Arsip Kategori: Media Sosial

Benarkah Telegram Sarana Komunikasi Kelompok Teroris?


ROBERT ADHI KSP

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengumumkan pemblokiran aplikasi percakapan Telegram karena bermuatan konten negatif, di antaranya propaganda radikalisme, paham kebencian, ajakan merakit bom dan melakukan serangan teror. Sedikitnya ada 17.000 halaman mengandung terorisme dan radikalisme.

Kementerian Komunikasi dan Informatika meminta internet service provider (ISP) memutus akses sebelas domain name system (DNS) milik Telegram, yaitu t.metelegram.metelegram.orgcore.telegram.orgdesktop.telegram.org, venus.web.telegram.org, web.telegram.orgphoto.web.telegram.orgflora.web.telegram.org, dan flora-i.web.telegram.org.Pemblokiran ini menyebabkan layanan Telegram versi web tak bisa diakses lagi melalui komputer.

Rudiantara seperti diwartakan Harian Kompas, Sabtu 15 Juli 2017, sedang mempersiapkan proses penutupan aplikasi Telegram secara menyeluruh di Indonesia, jika Telegram tidak membuat prosedur standar operasi penanganan konten-konten yang melanggar hukum dan perundangundangan di Indonesia. Rudiantara menegaskan, pemblokiran ini langkah untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan bukan untuk memberangus kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia.

Awal Juli lalu, Telegram mengumumkan aplikasi percakapan itu mampu menampung 10.000 anggota, mampu mengirim pesan lebih cepat dibandingkan aplikasi serupa manapun dan dapat mengirim foto, video, dokumen berbagai jenis (doc, zip, mp3, dan sebagainya) sampai 1,5 GB. Jumlah pengguna aktif Telegram di seluruh dunia saat ini mencapai 100 juta, yang mengirim 15 miliar pesan setiap hari. Pengguna baru Telegram yang mendaftar setiap hari sekitar 350.000. Telegram dapat diakses dari perangkat apapun, mulai dari Android, iOS, WindowsPhone, sampai pada platform versi web, macOS, sampai PC, Mac, dan Linux. (Kompas.id, 3 Juli 2017).

 

Aplikasi Telegram

 

Digunakan kelompok teroris

Pertanyaannya, benarkah Telegram kini digunakan oleh kelompok militan untuk berkomunikasi?  Pada Mei 2017  The Huffington Post menulis, seiring langkah media sosial Facebook dan Twitter yang meningkatkan upaya untuk menutup akun-akun pro-NIIS, Telegram malah mengisi kekosongan tersebut. Sejak sekitar tahun 2015, para analis mengatakan terjadi eksodus kalangan ekstremis ke aplikasi dengan privasi dan kebebasan yang lebih baik.

“Kami telah melihat kecenderungan yang benderang atas berkembangnya penggunaan Telegram oleh hampir semua kelompok teroris di seluruh dunia,” kata Gabriel Weimaan, profesor di Universitas Haifa, Israel, dan penulis masalah-masalah ekstremisme di jagat maya.

Telegram kini sudah menjadi salah satu sarana utama kelompok militan NIIS menyebarkan informasi dan mempersatukan para pendukungnya.

Terlihat kecenderungan yang benderang atas berkembangnya penggunaan telegram oleh hampir semua kelompok teroris di seluruh dunia.

Beberapa jam setelah serangan teror mematikan di kota Manchester, Inggris Raya, terjadi serangkaian aktivitas di aplikasi favorit kelompok militan, sebuah layanan pesan terenskripsi yang disebut sebagai Telegram. Bahkan sebelum pihak berwenang menjelaskan ihwal serangan Manchester, para pendukung NIIS membanjiri saluran pribadi dan publik aplikasi tersebut dengan “pesan perayaan”. Telegram menjadi penghubung bagi propaganda NIIS dan sumber bagi kelompok militan itu untuk menyatakan bertanggung jawab.

 

Meningkatnya penggunaaan Telegram sebagai bagian dari strategi komunikasi NIIS dan kelompok teroris lainnya beberapa tahun ini telah menunjukkan bagaimana ekstremisme mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dalam menghadapi upaya pemerintah menutup kehadiran mereka di dunia maya. NIIS telah lama menggunakan platform media sosial untuk menyebarluaskan propaganda dan merekrut pengikut mereka.

Weimaan menjelaskan, umumnya kelompok teror awalnya mengadopsi platform-platform baru di dunia maya, yang dapat mereka eksploitasi. Telegram bekerja seperti WhatsApp (yang kini dimiliki Facebook), menggunakan enskripsi end-to-end untuk melindungi informasi bersama. Perusahaan yang mengoperasikan Telegram mengklaim memiliki lebih dari 100 juta pengguna, dan menawarkan fitur-fitur seperti menghapus sendiri pesan sampai menyediakan ruang privasi yang lebih besar. Para pengguna dapat berkomunikasi secara langsung dalam kelompok pribadi maupun melalui saluran (kanal).

Badan Keamanan Rusia FSB seperti dikutip BBC mengakui, Telegram telah digunakan pelaku bom bunuh diri di St Petersburg yang menewaskan 15 orang, April 2017 lalu.  Pemerintah Rusia mengancam memblokir aplikasi itu karena pemilik dan pengelola Telegram menolak mengizinkan pemerintah mengakses data pengguna.  Kelompok radikal di Perancis dan Timur Tengah juga menggunakan Telegram untuk berkomunikasi.

Aplikasi Telegram dimulai tahun 2013 sebagai sarana untuk menyediakan layanan pesan yang lebih aman. Penciptanya, Pavel Durov berkebangsaan Rusia menyebutkan, aplikasi ini untuk mencegah layanan keamanan Rusia mengakses komunikasi antarpengguna. Durov ini mirip Mark Zuckerbeg, pencipta Facebook.  Durov mulai menonjol pada 2006 setelah menciptakan VKontake, platform media sosial yang lebih populer di Rusia dibandingkan Facebook.

Ketika kebebasan berinternet di Rusia dibatasi dan Pavel Durov ditekan, Durov memutuskan kabur dari Rusia pada 2014 dan menjual sahamnya di perusahaan tersebut dengan nilai ratusan juta dollar AS. Durov kini warga negara St Kitts dan Nevis, negara kecil Kepulauan Karibia yang mendukung privasi online.

Dalam sejumlah wawancara, Durov membantah pendapat yang menyatakan penggunaan Telegram oleh ekstremis dan mengatakan sebagian penggunanya menggunakan aplikasi itu dengan alasan yang sah. Durov menolak permintaan untuk memberi akses bagi pejabat keamanan untuk melacak percakapan di aplikasi tersebut. Meskipun Telegram dimatikan, Durov yakin itu tidak akan menghentikan teroris untuk berkomunikasi satu sama lain.

Meski Durov menolak campur tangan pemerintah dan pembatasan kebebasan di jagat maya, sebenarnya Telegram sudah berupaya menutup 78 kanal pro-NIIS,  menyusul serangan Paris November 2015. Sejak itu, Telegram menutup ratusan kanal pro-NIIS lainnya.

Namun faktanya, Telegram memang gagal mencegah aktivitas kelompok pro-NIIS di aplikasi tersebut dibandingkan Twitter yang berhasil menutup lebih dari 360.000 akun yang mempromosikan terorisme sejak pertengahan 2015 silam.

Pada saat perusahaan media sosial tertinggal menangani masalah ekstremisme di jagat maya, kelompok teroris malah semakin piawai mengubah strategi komunikasi mereka. Teroris kini cepat belajar dan mampu beradaptasi dengan platform baru.

Pergeseran kelompok militan ke Telegram merupakan bagian dari gerakan NIIS menuju aplikasi dengan jaringan pribadi yang lebih luas. Weimaan menyebutkan, pada saat perusahaan media sosial tertinggal menangani masalah ekstremisme di jagat maya, kelompok teroris malah semakin piawai mengubah strategi komunikasi mereka. Teroris kini cepat belajar dan mampu beradaptasi dengan platform baru.

Bulan Juni 2017 lalu, 28 pemimpin Uni Eropa sepakat untuk menekan secara hukum raksasa-raksasa internet seperti Google, Twitter, dan Facebook untuk menghilangkan konten-konten yang diposting kelompok radikal secepatnya dan meminta mereka mendeteksi terorisme di jagat maya.

Melihat fakta-fakta ini, langkah Menteri Kominfo Rudiantara memblokir Telegram memang harus dilihat dari sisi positif, yaitu upaya pemerintah mencegah radikalisme berkembang di negeri ini dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan bukan memberangus kebebasan berekspresi.

SUMBER: KOLOM, KOMPAS.ID, SABTU 15 JULI 2017 

Iklan

Apa yang Diinginkan Microsoft Setelah Mengakuisisi LinkedIn?


ROBERT ADHI KSP

Microsoft hari Senin (13/6/2016) mengumumkan telah membeli secara tunai jejaring profesional LinkedIn dengan nilai 26,2 miliar dollar AS. Ini merupakan akuisisi terbesar bagi Microsoft sejak Satya Nadella menjabat CEO.

Setelah akuisisi ini, LinkedIn tetap mempertahankan brand dan produknya, tetapi akan menjadi bagian dari produktivitas dan segmen proses bisnis Microsoft. CEO LinkedIn Jeff Weiner akan melapor kepada Satya Nadella.

Didirikan 14 Desember 2002 oleh Reid Hoffman, Allen Blue, Konstantin Guericke, Eric Ly, dan Jean-Luc Vaillant, serta dirilis secara resmi pada 5 Mei 2003, LinkedIn kini memiliki 433 juta anggota dari 200 negara dan teritorial di seluruh dunia, sebagian besar para profesional. Sebanyak 60 persen anggota LinkedIn mengakses jejaring sosial itu dari ponsel cerdas mereka. Jumlah pencari kerja lewat LinkedIn meningkat dua kali lipat menjadi lebih dari 7 juta orang. Selama 13 tahun perjalanannya, LinkedIn mengakuisisi 16 perusahaan jejaring sosial dan aplikasi.

Apa sebenarnya yang diinginkan Microsoft setelah membeli LinkedIn? CEO Microsoft Satya Nadella mengumumkan, akuisisi ini menyatukan cloudterbesar di dunia dengan jejaring profesional terkemuka di dunia. “Saya telah mempelajari LinkedIn sambil merenungkan bagaimana jejaring dapat melakukan diferensiasi layanan cloud. Ini jelas bagi saya bahwa tim LinkedIn telah mengembangkan bisnis fantastis dengan membangun jejaring secara mengesankan, dengan memiliki lebih dari ratusan juta profesional di seluruh dunia,” kata Nadella. Microsoft berharap LinkedIn menjadi pusat profil profesional yang muncul dalam aplikasi, seperti Outlook, Skype, Office, bahkan Windows. Feed berita masuk ke dalam aliran data, yang akan menghubungkan para profesional satu sama lain melalui aktivitas rapat, catatan, dan surat elektronik.

 

Satya Nadella bahkan memberi contoh Cortana, aplikasi asisten pribadi cerdas yang dikembangkan Microsoft, terhubung dengan LinkedIn untuk menyediakan konteks orang yang mungkin dapat diajak bertemu secara profesional. Sangat jelas bahwa Microsoft melihat LinkedIn sebagai bagian penting yang membuat Cortana lebih cerdas.

Lanjutkan membaca Apa yang Diinginkan Microsoft Setelah Mengakuisisi LinkedIn?

Pengguna Instagram Kini 400 Juta


ROBERT ADHI KSP

Jejaring sosial Instagram di mana para penggunanya bisa berbagi foto dan video kini mencapai milestone baru: mencapai 400 juta pengguna aktif. Pengumuman ini disampaikan dalam blog Instagram, Selasa (22/9) sore waktu Amerika Serikat, atau 10 bulan setelah Instagram mencapai angka 300 juta pengguna aktif.

Pengguna aktif Instagram sudah melampaui jejaring sosial Twitter yang saat ini memiliki 316 juta pengguna aktif setiap bulan dan juga jejaring sosial Pinterest yang baru saja mencapai angka 100 juta pengguna.

Instagram

Pertumbuhan Instagram memang sangat cepat. Ketika Instagram yang diciptakan Kevin Systrom dan Mike Krieger diluncurkan Oktober 2010 atau hampir lima tahun yang lalu, angka 400 juta tampak seperti mimpi yang sangat jauh dicapai.

Pada Desember 2010 atau tiga bulan setelah dirilis, jumlah pengguna Instagram tercatat satu juta. Pada 27 Februari 2013, dua setengah tahun setelah diluncurkan, Instagram mengumumkan jumlah pengguna aktifnya 100 juta. Jumlah ini terus meningkat. Pada 9 September 2013, Instagram mengumumkan jumlah pengguna aktifnya 150 juta. Pada Desember 2014, jumlah pengguna naik dua kali lipat menjadi 300 juta.

Diakuisisi Facebook
Instagram diakuisisi Facebook pada April 2012 dengan nilai 1 miliar dollar AS dalam uang tunai dan saham. Pada 2013, Instagram tumbuh 23 persen, sementara perusahaan induknya, Facebook, hanya tumbuh 3 persen.

Lanjutkan membaca Pengguna Instagram Kini 400 Juta

Ketika Netizen Melaporkan Terbakarnya Gedung di Manhattan


ROBERT ADHI KSP

Peristiwa terbakarnya sebuah gedung di kawasan East Village, Manhattan, New York, Amerika Serikat, mendapat perhatian dari netizen. Terbakarnya gedung yang terjadi pada Kamis (26/3) pukul 15.17 waktu setempat atau Jumat (27/3) dini hari WIB itu diawali dari ledakan.

Wali Kota New York Bill de Blasio mengatakan, ledakan di gedung itu berkaitan dengan gas. Penyebab ledakan masih dalam penyelidikan. Empat orang dilaporkan dalam kondisi kritis dan belasan orang lainnya luka-luka. Gedung yang berfungsi sebagai tempat komersial dan tempat tinggal itu berlokasi antara Second Avenue dan Seventh Street.

Para pengguna media sosial Twitter dan Facebook yang berada di dekat lokasi kejadian ramai-ramai mengunggah foto dan video peristiwa itu.

Seorang penulis asal Sydney, Australia, yang sedang berada di sekitar lokasi menulis di Twitter-nya, @ScottWesterfeld, “Ledakan keras di sudut 7th Street dan 2nd Ave. Polisi berdatangan di sini.” Scott mengunggah beberapa laporan lagi dan mengumumkan siapa saja boleh menggunakan fotonya asalkan memberi kredit namanya.

“Saya baru mendengar suara keras. Banyak warga membantu mereka yang berlarian keluar dari gedung yang terbakar. Second Avenue ditutup untuk lalu lintas dari 9th Street ke Houston. Pengendalian massa masih terjadi. Tak satu pejalan kaki pun diizinkan masuk dari 9th Street ke 7th Street,” lapor penulis novel itu dalam Twitter-nya.

Pasukan penjinak bom New York Police Department (NYPD) berada di lokasi. Scott menulis pendapatnya, “Saya tidak berpikir ledakan ini aksi terorisme.”

Lanjutkan membaca Ketika Netizen Melaporkan Terbakarnya Gedung di Manhattan

Akun Media Sosial Para Menteri Kabinet Kerja


Akun Menteri Kabinet Kerja

ROBERT ADHI KSP

ADA yang menarik dari para menteri di Kabinet Kerja pemerintahan Presiden Joko Widodo. Sebagian besar para menteri memiliki akun Twitter dan Facebook. Mereka memanfaatkannya sebagai alat untuk berkomunikasi dengan rakyat. Namun, tidak semua akun menteri diperbarui. Jika menteri tidak bisa dihubungi lewat akun media sosial, perlu dicari cara yang pas untuk menyerap suara rakyat.

Beberapa menteri langsung membuat akun, tetapi sebagian lainnya sejak sebelum menjabat menteri sudah memiliki akun-akun media sosial.

Menteri Agraria dan Tata Ruang merangkap Kepala Badan Pertanahan Nasional Ferry Mursyidan Baldan, misalnya, memiliki akun Twitter @ferrymbaldan sejak Maret 2009 dengan 52.700 pengikut. Sebelum menjabat menteri, Ferry cukup aktif ngetwit, terutama yang berkaitan dengan klub sepak bola favoritnya, Manchester United.

Lalu, bagaimana dengan kicauan yang berkaitan dengan tugasnya sebagai menteri? Ferry tetap tanggap menjawab pertanyaan seputar intimidasi yang dilakukan pegawai BPN di Jawa Barat. ”Di mana dan kapan, tegur saja,” kata alumnus FISIP Universitas Padjadjaran, Bandung, itu dalam kicauannya pada 31 Oktober.

Ferry mengajak semua pihak membantunya agar institusi kementeriannya bisa menjadi lebih baik dengan memberi informasi, kritik, dan masukan melalui akun Twitter resmi @atr_bpn.

Demikian juga Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang memiliki akun Twitter @LukmanSaifuddin. Lukman termasuk aktif berkicau di Twitter, termasuk menjawab pertanyaan dan komentar para pengikutnya yang masuk ke lini masa Twitter. Bahkan, pertanyaan kocak @kikipramitha, ”Pak, boleh gak kalo pasfoto di buku nikah pake foto gaya? Terlalu formal mah kayak di ijazah.” Lukman menjawab, ”Ide menarik nih.”

Menteri lain yang aktif ngetwit adalah Yuddy Chrisnandi @YuddyChrisnandi. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara ini pada 28 Oktober ngetwit dia menjadi inspektur upacara Sumpah Pemuda di Kemenpan. ”Saya menggunakan baju Korpri, yang sudah tak pernah dipakai sejak 20 tahun lalu saat kerja di BBD,” ungkapnya.

Pada 29 Oktober, Yuddy berkicau, ”Kepada teman-teman, terima kasih atas sarannya terkait Kemenpan. Staf kementerian akan follow-up. Jangan ragu memberikan saran dan kritik.”

Lanjutkan membaca Akun Media Sosial Para Menteri Kabinet Kerja

Komunikasi Pemimpin Negara di Media Sosial


Komunikasi Pemimpin Negara di Media Sosial

ROBERT ADHI KSP

Di era digital, cukup banyak kepala negara dan kepala pemerintahan di sejumlah negara memanfaatkan media sosial sebagai salah satu alat komunikasi. Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, misalnya, memanfaatkan Facebook, Twitter, dan Youtube sebagai salah satu cara untuk menyampaikan pendapat tentang isu-isu terkini.

Sebelum media sosial populer, para pemimpin negara lebih sering memanfaatkan televisi dan radio. Namun, kini media sosial menyediakan semuanya, tidak hanya dalam bentuk teks, tetapi juga dalam bentuk foto dan video. Ini lompatan jauh dunia komunikasi sesuai zamannya.

Presiden Yudhoyono sedang berada di luar negeri ketika Undang-Undang tentang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) disahkan DPR melalui voting. Menanggapi banyaknya kritik rakyat pengguna media sosial yang membuat hashtag #ShameOnYouSBY dan #ShamedByYou di Twitter, Yudhoyono kemudian menjelaskan melalui Youtube tentang sikapnya terhadap UU Pilkada.

Dalam video selama 15 menit 24 detik yang diunggah ketika masih dalam perjalanan ke luar negeri, Presiden Yudhoyono menegaskan sikapnya untuk memastikan hak pilih rakyat tidak dihilangkan dengan mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang. Sikap serupa ia sampaikan melalui Facebook dan Twitter.

Pelanggan video Yudhoyono di Youtube sampai awal Oktober 2014 tercatat 8.267. Komentar Yudhoyono di video ini dikutip oleh media-media mainstream, termasuk media online. Yudhoyono juga memiliki akun resmi Twitter dengan jumlah pengikut (follower) sebanyak 5,62 juta. Fan page Presiden Yudhoyono yang dikelola staf khusus presiden di-”like” 3.657.118. Jika SBY sendiri yang mem-posting pendapat-pendapatnya, di belakangnya tertera *SBY*.

Yudhoyono sebenarnya belum lama membuat akun-akun media sosial tersebut. Namun, popularitas media sosial di Indonesia yang sangat tinggi tampaknya membuat Yudhoyono harus berkomunikasi dengan rakyatnya yang sebagian besar pengguna media sosial.

Yang menarik, ketika ribuan orang mem-bully Yudhoyono di Twitter terkait UU Pilkada, Presiden tidak menunjukkan reaksi negatif. Bahkan, terkesan dia menerima hal itu sebagai konsekuensi atas aktifnya dia sebagai pengguna media sosial. Selain mengemukakan pendapat merupakan bagian dari proses demokrasi, SBY tampaknya juga memahami sifat media sosial yang spontan dan langsung.

Obama dan lain-lain
Tidak hanya Presiden Yudhoyono yang memiliki akun-akun media sosial. Presiden Amerika Serikat Barack Obama sudah memilikinya sejak awal, bahkan ketika media-media sosial yang diciptakan orang-orang Amerika Serikat itu baru mulai dirilis kali pertama. Pelanggan Youtube Barack Obama sampai awal Oktober ini tercatat 536.361, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Youtube Yudhoyono. Pengikut akun Twitter Barack Obama tercatat 47,7 juta dan jumlah yang me-like fan page Obama tercatat 42.940.006.

Obama memanfaatkan betul media sosial untuk alat komunikasi dengan rakyat Amerika Serikat. Jumlah yang me-like satu posting Obama bisa mencapai ratusan ribu orang. Topiknya macam-macam, dari isu lapangan kerja, kenaikan upah, kesehatan, pendidikan, sampai masalah perubahan iklim. Obama juga memberi ruang bagi rakyatnya untuk berkomentar. Pedas atau manis, itulah esensi demokrasi.

Lanjutkan membaca Komunikasi Pemimpin Negara di Media Sosial

Writing is the Painting of the Voice

%d blogger menyukai ini: