Arsip Kategori: Sosok

Tony Wenas, Sang “Trouble Shooter”: “Problem is My Middle Name”


Masa muda Tony Wenas penuh warna-warni. Dia bersekolah di SMA Kanisius Jakarta yang semua muridnya lelaki. Dia sering kabur dari kelas dan sering lolos. Di masa SMA  itu pula, Tony menyalurkan bakat musiknya dengan menghidupkan band Kanisius, dan mengantarkan band SMA itu meraih juara.

“Tony Wenas pada masa SMA memang sering kabur dari kelasnya. Penjaga sekolah sering membantu Tony. Anehnya, meski sering ngabur dari sekolah, Tony selalu dapat nilai bagus. Suatu kali saya mencoba kabur dari kelas, eh malah tertangkap,” cerita Rhenald Kasali, teman sekelas Tony Wenas di SMA Kanisius dalam peluncuran buku berjudul Tony Wenas, Chief Entertainment Officer, Work and Fun are Soulmates di Airman Lounge, Hotel Sultan Jakarta, Sabtu (8/4/2017) malam. Buku yang ditulis Robert Adhi Ksp itu, diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama. MC acara malam itu, Lilo KLA Project, mengocok perut sekitar 250 orang yang hadir dengan joke-joke khasnya. 

Acara peluncuran buku tersebut bertepatan dengan hari ulang tahun ke-55 Tony Wenas, yang dihadiri istri Tony, Shita Manik-Wenas, dan putranya Diego Wenas. Tony sejak 1 Maret 2017 lalu menjabat Executive Vice President PT Freeport Indonesia. Sebelumnya Tony pernah menjabat CEO PT Riau Andalan Pulp & Paper dan CEO PT Vale Indonesia (INCO).

FOTO OLEH CHAPPY HAKIM

Peluncuran Buku “Tony Wenas – Chief Entertainment Officer – Work and Fun are Soulmates” di Airman Lounge, Hotel Sultan Jakarta, Sabtu (8/4/20170 malam. Dari kiri: Tony Wenas, penulis buku Robert Adhi Ksp, dan MC Lilo KLA Project.

Peluncuran buku dalam suasana santai itu dihadiri para sahabat Tony Wenas, di antaranya mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Kehormatan AM Hendroprijono; mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Purn Chappy Hakim yang pernah menjabat Presdir PT Freeport Indonesia; Presiden Direktur Metro TV Adrianto Machribie yang pernah menjabat Presdir PT Freeport Indonesia; Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Nico Kanter yang juga sepupu dan teman main Tony di masa kecil dan remaja; CEO Sintesa Group Shinta Widjaja Kamdani; Duta Besar RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya;  HS Dillon; musisi Addie MS dan Fariz RM; serta kolega Tony di Freeport Indonesia, PT RAPP, PT Vale Indonesia, juga teman kuliah dan teman sekolah. 

Adriano Machribie yang menulis Epilog buku ini mengungkapkan, Tony Wenas berada dalam “dua Solid”, yaitu “Solid 80”, band yang dibentuknya bersama teman-temannya ketika Tony masih mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 1980, dan solid dalam pekerjaannya.  “Berkiprahnya Tony di band Solid 80, membantunya belajar bertanggyng jawab dalam memimpin musisi yang cenderung individualistis dan egois sehingga Tony paham gaya kepemimpinan yang efektif. Salah satu gaya kepemimpinan itu adalah keluwesannya dalam beradaptasi,” kata Adrianto. 

Ibarat mengelola sebuah band, Tony Wenas memimpin perusahaan dengan menciptakan harmoni. Tak heran bila banyak orang menyebut Tony sebagai problem solver dan trouble shooter. Saking seringnya menyelesainya masalah dalam sejumlah perusahaan yang dipimpinnya, Tony menyebut, “Problem is my middle name.” 

Buku ini juga memuat pandangan-pandangan Tony Wenas tentang cara dia memimpin perusahaan dan menyelesaikan banyak persoalan di berbagai perusahaan yang dipimpinnya.

Peluncuran Buku “Tony Wenas, Chief Entertainment Officer, Work and Fun are Soulmates” di Airman Lounge, Hotel Sultan Jakarta, Sabtu (8/4/2017) . Tony Wenas (kedua dari kanan), Rhenald Kasali (kedua dari kiri), Adrianto Machribie (ketiga dari kanan), Agung Laksamana (paling kiri), penulis buku Robert Adhi Ksp (ketiga dari kiri) dan perwakilan penerbit Gramedia Pustaka Utama Andi Tarigan (paling kiri)

Agung Laksamana, Corporate Affairs Director APRIL Group mengakui Tony Wenas mampu hidup dalam keseimbangan. Dia CEO yang bisa hidup dalam dunia yang berbeda. Biasanya CEO hanya memikirkan masalah finansial dan urusan perusahaan, tapi Tony berbeda. Otak kiri dan otak kanannya sama-sama berfungsi maksimal,” kata Agung, yang juga Ketua Umum Perhumas.

Buku ini juga memuat sekilas kisah band “Solid 80” pimpinan Tony Wenas, yang pada masanya dianggap sebagai boyband Fakultas Hukum UI. Dalam acara itu, Tony Wenas bersama personel band “Solid 80” Kurnia Wamilda Putra, Hendrasly Ahmad Sulaiman, Jodie Wenas dll membawakan lagu-lagu dari grup Queen di antaranya “We Are The Champions” dan “Bohemian Rhapsody”. 

Buku ini juga memuat testimoni sejumlah sahabat, kolega dan keluarga yang mengenal sosok Tony Wenas, mulai dari teman sejak SD, SMP, SMA, kuliah, sampai kolega Tony dalam dunia kerja dan teman-teman ngebandnya.

Editor penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Andi Tarigan mengatakan, buku yang dicetak full colour ini dijual di toko buku Gramedia di seluruh Indonesia mulai akhir April dengan harga Rp 125.000 per eksemplar.  “Buku ini ditulis dengan bahasa yang ringan, dan layak dibaca oleh para profesional, pemula, dan siapa saja,” kata Andi Tarigan.

SUMBER: KOMPAS.ID, MINGGU 9 APRIL 2017 

Warisan Putera Astaman: Dari Samsat sampai Patroli Keamanan Sekolah


Di tengah ramainya pembahasan mengatasi perkelahian pelajar akhir-akhir ini, sebenarnya sudah solusi ampuh yang dilakukan oleh Polri. Salah satu putra terbaik Polri, Mayor Jenderal Polisi Purnawirawan I Gusti Made Putera Astaman, pada tahun 1970-an sudah menggagas dan menerapkan Patroli Keamanan Sekolah di Jakarta dan kemudian diikuti sejumlah daerah.

Ketika menjabat Kepala Direktorat Lalu Lintas (Kaditlantas) Polda Metro Jaya tahun 1973-1978, Putera Astaman memperkenalkan Patroli Keamanan Sekolah (PKS) sekaligus memassalkannya. Waktu itu Astaman berpendapat, polisi tak bisa selamanya nongkrong terus-menerus di sekolah, untuk mencegah perkelahian pelajar. 

Karena itu para siswa perlu dilatih secara swakarsa mengamankan lingkungan sekitarnya. Jika setiap sekolah memiliki 30 orang siswa yang berdisiplin tinggi dan memiliki visi kamtibmas ke depan, maka setidaknya mereka harus dapat mempengaruhi teman-teman lainnya. Konsep ini ternyata merambah ke daerah- daerah lainnya. Bahkan di Jakarta sendiri, Patroli Keamanan Sekolah berkembang dan didukung Pemprov DKI Jakarta. 

Bagaimana nasib Patroli Keamanan Sekolah saat ini? Mengapa Polda Metro Jaya dan Pemprov DKI tidak mencoba menerapkan lagi Patroli Keamanan Sekolah yang pernah digagas Pak Putera Astaman? 

Pak Putera Astaman seorang polisi yang enerjik dan memiliki visi memajukan Polri. Putera Astaman terakhir menjabat Deputi Kapolri Bidang Operasi (Deops)  — dahulu jabatan ini jabatan strategis, orang nomor dua di bawah Kapolri, yang mengendalikan bidang operasi Polri selain Deputi Bidang Administrasi (Demin). 

Saya punya kenangan manis bersama Pak Putera Astaman ketika meliput Sidang Interpol di Dakar, Senegal tahun 1992 silam. Bersama Pak Putera Astaman pula, kami melanjutkan perjalanan, mengunjungi Markas Besar Interpol di Lyon, Perancis dan Markas Besar Scotland Yard di London, Inggris. Sungguh kenangan tak terlupakan.

Bertahun-tahun kemudian, saya bertemu lagi dengan Pak Putera Astaman tahun 2011 lalu. Saat itu ia masih tampak sehat untuk orang berusia 73 tahun. Meski sudah pensiun dari Polri, Pak Putera masih mencintai Polri. Ini terlihat dari masih banyaknya gagasan yang disampaikan untuk memajukan Polri.  Entah bagaimana respon petinggi Polri saat ini atas gagasan Pak Putera tersebut.

***

                                  Mayjen Pol (Purn) IGM Putera Astaman

                 KONSEPTOR SAMSAT DAN PATROLI KEAMANAN SEKOLAH

JAUH hari sebelum deregulasi didengung-dengungkan, penyederhanaan prosedur pengurusan kendaraan bermotor sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 1973 dengan berdirinya Kantor Samsat (Sistem Manunggal Satu Atap). Dan selama 20 tahun, Kantor Samsat melayani masyarakat pemilik kendaraan bermotor dengan lancar.

Namun ketika pertengahan tahun 1993 pengurusan STNK diumumkan berlaku kembali 5 tahun sekali, maka orang yang paling sedih adalah Mayor Jenderal Polisi (Purnawirawan) I Gusti Made Putera Astaman (56), konseptor Kantor Bersama Samsat. “Ini betul-betul suatu kemunduran. Mengapa orang tidak melihat aspek historisnya?” ujarnya.

 

Putera Astaman301293
Tulisan tentang sosok Mayjen Pol Purn Putera Astaman dimuat di Harian Kompas, Kamis 30 Desember 1993.

 

Sebelum konsep Samsat diperkenalkan, situasi pengurusan surat- surat kendaraan pada tahun 1970-an boleh dibilang semrawut. Penggelapan pajak kendaraan merajalela. Masyarakat yang ingin memperpanjang STNK harus membuang waktu cukup lama karena mesti mendatangi tiga kantor. Mereka yang hendak membayar pajak harus datang ke kantor pajak, menunggu dipanggil dan menghabiskan satu hari.

Esoknya, mereka yang hendak membayar Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ), harus mendatangi kantor Asuransi Jasa Raharja. Dan mereka pun harus mendatangi kantor polisi lalu lintas untuk memperoleh STNK.

Bayangkan, waktu tersita tiga hari untuk mengurus perpanjangan kendaraan bermotor. Oleh karena itulah muncul gagasan Samsat untuk menyederhanakan semua urusan itu menjadi satu hari.

Putera Astaman yang pada waktu itu (tahun 1971) menjabat Kepala Bagian Operasi Ditlantas Polda Metro Jaya mencetuskan ide ini dan diterima oleh Kapolda (saat itu) Mayjen Widodo Budidarmo dan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Pelaksanaannya dimulai tahun 1973.

Lanjutkan membaca Warisan Putera Astaman: Dari Samsat sampai Patroli Keamanan Sekolah

Johannes Hariyanto: Dulu “Sales” Sekarang Pemilik Pengembang TreePark Group


ROBERT ADHI KSP

Tahun 1974, Johannes Hariyanto (59) bekerja sebagai pegawai promosi penjualan atau sales promotion di perusahaan rokok Djarum di Surabaya dan berkeliling ke kota-kota di Jawa Timur. Tahun 1976, dia dipindahkan ke Manado, Sulawesi Utara. Tugasnya berkeliling mempromosikan rokok Djarum ke kota-kota di Pulau Sulawesi dan Maluku.

Johannes Hariyanto, pemilik perusahaan pengembang TreePark Group.
Johannes Hariyanto, pemilik perusahaan pengembang TreePark Group.

Masih di Manado, pada 1980, Hariyanto pindah kerja, menjadi sales promotion perusahaan bir hitam Guinness. Dia sempat mengalami guncangan karena penjualannya merosot. Sebagai pemuda yang mulai belajar berusaha, kondisi saat itu tidaklah mudah karena sebelumnya Hariyanto bekerja sebagai profesional di sebuah perusahaan kayu di Semarang sambil menyelesaikan kuliahnya di Universitas Diponegoro.

Suatu hari pada tahun 1982, Hariyanto bertemu dengan Muktar Widjaja, saat itu Kepala Cabang Sinar Mas di Indonesia timur. Hariyanto diajak bergabung di PT Bimoli (Bitung Manado Oil) yang berkantor di Manado dan menjadi kepala unit.

Yang menarik bagi Johannes Hariyanto ketika kali pertama bekerja di Sinar Mas adalah dia ditempatkan di Unit Pembelian Kopra Sindulang Manado dan diminta belajar menimbang kopra dan belajar mengetahui kualitas Kopra Mas.

“Awalnya saya malu karena pekerjaan itu tidak sesuai dengan jabatan saya sebelumnya. Namun, saya akhirnya memahami bahwa itu merupakan tempat latihan yang luar biasa bagi saya sebelum saya ditempatkan di posisi yang strategis,” ungkap Hariyanto. Di tempat itu, dia dapat melihat langsung banyak sekali lubang yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan kecurangan, di antaranya mencuri timbangan. Hampir semua anak-anak Eka Tjipta Widjaja, pemilik Sinar Mas, melakukan pekerjaan ini di awal karier mereka.

Setelah menimbang kopra di Unit Pembelian Kopra Sindulang Manado, Hariyanto dipindahkan ke Ternate ketika Sinar Mas membangun pabrik di sana. Setelah Bimoli menjalin kerja sama dengan Grup Salim, Hariyanto menjabat Kepala Bagian Pembelian (Purchasing). Jabatan itu biasanya dipegang putra-putra dan keluarga Eka Tjipta Widjaja. Di sana, Hariyanto bertanggung jawab atas pembelian bahan baku kopra untuk keperluan PT Bimoli. Dia mencari kopra di Sangir Talaud, Lubukbanggai, Gorontalo, sampai Ternate.

Johannes Hariyanto mengakui betapa indahnya panorama Indonesia timur setelah dia mengelilingi Sulawesi mulai dari Selayar sampai Miangas. “Alangkah indahnya negeri ini. Apalagi bila rakyat saling menghormati keberagaman,” katanya.

Tahun 1989, Sinarmas dan Grup Salim pecah kongsi dalam kerja sama PT Bimoli. Wilayah Manado diambil alih oleh Grup Salim. Hariyanto dipindahkan ke Jakarta, menjadi Kepala Bagian Personalia Divisi Perkebunan Sinar Mas II.

Pada waktu itu, tahun 1990, Sinar Mas baru membangun perkebunan di Riau, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Lampung. Setiap bulan Hariyanto mengawasi perkebunan-perkebunan sawit itu. Dia mengirim karyawan baru untuk magang di perkebunan kelapa sawit tertua milik Sinar Mas di Padang Halapan, Sumatera Utara.

Amankan ITC saat kerusuhan 1998

Pada tahun 1992, Hariyanto ditarik ke Divisi Properti yang membawahi antara lain PT Duta Pertiwi dan berkantor di ITC Mangga Dua di lantai 8. Tugas utamanya adalah memajukan ITC Mangga Dua. Di Divisi Properti, Hariyanto menjabat Kepala Hubungan Masyarakat dan Hubungan Masalah atau Direktur General Affairs. Kalau ada masalah apa pun, Hariyanto yang menyelesaikannya. Ketika ditempatkan di divisi inilah Hariyanto berteman dengan banyak pihak.

Ketika terjadi kerusuhan Mei 1998, ITC Mangga Dua tidak tersentuh dan menjadi satu-satunya pusat perdagangan dan perbelanjaan yang tidak dijarah. Padahal, tetangga ITC, Harco Mangga Dua, menjadi korban penjarahan. Mengapa ITC Mangga Dua aman?

Lanjutkan membaca Johannes Hariyanto: Dulu “Sales” Sekarang Pemilik Pengembang TreePark Group

Berhenti “Ngantor”, Artha Capai Kebebasan Finansial Lewat Bisnis Properti


ROBERT ADHI KSP

YULIARTA Sianturi, Co-Founder, The Premium Property (konsultan dan pengembang properti) dan Direktur PT Bangun Multikreasi Selaras (perusahaan furnitur), pada awalnya arsitek di salah satu perusahaan pengembang terkemuka di Indonesia. Lulusan Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, ini menangani sejumlah proyek besar di Jakarta. Namun, pada suatu hari pada saat Artha-nama panggilannya-hamil tujuh bulan, suaminya, Bintang Sitompul, terbaring di rumah sakit selama hampir dua bulan karena sakit di bagian pencernaannya yang tak kunjung sembuh.

Dalam kondisi hamil anak keduanya, Artha setiap hari Senin sampai Sabtu naik kereta rel listrik dari Bintaro ke kantornya di kawasan Jakarta Kota. Dia juga harus memikirkan pengobatan suaminya yang sakit keras dan berpikir bagaimana melunasi biaya rumah sakit.

Pada saat itulah Artha berpikir ada yang salah dalam hidupnya. Selama ini dia sibuk mengejar karier untuk menjadi arsitek yang top. Karya-karya arsiteknya antara lain ITC Fatmawati Jakarta, Kota Bunga Cipanas, Four Season Plaza Batam, Wisma Eka Jiwa, Borobudur Intercontinental Hotel Jakarta, rumah mewah di Pantai Indah Kapuk, Cirendeu dan Pondok Indah Jakarta.

Yulia Sianturi

Dia menghadiri rapat-rapat penting agar proyek properti yang dikerjakan cepat selesai. Tetapi, ketika suaminya jatuh sakit, dia harus memilih, merawat suaminya yang tak kunjung sembuh atau tetap menghadiri rapat-rapat di kantor? Dia tak mungkin tidak masuk kantor setiap hari karena perusahaannya juga membutuhkan tenaga dan pikirannya. Namun, suaminya yang terbaring lemah lebih membutuhkan perhatiannya. Dia merasa Tuhan menegurnya.

Artha bertanya dalam hatinya, apakah ada cara lain di luar bekerja “9 to 5”? Artha belum punya role model yang bisa dicontoh dalam keluarga besarnya karena latar belakang keluarganya dan keluarga suaminya semua bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Ayahnya PNS di Kejaksaan, sedangkan ayah mertua PNS dan ibu mertuanya guru bahasa Indonesia. “Bapak dan ibu berpesan agar anak-anaknya menjadi PNS. Hanya saya yang menjadi arsitek di perusahaan swasta, tetapi belum ada yang bekerja di perusahaan swasta atau menjadi wirausaha,” ceritanya.

Lanjutkan membaca Berhenti “Ngantor”, Artha Capai Kebebasan Finansial Lewat Bisnis Properti

Sisca Soewitomo, Memasak dengan Cinta


ROBERT ADHI KSP

Ketika usianya masih lima tahun, Sis Cartica (66) atau akrab dipanggil Sisca sering membantu ibu dan neneknya membuat kue keju kering (kastengel), terutama menjelang Lebaran. Pengalaman dari dunia masak yang menyenangkan pada masa kecilnya itu membekas dalam hidupnya dan membuat perjalanan hidupnya penuh makna.

Pakar kuliner dan penulis buku masak, Sisca Soewitomo ketika bertamu ke kantor Bapak Jakob Oetama, Kamis 23 Julli 2015
Pakar kuliner dan penulis buku masak, Sisca Soewitomo ketika bertamu ke kantor Bapak Jakob Oetama, Kamis 23 Julli 2015

Semula, Sisca yang lahir di Surabaya, 8 April 1949, ini bercita-cita menjadi dokter. Setelah tamat dari SMA Negeri 4 Surabaya tahun 1968, dia sempat kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta. Namun, pada tahun kedua, Sisca menikah dengan Soewitomo Soeleiman dan dia memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah kedokteran.

Setelah menikah dan melahirkan anak pertamanya, Sisca melanjutkan kuliahnya agar dapat membantu ekonomi keluarga. Dia melanjutkan pendidikan ke Akademi Pariwisata Trisakti, Jakarta, dan lulus tahun 1976. Sejak 1977, Sisca menjadi asisten dosen di almamaternya kemudian menjadi dosen senior merangkap Kepala Bagian Humas, Kepala Bagian Pengabdian Masyarakat, dan Sekretaris Direktur Akademi (sampai 1991).

Jalan hidup Sisca memang bukan bergelut di ruang praktik ataupun di rumah sakit. Sisca justru asyik bergelut di dapur, di dunia masak-memasak. Sisca mendapatkan beasiswa di luar negeri, belajar di China Baking School di Taipei, Taiwan (1980), dan di American Institute of Baking di Kansas, Amerika Serikat (1983). Sejak itu, keahliannya dalam bidang kuliner makin mendalam.

”Saya sekarang menjadi ’dokter dapur’,” kata Sisca dalam percakapan dengan Kompas, Kamis (23/7), di Jakarta.

Sisca 270715

Lanjutkan membaca Sisca Soewitomo, Memasak dengan Cinta

Suksesi Raja Media Rupert Murdoch dan Tantangan Generasi Kedua


ROBERT ADHI KSP

Rupert Murdoch (84) berencana menyerahkan kendali perusahaan 21st Century Fox kepada putra-putranya. James Murdoch akan menjadi Chief Executive Officer, sedangkan Lachlan Murdoch akan berperan sebagai Co-Executive Chairman.

Ini merupakan bagian dari rencana suksesi jangka panjang Rupert Murdoch. Namun, belum jelas kapan perubahan kepemimpinan di perusahaan itu ditetapkan. “Masalah suksesi merupakan agenda pertemuan komisaris,” kata juru bicara Fox, Nathaniel Brown.

Rupert Murdoch 130615

Meskipun mundur, Rupert Murdoch tetap menjadi Executive Chairman. Dia diharapkan terus melakukan pengawasan strategis dan mempertahankan kendali utama perusahaannya. Keluarga Murdoch mengendalikan baik 21st Century Fox dan News Corporation secara efektif. Mereka juga menguasai sebagian kerajaan media Murdoch melalui kepemilikan hampir 40 persen saham di kedua perusahaan itu.

Usia Murdoch sudah 84 tahun, tetapi dia tidak sakit-sakitan. Dia masih muncul di kantornya dengan penuh energi. Banyak yang berharap Murdoch tetap datang ke kantor secara rutin. “Ini masih tetap menjadi perusahaan Murdoch sampai kapan pun,” kata Rich Greenfield, analis media BTIG Research.

Sebagai bagian dari reorganisasi, Chase Carey akan mundur dari perannya sebagai Chief Operating Officer di Fox dan bekerja sebagai penasihat perusahaan. Carey menjabat eksekutif tertinggi kedua di Fox sejak tahun 2009 dan dihormati di Wall Street Journal. Dia memainkan peran integral dalam rencana suksesi ini.

Menurut orang dekat keluarga Murdoch, James dan Lachland memiliki hubungan yang baik. James akan menjabat CEO, sedangkan Lachlan menduduki pos Chairman. Ini sesuai rencana sang ayah.

James dan Lachlan naik ke puncak Fox yang didirikan ayah mereka. Namun, industri media saat ini mengalami perubahan. Kakak-adik itu harus memandu dunia baru media yang lebih kompleks dengan teknologi distribusi dan periklanan digital pada tahun-tahun mendatang. Eksekutif media dan analis menggambarkan James sebagai eksekutif yang memiliki pengalaman mengoperasikan perusahaan media di berbagai negara, juga seorang yang lebih segar, lebih muda, dan memiliki perspektif dalam bisnis. Peran James mendorong ayahnya mengambil saham di Vice, perusahaan media muda, dan mengakuisisi TrueX, perusahaan teknologi periklanan (“Rupert Murdoch to Put Media Empire in Sons’ Hands”, The New York Times, 11 Juni 2015). James digambarkan sebagai “seorang lelaki yang sangat berbakat, dan akan menjadi pelayan yang jujur dan terhormat di perusahaan,” kata Leo Hindery Jr, mantan CEO Tele-Communications Inc yang bekerja sama dengan kerajaan Murdoch selama puluhan tahun dan kini managing partner InterMedia Partners.

Lanjutkan membaca Suksesi Raja Media Rupert Murdoch dan Tantangan Generasi Kedua

Jack Ma, Tak Pernah Juara di Sekolah, Kini Orang Terkaya di Tiongkok


ROBERT ADHI KSP

Jack Ma (50) tidak pernah menjadi juara di sekolah. Dia berulang kali mengalami penolakan. Dia pernah ditolak masuk universitas. Berulang kali pula dia melamar pekerjaan dan ditolak berbagai perusahaan. Tak seorang pun yakin dengan masa depan Jack Ma. Namun, lelaki kelahiran Hangzhou, Tiongkok ini tidak pernah menyerah.

Jack Ma, pendiri dan Pemimpin Alibaba.com, perusahaan e-dagang asal Tiongkok, menjadi orang terkaya di Tiongkok setelah penjualan saham perdana Alibaba di bursa Amerika Serikat mencatat rekor 25 miliar dollar AS pada September 2014. Dia menjadi orang Tiongkok daratan pertama yang masuk dalam daftar orang terkaya dunia versi majalah Forbes, dengan kekayaan bersih 25,5 miliar dollar AS (per Juni 2015).

Jack Ma

Jack Ma kini menjadi contoh inspirasi bagi banyak orang yang memulai e-dagang. Pelajaran yang dapat dipetik dari seorang Jack Ma adalah dia tumbuh dari kehidupan yang sangat miskin dan dia bukan seorang juara di sekolahnya. Dia pernah tiga kali gagal masuk ke universitas, namun terus mencobanya sampai berhasil.

Ketika akhirnya berhasil menikmati pendidikan tinggi, Jack Ma memastikan, dia juga menggunakan waktunya untuk bekerja praktik. Dia bekerja sebagai seorang pemandu wisata di Tiongkok. Dia belajar dari kerja keras dan interaksi dengan penduduk setempat serta wisatawan asing. Dia mulai mengembangkan pandangan pribadinya tentang kapitalisme dan kewirausahaan serta melihat web sebagai masa depan bisnis.

Richard Branson dalam situs Virgin.com menyatakan setuju dengan Jack Ma bahwa internet akan menciptakan, bukan menghancurkan, banyak pekerjaan dalam tahun-tahun mendatang. Salah satu tugas paling penting bagi kemanusiaan adalah memberi setiap orang di bumi ini kesempatan untuk terhubung secara online.

Terinspirasi oleh kisah-kisah Seribu Satu Malam, Jack Ma kemudian memutuskan menggunakan nama Alibaba untuk perusahaannya yang membuka pintu bagi usaha kecil dan menengah. “Suatu hari, saya di San Francisco dan saya berpikir Alibaba adalah nama yang baik. Alibaba membuka akses untuk perusahaan-perusahaan kecil dan menengah,” katanya. Filosofi Jack Ma semuanya tentang hubungan pribadi, juga bagaimana dia merekrut orang. “Jangan mempekerjakan orang yang paling berkualitas, tetapi carilah yang paling gila,” katanya tertawa. “Anda membutuhkan orang dengan ide-ide yang berbeda untuk membuat perusahaan ini hidup, bukan orang-orang yes men,” ujarnya.

Guru Bahasa Inggris

Ketika berbicara dalam acara makan siang pada Economic Club of New York, Selasa (9/6/2015), Jack Ma mengungkapkan, periode menjadi guru Bahasa Inggris menjadi masa terbaik dalam hidupnya. Setelah lulus dari perguruan tinggi tahun 1988, dia bekerja sebagai guru Bahasa Inggris di universitas di kota kelahirannya, Hangzhou. Dia hanya mendapatkan gaji 12 dollar AS sebulan, menurut program dokumenter tentang hidup Jack Ma berjudul Crocodile in the Yangtze. “Ketika tidak memiliki banyak uang, Anda tahu bagaimana menghabiskannya,” ucap Ma. “Uang 1 miliar dollar AS bukanlah uang Anda. Uang yang saya miliki hari ini adalah tanggung jawab. Itu merupakan kepercayaan orang terhadap saya,” katanya.

Ini bukan pertama kali Jack Ma berbicara tentang bebannya menjadi seorang miliarder. Ketika berbicara dalam sebuah panel di Clinton Global Initiative di New York, Ma melihat hari-harinya sebagai guru Bahasa Inggris sebagai pengalaman fantastis, menurut CNN Money. Dia mengatakan kepada setiap orang, “Dengan 1 juta dollar AS, Anda menjadi beruntung, tetapi ketika Anda memiliki 10 juta dollar AS, Anda mendapat masalah.”

Setelah penjualan saham perdana Alibaba, Jack Ma kepada CNBC mengatakan, tekanan datang dengan tanggung jawab pada dia, apalagi kini dunia berfokus pada nilai saham Alibaba. “Penjualan saham perdana besar karena saya senang dengan hasilnya. Tapi, ketika orang berpikir terlalu tinggi tentang Anda, Anda memiliki tanggung jawab untuk tenang dan menjadi diri sendiri,” katanya.

Lanjutkan membaca Jack Ma, Tak Pernah Juara di Sekolah, Kini Orang Terkaya di Tiongkok

Burhanuddin Maras, Tak Ragu Bercita-cita Tinggi


ROBERT ADHI KSP

Lahir sebagai anak polisi di pelosok desa di Lahat, Sumatera Selatan, justru mendorong Bur Maras (79) berjuang keras untuk kehidupan yang lebih baik. Ia bercita-cita bisa belajar di luar negeri, meski saat itu tak punya biaya. Itu sebabnya, ia terpacu untuk mendapatkan beasiswa. Kerja kerasnya rupanya sejalan dengan rencana Yang Maha Kuasa. Ia mendapatkan beasiswa pendidikan di ”college” di Jacksonville, Amerika Serikat

Ketika belajar di AS, untuk mencukupi biaya hidup di negeri orang, Bur bekerja sebagai pencuci piring di sebuah restoran. Namun, Bur yang bergelar Ratu Prabu Sira Alam Muda itu kini menjadi pengusaha minyak dan gas sukses, pemilik Ratu Prabu Energy Tbk. Ia juga pemilik Gedung Ratu Prabu 1 dan 2 di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Tahun ini, ia berencana membangun apartemen, hotel, serta gedung Ratu Prabu 3.

Ketika kuliah di Oklahoma State University, Bur mengikuti pendidikan militer, dan menjadi orang Indonesia pertama di kampus itu yang berpangkat letnan dua tentara AS. Namun, ketika akan terjun ke Perang Vietnam, Bur diancam pencabutan paspor oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di AS, dia pun memutuskan keluar dari militer.

Bur melanjutkan pendidikan di New Mexico Institute Mining Technology di Kota Socoro. Ketika itu, dia pun nyambi bekerja di pusat riset, dan bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran di kawasan wisata.

Sebelum tahun 1980, Bur makin sukses setelah perusahaan yang dia dirikan, PT Lekom Maras, mendapat proyek inspeksi las pipa di Laut Jawa, dan berkembang menjadi perusahaan terbesar di bidang non-destructive testing inspection di Indonesia.

Demikian juga ketika merintis perusahaan sendiri di Indonesia, Bur menghadapi banyak tantangan. Namun, dia berhasil melalui masa-masa sulit itu.

Kini pada usianya menjelang 79 tahun, Bur masih bersemangat, terutama ketika berdiskusi tentang Indonesia masa depan.

Bur Maras

Lanjutkan membaca Burhanuddin Maras, Tak Ragu Bercita-cita Tinggi