Arsip Kategori: Terorisme

Pembantaian Munich 1972 dan Pembalasan Mossad


oleh ROBERT ADHI KSP

Selasa, 5 September 1972, pukul 04.00 menjelang pagi. Delapan orang bersenjata memanjat pagar dan menyelinap masuk ke perkampungan atlet Olimpiade di Munich (Muenchen), Jerman. Membawa tas besar, mereka menuju lantai empat bangunan di Connollystrasse Nomor 31, tempat atlet dan pelatih laki-laki Israel tinggal.  

Bersenjatakan senapan serbu dan granat, kelompok yang menamakan diri sebagai organisasi Black September, salah satu faksi PLO, itu masuk ke apartemen pertama dan menyandera pelatih dan ofisial Israel, yaitu Yossef Gutfreund, Amitzur Shapira, Kehat Shorr, Andrei Spitzer, Jacov Springer, dan Moshe Weinberg. 

Mereka kemudian masuk ke apartemen lain dan menangkap atlet gulat dan atlet angkat besi Israel, Eliezer Halfin, Yossef Romano, Mark Slavin, David Berger (sarjana hukum blasteran Israel-Amerika), dan Zeev Friedman. 

Kelompok bersenjata itu melepaskan tembakan ketika Romano dan Weinberg berusaha melawan. Kedua orang itu tewas di tempat. Teroris tersebut kemudian menyandera sembilan orang.

ISTIMEWA

Kelompok Black September menyelinap ke perkampungan atlet Olimpiade Munich tahun 1972, membunuh atlet/ofisial Israel, dan menyandera sembilan orang. Kelompok itu kemudian menembak sembilan atlet/ofisial Israel.

Pemimpin kelompok itu, yang dikenal dengan nama Luttif Afif atau nama samaran Issa, berusia 35 tahun, mengajukan sejumlah permintaan, di antaranya agar 234 tahanan yang sebagian besar warga Palestina dibebaskan dari penjara Israel dan dibawa ke negara Arab yang aman. Mereka juga menuntut dua orang lainnya, Andreas Baader dan Ulrike Meinhof, pemimpin kelompok teroris Baader-Meinhof, dibebaskan dari penjara Jerman.  

Pertandingan olahraga dunia di Olimpiade ke-20 di Munich itu dihentikan sementara. Jaringan televisi yang sebelumnya menyiarkan pertandingan olahraga kelas dunia itu langsung beralih melakukan siaran langsung real time aksi terorisme di Munich dan disaksikan sekitar 900 juta orang dari lebih dari 100 negara di seluruh dunia. 

Lanjutkan membaca Pembantaian Munich 1972 dan Pembalasan Mossad

Iklan

Selasa Siang Berdarah di Hotel JW Marriott


Masih Menyala
Ledakan bom di Hotel JW Mariott dan Plaza Mutiara, Jakarta Selatan, 5 Agustus 2003. KOMPAS/ROBERT ADHI KSP

 

ROBERT ADHI KSP

Selasa, 5 Agustus 2003. Restoran Sailendra, restoran buffet di Hotel JW Marriott, setiap jam makan selalu ramai. Pada jam makan siang, banyak kalangan eksekutif yang suka makan di restoran yang menyajikan aneka hidangan lokal dan internasional itu. Bagi kalangan ekspatriat, makan siang di restoran hotel bintang lima itu relatif ”murah” dibandingkan dengan di negeri mereka. Sebab, hanya dengan 15 dollar AS (sekitar Rp 125.000, harga pada tahun 2003) per orang, mereka sudah bisa makan enak dengan pilihan beragam. Restoran ini disukai karena dari balik kaca transparan, pengunjung dapat melihat view lapangan hijau di kawasan Mega Kuningan dengan latar belakang gedung-gedung jangkung.

Sejak dibuka resmi pada September 2001, Hotel JW Marriott, Jakarta, waralaba jaringan hotel pengusaha Amerika, yang dimiliki pengusaha Indonesia, Tan Kian, itu langsung menjadi salah satu primadona bagi kalangan ekspatriat, pebisnis, dan pejabat Indonesia, terutama karena lokasinya strategis, di kawasan segitiga emas Kuningan, Jakarta Selatan.

Beberapa perusahaan asing multinasional yang sebelumnya bekerja sama dengan hotel lain langsung beralih ke Hotel JW Marriott. Hotel ini menawarkan tarif kamar relatif lebih murah dengan tambahan fasilitas antar jemput ke bandara dan ke kantor mereka di sekitar Kuningan. Tak heran jika banyak rapat penting dan pertemuan bisnis digelar di hotel ini. Pada masa normal, tingkat hunian hotel ini 70- 80 persen, sebagian besar ekspatriat dan orang Indonesia yang bekerja di perusahaan asing.

JW Marriott selama ini sering dianggap sebagai hotelnya orang-orang Amerika Serikat. Selain karena waralaba jaringan hotel itu memang milik pengusaha Amerika, juga karena banyak perusahaan Amerika dan perusahaan multinasional memilih hotel ini sebagai basis. Hari Kemerdekaan Amerika Serikat, 4 Juli, misalnya, dirayakan di hotel ini.

Pada hari itu, pegawai restoran cukup sibuk melayani sekitar 200 tamu yang akan menikmati makan siang di restoran yang sejuk dan lapang itu. Di luar hotel, matahari terik menyengat Jakarta. Tak banyak tamu yang lalu lalang di jalan masuk ke lobi yang bentuknya setengah lingkaran itu. Di ujung jalan dekat Plaza Mutiara–yang bersebelahan dengan bangunan Hotel JW Marriott–tampak berderet taksi Silver Bird menunggu penumpang.

Saat itu jam menunjukkan pukul 12.44.10. Suara gelegar disertai guncangan keras membuat orang-orang di dalam hotel itu kaget dan shock. Lampu di Restoran Sailendra berjatuhan. Dinding kaca rontok. Tetamu pun panik, berlarian ke luar. Busy lunch di Sailendra pun berubah menjadi bloody lunch. Sebab, di tempat ini banyak korban yang mengalami cedera berat dan ringan.

Getaran yang keras membuat kaca-kaca kamar di hotel itu hancur berantakan. Kantor Java Musikindo di lantai dua Plaza Mutiara termasuk yang hancur. Adri Subono, pemilik Java Musikindo yang biasanya ada di dalam kantornya, lolos dari maut karena saat ledakan terjadi dia sedang ke kamar kecil.

Kaca-kaca di gedung Menara Rajawali yang juga bersebelahan dengan hotel itu tampak pecah meski tak separah Hotel JW Marriott dan Plaza Mutiara. Di gedung itu sejumlah kedutaan besar asing berkantor, seperti Peru, Denmark, Swedia, Norwegia, dan Finlandia.

Dari sembilan korban (kemudian menjadi 10) yang tewas yang masuk kamar jenazah RSCM dan sudah diidentifikasi, delapan di antaranya ”orang-orang kecil”. Mereka tidak tahu-menahu dengan urusan politik, tetapi harus terkena dampaknya.

Hanya satu korban tewas yang berkebangsaan asing, yaitu Hans Winkelmolen, bankir warga negara Belanda, mantan Presiden Direktur Rabobank Indonesia, yang pada hari naas itu sedang makan siang bersama penggantinya, Antonio Costa, warga negara Kanada.

Makan siang Winkelmolen dan Antonio Costa itu sebetulnya diagendakan bersama Miranda Goeltom, mantan petinggi Bank Indonesia. Namun, karena mobil Miranda terjebak macet di depan Mal Ambassador, di seberang Hotel JW Marriott, Miranda akhirnya lolos dari maut.

 

Periksa Nama
Seorang warga negara asing memeriksa nama-nama korban pasca ledakan bom di Hotel JW Marriott Jakarta Selatan, 5 Agustus 2003. KOMPAS/ROBERT ADHI KSP

 

Lanjutkan membaca Selasa Siang Berdarah di Hotel JW Marriott

Satu Windu Setelah Bom Guncang Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta


 

Ritz KSP1
Hotel Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta Selatan pasca-ledakan bom, 17 Juli 2009. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KSP

 

ROBERT ADHI KSP

Jumat, 17 Juli 2009. Ruang pertemuan Hotel JW Marriott di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan tampak ramai. Para CEO dan pimpinan perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, energi, sumber daya alam, ketenagalistrikan mengadakan breakfast meeting Indonesia Country Programme (ICP) yang digelar CastleAsia. 

CastleAsia adalah penyedia jasa intelijen bisnis. Perusahaan tersebut memberikan informasi dan laporan tentang isu-isu terkini di bidang politik dan ekonomi yang akan dihadapi para pebisnis. Topik yang dikupas hari Jumat itu adalah tentang industri pertambangan dan industri berat. 

Harian Kompas, Sabtu 18 Juli 2009 mewartakan, dalam daftar eksekutif yang hadir dalam breakfast meeting di Hotel JW Marriott terdapat nama Timothy David Mackay, Presiden Direktur Holcim Indonesia, yang termasuk dalam korban tewas; David Potter, Direktur Eksplorasi PT Freeport Indonesia; Adrianto Machribie, Komisaris PT Freeport Indonesia; Kevin Moore, Presiden Direktur Husky Energy; Gary Ford, Presiden Direktur Anadarko Oil; Edward Thiessen dan Pedro Sole, Chief Executive Officer (CEO) Alstom Power; Patrick Foo, CEO AEL Indonesia; Noke Kiroyan, Managing Partner pada Kantor Pengacara Kiroyan and Partners; dan James Castle, CEO CastleAsia.

Adrianto Machribie, salah seorang warga negara Indonesia yang hadir dalam breakfast meeting tersebut dan saat itu menjabat Komisaris dan Senior Adviser untuk Chairman Freeport Mcmoran Copper & Gold. Selebihnya para pimpinan perusahaan dari berbagai kebangsaan, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Belanda, Jerman, Kanada, India, Jepang sampai Norwegia.

Adrie duduk di kursi nomor tiga di meja panjang yang berkapasitas maksimal 24 orang itu. “Saya sengaja memilih tempat duduk di dekat pilar,” kata Adrie dalam percakapan dengan Kompas, beberapa waktu lalu.  Dia mengaku merasa terlindungi bila duduk di dekat tiang atau pilar bila terjadi gempa ataupun ledakan yang menyebabkan gedung runtuh.

Lanjutkan membaca Satu Windu Setelah Bom Guncang Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta

Benarkah Telegram Sarana Komunikasi Kelompok Teroris?


ROBERT ADHI KSP

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengumumkan pemblokiran aplikasi percakapan Telegram karena bermuatan konten negatif, di antaranya propaganda radikalisme, paham kebencian, ajakan merakit bom dan melakukan serangan teror. Sedikitnya ada 17.000 halaman mengandung terorisme dan radikalisme.

Kementerian Komunikasi dan Informatika meminta internet service provider (ISP) memutus akses sebelas domain name system (DNS) milik Telegram, yaitu t.metelegram.metelegram.orgcore.telegram.orgdesktop.telegram.org, venus.web.telegram.org, web.telegram.orgphoto.web.telegram.orgflora.web.telegram.org, dan flora-i.web.telegram.org.Pemblokiran ini menyebabkan layanan Telegram versi web tak bisa diakses lagi melalui komputer.

Rudiantara seperti diwartakan Harian Kompas, Sabtu 15 Juli 2017, sedang mempersiapkan proses penutupan aplikasi Telegram secara menyeluruh di Indonesia, jika Telegram tidak membuat prosedur standar operasi penanganan konten-konten yang melanggar hukum dan perundangundangan di Indonesia. Rudiantara menegaskan, pemblokiran ini langkah untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan bukan untuk memberangus kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia.

Awal Juli lalu, Telegram mengumumkan aplikasi percakapan itu mampu menampung 10.000 anggota, mampu mengirim pesan lebih cepat dibandingkan aplikasi serupa manapun dan dapat mengirim foto, video, dokumen berbagai jenis (doc, zip, mp3, dan sebagainya) sampai 1,5 GB. Jumlah pengguna aktif Telegram di seluruh dunia saat ini mencapai 100 juta, yang mengirim 15 miliar pesan setiap hari. Pengguna baru Telegram yang mendaftar setiap hari sekitar 350.000. Telegram dapat diakses dari perangkat apapun, mulai dari Android, iOS, WindowsPhone, sampai pada platform versi web, macOS, sampai PC, Mac, dan Linux. (Kompas.id, 3 Juli 2017).

 

Aplikasi Telegram

 

Digunakan kelompok teroris

Pertanyaannya, benarkah Telegram kini digunakan oleh kelompok militan untuk berkomunikasi?  Pada Mei 2017  The Huffington Post menulis, seiring langkah media sosial Facebook dan Twitter yang meningkatkan upaya untuk menutup akun-akun pro-NIIS, Telegram malah mengisi kekosongan tersebut. Sejak sekitar tahun 2015, para analis mengatakan terjadi eksodus kalangan ekstremis ke aplikasi dengan privasi dan kebebasan yang lebih baik.

“Kami telah melihat kecenderungan yang benderang atas berkembangnya penggunaan Telegram oleh hampir semua kelompok teroris di seluruh dunia,” kata Gabriel Weimaan, profesor di Universitas Haifa, Israel, dan penulis masalah-masalah ekstremisme di jagat maya.

Telegram kini sudah menjadi salah satu sarana utama kelompok militan NIIS menyebarkan informasi dan mempersatukan para pendukungnya.

Terlihat kecenderungan yang benderang atas berkembangnya penggunaan telegram oleh hampir semua kelompok teroris di seluruh dunia.

Beberapa jam setelah serangan teror mematikan di kota Manchester, Inggris Raya, terjadi serangkaian aktivitas di aplikasi favorit kelompok militan, sebuah layanan pesan terenskripsi yang disebut sebagai Telegram. Bahkan sebelum pihak berwenang menjelaskan ihwal serangan Manchester, para pendukung NIIS membanjiri saluran pribadi dan publik aplikasi tersebut dengan “pesan perayaan”. Telegram menjadi penghubung bagi propaganda NIIS dan sumber bagi kelompok militan itu untuk menyatakan bertanggung jawab.

 

Meningkatnya penggunaaan Telegram sebagai bagian dari strategi komunikasi NIIS dan kelompok teroris lainnya beberapa tahun ini telah menunjukkan bagaimana ekstremisme mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dalam menghadapi upaya pemerintah menutup kehadiran mereka di dunia maya. NIIS telah lama menggunakan platform media sosial untuk menyebarluaskan propaganda dan merekrut pengikut mereka.

Weimaan menjelaskan, umumnya kelompok teror awalnya mengadopsi platform-platform baru di dunia maya, yang dapat mereka eksploitasi. Telegram bekerja seperti WhatsApp (yang kini dimiliki Facebook), menggunakan enskripsi end-to-end untuk melindungi informasi bersama. Perusahaan yang mengoperasikan Telegram mengklaim memiliki lebih dari 100 juta pengguna, dan menawarkan fitur-fitur seperti menghapus sendiri pesan sampai menyediakan ruang privasi yang lebih besar. Para pengguna dapat berkomunikasi secara langsung dalam kelompok pribadi maupun melalui saluran (kanal).

Badan Keamanan Rusia FSB seperti dikutip BBC mengakui, Telegram telah digunakan pelaku bom bunuh diri di St Petersburg yang menewaskan 15 orang, April 2017 lalu.  Pemerintah Rusia mengancam memblokir aplikasi itu karena pemilik dan pengelola Telegram menolak mengizinkan pemerintah mengakses data pengguna.  Kelompok radikal di Perancis dan Timur Tengah juga menggunakan Telegram untuk berkomunikasi.

Aplikasi Telegram dimulai tahun 2013 sebagai sarana untuk menyediakan layanan pesan yang lebih aman. Penciptanya, Pavel Durov berkebangsaan Rusia menyebutkan, aplikasi ini untuk mencegah layanan keamanan Rusia mengakses komunikasi antarpengguna. Durov ini mirip Mark Zuckerbeg, pencipta Facebook.  Durov mulai menonjol pada 2006 setelah menciptakan VKontake, platform media sosial yang lebih populer di Rusia dibandingkan Facebook.

Ketika kebebasan berinternet di Rusia dibatasi dan Pavel Durov ditekan, Durov memutuskan kabur dari Rusia pada 2014 dan menjual sahamnya di perusahaan tersebut dengan nilai ratusan juta dollar AS. Durov kini warga negara St Kitts dan Nevis, negara kecil Kepulauan Karibia yang mendukung privasi online.

Dalam sejumlah wawancara, Durov membantah pendapat yang menyatakan penggunaan Telegram oleh ekstremis dan mengatakan sebagian penggunanya menggunakan aplikasi itu dengan alasan yang sah. Durov menolak permintaan untuk memberi akses bagi pejabat keamanan untuk melacak percakapan di aplikasi tersebut. Meskipun Telegram dimatikan, Durov yakin itu tidak akan menghentikan teroris untuk berkomunikasi satu sama lain.

Meski Durov menolak campur tangan pemerintah dan pembatasan kebebasan di jagat maya, sebenarnya Telegram sudah berupaya menutup 78 kanal pro-NIIS,  menyusul serangan Paris November 2015. Sejak itu, Telegram menutup ratusan kanal pro-NIIS lainnya.

Namun faktanya, Telegram memang gagal mencegah aktivitas kelompok pro-NIIS di aplikasi tersebut dibandingkan Twitter yang berhasil menutup lebih dari 360.000 akun yang mempromosikan terorisme sejak pertengahan 2015 silam.

Pada saat perusahaan media sosial tertinggal menangani masalah ekstremisme di jagat maya, kelompok teroris malah semakin piawai mengubah strategi komunikasi mereka. Teroris kini cepat belajar dan mampu beradaptasi dengan platform baru.

Pergeseran kelompok militan ke Telegram merupakan bagian dari gerakan NIIS menuju aplikasi dengan jaringan pribadi yang lebih luas. Weimaan menyebutkan, pada saat perusahaan media sosial tertinggal menangani masalah ekstremisme di jagat maya, kelompok teroris malah semakin piawai mengubah strategi komunikasi mereka. Teroris kini cepat belajar dan mampu beradaptasi dengan platform baru.

Bulan Juni 2017 lalu, 28 pemimpin Uni Eropa sepakat untuk menekan secara hukum raksasa-raksasa internet seperti Google, Twitter, dan Facebook untuk menghilangkan konten-konten yang diposting kelompok radikal secepatnya dan meminta mereka mendeteksi terorisme di jagat maya.

Melihat fakta-fakta ini, langkah Menteri Kominfo Rudiantara memblokir Telegram memang harus dilihat dari sisi positif, yaitu upaya pemerintah mencegah radikalisme berkembang di negeri ini dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan bukan memberangus kebebasan berekspresi.

SUMBER: KOLOM, KOMPAS.ID, SABTU 15 JULI 2017 

Gelombang Ledakan Bom di Thailand dan Pengolakan Politik Pasca Referendum


Kamis (11/8/2016) malam, Mark Gainsford, warga negara Inggris sedang menikmati bir di sebuah bar di kawasan night life di kota Hua Hin, kota resort di Teluk Thailand, Provinsi Prachuap Khiri Khan. Tiba-tiba dia mendengar teriakan orang-orang, “bom, bom.” Mark berlari keluar dan mendekati lokasi ledakan. “Saya melihat delapan sampai sepuluh orang tergeletak di jalan. Polisi sangat cepat tiba di lokasi,” ungkap Mark kepada BBC.

Ledakan itu terjadi di kawasan night life yang populer, di luar bar yang menjual bir di Soi Bintabat, di dekat persimpangan Fah Pah di kota Hua Hin. Kawasan ini dikenal sebagai kawasan kehidupan malam yang dikunjungi orang asing dan orang Thailand. Banyak bar yang menjual bir dan toko-toko yang buka hingga larut malam dan menarik wisatawan asing.

Dua ledakan bom di Hua Hin Kamis malam itu menewaskan satu perempuan dan melukai 21 orang lainnya, tiga di antaranya dalam kondisi kritis. Sembilan korban di antaranya wisatawan mancanegara, termasuk dari Inggris, Jerman, Italia, dan Austria.

Menurut polisi, dua bom disembunyikan di dalam pot tanaman dalam jarak 50 meter, dan diledakkan secara terpisah melalui ponsel pada pukul 22.00 dan pukul 22.20 waktu Thailand. Bom kedua meledak 20 menit setelah bom pertama. Semua korban akibat ledakan bom kedua adalah mereka yang berkumpul di sekitar area ledakan pertama.

Kepala Kepolisian Kota Hua Hin, Kolonel Pol Sutthichai Srisopacharoenrat mengungkapkan, ledakan pertama terjadi di dekat pedagang makanan di depan bar yang menjual bir. Pedagang makanan ini mengalami luka parah dan akhirnya meninggal dunia setelah dibawa ke rumah sakit.

Jumlah korban ledakan bom ini diperkirakan bertambah. Serpihan bom yang dikumpulkan sebagai barang bukti mengindikasikan bahwa ledakan bom itu direncanakan untuk membunuh dan menyebabkan banyak korban jiwa.

Bom-bom itu meledak selang 20 menit, merusak libur panjang warga Thailand yang merayakan Hari Ulang Tahun ke-84 Ratu Sirikit, istri Raja Bhumibol Adulyadej .

Lanjutkan membaca Gelombang Ledakan Bom di Thailand dan Pengolakan Politik Pasca Referendum

Serangan Simbolik di Normandia


ROBERT ADHI KSP

Saint-Etienne-du-Rouvray, Selasa, 26 Juli 2016. Pastor Jacques Hamel yang berusia 84 tahun memimpin misa pagi di Gereja Gambetta di kota kecil Saint-Etienne-du-Rouvray, yang masuk wilayah Keuskupan Rouen di wilayah Normandia, sebelah utara Perancis. Saat misa berlangsung, tiba-tiba pada pukul 09.43 waktu setempat, dua lelaki tak dikenal bersenjata pisau memasuki gereja tua itu dari pintu belakang.

Misa terhenti. Kedua lelaki ini lalu menyandera Pastor Jacques Hamel, dua biarawati, dan dua umat yang hadir dalam misa itu. Teriakan histeris terdengar di dalam gereja.

”Dua lelaki itu memaksa pastor Hamel berlutut. Pastor Hamel berusaha membela diri. Saat itulah lelaki itu meneriakkan kata-kata dalam bahasa Arab dan menikam leher imam Katolik itu,” kata Suster Danielle, biarawati yang lolos dari penyanderaan. Lelaki lainnya menikam leher seorang umat yang kondisinya kini antara hidup dan mati. ”Mereka merekam aksi mereka sendiri. Mereka berkhotbah dalam bahasa Arab di sekitar altar. Sungguh mengerikan,” ujar Suster Danielle kepada TV Perancis, BFM.

Suster Danielle yang melarikan diri dari gereja itu membunyikan alarm tanda bahaya. Dalam waktu 20 menit, dua brigade polisi antiteror Perancis yang mengenakan rompi antipeluru dan bersenjata lengkap tiba di lokasi kejadian.

Seorang warga setempat yang sedang berjalan dan bermaksud berbelanja dihentikan polisi dan diminta untuk kembali ke rumah. Kota kecil Saint-Etienne-du-Rouvray berjarak tempuh 1,5 jam dengan mobil dari kota Paris.

”Pasukan antiteror menembak mati dua teroris tersebut,” kata pejabat Kementerian Dalam Negeri Perancis kepada BFM.

Pemimpin tertinggi umat Katolik dunia Paus Fransiskus mengekspresikan ”rasa sakitnya” akibat serangan teroris yang menewaskan seorang imam Katolik dan melukai tiga orang lainnya dalam penyanderaan di dalam gereja. Paus sedang berada di Polandia menghadiri Hari Kaum Muda Sedunia bersama dua juta anak muda Katolik dari seluruh dunia.

Lanjutkan membaca Serangan Simbolik di Normandia

Penembakan di Munich, Pengamuk atau Teroris?


ROBERT ADHI KSP

JUMAT 22 Juli 2016. Salah satu akun Facebook milik seorang gadis dengan nama Selina Akim mengajak orang untuk datang ke gerai McDonald’s di seberang mal Olympia Einkaufszentrum pukul 16.00 waktu Munich, menawarkan makanan gratis. “Ayo datang ramai-ramai ke mal Olympia. Saya akan memberi barang (makanan) yang kalian inginkan, dan harganya tidak terlalu mahal.”

Sebelum pukul empat petang, cukup banyak remaja yang sudah ramai berkumpul di gerai McDonald’s , seorang lelaki muda mengenakan pakaian hitam berdiri di area parkir mal yang beratap berteriak, “Saya orang Jerman,” kemudian melepaskan tembakan dari pistol Glock 17 kaliber 9mm, ke arah kerumunan orang. Beberapa orang jatuh. Genangan darah membasahi lantai.

Thomas Salbey (57), yang duduk di balkon apartemennya, sedang menikmati bir ketika dia mendengar suara tembakan dari arah McDonald’s. Salbey melihat ke bawah dan menyaksikan penembak itu berlari. “Saya melemparkan kaleng bir ke arahnya,” ungkap Salbey.

Setelah menembak korbannya di McDonald’s, lelaki bersenjata itu masuk ke dalam mal Olympia.

Leonora (22) yang bekerja di toko Jack and Jones di mal itu bercerita kepada The Telegraph, ketika dia mendengar suara tembakan, dia mendengar rekannya berteriak ‘lari’. Leonora langsung berlari sekuat mungkin melalui pintu belakang. “Saya tidak tahu mengapa saya berlari. Begitu tiba di rumah, saya baru tahu ada korban yang tewas ditembak.”

Lanjutkan membaca Penembakan di Munich, Pengamuk atau Teroris?

