Arsip Kategori: CEO

Hidup Sederhana Orang-orang Superkaya Dunia


ROBERT ADHI KSP

Ketika menulis buku Panggil Aku King tahun 2009, saya mendapat kesempatan mewawancarai Robert Budi Hartono, pendiri klub Djarum, klub bulu tangkis yang ikut membesarkan pebulu tangkis Indonesia, Liem Swie King, pada zamannya.

Saya bersama King mendatangi Pak Budi Hartono di kantornya di Jakarta Pusat. Dari luar, kantor itu tidak tampak mencerminkan kantor orang terkaya di negeri ini.

Pak Budi Hartono bercerita bagaimana dia mengajak King berlatih di gudang tembakau yang pada malam hari ”disulap” menjadi lapangan bulu tangkis. Pak Budi sendiri yang mengangkut genset untuk menerangi tempat berlatih.

Seusai wawancara, Pak Robert Budi Hartono mengajak saya dan Liem Swie King makan siang di kantin perusahaan. Pak Budi dengan santai antre bersama karyawannya untuk mengambil menu buffet sembari mengajak kami juga untuk ikut antre.

Peristiwa itu sudah lama, tahun 2009, tetapi sampai sekarang saya masih terkesan pada sosok Pak Budi Hartono yang bersahaja dan sederhana. Padahal, Pak Robert Budi Hartono selalu dinobatkan sebagai orang terkaya di Indonesia bersama saudaranya, Michael Budi Hartono.

Apa yang dilakukan Robert Budi Hartono itu tidak jauh berbeda dengan Amancio Ortega, pendiri Zara, yang masih makan siang bersama karyawannya di kantin perusahaan.

Lanjutkan membaca Hidup Sederhana Orang-orang Superkaya Dunia

Iklan

Tony Wenas, Sang “Trouble Shooter”: “Problem is My Middle Name”


Masa muda Tony Wenas penuh warna-warni. Dia bersekolah di SMA Kanisius Jakarta yang semua muridnya lelaki. Dia sering kabur dari kelas dan sering lolos. Di masa SMA  itu pula, Tony menyalurkan bakat musiknya dengan menghidupkan band Kanisius, dan mengantarkan band SMA itu meraih juara.

“Tony Wenas pada masa SMA memang sering kabur dari kelasnya. Penjaga sekolah sering membantu Tony. Anehnya, meski sering ngabur dari sekolah, Tony selalu dapat nilai bagus. Suatu kali saya mencoba kabur dari kelas, eh malah tertangkap,” cerita Rhenald Kasali, teman sekelas Tony Wenas di SMA Kanisius dalam peluncuran buku berjudul Tony Wenas, Chief Entertainment Officer, Work and Fun are Soulmates di Airman Lounge, Hotel Sultan Jakarta, Sabtu (8/4/2017) malam. Buku yang ditulis Robert Adhi Ksp itu, diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama. MC acara malam itu, Lilo KLA Project, mengocok perut sekitar 250 orang yang hadir dengan joke-joke khasnya. 

Acara peluncuran buku tersebut bertepatan dengan hari ulang tahun ke-55 Tony Wenas, yang dihadiri istri Tony, Shita Manik-Wenas, dan putranya Diego Wenas. Tony sejak 1 Maret 2017 lalu menjabat Executive Vice President PT Freeport Indonesia. Sebelumnya Tony pernah menjabat CEO PT Riau Andalan Pulp & Paper dan CEO PT Vale Indonesia (INCO).

FOTO OLEH CHAPPY HAKIM

Peluncuran Buku “Tony Wenas – Chief Entertainment Officer – Work and Fun are Soulmates” di Airman Lounge, Hotel Sultan Jakarta, Sabtu (8/4/20170 malam. Dari kiri: Tony Wenas, penulis buku Robert Adhi Ksp, dan MC Lilo KLA Project.

Peluncuran buku dalam suasana santai itu dihadiri para sahabat Tony Wenas, di antaranya mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Kehormatan AM Hendroprijono; mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Purn Chappy Hakim yang pernah menjabat Presdir PT Freeport Indonesia; Presiden Direktur Metro TV Adrianto Machribie yang pernah menjabat Presdir PT Freeport Indonesia; Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Nico Kanter yang juga sepupu dan teman main Tony di masa kecil dan remaja; CEO Sintesa Group Shinta Widjaja Kamdani; Duta Besar RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya;  HS Dillon; musisi Addie MS dan Fariz RM; serta kolega Tony di Freeport Indonesia, PT RAPP, PT Vale Indonesia, juga teman kuliah dan teman sekolah. 

Adriano Machribie yang menulis Epilog buku ini mengungkapkan, Tony Wenas berada dalam “dua Solid”, yaitu “Solid 80”, band yang dibentuknya bersama teman-temannya ketika Tony masih mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 1980, dan solid dalam pekerjaannya.  “Berkiprahnya Tony di band Solid 80, membantunya belajar bertanggyng jawab dalam memimpin musisi yang cenderung individualistis dan egois sehingga Tony paham gaya kepemimpinan yang efektif. Salah satu gaya kepemimpinan itu adalah keluwesannya dalam beradaptasi,” kata Adrianto. 

Ibarat mengelola sebuah band, Tony Wenas memimpin perusahaan dengan menciptakan harmoni. Tak heran bila banyak orang menyebut Tony sebagai problem solver dan trouble shooter. Saking seringnya menyelesainya masalah dalam sejumlah perusahaan yang dipimpinnya, Tony menyebut, “Problem is my middle name.” 

Buku ini juga memuat pandangan-pandangan Tony Wenas tentang cara dia memimpin perusahaan dan menyelesaikan banyak persoalan di berbagai perusahaan yang dipimpinnya.

Peluncuran Buku “Tony Wenas, Chief Entertainment Officer, Work and Fun are Soulmates” di Airman Lounge, Hotel Sultan Jakarta, Sabtu (8/4/2017) . Tony Wenas (kedua dari kanan), Rhenald Kasali (kedua dari kiri), Adrianto Machribie (ketiga dari kanan), Agung Laksamana (paling kiri), penulis buku Robert Adhi Ksp (ketiga dari kiri) dan perwakilan penerbit Gramedia Pustaka Utama Andi Tarigan (paling kiri)

Agung Laksamana, Corporate Affairs Director APRIL Group mengakui Tony Wenas mampu hidup dalam keseimbangan. Dia CEO yang bisa hidup dalam dunia yang berbeda. Biasanya CEO hanya memikirkan masalah finansial dan urusan perusahaan, tapi Tony berbeda. Otak kiri dan otak kanannya sama-sama berfungsi maksimal,” kata Agung, yang juga Ketua Umum Perhumas.

Buku ini juga memuat sekilas kisah band “Solid 80” pimpinan Tony Wenas, yang pada masanya dianggap sebagai boyband Fakultas Hukum UI. Dalam acara itu, Tony Wenas bersama personel band “Solid 80” Kurnia Wamilda Putra, Hendrasly Ahmad Sulaiman, Jodie Wenas dll membawakan lagu-lagu dari grup Queen di antaranya “We Are The Champions” dan “Bohemian Rhapsody”. 

Buku ini juga memuat testimoni sejumlah sahabat, kolega dan keluarga yang mengenal sosok Tony Wenas, mulai dari teman sejak SD, SMP, SMA, kuliah, sampai kolega Tony dalam dunia kerja dan teman-teman ngebandnya.

Editor penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Andi Tarigan mengatakan, buku yang dicetak full colour ini dijual di toko buku Gramedia di seluruh Indonesia mulai akhir April dengan harga Rp 125.000 per eksemplar.  “Buku ini ditulis dengan bahasa yang ringan, dan layak dibaca oleh para profesional, pemula, dan siapa saja,” kata Andi Tarigan.

SUMBER: KOMPAS.ID, MINGGU 9 APRIL 2017 

Berhenti “Ngantor”, Artha Capai Kebebasan Finansial Lewat Bisnis Properti


ROBERT ADHI KSP

YULIARTA Sianturi, Co-Founder, The Premium Property (konsultan dan pengembang properti) dan Direktur PT Bangun Multikreasi Selaras (perusahaan furnitur), pada awalnya arsitek di salah satu perusahaan pengembang terkemuka di Indonesia. Lulusan Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, ini menangani sejumlah proyek besar di Jakarta. Namun, pada suatu hari pada saat Artha-nama panggilannya-hamil tujuh bulan, suaminya, Bintang Sitompul, terbaring di rumah sakit selama hampir dua bulan karena sakit di bagian pencernaannya yang tak kunjung sembuh.

Dalam kondisi hamil anak keduanya, Artha setiap hari Senin sampai Sabtu naik kereta rel listrik dari Bintaro ke kantornya di kawasan Jakarta Kota. Dia juga harus memikirkan pengobatan suaminya yang sakit keras dan berpikir bagaimana melunasi biaya rumah sakit.

Pada saat itulah Artha berpikir ada yang salah dalam hidupnya. Selama ini dia sibuk mengejar karier untuk menjadi arsitek yang top. Karya-karya arsiteknya antara lain ITC Fatmawati Jakarta, Kota Bunga Cipanas, Four Season Plaza Batam, Wisma Eka Jiwa, Borobudur Intercontinental Hotel Jakarta, rumah mewah di Pantai Indah Kapuk, Cirendeu dan Pondok Indah Jakarta.

Yulia Sianturi

Dia menghadiri rapat-rapat penting agar proyek properti yang dikerjakan cepat selesai. Tetapi, ketika suaminya jatuh sakit, dia harus memilih, merawat suaminya yang tak kunjung sembuh atau tetap menghadiri rapat-rapat di kantor? Dia tak mungkin tidak masuk kantor setiap hari karena perusahaannya juga membutuhkan tenaga dan pikirannya. Namun, suaminya yang terbaring lemah lebih membutuhkan perhatiannya. Dia merasa Tuhan menegurnya.

Artha bertanya dalam hatinya, apakah ada cara lain di luar bekerja “9 to 5”? Artha belum punya role model yang bisa dicontoh dalam keluarga besarnya karena latar belakang keluarganya dan keluarga suaminya semua bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Ayahnya PNS di Kejaksaan, sedangkan ayah mertua PNS dan ibu mertuanya guru bahasa Indonesia. “Bapak dan ibu berpesan agar anak-anaknya menjadi PNS. Hanya saya yang menjadi arsitek di perusahaan swasta, tetapi belum ada yang bekerja di perusahaan swasta atau menjadi wirausaha,” ceritanya.

Lanjutkan membaca Berhenti “Ngantor”, Artha Capai Kebebasan Finansial Lewat Bisnis Properti

Suksesi Raja Media Rupert Murdoch dan Tantangan Generasi Kedua


ROBERT ADHI KSP

Rupert Murdoch (84) berencana menyerahkan kendali perusahaan 21st Century Fox kepada putra-putranya. James Murdoch akan menjadi Chief Executive Officer, sedangkan Lachlan Murdoch akan berperan sebagai Co-Executive Chairman.

Ini merupakan bagian dari rencana suksesi jangka panjang Rupert Murdoch. Namun, belum jelas kapan perubahan kepemimpinan di perusahaan itu ditetapkan. “Masalah suksesi merupakan agenda pertemuan komisaris,” kata juru bicara Fox, Nathaniel Brown.

Rupert Murdoch 130615

Meskipun mundur, Rupert Murdoch tetap menjadi Executive Chairman. Dia diharapkan terus melakukan pengawasan strategis dan mempertahankan kendali utama perusahaannya. Keluarga Murdoch mengendalikan baik 21st Century Fox dan News Corporation secara efektif. Mereka juga menguasai sebagian kerajaan media Murdoch melalui kepemilikan hampir 40 persen saham di kedua perusahaan itu.

Usia Murdoch sudah 84 tahun, tetapi dia tidak sakit-sakitan. Dia masih muncul di kantornya dengan penuh energi. Banyak yang berharap Murdoch tetap datang ke kantor secara rutin. “Ini masih tetap menjadi perusahaan Murdoch sampai kapan pun,” kata Rich Greenfield, analis media BTIG Research.

Sebagai bagian dari reorganisasi, Chase Carey akan mundur dari perannya sebagai Chief Operating Officer di Fox dan bekerja sebagai penasihat perusahaan. Carey menjabat eksekutif tertinggi kedua di Fox sejak tahun 2009 dan dihormati di Wall Street Journal. Dia memainkan peran integral dalam rencana suksesi ini.

Menurut orang dekat keluarga Murdoch, James dan Lachland memiliki hubungan yang baik. James akan menjabat CEO, sedangkan Lachlan menduduki pos Chairman. Ini sesuai rencana sang ayah.

James dan Lachlan naik ke puncak Fox yang didirikan ayah mereka. Namun, industri media saat ini mengalami perubahan. Kakak-adik itu harus memandu dunia baru media yang lebih kompleks dengan teknologi distribusi dan periklanan digital pada tahun-tahun mendatang. Eksekutif media dan analis menggambarkan James sebagai eksekutif yang memiliki pengalaman mengoperasikan perusahaan media di berbagai negara, juga seorang yang lebih segar, lebih muda, dan memiliki perspektif dalam bisnis. Peran James mendorong ayahnya mengambil saham di Vice, perusahaan media muda, dan mengakuisisi TrueX, perusahaan teknologi periklanan (“Rupert Murdoch to Put Media Empire in Sons’ Hands”, The New York Times, 11 Juni 2015). James digambarkan sebagai “seorang lelaki yang sangat berbakat, dan akan menjadi pelayan yang jujur dan terhormat di perusahaan,” kata Leo Hindery Jr, mantan CEO Tele-Communications Inc yang bekerja sama dengan kerajaan Murdoch selama puluhan tahun dan kini managing partner InterMedia Partners.

Lanjutkan membaca Suksesi Raja Media Rupert Murdoch dan Tantangan Generasi Kedua

Jack Ma, Tak Pernah Juara di Sekolah, Kini Orang Terkaya di Tiongkok


ROBERT ADHI KSP

Jack Ma (50) tidak pernah menjadi juara di sekolah. Dia berulang kali mengalami penolakan. Dia pernah ditolak masuk universitas. Berulang kali pula dia melamar pekerjaan dan ditolak berbagai perusahaan. Tak seorang pun yakin dengan masa depan Jack Ma. Namun, lelaki kelahiran Hangzhou, Tiongkok ini tidak pernah menyerah.

Jack Ma, pendiri dan Pemimpin Alibaba.com, perusahaan e-dagang asal Tiongkok, menjadi orang terkaya di Tiongkok setelah penjualan saham perdana Alibaba di bursa Amerika Serikat mencatat rekor 25 miliar dollar AS pada September 2014. Dia menjadi orang Tiongkok daratan pertama yang masuk dalam daftar orang terkaya dunia versi majalah Forbes, dengan kekayaan bersih 25,5 miliar dollar AS (per Juni 2015).

Jack Ma

Jack Ma kini menjadi contoh inspirasi bagi banyak orang yang memulai e-dagang. Pelajaran yang dapat dipetik dari seorang Jack Ma adalah dia tumbuh dari kehidupan yang sangat miskin dan dia bukan seorang juara di sekolahnya. Dia pernah tiga kali gagal masuk ke universitas, namun terus mencobanya sampai berhasil.

Ketika akhirnya berhasil menikmati pendidikan tinggi, Jack Ma memastikan, dia juga menggunakan waktunya untuk bekerja praktik. Dia bekerja sebagai seorang pemandu wisata di Tiongkok. Dia belajar dari kerja keras dan interaksi dengan penduduk setempat serta wisatawan asing. Dia mulai mengembangkan pandangan pribadinya tentang kapitalisme dan kewirausahaan serta melihat web sebagai masa depan bisnis.

Richard Branson dalam situs Virgin.com menyatakan setuju dengan Jack Ma bahwa internet akan menciptakan, bukan menghancurkan, banyak pekerjaan dalam tahun-tahun mendatang. Salah satu tugas paling penting bagi kemanusiaan adalah memberi setiap orang di bumi ini kesempatan untuk terhubung secara online.

Terinspirasi oleh kisah-kisah Seribu Satu Malam, Jack Ma kemudian memutuskan menggunakan nama Alibaba untuk perusahaannya yang membuka pintu bagi usaha kecil dan menengah. “Suatu hari, saya di San Francisco dan saya berpikir Alibaba adalah nama yang baik. Alibaba membuka akses untuk perusahaan-perusahaan kecil dan menengah,” katanya. Filosofi Jack Ma semuanya tentang hubungan pribadi, juga bagaimana dia merekrut orang. “Jangan mempekerjakan orang yang paling berkualitas, tetapi carilah yang paling gila,” katanya tertawa. “Anda membutuhkan orang dengan ide-ide yang berbeda untuk membuat perusahaan ini hidup, bukan orang-orang yes men,” ujarnya.

Guru Bahasa Inggris

Ketika berbicara dalam acara makan siang pada Economic Club of New York, Selasa (9/6/2015), Jack Ma mengungkapkan, periode menjadi guru Bahasa Inggris menjadi masa terbaik dalam hidupnya. Setelah lulus dari perguruan tinggi tahun 1988, dia bekerja sebagai guru Bahasa Inggris di universitas di kota kelahirannya, Hangzhou. Dia hanya mendapatkan gaji 12 dollar AS sebulan, menurut program dokumenter tentang hidup Jack Ma berjudul Crocodile in the Yangtze. “Ketika tidak memiliki banyak uang, Anda tahu bagaimana menghabiskannya,” ucap Ma. “Uang 1 miliar dollar AS bukanlah uang Anda. Uang yang saya miliki hari ini adalah tanggung jawab. Itu merupakan kepercayaan orang terhadap saya,” katanya.

Ini bukan pertama kali Jack Ma berbicara tentang bebannya menjadi seorang miliarder. Ketika berbicara dalam sebuah panel di Clinton Global Initiative di New York, Ma melihat hari-harinya sebagai guru Bahasa Inggris sebagai pengalaman fantastis, menurut CNN Money. Dia mengatakan kepada setiap orang, “Dengan 1 juta dollar AS, Anda menjadi beruntung, tetapi ketika Anda memiliki 10 juta dollar AS, Anda mendapat masalah.”

Setelah penjualan saham perdana Alibaba, Jack Ma kepada CNBC mengatakan, tekanan datang dengan tanggung jawab pada dia, apalagi kini dunia berfokus pada nilai saham Alibaba. “Penjualan saham perdana besar karena saya senang dengan hasilnya. Tapi, ketika orang berpikir terlalu tinggi tentang Anda, Anda memiliki tanggung jawab untuk tenang dan menjadi diri sendiri,” katanya.

Lanjutkan membaca Jack Ma, Tak Pernah Juara di Sekolah, Kini Orang Terkaya di Tiongkok

Calvin Kizana, Pencipta Aplikasi PicMix


Calvin Kizana PicMix

ROBERT ADHI KSP dan AMIR SODIKIN

APLIKASI PicMix, yang sudah diunduh lebih dari 23 juta orang dari berbagai platform itu, buatan orang Indonesia. Calvin Kizana (40) adalah sosok yang mewujudkan PicMix, aplikasi fotografi pada perangkat bergerak (”mobile gadget”).

”Saya kesal, kok orang tak percaya dan meremehkan kemampuan orang Indonesia membuat aplikasi? Di sisi lain senang karena aplikasi yang saya buat sejajar dengan aplikasi buatan orang asing,” kata Calvin di Jakarta, akhir September lalu.

Selama 12 tahun dia memimpin perusahaan jasa teknologi informasi (TI). Dia membuatkan peranti lunak, aplikasi, dan permainan untuk siapa saja yang meminta. Dia membuatkan produk TI untuk orang lain.

Sampai suatu hari dia merenung. ”Ada rasa kesal. Selama ini saya membuatkan produk orang lain dan sukses. Mengapa saya tak membuat produk sendiri yang juga sukses?”

Dia lalu membuat aplikasi produk sendiri. Setelah melihat tren pasar, dia memutuskan membuat aplikasi fotografi karena kamera sudah menjadi bagian dari telepon seluler (ponsel). Dia melihat sinergi ponsel dan kamera tak terelakkan.

”Saya melihat aplikasi Instagram yang sukses. Padahal, itu hanya aplikasi foto, yang tak sulit membuatnya. Instagram sukses karena ini aplikasi pertama dalam fotografi,” katanya.

Setelah ngobrol dengan tujuh temannya yang juga bergerak di bidang TI, yakni Sandy Colondam, Revie Pitono, Vinsen Mego, Yogi, Roberto, Christian, dan Nico, dia lalu membuat aplikasi PicMix.

Lanjutkan membaca Calvin Kizana, Pencipta Aplikasi PicMix

CEO Sintesa Group Shinta Widjaja Kamdani: Gencar Mengembangkan Ekonomi Hijau


Gambar  

Shinta Widjaja Kamdani (47) merupakan salah satu dari 50 Perempuan Pebisnis Paling Berpengaruh di Asia versi majalah Forbes Asia. Chief Executive Officer Sintesa Group ini membawahi 17 perusahaan yang bergerak di empat bidang, yaitu industri manufaktur, properti, energi, dan produk konsumen. Dua di antara perusahaan yang dikelolanya, PT Tigaraksa Satria Tbk dan PT Tira Austenite Tbk, sudah masuk bursa.Di bawah kepemimpinan Shinta Widjaja Kamdani, pendapatan usaha (revenue) total Sintesa Group dalam empat tahun ini meningkat.

Tahun 2010, pendapatan 700 juta dollar AS menjadi 1 miliar dollar AS pada tahun 2012. Tahun 2013 naik menjadi 1,2 miliar dollar AS.Mulai membenahi usaha ayahnya, Johnny Widjaja, tahun 1999, Shinta mendirikan perusahaan baru Sintesa Group. Shinta yang juga aktif sebagai Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan salah satu Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ini gencar memperkenalkan ekonomi hijau (green economy).

Lanjutkan membaca CEO Sintesa Group Shinta Widjaja Kamdani: Gencar Mengembangkan Ekonomi Hijau

Writing is the Painting of the Voice

%d blogger menyukai ini: