Manchester United, Klub Inggris Paling Banyak Meraih Trofi


R. ADHI KUSUMAPUTRA

Manchester United kini menggeser Liverpool sebagai klub sepakbola Inggris yang paling banyak meraih gelar juara, menyusul kemenangan MU dalam final Liga Europa atas klub Belanda Ajax, Kamis (25/5/2017) dinihari WIB. MU meraih 42 trofi utama dalam sejarah klub itu, di luar Piala Super Eropa, Piala Dunia Klub, dan Community Shields. Saat ini MU mengoleksi 20 gelar juara Liga Premier Inggris, 12 gelar juara Piala FA, lima Piala Liga, tiga Piala Eropa, satu Piala Winners, dan satu gelar juara Liga Europa.

Liverpool sebelumnya mengoleksi 18 gelar juara liga, tujuh trofi  Piala FA, delapan Piala Liga, lima Piala Eropa, dan tiga piala UEFA dalam sejarah klub itu. Namun kini, menurut The Independent, Manchester United menggeser posisi Liverpool setelah pada Februari lalu, gol Zlatan Ibrahimovic ke gawang Southampton menjelang laga berakhir, mengantarkan Manchester United meraih Piala Liga (EFL). Dan dalam final Liga Europa di Friends Arena, Stockholm, Swedia, Manchester United mengukuhkan diri sebagai klub Inggris paling perkasa.

“Manchester United kini sebuah klub yang memenangi semuanya dalam dunia sepakbola. Kami memilih dengan cara ini dibandingkan finish di posisi ke-2, ke-3, atau ke-4 dalam Liga Premier. Kami bermain di Liga Champions musim depan dan kami memenangi gelar juara Liga Europa,” kata Jose Mourinho, pelatih Manchester United. Jose Mourinho merupakan manajer pertama yang memenangi Liga Champions dua kali dan Liga Europa/Piala UEFA dua kali.

Untuk Manchester dan untuk Inggris

 

Paul Pogba, pemain asal Perancis yang mencetak gol pertama Manchester United ke gawang Ajax menatakan, “Kami bermain untuk Inggris, kami bermain untuk Manchester, dan kami bermain untuk korban tewas akibat serangan bom bunuh diri di Manchester.”

Pogba menambahkan, “Banyak hal buruk terjadi di dunia, termasuk di London dan di Paris. Kami fokus memenangi pertandingan final dan kami meraih juara untuk Manchester dan untuk Inggris.”

“Kami sangat bangga. Tak seorangpun mampu berkata-kata. Ada yang bilang ini musim yang buruk bagi MU tetapi kami meraih tiga trofi (termasuk Community Shield). Setelah gol tercipta, kami menguasai pertandingan melawan Ajax. Sungguh permainan terbaik dari setiap orang dalam tim ini,” kata Pogba.

Paul Pogba berhasil membuktikan dirinya berharga sebagai pemain termahal MU setelah mencetak gol pertama ke gawang Ajax. Kini Pogba sudah memenangi 10 trofi dalam karier sepakbolanya, yaitu 4 gelar Liga Italia Serie A, dua Piala Coppa Italia, 2 Piala Supercoppa, satu piala Liga (EFL) dan satu trofi Liga Europa.

Pemain Manchester United asal Armenia Henrikh Mkhitaryan dan salah satu pencetak gol dalam final Liga Europa, menerima ucapan selamat dari Perdana Menteri Armenia, Karen Karapetyan. “Contoh terbaik dari komitmen, kerja keras, dan patriotism. Selamat, dear Henrikh Mkhitaryan. Semalam, Anda telah memberi kami semua emosi yang fantastis,” kata Karen seperti dikutip Armenpress.

Ander Herrera yang dinobatkan sebagai “Man of the Match” mengatakan, “Saya ingin mendedikasikan trpofi juara Liga Europa ini kepada para korban (bom Manchester). Ini memang hanya sepakbola dan apa yang terjadi dua hari lalu sangat menakutkan. Kami ingin perdamaian tercipta di dunia, sebuah dunia normal dengan kehormatan. Kami hanya pemain sepakbola tetapi kami memiliki audiens sehingga kami ingin melihat semua orang bergandengan tangan bersama untuk dunia yang normal. Ini terjadi di Manchester namun di mana pun kami igin melihat dunia bersatu dan damai, saling menghormati, tak ada serangan lagi dan tak perlu ada lagi yang meninggal dunia.”

Bursa transfer

Pelatih Manchester United Jose Mourinho mengatakan, “Banyak puisi dalam dunia sepakbola tetapi puisi tidak membuat klub memenangi banyak  gelar juara. Kami tahu di mana kami lebih baik dibandingkan mereka dan kami mengeksploitasi kelemahan mereka. Ini memang akhir dari musim yang sulit, tetapi suatu musim yang sangat baik.”

Tentang rencana transfer pemain, Jose Mourinho seperti dikutip BBC mengatakan, “Ed Woodward sudah mengantungi daftar pemain yang saya inginkan sejak dua bulan lalu. Sekarang terserah dia dan para pemilik klub. Namun saya tidak ingin bicara tentang sepakbola dulu saat ini.”

Sementara itu The Telegraph menulis, Antoine Griezmann, pemain timnas Perancis yang kini bermain untuk klub Spanyol, Atletico Madrid, kemungkinan besar akan bergabung dengan Manchester United. Griezmann akan mengumumkan keputusannya dalam dua minggu-tiga minggu ke depan sebelum dia menikmati bulan madunya.

SUMBER: KOMPAS.ID, KAMIS 25 MEI 2017

 

 

Digital Hub BSD Dirancang Menjadi ”Silicon Valley” Indonesia


R. ADHI KUSUMAPUTRA

Digital Hub BSD, kawasan cerdas terintegrasi pertama di Indonesia, dirancang menjadi ”Silicon Valley” Indonesia, menjadi ”rumah” yang nyaman bagi berbagai perusahaan teknologi dan digital, mulai dari usaha rintisan (startup), perusahaan yang bergerak di bidang teknologi dan digital, sampai lembaga pendidikan di bidang teknologi informasi.

Digital Hub BSD mulai dibangun pada Kamis (18/5), ditandai dengan acara groundbreaking oleh CEO Sinarmas Land Michael Widjaja; Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf; Sekjen Kementerian Ristek dan Dikti Ainun Na’im; Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawiriawan; Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Lis Sutjiati; Bupati Tangerang Ahmad Zaki Iskandar; Managing Director President Office Sinarmas Land Dhony Rahajoe; Manajer Senior Sinarmas Land Saleh Husin; serta Project Officer Digital Hub BSD Irawan Harahap. 

IMG_0922 (1).jpg

Michael Widjaja mengungkapkan, kehidupan orang saat ini berubah secara dramatis akibat pengaruh perkembangan teknologi yang begitu cepat. ”Ini berdampak pada berubahnya standar hidup, cara hidup, dan kebiasaan hidup kita sehari-hari,” kata Michael. ”Termasuk kebiasaan saya menonton. Kini saya lakukan dalam genggaman tangan lewat ponsel cerdas,” lanjutnya.

Michael juga memberi contoh lain, yaitu kebiasaan generasi milenial membeli tiket secara daring dan membeli barang melalui toko daring. Perubahan ini telah menghidupkan sektor e-commerce (e-dagang).

Perubahan ini, ujar Michael, menuntut dirinya sebagai orang yang membangun kawasan perkotaan untuk juga berubah. Tidak lagi sekadar membangun rumah dan ruko, tetapi juga membangun kawasan digital cerdas terintegrasi yang menjadi ”rumah” bagi perusahaan-perusahaan teknologi dan digital.

DigiHub1 KSP.jpg

Digital Hub yang dibangun di lahan seluas 25,86 hektar, di sisi selatan Green Office Park BSD, merupakan wujud dari komitmennya mengembangkan ”Silicon Valley” Indonesia serta memajukan dunia teknologi dan digital di Tanah Air.

Beberapa mitra di Digital Hub BSD adalah Apple Inc yang membangun pusat riset dan pengembangan, Purwadhika (sekolah startup dan coding), GeeksFarm (tech talent), Universitas Amikom Yogyakarta (membangun pusat animasi), Huawei, Dimension Data, Unilever, Smartfren, My Republic, serta beberapa startup, yaitu Sale Stock, Orami, Qlue, dan EV Hive.

DigiHub3

Masuknya Apple ke Digital Hub BSD membuat kami lega. Selanjutnya, dua universitas ternama dari dalam negeri dan luar negeri segera bergabung,” kata Michael Widjaja.

Triawan Munaf menambahkan, institusinya harus mendekatkan diri dengan komunitas dan ekosistem ekonomi kreatif. ”Tampaknya Bekraf harus pindah ke BSD,” ucapnya setengah bercanda. 

Lis Sutjiati mengatakan bahagia dengan perkembangan ini. Ia yakin, mimpi Michael sebagai anak bangsa untuk mewujudkan Digital Hub sebagai Silicon Valley dengan cita rasa Indonesia dapat terwujud. 

SUMBER: KOMPAS.ID, JUMAT 19 MEI 2017

Katakan dengan Bunga


Flowers always make people better, happier, and more helpful; they are sunshine, food, and medicine for the soul. (Luther Burbank).  Bunga-bunga selalu membuat orang lebih baik, lebih bahagia, dan lebih berguna; bunga-bunga adalah matahari, makanan, dan obat bagi jiwa.

Lebih dari seribu karangan bunga dikirim ke Balai Kota DKI Jakarta, kantor Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidajat sejak Selasa (25/4/2017) hingga Rabu (26/4/2017) ini.

Lihat gambar di Twitter

Ucapan di karangan bunga itu menarik perhatian khalayak karena bukan sekadar ucapan terima kasih biasa tetapi mencerminkan rasa cinta mendalam kepada Basuki-Djarot yang kalah dalam hitung cepat pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jakarta 19 April lalu. Seribuan karangan bunga ini memenuhi halaman Balai Kota hingga tepi jalan Medan Merdeka Selatan hingga ke kawasan Monas.

Di dunia twitter, hestek #GombalinAhok sempat menjadi topik tren Indonesia sepanjang Rabu ini. “Ungkapan cinta banyak bentuknya. Salah satunya lewat bunga. Bunga-bunga ini bukti nyata @AhokDjarot dicintai rakyatnya,” tulis akun @PakarLogika sambil menyertakan satu foto tentang puluhan karangan bunga di Balai Kota dan dua foto tentang ratusan simpatisan yang antre bertemu Basuki di Balai Kota.

Lihat gambar di Twitter

Ucapan dalam karangan bunga itu banyak yang unik dan membuat orang tersenyum.  “Terima kasih Pak Ahok-Djarot atas peluh keringat yang tercurah buat Jakarta. Dari kami yang patah hati ditinggal saat lagi sayang-sayangnya,” demikian salah satu ucapan karangan bunga yang diwarnai 21 hati yang sengaja dibuat retak. Ada lagi kiriman karangan bunga dari ISP Grup, “Terima kasih Bapak Ahok-Djarot. Kalau aku disuruh untuk melupakanmu, aku mau ke kelurahan dulu, minta surat keterangan tidak mampu.” 

“Pemimpin dan rakyat yang saling mencintai,” tulis akun @Saidiman   dan postingan video Basuki dikerumuni massa. “The other team might won the vote, but @basuki_btp won our heart — the love is a bit overwhelming tho,” ungkap Farraz Theda dengan akun @raztheda yang mengunggah tiga foto tentang puluhan karangan bunga di seputar Balai Kota DKI. 

Lihat gambar di TwitterLihat gambar di Twitter

“Dear Pak Ahok, terhitung hari ini, berarti sudah dua kali saya melepaskan orang yang saya sayang hanya karena faktor agama,” ungkap Yusdianti Saputri dengan akun @namagueyusdi.  “Hatiku hancur Pak. Lebih baik kehilangan pacar daripada kehilangan Pak Ahok,” tulis Sunaryo Djamal @SunaryoDjamal.  “Pak Ahok tuh kayak gebetan yang gak pernah ngajak jadian. Tapi pas ditinggal berasa jadi mantan terindah sepanjang masa,” tulis akun @LiyahLyh.

“Cara berpolitik Ahok, meski kalah tapi bermartabat. ia sebagai pemimpin akan selalu dikenang dan dicintai terus warganya,” tulis Nong Darol Mahmada @nongangdah.

                                                               ***

Entah kebetulan atau tidak, 25 April adalah tanggal peringatan Revolusi Bunga (Carnation Revolution atau Revolução dos Cravos), kudeta militer terhadap Estado Novo yang dilakukan Armed Forces Movement di Lisbon, Portugal pada 25 April 1974. Tapi saat itu tak ada tembakan dilepaskan ketika rakyat merayakan akhir pemerintahan diktator dan perang di negara-negara koloni Portugis di Afrika. Bunga anyelir dimasukkan ke dalam moncong senjata para serdadu.  Saat itu, bunga pun menjadi simbol perdamaian dalam arti sebenarnya.

Seperti kata-kata Luther Burbank di awal tulisan, “bunga-bunga selalu membuat orang lebih baik, lebih bahagia, dan lebih berguna; bunga-bunga adalah matahari, makanan, dan obat bagi jiwa.” 

Seribuan karangan bunga yang dikirim khusus untuk Pak Basuki dan Pak Djarot dua hari ini membuat para pengirimnya lebih baik dan lebih bahagia karena bunga-bunga itu merupakan makanan dan obat bagi jiwa mereka, menyikapi kekalahan jagoan mereka di Pilkada DKI Jakarta. Mereka sadar betul kekalahan bukanlah akhir segala-galanya dan mereka berusaha Basuki-Djarot tetap bersemangat melanjutkan pekerjaaan hingga enam bulan ke depan, hingga Oktober 2017.

Melalui karangan bunga dengan aneka ucapan yang kocak, para pendukung Basuki-Djarot setidaknya menunjukkan betapa dalamnya cinta mereka pada pasangan calon tersebut. Mereka bicara dengan bunga, simbol perdamaian.

Say it with flowers adalah nama judul film produksi 1934 yang disutradarai John Baxter dan dibintangi Mary Clare dan Ben Field. Katakan dengan bunga. Bunga memang tanda cinta kasih dan perdamaian. Bunga tidak menyakiti siapapun. Bahkan bunga mampu membuat hati pemberi dan penerimanya berbunga-bunga.  ***

SUMBER:  KOLOM, KOMPAS.ID, RABU 26 APRIL 2017  

Pusat Kendali dan Aplikasi Digital Permudah Warga


Di ruangan pusat kendali (command center) di salah satu gedung di kawasan BSD, Tangerang, Banten, terpasang delapan layar televisi. Tiga orang yang bertugas Sabtu (15/4) malam mengamati layar- layar yang terhubung dengan 44 kamera pemantau (CCTV) yang dipasang di sejumlah titik di kawasan kota baru tersebut. Sampai tiga tahun ke depan akan dipasang 300 CCTV di seluruh wilayah yang dibangun pengembang properti ini.

 

michael
Michael Widjaja (kiri) memperhatikan layar CCTV “command center” yang dipusatkan di salah satu gedung di kawasan BSD City, Sabtu (15/4/2017). FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

 

“Pusat kendali ini mengatur lalu lintas, keamanan, dan transportasi bus yang beroperasi di wilayah kami,” kata CEO Sinarmas Land (SML) Michael Widjaja dalam percakapan dengan Kompas, Sabtu lalu. Saat ini jumlah penghuni BSD sekitar 32.000 jiwa. Perkembangan wilayah Serpong yang begitu pesat membuat pengembang swasta ini berpikir perlu membantu pemerintah dan aparat keamanan.

Awalnya saat pelaksanaan Gaikindo Indonesia International Auto Show 2015 digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE), wilayah BSD mengalami kemacetan yang luar biasa.

“Sejak itu kami berpikir lalu lintas di wilayah ini perlu diatur dengan bantuan teknologi digital,” kata Michael.

Pada 2016, muncul inisiatif untuk mengembangkan digital hub di BSD. Kebutuhan akan pusat kendali dan inisiatif digital datang pada waktu hampir bersamaan. Command center punterealisasi dalam waktu singkat.

Namun, pengaturan lalu lintas dan keamanan yang terhubung dengan kantor polisi setempat ini belum mencapai seluruh wilayah BSD, baru di wilayah barat BSD.

“Seharusnya wilayah timur BSD, dari Kencana Loka, Sevilla, De Latinos, Griya Loka, Nusa Loka, Anggrek Loka, sampai Giri Loka, dan Puspita Loka juga dijangkau. Toh, mereka juga penghuni BSD,” kata seorang warga BSD. Michael berjanji pada tahap berikutnya wilayah timur juga dijangkau CCTV agar lalu lintas dan keamanan dapat selalu dipantau.

Command center ini merupakan bagian dari rencana digital hub, kawasan komunitas digital seluas 26 hektar di BSD,” kata cucu taipan Eka Tjipta Widjaja ini. Kawasan komunitas digital ini diproyeksikan menjadi semacam “Silicon Valley” Indonesia.

Digital hub yang dibangun dengan dana Rp 5 triliun itu dilengkapi dengan ruang rapat interaktif, gaming room, VR room, dan lainnya, yang menunjang operasional perusahaan teknologi dan digital, mulai dari usaha rintisan (start up) sampai industri kreatif.

Perusahaan asal Amerika Serikat, Apple Inc, mulai membangun pusat riset di BSD, September mendatang, dan ini akan menjadi pusat riset ketiga di dunia yang dibangun di luar AS.

Kerja sama dengan Qlue

Terkait inisiatif digital, SML bekerja sama dengan Qlue, yang berpengalaman membangun sistem layanan publik digital di seluruh wilayah DKI Jakarta. Lewat aplikasi Qlue, warga Jakarta dapat melaporkan berbagai peristiwa di Ibu Kota, mulai dari kemacetan lalu lintas, banjir, kebakaran, pohon tumbang, sampai aksi kriminal, dan lainnya.

Laporan dan komplain warga langsung direspons pemerintah untuk ditindaklanjuti. Qlue merupakan bagian dari program Jakarta Smart City yang diresmikan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pada 15 Desember 2015.

SML lalu menggandeng Qlue dan meluncurkan aplikasi One Smile bagi pengguna ponsel dengan sistem operasi Android dan iOS. Melalui aplikasi ini, semua penghuni BSD dan pekerja yang berkantor di kawasan ini mendapatkan informasi tentang transportasi, mulai dari jadwal feeder bus BSD-Jakarta (dengan rute ke Ratu Plaza, Mangga Dua, dan Pasar Baru); BSD City Shuttle (dengan rute ke halte bus Trans-BSD, Icon Centro, kluster De Park, The Breeze, Aeon, ICE); rute bus transjakarta BSD City yang mangkal di samping Giant/Lembur Kuring ke Grogol lewat tol Tangerang- Tomang; sampai jadwal KRL Commuter Line.

Lewat aplikasi One Smile, warga juga dapat membayar iuran pengelolaan lingkungan, tagihan air dan listrik, pembelian voucer kartu prabayar dan pascabayar, pembayaran BPJS Ketenagakerjaan/Kesehatan, serta multifinance. Warga juga dapat memesan makanan lewat Grab- Food dan Go-Food. Pengguna aplikasi ini juga dapat memesan tiket secara daring (online), mulai tiket masuk wahana Ocean Park dan BSD Xtreme Park, sampai tiket acara-acara yang digelar di ICE.

Yang terpenting, warga dapat melaporkan dan menyampaikan komplain ke pengembang SML lewat aplikasi One Smile lewat chat (percakapan online), surat elektronik (e-mail), dan telepon. Pada hari kerja, respons hanya 1-2 menit. Pada akhir pekan, respons ditindaklanjuti pada awal pekan.

Sebenarnya yang paling tepat tampil di depan membangun infrastruktur digital ini adalah pemerintah daerah karena ini menyangkut layanan publik. Inisiatif pengembang swasta SML membangun command center, aplikasi One Smile, dan kawasan komunitas digital (digital hub) perlu diapresiasi.

SML tidak hanya membangun rumah, rumah toko, dan fasilitas pelengkap seperti yang dilakukan pengembang properti umumnya, tetapi juga membuat kawasan ini memiliki “roh dan jiwa”, bukan sekadar deretan bangunan. (ROBERT ADHI KSP)

SUMBER: HARIAN KOMPAS, SENIN 17 APRIL 2017 HALAMAN METROPOLITAN

Serpong, dari Hutan Menjadi Kota Baru


ROBERT ADHI KSP
Sebelum tahun 1989, Serpong hanya semak belukar dan hamparan hutan karet yang tidak produktif lagi. Nama Serpong disebut jika ada peringatan Pertempuran Lengkong setiap Januari dan pada saat Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) diresmikan tahun 1984.

Tahun 1986, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Jawa Barat (saat itu) Dr Ateng Syafrudin menyatakan, Serpong akan dikembangkan menjadi kawasan permukiman dan kota baru untuk menyangga beban Jakarta yang makin padat. Untuk itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat membentuk konsorsium real estat yang diketuai Menteri Negara Urusan Perumahan Rakyat

Sebelas real estat yang bergabung dalam Bumi Serpong Damai membuat perencanaan bersama mengembangkan 6.000 hektar tanah menjadi permukiman baru, juga mengatasi masalah tak tersambungnya perencanaan antarpengembang dalam pembangunan jalan dan drainase.

Serpong sebelum 1989 merupakan hamparan hutan karet yang sangat luas. Kebun karet seluas 1.131 hektar yang tak produktif lagi milik PTP XI di wilayah ini lalu “dikorbankan” demi pembangunan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai (BSD). Selain itu, semak belukar yang tak produktif di Kecamatan Serpong dan Legok, Kabupaten Tangerang, juga akan digunakan untuk kepentingan kota baru Serpong.

Pembangunan Bumi Serpong Damai dilakukan konsorsium PT BSD terdiri atas 11 perusahaan swasta dengan investasi Rp 3,2 triliun. PT BSD didirikan pada 16 Januari 1984 oleh konsorsium yang terdiri atas beberapa perusahaan yang tergabung dalam kelompok usaha Sinar Mas, Salim, Metropolitan, dan Pembangunan Jaya.

Pada 16 Januari 1989, Menteri Dalam Negeri Rudini meresmikan dimulainya pembangunan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai. Saat itu Direksi PT BSD Eric Samola SH mengungkapkan, Kota Mandiri Bumi Serpong Damai dibangun di atas areal 6.000 hektar dengan fasilitas lengkap dan memenuhi kebutuhan warganya. Pada tahap pertama (1989-1996), dibangun 29.565 rumah terdiri dari 15.000 rumah kecil, 11.000 rumah menengah, dan sisanya rumah besar.

Perumahan pertama yang diresmikan awalnya rumah-rumah yang dibangun di Sektor 1 atau Griya Loka di Kelurahan Rawabuntu, Serpong. Rumah-rumah itu rumah tipe BTN dengan tipe paling kecil 21/60 seharga Rp 4,9 juta. Tipe di atasnya 27/90, tipe 36/120, dan tipe 45/145.

Saat itu banyak konsumen membatalkan pembelian karena tak percaya promosi BSD sebagai Kota Mandiri setelah melihat lokasi rumah yang dianggap “jauh ke mana-mana”.
Warga yang akan ke bank pada awal BSD dibangun harus ke Kota Tangerang yang jaraknya 18 kilometer dari BSD.

Pada tahun itu, hanya ada satu jalan tol, yaitu Tol Kebon Jeruk- Merak yang menghubungkan BSD melalui Jalan Raya Serpong ke kawasan barat Jakarta. Juga ada satu jalur kereta dan stasiun- stasiun kecil. Akses utama lainnya menghubungkan BSD dengan kawasan selatan Jakarta melalui Lebak Bulus, Pondok Cabe, Pamulang, Serpong. Jalan Raya Serpong masih dua jalur dan sangat sepi.

“Waktu tempuh dari BSD ke pintu tol di Kebon Nanas yang berjarak 8 kilometer hanya 5-10 menit. Di atas pukul 17.00, hanya satu-dua kendaraan melintasi Jalan Raya Serpong,” ujar Dhony Rahajoe, warga Serpong, yang juga Managing Director President Office Sinar Mas Land.

Setelah krisis moneter 1998, Sinar Mas membeli saham-saham lainnya dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan menjadi pemilik mayoritas. Setelah itu, PT BSD menjadi perusahaan Tbk dan hingga saat ini sebagian sahamnya dimiliki masyarakat.

Saat ini, ada dua akses jalan tol, selain Tol Jakarta-Merak, juga Tol BSD-Ulujami-Lingkar Luar (JORR) yang menghubungkan BSD dengan sejumlah kawasan di Jakarta. Jalur kereta saat ini sudah jalur ganda dengan kondisi stasiun (Rawabuntu dan Serpong) yang sudah lebih baik. Jalan-jalan penghubung antara BSD dan Jakarta hidup 24 jam. Lalu lintas KRL Commuterline meningkat pesat. Saat ini akses di BSD sudah saling terkoneksi dilengkapi pedestrian dan halte- halte transportasi publik. Sinar Mas Land membangun stasiun intermoda di Cisauk.

Pada 1988-1990, jika warga mencari makanan, biasanya ke restoran padang atau warteg di pinggir Jalan Raya Serpong juga di pelosok kampung.

Saat ini, Serpong jadi “surga” makanan, mulai dari makanan kaki lima sampai “bintang lima”.
Kawasan BSD Green Office Park tahun 2017. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Lanjutkan membaca Serpong, dari Hutan Menjadi Kota Baru

Tony Wenas, Sang “Trouble Shooter”: “Problem is My Middle Name”


Masa muda Tony Wenas penuh warna-warni. Dia bersekolah di SMA Kanisius Jakarta yang semua muridnya lelaki. Dia sering kabur dari kelas dan sering lolos. Di masa SMA  itu pula, Tony menyalurkan bakat musiknya dengan menghidupkan band Kanisius, dan mengantarkan band SMA itu meraih juara.

“Tony Wenas pada masa SMA memang sering kabur dari kelasnya. Penjaga sekolah sering membantu Tony. Anehnya, meski sering ngabur dari sekolah, Tony selalu dapat nilai bagus. Suatu kali saya mencoba kabur dari kelas, eh malah tertangkap,” cerita Rhenald Kasali, teman sekelas Tony Wenas di SMA Kanisius dalam peluncuran buku berjudul Tony Wenas, Chief Entertainment Officer, Work and Fun are Soulmates di Airman Lounge, Hotel Sultan Jakarta, Sabtu (8/4/2017) malam. Buku yang ditulis Robert Adhi Ksp itu, diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama. MC acara malam itu, Lilo KLA Project, mengocok perut sekitar 250 orang yang hadir dengan joke-joke khasnya. 

Acara peluncuran buku tersebut bertepatan dengan hari ulang tahun ke-55 Tony Wenas, yang dihadiri istri Tony, Shita Manik-Wenas, dan putranya Diego Wenas. Tony sejak 1 Maret 2017 lalu menjabat Executive Vice President PT Freeport Indonesia. Sebelumnya Tony pernah menjabat CEO PT Riau Andalan Pulp & Paper dan CEO PT Vale Indonesia (INCO).

FOTO OLEH CHAPPY HAKIM

Peluncuran Buku “Tony Wenas – Chief Entertainment Officer – Work and Fun are Soulmates” di Airman Lounge, Hotel Sultan Jakarta, Sabtu (8/4/20170 malam. Dari kiri: Tony Wenas, penulis buku Robert Adhi Ksp, dan MC Lilo KLA Project.

Peluncuran buku dalam suasana santai itu dihadiri para sahabat Tony Wenas, di antaranya mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Kehormatan AM Hendroprijono; mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Purn Chappy Hakim yang pernah menjabat Presdir PT Freeport Indonesia; Presiden Direktur Metro TV Adrianto Machribie yang pernah menjabat Presdir PT Freeport Indonesia; Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Nico Kanter yang juga sepupu dan teman main Tony di masa kecil dan remaja; CEO Sintesa Group Shinta Widjaja Kamdani; Duta Besar RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya;  HS Dillon; musisi Addie MS dan Fariz RM; serta kolega Tony di Freeport Indonesia, PT RAPP, PT Vale Indonesia, juga teman kuliah dan teman sekolah. 

Adriano Machribie yang menulis Epilog buku ini mengungkapkan, Tony Wenas berada dalam “dua Solid”, yaitu “Solid 80”, band yang dibentuknya bersama teman-temannya ketika Tony masih mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 1980, dan solid dalam pekerjaannya.  “Berkiprahnya Tony di band Solid 80, membantunya belajar bertanggyng jawab dalam memimpin musisi yang cenderung individualistis dan egois sehingga Tony paham gaya kepemimpinan yang efektif. Salah satu gaya kepemimpinan itu adalah keluwesannya dalam beradaptasi,” kata Adrianto. 

Ibarat mengelola sebuah band, Tony Wenas memimpin perusahaan dengan menciptakan harmoni. Tak heran bila banyak orang menyebut Tony sebagai problem solver dan trouble shooter. Saking seringnya menyelesainya masalah dalam sejumlah perusahaan yang dipimpinnya, Tony menyebut, “Problem is my middle name.” 

Buku ini juga memuat pandangan-pandangan Tony Wenas tentang cara dia memimpin perusahaan dan menyelesaikan banyak persoalan di berbagai perusahaan yang dipimpinnya.

Peluncuran Buku “Tony Wenas, Chief Entertainment Officer, Work and Fun are Soulmates” di Airman Lounge, Hotel Sultan Jakarta, Sabtu (8/4/2017) . Tony Wenas (kedua dari kanan), Rhenald Kasali (kedua dari kiri), Adrianto Machribie (ketiga dari kanan), Agung Laksamana (paling kiri), penulis buku Robert Adhi Ksp (ketiga dari kiri) dan perwakilan penerbit Gramedia Pustaka Utama Andi Tarigan (paling kiri)

Agung Laksamana, Corporate Affairs Director APRIL Group mengakui Tony Wenas mampu hidup dalam keseimbangan. Dia CEO yang bisa hidup dalam dunia yang berbeda. Biasanya CEO hanya memikirkan masalah finansial dan urusan perusahaan, tapi Tony berbeda. Otak kiri dan otak kanannya sama-sama berfungsi maksimal,” kata Agung, yang juga Ketua Umum Perhumas.

Buku ini juga memuat sekilas kisah band “Solid 80” pimpinan Tony Wenas, yang pada masanya dianggap sebagai boyband Fakultas Hukum UI. Dalam acara itu, Tony Wenas bersama personel band “Solid 80” Kurnia Wamilda Putra, Hendrasly Ahmad Sulaiman, Jodie Wenas dll membawakan lagu-lagu dari grup Queen di antaranya “We Are The Champions” dan “Bohemian Rhapsody”. 

Buku ini juga memuat testimoni sejumlah sahabat, kolega dan keluarga yang mengenal sosok Tony Wenas, mulai dari teman sejak SD, SMP, SMA, kuliah, sampai kolega Tony dalam dunia kerja dan teman-teman ngebandnya.

Editor penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Andi Tarigan mengatakan, buku yang dicetak full colour ini dijual di toko buku Gramedia di seluruh Indonesia mulai akhir April dengan harga Rp 125.000 per eksemplar.  “Buku ini ditulis dengan bahasa yang ringan, dan layak dibaca oleh para profesional, pemula, dan siapa saja,” kata Andi Tarigan.

SUMBER: KOMPAS.ID, MINGGU 9 APRIL 2017 

Tony Wenas, Chief Entertainment Officer


Chief Entertainment Officer_C-1+4_Page_1Sampul buku “Tony Wenas, Chief Entertainment Officer: Work and Fun are Soulmates” (oleh Robert Adhi Ksp). Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Terbit April 2017.  DOKUMENTASI PT GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

Chief Entertainment Officer. Julukan ini sangat pas diberikan kepada Tony Wenas, yang sehari-harinya menjabat Chief Executive Officer atau CEO PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) dan Managing Director APRIL Group. Mulai 1 Maret 2017, Tony kembali ke PT Freeport Indonesia. “Menyanyi adalah pekerjaan utama Tony, dan CEO pekerjaan sampingannya,” demikian banyak sahabat dan koleganya menggambarkan diri Tony Wenas saat ini.

Julukan Chief Entertainment Officer keluar dari mulut Nico Kanter, Presiden Direktur dan CEO PT VALE Indonesia, yang juga sepupu Tony. Nico yang menjadi teman main Tony sejak kecil, tahu persis siapa Tony.

Nico Kanter dan kakaknya, Johnny Kanter, serta semua kakak adik Tony Wenas terkagum-kagum dan mengakui betapa Tony seorang genius sejak kecil. Pada usia 4 tahun, Tony sudah mampu menyanyikan lagu orang dewasa, yang saat itu sedang populer, “Ten Guitars”, yang awalnya dibawakan penyanyi Inggris Engelbert Humperdinck pada 1967.

Pada usia 13 tahun, Tony mampu memainkan semua lagu berirama ragtime dan soundtrack film “The Sting” yang dirilis akhir tahun 1973, di antaranya “The Entertainer” ciptaan Scott Joplin yang digubah Marvin Hamlisch. Tony tak pernah belajar piano dengan benar. Dia hanya mendengar dan melihat, lalu mempraktikkannya.

Teman masa kecilnya, Inoe Arya Damar terheran-heran melihat kepiawaian Tony bermain piano. “Saya menilai Tony bukan orang yang senang menonjolkan diri secara berlebihan. Dia akan menunjukkan kehebatannya ketika diminta,” ungkap Inoe, sahabat SD. Adapun sahabat SMP-nya, Dion Simatupang sering membalas surat-surat cinta teman perempuan yang naksir Tony. Bahkan Tony tidak pernah tahu Dion yang membalas surat cinta itu.

IMG_8908 (1)
Bersama Pak Tony Wenas di Burgundy, Grand Hyatt Jakarta, November 2016

Di SMA Kanisius, Tony menghidupkan band sekolah dan sering merebut juara lomba vocal group antar-SMA se-Jakarta. Tony latihan bersama teman- temannya, di antaranya Dwi Hartanto. “Berkat aktivitasnya dalam dunia nyanyi dan musik sejak SMA, Tony punya modal kuat dalam pergaulan,” kata Dwi Hartanto, yang kini pengusaha listrik.

Rhenald Kasali, teman sekelasnya di Kanisius menilai Tony mampu memaksimalkan otak kiri dan otak kanannya. “Jarang ada orang seperti Tony,” kata Kasali, kini guru besar di Universitas Indonesia.

Ketika berusia remaja, Tony bercita-cita ingin menjadi musisi beken. Tony berhasil mewujudkannya dalam waktu enam sampai tujuh tahun kemudian. Melalui band “Solid 80”, band yang dibentuk Tony dan kawan-kawannya saat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Tony tampil sebagai musisi terkenal pada masa itu.

Sampai saat ini Tony memiliki ikatan emosional yang kuat dengan teman- teman band “Solid 80”, yaitu Setiawan Adi, Kurnia Wamilda Putra, Hendrasly Ahmad Sulaiman, Glenn Tumbelaka, Boyke Sidharta dan Edi ‘Achink’ Nugroho. “Tony jujur, pemberani, antusias, dan pembangun semangat,” kata Hendrasly.

Pada masa itu, profesi musisi belum memberi jaminan masa depan. Tony memilih untuk bekerja sebagai profesional. Sesama “anak band”, Triawan Munaf (kini Kepala Badan Ekonomi Kreatif) yang pada masa itu bergabung dalam band “Giant Step” menilai Tony tetap bermusik secara profesional meski menjabat sebagai CEO.

Tony Wenas di studio musik di rumahnya - foto KSP
Tony Wenas di studio musik di rumahnya, Desember 2016

Kepemimpinan yang efektif

Pada awal kariernya, Tony lebih fokus pada pekerjaan. Setelah mulai mapan, Tony tetap “ngeband”, menyanyi dan memainkan alat musik di tempat kerjanya. Tony berpindah-pindah tempat kerja, mulai dari perusahaan migas ARCO (yang kemudian berubah menjadi BP), kemudian perusahaan perbankan dan telekomunikasi.

Tony melamar bekerja di Freeport, dan dalam tujuh tahun, kariernya melesat sampai menduduki jabatan Executive Vice President. Bagi Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (saat itu) Adrianto Machribie, Tony memiliki leadership yang sangat efektif. Dia mampu menggerakkan orang-orang dalam organisasi tanpa menonjolkan dirinya. Tony fleksibel dalam arti positif, terbuka, tidak arogan, mudah bergaul, mau mendengar orang lain, dan juga bisa keras. Tony juga tidak pernah mengatakan, “Aku yang menentukan.”

Adrianto Machribie berpendapat, banyak orang yang mencoba naik ke atas dengan cara “menendang” ke kiri dan kanan, tetapi Tony berkembang tanpa harus “menyikut”, “melukai” ataupun “menendang” orang lain. Dia dipilih karena prestasi yang diukirnya sendiri.

KSP dan Adrianto Machribie.jpg
Bersama Pak Adrianto Machribie, mantan Presdir PT Freeport Indonesia, yang sekarang menjabat Presdir Metro TV, Februari 2017 

Tony Wenas dinobatkan sebagai “The Indonesia Most Admired CEO 2016” atau CEO Idaman Indonesia pada 8 Desember 2016 dari majalah “Warta Ekonomi”. Sebelumnya, pada 2 Maret 2016, Tony Wenas dinobatkan sebagai salah satu CEO Terbaik (The Best CEO) versi “Men’s Obsession” dan menerima “Obsession Awards 2016” sebagai “Best Individual Achiever Category CEO Private Sector”. Penghargaan-penghargaan sebagai CEO Terbaik yang diterima Tony Wenas sepanjang 2016 merupakan apresiasi pihak luar kepada dia dan apa yang telah dia lakukan. Tony selalu mengatakan, keberadaannya di perusahaan harus memberi manfaat lebih bagi semua pihak. Sebab bila sama saja, artinya dia hanya “CEO rata-rata”.

Tidaklah heran bila nama Tony Wenas masuk dalam daftar headhunter mengingat kemampuan Tony melakukan lobbying, menjalin networking, dan kemampuan teknisnya. Dia paham masalah kehutanan, pertambangan, dan perbankan, meski tidak sampai detail.

Kalimat kunci yang sering disampaikan Tony adalah dia mengelola perusahaan seperti pengalamannya mengelola band. Dia mengelola orang-orang dalam perusahaan itu seperti dia mengelola para pemain dalam grup band. “It’s about managing people,” kata Tony. Memimpin perusahaan ibarat memimpin orkestra dan band. Seorang pemimpin orkestra tahu kapan pemain tertentu harus dominan dan kapan dia harus lembut, instrumen apa yang perlu tampil di depan, dan kapan di belakang. Bagi Tony, memimpin lima manajer dalam perusahaan jauh lebih mudah dibandingkan memimpin lima pemain band yang memiliki ego yang cenderung tinggi.

Cara Tony menangani persoalan selalu mujarab. Apapun persoalan yang dihadapinya, Tony mampu menyelesaikan dengan baik. “Saya mengagumi kemampuan Tony menangani berbagai persoalan yang dihadapi perusahaan. Dia memiliki kemampuan menyeimbangkan tekanan (pressure),” kata Bernardus Irmanto, Wakil Presiden Direktur PT VALE Indonesia. “Saya terkesan pada Tony karena logical thinking-nya sangat kuat. Sekompleks apapun persoalan, dia melakukan pendekatan logical thinking sehingga persoalan cepat diurai, penerapan solusi lebih tepat, dan penyelesaian masalah pun cepat terlaksana,” kata Hendra Sinadia, sahabat Tony yang sekarang aktif di Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia dan Apindo.

KSP dan Dan Bowman
Bersama Daniel A. Bowman di Restoran Le Quartier, Januari 2017

Problem is my middle name. Tony mengibaratkan namanya Tony “Problem” Wenas. Semua perusahaan tempat dia bekerja, menghadapi banyak persoalan hukum, dan sebagai lawyer, Tony mampu membereskan problem yang dihadapi perusahaan.

Daniel A Bowman yang pernah menjadi atasan Tony di Freeport menilai, Tony Wenas lawyer terbaik yang pernah bekerja sepanjang sejarah Freeport, bahkan terbaik di Indonesia. “Saya sering melihat lawyer di Indonesia hanya profesional tetapi tidak bertanggung jawab sebagai problem solver. Tapi Tony berbeda. Dia ikut memecahkan persoalan yang sangat berat yang dihadapi Freeport, dari masalah lingkungan, keamanan, capital market, dan dia menyelesaikannya dengan baik. Banyak lawyer mempromosikan diri, tetapi Tony melakukan secara confidential karena dia memikirkan kliennya, Freeport,” kata Bowman.

KSP dan HS Dillon.jpg
Bersama Pak HS Dillon di Restoran Ambiente, Hotel Aryaduta Tugutani Jakarta, Januari 2017 

HS Dillon, yang pernah menjabat Senior Advisor di PT Freeport Indonesia, menilai Tony Wenas memiliki integritas dan dignity di perusahaan tempat dia bekerja.

Esterini Wahyudisheno, Head of Legal PT RAPP, yang pernah bekerja dengan Tony di Freeport dan RAPP menilai, Tony selalu menginginkan perusahaan yang dipimpinnya taat hukum. Semua langkah dan kebijakan perusahaan harus dipastikan sesuai dengan peraturan hukum.

Di mata sekretarisnya, Winda Herlina (saat di INCO/VALE), “Pak Tony sosok pemimpin mandiri”, sedangkan di mata Yenny Lie (sekretaris di RAPP), “Pak Tony memiliki daya ingat yang luar biasa.”

Tony masih sering menyanyi dan tampil bersama band “Solid 80” yang dipimpinnya hingga kini. Bahkan Tony bisa jadi satu-satunya CEO yang masih “ngeband” dan dibayar secara profesional. Dengan cara itu, Tony ingin menegaskan, musisi harus dihargai secara profesional.

“Tony sukses dalam kehidupan profesional dan sebagai musisi. Ini bukti nyata, bila seorang seniman dan musisi diberi kepercayaan memimpin perusahaan, dia mampu melakukannya dengan baik,” kata Tantowi Yahya, sahabat Tony. Tantowi Yahya adalah Ketua Umum PAPPRI (Persatuan Artis, Penyanyi dan Pemusik Rekaman Indonesia) dimana Tony juga duduk sebagai Bendahara Umum, dan juga politisi Partai Golkar yang kini Duta Besar RI untuk Selandia Baru.

Tony juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan organisasi probono. Dia membangun Rumah Retret di Tomohon, Sulawesi Utara yang dikhususkan untuk kegiatan keagamaan. Tony aktif di Indonesia Business Council for Sustainable Development, The Nature Conservancy, KADIN, Indonesia Mining Association, Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia, Asosiasi Emiten Indonesia, Persatuan Artis, Penyanyi dan Pemusik Rekaman Indonesia, alumni Canisius College, alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Kerukunan Keluarga Kawanua dan Komunitas Keluarga Wenas se-Indonesia.

Mencintai keluarga

Tony dijuluki sebagai family man, lelaki yang mencintai keluarganya. Dari sejumlah wawancara yang dilakukan, sahabat dan keluarga Tony mengakui Tony hanya mencintai perempuan bernama Shita Manik-Wenas yang sekarang menjadi istrinya. “Dia tidak pernah berpacaran dengan perempuan lain. Cinta Tony hanya pada Shita,” kata Paul Nelwan, sahabat dekat Tony.

Hanya Shita yang berhasil mendampingi Tony dan membuat hidupnya kembali normal. Sebelumnya Tony sempat seperti “layang-layang putus” dan sering minum dan dugem dan mabuk, terutama pada masa dia sempat berpisah dengan Shita. Namun Tony tidak menyerah dan itulah yang membuat Shita kembali pada Tony. “Jodoh tak lari ke mana,” kata Johnny Kanter, sepupu dan teman Tony sejak kecil. Johnny mengakui, Tony memang bandel di masa kecil dan remajanya tetapi dia sukses dalam hidupnya.

Di mata istrinya, Shita, “Tony is the best husband.”, sedangkan di mata putranya, Diego Wenas, “Papa sudah seperti teman dekat.”

“Bon vivant”

“Tony seorang bon vivant,” kata HS Dillon, sahabat Tony. Dan memang, Tony menerapkan prinsip work hard, play hard dalam kehidupannya. Meski sibuk dalam bekerja, dia tetap punya waktu untuk bergembira. Dia seorang penikmat wine. Pada masa remajanya, Tony sudah puas minum whisky dan sejenisnya.

“Tony menggabungkan antara pekerjaan, pleasure dan fun. Meski dia pulang larut malam setelah ‘ngeband’ atau nyanyi-nyanyi, tetapi pagi harinya dia sudah tiba di kantor lagi tepat waktu,” kata Clementino Lamury, Director & Executive Vice President PT Freeport Indonesia di bidang External Affairs. Clementino mengakui Tony Wenas adalah guru dan mentornya. “Tony hidup dalam keseimbangan antara sebagai profesional dan sebagai penyanyi. Dia CEO yang bisa hidup di dua dunia berbeda. Dia bukan CEO yang hanya memikirkan masalah finansial dan urusan perusahaan,” kata Agung Laksamana, Corporate Affairs Director APRIL Group.

tony-wenas-dan-ksp
Bersama Bapak Tony Wenas di Burgundy, Grand Hyatt Jakarta, Oktober 2016

Work and fun are soulmates. Kalimat itu diambil dari cendera mata yang diberikan karyawan Freeport Indonesia kepada Tony ketika dia mengundurkan diri dari perusahaan itu. Tony setuju ketika disampaikan usul kata-kata yang menggambarkan dirinya itu menjadi judul buku ini.

Buku ini bukan sekadar mengungkap perjalanan hidup seorang Tony Wenas, tetapi juga memaparkan kiat-kiat seorang seniman pencinta musik dan musisi berhasil memimpin perusahaan pertambangan dan kehutanan. Buku ini layak dibaca para profesional dan siapa saja yang suka membaca buku biografi.

                                                                               ***

Suasana wawancara yang hidup

Saya mewawancarai Tony Wenas sejak pertengahan Oktober 2016 sampai pertengahan Desember 2016 di Burgundy, Hotel Grand Hyatt Jakarta, di MO Bar, Hotel Mandarin Jakarta, dan di kediamannya yang asri di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, serta wawancara tambahan pada awal Februari 2017 di Social House di Grand Indonesia. Setiap saya mewawancarai Pak Tony di Burgundy, MO Bar, Social House, dan di rumahnya, saya selalu disuguhi wine. 

tony-wenas-dan-ksp-0
Bersama Bapak Tony Wenas di Burgundy, Grand Hyatt Jakarta, Oktober 2016

Karena Pak Tony Wenas seorang penyanyi, dalam beberapa bagian wawancara, Tony memberi ilustrasi dengan mendendangkan lagu. Misalnya ketika bercerita saat dia berusia 4 tahun dan sudah fasih menyanyikan lagu berjudul “Ten Guitars”. Tony memberi contoh dengan menyanyikan beberapa bait lagu yang dibawakan kali pertama oleh penyanyi Inggris kelahiran Madras, India, Engelbert Humperdinck.

Saat bercerita pada usia 13 tahun, dia fasih memainkan soundtrack film “The Sting”, Tony mendendangkan satu lagu, dan saya langsung menebak dengan tepat, “The Entertainer”. Juga ketika Tony menceritakan satu momen hidupnya saat pemakaman ayahnya, dia menyanyikan lagu berjudul “Papa” ciptaan Titiek Puspa. Di depan saya, Tony menyanyikan lagu itu dengan penuh perasaan.

Tony Wenas dan KSP3 - pelengkap tulisan KSP
Bersama Pak Tony Wenas di studio musik di lantai dua rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Desember 2016

Pada lain waktu, wawancara dilakukan di rumahnya di Jalan Sindanglaya, Menteng. Tony mengajak saya ke studio musik di lantai dua rumahnya. Tony menyalakan lampu sorot seolah kami berada di atas panggung, kemudian dia memainkan keyboard sambil menyanyikan lagu-lagu Phil Collins dari grup Genesis, dan Queen. Suasana wawancara dengan Tony Wenas menjadi hidup dan saya sangat menikmatinya. (Robert Adhi Ksp)

(Dikutip dari kata pengantar penulis dalam buku “Tony Wenas, Chief Entertainment Officer: Work and Fun are Soulmates, PT Gramedia Pustaka Utama, terbit April 2017)

BACA JUGA: Buku-buku Robert Adhi Ksp

Korupsi Proyek Pemerintah dan Rekayasa Sejak Perencanaan


 

R. ADHI KUSUMAPUTRA

Dugaan korupsi proyek kartu tanda penduduk elektronik (KTP-el) pada tahun 2017 ini merugikan negara Rp 2,3 triliun dan melibatkan eksekutif, legislatif, BUMN dan swasta. Korupsi di berbagai proyek pemerintah sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 1960-an.

Harian Kompas Kamis 14 Oktober 1965 misalnya, mewartakan kasus manipulasi dan penggelapan uang negara hampir satu miliar rupiah dalam Proyek Conefo di Jakarta dan Lembaga Atom.  Pelakunya, Direktur “Trayan Art Association” dan “Nirmala Ltd”, Soediamto Dimjati (35 tahun) ditangkap Reserse Kriminal Komdak VIII Jawa Barat ketika sedang berfoya-foya di sebuah kamar di Hotel Savoy Homann Bandung awal Oktober 1965.

Surat kabar Kompas sejak 1965 memang berulang kali memberitakan kasus-kasus korupsi sejak awal terbit. Berulang kali pula Tajuk Rencana mengupas berbagai kasus korupsi. Termasuk yang dimuat Kompas Jumat 4 Juli 1969. “Korupsi, bahkan kecenderungan untuk korupsi benar-benar menghambat pelaksanaan pembangunan. Maka soal ini tidak bisa dianggap sepi. Kita tidak bisa menerima anggapan, ah korupsi toh sudah begitu umum, untuk apa masih harus diributkan lagi?” tulis Tajuk Rencana berjudul “Penghambat Pembangunan”.

Pencegahan korupsi perlu diusahakan. Salah satu jalan adalah menciptakan suasana yang tidak korup. Memberantas anggapan umum bahwa korupsi asal tidak ketahuan tidaklah mengapa. Memberantas anggapan umum bahwa korupsi kalau dilakukan orang-orang kuat, tak akan diambil tindakan.

Tajuk Kompas menyebutkan pula, “Kita mengetahui  bahwa korupsi tumbuh menjadi semacam lembaga, menjadi perbuatan kolektif. Tetapi semua itu tidak bisa membenarkan terciptanya anggapan umum bahwa ada pilih bulu dalam menindak. Anggapan umum ini amat merugikan.”

Opini Harian Kompas, Kamis 22 Maret 1973 berjudul “Praktik-praktik Pembocoran Uang Negara Sudah Menjurus ke Mumpung-isme” yang ditulis Soegandhi SH mengungkapkan, masih ada kebocoran-kebocoran keuangan negara, yang bersumber dari mentalitas pelaksananya dan prosedur yang masih memungkinkan terjadinya penyelewengan. Sampai sekarang memang sukar untuk menentukan secara pasti berapa persen sebenarnya uang proyek yang benar-benar efektif digunakan untuk keperluan proyek dan berapa yang masuk ke dalam kantong-kantong pribadi pelaksananya.

Tajuk Rencana Harian Kompas Rabu 14 Maret 1979 mengingatkan kembali masalah korupsi. “Sungguh prihatin hati kita apabila kita perhatikan ketujuh tempat rawan itu. Sebab hampir semua segi kehidupan dan pembangunan merupakan tempat rawan korupsi dan penyelewengan sehingga hampir tidak ada lagi tempat tersisa yang masih bersih,” tulis tajuk berjudul “Tujuh Tempat Rawan Sumber Penyelewengan” tersebut.

Ketujuh tempat rawan itu adalah proyek pusat, proyek daerah, bank, apartur negara, pajak dan bea cukai, pemberian layanan umum, dan pos pungutan di pinggir jalan. Bila diperas lagi, maka sumber korupsi dan penyelewengan itu adalah APBN, pelayanan pejabat, dan pungutan liar. Ini merupakan bidang-bidang kehidupan bangsa yang penting.

Jaksa Agung Singgih SH seperti diwartakan Harian Kompas 19 Desember 1992 menyebutkan, lemahnya disiplin dalam ketertiban anggaran, ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan kurangnya ketertiban dalam pengeluaran anggaran menimbulkan kebocoran dan pemborosan keuangan negara. Padahal pemerintah sudah menyusun dan menerapkan sistem pengawasan berlapis-lapis. Dari pengalaman kejaksaan menangani berbagai kasus pidana menyangkut keuangan negara, khususnya yang terkait penggunaan dana pembangunan, rekayasa sudah dilakukan sejak awal perencanaan, pada tahap pelaksanaan, dan pada tahap pemanfaatan hasil pembangunan.

SUMBER: TOPIK HARI INI, KOMPAS.ID, 15 MARET 2017

Pembelian Mobil Anggota DPR-GR di Antara Jeritan Rakyat


Tahun 1967, perekonomian Indonesia masih morat-marit. Inflasi masih tinggi, dan rakyat menjerit karena terpaksa antre sejak pukul tiga pagi untuk mendapatkan 3 liter beras kualitas rendah. Namun, para wakil rakyat di DPR-GR berebutan memesan mobil Holden.

Harian Kompas pada Kamis, 12 Oktober 1967, mengutip kantor berita Antara, mewartakan, DPR-GR telah memesan 380 mobil Holden 1967 melalui sebuah perusahaan swasta di Singapura. Prosedur pembelian dilakukan atas dasar kerja sama antara perusahaan swasta Indonesia dan perusahaan swasta Singapura yang membuka L/C-nya.

Sebelumnya Kepala Rumah Tangga DPR-GR mengumumkan kepada para anggota DPR-GR untuk membeli tiga jenis mobil, yaitu Fiat tipe 1100, Mercedes Benz tipe 250 S, dan Holden 1967. Setelah muncul reaksi keras masyarakat yang tak setuju devisa negara keluar untuk membeli mobil-mobil tersebut, DPR-GR kemudian membantah keras pembelian mobil menggunakan devisa negara. Sumber Antara malah menyebutkan, pemesanan mobil Holden dibiayai Pemerintah Indonesia.

Agen General Motor di Singapura membantah keras berita yang menyebutkan Parlemen Indonesia telah memesan 380 mobil Holden buatan Australia melalui Singapura, seperti dikutip Harian Kompas, Senin, 16 Oktober 1967.

Namun, Panitia Rumah Tangga DPR-GR, seperti diberitakan Harian Kompas, Kamis, 19 Oktober 1967, akhirnya membenarkan berita tentang pemesanan/pembelian mobil Holden untuk anggota DPR-GR. Harga satu mobil Holden itu Rp 335.000 per unit dan melalui PT Pamos. Sampai 2 Oktober 1967, sudah 148 anggota DPR-GR yang mendaftarkan diri membeli, sebagian membayar uang muka, sebagian membayar lunas.

Jika dibeli dalam dollar AS, harganya paling tinggi 2.000 dollar AS. Jika 1 dollar AS setara dengan Rp 140, harga satu mobil Holden 1967 menjadi Rp 280.000 per unit. Apabila ditambah dengan biaya gudang dan sebagainya, harganya menjadi Rp 335.000 di tangan pemesan.

Tuntutan mahasiswa

Kelompok mahasiswa mengajukan surat terbuka kepada pimpinan DPR-GR agar membatalkan pembelian mobil oleh DPR-GR karena persoalan ini menimbulkan reaksi yang menurunkan wibawa DPR-GR. Surat terbuka itu ditandatangani Koordinator Kelompok Mahasiswa Mari’e Muhammad, seperti diberitakan Harian Kompas, Rabu 25 Oktober 1967.

Lanjutkan membaca Pembelian Mobil Anggota DPR-GR di Antara Jeritan Rakyat

Korupsi Wakil Ketua DPR-GR Tahun 1965


Dugaan korupsi yang dilakukan anggota DPR pernah diberitakan harian Kompas, Selasa, 23 November 1965, di halaman 1 dengan judul ”MH Lukman Korupsi 250 Juta Uang Rakyat”.

MH Lukman adalah Menteri/Wakil Ketua DPR-GR dari Partai Komunis Indonesia. Berita ini terkait dengan rumah di lahan seluas 2.000 meter persegi di Jalan Gondangdia Lama di Jakarta Pusat yang digunakan Lukman sebagai rumah pribadinya yang masuk kategori rumah mewah. Rumah itu disebutkan memiliki tujuh kamar tidur, serambi belakang, serambi muka, lapangan tenis, dan kolam renang yang mewah.

MH Lukman 23-11-1965

Berita Kompas itu menyebutkan, ”Rumah sebesar dan semewah itu hanya memperlihatkan feodalisme dan sangat bertentangan dengan ucapan-ucapannya di mana dia selalu menganjurkan agar para pemimpin harus hidup sederhana, hingga perbedaan penghidupan pemimpin dan rakyatnya tidak terlalu mencolok.”

Pembuatan rumah tersebut dan bagaimana sampai uang rakyat sebesar Rp 250 juta digunakan tanpa pertanggungjawaban, semuanya dilakukan di luar pengetahuan pimpinan DPR-GR lainnya. Benar bahwa pimpinan DPR-GR MH Lukman dan Sjaichu akan diberikan rumah jabatan, dalam arti mereka memegang jabatan pimpinan DPR-GR. Sjaichu menggunakan prosedur umum, sebaliknya Lukman bertindak sendiri. Rumah jabatannya akan dijadikannya sebagai rumah pribadinya, dengan merombaknya menjadi rumah mewah, dan menggunakan uang rakyat sebesar Rp 250 juta. Untuk ukuran tahun 1965, jumlah uang itu sangat besar.

MH Lukman bersama 56 anggota DPR-GR lainnya sudah dipecat oleh Menko/Ketua DPR-GR Arudji Kartawinata pada awal November 1965, sesuai keputusan Pangdam V/Jaya guna meningkatkan kewaspadaan dan keamanan menyusul dugaan keterlibatan mereka dalam Gerakan 30 September (Kompas, Rabu, 3 November 1965). (KSP)

SUMBER: TOPIK HARI INI, KOMPAS.ID, KAMIS 9 MARET 2017

Writing is the Painting of the Voice