Serangan dalam Kereta di Wuerzburg dan Kebijakan Merkel soal Pengungsi


ROBERT ADHI KSP

Kereta malam melaju dari kota Treuchtlingen menuju kota Wuerzburg di Bavaria, Jerman, Senin, 18 Juli 2016. Kereta itu sudah berjalan hampir dua jam sejauh 140 kilometer di jalur yang dibangun sejak satu setengah abad silam. Waktu menunjukkan pukul 21.15 ketika kereta itu mendekati stasiun terakhir di kota Wuerzburg di selatan Jerman.

Tiba-tiba seorang remaja membawa kapak dan pisau berdiri di antara penumpang. Remaja itu secara membabi-buta mengayunkan kapak dan pisau ke sejumlah penumpang kereta. Para penumpang berteriak histeris ketika kapak yang diayunkan remaja itu melukai sejumlah penumpang kereta.

 

Wuerzburg Jerman Juni 2013
Suasana kota Wuerzburg, Jerman. Foto diambil Juni 2013. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

 

Seorang saksi mata kepada DPA News melukiskan, suasana di kereta tampak seperti suasana “jagal”. Darah menggenangi lantai kereta itu. Dia melihat penumpang merangkak meminta pertolongan, sementara penumpang lain tergeletak di lantai kereta.

Empat penumpang kereta yang merupakan satu keluarga dari Hongkong luka-luka, dua di antaranya dalam kondisi kritis.

Setelah melukai empat penumpang, lalu menarik rem darurat, remaja itu berusaha melarikan diri ke arah kota Heidingsfeld.

Namun, berkat laporan yang cepat disampaikan ke pihak berwajib, satu unit polisi khusus yang kebetulan berada di sekitar lokasi kereta langsung memburu remaja itu. Polisi menembak tewas remaja itu setelah berusaha menyerang seorang perempuan dan seorang polisi.

Pemimpin Hongkong Leung Chun-ying mengecam serangan yang melukai empat dari lima anggota keluarga Hongkong yang sedang berlibur di Jerman itu. Wisatawan asal Hongkong itu baru saja mengunjungi kota tua peninggalan Abad Pertengahan, Rothenburg ob der Tauber.

Remaja Afganistan

Penyerang itu seorang remaja Afganistan bernama Muhammed Riayad berusia 17 tahun. Dia datang sendirian ke Jerman dua tahun lalu (2014) sebagai imigran. Sebelumnya, dia mendaftarkan diri sebagai pencari suaka di kota Passau di perbatasan Austria.

Menteri Dalam Negeri Bavaria Joachim Herrmann dalam penjelasan resmi mengungkapkan, remaja Afganistan itu tinggal di Wuerzburg sejak Maret 2016. Setelah mendapatkan akomodasi sebagai pengungsi selama beberapa bulan, ungkap Die Welt, dia pindah dan tinggal bersama keluarga angkat di Ochsenfurt sekitar dua pekan lalu.

Lanjutkan membaca Serangan dalam Kereta di Wuerzburg dan Kebijakan Merkel soal Pengungsi

Malam Berdarah di Kota Nice


ROBERT ADHI KSP

ERIC Drattel dan istrinya sedang menikmati wine di sebuah restoran di kawasan Promenade des Anglais di Nice, kota di tepi Laut Mediterania di selatan Perancis. Pasangan dari Amerika Serikat itu memperpanjang waktu liburan mereka di Perancis setelah menyaksikan final sepakbola Piala Eropa (Euro) di Paris, beberapa hari sebelumnya.

 

nice 03 KSP
Suasana Promenade des Anglais di kota Nice, Perancis selatan pada saat damai. Foto diambil 28 Juni 2015. FOTO: ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

 

 

Kembang api warna-warni menghiasi langit Nice. Ribuan warga kota bercampur-baur dengan wisatawan mancanegara menikmati suasana perayaan Hari Bastille atau Revolusi Perancis, Kamis 14 Juli 2016.

Setelah dentuman suara kembang api selesai, ribuan orang tumpah ke jalan. Tak berapa lama, terdengar teriakan bernada panik di Promenade des Anglais yang penuh dengan lautan manusia. “Tiba-tiba terdengar jeritan dan suara tangis dari orang-orang yang berada di jalan, yang berlarian masuk ke area restoran,” ungkap Eric kepada CNN. Dia melihat arlojinya, pukul 22.45 waktu Nice.

“Ketika pertunjukan kembang api berakhir, kami berjalan menuju Promenade des Anglais. Lalu kami mendengar suara tembakan. Kami berlari ke arah jalan lain dan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Kami berpikir itu suara kembang api dari lokasi lain. Kami berlari karena kami melihat banyak orang di dekat kami juga berlari,” ungkap Celia Delcourt (20), warga kota Nice.

Warga Inggris Kevin Harris berada di teras hotel lantai tiga ketika kerumunan orang di jalan menyaksikan pesta kembang api. Harris lalu kembali ke kamarnya di lantai tujuh. Satu menit kemudian, dia mendengar suara tembakan. Dia keluar ke balkon dan menyaksikan banyak orang bergelimpangan di jalan. “Jumlahnya mungkin dua puluh orang. Saya baru tersadar, ini serangan teroris,” kata Harris.

Saat itu, tak disangka-sangka, sebuah truk melaju dan dikendarai seorang lelaki secara zig-zag di kawasan itu, menyambar puluhan orang di depannya. Beberapa di antara yang ditabrak truk, tubuhnya melayang dan kemudian jatuh ke jalan.

Lebih 100-an orang berlari dan melompat ke bawah dari tepi jalan menuju area pantai, untuk menghindari truk tersebut.

Sekitar pukul 22.45 waktu Nice, menurut The New York Times, truk itu berbelok ke jalan utama dari tepi jalan kecil di sisi rumah sakit anak-anak. Truk itu melaju kencang, menabrak seorang perempuan muslim dan seorang lelaki tak dikenal. Keduanya korban pertama truk tersebut. Setelah menyetir sekitar 700 meter,  setelah melewati restoran Florida Beach di tepi pantai, di depan Centre Universitaire Mediterraneen, truk itu menyambar pejalan kaki lagi. Terdapat tujuh jenazah yang terekam di area ini.

Menjelang pertigaan Promenade des Anglais dan Rue Honore Sauvan, truk itu mulai menabrak kerumunan massa, ungkap seorang saksi mata di restoran Voilier Plage, yang lokasinya di tepi pantai. Di area sekitar restoran itu, terlihat 10 jenazah yang terekam. Truk itu terus melaju melewati restoran Hi Beach dan Neptune Plage di tepi pantai.

Truk itu melaju selama hampir 30 menit, berkecepatan 60 sampai 70 kilometer per jam sepanjang hampir dua kilometer, melindas semua yang ada di depannya, termasuk pohon palem, lampu jalanan, dan sepeda.

Persis di pertigaan di depan Hotel Le Negresco, pengemudi truk mulai melepas tembakan ke arah tiga polisi yang mengejarnya. Polisi-polisi itu membalas tembakan. Di seberang Hotel West End, dari rekaman video hotel terlihat truk itu mulai bergeser dari tempat pejalan kaki menuju jalan.

Di depan Westminster Hotel & Spa, anggota polisi masih menembaki truk tersebut. Di titik ini, di pertigaan Promenade des Anglais dan Rue Meyerbeer di samping Hotel Wesminster, setelah melaju sejauh 1,8 kilometer, pengemudi mempercepat truk itu. Di jalur ini, sedikitnya 20 orang tewas atau terluka.

Polisi-polisi yang mengepungnya dari semua sisi, membalas tembakan itu. Polisi akhirnya menembak mati pengemudi truk itu di depan Casino Du Palais De La Mediterranee, sebelum pertigaan Rue Du Congress. Kepala pengemudi truk tampak menggantung di luar jendela truk.

Polisi masih melepaskan tembakan ke arahnya karena belum yakin pengemudi truk itu sudah tewas. Polisi juga melepaskan tembakan berkali-kali ke semua sisi truk itu karena khawatir pengemudi itu tidak sendirian. Polisi kemudian hati-hati masuk ke dalam truk. Mereka menemukan berbagai jenis senjata dan granat palsu di truk itu, namun tidak menemukan orang lain.

Lanjutkan membaca Malam Berdarah di Kota Nice

Tito Karnavian, Kombinasi Polisi Lapangan dan Polisi Intelektual


ROBERT ADHI KSP

Komisaris Jenderal   Tito Karnavian (51) diajukan Presiden Joko Widodo sebagai calon tunggal Kepala Kepolisian Republik Indonesia. Tito akan menggantikan Jenderal (Pol) Badrodin Haiti yang memasuki masa pensiun akhir Juli 2016.

Pilihan Presiden Joko Widodo pada Tito Karnavian sangat tepat. Tito yang saat ini menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) adalah kombinasi antara polisi yang menguasai lapangan dan polisi intelektual. Tito Karnavian adalah penerima bintang Adhi Makayasa (lulusan Akpol terbaik tahun 1987) dan menerima Bintang Cendekiawan sebagai lulusan terbaik Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Jakarta tahun 1996.

Bila dilihat dari usia dan angkatannya, Tito memang relatif lebih muda. Jenderal (Pol) Badrodin Haiti penerima Adhi Makayasa, lulusan terbaik 1982, sedangkan Tito Karnavian lulusan terbaik 1987. Dia melompati lima angkatan. Tapi, seperti yang terjadi di banyak organisasi lain, memilih pimpinan sesungguhnya tak perlu urut kacang. Siapa yang terbaik, yang mampu dan punya kompetensi, meski usianya lebih muda, dia layak dipilih.

Bukan Kapolri termuda

Apakah Tito Karnavian Kapolri termuda? Mari kita telusuri satu persatu. Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo ketika menjabat Kepala Kepolisian Negara pertama pada 29 September 1945 usianya 37 tahun. Raden Soekarno Djojonegoro saat menjabat Kepala Kepolisian Negara ke-2 pada 15 Desember 1959 berusia 51 tahun. Soetjipto Danoekoesoemo Kepala Kepolisian Negara ke-3 berusia 41 tahun saat dilantik 30 Desember 1963. Sedangkan Soetjipto Joedodihardjo Kepala Kepolisian Negara ke-4 berusia 48 tahun saat mulai bertugas 9 Mei 1965.

Hoegeng Imam Santoso yang menjabat Kepala Kepolisian Negara ke-5 berusia 47 tahun saat bertugas 9 Mei 1968. Demikian juga Mohamad Hasan, Kapolri ke-6, berusia 51 tahun saat menjabat 3 Oktober 1971. Widodo Budidarmo, Kapolri ke-7 berusia 47 tahun saat memulai tugas 26 Juni 1974. Awaloedin Djamin, Kapolri ke-8, berusia 51 tahun saat menjabat 27 September 1978.

Kunarto ketika dilantik Presiden Soeharto menjadi Kapolri ke-11 pada 29 Februari 1991 berusia 50 tahun. Demikian juga Moch Sanoesi ketika dipilih sebagai Kapolri ke-10 pada 7 Juni 1986 berusia 51 tahun. Dibyo Widodo ketika menjabat Kapolri ke-13 pada 15 Maret 1996 berusia 49 tahun menjelang 50 tahun. Da’i Bahctiar ketika menjabat Kapolri ke-17 pada 29 November 2001 berusia 51 tahun.

Selebihnya mereka yang dipilih menjadi Kapolri berusia 52 tahun atau lebih. Bahkan Badrodin Haiti berusia 57 tahun ketika dilantik menjadi Kapolri ke-22.

Dipilihnya Tito yang berusia 51 tahun, menjelang 52 tahun, mengembalikan kebiasaan bahwa usia Kapolri selayaknya tidak lebih dari 52 tahun saat menjabat. Ini penting agar Kapolri memiliki waktu yang cukup untuk membenahi dan menyelesaikan berbagai persoalan yang ada.

Tito Karnavian menjadi putra Palembang kedua yang menduduki jabatan nomor satu di Kepolisian RI. Sebelumnya Mohamad Hasan kelahiran Palembang 20 Maret 1920 menjadi Kapolri ke-6 periode 1971-1974.

Tiga kali naik pangkat istimewa

Mengapa Tito Karnavian layak dan tepat dipilih sebagai Kapolri ke-23? Kemampuan Tito mengungkap berbagai kasus kriminal dan terorisme tidak diragukan lagi. Salah satu ukurannya adalah Tito  mendapat kenaikan pangkat istimewa sampai tiga kali karena berhasil mengungkap kasus-kasus besar di masa lalu.

Tito langsung terjun ke lapangan untuk mengungkap berbagai kasus besar,  dari bom di Kedubes Filipina (2000), bom Bursa Efek Jakarta (2001), bom malam Natal Jakarta (2001), bom di Plaza Atrium Senen Jakarta (2001), pembunuhan hakim agung Syaifuddin Kartasasmita di Jakarta (2001), bom di Bandara Soekarno-Hatta (2003), bom di Hotel JW Marriott Jakarta (2003), pembunuhan Direktur PT Asaba (2004), bom Cimanggis Depok (2004), bom Kedubes Australia (2004), bom Bali II (2005), mutilasi tiga siswi di Poso (2006), bom di Hotel Ritz-Carlton dan JW Marriott Jakarta (2009), sampai pada  operasi pengungkapan perampokan bersenjata Bank CIMB Niaga Medan (2010) dan bom buku (2011).

Menangkap Tommy Soeharto
Nama, karier, dan pangkatnya melesat pada 2001 ketika Tito yang saat itu Kepala Satuan Reserse Umum Polda Metro Jaya memimpin Tim Kobra menangkap Hutomo Mandala Putra atau yang dikenal dengan Tommy Soeharto. Atas penangkapan tersebut, Tito dan 24 anggota tim menerima kenaikan pangkat satu tingkat.  Tito  mendapat promosi dari pangkat komisaris ke ajun komisaris besar.

Setelah satu tahun 24 hari menjadi buronan, Tommy Soeharto ditangkap Polda Metro Jaya di sebuah rumah di Jalan Maleo II No 9 Sektor IX Bintaro Jaya, Tangerang, Rabu, 28 November 2001, pukul 16.05. Penangkapan putra mantan Presiden Soeharto itu terkait kasus tukar guling tanah Bulog ke PT Goro Batara Sakti. Presiden (waktu itu) Megawati Soekarnoputri memerintahkan polisi untuk menangkap Tommy.

Kapolda Metro Jaya (waktu itu) Irjen Sofjan Jacoeb menjelaskan, Tommy  tidak melawan ketika disergap tim khusus yang dipimpin Kepala Satuan Reserse Polda Metro Jaya  Tito Karnavian. Polisi sudah menerima informasi sejak 6 Agustus 2001. Sejak itu polisi melakukan survei, menyadap telepon, dan mengawasi orang-orang yang diduga memiliki hubungan dengan Tommy, serta membuntuti dari Menteng, Pejaten, hingga ke Bintaro (Kompas, Kamis, 29 November 2001).

 

Melumpuhkan Dr Azahari dan Noordin M Top
Tito  juga sangat menguasai masalah terorisme, tidak sekadar paham teori, tetapi juga menguasai persoalan di lapangan. Sejak pengeboman Hotel JW Marriott di Jakarta tahun 2003 dan serangan bom Bali II pada 1 Oktober 2005, nama Dr Azahari dan Noordin Mohammad Top sering disebut-sebut sebagai otak peledakan bom.

Lanjutkan membaca Tito Karnavian, Kombinasi Polisi Lapangan dan Polisi Intelektual

Writing is the Painting of the Voice