Arsip Kategori: Pembangunan Daerah

Serpong, dari Hutan Menjadi Kota Baru


ROBERT ADHI KSP
Sebelum tahun 1989, Serpong hanya semak belukar dan hamparan hutan karet yang tidak produktif lagi. Nama Serpong disebut jika ada peringatan Pertempuran Lengkong setiap Januari dan pada saat Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) diresmikan tahun 1984.

Tahun 1986, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Jawa Barat (saat itu) Dr Ateng Syafrudin menyatakan, Serpong akan dikembangkan menjadi kawasan permukiman dan kota baru untuk menyangga beban Jakarta yang makin padat. Untuk itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat membentuk konsorsium real estat yang diketuai Menteri Negara Urusan Perumahan Rakyat

Sebelas real estat yang bergabung dalam Bumi Serpong Damai membuat perencanaan bersama mengembangkan 6.000 hektar tanah menjadi permukiman baru, juga mengatasi masalah tak tersambungnya perencanaan antarpengembang dalam pembangunan jalan dan drainase.

Serpong sebelum 1989 merupakan hamparan hutan karet yang sangat luas. Kebun karet seluas 1.131 hektar yang tak produktif lagi milik PTP XI di wilayah ini lalu “dikorbankan” demi pembangunan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai (BSD). Selain itu, semak belukar yang tak produktif di Kecamatan Serpong dan Legok, Kabupaten Tangerang, juga akan digunakan untuk kepentingan kota baru Serpong.

Pembangunan Bumi Serpong Damai dilakukan konsorsium PT BSD terdiri atas 11 perusahaan swasta dengan investasi Rp 3,2 triliun. PT BSD didirikan pada 16 Januari 1984 oleh konsorsium yang terdiri atas beberapa perusahaan yang tergabung dalam kelompok usaha Sinar Mas, Salim, Metropolitan, dan Pembangunan Jaya.

Pada 16 Januari 1989, Menteri Dalam Negeri Rudini meresmikan dimulainya pembangunan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai. Saat itu Direksi PT BSD Eric Samola SH mengungkapkan, Kota Mandiri Bumi Serpong Damai dibangun di atas areal 6.000 hektar dengan fasilitas lengkap dan memenuhi kebutuhan warganya. Pada tahap pertama (1989-1996), dibangun 29.565 rumah terdiri dari 15.000 rumah kecil, 11.000 rumah menengah, dan sisanya rumah besar.

Perumahan pertama yang diresmikan awalnya rumah-rumah yang dibangun di Sektor 1 atau Griya Loka di Kelurahan Rawabuntu, Serpong. Rumah-rumah itu rumah tipe BTN dengan tipe paling kecil 21/60 seharga Rp 4,9 juta. Tipe di atasnya 27/90, tipe 36/120, dan tipe 45/145.

Saat itu banyak konsumen membatalkan pembelian karena tak percaya promosi BSD sebagai Kota Mandiri setelah melihat lokasi rumah yang dianggap “jauh ke mana-mana”.
Warga yang akan ke bank pada awal BSD dibangun harus ke Kota Tangerang yang jaraknya 18 kilometer dari BSD.

Pada tahun itu, hanya ada satu jalan tol, yaitu Tol Kebon Jeruk- Merak yang menghubungkan BSD melalui Jalan Raya Serpong ke kawasan barat Jakarta. Juga ada satu jalur kereta dan stasiun- stasiun kecil. Akses utama lainnya menghubungkan BSD dengan kawasan selatan Jakarta melalui Lebak Bulus, Pondok Cabe, Pamulang, Serpong. Jalan Raya Serpong masih dua jalur dan sangat sepi.

“Waktu tempuh dari BSD ke pintu tol di Kebon Nanas yang berjarak 8 kilometer hanya 5-10 menit. Di atas pukul 17.00, hanya satu-dua kendaraan melintasi Jalan Raya Serpong,” ujar Dhony Rahajoe, warga Serpong, yang juga Managing Director President Office Sinar Mas Land.

Setelah krisis moneter 1998, Sinar Mas membeli saham-saham lainnya dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan menjadi pemilik mayoritas. Setelah itu, PT BSD menjadi perusahaan Tbk dan hingga saat ini sebagian sahamnya dimiliki masyarakat.

Saat ini, ada dua akses jalan tol, selain Tol Jakarta-Merak, juga Tol BSD-Ulujami-Lingkar Luar (JORR) yang menghubungkan BSD dengan sejumlah kawasan di Jakarta. Jalur kereta saat ini sudah jalur ganda dengan kondisi stasiun (Rawabuntu dan Serpong) yang sudah lebih baik. Jalan-jalan penghubung antara BSD dan Jakarta hidup 24 jam. Lalu lintas KRL Commuterline meningkat pesat. Saat ini akses di BSD sudah saling terkoneksi dilengkapi pedestrian dan halte- halte transportasi publik. Sinar Mas Land membangun stasiun intermoda di Cisauk.

