Semua tulisan dari Robert Adhi Ksp

blogger | author & writer of 11 books | book-music-food lover | wanderlust | think & feel positively | full of gratitude |

Di Balik Buku “Andy Noya: Kisah Hidupku”


B

                       

Buku “Andy Noya, Kisah Hidupku” adalah buku keenam yang saya garap. Buku yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas (2015) ini hasil kolaborasi saya dengan Andy Noya. Wawancara dilakukan sejak 2011, dan buku ini baru diterbitkan pada 2015. Cukup lama juga ya? Harus menunggu empat tahun!

Bagaimana awal mula persahabatan saya dengan Bang Andy Noya? Buku ini digarap setelah buku pertama saya “Panggil Aku King” (biografi legenda pebulu tangkis Indonesia Liem Swie King) terbit pada 2009.

Bang Andy Noya dan Kang Dhony Rahajoe — kami sesama warga BSD — terlibat dalam proses awal buku biografi King. Bang Andy-lah yang “memaksa” King agar mau mengisahkan pengalamannya ke dalam buku. “Kalau Anda tak mau menceritakan, Anda tidak nasionalis,” kata Bang Andy kepada King pada awal 2009. King kaget dan akhirnya bersedia. “Nah, King sudah OK. Sekarang kita cari penulisnya,” kata Bang Andy. Dhony lalu mengusulkan nama saya sebagai penulis buku. Singkat cerita, saya menjadi penulis dan Bang Andy Noya menjadi editor buku “Panggil Aku King”. (Khusus “Di Balik Buku Panggil Aku King“, akan saya tulis terpisah di blog ini).

Setelah buku “Panggil Aku King” terbit pada pertengahan 2009, kami bertiga beberapa kali bertemu. Setelah ngobrol santai sana-sini bersama Bang Andy Noya dan Kang Dhony Rahajoe, suatu hari saya memprovokasi, “Sudah waktunya buku tentang Andy Noya ditulis dan diterbitkan.”

Namun saat itu Bang Andy mengatakan,” Ah, siapa yang mau membaca kisah hidup saya?” Pada masa itu program Kick Andy memang masih baru. Saya sering menerima SMS dari Bang Andy soal ajakan menonton acara itu di Metro TV. Tampaknya saat itu Bang Andy belum percaya diri. Meski demikian, saya meyakini sosok Andy Noya sosok yang disukai pembaca dan penggemarnya.

Tahun 2011, Bang Andy mengontak saya dan mengajak saya ngobrol. Dia setuju saya menulis biografinya. Hampir setiap hari Sabtu atau hari Minggu, saya bertandang ke rumah Bang Andy. Jaraknya hanya sekitar 2 kilometer dari rumah saya. Kami sama-sama warga BSD, tapi beda klaster. Kadang-kadang saya diajak makan siang oleh Bang Andy dan Mbak Upi (Palupi) di rumahnya dengan menu rumahan, seperti sayur asem dan ikan asin.

Saat buku hampir selesai, Bang Andy tiba-tiba mengatakan, “Sepertinya belum waktunya buku saya ini terbit. Kita tunda dulu ya,” katanya. Bang Andy masih menunggu waktu yang pas.

Sementara saya menyelesaikan buku-buku lainnya, saya tetap gigih menanyakan kelanjutan buku ini. “Bagaimana Bang? Buku Karni Ilyas sudah terbit nih, masak buku Bang Andy belum juga?” tanya saya. (Kebetulan waktu itu saya sedang di toko buku Gramedia dan melihat buku Karni dipajang). Bang Andy masih masih mengatakan, “Belum waktunya.”

Setiap tahun saya mengontak Bang Andy, sampai akhirnya pada tahun 2014, Bang Andy mengatakan, “Adhi, kita lanjutkan buku saya.” Wawancara pun diperdalam lagi. Bang Andy ikut memoles sana-sini.

Sama seperti buku “Panggil Aku King“, buku Andy Noya juga diberi pengantar oleh Bapak Jakob Oetama. (Terima kasih kepada Pak St Sularto dan Mbak Etty yang membuka jalan).

Buku Andy Noya akhirnya terbit pada 2015. Sebelumnya, Penerbit Buku Kompas melakukan “pre-order”, sekaligus tes pasar. Tanggapannya luar biasa. Pada masa “pre-order” saja, buku terjual lebih dari 2.000 eksemplar. Ini bukti “feeling” saya tepat. Bang Andy memang sosok yang merakyat.

Setelah itu, buku ini “meledak”. Penggemar Bang Andy Noya di seluruh Indonesia memburu buku ini. Bukan hanya itu, Bang Andy juga rajin mempromosikan buku ini pada saat dia diundang ke berbagai acara (bahkan ketika Bang Andy bertemu dengan Presiden Joko Widodo akhir Februari 2019 lalu). Sampai 2019, buku ini sudah dicetak ulang ke-24.

Buku tentang Andy Noya ini buku ke-6 yang saya garap, sedangkan sampai 2018, saya sudah menulis 10 buku. Sementara buku ke-7, 8, 9, dan 10 yang saya tulis muncul silih berganti dan terpajang di toko buku Gramedia, buku “Andy Noya: Kisah Hidupku” tetap terus terterpajang, dan masuk kelompok “best seller”.

Saya bersyukur bisa berkolaborasi dengan Bang Andy Noya yang murah hati dan rendah hati. Terima kasih untuk Bang Andy Noya yang sudah bersedia berkolaborasi dengan saya.

Foto-foto ini merupakan rekaman peristiwa ketika saya mewawancarai Andy Noya di rumahnya dalam berbagai kesempatan sejak Andy Noya masih berambut kribo dan sering bertopi sampai Andy berkepala plontos.

AFN12
Bersama Bang Andy Noya, 17 Juli 2011
249733_10150199021852311_6680361_n
afn11
Wawancara Andy Noya
Bersama Andy F Noya, Juni 2014
Bersama Andy F Noya di sela-sela wawancara penulisan buku biografi, 23 Juni 2014
Bersama Andy Noya, 13 September 2014
Bersama Andy Noya, 13 September 2014

bersama Andy Noya
bersama Bang Andy Noya di rumahnya, Agustus 2015
Bersama Andy Noya dan Sarah Sechan
Bersama Andy Noya dan Sarah Sechan sesuai rekaman program Kick Andy, akhir Juli 2015 di stasiun Metro TV.
Iklan

Tingginya Harga Tiket Berdampak Negatif terhadap Pariwisata Tapanuli


Suasana sejuk di luar Kafe Piltik di Siborongborong, Tapanuli Utara. FOTO: ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Hari Minggu 13 Januari 2019 lalu, saya mengunjungi Kafe Piltik yang “cozy” dengan suasana alam yang sejuk, sebelum kembali ke Jakarta melalui Bandara Silangit. Kafe Piltik ini sudah dua tahun dikelola Edward Tigor Siahaan dan istrinya. Lokasinya di Siborongborong, sekitar 3 km dari Bandara Silangit.

Saya ditemani Pak Jonner Napitupulu, sosok pengusaha yang sedang saya tulis biografinya. Kafe ini bernuansa “country”, suasana pedesaan dengan pemandangan alam yang sejuk, dilengkapi dengan “homestay” (semalam antara Rp 350.000-Rp 450.000).

Dalam percakapan dengan kami pada Minggu pagi, Edward menyampaikan, “Hampir semua Batak keren sudah pernah ke kafe ini. Juga sejumlah menteri dan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia.” Tentu saja wisatawan dari Jakarta seperti saya.

Suasana Kafe Piltik di Siborongborong, Tapanuli Utara. FOTO: ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Edward juga menyampaikan keluhan soal turunnya jumlah wisatawan sejak naiknya harga tiket sampai dua kali lipat. “Masak tarif tiket ke Silangit dua kali lipat dibandingkan ke Bali?” katanya kecewa.

Saya menyimak ucapan Edward dengan serius. Saya bisa memahami keluhannya karena dia dan istrinya kembali ke kampung, untuk ikut membangun pariwisata daerah melalui kafe keren itu. Lha masak tidak didukung oleh sektor lain? Pak Jonner yang dekat dengan Pak Luhut Panjaitan berjanji menyampaikan keluhan ini.

Edward Tigor Siahaan dan istrinya, pemilik dan pengelola Kafe Piltik di Siborongborong, Tapanuli Utara. FOTO: ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Setelah tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, saya membaca berita: pemerintah memutuskan untuk menurunkan harga tiket pesawat sampai 60 persen. (Wah rupanya pemerintah cepat tanggap).

Semoga kebijakan pemerintah ini makin menghidupkan pariwisata Tapanuli Utara dan Toba Samosir. Sayang kan jika kafe keren semacam Kafe Piltik ini harus tutup akibat kekurangan tamu. Semoga pemerintah membuat kebijakan terpadu untuk memajukan pariwisata daerah.

Robert Adhi Ksp, 15 Januari 2019

Nasib Mantan Presiden Interpol dan Kampanye Antikorupsi Xi Jinping


20181009KSP Meng

 

oleh ROBERT ADHI KSP

Pernyataan Pemerintah China yang menyebutkan Meng Hongwei (64 tahun), Wakil Menteri Keamanan Publik yang juga Presiden Interpol, terjerat kasus suap dan korupsi, mengejutkan banyak pihak. Meng ditahan dan diperiksa oleh Komisi Pengawas Nasional, badan antikorupsi tertinggi di China sejak akhir September 2018 lalu.

Kasus penangkapan Meng Hongwei merupakan kasus terbaru penangkapan pejabat dan tokoh di China dalam kaitan kampanye antikorupsi yang dilancarkan Xi Jinping sejak 2012. Kasus-kasus korupsi di China kini ditangani Komisi Pengawas Nasional (NSC) yang belum lama ini diberi kekuasaan yang lebih luas dan kuat.

Xi Jinping yang menjabat Sekjen Partai Komunis China sejak 2012 dan menjadi Presiden China sejak tahun 2013 meluncurkan kampanye antikorupsi. Selama enam tahun terakhir, lebih dari satu juta orang dihukum karena terjerat kasus korupsi dan suap. Namun langkah Xi Jinping dikritik karena itu dianggap sebagai cara Xi menghancurkan lawan-lawan politiknya.

Sejumlah pengamat dan analis internasional mengomentari penahanan atas (mantan) Presiden Interpol tersebut. “Presiden Interpol ditangkap di negara asalnya karena korupsi, itu sangat memalukan,” kata Richard McGregor dari Sydney’s Lowy Institute, seperti dikutip CNN, Selasa (9/10/2018).

“Partai Komunis China tidak responsif terhadap dunia luar dan hanya asyik dengan dunia internal sendiri. Penangkapan Meng menunjukkan Komisi Pengawas Nasional hanyalah perpanjangan tangan partai, bukan lembaga pemerintah yang mewujudkan perlindungan hukum yang lebih besar,” kata McGregor.

Advokat hak asasi manusia, Michael Caster berpendapat, “Sungguh sangat memprihatinkan jika China berpikir dapat menculik dan menahan pimpinan organisasi internasional dengan sewenang-wenang.”

Michael menyimpulkan bahwa Meng Hongwei sebagai Presiden Interpol bekerja untuk melayani kebijakan Partai Komunis yang dipimpin Xi Jinping.

Kasus Meng Hongwei ini menyusul kasus aktris China, Fan Bingbing yang menghilang berminggu-minggu dan ternyata terjerat kasus penghindaran pajak. Menurut Caster, “Ini menunjukkan tidak ada yang aman dari jangkauan partai tersebut. Siapapun bisa menjadi korban berikutnya.”

Namun media pemerintah China, Global Times membantah tuduhan tersebut. “Media Barat tidak menghormati dan tidak memahami hukum China, juga salah paham terhadap kampanye antikorupsi China. Di manapun, sistem hukum China berbeda dengan Barat. Mereka dengan arogan menganggap perbedaan itu sebagai kekurangan,” demikian editorial Global Times.

Lanjutkan membaca Nasib Mantan Presiden Interpol dan Kampanye Antikorupsi Xi Jinping

Mantan Presiden Interpol Dituduh Bahayakan Partai dan Kepolisian


20181008KSP Presiden Interpol

 

Meng Hongwei (64 tahun) baru dua tahun menjalankan perannya sebagai Presiden Interpol/ICPO (International Criminal Police Organization) yang bermarkas di Lyon, Perancis. Meng terpilih dalam Sidang Umum ke-85 Interpol di Bali, Indonesia pada 10 November 2016 silam. Seharusnya Meng masih memimpin organisasi kepolisian dan penegak hukum yang beranggotakan 192 negara di seluruh dunia itu sampai tahun 2020.

Namun kabar mengejutkan datang dari Lyon. Sekretariat Jenderal Interpol melalui akun twitternya Minggu (7/10/2018) menyatakan Presiden Interpol Meng Hongwei mengundurkan diri dan Sekretariat Jenderal Interpol menerima pengunduran diri Meng. Interpol akan memilih presiden baru dalam Sidang Umum ke-87, November 2018 mendatang.

Pada saat yang hampir bersamaan, Minggu menjelang tengah malam, istri Meng, Grace, menggelar jumpa pers di Lyon. Grace mencemaskan nasib suaminya yang melakukan perjalanan ke China.

Grace menerima ancaman dalam bentuk emoji berupa pisau belati dalam WhatsApp. Meng masih sempat memberi tahu, “Tunggu telepon saya.” Namun sejak itu, Grace tak pernah dihubungi lagi dan dia hilang kontak dengan suaminya.

Pada Minggu malam juga, pemerintah China seperti dilansir China Daily menyebutkan, Meng Hongwei, Wakil Menteri Keamanan Publik, sedang diperiksa dan diselidiki oleh lembaga tertinggi antikorupsi China yaitu Komisi Pengawas Nasional karena diduga melakukan pelanggaran hukum. Saat itu belum dijelaskan secara rinci jenis pelanggaran hukum yang dilakukan Meng.

Membahayakan partai dan kepolisian
Senin (8/10/2018) siang WIB, pemerintah China mengeluarkan pernyataan resmi bahwa Meng Hongwei saat ini sedang ditahan dan diselidiki dalam kasus suap dan korupsi. Namun belum jelas kapan Meng melakukan suap dan korupsi yang dilakukannya.

China menanggapi permintaan Interpol yang pada 6 Oktober meminta klarifikasi dan penjelasan tentang hilangnya Meng Hongwei di negara asalnya.

Kementerian Keamanan Publik China seperti dikutip The South China Morning Post Senin menyebutkan, “Meng diduga melakukan suap serta korupsi dan melanggar undang-undang yang sangat membahayakan Partai Komunis China (partai berkuasa) dan Kepolisian China.”

Pemerintah China membentuk satuan tugas (satgas) untuk menyelidiki siapa saja yang terlibat dalam penyuapan yang dilakukan Meng.

Lanjutkan membaca Mantan Presiden Interpol Dituduh Bahayakan Partai dan Kepolisian

Misteri Hilangnya Presiden Interpol Meng Hongwei


oleh ROBERT ADHI KSP

Berita mengejutkan datang dari markas besar Interpol di Lyon, Perancis. Presiden Interpol periode 2016-2020, Meng Hongwei (64 tahun), dilaporkan hilang sejak melakukan perjalanan ke negara asalnya, China, pada 29 September 2018 lalu. Istri Meng yang sejak 2016 mengikuti suaminya tinggal di Lyon,  melaporkan hal ini kepada Kepolisian Perancis.

Kepolisian Perancis hari Jumat (5/10/2018) menyatakan sedang melakukan investigasi atas hilangnya Meng Hongwei, pejabat China pertama yang menduduki posisi puncak dalam organisasi Interpol yang beranggotakan 192 negara. Meng terpilih dalam Sidang Umum ke-85 Interpol yang digelar di Bali, Indonesia, tahun 2016 silam. Interpol adalah organisasi kerja sama kepolisian dan penegak hukum terbesar di dunia.

Namun terpilihnya Meng sempat membuat akademisi dan aktivis hak asasi manusia khawatir dia akan menyalahgunakan kekuasaan Interpol untuk menangkap orang-orang China yang tinggal di luar negeri. Salah satunya disampaikan oleh Nicholas Bequelin, Direktur Amnesti Internasional untuk kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur, pada 10 November 2016, menanggapi akun twitter Interpol yang mengabarkan Meng Hongwei terpilih sebagai Presiden Interpol.

Pemerintah China selama beberapa tahun terakhir ini meminta bantuan negara-negara asing untuk menangkap dan mendeportasi kembali warga negara China yang melakukan korupsi dan yang terlibat terorisme.

Interpo

 

Di bawah kepemimpinan Meng,  Interpol pada April 2017 pernah mengeluarkan red notices kepada konglomerat China, Guo Wengui atas permintaan pemerintah China. Guo Wengui merupakan satu dari 44 orang yang mendapat red notices dari Interpol.

Lanjutkan membaca Misteri Hilangnya Presiden Interpol Meng Hongwei

Aplikasi ”Laut Nusantara” Mudahkan Nelayan Tangkap Ikan


IMG_7233

Wayan Kartika (45), nelayan asal Perancak, Jembrana, Bali, biasanya menangkap ikan di perairan Tabanan, sekitar 17 kilometer dari kampungnya.

”Sudah bertahun-tahun saya melaut. Seperti nelayan lainnya, saya hanya menebak-nebak lokasi ikan berkumpul. Tapi, setelah saya mengunduh aplikasi Laut Nusantara, saya mengetahui persis lokasi untuk menangkap ikan,” kata Wayan.

Setelah menggunakan aplikasi Laut Nusantara, lanjut Wayan, jumlah ikan yang didapatnya meningkat dua kali lipat, dari 5-10 kilogram menjadi sekitar 20 kilogram.

Hal senada disampaikan Mispandi, nelayan Air Kuning. ”Nelayan menikmati teknologi. Berkat aplikasi ini, kami lebih mudah mendapatkan ikan,” katanya, beberapa waktu lalu.

IMG_7286.jpg

Aplikasi Laut Nusantara diciptakan untuk membantu nelayan kecil perseorangan yang selama ini mengandalkan tangkapan untuk menopang kehidupan keluarga mereka sehari-hari.

Aplikasi ini hasil kolaborasi antara Balai Riset dan Observasi Laut (BROL), Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta perusahaan telekomunikasi PT XL Axiata Tbk.

”Selain memuat informasi tentang lokasi ikan di lautan, aplikasi ini memberi informasi tentang kondisi cuaca. Ini sangat bermanfaat dan menjadi panduan bagi nelayan,” kata Kepala BROL Dr I Nyoman Radiarta, MSc di Jembrana.

Lanjutkan membaca Aplikasi ”Laut Nusantara” Mudahkan Nelayan Tangkap Ikan

Pak IGM Putera Astaman yang Energik dan Positif


KSP SCOTLAND YARD

OLEH ROBERT ADHI KSP

Saya mengenal Pak I Gusti Made Putera Astaman ketika saya bertugas sebagai wartawan Harian Kompas yang ngepos di bidang kepolisian. Pada tahun 1990-an, Pak Putera Astaman adalah Deputi Kapori bidang Operasi (Deops) Kapolri. Jabatan Deops pada masa itu merupakan jabatan orang nomor dua setelah Kapolri karena belum ada jabatan Wakil Kapolri seperti sekarang.

Suatu hari pada bulan November 1992, saya mendapat tugas dari kantor tempat saya bekerja (Harian Kompas) untuk meliput Sidang Interpol di Dakar, Senegal di kawasan barat Afrika atas biaya Kompas.

Delegasi Polri dalam Sidang Interpol 1992 itu dipimpin Pak Putera Astaman, didampingi Mayjen Pol Aji Komaruddin (Kapolda Jawa Tengah), Kolonel Pol Ismet Ibrahim (Sekretaris Direktorat Reserse Polri), Kolonel Pol Suharyono (Kepala Sekretariat NCB-Interpol Indonesia), Sutardi (pejabat Biro Hukum Bank Indonesia), dan M. Chariri (Kasubdit Intel Ditjen Bea dan Cukai). Saya satu-satunya wartawan yang masuk dalam daftar resmi delegasi Indonesia.

Saya sangat beruntung karena Pak Putera Astaman mengizinkan saya terlibat langsung, mendengarkan isi Sidang Umum Interpol dari lokasi. Saya dianggap bagian dari delegasi Indonesia. Sungguh pengalaman yang sangat berkesan dalam perjalanan jurnalistik saya.

Lanjutkan membaca Pak IGM Putera Astaman yang Energik dan Positif

Siapa 10 Miliarder Terkaya di China?


Pony Ma Huateng, orang terkaya di China. REPRO CHINA DAILY

 

Majalah bisnis China, New Fortune, mengeluarkan daftar terakhir 500 orang terkaya di China berdasarkan kekayaan pribadi mereka per 8 Mei 2018.

Pony Ma atau Ma Huateng (46), pendiri dan CEO Tencent, raksasa teknologi China, dinobatkan sebagai orang paling kaya di China tahun 2018, menggeser posisi Wang Jianlin, chairman perusahaan pengembang realestat Dalian Wanda.

Orang terkaya nomor dua di China adalah Jack Ma (Alibaba) dan nomor tiga Xu Jiayin (Evergrande Group).

Pony Ma mendirikan dan memimpin perusahaan layanan pesan instan China yang bermarkas di Shenzhen. Platform internetnya termasuk QQ, WeChat, dan Tenpay. Tencent kini menjadi perusahaan paling bernilai di Asia.

Tidak seperti Jack Ma (meskipun sama-sama bermarga Ma, keduanya tidak punya hubungan keluarga), Pony Ma cenderung menghindari sorotan publik.  Ia juga masuk dalam daftar ”World’s 10 Most Powerful CEO’s” tahun 2018 dan daftar 15 orang terkaya di dunia.

Pony Ma mengenyam pendidikan di Universitas Shenzhen dan mendapatkan ijazah dalam ilmu komputer pada 1993. Ia kemudian bekerja mengembangkan peranti lunak ”pager”. Pada masa itu, China baru memiliki satu komputer untuk 100 orang.

Ia tinggal di Shenzhen dan menghasilkan 176 dollar AS untuk pekerjaan pertamanya. Lima tahun setelah lulus, tulis CNBC.com, Pony Ma, yang saat itu berusia 27 tahun, bergabung dengan empat teman sekelasnya di universitas untuk ikut mendirikan Tencent. Mereka menciptakan layanan pesan instan mirip AOL Messenger yang disebut QQ yang terhubung pada desktop dan ponsel. QQ langsung menjadi platform pesan instan terbesar di China.

Tencent mulai menghasilkan uang melalui iklan dan biaya bulanan dari pengguna chat QQ premium. Sampai 2001, Tencent mengumpulkan 32 juta dollar AS dalam investasi dan pada 2004 Tencent go public di Hong Kong. Pada 2011, Tencent meluncurkan aplikasi pesan khusus ponsel yang dinamakan WeChat, terpisah dari QQ. Sejak saat itu, WeChat dijuluki ”satu aplikasi mengatur semuanya”.

WeChat makin populer di China, sementara Whatsapp yang sudah diakuisisi Facebook dilarang digunakan di China. Pengguna aktif WeChat hampir 1 miliar orang setiap bulan. Mereka dapat mengirim teks, panggilan, bermain gim, mengirim uang, berbelanja, membayar pesanan di restoran, memesan taksi, dan bahkan berkencan daring.

Lanjutkan membaca Siapa 10 Miliarder Terkaya di China?

Media-media Arus Utama di Dunia Terapkan Sistem Berbayar pada Versi Digital


Bloomberg-web

Lebih dari satu dekade, Bloomberg mengizinkan para pembacanya menikmati jurnalisme berkualitas mereka di web secara gratis dengan harapan dapat meningkatkan brand, menangguk iklan, dan melengkapi bisnis intinya.

Strategi Bloomberg kini berubah. Perusahaan yang memasok berita-berita keuangan global pada awal Mei 2018 itu mengumumkan untuk memulai mengenakan biaya kepada para pembaca yang mengakses Bloomberg.com dan aplikasi berita Bloomberg.

Sistem berbayar (paywall) itu memiliki dua opsi. Pertama, dengan membayar 34,99 dollar AS, para pengguna memiliki akses ke Bloomberg.com, aplikasi mobile dan tablet dan live streaming Bloomberg TV, demikian juga podcast dan newsletter harian khusus untuk pelanggan.

Opsi lain, dengan membayar 39,99 dollar AS, pelanggan berhak mendapatkan Bloomberg Businessweek versi cetak dan digital serta memiliki akses ke acara-acara Bloomberg Live. Pembaca juga masih bisa membeli majalah tersendiri.

Pengguna dapat membaca 10 artikel dalam sebulan dan menonton Bloomberg TV selama 30 menit sehari secara gratis sebelum paywalldiberlakukan dan ini menjadi pemikat bagi calon pelanggan.

The New York Times
Media terkemuka lain yang sebelumnya memberlakukan paywall adalah The New York Times (NYT), surat kabar Amerika Serikat. NYT sejak 2011 mengenakan biaya kepada pembacanya 15,99 dollar AS (sekitar Rp 224.000) untuk mengakses versi digitalnya. NYT sering melakukan promosi, misalnya ”hanya” meminta 1,5 dollar AS (sekitar Rp 21.000) per minggu kepada pelanggannya.

Lanjutkan membaca Media-media Arus Utama di Dunia Terapkan Sistem Berbayar pada Versi Digital

Pengalaman Meliput Konflik Masyarakat di Kalimantan Barat


Liputan Sambas, Jumat 19 Maret 1999

Dor, dor, dor…. Suara tembakan berkali-kali terdengar keras memekakkan telinga. Saya langsung keluar dari mobil Daihatsu Rocky, mobil dinas kantor Kompas di Kalimantan Barat, dan langsung berlindung. Tembakan terus terdengar sekitar 20 menit. Massa yang sebelumnya ”membajak” mobil itu dengan memaksa masuk, duduk di dalam dan di kap mobil langsung lari berhamburan.

Sebelumnya, massa ”membajak” masuk ke dalam mobil. Dengan tenang, saya memenuhi permintaan mereka dan tetap menyetir untuk melanjutkan perjalanan. Dari dalam mobil, sekelompok orang yang membawa senjata duduk sambil berteriak-teriak ke luar. Empat-lima orang juga duduk di atas mobil, dan di bagian depan, di atas kap mesin sehingga menghalangi pandangan saya. Massa bermaksud ke markas Polres Sambas untuk ”menekan” polisi agar melepaskan teman-teman mereka yang ditahan.

Hari itu, Rabu, 7 April 1999, Daihatsu Rocky itu saya kendarai sendirian tanpa kawan menemani. Sejak pertikaian antaretnis terjadi pada  Februari 1999, saya berupaya ke lokasi peristiwa.

Kali itu, tujuan saya memang ke Markas Polres Sambas di Singkawang. Namun, saya bertujuan untuk meminta konfirmasi tentang kondisi terkini kepada Kapolda Kalimantan Barat (saat itu) Kolonel (sekarang disebut Komisaris Besar/Kombes) Chaerul Rasjidi yang saat itu saya ketahui berada di Markas Polres Sambas.

Mobil dinas Kompas baru melaju beberapa ratus meter ketika letusan tembakan terdengar. Ternyata di depan, Pasukan Anti-Huru-Hara (PHH) menghadang di Desa Sungaigaram, Kecamatan Tujuhbelas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Massa menggunakan truk, sepeda motor, dan berjalan kaki berusaha menembus hadangan polisi dan menerobos pagar betis PHH. Pada saat itulah aparat melepaskan tembakan dengan peluru karet dan peluru tajam.

Chaerul Rasjidi bersama Komandan Korem 121 (saat itu) Kolonel (Inf) Encip Kadarusman ternyata memimpin langsung pengamanan. ”Saya tidak akan memenuhi tuntutan massa yang menghendaki tersangka dilepas. Sebab, untuk meminta penangguhan penahanan, ada prosedur yang harus dipenuhi,” ujar Chaerul.

Korban berjatuhan. Dari 11 korban tewas, delapan orang terkena peluru karet dan tiga orang terkena peluru tajam. ”Saya mendapat perintah langsung dari Menhankam dan Kapolri untuk mengambil tindakan keras. Tembakan dilepaskan karena massa yang menggunakan truk mencoba menabrak pasukan keamanan di Desa Sungaigaram. Massa betul-betul sudah liar,” kata Chaerul. Hari Rabu itu, 15 orang ditahan.

Pengalaman saya ketika mobil dinas Kompas itu dibajak merupakan salah satu dari sekian banyak pengalaman saya selama meliput pertikaian etnis di Kalimantan Barat.

Mengetahui kejadian itu, Chaerul kemudian menepuk-nepuk pundak saya dan mengatakan, ”Anda memang pemberani!”

Lanjutkan membaca Pengalaman Meliput Konflik Masyarakat di Kalimantan Barat