Arsip Kategori: Terorisme

Mengenang Serangan Teror Paris 13 November 2015


PENGANTAR

Tanggal 13 November ini, genap empat tahun Serangan Teror Paris. Aksi teror yang terencana ini terjadi di stadion utama, restoran dan bar, dan gedung konser di Paris, dilakukan oleh kelompok bersenjata dan pelaku bom bunuh diri, menewaskan 130 orang dan melukai 352 orang. Berikut ini kilas balik Serangan Teror Paris.

Suasana Kota Paris. Ilustrasi: Film “November 13 – Attack on Paris” ( REPRO: NETFLIX)

Tiga Ledakan Bom Bunuh Diri di Luar Stade de France

Hari Jumat yang cerah. Suhu udara di kota Paris sekitar 13 derajat Celcius. Penggemar sepakbola bersiap-siap mendatangi stadion Stade de France karena pada malam hari pukul 21.00 waktu Paris, akan berlaga tim nasional Perancis melawan tim nasional Jerman. Itu merupakan pertemuan ke-26 antara kedua timnas. 

Dua jam sebelum pertandingan dimulai, stadion berkapasitas 81.000 orang itu sudah penuh sesak. Presiden Perancis Francois Hollande menjadi tamu VVIP yang menonton laga Perancis vs Jerman yang disiarkan langsung di televisi. 

Salim, petugas keamanan Stade de France, menghentikan langkah seorang pemuda. “Apakah saya dapat memeriksa tiket Anda?” tanya Salim. Pemuda itu memaksa masuk. “Saya butuh berada di dalam stadion. Saya harus masuk ke sana,” sahutnya, seperti terungkap dalam film dokumenter “November 13 – Attack on Paris” yang ditayangkan Netflix.

“Anda menghalangi pekerjaan saya,” kata Salim kepada pemuda itu, yang usianya masih relatif muda dan wajahnya agak kekanak-kanakan. “Silakan berdiri di samping sana. Anda lihat, banyak orang lain yang menunggu untuk masuk,” ujar Salim. Pemuda itu mematuhi perintah Salim, kemudian menatap wajah petugas keamanan itu dalam-dalam. 

“Hati-hati dengan orang itu,” teriak Salim kepada koleganya yang berdiri di sekitar pintu masuk. Salim sibuk memeriksa tiket nonton pertandingan sepakbola. Begitu dia mencari pemuda itu di tengah keramaian, dia tak menemukannya lagi. 

Pertandingan baru berjalan 20 menit ketika terdengar ledakan di luar stadion. Sebagian penonton mengira suara itu suara kembang api di luar stadion. Ledakan itu berasal dari ledakan bom bunuh diri. Pelakunya, seorang lelaki mengenakan sabuk bom bunuh diri, yang gagal masuk ke dalam stadion setelah berusaha melewati pemeriksaan rutin yang mengecek bahan peledak. 

The Wall Street Journal melaporkan, lelaki tersebut kemudian melangkah pergi dari barisan petugas keamanan, kemudian menekan tombol detonasi. Duaarr, suara ledakan terdengar keras. Pelaku bom bunuh diri itu tewas seketika, termasuk seorang yang sedang melintas di dekatnya.

Menurut Zouheir, penjaga keamanan stadion yang sedang bertugas, salah seorang penyerang memiliki tiket masuk dan berusaha masuk ke stadion melalui Gate D. Lelaki itu mengenakan rompi bahan peledak ketika digeledah di pintu masuk stadion, sekitar 15 menit setelah pertandingan dimulai.

“Penyerang meledakkan rompi yang penuh dengan bahan peledak dan baut,” kata Zouheir yang bertugas di terowongan para pemain. Polisi juga mencurigai pennyerang itu bermaksud meledakkan rompinya di dalam stadion. Lelaki itu diidentifikasi sebagai Ahmed Almohammad (25) berasal dari Suriah. 

Pukul 21.30, ledakan kedua terdengar di luar Stadion Perancis (Stade de France), masih di jalan yang sama dengan ledakan pertama, di Avenue Jules Rimet. Pelakunya diketahui bernama Bilal Hadfi (20) berasal dari Belgia dan pernah bergabung dengan NIIS di Suriah. 

Dua ledakan keras yang terdengar jelas pada babak pertama pertandingan membuat penonton di dalam stadion dan pemirsa televisi bingung. 

Awalnya Zouheir berpikir ledakan pertama adalah suara petasan. Namun dari walkie-talkie yang ramai dengan percakapan, dia mengetahui bahwa setelah ledakan pertama, Presiden Francois Hollande dibawa ke luar stadion. “Begitu saya tahu Presiden dievakuasi, saya sadar bahwa ledakan itu bukan suara petasan biasa,” katanya.  

Pukul 21.53, penyerang ketiga meledakkan diri di gerai McDonald’s di Rue de la Coquerie, menewaskan satu orang sipil di sana. Lokasinya sekitar 400 meter dari Stadion Stade de France. Lelaki ini berusia sekitar 20 tahun.

Stade de France (Stadion Perancis) pada Jumat 13 November 2015 menggelar pertandingan persahabatan antara timnas Perancis dan timnas Jerman. Tiga ledakan di luar stadion ini menewaskan empat orang, tiga di antaranya pelaku bom bunuh diri. REPRO: NETFLIX

Dalam tiga ledakan di luar stadion, empat orang tewas, tiga di antaranya pelaku bom bunuh diri, dan seorang lagi yang kebetulan sedang melintas di dekat pengebom.

Pertandingan persahabatan antara timnas Perancis dan Jerman berlanjut sampai 90 menit sesuai peraturan FIFA. Ketua Federasi Sepak Bola Perancis Noel le Graet mengatakan pihaknya sengaja tidak menyampaikan informasi tentang ledakan bom bunuh diri di luar stadion kepada para pemain dan puluhan ribu penonton di dalam stadion untuk menghindari kepanikan. 

Berita tentang aksi teror mulai menyebar di dalam stadion pada akhir babak kedua. “Selama babak kedua, saya mulai mendapat peringatan berita tentang serangan di Paris. Saya memang mendengar suara ledakan, tapi saya masih berpikir itu hanya suara petasan,” ungkap Pierre Tissier (27). 

Pelatih timnas Jerman Joachim Low mengaku cemas dengan kabar ledakan bom di luar stadion. Sebelumnya timnas Jerman yang menginap di Hotel Molitor, hotel bintang lima di Distrik ke-16 Paris, diancam bom dan dievakuasi. 

Timnas Jerman memutuskan untuk tetap bermain di Stade de France pada Jumat malam. Mereka membawa masuk kasur ke dalam ruangan pemain. Beberapa pemain tertidur tetapi sebagian lagi terjaga dan mendiskusikan peristiwa yang sedang terjadi di Paris. 

Hari Sabtu 14 November, Joachim Low dan anak-anak asuhnya pulang ke Jerman dengan pesawat pagi. Serangan itu terjadi tujuh bulan sebelum Perancis menjadi tuan rumah kejuaraan sepakbola Eropa (Euro) selama satu bulan. Pertandingan Euro 2016 —yang merupakan turnamen sepak bola terbesar pertama di Perancis setelah Piala Dunia 1998— digelar di 10 lokasi di Perancis, dua di antaranya di Paris, yaitu di Parc des Princes di barat dan Stade de France di pinggiran utara. 

                                                    ***

Kafe dan bar Le Carillon di kawasan Canal Saint-Martin di timur Paris. REPRO: NETFLIX

Penembakan di Petit Cambodge dan Le Carillon

Le Carillon adalah kafe-bar di kawasan Canal Saint-Martin yang trendi di Paris timur, terkenal dengan minuman kopi berharga relatif murah dan suasana santai. Bagi warga setempat, kafe-bar ini bersahaja dengan sofa-sofa tua dan pencahayaan yang remang-remang pada malam hari.

Saat itu pukul 21.25. Tak ada yang menyangka ketika sekelompok pemuda turun dari mobil berwarna hitam, langsun g menembaki orang-orang yang sedang berjalan di Rue Alibert dan Rue Bichart di wilayah Distrik 10 Paris, tak jauh dari Place de la Republique. Mobil itu kemudian ditemukan di pinggiran timur Montreuil, sekitar lima kilometer dari lokasi penembakan.

Ben Grant, saksi mata di Bar Le Carillon awalnya mengira petasan telah padam. Beberapa detik kemudian dia menyadari mereka ditembaki dengan senjata semi otomatis. “Orang-orang berjatuhan di tanah. Saya dan istri berlindung dengan meletakkan meja di atas kepala,” kisahnya.

Kelompok bersenjata itu juga melepaskan tembakan ke orang-orang yang berkumpul di Le Petit Cambodge, restoran Kamboja, di seberang Le Carillon. Saksi mata melukiskan, seorang lelaki menyeberang jalan dan mengarahkan senjatanya ke restoran Le Petit Cambodge.

Serangan di dekat pusat kota di sekitar tempat hiburan malam di Paris ini menyebabkan lima belas orang meninggal, 15 lainnya luka parah. Lebih dari 100 peluru ditembakkan.

Pierre Monfort tinggal di dekat restoran Kamboja, di dekat Rue Bichat. “Kami mendengar suara tembakan sekitar 30 detik tanpa henti. Kami pikir itu suara kembang api,” katanya kepada AFP.  

Saksi mata lain yang berada di dalam restoran mengatakan semua orang tergeletak di lantai. “Seorang gadis digendong seorang pemuda. Tampaknya dia sudah tak bernyawa,” ungkapnya.

Kafe La Bonne Biere di Paris. Di kafe ini, lima orang tewas ditembak. REPRO: NETFLIX.

Penembakan di La Bonne Biere

Pukul 21.32, aksi penembakan terjadi di persimpangan Rue de La Fontaine au Roi dan Rue du Faubourg du Temple di depan Cafe Bonne Biere dan resto pizza La Casa Nostra di wilayah Distrik 11 Paris. Lima orang tewas dan delapan orang terluka. Saksi mata mengungkapkan, kelompok bersenjata mengendarai mobil berwarna hitam.

***

Penembakan di La Belle Equipe

Pukul 21.36, kelompok bersenjata yang sama tiba di Restoran La Belle Equipe di Rue de Charonne nomor 92. Dua orang melepaskan tembakan sekitar tiga menit ke arah pengunjung resto yang duduk di teras kafe itu. Mereka kemudian kembali menaiki mobil hitam dan menuju ke arah stasiun Charonne.

Sembilan belas orang tewas di lokasi ini dan sembilan lainnya dalam kondisi kritis. 

Andrian Svec, fotografer asal Slovakia dan kekasihnya, Zuzanna Szamocka, sedang menikmati makan malam di restoran Septime (nomor 80), tak jauh dari La Belle Equippe. Dia mendengar suara tembakan. Dia dan pengunjung restoran sempat bersembunyi di bawah meja. Tapi beberapa saat kemudian, Svec mengikuti nalurinya sebagai fotografer. Dia tiba di lokasi dan melihat di luar resto, korban-korban tewas masih terduduk di meja dengan gaya alfresco. Dia mengambil foto-foto dengan kamera LeicaM6.

Suasana Restoran La Belle Equipe. Di restoran ini, 19 orang tewas diberondong tembakan. REPRO: NETFLIX.

“Kami mendengar suara tembakan seperti dari senjata otomatis. Saya berlari menuju restoran tersebut. Saya melihat 10 orang, tak ada tanda-tanda mereka masih bernyawa. Suasana hening. Tiba-tiba seseorang mulai berteriak dan menangis,” ungkap Svec seperti dikutip The Guardian, 17 November 2015. 

Korban di La Belle Equipe di antaranya kelompok 11 orang yang bekerja di Cafe des Anges di sekitar lokasi dan merayakan ulang tahun rekannya, Houda Saadi dan saudara perempuannya, Halima, warga Perancis keturunan Tunisia. Keduanya menjadi korban tewas.

Pemilik La Belle Equipe, Gregory Reibenberg, selamat dari serangan. Namun istrinya, Djamila, seorang muslim, tewas diberondong tembakan teroris.

Kelompok bersenjata sempat menembaki jendela depan restoran sushi Jepang di sebelah La Belle Equipe tapi tak ada korban. 

                                          ***

Restoran Comptoir Voltaire. Di restoran ini, seorang pelaku meledakkan bom bunuh diri.

Bom Bunuh Diri di Comptoir Voltaire

Pukul 21.40, seorang pelaku bom bunuh diri meledakkan dirinya di Restoran Comptoir Voltaire di Boulevard Voltaire nomor 253 di wilayah Distrik 11 Paris. Satu orang yang berada di dalam restoran itu mengalami luka serius dan dua lainnya luka-luka. 

Pelaku bom bunuh diri di restoran ini diidentifikasi bernama Ibrahim Abdeslam (31) yang tinggal di Moleenbeek, Brussels, Belgia.

“Sejak menikah dengan Ibrahim, dia pengangguran dan setiap hari mengisap ganja. Ibrahim tak pernah ke masjid dan malah beberapa kali masuk penjara,” kata mantan istrinya, Naima (36) kepada “The Mail”.  Meskipun ijazahnya sebagai teknisi listrik, Ibrahim tak pernah mendapatkan pekerjaan. Pasangan itu tidak memiliki anak karena menurut Naima, mereka tak punya uang untuk membesarkan anak.  

                                              ***

Kafe dan Bar Bataclan. REPRO: NETFLIX

Pembantaian Massal di Bataclan

Pada waktu bersamaan, pada pukul 21.40, tiga orang bersenjata masuk ke gedung konser mini Bataclan, yang jaraknya sekitar dua mil dari Notre Dame Paris. Mereka mengendarai Volkswagen Polo warna hitam yang diparkir di luar gedung tua yang berusia 151 tahun. 

Mereka lalu masuk melalui pintu utama sekitar 30 menit – 45 menit setelah grup band rock asal California, Amerika Serikat, Eagles of Death Metal memulai pertunjukannya, kemudian melepaskan tembakan ke arah kerumunan orang yang berdiri di bar. 

Saksi mata, Fahmi, awalnya mengira suara petasan dan bagian dari pertunjukan. Ketika dia membalikkan tubuhnya, dua melihat seseorang roboh dan terjatuh terkena peluru. “Tiga penyerang itu menembak secara acak ke kerumunan penonton,” kisahnya kepada “Liberation”. 

Salah satu lelaki bersenjata naik tangga dan membunuh para penonton di balkon.

Kafe Bataclan. REPRO: NETFLIX

Di tengah kebingungan dan kepanikan, seorang penjaga keamanan berteriak dan meminta semua orang mengikutinya ke kiri gedung agar bisa ke luar gedung melalui jalan darurat. Banyak orang berhasil lolos dari maut, sebagian dalam kondisi terluka parah, seperti tergambar dalam video yang direkam dari jendela atas sebuah apartemen di seberang jalan.

Saksi mata mendengar kata-kata seorang lelaki bersenjata yang menyalahkan Presiden Francois Hollande ikut campur tangan di Suriah. 

Suasana di gedung teater Bataclan. Sumber: EuroNews

“Kami pikir suara kembang api tetapi kami melihat seorang lelaki menembak ke segala arah. Kami semua berbaring di lantai dan mulai merangkak menuju panggung,” ungkap seorang perempuan. Beberapa orang melarikan diri melalui pintu darurat di sebelah kiri panggung dan sebagian lagi menemukan rute ke atap.

“Kami mendengar ledakan keras. Saya mengira itu hanya bagian dari pertunjukan. Awalnya saya tidak bereaksi tapi kemudian saya mendengar orang-orang di belakang saya berteriak. Saya berbalik, saya melihat ada dua orang yang baru saja menembaki penonton dengan senjata seperti AK-47,” ungkap Michael O’Connor, warga South Shields, Inggris kepada BBC.  “Suasananya seperti rumah jagal. Saya mengarungi genangan darah sedalam satu senti meter,” ungkapnya. 

Gedung Teater Bataclan. (REPRO: NETFLIX)

Julien Pierce, jurnalis Radio Europe-1 berada di dalam gedung konser Bataclan ketika penembakan terjadi. “Beberapa lelaki bersenjata tanpa mengenakan topeng, masuk ke gedung. Mereka membawa senjata seperti Kalashnikov dan menembak kerumunan penonton secara membabi-buta. Itu berlangsung antara 10 menit dan 15 menit. Sungguh sangat kejam. Banyak orang panik. Para penyerang masih sangat muda. Mereka mengisi ulang senjata setidaknya tiga kali. Mayat tergeletak di mana-mana,” cerita Pierce dalam web stasiun radio.

“Pembantaian massal” di Bataclan menewaskan 89 orang.

Presiden Perancis Francois Hollande setelah menggelar rapat bersama Perdana Menteri Manuel Valls dan Menteri Dalam Negeri Bernard Cazeneuve, mengumumkan bahwa, “Perancis dalam keadaan darurat”. Aparat keamanan memperketat wilayah perbatasan.

Hollande memerintahkan agar pasukan elit diturunkan ke gedung konser Bataclan. Pukul 22.15, polisi bersenjata berat masuk ke gedung konser. Mereka merupakan tim BRI (Brigades de Recherche et d’Intervention) yang spesialisasinya menangani dan mengatasi situasi penyanderaan. “Mayat di mana-mana. Genangan darah membasahi lantai gedung. Banyak orang yang bersembunyi di setiap sudut dan celah. Kami mengeluarkan korban-korban selamat dan terluka,” kata seorang polisi. 

Michael O’Connor mengungkapkan, dia melihat pintu masuk ke arena terbuka perlahan-lahan, lalu muncul orang-orang yang melindungi diri dengan perisai anti-peluru. “Saya pikir mereka pasti polisi. Mereka tidak mengatakan apa-apa tetapi menyuruh kami semua diam. Mereka membentuk perimeter di belakang aula dan mengarahkan senjata ke balkon, tempat teroris berada,” kata O’Connor. 

Setelah satu jam menyerbu masuk gedung konser, pukul 23.15, tim BRI mencapai pintu di lantai pertama. Seorang penonton masih disandera. Terdengar suara di belakang pintu yang memberi tahu tim BRI bahwa ada dua lelaki mengenakan rompi bahan peledak. Sandera dipaksa berdiri di depan pintu dan jendela, dan menjadi perantara antara teroris dan polisi. 

Sandera memberi nomor ponsel teroris kepada perunding atau negosiator. Sebelum tengah malam, polisi perunding sempat bercakap-cakap dengan para penyerang beberapa kali melalui telepon seluler. Negosiator menyimpulkan para penyerang bersenjata tersebut berencana membantai para sandera di depan media. 

Dihujani 27 peluru, tim BRI masuk dengan perisai logam antipeluru. Mereka harus menyelesaikan ini dengan cepat. Anggota unit BRI berhasil menembak mati satu penyerang dengan sabuk penuh bom. Tapi dua penyerang lainnya meledakkan diri. Operasi pengepungan dan pembebasan sandera di Bataclan berakhir pukul 00.17.

Ketiga penyerang Bataclan diketahui sebagai Omar Ismail Mostefai (29), Samy Animopur (28) dan Foued Mohamed-Aggad (23). 

Serangan Paris pada Jumat malam, 13 November 2015 di gedung konser, stadion utama, restoran dan bar oleh kelompok bersenjata dan pelaku bom bunuh diri, menewaskan 130 orang dan melukai 352 orang. 

Presiden Perancis Francois Hollande melukiskan serangan tersebut sebagai “aksi perang” yang diorganisir kelompok militan. “Tiga tim terkoordinir” diyakini berada di belakang serangan mematikan tersebut, kata jaksa kepala Paris, Francois Molins.

Hari-hari berikutnya setelah Serangan Paris, polisi Perancis melakukan 128 penyergapan di seluruh negeri untuk mencari para tersangka, termasuk di Brussels, Belgia. 

Selama 24 jam pada 16 dan 17 November 2015, Perancis  melancarkan serangan udara dan menjatuhkan 16 bom ke pusat pelatihan dan komando NIIS di Raqqa di Suriah.

***

Para pelaku Serangan Paris 2015. Sumber: BBC

Siapa Pelaku Serangan Teror Paris 2015?

Dari hasil investigasi yang dilakukan pemerintah Perancis, diketahui para pelakunya pernah bergabung dengan NIIS di Suriah. Otak penyerangan ini adalah Abdelhamid Abaaoud, berkebangsaan Belgia, tewas dalam serangan polisi di Saint-Denis di utara Paris, beberapa hari setelah Serangan Paris terjadi. Figur kunci lainnya adalah Salah Abdeslam yang ditangkap pada 18 Maret 2016 setelah melarikan diri. 

Mohamed Abrini, tersangka lainnya diyakini memiliki jaringan dengan Serangan Paris, ditangkap di Brussels pada 8 April 2016. 

Salah Abdeslam saat ditangkap di wilayah Molenbeek, berusia 26 tahun. Lelaki kelahiran Brussels ini terluka saat disergap polisi yang memburunya sejak 13 November 2015. Pada 15 Maret 2016, sidik jari Abdeslam ditemukan di flat di distrik Forest di selatan Brussels.

Jaksa Belgia kepada BBC mengatakan, saat itu belum jelas apakah dia ada di sana karena sidik jarinya tidak tercatat waktunya. Pada 10 Desember 2015, polisi menemukan satu sidik jarinya, jejak bahan peledak TATP (acetone peroxide) dan tiga sabuk buatan —tampaknya untuk bahan peledak, di sebuah apartemen di Distrik Schaerbeek. Apartemen itu disewa dengan nama palsu. Ada dugaan pelaku bom bunuh diri mengambil sabuk mereka di apartemen ini sebelum beraksi di Paris. 

Salah Abdeslam diperkirakan kembali ke Belgia setelah Serangan Paris. Dia menyewa mobil VW Polo di Belgia —yang kemudian ditemukan di dekat gedung konser Bataclan di Paris. Dia juga menyewa mobil Renault Clio dan memesan dua kamar hotel di luar kota Paris sebelum serangan dilakukan. Perannya belum jelas meski saudara kandungnya, Ibrahim Abdeslam meledakkan diri.

Penyelidik meyakini Salah Abdeslam mendorong tiga pelaku bom bunuh diri yang menyerang Stade de France ke tujuan mereka. Salah juga menugasi mereka melakukan serangan di Distrik ke-18 meski serangan itu tidak pernah terjadi karena ketiganya sudah meledakkan diri di luar stadion. 

Masa lalu Salah Abdeslam dipenuhi dengan hukuman. Beberapa laporan menyebutkan, Salah menghabiskan waktu di penjara karena kasus perampokan. Saat di penjara itulah, Salah bertemu dengan Abdelhamid Abaaoud. Februari 2016, Kepolisian Belanda menahan Salah dan mendendanya 70 Euro karena memiliki ganja. Pada 27 April 2016, Salah diekstradisi ke Perancis dan menghadapi dakwaan terkait Serangan Paris 13 November 2015. Salah juga menghadapi dakwaan terlibat dalam aksi penembakan di Brussels pada 15 Maret 2016 yang mennyebabkan empat polisi terluka. 

Saudara kandung Salah Abdeslam yaitu Ibrahim Abdeslam meninggal sebagai pelaku bom bunuh diri di kafe Comptoir Voltaire di Boulevard Voltaire. Dia menyewa mobil Seat, yang ditemukan sehari setelah Serangan Paris, di Montreuil ke arah timur Paris. 

Nama Ibrahim Abdeslam muncul dalam beberapa dokumen Kepolisian Belgia bersama nama Abdelhamid Abbaoud, terkait kasus-kasus pidana pada 2010-2011. 

Pada awal 2015, Ibrahim melakukan perjalanan ke Turki dan bermaksud melanjutkan ke Suriah, namun otoritas Turki mendeportasinya kembali ke Brussels., kata pejabat Jaksa Belgia mengungkapkan ini kepada suratkabar “Le Soir”. Yang menjadi pertanyaan, mengapa saat kembali ke Belgia, Ibrahim dibebaskan. 

Beberapa jam setelah Serangan Paris, Salah Abdeslam berada di dalam VW Golf bersama dua teman lelakinya di perbatasan Belgia. Mobil mereka sempat dihentikan satu kali oleh polisi. Ketika penacrian makin gencar dilakukan di Belgia, saudaranya bernama Mohamed meminta Salah untuk menyerah. 

***

Surat Terbuka Penyintas Serangan Paris

Para korban Serangan Paris yang selamat meminta Pemerintah Perancis dan negara lainnya untuk menghentikan kaum jihadis Barat melarikan diri dari penjara di Suriah untuk mendirikan otonomi baru menyusul penarikan tentara Amerika Serikat.  

Dalam surat terbuka yang dipublikasi di suratkabar “Le Parisien” dua pekan menjelang peringatan 4 tahun Serangan Paris, sebuah kelompok terdiri dari 44 korban selamat (penyintas) mengajukan permintaan kepada Pemerintah Perancis dan negara-negara Barat lainnya untuk tidak melarang orang Kurdi berperang melawan NIIS. 

Kelompok penyintas mengungkapkan pendapat mereka sehari setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan, “Tidak adil jika pemerintah Inggris belum membawa kembali para jihadis Inggris yang ditangkap tentara AS.”

Dalam wawancara di Radio LBC dengan Nigel Farage, pemimpin Partai Brexit, Trump mengatakan, “Kami menawarkan untuk memberi jihadis Inggris untuk dibawa kembali ke Inggris tapi mereka tidak menginginkannya.”  Trump juga mengajukan tawaran yang sama kepada Perancis dan Jerman tapi pemerintah kedua negara itu tidak meresponnya.

Banyak orang Perancis dan kaum jihadis Barat lainnya ditahan di kantong Suku Kurdi yang dilindungi tentara AS dan kekuatan udaranya. “Ketidakaktifan saat ini membuat ratusan teroris melarikan diri, termasuk para jihadis Perancis yang sangat berbahaya,” demikian surat para korban selamat. Berapa banyak waktu lagi yang dibutuhkan sebelum mereka menyerang lagi?

Pemerintah Perancis di bawah Presiden Emmanuel Marcon dan pendahulunya Francois Hollande berusaha “membersihkan” warga berkebangsaan Perancis yang ditangkap di Suriah, namun tekanan meningkat untuk membawa mereka kembali menghadapi pengadilan di Perancis pasca-penarikan tentara AS di Suriah. Beberapa orang dipindahkan ke penjara di Irak.

Nasib para jihadis Perancis merupakan “ladang ranjau” bagi Macron. Komisi Hak Asasi Manusia dan kelompok Sayap Kanan Perancis menyerukan agar pemerintah mencabut kewarganegaraan Perancis para jihadis di Suriah dan Irak.

NIIS mengklaim merencanakan Serangan Paris di Suriah. Sebagian besar penyerang memiliki dwi kewarganegaraan Perancis dan Irak. Beberapa penyerang pernah bertempur di Suriah dan masuk Eropa di tengah membanjirnya imigran dan pengungsi ke wilayah ini.

Hari Rabu 13 November 2019 ini, jaringan televisi France24 menayangkan liputan Mengenang Serangan Teror Paris 13 November 2015. Wali Kota Paris Anne Hidalgo memberi karangan bunga di monumen mengenang 130 korban tewas. REPRO: FRANCE24

Perancis dan Sejarah Panjang Kekerasan Militan

Aksi teror yang menyebabkan korban tewas berulang terjadi di Perancis. Pada 7 Januari 2015 serangan terhadap kantor majalah satire Charlie Hebdo, menewaskan 20 orang.

Sebelumnya, pada pertengahan Maret 2012, seorang pemuda Perancis keturunan Aljazair, Mohammed Merah (23 tahun) tewas ditembak polisi penembak jitu setelah Merah diketahui membunuh tiga prajurit penerjun payung, seorang Rabbi, dan tiga pelajar sekolah selama 11 hari di Toulouse dan Montauban. Mohammed Merah menderita masalah psikologi dan mengaku marah terhadap Perang Afganistan.

Pada 3 Februari 2015, tiga penjaga di pusat komunitas Yahudi di Nice luka-luka diserang lelaki berusia 30 tahun bernama Moussa Coulibaly. Pada 19 April 2015, seorang mahasiswa Aljazair berusia 24 tahun menabrak mati seorang perempuan di luar kota Paris. Setelah itu lelaki yang menembak kakinya sendiri itu ditangkap. Polisi, seperti dikutip Deutsche Welle, menemukan bukti bahwa mahasiswa itu berhubungan dengan para militan di Suriah yang membantu dia merencanakan menyerang dua gereja di Paris.

Pada 26 Juni 2015 terjadi serangan di sebuah pabrik gas industri di kota Grenoble di sebelah tenggara Perancis. Satu orang menabrakkan mobilnya di perusahaan Amerika Serikat dan menimbulkan ledakan, menyebabkan sejumlah orang luka-luka. Ditemukan satu kepala supervisor pabrik yang dipenggal dengan tulisan arab di gerbang pabrik itu. Penyerang itu bernama Yassin Sahli (35 tahun) ditangkap, tapi dia tewas bunuh diri di penjara.

Pada 21 Agustus 2015, seorang lelaki warga negara Maroko berusia 25 tahun, Ayoub El Khazzani ditangkap setelah melakukan penembakan massal dengan senapan serbu Kalashnikov di kereta cepat Thalys jurusan Amsterdam-Paris. Khazzani naik dari stasiun Brussels, Belgia, dan menyerang penumpang, sebelum akhirnya dibekuk oleh empat penumpang lain, tiga berkebangsaan Amerika Serikat dan satu warga Inggris. Dalam aksi teror itu, empat penumpang kereta cepat luka-luka.

Pada 13 Juni 2016, seorang Perancis keturunan Maroko berusia 25 tahun, Larossi Abballa menyerang dan membunuh seorang komandan polisi dan istrinya di rumahnya di Magnanville, sekitar 55 kilometer dari kota Paris. Penyerang itu dalam video streaming menyatakan bersumpah setia kepada NIIS, sebelum akhirnya dilumpuhkan pasukan komando. Balita berusia 3 tahun ditemukan dalam kondisi hidup di rumah itu.

Pada 14 Juli 2016, teroris yang mengemudikan truk menabrakkan diri pada kerumunan orang di kawasan Promenade des Anglais di kota Nice di tepi Laut Mediterania. Sebanyak 84 orang tewas -10 di antaranya bayi dan remaja, serta 202 lainnya luka-luka, 52 di antaranya dalam kondisi kritis dan 25 lainnya luka.

Mengapa Perancis sering menjadi sasaran aksi teror? Paul Adams dari BBC menulis, Perancis memiliki sejarah panjang kekerasan militan, diawali serangan militan Aljazair di kereta bawah tanah Paris pada 1995 silam.

Beberapa tahun terakhir, ribuan kaum muda muslim Perancis ke Irak dan Suriah untuk bergabung dengan NIIS. Jumlah itu terbesar untuk negara di daratan Eropa. Beberapa di antaranya kembali ke Perancis, melakukan kekerasan di negaranya. Perancis kini menghadapi persoalan besar dalam ancaman teror dan peristiwa terorisme. Perancis harus lebih memperketat keamanan negerinya.

ROBERT ADHI KSP

Diolah dari berbagai sumber: BBC, CNN, France24, The Guardian, The Telegraph, The Mail, The Wall Street Journal, Netflix, EuroNews, Aljazeera, SkyNews


Pembantaian Munich 1972 dan Pembalasan Mossad


oleh ROBERT ADHI KSP

Selasa, 5 September 1972, pukul 04.00 menjelang pagi. Delapan orang bersenjata memanjat pagar dan menyelinap masuk ke perkampungan atlet Olimpiade di Munich (Muenchen), Jerman. Membawa tas besar, mereka menuju lantai empat bangunan di Connollystrasse Nomor 31, tempat atlet dan pelatih laki-laki Israel tinggal.  

Bersenjatakan senapan serbu dan granat, kelompok yang menamakan diri sebagai organisasi Black September, salah satu faksi PLO, itu masuk ke apartemen pertama dan menyandera pelatih dan ofisial Israel, yaitu Yossef Gutfreund, Amitzur Shapira, Kehat Shorr, Andrei Spitzer, Jacov Springer, dan Moshe Weinberg. 

Mereka kemudian masuk ke apartemen lain dan menangkap atlet gulat dan atlet angkat besi Israel, Eliezer Halfin, Yossef Romano, Mark Slavin, David Berger (sarjana hukum blasteran Israel-Amerika), dan Zeev Friedman. 

Kelompok bersenjata itu melepaskan tembakan ketika Romano dan Weinberg berusaha melawan. Kedua orang itu tewas di tempat. Teroris tersebut kemudian menyandera sembilan orang.

ISTIMEWA

Kelompok Black September menyelinap ke perkampungan atlet Olimpiade Munich tahun 1972, membunuh atlet/ofisial Israel, dan menyandera sembilan orang. Kelompok itu kemudian menembak sembilan atlet/ofisial Israel.

Pemimpin kelompok itu, yang dikenal dengan nama Luttif Afif atau nama samaran Issa, berusia 35 tahun, mengajukan sejumlah permintaan, di antaranya agar 234 tahanan yang sebagian besar warga Palestina dibebaskan dari penjara Israel dan dibawa ke negara Arab yang aman. Mereka juga menuntut dua orang lainnya, Andreas Baader dan Ulrike Meinhof, pemimpin kelompok teroris Baader-Meinhof, dibebaskan dari penjara Jerman.  

Pertandingan olahraga dunia di Olimpiade ke-20 di Munich itu dihentikan sementara. Jaringan televisi yang sebelumnya menyiarkan pertandingan olahraga kelas dunia itu langsung beralih melakukan siaran langsung real time aksi terorisme di Munich dan disaksikan sekitar 900 juta orang dari lebih dari 100 negara di seluruh dunia. 

Lanjutkan membaca Pembantaian Munich 1972 dan Pembalasan Mossad

Selasa Siang Berdarah di Hotel JW Marriott


Masih Menyala
Ledakan bom di Hotel JW Mariott dan Plaza Mutiara, Jakarta Selatan, 5 Agustus 2003. KOMPAS/ROBERT ADHI KSP

 

ROBERT ADHI KSP

Selasa, 5 Agustus 2003. Restoran Sailendra, restoran buffet di Hotel JW Marriott, setiap jam makan selalu ramai. Pada jam makan siang, banyak kalangan eksekutif yang suka makan di restoran yang menyajikan aneka hidangan lokal dan internasional itu. Bagi kalangan ekspatriat, makan siang di restoran hotel bintang lima itu relatif ”murah” dibandingkan dengan di negeri mereka. Sebab, hanya dengan 15 dollar AS (sekitar Rp 125.000, harga pada tahun 2003) per orang, mereka sudah bisa makan enak dengan pilihan beragam. Restoran ini disukai karena dari balik kaca transparan, pengunjung dapat melihat view lapangan hijau di kawasan Mega Kuningan dengan latar belakang gedung-gedung jangkung.

Sejak dibuka resmi pada September 2001, Hotel JW Marriott, Jakarta, waralaba jaringan hotel pengusaha Amerika, yang dimiliki pengusaha Indonesia, Tan Kian, itu langsung menjadi salah satu primadona bagi kalangan ekspatriat, pebisnis, dan pejabat Indonesia, terutama karena lokasinya strategis, di kawasan segitiga emas Kuningan, Jakarta Selatan.

Beberapa perusahaan asing multinasional yang sebelumnya bekerja sama dengan hotel lain langsung beralih ke Hotel JW Marriott. Hotel ini menawarkan tarif kamar relatif lebih murah dengan tambahan fasilitas antar jemput ke bandara dan ke kantor mereka di sekitar Kuningan. Tak heran jika banyak rapat penting dan pertemuan bisnis digelar di hotel ini. Pada masa normal, tingkat hunian hotel ini 70- 80 persen, sebagian besar ekspatriat dan orang Indonesia yang bekerja di perusahaan asing.

JW Marriott selama ini sering dianggap sebagai hotelnya orang-orang Amerika Serikat. Selain karena waralaba jaringan hotel itu memang milik pengusaha Amerika, juga karena banyak perusahaan Amerika dan perusahaan multinasional memilih hotel ini sebagai basis. Hari Kemerdekaan Amerika Serikat, 4 Juli, misalnya, dirayakan di hotel ini.

Pada hari itu, pegawai restoran cukup sibuk melayani sekitar 200 tamu yang akan menikmati makan siang di restoran yang sejuk dan lapang itu. Di luar hotel, matahari terik menyengat Jakarta. Tak banyak tamu yang lalu lalang di jalan masuk ke lobi yang bentuknya setengah lingkaran itu. Di ujung jalan dekat Plaza Mutiara–yang bersebelahan dengan bangunan Hotel JW Marriott–tampak berderet taksi Silver Bird menunggu penumpang.

Saat itu jam menunjukkan pukul 12.44.10. Suara gelegar disertai guncangan keras membuat orang-orang di dalam hotel itu kaget dan shock. Lampu di Restoran Sailendra berjatuhan. Dinding kaca rontok. Tetamu pun panik, berlarian ke luar. Busy lunch di Sailendra pun berubah menjadi bloody lunch. Sebab, di tempat ini banyak korban yang mengalami cedera berat dan ringan.

Getaran yang keras membuat kaca-kaca kamar di hotel itu hancur berantakan. Kantor Java Musikindo di lantai dua Plaza Mutiara termasuk yang hancur. Adri Subono, pemilik Java Musikindo yang biasanya ada di dalam kantornya, lolos dari maut karena saat ledakan terjadi dia sedang ke kamar kecil.

Kaca-kaca di gedung Menara Rajawali yang juga bersebelahan dengan hotel itu tampak pecah meski tak separah Hotel JW Marriott dan Plaza Mutiara. Di gedung itu sejumlah kedutaan besar asing berkantor, seperti Peru, Denmark, Swedia, Norwegia, dan Finlandia.

Dari sembilan korban (kemudian menjadi 10) yang tewas yang masuk kamar jenazah RSCM dan sudah diidentifikasi, delapan di antaranya ”orang-orang kecil”. Mereka tidak tahu-menahu dengan urusan politik, tetapi harus terkena dampaknya.

Hanya satu korban tewas yang berkebangsaan asing, yaitu Hans Winkelmolen, bankir warga negara Belanda, mantan Presiden Direktur Rabobank Indonesia, yang pada hari naas itu sedang makan siang bersama penggantinya, Antonio Costa, warga negara Kanada.

Makan siang Winkelmolen dan Antonio Costa itu sebetulnya diagendakan bersama Miranda Goeltom, mantan petinggi Bank Indonesia. Namun, karena mobil Miranda terjebak macet di depan Mal Ambassador, di seberang Hotel JW Marriott, Miranda akhirnya lolos dari maut.

 

Periksa Nama
Seorang warga negara asing memeriksa nama-nama korban pasca ledakan bom di Hotel JW Marriott Jakarta Selatan, 5 Agustus 2003. KOMPAS/ROBERT ADHI KSP

 

Lanjutkan membaca Selasa Siang Berdarah di Hotel JW Marriott

Satu Windu Setelah Bom Guncang Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta


 

Ritz KSP1
Hotel Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta Selatan pasca-ledakan bom, 17 Juli 2009. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KSP

 

ROBERT ADHI KSP

Jumat, 17 Juli 2009. Ruang pertemuan Hotel JW Marriott di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan tampak ramai. Para CEO dan pimpinan perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, energi, sumber daya alam, ketenagalistrikan mengadakan breakfast meeting Indonesia Country Programme (ICP) yang digelar CastleAsia. 

CastleAsia adalah penyedia jasa intelijen bisnis. Perusahaan tersebut memberikan informasi dan laporan tentang isu-isu terkini di bidang politik dan ekonomi yang akan dihadapi para pebisnis. Topik yang dikupas hari Jumat itu adalah tentang industri pertambangan dan industri berat. 

Harian Kompas, Sabtu 18 Juli 2009 mewartakan, dalam daftar eksekutif yang hadir dalam breakfast meeting di Hotel JW Marriott terdapat nama Timothy David Mackay, Presiden Direktur Holcim Indonesia, yang termasuk dalam korban tewas; David Potter, Direktur Eksplorasi PT Freeport Indonesia; Adrianto Machribie, Komisaris PT Freeport Indonesia; Kevin Moore, Presiden Direktur Husky Energy; Gary Ford, Presiden Direktur Anadarko Oil; Edward Thiessen dan Pedro Sole, Chief Executive Officer (CEO) Alstom Power; Patrick Foo, CEO AEL Indonesia; Noke Kiroyan, Managing Partner pada Kantor Pengacara Kiroyan and Partners; dan James Castle, CEO CastleAsia.

Adrianto Machribie, salah seorang warga negara Indonesia yang hadir dalam breakfast meeting tersebut dan saat itu menjabat Komisaris dan Senior Adviser untuk Chairman Freeport Mcmoran Copper & Gold. Selebihnya para pimpinan perusahaan dari berbagai kebangsaan, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Belanda, Jerman, Kanada, India, Jepang sampai Norwegia.

Adrie duduk di kursi nomor tiga di meja panjang yang berkapasitas maksimal 24 orang itu. “Saya sengaja memilih tempat duduk di dekat pilar,” kata Adrie dalam percakapan dengan Kompas, beberapa waktu lalu.  Dia mengaku merasa terlindungi bila duduk di dekat tiang atau pilar bila terjadi gempa ataupun ledakan yang menyebabkan gedung runtuh.

Lanjutkan membaca Satu Windu Setelah Bom Guncang Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta

Benarkah Telegram Sarana Komunikasi Kelompok Teroris?


ROBERT ADHI KSP

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengumumkan pemblokiran aplikasi percakapan Telegram karena bermuatan konten negatif, di antaranya propaganda radikalisme, paham kebencian, ajakan merakit bom dan melakukan serangan teror. Sedikitnya ada 17.000 halaman mengandung terorisme dan radikalisme.

Kementerian Komunikasi dan Informatika meminta internet service provider (ISP) memutus akses sebelas domain name system (DNS) milik Telegram, yaitu t.metelegram.metelegram.orgcore.telegram.orgdesktop.telegram.org, venus.web.telegram.org, web.telegram.orgphoto.web.telegram.orgflora.web.telegram.org, dan flora-i.web.telegram.org.Pemblokiran ini menyebabkan layanan Telegram versi web tak bisa diakses lagi melalui komputer.

Rudiantara seperti diwartakan Harian Kompas, Sabtu 15 Juli 2017, sedang mempersiapkan proses penutupan aplikasi Telegram secara menyeluruh di Indonesia, jika Telegram tidak membuat prosedur standar operasi penanganan konten-konten yang melanggar hukum dan perundangundangan di Indonesia. Rudiantara menegaskan, pemblokiran ini langkah untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan bukan untuk memberangus kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia.

Awal Juli lalu, Telegram mengumumkan aplikasi percakapan itu mampu menampung 10.000 anggota, mampu mengirim pesan lebih cepat dibandingkan aplikasi serupa manapun dan dapat mengirim foto, video, dokumen berbagai jenis (doc, zip, mp3, dan sebagainya) sampai 1,5 GB. Jumlah pengguna aktif Telegram di seluruh dunia saat ini mencapai 100 juta, yang mengirim 15 miliar pesan setiap hari. Pengguna baru Telegram yang mendaftar setiap hari sekitar 350.000. Telegram dapat diakses dari perangkat apapun, mulai dari Android, iOS, WindowsPhone, sampai pada platform versi web, macOS, sampai PC, Mac, dan Linux. (Kompas.id, 3 Juli 2017).

 

Aplikasi Telegram

 

Digunakan kelompok teroris

Pertanyaannya, benarkah Telegram kini digunakan oleh kelompok militan untuk berkomunikasi?  Pada Mei 2017  The Huffington Post menulis, seiring langkah media sosial Facebook dan Twitter yang meningkatkan upaya untuk menutup akun-akun pro-NIIS, Telegram malah mengisi kekosongan tersebut. Sejak sekitar tahun 2015, para analis mengatakan terjadi eksodus kalangan ekstremis ke aplikasi dengan privasi dan kebebasan yang lebih baik.

“Kami telah melihat kecenderungan yang benderang atas berkembangnya penggunaan Telegram oleh hampir semua kelompok teroris di seluruh dunia,” kata Gabriel Weimaan, profesor di Universitas Haifa, Israel, dan penulis masalah-masalah ekstremisme di jagat maya.

Telegram kini sudah menjadi salah satu sarana utama kelompok militan NIIS menyebarkan informasi dan mempersatukan para pendukungnya.

Terlihat kecenderungan yang benderang atas berkembangnya penggunaan telegram oleh hampir semua kelompok teroris di seluruh dunia.

Beberapa jam setelah serangan teror mematikan di kota Manchester, Inggris Raya, terjadi serangkaian aktivitas di aplikasi favorit kelompok militan, sebuah layanan pesan terenskripsi yang disebut sebagai Telegram. Bahkan sebelum pihak berwenang menjelaskan ihwal serangan Manchester, para pendukung NIIS membanjiri saluran pribadi dan publik aplikasi tersebut dengan “pesan perayaan”. Telegram menjadi penghubung bagi propaganda NIIS dan sumber bagi kelompok militan itu untuk menyatakan bertanggung jawab.

 

Meningkatnya penggunaaan Telegram sebagai bagian dari strategi komunikasi NIIS dan kelompok teroris lainnya beberapa tahun ini telah menunjukkan bagaimana ekstremisme mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dalam menghadapi upaya pemerintah menutup kehadiran mereka di dunia maya. NIIS telah lama menggunakan platform media sosial untuk menyebarluaskan propaganda dan merekrut pengikut mereka.

Weimaan menjelaskan, umumnya kelompok teror awalnya mengadopsi platform-platform baru di dunia maya, yang dapat mereka eksploitasi. Telegram bekerja seperti WhatsApp (yang kini dimiliki Facebook), menggunakan enskripsi end-to-end untuk melindungi informasi bersama. Perusahaan yang mengoperasikan Telegram mengklaim memiliki lebih dari 100 juta pengguna, dan menawarkan fitur-fitur seperti menghapus sendiri pesan sampai menyediakan ruang privasi yang lebih besar. Para pengguna dapat berkomunikasi secara langsung dalam kelompok pribadi maupun melalui saluran (kanal).

Badan Keamanan Rusia FSB seperti dikutip BBC mengakui, Telegram telah digunakan pelaku bom bunuh diri di St Petersburg yang menewaskan 15 orang, April 2017 lalu.  Pemerintah Rusia mengancam memblokir aplikasi itu karena pemilik dan pengelola Telegram menolak mengizinkan pemerintah mengakses data pengguna.  Kelompok radikal di Perancis dan Timur Tengah juga menggunakan Telegram untuk berkomunikasi.

Aplikasi Telegram dimulai tahun 2013 sebagai sarana untuk menyediakan layanan pesan yang lebih aman. Penciptanya, Pavel Durov berkebangsaan Rusia menyebutkan, aplikasi ini untuk mencegah layanan keamanan Rusia mengakses komunikasi antarpengguna. Durov ini mirip Mark Zuckerbeg, pencipta Facebook.  Durov mulai menonjol pada 2006 setelah menciptakan VKontake, platform media sosial yang lebih populer di Rusia dibandingkan Facebook.

Ketika kebebasan berinternet di Rusia dibatasi dan Pavel Durov ditekan, Durov memutuskan kabur dari Rusia pada 2014 dan menjual sahamnya di perusahaan tersebut dengan nilai ratusan juta dollar AS. Durov kini warga negara St Kitts dan Nevis, negara kecil Kepulauan Karibia yang mendukung privasi online.

Dalam sejumlah wawancara, Durov membantah pendapat yang menyatakan penggunaan Telegram oleh ekstremis dan mengatakan sebagian penggunanya menggunakan aplikasi itu dengan alasan yang sah. Durov menolak permintaan untuk memberi akses bagi pejabat keamanan untuk melacak percakapan di aplikasi tersebut. Meskipun Telegram dimatikan, Durov yakin itu tidak akan menghentikan teroris untuk berkomunikasi satu sama lain.

Meski Durov menolak campur tangan pemerintah dan pembatasan kebebasan di jagat maya, sebenarnya Telegram sudah berupaya menutup 78 kanal pro-NIIS,  menyusul serangan Paris November 2015. Sejak itu, Telegram menutup ratusan kanal pro-NIIS lainnya.

Namun faktanya, Telegram memang gagal mencegah aktivitas kelompok pro-NIIS di aplikasi tersebut dibandingkan Twitter yang berhasil menutup lebih dari 360.000 akun yang mempromosikan terorisme sejak pertengahan 2015 silam.

Pada saat perusahaan media sosial tertinggal menangani masalah ekstremisme di jagat maya, kelompok teroris malah semakin piawai mengubah strategi komunikasi mereka. Teroris kini cepat belajar dan mampu beradaptasi dengan platform baru.

Pergeseran kelompok militan ke Telegram merupakan bagian dari gerakan NIIS menuju aplikasi dengan jaringan pribadi yang lebih luas. Weimaan menyebutkan, pada saat perusahaan media sosial tertinggal menangani masalah ekstremisme di jagat maya, kelompok teroris malah semakin piawai mengubah strategi komunikasi mereka. Teroris kini cepat belajar dan mampu beradaptasi dengan platform baru.

Bulan Juni 2017 lalu, 28 pemimpin Uni Eropa sepakat untuk menekan secara hukum raksasa-raksasa internet seperti Google, Twitter, dan Facebook untuk menghilangkan konten-konten yang diposting kelompok radikal secepatnya dan meminta mereka mendeteksi terorisme di jagat maya.

Melihat fakta-fakta ini, langkah Menteri Kominfo Rudiantara memblokir Telegram memang harus dilihat dari sisi positif, yaitu upaya pemerintah mencegah radikalisme berkembang di negeri ini dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan bukan memberangus kebebasan berekspresi.

SUMBER: KOLOM, KOMPAS.ID, SABTU 15 JULI 2017 

Gelombang Ledakan Bom di Thailand dan Pengolakan Politik Pasca Referendum


Kamis (11/8/2016) malam, Mark Gainsford, warga negara Inggris sedang menikmati bir di sebuah bar di kawasan night life di kota Hua Hin, kota resort di Teluk Thailand, Provinsi Prachuap Khiri Khan. Tiba-tiba dia mendengar teriakan orang-orang, “bom, bom.” Mark berlari keluar dan mendekati lokasi ledakan. “Saya melihat delapan sampai sepuluh orang tergeletak di jalan. Polisi sangat cepat tiba di lokasi,” ungkap Mark kepada BBC.

Ledakan itu terjadi di kawasan night life yang populer, di luar bar yang menjual bir di Soi Bintabat, di dekat persimpangan Fah Pah di kota Hua Hin. Kawasan ini dikenal sebagai kawasan kehidupan malam yang dikunjungi orang asing dan orang Thailand. Banyak bar yang menjual bir dan toko-toko yang buka hingga larut malam dan menarik wisatawan asing.

Dua ledakan bom di Hua Hin Kamis malam itu menewaskan satu perempuan dan melukai 21 orang lainnya, tiga di antaranya dalam kondisi kritis. Sembilan korban di antaranya wisatawan mancanegara, termasuk dari Inggris, Jerman, Italia, dan Austria.

Menurut polisi, dua bom disembunyikan di dalam pot tanaman dalam jarak 50 meter, dan diledakkan secara terpisah melalui ponsel pada pukul 22.00 dan pukul 22.20 waktu Thailand. Bom kedua meledak 20 menit setelah bom pertama. Semua korban akibat ledakan bom kedua adalah mereka yang berkumpul di sekitar area ledakan pertama.

Kepala Kepolisian Kota Hua Hin, Kolonel Pol Sutthichai Srisopacharoenrat mengungkapkan, ledakan pertama terjadi di dekat pedagang makanan di depan bar yang menjual bir. Pedagang makanan ini mengalami luka parah dan akhirnya meninggal dunia setelah dibawa ke rumah sakit.

Jumlah korban ledakan bom ini diperkirakan bertambah. Serpihan bom yang dikumpulkan sebagai barang bukti mengindikasikan bahwa ledakan bom itu direncanakan untuk membunuh dan menyebabkan banyak korban jiwa.

Bom-bom itu meledak selang 20 menit, merusak libur panjang warga Thailand yang merayakan Hari Ulang Tahun ke-84 Ratu Sirikit, istri Raja Bhumibol Adulyadej .

Lanjutkan membaca Gelombang Ledakan Bom di Thailand dan Pengolakan Politik Pasca Referendum

Serangan Simbolik di Normandia


ROBERT ADHI KSP

Saint-Etienne-du-Rouvray, Selasa, 26 Juli 2016. Pastor Jacques Hamel yang berusia 84 tahun memimpin misa pagi di Gereja Gambetta di kota kecil Saint-Etienne-du-Rouvray, yang masuk wilayah Keuskupan Rouen di wilayah Normandia, sebelah utara Perancis. Saat misa berlangsung, tiba-tiba pada pukul 09.43 waktu setempat, dua lelaki tak dikenal bersenjata pisau memasuki gereja tua itu dari pintu belakang.

Misa terhenti. Kedua lelaki ini lalu menyandera Pastor Jacques Hamel, dua biarawati, dan dua umat yang hadir dalam misa itu. Teriakan histeris terdengar di dalam gereja.

”Dua lelaki itu memaksa pastor Hamel berlutut. Pastor Hamel berusaha membela diri. Saat itulah lelaki itu meneriakkan kata-kata dalam bahasa Arab dan menikam leher imam Katolik itu,” kata Suster Danielle, biarawati yang lolos dari penyanderaan. Lelaki lainnya menikam leher seorang umat yang kondisinya kini antara hidup dan mati. ”Mereka merekam aksi mereka sendiri. Mereka berkhotbah dalam bahasa Arab di sekitar altar. Sungguh mengerikan,” ujar Suster Danielle kepada TV Perancis, BFM.

Suster Danielle yang melarikan diri dari gereja itu membunyikan alarm tanda bahaya. Dalam waktu 20 menit, dua brigade polisi antiteror Perancis yang mengenakan rompi antipeluru dan bersenjata lengkap tiba di lokasi kejadian.

Seorang warga setempat yang sedang berjalan dan bermaksud berbelanja dihentikan polisi dan diminta untuk kembali ke rumah. Kota kecil Saint-Etienne-du-Rouvray berjarak tempuh 1,5 jam dengan mobil dari kota Paris.

”Pasukan antiteror menembak mati dua teroris tersebut,” kata pejabat Kementerian Dalam Negeri Perancis kepada BFM.

Pemimpin tertinggi umat Katolik dunia Paus Fransiskus mengekspresikan ”rasa sakitnya” akibat serangan teroris yang menewaskan seorang imam Katolik dan melukai tiga orang lainnya dalam penyanderaan di dalam gereja. Paus sedang berada di Polandia menghadiri Hari Kaum Muda Sedunia bersama dua juta anak muda Katolik dari seluruh dunia.

Lanjutkan membaca Serangan Simbolik di Normandia

Penembakan di Munich, Pengamuk atau Teroris?


ROBERT ADHI KSP

JUMAT 22 Juli 2016. Salah satu akun Facebook milik seorang gadis dengan nama Selina Akim mengajak orang untuk datang ke gerai McDonald’s di seberang mal Olympia Einkaufszentrum pukul 16.00 waktu Munich, menawarkan makanan gratis. “Ayo datang ramai-ramai ke mal Olympia. Saya akan memberi barang (makanan) yang kalian inginkan, dan harganya tidak terlalu mahal.”

Sebelum pukul empat petang, cukup banyak remaja yang sudah ramai berkumpul di gerai McDonald’s , seorang lelaki muda mengenakan pakaian hitam berdiri di area parkir mal yang beratap berteriak, “Saya orang Jerman,” kemudian melepaskan tembakan dari pistol Glock 17 kaliber 9mm, ke arah kerumunan orang. Beberapa orang jatuh. Genangan darah membasahi lantai.

Thomas Salbey (57), yang duduk di balkon apartemennya, sedang menikmati bir ketika dia mendengar suara tembakan dari arah McDonald’s. Salbey melihat ke bawah dan menyaksikan penembak itu berlari. “Saya melemparkan kaleng bir ke arahnya,” ungkap Salbey.

Setelah menembak korbannya di McDonald’s, lelaki bersenjata itu masuk ke dalam mal Olympia.

Leonora (22) yang bekerja di toko Jack and Jones di mal itu bercerita kepada The Telegraph, ketika dia mendengar suara tembakan, dia mendengar rekannya berteriak ‘lari’. Leonora langsung berlari sekuat mungkin melalui pintu belakang. “Saya tidak tahu mengapa saya berlari. Begitu tiba di rumah, saya baru tahu ada korban yang tewas ditembak.”

Lanjutkan membaca Penembakan di Munich, Pengamuk atau Teroris?

Serangan dalam Kereta di Wuerzburg dan Kebijakan Merkel soal Pengungsi


ROBERT ADHI KSP

Kereta malam melaju dari kota Treuchtlingen menuju kota Wuerzburg di Bavaria, Jerman, Senin, 18 Juli 2016. Kereta itu sudah berjalan hampir dua jam sejauh 140 kilometer di jalur yang dibangun sejak satu setengah abad silam. Waktu menunjukkan pukul 21.15 ketika kereta itu mendekati stasiun terakhir di kota Wuerzburg di selatan Jerman.

Tiba-tiba seorang remaja membawa kapak dan pisau berdiri di antara penumpang. Remaja itu secara membabi-buta mengayunkan kapak dan pisau ke sejumlah penumpang kereta. Para penumpang berteriak histeris ketika kapak yang diayunkan remaja itu melukai sejumlah penumpang kereta.

 

Wuerzburg Jerman Juni 2013
Suasana kota Wuerzburg, Jerman. Foto diambil Juni 2013. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

 

Seorang saksi mata kepada DPA News melukiskan, suasana di kereta tampak seperti suasana “jagal”. Darah menggenangi lantai kereta itu. Dia melihat penumpang merangkak meminta pertolongan, sementara penumpang lain tergeletak di lantai kereta.

Empat penumpang kereta yang merupakan satu keluarga dari Hongkong luka-luka, dua di antaranya dalam kondisi kritis.

Setelah melukai empat penumpang, lalu menarik rem darurat, remaja itu berusaha melarikan diri ke arah kota Heidingsfeld.

Namun, berkat laporan yang cepat disampaikan ke pihak berwajib, satu unit polisi khusus yang kebetulan berada di sekitar lokasi kereta langsung memburu remaja itu. Polisi menembak tewas remaja itu setelah berusaha menyerang seorang perempuan dan seorang polisi.

Pemimpin Hongkong Leung Chun-ying mengecam serangan yang melukai empat dari lima anggota keluarga Hongkong yang sedang berlibur di Jerman itu. Wisatawan asal Hongkong itu baru saja mengunjungi kota tua peninggalan Abad Pertengahan, Rothenburg ob der Tauber.

Remaja Afganistan

Penyerang itu seorang remaja Afganistan bernama Muhammed Riayad berusia 17 tahun. Dia datang sendirian ke Jerman dua tahun lalu (2014) sebagai imigran. Sebelumnya, dia mendaftarkan diri sebagai pencari suaka di kota Passau di perbatasan Austria.

Menteri Dalam Negeri Bavaria Joachim Herrmann dalam penjelasan resmi mengungkapkan, remaja Afganistan itu tinggal di Wuerzburg sejak Maret 2016. Setelah mendapatkan akomodasi sebagai pengungsi selama beberapa bulan, ungkap Die Welt, dia pindah dan tinggal bersama keluarga angkat di Ochsenfurt sekitar dua pekan lalu.

Lanjutkan membaca Serangan dalam Kereta di Wuerzburg dan Kebijakan Merkel soal Pengungsi

Malam Berdarah di Kota Nice


ROBERT ADHI KSP

ERIC Drattel dan istrinya sedang menikmati wine di sebuah restoran di kawasan Promenade des Anglais di Nice, kota di tepi Laut Mediterania di selatan Perancis. Pasangan dari Amerika Serikat itu memperpanjang waktu liburan mereka di Perancis setelah menyaksikan final sepakbola Piala Eropa (Euro) di Paris, beberapa hari sebelumnya.

 

nice 03 KSP
Suasana Promenade des Anglais di kota Nice, Perancis selatan pada saat damai. Foto diambil 28 Juni 2015. FOTO: ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

 

 

Kembang api warna-warni menghiasi langit Nice. Ribuan warga kota bercampur-baur dengan wisatawan mancanegara menikmati suasana perayaan Hari Bastille atau Revolusi Perancis, Kamis 14 Juli 2016.

Setelah dentuman suara kembang api selesai, ribuan orang tumpah ke jalan. Tak berapa lama, terdengar teriakan bernada panik di Promenade des Anglais yang penuh dengan lautan manusia. “Tiba-tiba terdengar jeritan dan suara tangis dari orang-orang yang berada di jalan, yang berlarian masuk ke area restoran,” ungkap Eric kepada CNN. Dia melihat arlojinya, pukul 22.45 waktu Nice.

“Ketika pertunjukan kembang api berakhir, kami berjalan menuju Promenade des Anglais. Lalu kami mendengar suara tembakan. Kami berlari ke arah jalan lain dan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Kami berpikir itu suara kembang api dari lokasi lain. Kami berlari karena kami melihat banyak orang di dekat kami juga berlari,” ungkap Celia Delcourt (20), warga kota Nice.

Warga Inggris Kevin Harris berada di teras hotel lantai tiga ketika kerumunan orang di jalan menyaksikan pesta kembang api. Harris lalu kembali ke kamarnya di lantai tujuh. Satu menit kemudian, dia mendengar suara tembakan. Dia keluar ke balkon dan menyaksikan banyak orang bergelimpangan di jalan. “Jumlahnya mungkin dua puluh orang. Saya baru tersadar, ini serangan teroris,” kata Harris.

Saat itu, tak disangka-sangka, sebuah truk melaju dan dikendarai seorang lelaki secara zig-zag di kawasan itu, menyambar puluhan orang di depannya. Beberapa di antara yang ditabrak truk, tubuhnya melayang dan kemudian jatuh ke jalan.

Lebih 100-an orang berlari dan melompat ke bawah dari tepi jalan menuju area pantai, untuk menghindari truk tersebut.

Sekitar pukul 22.45 waktu Nice, menurut The New York Times, truk itu berbelok ke jalan utama dari tepi jalan kecil di sisi rumah sakit anak-anak. Truk itu melaju kencang, menabrak seorang perempuan muslim dan seorang lelaki tak dikenal. Keduanya korban pertama truk tersebut. Setelah menyetir sekitar 700 meter,  setelah melewati restoran Florida Beach di tepi pantai, di depan Centre Universitaire Mediterraneen, truk itu menyambar pejalan kaki lagi. Terdapat tujuh jenazah yang terekam di area ini.

Menjelang pertigaan Promenade des Anglais dan Rue Honore Sauvan, truk itu mulai menabrak kerumunan massa, ungkap seorang saksi mata di restoran Voilier Plage, yang lokasinya di tepi pantai. Di area sekitar restoran itu, terlihat 10 jenazah yang terekam. Truk itu terus melaju melewati restoran Hi Beach dan Neptune Plage di tepi pantai.

Truk itu melaju selama hampir 30 menit, berkecepatan 60 sampai 70 kilometer per jam sepanjang hampir dua kilometer, melindas semua yang ada di depannya, termasuk pohon palem, lampu jalanan, dan sepeda.

Persis di pertigaan di depan Hotel Le Negresco, pengemudi truk mulai melepas tembakan ke arah tiga polisi yang mengejarnya. Polisi-polisi itu membalas tembakan. Di seberang Hotel West End, dari rekaman video hotel terlihat truk itu mulai bergeser dari tempat pejalan kaki menuju jalan.

Di depan Westminster Hotel & Spa, anggota polisi masih menembaki truk tersebut. Di titik ini, di pertigaan Promenade des Anglais dan Rue Meyerbeer di samping Hotel Wesminster, setelah melaju sejauh 1,8 kilometer, pengemudi mempercepat truk itu. Di jalur ini, sedikitnya 20 orang tewas atau terluka.

Polisi-polisi yang mengepungnya dari semua sisi, membalas tembakan itu. Polisi akhirnya menembak mati pengemudi truk itu di depan Casino Du Palais De La Mediterranee, sebelum pertigaan Rue Du Congress. Kepala pengemudi truk tampak menggantung di luar jendela truk.

Polisi masih melepaskan tembakan ke arahnya karena belum yakin pengemudi truk itu sudah tewas. Polisi juga melepaskan tembakan berkali-kali ke semua sisi truk itu karena khawatir pengemudi itu tidak sendirian. Polisi kemudian hati-hati masuk ke dalam truk. Mereka menemukan berbagai jenis senjata dan granat palsu di truk itu, namun tidak menemukan orang lain.

Lanjutkan membaca Malam Berdarah di Kota Nice

Writing is the Painting of the Voice