Pada 1988-1990, jika warga mencari makanan, biasanya ke restoran padang atau warteg di pinggir Jalan Raya Serpong juga di pelosok kampung.

Saat ini, Serpong jadi “surga” makanan, mulai dari makanan kaki lima sampai “bintang lima”.
Kawasan BSD Green Office Park tahun 2017. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Lanjutkan membaca Serpong, dari Hutan Menjadi Kota Baru

Iklan

Pekan Raya Indonesia Bakal Gerakkan Ekonomi


ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Pekan Raya Indonesia atau PRI, pameran multiproduk berskala besar, akan digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten, 20 Oktober-10 November 2016 mendatang. Pameran yang mengintegrasikan konsep belanja, hiburan, rekreasi, edukasi, serta menggabungkan beragam produk nasional dan internasional ini merupakan yang pertama di Indonesia.

20160125ksp ICE-1.jpg
Indonesia Convention Exhibition (ICE) berlokasi di kawasan BSD City, Tangerang, Banten

Menurut Ketua Umum Pekan Raya Indonesia Irwan Oetama, kegiatan PRI akan meningkatkan pendapatan daerah. Dia berharap PRI memberi banyak manfaat bagi banyak orang, menghasilkan efek domino yang positif, yang mampu menggerakkan dan menggairahkan perekonomian Indonesia. Pekan Raya Indonesia, kata Ketua Harian PRI E Ernawan, berusaha mendorong tumbuhnya perekonomian nasional melalui industri MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition) di Indonesia.

Lanjutkan membaca Pekan Raya Indonesia Bakal Gerakkan Ekonomi

Saatnya Sejahterakan Rakyat di Daerah


ROBERT ADHI KSP

Pemerintah akan membangun jalan trans dan jalur kereta api di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Inilah janji Presiden Joko Widodo yang akan memprioritaskan percepatan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di daerah di luar Jawa.

Presiden menyampaikan hal ini dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Regional Wilayah Kalimantan di Tarakan yang dihadiri gubernur, bupati, dan wali kota se-Kalimantan, Senin (15/12) malam. Pembangunan infrastruktur transportasi itu membutuhkan banyak dana, tetapi Joko Widodo berjanji mencarikan dana dari APBN, swasta, ataupun kombinasi APBN dan swasta.

Sudut KSP 16 12 2014Kita garis bawahi janji Joko Widodo ini. Sudah sejak lama, masyarakat di luar Jawa berharap daerah mereka disentuh pembangunan. Wilayah Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke memang sangat luas dan menyimpan banyak potensi. Namun, persoalan utama yang dihadapi banyak daerah adalah infrastruktur transportasi.

Global Competitiveness Report 2013-2014 menyebutkan, infrastruktur Indonesia berada di peringkat ke-61 dari 144 negara. Indonesia di bawah Thailand di posisi ke-47 dan Malaysia di peringkat ke-29.

Selama 69 tahun Indonesia merdeka, panjang jalan di Indonesia yang sudah dibangun, menurut data Biro Pusat Statistik (1987-2013), adalah 508.000 kilometer, terdiri dari 287.926 km jalan beraspal dan 220.074 km jalan tidak beraspal. Sungguh belum sebanding dengan luas daratan Indonesia 1,9 juta kilometer. Panjang tol di Indonesia sejak 1978 ketika Tol Jagorawi dioperasikan hingga 2014 tercatat 918 kilometer. Bandingkan dengan panjang tol di negeri tetangga, Malaysia, yang memiliki tol sepanjang 3.000 kilometer.

Saat ini, wilayah-wilayah di luar Jawa membutuhkan akses transportasi yang memadai dan saling terhubungkan. Dengan demikian, akan makin banyak daerah yang selama ini menyimpan potensi sumber daya alam dan pariwisata tapi terisolasi akan mudah diakses. Pada gilirannya, ekonomi daerah akan bergerak dan rakyat di daerah akan menikmati hasilnya.

Berapa banyak daerah di Indonesia yang memiliki potensi pariwisata? Dari Sabang sampai Merauke, semuanya menyimpan potensi pariwisata yang eksotis. Sayangnya, belum ada akses transportasi yang memadai ke daerah-daerah tersebut. Bayangkan jika infrastruktur jalan trans dan rel kereta api menghubungkan daerah-daerah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Pembangunan akan bergerak cepat. Rakyat setempat diharapkan menikmati ”kue” pembangunan.

Tentu bukan hanya sektor pariwisata yang bisa dikembangkan. Banyak daerah di luar Jawa yang menyimpan kekayaan sumber daya alam. Untuk memasarkannya dibutuhkan akses transportasi yang cepat dan mudah. Karena itu, tak ada jalan lain, pembangunan infrastruktur transportasi seperti yang dijanjikan Joko Widodo harus didukung penuh! Sudah saatnya pemerintah membangun daerah-daerah di luar Jawa dengan serius dan menyejahterakan rakyat di daerah.

robert.adhiksp@kompas.com

SUMBER: SUDUT PANDANG, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SELASA 16 DESEMBER 2014