Arsip Kategori: Buku

Pembantaian Munich 1972 dan Pembalasan Mossad


oleh ROBERT ADHI KSP

Selasa, 5 September 1972, pukul 04.00 menjelang pagi. Delapan orang bersenjata memanjat pagar dan menyelinap masuk ke perkampungan atlet Olimpiade di Munich (Muenchen), Jerman. Membawa tas besar, mereka menuju lantai empat bangunan di Connollystrasse Nomor 31, tempat atlet dan pelatih laki-laki Israel tinggal.  

Bersenjatakan senapan serbu dan granat, kelompok yang menamakan diri sebagai organisasi Black September, salah satu faksi PLO, itu masuk ke apartemen pertama dan menyandera pelatih dan ofisial Israel, yaitu Yossef Gutfreund, Amitzur Shapira, Kehat Shorr, Andrei Spitzer, Jacov Springer, dan Moshe Weinberg. 

Mereka kemudian masuk ke apartemen lain dan menangkap atlet gulat dan atlet angkat besi Israel, Eliezer Halfin, Yossef Romano, Mark Slavin, David Berger (sarjana hukum blasteran Israel-Amerika), dan Zeev Friedman. 

Kelompok bersenjata itu melepaskan tembakan ketika Romano dan Weinberg berusaha melawan. Kedua orang itu tewas di tempat. Teroris tersebut kemudian menyandera sembilan orang.

ISTIMEWA

Kelompok Black September menyelinap ke perkampungan atlet Olimpiade Munich tahun 1972, membunuh atlet/ofisial Israel, dan menyandera sembilan orang. Kelompok itu kemudian menembak sembilan atlet/ofisial Israel.

Pemimpin kelompok itu, yang dikenal dengan nama Luttif Afif atau nama samaran Issa, berusia 35 tahun, mengajukan sejumlah permintaan, di antaranya agar 234 tahanan yang sebagian besar warga Palestina dibebaskan dari penjara Israel dan dibawa ke negara Arab yang aman. Mereka juga menuntut dua orang lainnya, Andreas Baader dan Ulrike Meinhof, pemimpin kelompok teroris Baader-Meinhof, dibebaskan dari penjara Jerman.  

Pertandingan olahraga dunia di Olimpiade ke-20 di Munich itu dihentikan sementara. Jaringan televisi yang sebelumnya menyiarkan pertandingan olahraga kelas dunia itu langsung beralih melakukan siaran langsung real time aksi terorisme di Munich dan disaksikan sekitar 900 juta orang dari lebih dari 100 negara di seluruh dunia. 

Lanjutkan membaca Pembantaian Munich 1972 dan Pembalasan Mossad

Iklan

Tony Wenas, Chief Entertainment Officer


Chief Entertainment Officer_C-1+4_Page_1Sampul buku “Tony Wenas, Chief Entertainment Officer: Work and Fun are Soulmates” (oleh Robert Adhi Ksp). Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Terbit April 2017.  DOKUMENTASI PT GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

Chief Entertainment Officer. Julukan ini sangat pas diberikan kepada Tony Wenas, yang sehari-harinya menjabat Chief Executive Officer atau CEO PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) dan Managing Director APRIL Group. Mulai 1 Maret 2017, Tony kembali ke PT Freeport Indonesia. “Menyanyi adalah pekerjaan utama Tony, dan CEO pekerjaan sampingannya,” demikian banyak sahabat dan koleganya menggambarkan diri Tony Wenas saat ini.

Julukan Chief Entertainment Officer keluar dari mulut Nico Kanter, Presiden Direktur dan CEO PT VALE Indonesia, yang juga sepupu Tony. Nico yang menjadi teman main Tony sejak kecil, tahu persis siapa Tony.

Nico Kanter dan kakaknya, Johnny Kanter, serta semua kakak adik Tony Wenas terkagum-kagum dan mengakui betapa Tony seorang genius sejak kecil. Pada usia 4 tahun, Tony sudah mampu menyanyikan lagu orang dewasa, yang saat itu sedang populer, “Ten Guitars”, yang awalnya dibawakan penyanyi Inggris Engelbert Humperdinck pada 1967.

Pada usia 13 tahun, Tony mampu memainkan semua lagu berirama ragtime dan soundtrack film “The Sting” yang dirilis akhir tahun 1973, di antaranya “The Entertainer” ciptaan Scott Joplin yang digubah Marvin Hamlisch. Tony tak pernah belajar piano dengan benar. Dia hanya mendengar dan melihat, lalu mempraktikkannya.

Teman masa kecilnya, Inoe Arya Damar terheran-heran melihat kepiawaian Tony bermain piano. “Saya menilai Tony bukan orang yang senang menonjolkan diri secara berlebihan. Dia akan menunjukkan kehebatannya ketika diminta,” ungkap Inoe, sahabat SD. Adapun sahabat SMP-nya, Dion Simatupang sering membalas surat-surat cinta teman perempuan yang naksir Tony. Bahkan Tony tidak pernah tahu Dion yang membalas surat cinta itu.

IMG_8908 (1)
Bersama Pak Tony Wenas di Burgundy, Grand Hyatt Jakarta, November 2016

Di SMA Kanisius, Tony menghidupkan band sekolah dan sering merebut juara lomba vocal group antar-SMA se-Jakarta. Tony latihan bersama teman- temannya, di antaranya Dwi Hartanto. “Berkat aktivitasnya dalam dunia nyanyi dan musik sejak SMA, Tony punya modal kuat dalam pergaulan,” kata Dwi Hartanto, yang kini pengusaha listrik.

Rhenald Kasali, teman sekelasnya di Kanisius menilai Tony mampu memaksimalkan otak kiri dan otak kanannya. “Jarang ada orang seperti Tony,” kata Kasali, kini guru besar di Universitas Indonesia.

Ketika berusia remaja, Tony bercita-cita ingin menjadi musisi beken. Tony berhasil mewujudkannya dalam waktu enam sampai tujuh tahun kemudian. Melalui band “Solid 80”, band yang dibentuk Tony dan kawan-kawannya saat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Tony tampil sebagai musisi terkenal pada masa itu.

Sampai saat ini Tony memiliki ikatan emosional yang kuat dengan teman- teman band “Solid 80”, yaitu Setiawan Adi, Kurnia Wamilda Putra, Hendrasly Ahmad Sulaiman, Glenn Tumbelaka, Boyke Sidharta dan Edi ‘Achink’ Nugroho. “Tony jujur, pemberani, antusias, dan pembangun semangat,” kata Hendrasly.

Pada masa itu, profesi musisi belum memberi jaminan masa depan. Tony memilih untuk bekerja sebagai profesional. Sesama “anak band”, Triawan Munaf (kini Kepala Badan Ekonomi Kreatif) yang pada masa itu bergabung dalam band “Giant Step” menilai Tony tetap bermusik secara profesional meski menjabat sebagai CEO.

Tony Wenas di studio musik di rumahnya - foto KSP
Tony Wenas di studio musik di rumahnya, Desember 2016

Kepemimpinan yang efektif

Pada awal kariernya, Tony lebih fokus pada pekerjaan. Setelah mulai mapan, Tony tetap “ngeband”, menyanyi dan memainkan alat musik di tempat kerjanya. Tony berpindah-pindah tempat kerja, mulai dari perusahaan migas ARCO (yang kemudian berubah menjadi BP), kemudian perusahaan perbankan dan telekomunikasi.

Tony melamar bekerja di Freeport, dan dalam tujuh tahun, kariernya melesat sampai menduduki jabatan Executive Vice President. Bagi Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (saat itu) Adrianto Machribie, Tony memiliki leadership yang sangat efektif. Dia mampu menggerakkan orang-orang dalam organisasi tanpa menonjolkan dirinya. Tony fleksibel dalam arti positif, terbuka, tidak arogan, mudah bergaul, mau mendengar orang lain, dan juga bisa keras. Tony juga tidak pernah mengatakan, “Aku yang menentukan.”

Adrianto Machribie berpendapat, banyak orang yang mencoba naik ke atas dengan cara “menendang” ke kiri dan kanan, tetapi Tony berkembang tanpa harus “menyikut”, “melukai” ataupun “menendang” orang lain. Dia dipilih karena prestasi yang diukirnya sendiri.

KSP dan Adrianto Machribie.jpg
Bersama Pak Adrianto Machribie, mantan Presdir PT Freeport Indonesia, yang sekarang menjabat Presdir Metro TV, Februari 2017 

Tony Wenas dinobatkan sebagai “The Indonesia Most Admired CEO 2016” atau CEO Idaman Indonesia pada 8 Desember 2016 dari majalah “Warta Ekonomi”. Sebelumnya, pada 2 Maret 2016, Tony Wenas dinobatkan sebagai salah satu CEO Terbaik (The Best CEO) versi “Men’s Obsession” dan menerima “Obsession Awards 2016” sebagai “Best Individual Achiever Category CEO Private Sector”. Penghargaan-penghargaan sebagai CEO Terbaik yang diterima Tony Wenas sepanjang 2016 merupakan apresiasi pihak luar kepada dia dan apa yang telah dia lakukan. Tony selalu mengatakan, keberadaannya di perusahaan harus memberi manfaat lebih bagi semua pihak. Sebab bila sama saja, artinya dia hanya “CEO rata-rata”.

Tidaklah heran bila nama Tony Wenas masuk dalam daftar headhunter mengingat kemampuan Tony melakukan lobbying, menjalin networking, dan kemampuan teknisnya. Dia paham masalah kehutanan, pertambangan, dan perbankan, meski tidak sampai detail.

Kalimat kunci yang sering disampaikan Tony adalah dia mengelola perusahaan seperti pengalamannya mengelola band. Dia mengelola orang-orang dalam perusahaan itu seperti dia mengelola para pemain dalam grup band. “It’s about managing people,” kata Tony. Memimpin perusahaan ibarat memimpin orkestra dan band. Seorang pemimpin orkestra tahu kapan pemain tertentu harus dominan dan kapan dia harus lembut, instrumen apa yang perlu tampil di depan, dan kapan di belakang. Bagi Tony, memimpin lima manajer dalam perusahaan jauh lebih mudah dibandingkan memimpin lima pemain band yang memiliki ego yang cenderung tinggi.

Cara Tony menangani persoalan selalu mujarab. Apapun persoalan yang dihadapinya, Tony mampu menyelesaikan dengan baik. “Saya mengagumi kemampuan Tony menangani berbagai persoalan yang dihadapi perusahaan. Dia memiliki kemampuan menyeimbangkan tekanan (pressure),” kata Bernardus Irmanto, Wakil Presiden Direktur PT VALE Indonesia. “Saya terkesan pada Tony karena logical thinking-nya sangat kuat. Sekompleks apapun persoalan, dia melakukan pendekatan logical thinking sehingga persoalan cepat diurai, penerapan solusi lebih tepat, dan penyelesaian masalah pun cepat terlaksana,” kata Hendra Sinadia, sahabat Tony yang sekarang aktif di Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia dan Apindo.

KSP dan Dan Bowman
Bersama Daniel A. Bowman di Restoran Le Quartier, Januari 2017

Problem is my middle name. Tony mengibaratkan namanya Tony “Problem” Wenas. Semua perusahaan tempat dia bekerja, menghadapi banyak persoalan hukum, dan sebagai lawyer, Tony mampu membereskan problem yang dihadapi perusahaan.

Daniel A Bowman yang pernah menjadi atasan Tony di Freeport menilai, Tony Wenas lawyer terbaik yang pernah bekerja sepanjang sejarah Freeport, bahkan terbaik di Indonesia. “Saya sering melihat lawyer di Indonesia hanya profesional tetapi tidak bertanggung jawab sebagai problem solver. Tapi Tony berbeda. Dia ikut memecahkan persoalan yang sangat berat yang dihadapi Freeport, dari masalah lingkungan, keamanan, capital market, dan dia menyelesaikannya dengan baik. Banyak lawyer mempromosikan diri, tetapi Tony melakukan secara confidential karena dia memikirkan kliennya, Freeport,” kata Bowman.

KSP dan HS Dillon.jpg
Bersama Pak HS Dillon di Restoran Ambiente, Hotel Aryaduta Tugutani Jakarta, Januari 2017 

HS Dillon, yang pernah menjabat Senior Advisor di PT Freeport Indonesia, menilai Tony Wenas memiliki integritas dan dignity di perusahaan tempat dia bekerja.

Esterini Wahyudisheno, Head of Legal PT RAPP, yang pernah bekerja dengan Tony di Freeport dan RAPP menilai, Tony selalu menginginkan perusahaan yang dipimpinnya taat hukum. Semua langkah dan kebijakan perusahaan harus dipastikan sesuai dengan peraturan hukum.

Di mata sekretarisnya, Winda Herlina (saat di INCO/VALE), “Pak Tony sosok pemimpin mandiri”, sedangkan di mata Yenny Lie (sekretaris di RAPP), “Pak Tony memiliki daya ingat yang luar biasa.”

Tony masih sering menyanyi dan tampil bersama band “Solid 80” yang dipimpinnya hingga kini. Bahkan Tony bisa jadi satu-satunya CEO yang masih “ngeband” dan dibayar secara profesional. Dengan cara itu, Tony ingin menegaskan, musisi harus dihargai secara profesional.

“Tony sukses dalam kehidupan profesional dan sebagai musisi. Ini bukti nyata, bila seorang seniman dan musisi diberi kepercayaan memimpin perusahaan, dia mampu melakukannya dengan baik,” kata Tantowi Yahya, sahabat Tony. Tantowi Yahya adalah Ketua Umum PAPPRI (Persatuan Artis, Penyanyi dan Pemusik Rekaman Indonesia) dimana Tony juga duduk sebagai Bendahara Umum, dan juga politisi Partai Golkar yang kini Duta Besar RI untuk Selandia Baru.

Tony juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan organisasi probono. Dia membangun Rumah Retret di Tomohon, Sulawesi Utara yang dikhususkan untuk kegiatan keagamaan. Tony aktif di Indonesia Business Council for Sustainable Development, The Nature Conservancy, KADIN, Indonesia Mining Association, Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia, Asosiasi Emiten Indonesia, Persatuan Artis, Penyanyi dan Pemusik Rekaman Indonesia, alumni Canisius College, alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Kerukunan Keluarga Kawanua dan Komunitas Keluarga Wenas se-Indonesia.

Mencintai keluarga

Tony dijuluki sebagai family man, lelaki yang mencintai keluarganya. Dari sejumlah wawancara yang dilakukan, sahabat dan keluarga Tony mengakui Tony hanya mencintai perempuan bernama Shita Manik-Wenas yang sekarang menjadi istrinya. “Dia tidak pernah berpacaran dengan perempuan lain. Cinta Tony hanya pada Shita,” kata Paul Nelwan, sahabat dekat Tony.

Hanya Shita yang berhasil mendampingi Tony dan membuat hidupnya kembali normal. Sebelumnya Tony sempat seperti “layang-layang putus” dan sering minum dan dugem dan mabuk, terutama pada masa dia sempat berpisah dengan Shita. Namun Tony tidak menyerah dan itulah yang membuat Shita kembali pada Tony. “Jodoh tak lari ke mana,” kata Johnny Kanter, sepupu dan teman Tony sejak kecil. Johnny mengakui, Tony memang bandel di masa kecil dan remajanya tetapi dia sukses dalam hidupnya.

Di mata istrinya, Shita, “Tony is the best husband.”, sedangkan di mata putranya, Diego Wenas, “Papa sudah seperti teman dekat.”

“Bon vivant”

“Tony seorang bon vivant,” kata HS Dillon, sahabat Tony. Dan memang, Tony menerapkan prinsip work hard, play hard dalam kehidupannya. Meski sibuk dalam bekerja, dia tetap punya waktu untuk bergembira. Dia seorang penikmat wine. Pada masa remajanya, Tony sudah puas minum whisky dan sejenisnya.

“Tony menggabungkan antara pekerjaan, pleasure dan fun. Meski dia pulang larut malam setelah ‘ngeband’ atau nyanyi-nyanyi, tetapi pagi harinya dia sudah tiba di kantor lagi tepat waktu,” kata Clementino Lamury, Director & Executive Vice President PT Freeport Indonesia di bidang External Affairs. Clementino mengakui Tony Wenas adalah guru dan mentornya. “Tony hidup dalam keseimbangan antara sebagai profesional dan sebagai penyanyi. Dia CEO yang bisa hidup di dua dunia berbeda. Dia bukan CEO yang hanya memikirkan masalah finansial dan urusan perusahaan,” kata Agung Laksamana, Corporate Affairs Director APRIL Group.

tony-wenas-dan-ksp
Bersama Bapak Tony Wenas di Burgundy, Grand Hyatt Jakarta, Oktober 2016

Work and fun are soulmates. Kalimat itu diambil dari cendera mata yang diberikan karyawan Freeport Indonesia kepada Tony ketika dia mengundurkan diri dari perusahaan itu. Tony setuju ketika disampaikan usul kata-kata yang menggambarkan dirinya itu menjadi judul buku ini.

Buku ini bukan sekadar mengungkap perjalanan hidup seorang Tony Wenas, tetapi juga memaparkan kiat-kiat seorang seniman pencinta musik dan musisi berhasil memimpin perusahaan pertambangan dan kehutanan. Buku ini layak dibaca para profesional dan siapa saja yang suka membaca buku biografi.

                                                                               ***

Suasana wawancara yang hidup

Saya mewawancarai Tony Wenas sejak pertengahan Oktober 2016 sampai pertengahan Desember 2016 di Burgundy, Hotel Grand Hyatt Jakarta, di MO Bar, Hotel Mandarin Jakarta, dan di kediamannya yang asri di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, serta wawancara tambahan pada awal Februari 2017 di Social House di Grand Indonesia. Setiap saya mewawancarai Pak Tony di Burgundy, MO Bar, Social House, dan di rumahnya, saya selalu disuguhi wine. 

tony-wenas-dan-ksp-0
Bersama Bapak Tony Wenas di Burgundy, Grand Hyatt Jakarta, Oktober 2016

Karena Pak Tony Wenas seorang penyanyi, dalam beberapa bagian wawancara, Tony memberi ilustrasi dengan mendendangkan lagu. Misalnya ketika bercerita saat dia berusia 4 tahun dan sudah fasih menyanyikan lagu berjudul “Ten Guitars”. Tony memberi contoh dengan menyanyikan beberapa bait lagu yang dibawakan kali pertama oleh penyanyi Inggris kelahiran Madras, India, Engelbert Humperdinck.

Saat bercerita pada usia 13 tahun, dia fasih memainkan soundtrack film “The Sting”, Tony mendendangkan satu lagu, dan saya langsung menebak dengan tepat, “The Entertainer”. Juga ketika Tony menceritakan satu momen hidupnya saat pemakaman ayahnya, dia menyanyikan lagu berjudul “Papa” ciptaan Titiek Puspa. Di depan saya, Tony menyanyikan lagu itu dengan penuh perasaan.

Tony Wenas dan KSP3 - pelengkap tulisan KSP
Bersama Pak Tony Wenas di studio musik di lantai dua rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Desember 2016

Pada lain waktu, wawancara dilakukan di rumahnya di Jalan Sindanglaya, Menteng. Tony mengajak saya ke studio musik di lantai dua rumahnya. Tony menyalakan lampu sorot seolah kami berada di atas panggung, kemudian dia memainkan keyboard sambil menyanyikan lagu-lagu Phil Collins dari grup Genesis, dan Queen. Suasana wawancara dengan Tony Wenas menjadi hidup dan saya sangat menikmatinya. (Robert Adhi Ksp)

(Dikutip dari kata pengantar penulis dalam buku “Tony Wenas, Chief Entertainment Officer: Work and Fun are Soulmates, PT Gramedia Pustaka Utama, terbit April 2017)

BACA JUGA: Buku-buku Robert Adhi Ksp

Hidup seperti Raja, Fidel Castro Bergelimang Kemewahan dan Perempuan Simpanan


ROBERT ADHI KSP

Bagaimana pemimpin Kuba Fidel Castro yang lantang meneriakkan anti kapitalis dan anti borjuis ternyata hidup seperti seorang raja di sebuah pulau rahasia dikelilingi para perempuan simpanannya? Rahasia yang terpendam lama ini diungkap mantan pengawal Castro, Letnan Kolonel Juan Reinaldo Sanchez, yang selama 17 tahun berada bersama pemimpin gerakan sosialis Amerika Latin itu dalam bukunya, The Double Life of Fidel Castro: My 17 Years as Personal Bodyguard to El Lider Maximo.

Buku yang diterbitkan St Martin Press dan bisa dibeli di Amazon.com mulai 12 Mei 2015 dengan harga 17,76 dollar AS itu ditulis Sanchez bersama Axel Glyden. Buku yang tersedia dalam edisi cetak danelektronik (e-book) ini diterbitkan pertama kali dalam bahasa Perancis dengan judul La Vie Cachee de Fidel Castro (Editions Michel Lafon). Dalam edisi bahasa Spanyol, buku ini berjudul La Vida Oculta de Fidel Castro.

Buku Fidel Castro

Buku ini mengungkap Fidel Castro yang hidup dalam dua sisi berlawanan. Di Amerika Latin, Castro merupakan contoh inspiratif, menjadi panduan, seorang mentor, dan tokoh politik yang berpengaruh. Dunia terpukau dan mengagung-agungkan Castro sebagai pemimpin revolusioner yang rendah hati dan bersuara lantang mengecam konsep hidup borjuis. Namun, pada kenyataannya, dalam kehidupan sehari-hari, Castro hidup bergelimang kemewahan. Di sisi lain, sebelas jutaan rakyat Kuba hidup dalam penderitaan, kelaparan, dan kemiskinan ekstrem.

Rumah-rumah dan istana kepresidenan Castro yang mewah dan kota hantu tempat para gerilyawan dilatih merupakan rahasia terpendam. Demikian juga jumlah uang yang didapatkannya dari anggaran negara. Castro mengumpulkan kekayaan pribadi sangat banyak, yang memungkinkan dia hidup seperti pangeran atau raja. Setiap malam, dia meneguk wiski dan dikelilingi para perempuan cantik.

Castro hidup mewah dan tinggal bergantian di 20 rumahnya dan di pulau tropis, Cayo Piedra, yang dianggap sebagai surga tropis tak tertandingi di dunia. Di pulau rahasia inilah, Castro menjalin hubungan rahasia dengan sejumlah perempuan, yaitu Juana Vera (penerjemah bahasa Inggris), Gladys (pramugari maskapai Kuba), Pilar (penerjemah berbahasa Perancis), dan Celia Sanchez yang berada di jantung revolusi Kuba bersama Castro.

Pada akhir pekan, Castro bersama perempuan rahasianya, Dalia Soto del Valle, temannya sejak 1961. Kehadiran Dalia misterius dan tidak diketahui 11 juta rakyat Kuba. Dalia yang menjadi pendampingnya paling lama akhirnya menjadi istri dan ibu dari lima anak Castro.

Lanjutkan membaca Hidup seperti Raja, Fidel Castro Bergelimang Kemewahan dan Perempuan Simpanan