Lyon


Tahun 2016 ini, Indonesia menjadi tuan rumah Sidang Umum Interpol pada saat Kepala Kepolisian RI dijabat oleh Jenderal Polisi Tito Karnavian. Tapi jangan lupa, Mayjen (sekarang Irjen) Purnawirawan I Gusti Made Putera Astaman sejak tahun 1990-an sudah memperjuangkan agar Indonesia menjadi tuan rumah Sidang Interpol. 

LYON. Kota di timur Perancis ini berada di antara Paris dan Marseille, 470 km dari Paris dan 320 km dari Marseille. Kota ini menjadi tujuan kami sepulang mengikuti  Sidang Umum Interpol di Dakar, Senegal, November 1992. Dari Stasiun Gare de Lyon di Paris, kami naik TGV, kereta api tercepat di dunia saat itu, menuju Lyon. TGV, Train a Grande Vitesse atau kereta api supercepat itu melayani rute Paris-Lyon sudah sejak tahun 1981 dengan kecepatan 320 km per jam. 

1992: Kunjungan ke Markas Besar ICPO-Interpol di Lyon, Perancis, dipimpin Deops Kapolri Mayjen Pol IGM Putera Astaman. FOTO DOK KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Di kota Lyon inilah, ICPO-Interpol mengendalikan semua aktivitas yang berkaitan dengan kejahatan internasional dan lintas batas. Semua daftar pencarian orang atau DPO di berbagai negara dikirim ke markas besar Interpol di Lyon. Kunjungan ke Markas Besar Interpol di Lyon merupakan ide Pak Putera Astaman, yang memimpin delegasi Indonesia dalam Sidang Umum ICPO-Interpol di Dakar, Senegal. Sebelumnya Pak Putera Astaman sudah berkomunikasi dengan Sekjen Interpol Raymond E Kendall dan staf Sekretariat Jenderal Interpol, M Chomorro. Markas besar Interpol seluas 14.500 meter persegi yang berlokasi di daerah Quai Achille Lignon itu mulai dibangun Juli 1987 dan diresmikan Presiden Perancis Francois Mitterand pada 27 November 1989. Sebelumnya markas Interpol berada di Saint Cloud, Paris, yang ditempati sejak 1966. Pembangunan gedung baru itu menelan biaya 29.978.724 franc Swiss.

Sebelumnya, markas besar Interpol berlokasi di Vienna, Austria. Kongres kedua International Criminal Police Congress yang digelar di Vienna tahun 1923, menetapkan ibu kota Austria itu sebagai markas besar ICPC. Kemudian pada masa Perang Dunia II, tahun 1946, Paris ditetapkan sebagai markas besar ICPC dan akronim Interpol mulai digunakan. Tahun 1956, ICPC berubah menjadi ICPO (International Criminal Police Organization) hingga sekarang.

1992: Markas Besar ICPO-Interpol di Lyon, Perancis. FOTO: DOKUMENTASI KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Lanjutkan membaca Berkunjung ke Markas Besar Interpol di Lyon

Meliput Sidang Interpol di Senegal


Tahun 1992 merupakan tahun yang penuh pengalaman luar biasa bagi saya. Meliput tiga konferensi internasional, mulai dari Konferensi ASEANAPOL di Brunei Darussalam bulan Agustus, meliput Konferensi Gerakan Non-Blok di Jakarta bulan September, hingga meliput Sidang Umum ICPO-Interpol di Dakar, Senegal, Afrika Barat, 4-10 November 1992.

Kali ini saya menulis laporan dari Senegal, yang menjadi tuan rumah Sidang Umum ke-61 ICPO-Interpol. Senegal, bekas koloni Perancis, adalah sebuah negara di Afrika Barat. Luasnya 196.722 km persegi, berbatasan dengan Samudera Atlantik di sebelah barat, Mauritania di sebelah utara, Mali di sebelah timur, Guinea-Bissau di sebelah selatan. Nama Senegal diambil dari Sungai Senegal yang mengalir di perbatasan timur ke utara.

Senegal pada abad ke-9 merupakan bagian dari Kerajaan Takrur dan pada abad ke-13 dan 14 menjadi wilayah Kerajaan Djolof. Pada pertengahan abad ke-15, Portugis mendarat di pantai Senegal, disusul Perancis. Pengaruh Perancis terasa sangat kuat, bahkan setelah negeri ini merdeka tahun 1960.

Dakar, ibu kota Senegal, berada di semenanjung Cap-Vert di tepi Samudera Atlantik. Luas kota hanya 82,38km persegi, namun digabung dengan kawasan sekitarnya, luasnya menjadi 574 km2 (kurang sedikit dari luas Kota Jakarta).  Dakar merupakan pusat pertemuan dua peradaban Afrika dan Eropa, titik pertemuan budaya tradisional dan modern. Pada abad ke-17 dan 18, kota ini menjadi pusat perdagangan. Pedagang dari sejumlah kerajaan penjajah datang dan membangun pos di sepanjang pantai yang menghadap Samudera Atlantik.  

Di kota yang berabad-abad lalu sibuk dengan perbudakan inilah, Sidang Umum Interpol digelar.  Pada waktu itu peserta Sidang Umum ke-61 Interpol menginap di Hotel Le Meridien President (sekarang hotel bintang lima yang memiliki pemandangan luas ke Samudera Atlantik itu berubah nama menjadi Hotel King Fahd Palace).   Jika ditilik dari namanya, hotel itu dulu milik jaringan Perancis Le Meridien, sekarang tampaknya sudah berubah milik Arab Saudi.

1992: Delegasi Indonesia dalam Sidang Umum Interpol di Dakar, Senegal, November 1992. Foto di depan KBRI di Dakar, Senegal. Dari kiri ke kanan Drs M, Chariri (Kasubdit Intel Ditjen Bea dan Cukai), Kolonel Drs Ismet Ibrahim (Sekretaris Direktorat Reserse Polri), Mayjen Drs Aji Komaruddin (Kapolda Jawa Tengah), Duta Besar RI untuk Senegal, ketua delegasi Mayjen Drs IGM Putera Astaman (Deputi Kapolri bidang Operasi),  Sutardi SH (pejabat Biro Hukum Bank Indonesia),   Kolonel Drs Suharyono (Kepala Sekretariat NCB-Interpol) dan saya wartawan Kompas Robert Adhi Ksp, paling kanan. FOTO: DOKUMENTASI KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Lanjutkan membaca Meliput Sidang Interpol di Senegal

Gelombang Ledakan Bom di Thailand dan Pengolakan Politik Pasca Referendum


Kamis (11/8/2016) malam, Mark Gainsford, warga negara Inggris sedang menikmati bir di sebuah bar di kawasan night life di kota Hua Hin, kota resort di Teluk Thailand, Provinsi Prachuap Khiri Khan. Tiba-tiba dia mendengar teriakan orang-orang, “bom, bom.” Mark berlari keluar dan mendekati lokasi ledakan. “Saya melihat delapan sampai sepuluh orang tergeletak di jalan. Polisi sangat cepat tiba di lokasi,” ungkap Mark kepada BBC.

Ledakan itu terjadi di kawasan night life yang populer, di luar bar yang menjual bir di Soi Bintabat, di dekat persimpangan Fah Pah di kota Hua Hin. Kawasan ini dikenal sebagai kawasan kehidupan malam yang dikunjungi orang asing dan orang Thailand. Banyak bar yang menjual bir dan toko-toko yang buka hingga larut malam dan menarik wisatawan asing.

Dua ledakan bom di Hua Hin Kamis malam itu menewaskan satu perempuan dan melukai 21 orang lainnya, tiga di antaranya dalam kondisi kritis. Sembilan korban di antaranya wisatawan mancanegara, termasuk dari Inggris, Jerman, Italia, dan Austria.

Menurut polisi, dua bom disembunyikan di dalam pot tanaman dalam jarak 50 meter, dan diledakkan secara terpisah melalui ponsel pada pukul 22.00 dan pukul 22.20 waktu Thailand. Bom kedua meledak 20 menit setelah bom pertama. Semua korban akibat ledakan bom kedua adalah mereka yang berkumpul di sekitar area ledakan pertama.

Kepala Kepolisian Kota Hua Hin, Kolonel Pol Sutthichai Srisopacharoenrat mengungkapkan, ledakan pertama terjadi di dekat pedagang makanan di depan bar yang menjual bir. Pedagang makanan ini mengalami luka parah dan akhirnya meninggal dunia setelah dibawa ke rumah sakit.

Jumlah korban ledakan bom ini diperkirakan bertambah. Serpihan bom yang dikumpulkan sebagai barang bukti mengindikasikan bahwa ledakan bom itu direncanakan untuk membunuh dan menyebabkan banyak korban jiwa.

Bom-bom itu meledak selang 20 menit, merusak libur panjang warga Thailand yang merayakan Hari Ulang Tahun ke-84 Ratu Sirikit, istri Raja Bhumibol Adulyadej .

Lanjutkan membaca Gelombang Ledakan Bom di Thailand dan Pengolakan Politik Pasca Referendum

Serangan Simbolik di Normandia


ROBERT ADHI KSP

Saint-Etienne-du-Rouvray, Selasa, 26 Juli 2016. Pastor Jacques Hamel yang berusia 84 tahun memimpin misa pagi di Gereja Gambetta di kota kecil Saint-Etienne-du-Rouvray, yang masuk wilayah Keuskupan Rouen di wilayah Normandia, sebelah utara Perancis. Saat misa berlangsung, tiba-tiba pada pukul 09.43 waktu setempat, dua lelaki tak dikenal bersenjata pisau memasuki gereja tua itu dari pintu belakang.

Misa terhenti. Kedua lelaki ini lalu menyandera Pastor Jacques Hamel, dua biarawati, dan dua umat yang hadir dalam misa itu. Teriakan histeris terdengar di dalam gereja.

”Dua lelaki itu memaksa pastor Hamel berlutut. Pastor Hamel berusaha membela diri. Saat itulah lelaki itu meneriakkan kata-kata dalam bahasa Arab dan menikam leher imam Katolik itu,” kata Suster Danielle, biarawati yang lolos dari penyanderaan. Lelaki lainnya menikam leher seorang umat yang kondisinya kini antara hidup dan mati. ”Mereka merekam aksi mereka sendiri. Mereka berkhotbah dalam bahasa Arab di sekitar altar. Sungguh mengerikan,” ujar Suster Danielle kepada TV Perancis, BFM.

Suster Danielle yang melarikan diri dari gereja itu membunyikan alarm tanda bahaya. Dalam waktu 20 menit, dua brigade polisi antiteror Perancis yang mengenakan rompi antipeluru dan bersenjata lengkap tiba di lokasi kejadian.

Seorang warga setempat yang sedang berjalan dan bermaksud berbelanja dihentikan polisi dan diminta untuk kembali ke rumah. Kota kecil Saint-Etienne-du-Rouvray berjarak tempuh 1,5 jam dengan mobil dari kota Paris.

”Pasukan antiteror menembak mati dua teroris tersebut,” kata pejabat Kementerian Dalam Negeri Perancis kepada BFM.

Pemimpin tertinggi umat Katolik dunia Paus Fransiskus mengekspresikan ”rasa sakitnya” akibat serangan teroris yang menewaskan seorang imam Katolik dan melukai tiga orang lainnya dalam penyanderaan di dalam gereja. Paus sedang berada di Polandia menghadiri Hari Kaum Muda Sedunia bersama dua juta anak muda Katolik dari seluruh dunia.

Lanjutkan membaca Serangan Simbolik di Normandia

Serangan dalam Kereta di Wuerzburg dan Kebijakan Merkel soal Pengungsi


ROBERT ADHI KSP

Kereta malam melaju dari kota Treuchtlingen menuju kota Wuerzburg di Bavaria, Jerman, Senin, 18 Juli 2016. Kereta itu sudah berjalan hampir dua jam sejauh 140 kilometer di jalur yang dibangun sejak satu setengah abad silam. Waktu menunjukkan pukul 21.15 ketika kereta itu mendekati stasiun terakhir di kota Wuerzburg di selatan Jerman.

Tiba-tiba seorang remaja membawa kapak dan pisau berdiri di antara penumpang. Remaja itu secara membabi-buta mengayunkan kapak dan pisau ke sejumlah penumpang kereta. Para penumpang berteriak histeris ketika kapak yang diayunkan remaja itu melukai sejumlah penumpang kereta.

 

Wuerzburg Jerman Juni 2013
Suasana kota Wuerzburg, Jerman. Foto diambil Juni 2013. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

 

Seorang saksi mata kepada DPA News melukiskan, suasana di kereta tampak seperti suasana “jagal”. Darah menggenangi lantai kereta itu. Dia melihat penumpang merangkak meminta pertolongan, sementara penumpang lain tergeletak di lantai kereta.

Empat penumpang kereta yang merupakan satu keluarga dari Hongkong luka-luka, dua di antaranya dalam kondisi kritis.

Setelah melukai empat penumpang, lalu menarik rem darurat, remaja itu berusaha melarikan diri ke arah kota Heidingsfeld.

Namun, berkat laporan yang cepat disampaikan ke pihak berwajib, satu unit polisi khusus yang kebetulan berada di sekitar lokasi kereta langsung memburu remaja itu. Polisi menembak tewas remaja itu setelah berusaha menyerang seorang perempuan dan seorang polisi.

Pemimpin Hongkong Leung Chun-ying mengecam serangan yang melukai empat dari lima anggota keluarga Hongkong yang sedang berlibur di Jerman itu. Wisatawan asal Hongkong itu baru saja mengunjungi kota tua peninggalan Abad Pertengahan, Rothenburg ob der Tauber.

Remaja Afganistan

Penyerang itu seorang remaja Afganistan bernama Muhammed Riayad berusia 17 tahun. Dia datang sendirian ke Jerman dua tahun lalu (2014) sebagai imigran. Sebelumnya, dia mendaftarkan diri sebagai pencari suaka di kota Passau di perbatasan Austria.

Menteri Dalam Negeri Bavaria Joachim Herrmann dalam penjelasan resmi mengungkapkan, remaja Afganistan itu tinggal di Wuerzburg sejak Maret 2016. Setelah mendapatkan akomodasi sebagai pengungsi selama beberapa bulan, ungkap Die Welt, dia pindah dan tinggal bersama keluarga angkat di Ochsenfurt sekitar dua pekan lalu.

Lanjutkan membaca Serangan dalam Kereta di Wuerzburg dan Kebijakan Merkel soal Pengungsi

Malam Berdarah di Kota Nice


ROBERT ADHI KSP

ERIC Drattel dan istrinya sedang menikmati wine di sebuah restoran di kawasan Promenade des Anglais di Nice, kota di tepi Laut Mediterania di selatan Perancis. Pasangan dari Amerika Serikat itu memperpanjang waktu liburan mereka di Perancis setelah menyaksikan final sepakbola Piala Eropa (Euro) di Paris, beberapa hari sebelumnya.

 

nice 03 KSP
Suasana Promenade des Anglais di kota Nice, Perancis selatan pada saat damai. Foto diambil 28 Juni 2015. FOTO: ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

 

 

Kembang api warna-warni menghiasi langit Nice. Ribuan warga kota bercampur-baur dengan wisatawan mancanegara menikmati suasana perayaan Hari Bastille atau Revolusi Perancis, Kamis 14 Juli 2016.

Setelah dentuman suara kembang api selesai, ribuan orang tumpah ke jalan. Tak berapa lama, terdengar teriakan bernada panik di Promenade des Anglais yang penuh dengan lautan manusia. “Tiba-tiba terdengar jeritan dan suara tangis dari orang-orang yang berada di jalan, yang berlarian masuk ke area restoran,” ungkap Eric kepada CNN. Dia melihat arlojinya, pukul 22.45 waktu Nice.

“Ketika pertunjukan kembang api berakhir, kami berjalan menuju Promenade des Anglais. Lalu kami mendengar suara tembakan. Kami berlari ke arah jalan lain dan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Kami berpikir itu suara kembang api dari lokasi lain. Kami berlari karena kami melihat banyak orang di dekat kami juga berlari,” ungkap Celia Delcourt (20), warga kota Nice.

Warga Inggris Kevin Harris berada di teras hotel lantai tiga ketika kerumunan orang di jalan menyaksikan pesta kembang api. Harris lalu kembali ke kamarnya di lantai tujuh. Satu menit kemudian, dia mendengar suara tembakan. Dia keluar ke balkon dan menyaksikan banyak orang bergelimpangan di jalan. “Jumlahnya mungkin dua puluh orang. Saya baru tersadar, ini serangan teroris,” kata Harris.

Saat itu, tak disangka-sangka, sebuah truk melaju dan dikendarai seorang lelaki secara zig-zag di kawasan itu, menyambar puluhan orang di depannya. Beberapa di antara yang ditabrak truk, tubuhnya melayang dan kemudian jatuh ke jalan.

Lebih 100-an orang berlari dan melompat ke bawah dari tepi jalan menuju area pantai, untuk menghindari truk tersebut.

Sekitar pukul 22.45 waktu Nice, menurut The New York Times, truk itu berbelok ke jalan utama dari tepi jalan kecil di sisi rumah sakit anak-anak. Truk itu melaju kencang, menabrak seorang perempuan muslim dan seorang lelaki tak dikenal. Keduanya korban pertama truk tersebut. Setelah menyetir sekitar 700 meter,  setelah melewati restoran Florida Beach di tepi pantai, di depan Centre Universitaire Mediterraneen, truk itu menyambar pejalan kaki lagi. Terdapat tujuh jenazah yang terekam di area ini.

Menjelang pertigaan Promenade des Anglais dan Rue Honore Sauvan, truk itu mulai menabrak kerumunan massa, ungkap seorang saksi mata di restoran Voilier Plage, yang lokasinya di tepi pantai. Di area sekitar restoran itu, terlihat 10 jenazah yang terekam. Truk itu terus melaju melewati restoran Hi Beach dan Neptune Plage di tepi pantai.

Truk itu melaju selama hampir 30 menit, berkecepatan 60 sampai 70 kilometer per jam sepanjang hampir dua kilometer, melindas semua yang ada di depannya, termasuk pohon palem, lampu jalanan, dan sepeda.

Persis di pertigaan di depan Hotel Le Negresco, pengemudi truk mulai melepas tembakan ke arah tiga polisi yang mengejarnya. Polisi-polisi itu membalas tembakan. Di seberang Hotel West End, dari rekaman video hotel terlihat truk itu mulai bergeser dari tempat pejalan kaki menuju jalan.

Di depan Westminster Hotel & Spa, anggota polisi masih menembaki truk tersebut. Di titik ini, di pertigaan Promenade des Anglais dan Rue Meyerbeer di samping Hotel Wesminster, setelah melaju sejauh 1,8 kilometer, pengemudi mempercepat truk itu. Di jalur ini, sedikitnya 20 orang tewas atau terluka.

Polisi-polisi yang mengepungnya dari semua sisi, membalas tembakan itu. Polisi akhirnya menembak mati pengemudi truk itu di depan Casino Du Palais De La Mediterranee, sebelum pertigaan Rue Du Congress. Kepala pengemudi truk tampak menggantung di luar jendela truk.

Polisi masih melepaskan tembakan ke arahnya karena belum yakin pengemudi truk itu sudah tewas. Polisi juga melepaskan tembakan berkali-kali ke semua sisi truk itu karena khawatir pengemudi itu tidak sendirian. Polisi kemudian hati-hati masuk ke dalam truk. Mereka menemukan berbagai jenis senjata dan granat palsu di truk itu, namun tidak menemukan orang lain.

Lanjutkan membaca Malam Berdarah di Kota Nice

Hari Berdarah di Kelab Malam di Orlando


ROBERT ADHI KSP

Kelab malam Pulse yang berlokasi di 1912 South Orange Avenue, dekat Kaley Street, Orlando, Florida, Amerika Serikat, Minggu (12/6/2016) dini hari, ingar-bingar dengan musik berirama Latin. Kelab malam yang menyebut diri sebagai “Hotspot Latin Orlando” itu sedang menggelar pesta kelas atas “Sabtu Latin” yang menampilkan tiga DJ dan pertunjukan midnight.

“Setiap ruangan di kelab malam ini penuh sesak,” kata DeAngelo Scott (30), yang meninggalkan kelab Pulse pukul 01.58.

Seorang lelaki duduk di kelab malam itu sejak pukul 01.00 dinihari, menikmati minuman sendirian. Wajahnya sudah dikenal oleh beberapa pengunjung yang sering ke sana.

Beberapa menit setelah jarum jam menunjukkan angka 2, lelaki itu bangkit dari tempat duduknya, mengeluarkan senjata AR-15, sepucuk pistol, berikut amunisi yang dibawanya, dan mulai melepaskan tembakan secara membabi buta ke arah pengunjung di ruang utama. Dalam sekejap, Pulse yang dikenal sebagai ”kelab malam paling hot bagi para gay di Orlando” itu berubah menjadi lautan darah.

Peluru-peluru beterbangan mengenai 103 orang yang berada di dekat si penembak. Sebanyak 49 orang tewas bersimbah darah, sedangkan 53 korban lain mengalami luka-luka dan kini dirawat di rumah sakit. Ketika peristiwa terjadi, kelab malam itu dipenuhi 320 orang.

Sementara di ruang Patio yang lokasinya di sebelah ruang utama, DJ Ray Rivera (42) sedang memainkan musik reggae ketika suara tembakan terdengar. “Saya pikir suara petasan,” kata Rivera. “Tapi suara itu tak juga reda. Saya melihat banyak orang bergelimpangan di lantai,” ungkapnya.

Seorang pengunjung melihat satu orang membawa senjata dan melepaskan tembakan ke semua arah di dalam kelab malam itu. Saat terdengar rentetan tembakan, para pengunjung bergegas keluar melalui pintu belakang kelab malam, kata seorang saksi mata kepada News 6. Sebagian lagi bersembunyi di kamar mandi kelab malam itu.

Seorang pengunjung kelab malam mendengarkan sekitar 40 tembakan. Pengunjung  lain menyebutkan mendengar sekitar 100 kali tembakan. ”Saya melihat darah di mana-mana,” katanya.

Kepala Kepolisian Orlando John Mina mengatakan, seorang anggota polisi berseragam yang bertugas di kelab malam itu mendengarkan suara tembakan. Dia terlibat baku tembak dengan si penembak yang masuk ke dalam kelab malam dan kemudian menyandera sedikitnya 100 pengunjung.

Seorang saksi mata mengungkapkan, lelaki itu meminta para sandera untuk tidak menelepon ataupun mengirim pesan singkat melalui ponsel. Ketika beberapa sandera tidak mengindahkan perintahnya, lelaki itu meminta semua ponsel dikumpulkan.
“Apakah kalian berkulit hitam?” tanya lelaki itu. Lalu sepasang sandera berkulit hitam menjawab, “Ya”. “Saya tidak punya persoalan dengan kalian orang berkulit hitam,” kata lelaki itu.

Setelah itu, lelaki bersenjata berbicara dengan orang tak dikenal di ponsel -kemungkinan penegak hukum atau stasiun berita, dan mengatakan kepada mereka, “Amerika harus berhenti mengebom NIIS.”

Lelaki itu juga menelepon 911 dan menyatakan kesetiaannya pada NIIS. Tak lama kemudian, dia menelepon seseorang yang dia kenal. Lelaki itu kemudian masuk ke kamar mandi dan melepaskan tembakan. Saksi mata yang mengisahkan ini mengungkapkan, dia dan seorang temannya yang terbaring di antara puluhan jenazah lainnya. Selama tiga jam, keduanya pura-pura sudah meninggal dunia, sampai akhirnya diselamatkan tim penyelamat.

Lelaki itu masuk ke kamar mandi untuk “mencuci tangannya” dan menggunakan pengering, dan menyangka saksi mata yang berkisah ini, sudah tewas.

Satu pesan yang dipublikasikan di laman Facebook Pulse sekitar pukul 03.00 menyebutkan, “Setiap orang diminta keluar dari Pulse dan berlarilah.”

Tiga jam setelah itu, atau sekitar pukul 05.00 menjelang pagi, Mina mengungkapkan, otoritas Orlando mengambil keputusan untuk menyelamatkan para sandera. Satu tim SWAT dikerahkan ke lokasi. Sembilan petugas menggunakan “dua peledak yang dikendalikan” untuk mengalihkan perhatian pelaku. Dalam baku tembak dengan sembilan polisi itulah, pelaku penembakan tersebut tewas. Salah satu polisi terluka. “Tapi, helm polisi menyelamatkan nyawa anggota kami,” kata Mina. Tim SWAT menyelamatkan 30 sandera yang bersembunyi di kamar mandi kelab malam itu.

Lanjutkan membaca Hari Berdarah di Kelab Malam di Orlando