Arsip Kategori: Hubungan Antarnegara

Raja Arab Saudi Faisal Bertamu ke Indonesia pada Juni 1970


Kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz al-Saud ke Indonesia pada 1-9 Maret 2017 menarik perhatian khalayak. Ini merupakan kali kedua Raja Arab Saudi berkunjung ke Indonesia. Sebelumnya, pada 10-12 Juni 1970 atau 47 tahun yang lalu, Raja Arab Saudi Faisal bin Abdul Aziz pernah melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia.

 

11-06-1970-raja-arab
Berita Harian “Kompas” Kamis 11 Juni 1970 berjudul “Raja Faisal Tiba di Jakarta”

 

Harian Kompas, Senin, 8 Juni 1970, mengabarkan, Raja Faisal kelahiran Riyadh yang berusia 65 tahun itu juga menjabat menteri luar negeri. Faisal diangkat ayahnya, Raja Arab (saat itu) Abdul Aziz, pada 1929 ketika mengubah direktorat urusan luar negeri menjadi kementerian luar negeri. Beberapa kali Faisal memimpin misi ke luar negeri, menghadiri konferensi dan pertemuan internasional. Faisal ke Bahrain dan kota-kota di Eropa sebagai Utusan Raja Abdul Azis. Faisal ikut dalam proses pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan menandatangani pernyataan bersama untuk membentuk PBB di San Francisco (Amerika Serikat) pada 1945, serta hadir dalam sidang yang membahas rencana Piagam PBB.

Faisal mengunjungi AS pada 1937 atas undangan Presiden AS Franklin Delano Roosevelt, menghadiri Konferensi Menteri-menteri Luar Negeri Negara-negara Arab yang diselenggarakan di Kairo, Mesir.

Kunjungan Raja Arab Faisal ke Indonesia pada Juni 1970 untuk memperat hubungan persahabatan kedua negara. Menteri Luar Negeri Indonesia Adam Malik, seperti dikutip harian Kompas, Rabu, 10 Juni 1970, mengatakan, Raja Faisal membicarakan masalah Arab-Israel, hubungan ekonomi-perdagangan Indonesia-Arab Saudi, dan masalah haji. Menurut Adam Malik, kunjungan Raja Faisal tidak dapat dipisahkan dari hasil Konferensi Islam di Jeddah sebelumnya.

Lanjutkan membaca Raja Arab Saudi Faisal Bertamu ke Indonesia pada Juni 1970

Iklan

Presiden Taiwan dan Tiongkok Bertemu, Mungkinkah Hubungan Kedua Negara Masuki Babak Baru?


ROBERT ADHI KSP

Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Taiwan Ma Ying Jeou akan bertemu hari Sabtu (7/11) di Singapura. Pertemuan tingkat tinggi kedua pemimpin negara itu merupakan yang pertama sejak perang saudara Tiongkok berakhir tahun 1949.

Sejak pasukan Partai Nasionalis (Kuomintang) pimpinan Chiang Kai Sek melarikan diri ke Taiwan setelah kalah dalam perang saudara dan Revolusi Komunis Tiongkok 1949 membagi Tiongkok menjadi dua negara, pemimpin Tiongkok dan Taiwan belum pernah bertemu.

screenshot-print.kompas.com 2015-11-06 07-03-10

Kini setelah 66 tahun berlalu, kedua pemimpin, Xi Jinping dan Ma Ying Jeou, akan bertukar pikiran bagaimana meningkatkan hubungan kedua negara. Namun, menurut juru bicara Kepresidenan Taiwan, Charles Chen, dalam pertemuan nanti, belum ada perjanjian yang akan disepakati.

Kantor berita Pemerintah Tiongkok, Xinhua, mengonfirmasi bahwa pertemuan kedua pemimpin akan berlangsung di Singapura akhir pekan ini. “Status dan titel pemimpin kedua negara akan disepakati oleh kedua pihak,” demikian Xinhua mengutip Kepala Kantor Urusan Taiwan pada Pemerintah Tiongkok Zhang Zhijun. Menurut Zhang, kedua pemimpin akan bertukar pandangan mengenai mempromosikan pengembangan hubungan yang damai di lintas Selat Taiwan.

Meski hubungan antara Tiongkok dan Taiwan meningkat dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Tiongkok menegaskan berulang kali bahwa Taiwan adalah sebuah provinsi yang memisahkan diri dan untuk itu reunifikasi merupakan jalan yang tak bisa dihindari, kalau perlu dengan kekerasan. Banyak orang Taiwan waspada dengan niat Tiongkok tersebut.

Sejak menjabat presiden tahun 2008, Ma telah meningkatkan hubungan ekonomi dengan Tiongkok melalui kebijakan kuncinya. Ma telah menandatangani serangkaian kesepakatan pariwisata dan bisnis meski belum ada kemajuan yang dapat menyelesaikan perbedaan politik mereka.

Menjelang pilpres Taiwan

Pertemuan bersejarah itu dilaksanakan pada masa yang sensitif di Taiwan, di mana pemilihan presiden dan legislatif baru akan digelar pada 16 Januari 2016. Pemilihan itu digelar di tengah meningkatnya sentimen anti-Tiongkok, terutama di kalangan kaum muda Taiwan yang tidak percaya dengan keuntungan yang diperoleh Taiwan dari hubungan ekonomi yang lebih dekat dengan tetangganya.

Lanjutkan membaca Presiden Taiwan dan Tiongkok Bertemu, Mungkinkah Hubungan Kedua Negara Masuki Babak Baru?

Makna Kunjungan Historis Paus Fransiskus ke Kuba dan AS


ROBERT ADHI KSP

Paus Fransiskus (78) melakukan kunjungan historis ke Kuba, Minggu (20/9), bertemu dengan Presiden Kuba Raul Castro (84) dan mantan penguasa Kuba, Fidel Castro (89). Paus Fransiskus merupakan tokoh penting di balik mencairnya hubungan Kuba dan Amerika Serikat yang membeku selama lebih dari 50 tahun. Berkat diplomasi yang dilakukan pemimpin 1,3 miliar umat Katolik sedunia itulah, kini bendera Kuba berkibar di Washington dan sebaliknya bendera AS berkibar di Havana.

Paus Fransiskus juga akan berkunjung ke Amerika Serikat pada Selasa (22/9) sampai Minggu (27/9), bertemu dengan Presiden Barack Obama di Gedung Putih, Washington DC. Paus Fransiskus akan disambut Obama dengan suka cita karena besarnya peranan Vatikan menormalisasi hubungan Washington-Havana. Paus Fransiskus juga akan berbicara di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York, serta menggelar berbagai acara di Philadelphia.

Kunjungan Historis Paus

Ketika mengunjungi Fidel Castro di rumahnya di Havana, pada Minggu seusai menggelar misa, Paus membawa dua buku yang ditulis teolog Italia, dan satu buku lainnya yang ditulis mantan guru Fidel. Sedangkan Fidel menghadiahi Paus sebuah  buku berjudul “Fidel and Religion” yang ditulis imam asal Brasil dan aktivis Frei Betto. Dari rumah Fidel, Paus mengadakan pertemuan khusus dengan Presiden Raul Castro di Palace of the Revolution, Havana. (“Pope meets with Fidel Castro, urges Cubans to ‘serve people,’ not ideas”,Washington Post, 20 September 2015).

Paus Fransiskus kemudian mengunjungi Katedral Havana, bertemu dengan para biarawati, imam, uskup, dan seminaris. Paus Fransiskus mengingatkan kembali agar mereka merangkul kaum miskin dan papa. “Di sanalah tempat kalian akan bertemu dengan Yesus,” kata pemimpin gereja Katolik sedunia itu.

Di luar Katedral Havana, Paus Fransiskus menyampaikan khotbahnya di depan kerumunan kaum muda Kuba. Paus meminta kaum muda untuk memiliki impian dan menolak godaan hidup, juga menghormati mereka yang memiliki pandangan hidup yang berbeda. “Sungguh seorang Paus yang keren,” teriak beberapa orang muda di tengah kerumunan setelah mendengar khotbah Paus.

Lanjutkan membaca Makna Kunjungan Historis Paus Fransiskus ke Kuba dan AS

Diplomasi Selfie PM India Narendra Modi dan Para Pemimpin Negara


ROBERT ADHI KSP

Sebuah foto bermakna seribu kata. Perdana Menteri India Narendra Modi tampaknya meyakini betul makna kalimat bijak itu. Foto selfie Modi bersama Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang pada pertengahan Mei 2015 menjadi selfie paling berpengaruh dalam sejarah. Diplomasi selfie yang dilakukan Modi dalam setiap kunjungannya ke luar negeri memberi makna tersendiri bagi kepemimpinannya.

Modi berhasil mengambil hati rakyat Tiongkok ketika dia sengaja membuat akun mikroblog Weibo (mirip Twitter, tetapi khusus Tiongkok). Begitu selfieModi bersama Li diunggah ke akun Weibo, jumlah pengikut (follower) Modi di Weibo melesat dalam waktu singkat menjadi 16,5 juta. Foto selfie kedua pemimpin negara itu dilihat oleh 31,85 juta orang.

Narendra Modi

Banyak pengguna Weibo mengomentari foto selfie dua perdana menteri itu. ”Cute premier!” tulis mereka. Banyak pula yang meminta Modi tetap mengunggah di mikroblog Weibo pasca kunjungannya ke Tiongkok. Sebagian lagi mempertanyakan mengapa para pemimpin Tiongkok tidak hadir di media sosial. ”Apakah tidak lebih baik PM Li memiliki akun Weibo sendiri? Agar kami dapat berkomunikasi dengan dia langsung,” tulis seorang pengguna Weibo, seperti dikutip The Times of India.

Di Tiongkok, para pemimpin negeri itu memang masih jarang aktif bermain di media sosial. Membahas kehidupan pribadi para politisi di Tiongkok masih dianggap tabu. Data pribadi mereka masih menjadi rahasia negara. Selama kunjungan tiga hari di Tiongkok, Modi mengunjungi kota Xian, Beijing, dan Shanghai, melakukan pembicaraan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping, PM Li Keqiang, dan pejabat lainnya. Pemimpin India itu memperkuat hubungan ekonomi dengan Tiongkok, serta membahas masalah perbatasan kedua negara. Dari Tiongkok, Modi bertemu dengan Presiden Mongolia Tsakhiagiin Elbegdorj, Minggu (17/5), dan keduanya juga ber-selfie. Narendra Modi memang dikenal aktif dalam media sosial. Jumlah pengikutnya di media sosial Twitter tercatat 12,4 juta. Adapun jumlah orang yang like Facebook-nya tercatat 28,4 juta. Jumlah pengikutnya di Instagram tercatat 477.000 (sampai 20 Mei 2015).

Lanjutkan membaca Diplomasi Selfie PM India Narendra Modi dan Para Pemimpin Negara

Diplomasi Paus Fransiskus, dari Cairkan Kebekuan AS-Kuba sampai Akui Negara Palestina


ROBERT ADHI KSP

Sejak terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik dan pemimpin 1,2 miliar penganut Katolik di seluruh dunia, Maret 2013 silam, Paus Fransiskus (78) aktif memainkan diplomasi internasional. Tahun lalu, Paus membantu mencairkan hubungan Kuba dan Amerika Serikat yang sudah bermusuhan selama lebih dari setengah abad. Rabu (13/5) lalu, Vatikan menyatakan mengakui negara Palestina secara de facto.

Simbol Vatikan mengakui negara Palestina dilambangkan pula dengan kanonisasi dua biarawati Palestina, yaitu Suster Mariam Bawardy dan Marie-Alphonsine Danil Ghattas. Keduanya hidup pada abad ke-19 dan menjadi orang suci pertama dari Palestina. Mereka adalah dua dari empat biarawati yang dikanonisasi Paus Fransiskus dalam upacara seremonial di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, yang dihadiri Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan delegasi dari Israel serta 2.000 peziarah dari sejumlah negara. Dalam upacara itu, Paus melukiskan Mahmoud Abbas sebagai ”malaikat perdamaian”.

Diplomasi Paus Fransiskus

April 2015, Paus Fransiskus mengingatkan semua pihak perihal pembantaian Armenia yang menewaskan sekitar 1,5 juta warga Armenia pada masa Dinasti Ottoman, awal abad ke-20. Paus Fransiskus menarik perhatian dunia karena menggunakan kata ”genosida” untuk pembantaian massal tersebut. Pernyataan Paus Fransiskus sempat menimbulkan reaksi keras dari Pemerintah Turki yang mengatakan peristiwa itu terjadi pada masa Perang Dunia I.

”Paus Fransiskus seorang yang mampu berdoa di Blue Mosque di Istanbul dan kemudian berbicara tentang genosida Armenia. Dia bukan seseorang yang terikat oleh kebenaran politik. Itu diplomasi dari pemimpin yang sesungguhnya,” kata mantan Menteri Luar Negeri Italia Franco Frattini.

Setelah pendahulunya, Paus Benediktus XVI, lebih banyak berkutat pada persoalan teologi ilmiah, Paus Fransiskus mengembalikan wajah Gereja Katolik yang mengutamakan upaya perdamaian di dunia. Hal itu diwujudkan melalui langkah-langkah diplomasi seperti dilakukan Paus Yohanes Paulus II yang membantu mengakhiri Perang Dingin.

Lanjutkan membaca Diplomasi Paus Fransiskus, dari Cairkan Kebekuan AS-Kuba sampai Akui Negara Palestina

Era Baru AS-Kuba Pasca Jabat Tangan Bersejarah


ROBERT ADHI KSP

Jabat tangan bersejarah antara Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Presiden Kuba Raul Castro dalam KTT Amerika, di Panama City, Panama, Sabtu (11/4), merupakan awal baru hubungan kedua negara yang selama lebih dari setengah abad diwarnai gejolak dan konflik. Jabat tangan itu diharapkan berdampak luas. Tidak sekadar urusan dengan satu negara dan satu pemimpin, tetapi bergaung keras ke penjuru Amerika Latin.

Tak seorang pun berpikir bahwa masa-masa saling tidak percaya dan saling curiga kedua negara itu selama lebih dari setengah abad sudah berakhir lewat jabat tangan Barack Obama dan Raul Castro.

Kuba

”Kami siap berdiskusi tentang apa saja, tetapi kami harus sabar, sangat sabar,” kata Presiden Kuba Raul Castro. Obama mengakui kedua pihak sering berselisih, tetapi berharap mereka melakukannya dengan saling menghormati satu sama lain.

Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez, seperti dikutip Havana Times, menyebutkan, normalisasi hubungan kedua negara akan merupakan ”proses yang panjang, sulit, dan kompleks”.

Mengapa? KTT Amerika belum menyentuh hal-hal yang rinci. Rencana pembukaan kembali kedutaan besar belum ditentukan waktunya.

Setelah menggelar tiga pertemuan sejak Januari 2015, dialog kali keempat belum dapat dikonfirmasi lagi. Dalam KTT Amerika itu, Obama juga belum menyatakan mengeluarkan Kuba dari daftar hitam negara pendukung teroris.

Kuba masuk daftar itu sejak tahun 1982. Saat ini, daftar negara pendukung teroris antara lain adalah Iran, Sudan, Suriah, dan Kuba. Gedung Putih menyatakan akan mengevaluasi daftar itu, tetapi belum memutuskannya sekarang.

Kuba juga masih menolak kembalinya Organization of American States (OAS) karena pemerintahan Raul Castro beranggapan OAS adalah instrumen dominasi Washington di negerinya.

Kuba yang selama ini menganut sistem ekonomi sosialis tampaknya membutuhkan solusi lebih cepat agar perekonomian negara itu cepat bergerak. Akibat sanksi embargo yang dilakukan Amerika Serikat terhadap negara kepulauan itu sejak tahun 1962, ekonomi Kuba bergerak lamban. Pertumbuhan ekonomi hanya 2 persen-3 persen.

Kuba sendiri sudah berangsur-angsur berubah, terutama pasca Kongres Partai Komunis Kuba yang digelar untuk kali pertama pada April 2011 dalam 13 tahun terakhir. Para pemimpin negeri itu menyetujui rencana melakukan reformasi ekonomi secara terbatas.

Di antaranya mengizinkan rakyat Kuba membeli peralatan elektronik dan telepon seluler, menginap di hotel, serta membeli dan menjual mobil bekas. Pemerintah Kuba juga membuka layanan ritel untuk ”wirausaha” yang memunculkan apa yang disebut sebagai pengusaha (cuentapropistas).

Lanjutkan membaca Era Baru AS-Kuba Pasca Jabat Tangan Bersejarah

Lee Kuan Yew dan Perannya dalam Kemajuan Tiongkok


ROBERT ADHI KSP

Ketika berkunjung ke Tiongkok untuk kali pertama pada 1976, Lee Kuan Yew yang saat itu Perdana Menteri Singapura bertemu dengan pemimpin Tiongkok Deng Xiaoping. Pada tahun itu, Tiongkok baru mulai melakukan reformasi di bidang ekonomi.

Setelah kunjungan Lee ke Beijing, Deng melakukan kunjungan balasan ke Singapura. Pertemuan itu meninggalkan kesan yang kuat bagi Deng. Pemimpin Tiongkok itu mengatakan telah menjadikan Lee sebagai mentor pribadinya.

Lee Kuan Yew

Pertemuan itu memupuk rasa hormat yang dalam di antara kedua pemimpin negara tersebut. Nasihat Lee dalam bidang perekonomian memengaruhi pemikiran Deng, yang kemudian melakukan reformasi dramatis yang melambungkan Tiongkok dalam masa modernisasi dan pertumbuhan yang tinggi (“This Man Helped Turn China into an Economic Power”, CNN Money, 23 Maret 2015).

“Lee Kuan Yew adalah seorang negarawan Asia yang unik dan berpengaruh, seorang ahli strategi yang mengedepankan nilai-nilai Asia dan perspektif internasional,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Hong Lei, pekan lalu. Lee disebut sebagai seorang yang menciptakan dan meletakkan dasar hubungan Tiongkok-Singapura sehingga begitu kuat sampai saat ini.

Selama bertahun-tahun Lee selalu mengingatkan dunia untuk tidak memandang sebelah mata pengaruh global Tiongkok. Dalam wawancara dengan CNN tahun 2008, Lee menegaskan, “Setiap tahun Tiongkok tahu bahwa mereka tumbuh menjadi lebih kuat. Mereka mendekati kemajuan Barat, baik dalam bidang ekonomi, teknologi, maupun industri. Tiongkok bukan kekuatan baru, melainkan kekuatan lama yang hidup kembali.”

Presiden Tiongkok Xi Jinping mengutus Wakil Presiden Li Yuanchao untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Lee Kuan Yew di Singapura, akhir pekan lalu. Dalam pesannya kepada Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, Xi mengatakan, Lee Kuan Yew bukan hanya pendiri negara Singapura, melainkan juga politisi dan ahli strategi yang sangat dihormati dalam komunitas internasional.

“Lee adalah sahabat lama masyarakat Tiongkok dan seorang bijaksana yang dihormati. Sebagai pendiri, pionir, dan promotor hubungan Tiongkok-Singapura, Lee Kuan Yew dan para pemimpin Tiongkok dari generasi lebih tua membangun hubungan bilateral dan memberi kontribusi sangat penting bagi kerja sama dan persahabatan kedua negara serta masyarakatnya,” demikian pesan Xi (“Chinese Vice President Attends Lee Kuan Yew’s Funeral”, China Daily, 29 Maret 2015).

Lee juga mendorong kerja sama Singapura dengan sejumlah kota dan provinsi di Tiongkok, termasuk membangun kawasan industri di kota Suzhou, Tiongkok timur. Lee berhasil membangun kepercayaan komunitas Tiongkok dan komunitas bisnis Tiongkok sehingga merekatkan hubungan masyarakat kedua negara dalam berbagai aspek kehidupan.

Lee tidak hanya memberi kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat Singapura, tetapi juga membangun sistem pemerintahan yang bersih dari korupsi.

Prediksi Lee tentang Tiongkok

Dalam buku Lee Kuan Yew: The Grand Master’s Insight on China, the United States, and the World (2013) yang ditulis Graham Allison, Robert D Blackwill, dan Ali Wyne serta diberi pengantar oleh mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Henry Kissinger disebutkan, Lee sudah memprediksi masa depan Tiongkok yang gemilang. Tiongkok, menurut ramalan Lee, akan menjadi kekuatan nomor satu di Asia dan bahkan menyamai AS.

Lanjutkan membaca Lee Kuan Yew dan Perannya dalam Kemajuan Tiongkok

Australia dan Brasil Bangkitkan Nasionalisme Kita


ROBERT ADHI KSP

Australia dan BrasilPernyataan Perdana Menteri Australia Tony Abbott yang mengaitkan permohonannya agar Pemerintah Indonesia tidak mengeksekusi terpidana mati kasus narkoba asal Australia dengan bantuan Australia untuk rekonstruksi pasca tsunami Aceh menimbulkan reaksi negatif.

Pernyataan Abbott dinilai tidak membantu, tetapi malah menjadi bumerang bagi Australia. Pengguna media sosial ramai-ramai membuat tagar (hashtag) #KoinUntukAustralia dan #CoinForAustralia. Tak hanya rakyat Indonesia yang mengecam pernyataan Tony Abbott, warga negara Australia sendiri pun kecewa.

Pernyataan Abbott itu disampaikan pada Rabu pekan lalu. ”Marilah kita tidak melupakan peristiwa beberapa tahun yang lalu. Ketika Indonesia dilanda bencana tsunami, Australia mengirim miliaran dollar bantuan untuk Indonesia,” katanya. Abbott memang berupaya meminta Indonesia membatalkan eksekusi terhadap dua warga negaranya, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, terpidana mati kasus narkoba. Namun, pernyataan Abbott justru diartikan Australia tidak ikhlas memberikan bantuan kepada korban bencana. Tagar #KoinUntukAustralia sempat di puncak tren topik Twitter Indonesia. ”Berapa nomor rekening Anda, Mr Tony Abbott?” tulis seseorang.

Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop sampai harus mengklarifikasi ucapan Abbott kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla. Abbott mungkin ingin mengatakan, Australia selalu menjadi sahabat Indonesia, bahkan pada saat Indonesia membutuhkan. Namun, ucapannya bermakna ganda. Abbott telah merusak sendiri upaya diplomasi untuk menyelamatkan dua warga negaranya dari eksekusi mati.

Rakyat Indonesia juga marah ketika Presiden Brasil Dilma Rousseff secara terang-terangan melecehkan Pemerintah Indonesia. Dilma menolak menerima penyerahan surat kepercayaan Duta Besar RI untuk Brasil Toto Riyanto, pekan lalu, setelah permintaan Dilma agar Indonesia tidak mengeksekusi terpidana mati kasus narkoba, warga negara Brasil, Marco Archer Cardoso Moreira, ditolak. Marco dieksekusi pada Januari lalu.

Setelah insiden duta besar tersebut, Presiden Joko Widodo langsung memanggil pulang Dubes Toto Riyanto dan mengirim nota protes kepada Pemerintah Brasil. Indonesia mempertimbangkan kemungkinan membatalkan pembelian alat utama sistem persenjataan dari Brasil.

Reaksi keras pemerintah dan rakyat Indonesia terhadap Australia dan Brasil membuktikan Indonesia memiliki harkat dan martabat. Indonesia bukan bangsa yang bisa direndahkan dan dilecehkan seenaknya oleh bangsa lain. Nasionalisme bangsa Indonesia pun bangkit.

Beberapa tahun lalu, ketika Malaysia berulang kali mengklaim milik Indonesia sebagai milik negara itu, nasionalisme bangsa Indonesia bangkit. Rakyat Indonesia beramai-ramai mengenakan batik, yang pernah diklaim Malaysia. Perusahaan minyak Malaysia, Petronas, yang membuka SPBU merugi akibat sentimen negatif rakyat Indonesia terhadap Malaysia yang tak kunjung surut.

Kini, perlakuan Pemerintah Australia dan Brasil terhadap Indonesia telah membangkitkan kembali semangat nasionalisme rakyat Indonesia. Kita tunjukkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan punya harga diri!

robert.adhiksp@kompas.com

SUMBER: SUDUT PANDANG, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SELASA 24 FEBRUARI 2015

Antara Hukuman Mati dan Sikap Mendua


Hukuman mati

ROBERT ADHI KSP

PEMERINTAH Australia mati-matian menyelamatkan dua warga negara mereka, Andrew Chan (31) dan Myuran Sukumaran (33), dari eksekusi mati setelah permohonan grasi mereka ditolak. Kedua WN Australia itu ditangkap di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, pada 2005 karena menyelundupkan 8 kilogram heroin ke Australia. Pengadilan menjatuhkan vonis mati terhadap keduanya.

Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop meminta Pemerintah Indonesia untuk tidak meremehkan sikap publik di Australia yang menentang rencana eksekusi terpidana mati Bali Nine. ”Banyak orang Australia peduli pada isu ini,” kata Julie, yang menyatakan kemungkinan akan menarik duta besar Australia dari Indonesia apabila eksekusi dilaksanakan (Australia Plus, 13 Februari 2015).

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon menelepon Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi dan meminta Indonesia tidak melaksanakan eksekusi mati karena PBB menentang hukuman mati dalam situasi apa pun (”Ban Ki-moon makes plea to Indonesia over executions”, The Guardian, 14 Februari 2015).

Presiden Joko Widodo menegaskan, setiap hari, sedikitnya 50 orang meninggal karena narkoba. Presiden tidak ingin generasi muda Indonesia mati sia-sia karena narkoba. Sedikitnya ada 64 permohonan grasi yang masuk ke meja Presiden Joko Widodo, tetapi semuanya ditolak. Pada Januari 2015, enam terpidana mati kasus narkoba dieksekusi, yaitu Namaona Denis (48, Malawi), Marco Archer Cardoso Mareira (53, Brasil), Daniel Enemua (38, Nigeria), Ang Kim Soei (62, Belanda), Tran Thi Bich Hanh (37, Vietnam), dan Rani Andriani atau Melisa Aprilia, WN Indonesia. Pemerintah Belanda dan Brasil menyampaikan protes dengan menarik duta besar mereka dari Indonesia.

Eksekusi mati terhadap terpidana mati kasus-kasus narkoba itu memberi pesan bahwa Indonesia betul-betul serius berperang dengan sindikat narkoba.

Mendua
Tidak semua pihak di Indonesia setuju dengan hukuman mati. Pegiat hak asasi manusia, Hendardi, berpendapat lain. Menurut Ketua BP Setara Institute itu, kesigapan Presiden Joko Widodo menolak grasi terpidana kasus narkoba dan semangat Kejaksaan Agung mengeksekusi terpidana mati gelombang kedua adalah cara Jokowi dan kabinetnya menutupi kelemahan kinerja di bidang hukum, terutama terkait dengan ketegangan antara Komisi Pemberantasan Korupsi dan Polri.

Hendardi berpendapat, dengan menolak grasi itu, kabinet Jokowi merasa gagah dan pongah. Padahal, tidak ada kaitan dengan prestasi seorang Presiden. Hukuman mati tidak pernah mendapat pembenaran dengan alasan apa pun, termasuk ancaman bagi generasi muda. Mencegah peredaran narkoba dengan sungguh-sungguh jauh lebih penting daripada mengeksekusi terpidana kasus narkoba. Hendardi khawatir Presiden Jokowi akan mengalami kesulitan diplomatik melindungi 229 WN Indonesia yang terancam hukuman mati di luar negeri.

Lanjutkan membaca Antara Hukuman Mati dan Sikap Mendua

Hadiah Natal Paus untuk AS dan Kuba


Paus dan AS-Kuba

ROBERT ADHI KSP

Pulihnya hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Kuba pertengahan Desember menjadi hadiah Natal paling berharga dari Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik dunia. Paus Fransiskus dan diplomat-diplomat Vatikan memainkan peranan penting dalam pemulihan hubungan diplomatik antara AS dan Kuba.

Pemimpin negara AS dan Kuba mengakui pentingnya ajakan Paus agar kedua negara memulihkan hubungan diplomatik yang telah lama membeku. Puluhan tahun lamanya AS menjadi musuh Kuba dan juga sebaliknya, Kuba menjadi musuh AS. ”Dukungan Paus Fransiskus dan Vatikan sangat penting bagi kami,” kata seorang pejabat senior AS.

Mencairnya hubungan diplomatik AS dan Kuba merupakan pencapaian diplomatik terbesar Paus Fransiskus sejak terpilih sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik dunia, Maret 2013 silam.

Paus Fransiskus mengajak Presiden AS Barack Obama dan Presiden Kuba Raul Castro melakukan kesepakatan damai melalui sejumlah langkah cerdas, termasuk mengirim surat kepada kedua pemimpin negara itu pada musim panas lalu.

Surat Paus Fransiskus mengimbau kedua negara untuk ”menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan tentang kemanusiaan yang menjadi kepentingan bersama, termasuk kondisi tahanan tertentu, dalam upaya memulai babak baru dalam hubungan kedua negara” (Pope Francis and the Vatican played key roles in US-Cuna thaw, leaders reveal, The Guardian, 17 Desember 2014).

Paus mendiskusikan kompromi paling memungkinkan dengan Obama ketika Presiden AS itu berkunjung ke Vatikan, Maret 2014 lalu. Paus juga menjadi tuan rumah pertemuan negosiasi kunci antara AS dan Kuba, termasuk yang digelar bulan Oktober lalu.

Lanjutkan membaca Hadiah Natal Paus untuk AS dan Kuba

Writing is the Painting of the Voice

%d blogger menyukai ini: