Robert Adhi Ksp

Verba volant, scripta manent (yang terucap akan hilang, yang tertulis tetap abadi)

Buku-buku Robert Adhi Ksp


Buku-buku yang ditulis Robert Adhi Ksp sejak 2009 sampai Maret 2021

Menulis buku bagi saya adalah passion. Sampai 2021, saya sudah menulis empat belas buku (yang diterbitkan).  Buku pertama yang saya tulis adalah “Panggil Aku King” (Penerbit Buku Kompas, 2009), kisah hidup legenda pebulu tangkis Indonesia Liem Swie King. Buku terbaru saya yang diterbitkan pada bulan Maret 2021 adalah “M.R. Karliansyah, 30 Tahun Menekuni Pengendalian Pencemaran, Dari Amdal sampai Pemulihan Lingkungan” .

BUKU KE-14

“M.R. Karliansyah, 30 Tahun Menekuni Pengendalian Pencemaran, Dari Amdal sampai Pemulihan Lingkungan”

Buku ke-14 yang saya tulis berjudul “M.R. Kaliansyah, 30 Tahun Menekuni Pengendalian Pencemaran, Dari Amdal sampai Pemulihan Lingkungan”.

Buku berjudul “M.R. Karliansyah, 30 Tahun Menekuni Pengendalian Pencemaran, Dari Amdal sampai Pemulihan Lingkungan” merupakan biografi profesional yang memuat perjalanan karier Muhammad Rizali Karliansyah selama 30 tahun berdinas di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan meninggalkan banyak jejak legacy yang bermanfaat bagi banyak orang.  

Buku yang terdiri dari tujuh bab dan setebal 434 halaman ini tidak hanya memuat berbagai legacy Muhammad Rizali Karliansyah yang mengabdi selama tiga dekade kepada bangsa dan negara melalui Bapedal/KLH/KLHK, tetapi juga testimoni puluhan narasumber yang memberi gambaran sosok Karliansyah sesungguhnya. Buku ini layak dibaca dan dijadikan pegangan generasi muda KLHK dan calon pemimpin di masa depan. Banyak yang dapat dipelajari dari kepemimpinan Muhammad Rizali Karliansyah. 

Buku ini dijadwalkan diluncurkan secara resmi oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar pada Selasa, 30 Maret 2021 di salah satu hotel di Jakarta.

Diawali pertemuan pertama penulis dengan M.R. Karliansyah di ruang kerja Dirjen PPKL pada 4 November 2020, penulis melanjutkannya dengan wawancara virtual dengan Karliansyah melalui Zoom pada bulan November dan melalui WhatsApp sepanjang November, Desember 2020 dan Januari 2021. Buku ini dikerjakan penulis sejak awal November 2020 hingga pekan pertama Januari 2021. 

Pertemuan pertama dengan Dirjen PPKL M.R. Karliansyah dan Ses Ditjen PPKL Sigit Reliantoro di ruang kerja Dirjen PPKL Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 4 November 2020. Foto oleh Hanum Sakina.

Penulis mewawancarai mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, dari Emil Salim, Sarwono Kusumaatmadja, Alexander Sonny Keraf, Nabiel Makarim, Rachmat Witoelar, Gusti Muhammad Hatta, Balthasar Kambuaya, sampai Siti Nurbaya Bakar. Mengingat masa pandemi belum selesai, sebagian besar wawancara untuk kepentingan konten buku ini dilakukan secara virtual. Satu-satunya wawancara tatap muka dilakukan di rumah Prof Emil Salim di Taman Patra, Kuningan, Jaksel, 5 Januari 2021.  

Pada akhir Desember 2020, penulis berdiskusi dengan Pak Karliansyah membahas judul buku. Akhirnya disepakati judul buku adalah “M.R. Karliansyah, 30 Tahun Menekuni Pengendalian Pencemaran — Dari Amdal sampai Pemulihan Lingkungan”. 

Penulis juga mewawancarai sembilan pejabat Kementerian LHK, sebelas pakar (ahli) dalam bidang lingkungan hidup, tujuh dari dunia industri, dan tiga narsum lainnya, serta istri dan keponakan Karliansyah.  

Karliansyah mengawali kariernya sebagai staf Direktorat Amdal (Analisis mengenai Dampak Lingkungan) di kantor Bapedal (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan). Selama sebelas tahun (1991-2003) berkecimpung dalam persoalan Amdal, Karliansyah pernah menjadi Pemimpin Proyek Pengelolaan Sistem Amdal di Bapedal, menjabat Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Amdal, Plt Kepala Pusat Pengembangan dan Penerapan Amdal, dan Plt Asisten Deputi Urusan Kajian Dampak Lingkungan. 

Sejak tahun 2000-an, tugas Karliansyah tidak lagi terfokus pada urusan Amdal. Dia menjabat Plt Asisten Deputi Urusan Koordinasi Kebijakan Lingkungan Hidup, KLH (2003-2005),  Plt dan kemudian Asisten Deputi Urusan Pengendalian Pencemaran Sumber Pertambangan, Energi dan Migas (2005-2010). Karliansyah pernah menjadi Plt Sekretaris Menteri LH selama lima bulan (1 April 2014 – 25 September 2014), kemudian Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan KLH (Oktober 2010 – Mei 2015), dan Plt Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya Beracun KLHK (1 Juli 2017 – 6 November 2017). 

Sejak Mei 2015 sampai memasuki masa purnabaktinya pada akhir Maret 2021, Karliansyah adalah Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK. 

Komentar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar dan Dirjen PPKL KLHK M.R. Karliansyah tentang buku ini dalam peluncuran pada 30 Maret 2021 di Hotel Sultan Jakarta.

Dari Emil Salim sampai Siti Nurbaya Bakar

M.R. Karliansyah mendedikasikan lebih dari separuh usianya di Kementerian Lingkungan Hidup, bekerja di bawah Menteri Emil Salim sampai Siti Nurbaya Bakar.  

Pada awal Karliansyah dan kawan-kawannya bekerja, Emil Salim yang saat itu menjadi Kepala Bapedal/Menteri Lingkungan Hidup memanggil 13 staf baru ke lantai tujuh. 

“Kalian jangan bercita-cita untuk menjadi kaya jika ingin bekerja di Lingkungan Hidup,” kata Emil yang intinya meminta mereka untuk tidak melakukan korupsi. Emil juga mengingatkan Karli dan kawan-kawannya untuk bersiap-siap “dimusuhi” banyak orang karena ketika banyak orang di departemen (kementerian) lain ngegas, tugas orang Bapedal/Lingkungan Hidup adalah mengeremnya.

Prof Emil Salim (90 tahun) bersama Dirjen PPKL KLHK M.R. Karliansyah dan penulis di kediaman Emil Salim, 5 Januari 2021.

Emil Salim meminta mereka untuk menjunjung tinggi kejujuran dan integritas, dan dia senang jika Karli dan kawan-kawannya meresapi apa yang disampaikan, bahkan menjadikan ini sebagai pijakan dalam bertugas di Kementerian Lingkungan Hidup sampai akhir bakti mereka. 

Kalian jangan bercita-cita menjadi kaya kalau bekerja di (Kementerian) Lingkungan Hidup.

Emil Salim

Emil masih ingat Karliansyah berasal dari daerah, dari Banjarmasin di Kalimantan Selatan. Pada awal Bapedal dibentuk, orang yang berlatar belakang ilmu lingkungan sangat sedikit. “Saya senang ada orang daerah yang berpendidikan ilmu lingkungan, yang masuk ke Bapedal,” ungkap Emil Salim yang pada tahun 2021 ini berusia 90 tahun.

Ketika Sarwono Kusumaatmadja memimpin Bapedal/KLH (1993-1998), dia sudah terkesan dengan Karliansyah. Meskipun jaraknya (jabatan dan usia) dengan Karli sangat jauh, namun dia ingin mengetahui lebih jauh sosok Karli yang tampak menonjol untuk ukuran pegawai junior.  Menurut Sarwono, jika ada orang yang punya kepribadian istimewa, dia segera memberi catatan mental (mental note) bahwa yang bersangkutan harus diberi perhatian khusus karena memiliki keistimewaan.

Wawancara virtual dengan Sarwono Kusumaatmadja, 9 Desember 2020.

“Kesan saya, Mas Karli seorang yang cerdas, tekun, dan paling penting, punya integritas. Reputasinya di kalangan rekan-rekannya adalah Karli tak bisa diajak main serong. Lurus. Oleh karena itulah kariernya naik dan mulus, termasuk saat penggabungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan pada tahun 2015. Saya sudah menandai, Karliansyah harus menjadi Dirjen di kementerian yang baru dibentuk ini, yaitu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ternyata, siapapun tidak ada yang menyampaikan keberatan. Mas Karli dianggap pantas duduk di sana,”  ungkap Sarwono Kusumaatmadja.

Kesan saya, Mas Karli seorang yang cerdas, tekun, dan paling penting, punya integritas.

Sarwono Kusumaatmadja

“Dan yang menarik adalah komentar teman-temannya di KLHK yang mengatakan bahwa Pak Karli ini harus jadi Dirjen karena bagi kami, dia adalah simbol kejujuran.”  tambah Sarwono.a

Ketika Alexander Sonny Keraf ditunjuk Presiden KH Abdurrahman Wahid menjadi Menteri Negara Lingkungan Hidup (1999-2001), dia meminta Karliansyah menjabat Direktur Amdal. 

Wawancara virtual dengan Alexander Sonny Keraf.

Mengapa Karli yang dipilih? Sonny menetapkan tiga kriteria dalam memilih pejabat eselon I dan II.  Salah satu sosok yang dilihat Sonny Keraf memenuhi kapasitas dan kapabilitas tiga kriteria itu adalah Karliansyah. “Saya butuh orang yang mempunyai kompetensi teknis, dan mampu bekerja dalam tim,  bukan dengan pendekatan sektoral tapi multi-shareholders. Pejabat yang menangani itu pun harus berpikir teamwork, dan berarti orang yang mampu berpikir holistik, punya kredibilitas reputasi, kapabiltas, dan bersih. Ini untuk menjawab mengapa Pak Karliansyah  yang harus ditempatkan dalam frame besar kriteria yang saya pakai untuk semua pejabat yang saya pilih pada waktu itu,” ungkap Sonny Keraf.

Karliansyah mampu berpikir holistik, bekerja teamwork, punya kredibilitas reputasi, kapabilitas, dan bersih.

Alexander Sonny Keraf

Nabiel Makarim, Menteri Negara Lingkungan Hidup (2001-2004), menilai Karliansyah adalah orang yang sangat taat aturan. “Kadang saya kesal dengan keteguhan prinsipnya tersebut, tetapi dia selalu datang dengan data yang lengkap dan tidak terbantahkan,” kata Nabiel. 

Wawancara virtual dengan Rachmat Witoelar.

Adapun Rachmat Witoelar, Menteri Negara Lingkungan Hidup (2004-2009) berpendapat, “Sungguh beruntung saya memiliki kader pionir lingkungan   bernama  Karliansyah ini.  Karena keahliannya dan pengabdiannya tersebut, saya sangat terdukung dan cukup berutang budi kepada Bung Karli yang kreatif dan konsisten dalam melaksanakan tanggung jawabnya.”

Saya beruntung memiliki kader pionir lingkungan bernama Karliansyah. Karena keahlian dan pengabdiannya, saya sangat terdukung dan cukup berutang budi kepada Bung Karli yang kreatif dan konsisten melaksanakan tanggung jawabnya.

Rachmat Witoelar

Gusti Muhammad Hatta, Menteri Negara Lingkungan Hidup (2009-2011) mengungkapkan, “Seperti filosofi orang Jawa, Karliansyah sepi ing pamrih, rame ing gawe, tidak mengharapkan pamrih, giat dan sungguh dalam bekerja. Karliansyah adalah sosok low profile. Dia tidak neko-neko, fokus pada pekerjaan, dan menjalankan tugas-tugasnya dengan serius. Kepribadian Karliansyah seperti itu.” 

Dalam bekerja, Karliansyah tidak mengharapkan pamrih. Dia giat dan sungguh-sungguh, low profile, tidak neko-neko, fokus pada pekerjaan, menjalankan tugas-tugasnya dengan serius.

Gusti Muhammad Hatta

Menurut Hatta, Karliansyah sudah banyak mengukir prestasi dan legacy tetapi dia tidak terlalu banyak cerita. “Prestasi Karliansyah terlihat dari kinerja yang dihasilkan. Program Proper misalnya, berhasil membina banyak perusahaan yang sebelumnya berpredikat ‘hitam’ menjadi ‘merah’, lalu berubah menjadi ‘biru’ dan kemudian ‘hijau’,” katanya.

Wawancara virtual dengan Gusti Muhammad Hatta.

Balthasar Kambuaya, Menteri Negara Lingkungan Hidup (2011-2014) mengatakan, Karliansyah sangat komunikatif. “Beliau selalu berkomunikasi dengan teman-teman kerjanya, melakukan koordinasi, juga mengonsultasikan dan mengomunikasikan tugas-tugas yang dikerjakan dengan sangat baik. Selaku Menteri,  saya terbantu dengan pekerjaan Pak Karli  yang rapi itu,” kata mantan Rektor Universitas Cendrawasih itu. 

Karliansyah sangat komunikatif, seorang yang humble, menghormati orang, menghargai orang lain dengan baik.

Balthasar Kambuaya

Kambuaya juga menilai Karliansyah seorang yang humble, menghormati orang, dan menghargai orang lain dengan baik. “Kadang-kadang ego individunya tidak tampak. Dia mengutamakan teamwork dengan melakukan pendekatan dan kooodinasi dengan baik,” katanya.

“Karli memiliki rasa percaya diri sangat tinggi dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Dari semua yang dimiliki Pak Karli, saya sebut beliau ini masuk aliran perfeksionis. Dia melakukannya sesuai aturan, harus rapi, memastikan bahwa segala sesuatu berjalan sesuai yang direncanakan dan diprogramkan,” urai Kambuaya.

Wawancara virtual dengan Balthasar Kambuaya.

Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar menilai Karliansyah seorang pejabat dan birokrat yang cukup ideal, yang memenuhi competency dan competence. Selain mampu menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik, Karliansyah juga mampu menangani berbagai persoalan dengan baik. Karakter dan sikapnya yang baik, enak diajak bicara, nice-looking, membuat banyak orang lain mudah dan senang berkomunikasi dengan dia. 

Dalam dunia birokrasi, seorang Direktur Jenderal adalah CEO dalam urusan jasa publik. Karliansyah adalah CEO yang bagus.

Siti Nurbaya Bakar

Menurut Siti Nurbaya, sebagai seorang birokrat, Karliansyah sosok yang cukup ideal. “Dalam dunia usaha, kita mengenal CEO (Chief Executive Officer) yang menangani urusan bisnis. Dalam dunia birokrasi, seorang Direktur Jenderal (Dirjen) adalah CEO dalam urusan jasa publik. Karliansyah adalah CEO yang bagus. Mengapa demikian? Karena dalam keseharian, tidak gampang menangani berbagai persoalan di bidang lingkungan hidup dan kehutanan, mengingat karakter dan esensi persoalan lingkungan dan kehutanan yang beragam dan relatif berat,” ungkap Siri Nurbaya Bakar. 

Menteri LHK melihat dukungan Pak Karliansyah di Kementerian LHK sedemikian kuat dan meyakinkan. “Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan masih membutuhkan tenaga dan pikiran Pak Karli. Saya akan meminta Pak Karliansyah untuk tetap membantu saya di Kementerian LHK dalam penyelesaian beberapa bagian yang sudah mendekati final,” katanya.

Wawancara virtual dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar.

Piawai dalam Amdal

Rusdian Lubis (67 tahun), Direktur Amdal (1993-1998) yang pernah menjadi atasan Karliansyah berpendapat, “Karliansyah adalah sosok yang predictable dan by the book. Karliansyah seorang yang selalu menaati aturan. Hal ini memudahkan saya. Kalau ada yang miring, saya selalu menjadikan Karliansyah sebagai contoh yang baik.”

“Mengapa by the book? Karliansyah sering menjawab, menurut Peraturan Pemerintah… jika saya bertanya mengapa tidak mengambil keputusan B, tetapi A.  Ini berarti, Karliansyah selalu memegang teguh peraturan perundang-undangan meskipun terkesan tidak berani mengambil keputusan yang riskan,” jelas Rusdian Lubis yang kini menekuni hobinya sebagai penulis novel. 

Laksmi Dhewanti mengenal Karliansyah sebagai mitra kerja di Bapedal sejak 1991. Mereka adalah dua staf pertama yang masuk di unit Amdal. Keduanya saling melengkapi.  Dhewanti tipe trouble shooter, Karli guardian yang mendisiplinkan tata laksana regulasi Amdal. “Kalau saya ragu, Pak Karli sosok yang bisa memberi jawaban. Sebaliknya, pada saat Karli memerlukan input bagaimana mengembangkan Amdal ke depan, Karli akan mengontak saya,” cerita Dhewanti, saat ini Staf Ahli Menteri LHK. 

Di mata Dhewanti, Karliansyah seorang yang teguh pada peraturan perundangan, dan sangat disiplin dalam menyelesaikan pekerjaannya karena durasi tenggat waktu yang sangat pendek. Dia harus membaca dokumen hanya beberapa hari. “Saya tidak melihat Karli seorang yang kaku, tapi saya melihatnya sebagai bagian dari tanggung jawabnya sebagai ASN (dulu disebut PNS). Beliau sangat teguh,” papar Dhewanti. 

Buat saya, Mas Karli bukan sekadar kolega, tetapi juga kakak senior dan guru. Saya beruntung diasuh Mas Karli.

Laksmi Wijayanti

Sementara itu Laksmi Wijayanti, yang masuk Bapedal di era Nabiel Makarim mengatakan, “Buat saya, Mas Karli bukan sekadar kolega tetapi kakak senior dan guru. Saya beruntung diasuh Mas Karli.”  Wijayanti, yang saat ini menjabat Inspektur Jenderal Kementerian LHK berpendapat, Karliansyah berhasil membentuk perspektifnya  tentang birokrat. Ada pendapat yang menyebutkan, birokrat itu suka korupsi dan bermalas-malasan. Tetapi sejak Wijayanti masuk di Bapedal, dia tidak melihat itu dalam tubuh Bapedal, juga tidak melihat itu pada sosok Karliansyah. Sejak awal, Wijayanti menilai Karliansyah sosok mengagumkan, seorang birokrat teladan yang well-managed, termasuk dalam hal-hal kecil.  

Sigit Reliantoro, saat ini Sekretaris Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan mengungkapkan, sedikitnya sepuluh kasus Amdal yang menonjol yang ditangani ketika Karliansyah menjabat Direktur Amdal, di antaranya Freeport, Banjir Jakarta 2002, dan Sodetan Citanduy.

Pak Karliansyah fokus mencari solusi, mencari jalan tengah. Beliau berorientasi mencari solusi. Ini yang membedakan Pak Karliansyah dengan yang lainnya.

Sigit Reliantoro

Dalam menangani berbagai kasus Amdal, kata Sigit Reliantoro, Karliansyah fokus mencari solusi, mencari jalan tengah. “Dalam kasus Freeport misalnya, Pak Karli mencari cara menyelesaikan persoalan yang telah menimbulkan dampak luar biasa. Persoalan di Freeport ditangani selama 15 tahun dan tidak bisa ditangani dengan cara biasa. Pak Karli berupaya agar investasi tetap berjalan, namun lingkungan tetap terjaga dengan baik. Berorientasi mencari solusi. Ini yang membedakan Pak Karliansyah dengan yang lainnya,” papar Sigit Reliantoro. 

Kualitas Ciliwung Makin Berkelas

Salah satu legacy Karliansyah yang diakui Ketua Gerakan Ciliwung Bersih Peni Susanti dan Ketua Yayasan Sahabat Ciliwung Hidayat Al Ramdhani adalah membaiknya kualitas Sungai Ciliwung. 

Peni Susanti menilai Dirjen PPKL M.R. Karliansyah betul-betul membimbing  dan membina komunitas-komunitas pencinta Ciliwung tersebut. Sampai akhirnya kualitas air Sungai Ciliwung makin membaik dan kelasnya naik ke kelas dua. 

Peni mengaku beruntung bertemu dengan Karliansyah yang gigih mengendalikan pencemaran sungai dan berupaya untuk memulihkannya. Peni masih memimpikan suatu hari kelak Sungai Ciliwung dapat menjadi seperti Sungai Han di Korea Selatan. 

Karliansyah sosok pemimpin penyabar, bijaksana yang mengayomi dan menghargai orang, serta memberi motivasi. Sebagai pemimpin, beliau mau turun ke bawah dan mendengar. Beliau betul-betul pemimpin transformatif, dan tidak melihat beliau adalah pejabat tertinggi di kementerian.

Peni Susanti

Peran Karliansyah sangat besar dalam membantu Gerakan Ciliwung Bersih. “Kalau bukan Pak Karli, GCB tak akan banyak dibantu,” ungkap Peni. Dia membandingkan pengalamannya ketika minta konsultasi kepada Dirjen-dirjen lain. “Mereka jarang menjawab. Mungkin karena mereka pejabat,” ujarnya., b

Tetapi Peni melihat Karliansyah Dirjen yang berbeda.  “Beliau sosok pemimpin penyabar, bijaksana, mengayomi, menghargai orang, dan pemberi motivasi. Beliau selalu hadir dalam setiap acara komunitas Gerakan Ciliwung Bersih. Sebagai pemimpin, beliau mau turun ke bawah dan mau mendengar. Beliau betul-betul pemimpin transformatif, dan tidak melihat beliau pejabat tertinggi di kementerian. Beliau sangat responsif, cepat menanggapi meski melalui WhatsApp,” ungkap Peni yang mengaku terharu dengan kepedulian Karliansyah. “Kalau Pak Karli pensiun, saya kehilangan banget,” katanya terbata-bata. 

Hidayat Al Ramdhani, Ketua Yayasan Sahabat Ciliwung mengungkapkan,  meningkatnya kualitas Sungai Ciliwung terbukti dari muncul biota sungai yang sebelumnya menghilang. “Saat ini di Kali Ciliwung muncul ikan baung dan ikan senggal. Di  Lenteng Agung, bahkan ditemukan udang buri, lobster kali. Ini semua menunjukkan, kualitas Sungai Ciliwung semakin membaik jika dibandingkan 5  tahun – 10 tahun lalu.  Kalau air sungai kotor, ikan dan udang tak akan bisa hidup,” papar Hidayat.

Pak Karli sosok luar biasa. Jarang seorang pejabat setingkat Dirjen mau bergaul dengan kami anak sungai. Bila dihubungi, beliau langsung merespon.

Hidayat al Ramdhani

“Pak Karli sosok yang luar biasa. Jarang seorang pejabat setingkat Pak Karli, mau bergaul dengan kami anak sungai. Bila dihubungi, beliau langsung merespon. Pak Karli juga memberi kami kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang penting, salah satunya  bertemu dengan Ibu Siti Nurbaya Bakar, Menteri Lingkungan Hidup. Kami bisa menyampaikan persoalan kami di sungai. Bagi kami sebagai anak sungai, ini luar biasa,” ungkap Hidayat.

Mengubah Bekas Tambang Jadi Pusat Ekonomi Rakyat

Selama bertugas, Karliansyah tak hanya menyumbang banyak gagasan, tetapi juga melaksanakannya. Di antaranya, mengubah bekas tambang menjadi pusat ekonomi masyarakat. Pada tahun 2015-2016, KLHK mencatat sebanyak 8.386 lokasi bekas tambang dan bekas perkebunan rakyat seluas 57.000 hektar dalam kondisi rusak dan telantar, ditinggalkan begitu saja, tanpa ada yang mengurus, dengan kedalama antara enam meter dan 30 meter, dan luasannya beragam antara satu hektar dan 35 hektar. Bila tidak segera ditangani, kerusakan akan semakin parah. 

Untuk memperbaiki sejumlah lokasi bekas tambang rakyat di Gunung Kidul, Belitung, Dharmasraya, Bengkulu Tengah, Buton, Paser, Malang, Kuningan dan Belitung Timur, Karli turun langsung ke lapangan, melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat setempat. KLHK tak sekadar memperbaiki, tetapi mengubahnya menjadi pusat perekonomian masyarakat. 

Salah satu bentuk lembaga yang didirikan untuk mengelola lahan pasca- pemulihan adalah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), yaitu lembaga usaha desa yang dikelola oleh masyarakat untuk memperkuat perekonomian desa dan dibentuk berdasarkan kebutuhan serta potensi desa.  Pengelolaan lahan pasca-pemulihan salah satu kunci keberhasilan pemulihan lingkungan.  

Salah satu pemulihan lingkungan yang berhasil dilakukan KLHK adalah mengubah lokasi bekas tambang batu gamping seluas 0,7 hektar di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi pasar ekologis yang memberi nilai tambah sesuai kebutuhan masyarakat setempat. Lokasi bekas tambang batu dengan kedalaman 6 meter itu diuruk, diratakan dan direklamasi, kemudian dibangun menjadi pasar rakyat. Pasar Ekologis Argowijil diresmikan Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar pada 18 April 2017. 

Lurah Gari, Gunung Kidul, Widodo, mengatakan, masyarakat Kelurahan Gari menyampaikan terima kasih kepada Karliansyah, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL), serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang telah memperbaiki lingkungan wilayah mereka. “Pak Karliansyah selalu mengawal pemulihan bekas tambang ini menjadi pasar ekologis yang sangat bermanfaat bagi masyarakat,” kata Widodo.  

Widodo menilai komunikasi yang dijalin Karliansyah sangat terbuka dan responsif. Dia mengenal Karliansyah pada pertengahan 2016 sebelum KLHK melakukan reklamasi lokasi bekas tambang di kelurahannya. Sampai pada hari peresmian pasar ekologis Argo Wijil, Karliansyah berkomunikasi intens dengan dia untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik.  “Meskipun jabatannya Dirjen, Pak Karliansyah  tetap menghormati saya sebagai Lurah. Sampai makan bersama pun, beliau ingin kami satu meja,” cerita Widodo yang mengaku empat kali bertemu dengan Karliansyah.

Karliansyah bersama jajaran Ditjen PPKL juga berupaya memulihkan lingkungan yang rusak di beberapa lokasi menjadi tempat wisata.  Salah satunya adalah bekas tambang gamping di Bengkulu Tengah di Provinsi Bengkulu. Sebelumnya bukit tersebut memiliki banyak asam kandis (Garcinia xanthochymus), namun setelah menjadi lokasi penambangan tanpa izin batu andesit, asam kandis itu tak tersisa lagi.

Upaya lain pemulihan lingkungan yang dilakukan Ditjen PPKL adalah mengubah bekas lokasi tambang pasir dan batu di Desa Bambang, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur menjadi Taman Edukasi Agroindustri Njulung. Dari 30-an hektar lahan bekas tambang yang sudah rusak, 21 hektar di antaranya sudah mulai hijau kembali. Sisanya 17 hektar akan digarap pada tahun 2021. 

Setelah dikerjakan selama satu tahun, pada Oktober 2020, Direktur Jenderal PPKL Karliansyah menyerahkan Barang Milik Negara (BMN) di lokasi pemulihan lahan akses terbuka AgroEdutourism Njulung kepada masyarakat melalui BUMDes Patok Pacis di bawah koordinasi Tri Diantoro, Ketua BUMDes setempat. Diantoro mengakui, sejak KLHK memulihkan lokasi bekas tambang menjadi taman agroindustri, UMKM berkembang di sana melalui pasar dan pertanian. Banyak wisatawan lokal berkunjung ke sana, yang berdampak positif bagi lingkungan dan masyarakat setempat.

Tri Diantoro menilai, Karliansyah sosok yang ramah, ceria, dan murah senyum.“Beliau sangat halus dan ini terlihat dari kata-kata dan sikapnya yang menyenangkan. Pak Karliansyah bisa ngobrol asyik dengan kawula muda di desa ini. Beliau dijadikan panutan karena selalu memberi dukungan kepada tenaga penggerak seperti saya misalnya,” cerita Diantoro.  

Lewat Proper, Karliansyah Dorong Industri Hijau

Salah satu legacy lainnya Karliansyah  adalah Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan atau dikenal dengan nama Proper, program Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang mendorong penaatan perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui instrumen insentif reputasi bagi perusahaan. 

Melalui Proper, Karliansyah berhasil mengarahkan perusahaan untuk menjawab berbagai persoalan lingkungan global, seperti penanganan sampah, penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK), bahkan pencapaian tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). 

Selain mendapat penghargaan Top 45 Inovasi Pelayanan Publik dari Kementerian PAN-RB sebagai penghargaan dalam penyebarluasan ide kreatif dan terobosan dalam pelayanan publik di Indonesia, di dalam negeri Proper juga menjadi dasar dan rujukan dalam penilaian pemberian penghargaan, seperti Industri Hijau (Green Industry) dan Pertambangan Ramah Lingkungan (Green Mining) oleh Kementerian ESDM dan Green CEO Award oleh Majalah Warta Ekonomi. 

Di luar negeri, Proper mendapat apresiasi dari Bank Dunia sebagai suatu metode efektif terkait pengimplementasian tata kelola lingkungan yang baik untuk peningkatan kapasitas serta pemberian insentif terhadap kinerja pengelolaan lingkungan yang lebih baik. Universitas Chulalongkorn Thailand juga memberikan apresiasi serupa bagi Proper. Selain itu, di forum International Labour Organization (ILO), Proper dijadikan sebagai indikator kinerja pengelolaan lingkungan bagi para pembeli.  

Karliansyah mendorong perusahaan-perusahaan di bawah BUMN untuk berinovasi dalam pengelolaan dan pengendalian lingkungan sehingga berkembang menjadi industri hijau. 

“Proper membangkitkan awareness tentang ekonomi hijau. Jadi Proper memacu Pupuk Kaltim untuk terus mematuhi aspek-aspek lingkungan. Ini semua tidak bisa terlepas dari peran Pak Karliansyah,” kata Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Holding Company, Bakir Pasaman, yang sebelumnya Dirut Pupuk Kaltim. 

Saya mengagumi sosok Pak Karliansyah. Beliau Dirjen yang benar-benar hebat. Integritasnya luar biasa, tidak macam-macam. Pekerjaannya benar-benar dicurahkan untuk perbaikan lingkungan dan ketaatan perusahaan terhadap peraturan lingkungan.

Bakir Pasaman

“Saya mengagumi sosok Pak Karliansyah. Beliau Dirjen yang benar-benar hebat. Integritasnya luar biasa, tidak macam-macam. Pekerjaannya benar-benar dicurahkan untuk perbaikan lingkungan dan ketaatan perusahaan terhadap peraturan lingkungan. Ini luar biasa,” kata Bakir Pasaman, yang bangga Pupuk Kaltim meraih Proper Emas empat kali berturut-turut.  

PT PLN (Persero) juga merasakan betapa Karliansyah selaku Dirjen PPKL KLHK selalu mendorong tim PLN di setiap bidang untuk bersinergi membangun Proper.  

“Peran Pak Karliansyah sangat besar dalam mendukung unit-unit PLN agar bisa mendapatkan Proper Hijau dan Proper Emas, dan agar PLN tidak mendapatkan Proper Merah ataupun yang lebih jelek dari itu. Secara pribadi, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Karliansyah yang selalu mendorong dan membimbing teman- teman di PLN, mengayomi teman-teman di unit-unit pembangkit, baik di PLN maupun di PLN Group, agar kami terus bertransformasi menuju tata kelola organisasi yang bertanggung jawab, dan agar PLN senantiasa selalu berinovasi dalam mengelola lingkungan hidup,” kata Direktur Human Capital & Management PT PLN (Persero), Syofvi Felienty Roekman.  

Peran Pak Karliansyah sangat besare dalam mendukung unit-unit PLN agar bisa mendapatkan Proper Hijau dan Proper Emas. Secara pribadi, saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Karliansyah yang selalu mendorong dan membimbing teman-teman di unit-unit pembangkit, baik di PLN maupun di PLN Group, agar kami terus bertransformasi menuju tata kelola organisasi yang bertanggung jawab, dan agar PLN selalu berinovasi dalam mengelola lingkungan hidup.

Syofvi Felianty Roekman

Menurut Syofvi, seluruh unit PLN yang sangat berhubungan erat dengan Karliansyah adalah unit-unit Pembangkit, khususnya di PLN Group, Indonesia Power, dan PJB. “Mereka merasakan hubungan emosional yang sangat erat dan sangat nyaman selama berinteraksi dengan Pak Karliansyah. Beliau mendorong kami untuk meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan. Beliau mendorong, membimbing, mengarahkan teman-teman kami di unit-unit PLN. Beliau juga cukup intens berhubungan langsung ke lokasi-lokasi pembangkit PLN. Ini meninggalkan kesan yang sangat mendalam kepada kami,” ungkap Syofvi. 

Joko Pranoto, General Manager PT Pertamina RU Cilacap mengatakan, “Proper merupakan trade-mark Pak Karliansyah karena beliau sangat lama membidani Proper dan mengembangkannya sampai pada level saat ini.”

Salah satu kelebihan Proper adalah adaptif. Untuk mencapai kinerja Proper yang bagus, perusahaan tak bisa berdiri sendiri, harus berkolaborasi cukup baik dan intens dengan pemerintah, LSM, masyarakat, institusi pendidikan, perusahaan.  

Menurut Joko, Proper yang digawangi Karliansyah ini luar biasa sehingga Pertamina bukan karena mengejar penghargaan Proper tetapi karena konsep Proper yang didorong Karli memang matching dengan kebutuhan perusahaan, yaitu  perusahaan harus berwawasan lingkungan, harus berkolaborasi dengan masyarakat, pemerintah, termasuk para local hero masyarakat.

Joko angkat topi untuk Karliansyah,  seorang Dirjen, yang menurut bayangannya, sudah high level, satu level di bawah menteri. Tetapi Karli tidak hanya duduk menerima laporan, tidak hanya memahami kulit-kulitnya, tetapi benar-benar aktif dan turun secara langsung. “Ini yang membedakan Pak Karliansyah dengan pejabat-pejabat lain, yang saya rasa sulit untuk mencari penggantinya,” papar Joko Pranoto. 

Adapun Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo mengungkapkan, “Bagi kami di Gaikindo, Pak Karliansyah, Dirjen Pengendalian Pencemararan dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) telah membuat langkah maju dan besar dengan mendeklarasikan Indonesia masuk ke era EURO 4.”

Mengurusi Gambut, Menanggulangi Kebakaran Hutan

Ketika Karli menjabat Dirjen PPKL, dia langsung dihadapkan pada persoalan kebakaran hutan dan lahan. Kementerian LHK berupaya mengatasi kebakaran hutan dan lahan dan memulihkan 2,6 juta hektar lahan yang terbakar secara bertahap. 

Setelah memetakan persoalan, Karliansyah akhirnya mengetahui bahwa penyebab utama adalah amburadulnya tata kelola air di ekosistem gambut.  Semua kanal yang dibangun dalam kondisi memotong kontur. Air terkuras habis dan tidak tersisa di daerah lahan gambut. Begitu ada pencetus api, rokok misalnya, gambut itu dengan mudah pasti langsung terbakar. Kebakaran lahan dan hutan ini tak mungkin dapat dihindari karena kondisi gambut kering-kerontang. Luasan lahan dan hutan dalam kondisi seperti ini ribuan bahkan jutaan hektar. Seluas itu jugalah api menjalar dan membakar lahan dan hutan.

Untuk memperbaiki dan memulihkan ekosistem gambut, Karliansyah memulainya dengan mengajak perusahaan mengelola tata air dengan baik dan benar, baik perusahaan HTI maupun perkebunan sawit. “Kami minta mereka membangun sekat-sekat kanal. Canal Blocking ini untuk apa? supaya bisa menjaga gambut tetap dalam kondisi basah dan lembab. Peraturan menetapkan tinggi muka air  tanah tak boleh kurang dari 0,4 meter. Jika memiliki tinggi muka air kurang dari 0,4 meter, ada jaminan kondisinya lembab, maka lahan gambut ini tak akan mudah terbakar,” ungkap Karliansyah.

Melalui berbagai pendekatan yang dilakukan Karliansyah, masyarakat maupun dunia usaha akhirnya menyadari bahwa menjaga gambut itu tidak mengganggu bisnis mereka, bahkan membuat bisnis lebih berkelanjutan. Menjaga gambut berarti merawat peradaban dan sekaligus menjaga ketahanan pangan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Jika tiga komponen ini dipenuhi, keberlanjutan usaha bisa berjalan dengan baik. 

“Tantangan yang dihadapi Pak Karliansyah tidak mudah tetapi melalui pendekatan dan kekuatan kepemimpinannya, beliau berhasil meyakinkan pemangku kepentingan, baik masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah daerah. Saat ini cukup banyak pemda yang menyusun rencana perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut di tingkat provinsi maupun kabupaten kota, dan lima provinsi di antaranya sudah hampir rampung   menyelesaikannya,” kata Ir  SPM Budisusanti, Direktur Pengendalian Kerusakan Gambut (2018 – sekarang). 

Diplomasi Internasional

Karliansyah juga piawai dalam berdiplomasi. Pada akhir 2018, Karliansyah mendapat tugas dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar untuk menyelenggarakan pertemuan the Fourth Intergovermental Review Meeting on the Implementation of the Global Programme of Action for the Protection of the Marine Environment from Landbased Activities (IGR-4) di Nusa Dua, Bali.

Memasuki sesi akhir agenda Persidangan IGR-4, persidangan berjalan alot. Ketika itu peserta membahas draft teks Bali Declaration. “Suasana persidangan IGR-4  sangat keras. Boleh dibilang, masalahnya antara jadi atau tidak jadi, To be or not to be.  Pak Karliansyah kemudian mengatur, pada saat perundingan itu, ada makan malam bersama, ada musik, ada  acara nyanyi, ada tarian Maumere, yang bisa melibatkan banyak peserta. Ada pelukis-pelukis dari Bali mencoba melukis semua peserta yang hadir dan mereka menerima lukisan tersebut. Ternyata forum semacam itu berdampak yang sangat konstruktif bagi penyelesaian masalah ini,” ungkap Makarim Wibisono, diplomat senior yang terlibat dalam IGR-4. 

Esok harinya —hari terakhir pertemuan, setelah melalui pembahasan selama empat jam, para anggota ndelegasi akhirnya menyepakati rumusan untuk menyiapkan kajian  menyeluruh terhadap masa depan GPA  termasuk aspek hukum, anggaran dan organisasi dari GPA.   Draft teks Bali Declaration  pun disepakati para delegasi IGR-4. Rupanya tarian “Maumere” pada malam sebelumnya memberi kesan mendalam di antara para peserta IGR-4. Diplomasi tarian Maumere cukup mengena. 

Suasana tegang langsung cair setelah peserta “dihibur” tak hanya tarian Maumere, tetapi juga duet Karliansyah dan Menteri LHK Siti Nurbaya yang  menyanyi bersama di depan peserta delegasi IGR-4. Diplomasi Maumere ini gagasan Pak Karliansyah. Beliau memegang peran dalam pengorganisasian. Saya rasa ini kreasi dan karya Pak Karliansyah,” ungkap Makarim Wibisono. 

Gaya Kepemimpinan Karliansyah 

Gaya kepemimpinan Karliansyah yang tidak memosisikan diri sebagai pejabat (unboss leadership) merupakan  salah satu kunci kesuksesannya dalam pengendalian pencemaran lingkungan. Ini diakui Joko Pranoto, GM Pertamina RU Cilacap. Menurut Joko, salah satu keberhasilan Proper sampai sejauh ini tak terlepas cara Karliansyah memimpin. “Bagaimana Pak Karli dengan low profile, berkomunikasi dengan para pemangku kepentingan dari seluruh tingkatan, top leader sampai pelaksana di lapangan, membuat program Proper ini diterima oleh mayoritas perusahaan, dan berjalan dengan baik sampai sejauh ini,” ungkap Joko.  

Gaya kepemimpinan Karliansyah yang tidak memosisikan diri sebagai pejabat (unboss leadership) merupakan salah satu kunci kesuksesannya dalam pengendalian pencemaran lingkungan.

Joko Pranoto

Erna Witoelar, pendiri Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) dan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) berpendapat, Karliansyah seorang yang low profile, tak banyak gembar-gembor, tidak juga defensif. “Biasanya pemerintah kalau berhadapan dengan lembaga swadaya masyarakat, LSM suka sok galak, dan pemerintah suka sok defensif. Jadi sering kali tidak nyambung. Tetapi Karliansyah ini wajar-wajar saja. Dia menerima ungkapan dari LSM dan masyarakat, baik yang santun, bernada marah, atau menggebu-gebu, dengan  tenang, berusaha untuk menghadapi mereka dan menjelaskan dengan gamblang,” kata Erna, yang pernah menjabat Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah  di era Presiden KH Abdurrahman Wahid.  

Sosok pejabat pemerintah seperti Karliansyah ini dibutuhkan masyarakat, mampu menjelaskan pertanyaan-pertanyaan masyarakat, bisa berdialog dengan LSM, dan tidak defensif. Dia menerima ungkapan dari LSM dan masyarakat dengan tenang dan menjelaskan persoalan dengan gamblang.

Erna Witoelar

“Sebenarnya sosok pejabat pemerintah seperti Karliansyah inilah yang dibutuhkan masyarakat. Karliansyah bisa menjelaskan pertanyaan-pertanyaan masyarakat. Kalau pejabat pemerintah bisa berdialog seperti itu, dan pemerintah juga bisa bertanya kepada masyarakat, maka saya kira Republik ini bisa berjalan lebih baik,” kata Erna Witoelar, istri Rachmat Witoelar. ,

Putra Daerah Kalimantan Selatan

M.R. Karliansyah lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 28 Maret 1961 sebagai anak keenam dari delapan bersaudara  dari pasangan Haji Abdoel Moeis dan Hajjah Masningrat. Abdoel Moeis pernah menjabat Wali Kota Banjarbaru (1978-1983). 

Setamat SMA pada 1980, Karli melanjutkan pendidikan ke Jurusan Biologi, Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA) Universitas Indonesia (yang belakangan berubah menjadi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan ALam atau FMIPA melalui jalur Proyek Perintis II. Di sinilah Karliansyah bertemu dengan jodohnya, Nastiti Soertiningsih – Wijarso, putri (mantan) Dirjen Migas pertama, Wijarso. 

“Kami berteman, bersahabat, dan melakukan kegiatan bersama. Kami sudah saling mengenal satu sama lain. Ketika kami menikah, tidak banyak yang harus kami lakukan untuk menyesuaikan diri. Kami sudah tahu sama tahu. Dari sisi ilmu, kami mendalami ilmu yang sama. Setiap kali berdiskusi dengan Karli, langsung nyambung ,” cerita Nastiti, yang akrab dipanggil Astit. 

Bagi Astit, Karli sosok yang memiliki jiwa kepemimpinan. Karli cukup lama menjadi Ketua Komisariat Biologi dan ex-officio sebagai Ketua Senat FMIPA UI. “Dia memiliki kharisma tersendiri dan mempunya kesan baik, serta memberi masukan kepada adik-adik mahasiswa,” katanya.  

Astit menilai Karli tidak berubah, tetap memegang komitmen dan konsisten dengan apa yang dia pegang. “Kalau A ya A. Tidak berubah. Karli selalu on time di mana pun berada. Semua tahu dan kenal karakter Karli,” katanya. 

Setelah lulus sebagai Sarjana Biologi FMIPA UI, Astit bekerja di Pusat Penelitian Sumber Daya Manusia dan Ling- kungan UI sampai pensiun. Sebelumnya Karli juga pernah bekerja paruh waktu di sana. Karena keduanya bekerja di bidang yang sama, kehidupan mereka sejalan. Inilah yang dirasakan Astit. Karli dinilainya sangat peduli dan penuh perhatian pada keluarga dan terhadap semua orang.  

Hal ini diakui keponakan Karli, Ratna Wulan Sari (37). “Om Karli sering kali tidak memikirkan diri sendiri, tetapi lebih memikirkan banyak orang. Bukan hanya memikirkan keluarga, tetapi juga semua orang,” katanya. 

Ratna juga menilai, Paman Karli dan Tante Astit tetap hidup sederhana dan tidak berlebihan meskipun memegang jabatan tinggi di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. “Semoga saya dan suami dapat menjadikan mereka panutan,” kata Ratna.  

Ucapan Terima Kasih

Dalam kesempatan ini, izinkan saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Menteri LHK Ibu Siti Nurbaya Bakar yang memberi kesempatan kepada saya untuk menulis biografi profesional salah seorang pejabat KLHK yang berdedikasi tinggi dan telah mengukir banyak prestasi, yaitu Dirjen PPKL Pak Muhammad Rizali Karliansyah. Terima kasih kepada Ibu Siti Nurbaya Bakar yang telah meluangkan waktu untuk diwawancarai secara virtual di tengah kesibukan tugas sebagai Menteri LHK.

Saya harus menyampaikan terima kasih kepada Pak Karliansyah yang dalam kurun waktu November 2020 hingga pertengahan Januari 2021, sering saya “ganggu” untuk mendapatkan informasi selengkap-lengkapnya demi konten buku ini. Terima kasih pula untuk Ibu Astit dan keponakan Ratna Wulan yang memberi gambaran utuh tentang sosok Pak Karli.

Kepada Pak Emil Salim, Pak Sarwono Kusumaatmadja, Pak Alexander Sonny Keraf, Pak Nabiel Makarim, Pak Rachmat Witoelar, Pak Gusti Muhammad Hatta, dan Pak Balthasar Kambuaya, semuanya mantan Menteri Lingkungan Hidup, yang telah ikut memberi gambaran tentang sosok Karliansyah, penulis ucapkan terima kasih.

Juga kepada narasumber Laksmi Wijayanti (Inspektur Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), Laksmi Dhewanti (Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup), Sigit Reliantoro (Sekretaris Ditjen PPKL), Dasrul Chaniago (Direktur Pengendalian Pencemaran Udara), Wahyu Indraningsih (Direktur Pengendalian Kerusakan Gambut Ditjen PPKL 2015-2018),  Sri Parwati Murwani Budisusanti (Direktur Pengendalian Kerusakan Gambut PPKL),  Luckmi Purwandari (Direktur Pengendalian Pencemaran Air), Dida Migfar Ridha (Direktur Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan Laut),  dan Bekti Budhi Rahayu (Kasubbag Hukum dan Teknis Ditjen PPKL) yang telah memberi catatan untuk melengkapi konten buku ini, penulis sampaikan terima kasih.

Kepada para pakar dan ahli yaitu Pak Eko Sugiharto (Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM), Pak Rusdian Lubis (mantan Direktur Amdal), Pak Sudharto P Hadi  (Dewan Pertimbangan Proper), Pak Supiandi Sabiham (IPB), Pak Azwar Ma’as, (UGM), Pak Baba Barus  (IPB), Ibu Peni Susanti (Ketua Gerakan Ciliwung Bersih), Pak Soeryo Adiwibowo (IPB),  Pak Makarim Wibisono (diplomat senior), Pak Arief Yuwono (mantan Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim, dan mantan Staf Ahli Menteri LHK Bidang Energi),  serta   Ibu Erna Witoelar (Pendiri Ciliwung Bersih dan Walhi) yang mewarnai isi buku ini dengan berbagai komentar dan testimoni tentang sosok Karliansyah, penulis haturkan terima kasih. 

Demikian pula, penulis mengucapkan terima kasih kepada Pak Soewarso (Ketua Bidang Produksi Hutan Tanaman, Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia/APHI),  Pak Eddy Martono (Ketua Bidang Tata Ruang dan Agraria/GAPKI),  Pak Bakir Pasaman (Presiden Direktur PT Pupuk Indonesia), Pak Joko Pranoto (General Manager Pertamina RU Cilacap), Ibu Syofvi Felienty Roekman, (Direktur Human Capital & Management PT PLN Persero),  Pak Komang Paramita (Executive Vice President HSSE, PT PLN Persero) dan Pak Kukuh Kumara (Sekum Gaikindo) yang telah memperkaya konten buku ini. 

Juga kepada Bung Hidayat Al Ramdhani (Ketua Yayasan Sahabat Ciliwung),  Mas Tri Diantoro (Ketua BUMDes Njulung, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur) dan Mas Widodo (Lurah Gari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta) yang melengkapi buku ini tentang kisah sukses pemulihan lingkungan, penulis sampaikan terima kasih.

Tak lupa penulis menyampaikan terima kasih kepada Mas Tulus Laksono (Kepala Bagian Program dan Evaluasi, Dirjen PPKL) dan Sdri Hanum Sakina (Pranata Humas Kementerian LHK), yang selalu menemani penulis dalam wawancara virtual dengan berbagai narasumber untuk melengkapi isi buku ini.   Kepada sahabat Bintang Permata dan Utari Mahavira yang telah merekomendasikan nama saya sebagai penulis buku, saya haturkan terima kasih. 

Semoga buku biografi profesional Pak Muhammad Rizali Karliansyah ini bermanfaat bagi khalayak pembaca. 

Robert Adhi Ksp

18 Januari 2021

DIKUTIP DARI CATATAN PENULIS DALAM BUKU “M.R. KARLIANSYAH, 30 TAHUN MENEKUNI PENGENDALIAN PENCEMARAN – DARI AMDAL SAMPAI PEMULIHAN LINGKUNGAN”.

Buku ke-13

Marwanto Harjowiryono, Maestro Simfoni Perbendaharaan

This image has an empty alt attribute; its file name is screen-shot-2020-10-13-at-06.51.10.png

ROBERT ADHI KSP

Biografi profesional berjudul “Marwanto Harjowiryono, Maestro Simfoni Perbendaharaan – Pengawal ‘Die Hard’ APBN, Pendobrak Reformasi Birokrasi” mengungkap perjalanan karier Marwanto Harjowiryono, tokoh pembaruan yang meninggalkan jejak banyak legacy di Kementerian Keuangan. Marwanto pernah menjadi Ketua Pelaksana Harian (Kalakhar) Tim Reformasi Birokrasi Kementerian Keuangan, Direktur Eksekutif Asian Development Bank, menjabat Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan, dan Direktur Jenderal Perbendaharaan. Jauh sebelum itu, Marwanto adalah sosok di balik layar penyusunan APBN pada masa krisis Asia. 

Buku ini tidak sekadar memuat berbagai legacy Marwanto Harjowiryono dan aneka pengalamannya bertugas 36 tahun di Kemenkeu, tetapi juga testimoni puluhan narasumber yang menguatkan itu semua. Buku ini layak dibaca oleh generasi muda Kementerian Keuangan dan calon pemimpin di masa depan. Banyak yang dapat dipelajari kaum muda dari kepemimpinan Marwanto Harjowiryono.  Tujuan utama buku biografi profesional ini disusun adalah agar pengetahuan dan pengalaman Pak Marwanto selama 36 tahun tidak hilang begitu saja, tetapi tetap berguna bagi generasi muda Kemenkeu.

This image has an empty alt attribute; its file name is marwanto-24-april-2020-at-03.55.12-1.png
Pertemuan virtual pertama dengan Marwanto Harjowiryono, akhir April 2020.

Diawali dengan jumpa virtual pada akhir April 2020, pertemuan dengan Pak Marwanto Harjowiryono dilanjutkan dengan wawancara perdana pada pertengahan Mei. Namun buku ini dikerjakan sejak akhir Juni hingga awal September 2020.  Semua wawancara dengan Pak Marwanto dan dengan hampir 50 narasumber dilakukan secara virtual  mengingat buku ini digarap pada masa pandemi Covid-19. Wawancara dengan Pak Marwanto melalui Zoom (lima kali), sedangkan komunikasi melalui WhatsApp untuk kepentingan konten buku, dilakukan hampir setiap hari selama bulan Juli, Agustus, hingga pertengahan September 2020. 

Terima kasih kepada Pak Marwanto Harjowiryono yang selalu bersedia “diganggu” dengan berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan konten buku ini. Terutama selama bulan Juli dan Agustus, hampir setiap dinihari (antara pukul 02.00 dan 05.00), penulis berkomunikasi dengan Pak Marwanto melalui WhatsApp dan kadang melalui telepon, untuk memastikan akurasi dan meminta penjelasan lebih jauh, lebih lengkap.

Sebagian besar wawancara dengan puluhan narasumber dilakukan melalui Zoom —termasuk dengan Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani Indrawati. Terima kasih kepada Ibu Sri Mulyani yang telah meluangkan waktu untuk memenuhi wawancara jarak jauh ini dan memberi gambaran yang benderang tentang sumbangsih Pak Marwanto selama bertugas di Kemenkeu. 

Selain mewawancarai langsung Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani Indrawati melalui Zoom, penulis juga mewawancarai 17 pejabat eselon I Kementerian Keuangan (Irjen, Dirjen, dan Staf Ahli), dan tiga orang di antaranya mantan Dirjen yang mengenal langsung sosok Marwanto. Penulis juga mewawancarai 19   pejabat eselon II dan pegawai eselon III Kemenkeu yang memiliki hubungan kerja dengan Marwanto di masa lalu untuk mengetahui lebih mendalam tentang gaya kepemimpinan Pak Marwanto. 

This image has an empty alt attribute; its file name is sri-mulyani-27-agustus-2020-at-16.08.49-1.png
Wawancara virtual penulis dengan Menteri Keuangan Sri Miulyani Indrawati, 27 Agustus 2020

Untuk memberi gambaran menyeluruh tentang figur Pak Marwanto sebagai suami dan sebagai ayah, penulis mewawancarai Ibu Tri Hardiyanti (istri), serta Nur Shabrina Listiyani, Bhaskara Adiwena, dan Malinda Ghassani (anak).  “Mas Marwanto seorang sederhana dan tidak neko-neko, sejak awal saya mengenalnya sampai sekarang,” kata Yanti, sang istri.   

Mas Marwanto seorang sederhana dan tidak neko-neko, sejak awal saya mengenalnya sampai sekarang.

TRI HARDIYANTI, ISTRI MARWANTO

Menjelang finalisasi pengerjaan buku pada bulan Agustus 2020, penulis berdiskusi dengan Pak Marwanto tentang judul buku ini. Setelah melalui beberapa kali diskusi, akhirnya disepakati judul utama adalah “Marwanto, Maestro Simfoni Perbendaharaan”. Ini bermakna Marwanto seorang maestro atau konduktor yang memimpin “orkestra simfoni” Ditjen Perbendaharaan sehingga menghasilkan karya yang indah. Tugas Marwanto di Ditjen Perbendaharaan memang menjadi “roh” isi buku ini dan dimuat dalam Bab Satu, Delapan, dan Sembilan.  Sedangkan subjudul “Pengawal Die Hard APBN, Pendobrak Reformasi Birokrasi” menunjukkan keahlian lain Marwanto dalam penyusunan APBN dan kepiawaiannya ketika menjadi Kepala Pelaksana Harian Tim Reformasi Birokrasi Kementerian Keuangan.

Buku ini diberi Prolog oleh Pak Agus Martowardojo (Menkeu 2010-2013), Pak M. Chatib Basri (Menkeu 2013-2014), dan Pak Bambang Brodjonegoro (Menkeu 2014-2016), juga Pak Suahasil Nazara (Wakil Menkeu 2019-sekarang) dan Pak Mardiasmo (Wamenkeu 2014-2019). Semuanya mengungkapkan betapa banyak yang sudah diperbuat Marwanto selama di Kemenkeu.  

This image has an empty alt attribute; its file name is rionald-silaban-11-agt-2020-at-14.17.37-1.png
Wawancara virtual penulis dengan Rionald Silaban, 11 Agustus 2020

Buku ini terdiri dari 10 bab. Bab Pertama dibuka dengan cerita Marwanto (saat itu Dirjen Perbendaharaan) yang cemas dengan kondisi APBN 2016 yang mengalami defisit mendalam, dan kembalinya Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan. Penulis sengaja membuka buku ini dengan peristiwa ini untuk memberi gambaran kepada pembaca tentang rumitnya tugas Marwanto Harjowiryono dalam mengawal arus kas negara di APBN. “Marwanto adalah Dirjen yang terbuka menjelaskan arus kas negara, apakah posisinya merah, kuning, atau hijau,” kata Rionald Silaban, yang pernah menjabat Kepala Pushaka Kemenkeu. 

Bab Kedua, flash back, mengisahkan masa kecil dan masa muda Marwanto di Yogyakarta. Lahir di Kampung Patangpuluhan yang bertetangga dengan Pabrik Gula Madukismo, Marwanto adalah anak bungsu dari 10 bersaudara dari pasangan Nawirin Harjowiryono dan Sutiyah Kertoirono. Awalnya dia bercita-cita menjadi dokter, namun akhirnya memilih Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada dan menikmati kuliah di kampus Bulaksumur.

Marwanto adalah Dirjen yang terbuka menjelaskan arus kas negara, apakah posisinya merah, kuning, atau hijau

RIONALD SILABAN, KEPALA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN KEMENKEU

Bab Ketiga menceritakan awal karier Marwanto di Kementerian Keuangan (dulu Departemen Keuangan) di Biro Perencanaan. Atasan langsungnya saat itu adalah Dono Iskandar. Tugas pertama Marwanto adalah menyusun RAPBN 1983-1984. Pada masa itu tahun anggaran dimulai 1 April dan berakhir 31 Maret. Di sela-sela tugasnya, Marwanto diminta menggantikan Dono mengajar di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).  Di sini Marwanto mengembangkan kompetensi keilmuannya dan turut berperan dalam proses pembentukan kader-kader pimpinan di Kemenkeu. 

Bab Keempat mengisahkan Marwanto sebagai Kepala Biro Analisa APBN  harus mengelola APBN pada masa krisis Asia 1997-1998. Saat itu, dia harus menghadapi delegasi dari Bank Dunia dan IMF. 

“Marwanto adalah tokoh utama di balik layar APBN. Krisis Asia 1997-1998 berawal dari krisis moneter dan berubah menjadi krisis fiskal.  Pada masa krisis tersebut, Indonesia tak punya uang tetapi tidak boleh ngutang. Pada masa sulit, Marwanto dan timnya menyusun postur APBN. Dia pekerja keras, humble, dan dapat diandalkan. Saya melihat sendiri dapurnya. Marwanto dan timnya bekerja keras sampai larut malam,” kata Robert Pakpahan, yang pada masa itu Kasubdit Perencanaan Penerimaan, Direktorat Jenderal Pajak.  

Marwanto adalah tokoh utama di balik layar APBN. Krisis Asia 1997-1998 berawal dari krisis moneter dan berubah menjadi krisis fiskal.  Pada masa krisis tersebut, Indonesia tak punya uang tetapi tidak boleh ngutang. Pada masa sulit, Marwanto dan timnya menyusun postur APBN. Dia pekerja keras, humble, dan dapat diandalkan. Saya melihat sendiri dapurnya. Marwanto dan timnya bekerja keras sampai larut malam

ROBERT PAKPAHAN, DIRJEN PAJAK 2017-2019

Marwanto mengawal perubahan struktur APBN. “Marwanto giat mengedukasi perubahan format APBN dari T-account (dengan format debet-kredit) menjadi I-account yang sejalan dengan perubahan tahun fiskal menjadi Januari-Desember – sesuai amanat Undang-undang Keuangan Negara. Marwanto mampu memimpin reformasi APBN Indonesia yang fundamental ini dengan sangat  baik,” kata Askolani, Dirjen Anggaran. 

Bab Kelima menceritakan karier Marwanto sebagai Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri yang mewakili Kementerian Keuangan dalam berbagai forum internasional; dan sebagai Kepala Biro Humas (yang kemudian berubah menjadi Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi). Marwanto mengubah paradigma tugas Humas dari sekadar tukang kliping dan tukang foto. Di era Marwanto, peran Biro Humas menjadi lebih strategis, dilibatkan dalam berbagai acara nasional dan internasional.  

“Pak Marwanto adalah pejabat Kemenkeu pertama yang menjadi Kepala Biro Humas (yang terpisah dengan Biro Hukum). Beliau mendukung keterbukaan informasi. Pak Marwanto menekankan fungsi humas sebagai komunikator, bukan sekadar unit yang memproduksi siaran pers dan event organizer. Di era Pak Marwanto, Biro Humas Kemenkeu lebih maju satu langkah dibandingkan humas-humas lembaga pemerintah lainnya. Karena itulah ketika saya menjabat Kepala Biro KLI (nama baru Biro Humas), saya lebih mudah mengajak kawan-kawan di sana berlari karena Humas Kemenkeu bukanlah tipe humas jadul lagi,” kata Nufransa Wira Sakti, saat ini Staf Ahli Menkeu dan pernah menjabat Kepala Biro KLI (2016-2020). 

Di era Pak Marwanto, Biro Humas Kemenkeu lebih maju satu langkah dibandingkan humas-humas lembaga pemerintah lainnya. Karena itulah ketika saya menjabat Kepala Biro KLI (nama baru Biro Humas), saya lebih mudah mengajak kawan-kawan di sana berlari karena Humas Kemenkeu bukanlah tipe humas jadul lagi

NUFRANSA WIRA SAKTI, STAF AHLI MENTERI KEUANGAN

***

Tokoh di Balik Layar Reformasi Birokrasi Kemenkeu

Satu hal menarik dari buku ini adalah pengakuan dari banyak pihak bahwa Marwanto tokoh di balik layar suksesnya reformasi birokrasi di Kementerian Keuangan, 2007-2009. Marwanto saat itu Staf Ahli Menkeu yang ditunjuk  Menkeu Sri Mulyani sebagai Kepala Pelaksana Harian Tim Reformasi Birokrasi. Apa saja yang dikerjakan Marwanto —yang saat itu berduet dengan Eddy Abdurrachman? Semua diungkap di Bab Keenam.  

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, peran Marwanto dalam Tim Reformasi Birokrasi adalah sebagai motor penggerak yang melaksanakan perubahan di Kemenkeu, mulai dari struktur organisasi, SDM, indikator kinerja, sampai remunerasi penggajian, semuanya berubah total. Tim inilah yang membuat dari SOP (standard operating procedure) sampai business model. Ini kemajuan yang berarti. “Pak Marwanto memberi keseimbangan. Beliau menjembatani saya sebagai Menkeu baru yang sangat bersemangat dan ambisius melakukan reformasi di tubuh Kemenkeu dengan para pejabat dan pegawai Kemenkeu,” kata Sri Mulyani dalam wawancara khusus dengan penulis, 27 Agustus 2020.

Peran Marwanto dalam Tim Reformasi Birokrasi adalah sebagai motor penggerak yang melaksanakan perubahan di Kemenkeu, mulai dari struktur organisasi, SDM, indikator kinerja, sampai remunerasi penggajian, semuanya berubah total. Tim inilah yang membuat dari SOP (standard operating procedure) sampai business model. Ini kemajuan yang berarti.

SRI MULYANI INDRAWATI, MENTERI KEUANGAN 2005-2010; 2016-SEKARANG

Menurut Sri Mulyani, “Dulu setiap pekerjaan di Kemenkeu tidak ada SOP. Begitu masuk Kemenkeu, surat di Kemenkeu seperti masuk hutan belantara. Tidak jelas kapan surat didisposisi karena orang harus membawa banyak amplop agar suratnya tiba di meja pejabat yang dituju. Wajah Kemenkeu 15 tahun ke belakang, sebelum tahun 2005, tidak seperti wajah Kemenkeu sekarang.” 

Bagaimana dengan sekarang? “Silakan Anda mewawancarai generasi muda Kemenkeu yang tidak merasakan zaman jahiliah. Kemenkeu sekarang sudah menjadi institusi pemerintah yang transparan dan terbuka dalam melakukan penilaian kinerja unit sampai kinerja individu. Kemenkeu punya tim reformasi birokrasi yang sampai sekarang masih dirawat, built-in, dan institutionalized,” kata Sri Mulyani bangga.    

Menteri Keuangan periode 2013-2014 M. Chatib Basri berpendapat, Marwanto merupakan sosok ulet  dalam menjalankan tugas. Dia  mengawal reformasi birokrasi Kemenkeu dengan sangat sabar dan telaten,  meskipun tugas tersebut terkadang membuat dirinya mendapat tekanan dan omelan  dari kelompok yang  saat itu sedang menikmati comfort zone dan menolak perubahan.  Tak banyak yang mencatat, salah satu pencapaian utama dari Kementerian Keuangan adalah reformasi birokrasi.

“Reformasi inilah yang membuat wajah Kementerian Keuangan berubah. Kebanggaan akan institusi meningkat, perbaikan pelayanan, integritas adalah tema-tema yang kemudian menjadi penting. Saya harus mengakui bahwa proses ini tidak selalu mudah, dan belum sepenuhnya berhasil. Namun fondasi telah diletakkan, dan perubahan terjadi.  Dan Marwanto merupakan tokoh yang instrumental dalam milestone ini,” ungkap Chatib Basri.  

Reformasi birokrasi inilah yang membuat wajah Kementerian Keuangan berubah. Kebanggaan akan institusi meningkat, perbaikan pelayanan, integritas adalah tema-tema yang kemudian menjadi penting. Saya harus mengakui bahwa proses ini tidak selalu mudah, dan belum sepenuhnya berhasil. Namun fondasi telah diletakkan, dan perubahan terjadi.  Dan Marwanto merupakan tokoh yang instrumental dalam milestone ini.

M. CHATIB BASRI, MENTERI KEUANGAN 2013-2014

Begitu pentingnya reformasi ini, tulis Chatib Basri dalam Prolognya, Princenton University, salah satu universitas terbaik di muka bumi ini, sampai membuat studi kasus mengenai reformasi birokrasi ini. Studi ini berjudul “Reforming Indonesias Ministry of Finance 2006-2010”. “Ketika Menteri Keuangan Sri Mulyani, mendapat penghargaan menjadi Menteri Terbaik di Dunia di World Development Summit di Dubai tahun 2018, saya menulis bahwa penghargaan ini sebenarnya agak terlambat. Saya tahu bahwa kemampuan Indonesia dalam mengelola fiskal memang amat dihargai dunia, namun saya kira, alasan utama yang membuat Sri Mulyani pantas mendapat penghargaan itu adalah reformasi birokrasi di Kementerian Keuangan. Dan Marwanto punya peran yang amat penting dalam proses ini,” papar M. Chatib Basri dalam Prolognya.

Robert Pakpahan, Dirjen Pajak (2017-2019) dan Dirjen PPR (2013-2017) menilai tim reformasi birokrasi bentukan Sri Mulyani yang ditangani Marwanto sukses menata kembali organisasi birokrasi Kemenkeu. Marwanto dan timnya berhasil menyusun proses bisnis organisasi baru sampai pada SOP, serta menyusun remunerasi seluruh pegawai Kemenkeu.  Inilah yang mendorong Kemenkeu berubah jauh. Integritas pegawai Kemenkeu terjaga. Di sini terlihat jelas, Marwanto seorang reform minded.  

“Salah satu faktor kesuksesan Sri Mulyani menata reformasi birokrasi di Kemenkeu adalah karena Marwanto menjadi Kalakhar tim reformasi birokrasi. Marwanto memastikan semuanya berjalan. Kinerja pegawai bisa dilacak, SOP dibuat sampai soft copy-nya, semua pelaksanaan tugas harus ada SOP. Semua dibuat konkret.  Memang ini hasil kerja bersama Kemenkeu, tetapi Marwanto adalah motor utamanya. Kalau ada yang tidak berjalan dengan semestinya, Marwanto melaporkan langsung ke Sri Mulyani. Dalam lembaga birokrasi, kalau tak ada titik sentralnya, ya tidak jalan. Semua dipadukan oleh Marwanto dan tim reformasi birokrasi dengan baik,” ungkap Robert Pakpahan.

“Bagi saya, Marwanto seorang kolega yang baik, menghargai orang, mendengarkan pendapat orang lain -apapun pendapat yang disampaikan. Marwanto menyerap dan menerima pendapat tersebut. Pak Marwanto sangat polite. Selama saya berinteraksi dengannya, beliau menghargai siapapun, bukan hanya ke atas, tetapi juga ke bawah. Pak Marwanto teman diskusi yang baik meskipun kadang kami berbeda pendapat. Beliau sangat disiplin dan pekerja keras, Ini kelebihan Pak Marwanto,” kata Eddy Abdurrachman yang pernah menjadi Wakil Kalakhar Tim Reformasi Birokrasi. 

Menurut Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (PPR) Luky Alfirman, tidak mudah bagi Pak Marwanto melaksanakan tugasnya sebagai Kalakhar Tim Reformasi Birokrasi. Banyak tantangan yang dihadapi tim ini, terutama meyakinkan sebagian pegawai Kemenkeu bahwa kita harus mengubah kultur bekerja dan tidak boleh terlena di zona nyaman. Beberapa malah mengatakan, “oh ini tidak mungkin diwujudkan.” Sebelumnya, jabatan di Kemenkeu berdasarkan senioritas dan masa kerja.

Tim Reformasi Birokrasi berhasil mengubah kultur di Kemenkeu berbasis kinerja. Ini merupakan perubahan yang benar-benar mengguncang. Kinerja diukur dengan balanced scorecard, Key Performance Indicator (KPI)  mulai dari organisasi sampai pada individu. Dan key player di balik tim reformasi birokrasi ini adalah Pak Marwanto

LUKY ALFIRMAN, DIRJEN PENGELOLAAN PEMBIAYAAN DAN RISIKO

“Nyatanya, Tim Reformasi Birokrasi berhasil mengubah kultur di Kemenkeu berbasis kinerja. Ini merupakan perubahan yang benar-benar mengguncang. Kinerja diukur dengan balanced scorecard, Key Performance Indicator (KPI)  mulai dari organisasi sampai pada individu. Dan key player di balik tim reformasi birokrasi ini adalah Pak Marwanto,” ungkap Luky yang pada masa itu  bertugas sebagai sekretaris tim modernisasi di Ditjen Pajak.  

This image has an empty alt attribute; its file name is luky-alfirman-21-08-2020-at-11.29.06-1.png
Wawancara virtual penulis dengan Luky Alfirman, 21 Agustus 2020

Dalam bab ini, diungkap pula testimoni pegawai Kemenkeu yang pernah bekerja sama dengan Marwanto. 

Dini Kusumawati misalnya melihat kompetensi manajerial Marwanto luar biasa. Marwanto mampu mengejawantahkan Tim Reformasi Birokrasi ini akan ke mana dan akan melakukan apa. “Beliau tahu banget cara mengarahkan dan memaksimalkan, mengoptimalkan semua anggota Kalakhar ini, menugasi saya pekerjaan apa. Treatment Pak Marwanto ke setiap orang berbeda-beda,” papar Dini, saat ini Kepala Biro Organta. “Pak Marwanto membuat perencanaan dengan sangat baik, sudah memikirkan semua detailnya, mau terjun sampai ke bawah, mengikuti kegiatan teknis, dan mau mendengar, menjadi pendengar aktif,” nilai Dini. 

Reformasi birokrasi Kemenkeu telah mengubah paradigma SDM dari administrasi ke kompetensi; simplifikasi belasan ribu jabatan menjadi 2.000-an; sampai mengubah persepsi “rajin malas, pintar goblok sama saja”.   

***

Bab Ketujuh menceritakan gebrakan Marwanto ketika menjabat Dirjen Perimbangan Keuangan. Dia mempraktikkan dan menerapkan reformasi birokrasi dalam unit yang awalnya  ditengarai beredar calo “transfer ke daerah” dan di tengah isu kongkalikong pegawai DJPK dengan orang-orang daerah.  

Menteri Keuangan periode 2010-2013 Agus Martowardojo dalam Prolognya mengungkapkan, pada tahun 2011, dana transfer dalam APBN  mencapai  lebih dari   Rp 411 triliun  atau sekitar 33 persen dari total belanja negara. Untuk mengalokasikan dan menjamin kualitas pelaksanaan pencairan dana tersebut, diperlukan kebijakan yang mendukung dan mampu mengoptimalkan semakin besarnya  dana yang dialokasikan ke daerah ini. Dengan demikian, setiap Rupiah yang keluar dari APBN untuk kepentingan transfer ke daerah, akan benar-benar dapat bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat banyak.

“Jumlah transfer ke daerah saat itu telah mencapai lebih  dari sepertiga dari total  belanja APBN. Namun bila memperhitungkan seluruh dana yang mengalir ke locus daerah, baik dalam bentuk belanja yang dikeluarkan oleh kementerian dan lembaga (K/L), dana dekonsentrasi maupun  dana pembantuan, maka jumlah dana  yang mengalir dari APBN ke seluruh daerah di wilayah tanah air kala itu bisa mencapai jumlah  lebih dari 70 persen dari belanja APBN. Satu jumlah yang sangat besar, sehingga pelaksanaannya di lapangan harus benar-benar ditangani oleh aparat yang kompeten,” ungkap Agus Martowardojo yang menunjuk Marwanto sebagai Dirjen Perimbangan Keuangan.  

“Marwanto seorang tipe pejuang, yang benar-benar bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaik. Setelah Marwanto menjabat Dirjen Perimbangan Keuangan, saya merasakan ada sentuhan perubahan dengan meningkatkan kualitas pelayanan untuk mitranya, pemangku kepentingan, yaitu pemerintah daerah,” kata Irjen Kemenkeu, Sumiyati.  

***

“Legenda Perbendaharaan”

Bab Kedelapan dan Kesembilan yang merupakan “roh” buku ini menceritakan bagaimana sepak terjang Marwanto selama memimpin Ditjen Perbendaharaan selama enam tahun (2013-2019), mengendalikan 7.400 pegawai di 183 KPPN dan 34 provinsi di seluruh Indonesia. 

Marwanto seorang eksekutor yang hebat, the right man on the right place. Road map boleh ada, tetapi bila tak bisa dieksekusi, hanya akan menjadi living document.  Semua yang ada di road map, bisa dilaksanakan dengan baik.  Marwanto membuat road map Menkeu terwujud. 

FUAD RAHMANY, KETUA BAPEPAM 2006-2011

Fuad Rahmany, senior, mentor dan kolega Marwanto menilai, Marwanto seorang eksekutor yang hebat, the right man on the right place. “Road map boleh ada, tetapi bila tak bisa dieksekusi, hanya akan menjadi living document.  Semua yang ada di road map, bisa dilaksanakan dengan baik.  Marwanto membuat road map Menkeu terwujud. Hes a doer, someone who gets actively involved in something, rather than just thinking or talking about it,” kata Fuad.  

Selain itu, Modul Penerimaan Negara (MPN) G2/G3 yang mempermudah wajib pajak; Sistem Perbendaharaan Anggaran Negara (SPAN) yang memudahkan pengecekan dan pengawasan pengelolaan keuangan negara secara real time; Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi (SAKTI) yang memudahkan pencairan dana ke satuan kerja;sampai pada penggunaan Kartu Kredit Pemerintah yang mengubah cara belanja dan meningkatkan efisiensi kementerian dan lembaga pemerintah. 

Marwanto menginisiasi pembayaran pajak melalui internet banking dan ATM (Modul Penerimaan Negara Generasi ke-2/MPN G2), bahkan pembayaran pajak  sudah bisa dilakukan melalui Tokopedia,  Bukalapak, serta gerai-gerai Alfamart dan Indomaret. (MPN G3).

Presiden Joko Widodo meluncurkan SPAN di Istana Negara pada 29 April 2015. “Dengan SPAN, informasi mengenai pergerakan belanja dan pendapatan negara dapat dimonitor dengan cepat. Informasi menjadi lebih transparan, detail, yang sangat berguna untuk bahan pengambilan keputusan pimpinan,” kata Menteri Keuangan periode 2014-2016, Bambang Brodjonegoro dalam Prolognya. Hingga saat ini, dasbor OM-SPAN  (executive summary dari SPAN) merupakan menu utama para pemimpin negeri ini untuk melihat progress dari pelaksanaan program dan kegiatan yang direncanakan dalam APBN yang menjadi tanggung jawabnya.

“Sebagai Direktur Jenderal Perbendaharaan, Pak Marwanto bertanggung jawab atas kecepatan dan ketepatan pengelolaan pencairan pembayaran dana yang bersumber dari APBN. Pak Marwanto terus melakukan reformasi dalam peningkatan governance pengelolaan dan pelaksanaan anggaran Negara, termasuk penerapan otomasi dalam proses pelaksanaan dan pencairan anggaran,” ungkap Wakil Menkeu Suahasil Nazara dalam Prolognya. 

Inisiasi pembangunan Integrated Financial Information System Management (IFMIS) dan sekaligus meletakkan backbone TI untuk pengelolaan penganggaran dan perbendaharaan di Kementerian Keuangan tidak terlepas dari peran Marwanto.

HADIYANTO, SEKJEN KEMENTERIAN KEUANGAN

Sekjen Kemenkeu Hadiyanto mengatakan, inisiasi pembangunan Integrated Financial Information System Management (IFMIS) dan sekaligus meletakkan backbone TI untuk pengelolaan penganggaran dan perbendaharaan di Kementerian Keuangan tidak terlepas dari peran Marwanto.    

“Saya surprise. Ketika menggantikan beliau di sini, hampir semua pimpinan Ditjen Perbendaharaan sangat santun, mirip Pak Marwanto. Saya yakin pengaruh Pak Marwanto sangat kuat. Beliau bekerja keras tanpa menonjolkan diri,” papar Andin Hadiyanto, Dirjen Perbendaharaan yang menggantikan Marwanto.  

Saya surprise. Ketika menggantikan beliau di sini, hampir semua pimpinan Ditjen Perbendaharaan sangat santun, mirip Pak Marwanto. Saya yakin pengaruh Pak Marwanto sangat kuat. Beliau bekerja keras tanpa menonjolkan diri

ANDIN HADIYANTO, DIRJEN PERBENDAHARAAN

Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi menjelaskan, sistem pembayaran SPAN dan MPN yang dikembangkan Marwanto saat menjabat Dirjen Perbendaharaan, sangat membantunya di Ditjen Bea Cukai karena sistem tersebut terintegrasi. “Status penerimaan pajak di Ditjen Pajak, Ditjen Bea Cukai, PNPB itu real time dan tak perlu lagi dicatat di buku masing-masing,” ungkap Heru yang menjabat Dirjen Bea Cukai sejak 2015. 

Hal senada disampaikan Dirjen Pajak Suryo Utomo. Salah satu achievement Marwanto ketika menjabat Dirjen Perbendaharaan adalah mendesain sistem pembayaran pajak yang terhubung dengan perbankan. “Sistem pembayaran ini real time sehingga Kemenkeu mengetahui berapa sih duit yang sudah masuk ke kas negara? Berapa sih penerimaan pajak yang sudah masuk pada masa tertentu? Berapa penerimaan negara dari Pajak, Bea dan Cukai, dan PNPB?” kata Suryo yang menjabat Dirjen Pajak sejak November 2019.  

Kalau bicara tentang Perbendaharaan, ya pasti menyebut nama Marwanto -siapapun penggantinya. Hingga saat ini, banyak legacy Marwanto yang masih berakar kuat dan namanya masih bergaung di sana.

ASTERA PRIMANTO BHAKTI, DIRJEN PERIMBANGAN KEUANGAN

Dirjen Perimbangan Keuangan Astera Primanto Bhakti menilai Direktorat Jenderal Perbendaharaan identik dengan nama Marwanto Harjowiryono. “Kalau bicara tentang Perbendaharaan, ya pasti menyebut nama Marwanto -siapapun penggantinya. Hingga saat ini, banyak legacy Marwanto yang masih berakar kuat dan namanya masih bergaung di sana,” ungkap Primanto yang menjabat  Dirjen Perimbangan Keuangan sejak Juni 2018.

Isa Rachmatarwata, Dirjen Kekayaan Negara mengaku belajar banyak dari  Marwanto yang ketika memimpin Ditjen Perbendaharaan, rajin berkunjung ke daerah, ke tempat-tempat paling pelosok. Kunjungan ini membahagiakan staf dan jajaran yang telah lama bertugas di sana. “Langkah Pak Marwanto menjadi inspirasi bagi saya ketika saya menjabat Dirjen Kekayaan Negara. Saya melakukan hal serupa, mencontoh beliau,” kata Isa.

Saya seorang akuntan sehingga saya paham kesulitan dalam penerapan akrual untuk kali pertama di lembaga pemerintah. Apalagi Pak Marwanto bukan akuntan, tetapi memimpin para akuntan. Akuntansi berbasis akrual ini mengantarkan capaian Opini WTP untuk Laporan Keuangan Pemerintah Pusat untuk kali pertama pada 2016, kemudian 2017 dan 2018 berturut-turut selama tiga tahun di era Pak Marwanto menjabat DJPb. Bagi akuntan seperti saya, ini merupakan achievement besar seorang pemimpin yang bukan akuntan.

ARIF BAHARUDIN, STAF AHLI MENKEU

Staf Ahli Menkeu Arif Baharudin berpendapat,  Marwanto berhasil mengawal akuntansi berbasis akrual. “Saya seorang akuntan sehingga saya paham kesulitan dalam penerapan akrual untuk kali pertama di lembaga pemerintah. Apalagi Pak Marwanto bukan akuntan, tetapi memimpin para akuntan. Akuntansi berbasis akrual ini mengantarkan capaian Opini WTP untuk Laporan Keuangan Pemerintah Pusat untuk kali pertama pada 2016, kemudian 2017 dan 2018 berturut-turut selama tiga tahun di era Pak Marwanto menjabat DJPb. Bagi akuntan seperti saya, ini merupakan achievement besar seorang pemimpin yang bukan akuntan,” kata Arif. 

Arif juga menilai Marwanto  sukses mengembangkan SPAN dan GFS keuangan pemerintah sehingga Indonesia menjadi benchmark di level Asia. “Beliau bisa melihat potensi sumber daya manusia di DJPb dengan baik sehingga memacu timnya berprestasi dengan baik,” ungkap Arif.  

Bagi Sudarto, Staf Ahli Menkeu, Marwanto adalah atasan, mentor, dan teman. “Saya belajar banyak hal dari beliau. Pak Marwanto satu-satunya eselon I yang bersikap egaliter. Saya bisa berdiskusi bebas, bahkan berantem dalam diskusi itu hal yang biasa. Semua diberi ruang untuk menyampaikan pendapat. Bahkan stafnya di Kanwil Perbendaharaan dan KPPN didorong untuk melakukan inovasi. Hanya Pak Marwanto yang mampu melakukan ini. Di sini terlihat sekali kemampuan manajerial Pak Marwanto dalam mengelola diskusi dan menampung argumen, dan inilah yang membuat Ditjen Perbendaharaan maju dan berkembang. Di era Pak Marwanto menjadi Dirjen, DJPb meraih penghargaan paling banyak,” kata Sudarto. 

Pak Marwanto satu-satunya eselon I yang bersikap egaliter. Saya bisa berdiskusi bebas, bahkan berantem dalam diskusi itu hal yang biasa. Semua diberi ruang untuk menyampaikan pendapat. Bahkan stafnya di Kanwil Perbendaharaan dan KPPN didorong untuk melakukan inovasi. Hanya Pak Marwanto yang mampu melakukan ini. Di sini terlihat sekali kemampuan manajerial Pak Marwanto dalam mengelola diskusi dan menampung argumen, dan inilah yang membuat Ditjen Perbendaharaan maju dan berkembang. Di era Pak Marwanto menjadi Dirjen, DJPb meraih penghargaan paling banyak.

SUDARTO, STAF AHLI MENKEU

Untuk memompa semangat 7.400 pegawai di 183 KPPN dan 34 Kanwil Perbendaharaan di pelosok Indonesia, yang berada di garda paling depan dan yang berhubungan dengan masyarakat, Marwanto sering “menyapa” mereka, salah satunya dengan melakukan kunjungan ke KPPN di pelosok di timur Indonesia. 

Marwanto membenahi layanan publik di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara atau KPPN yang tersebar di seluruh Indonesia, dan berupaya agar KPPN mendapatkan sertifikat ISO 9001 yang menunjukkan pelayanannya sudah berstandar internasional.  Umumnya korporasi yang berupaya mengejar sertifikat ISO ini.

Ketika Marwanto mulai memimpin Ditjen Perbendaharaan, dia bertekad untuk bisa membawa DJPb menjadi institusi yang dipercaya (well trusted) karena mengelola ribuan triliun rupiah dana APBN.  Semua pencairan dana APBN dilakukan melalui 183 KPPN.

Marwanto juga berupaya mengembangkan potensi anak-anak muda untuk meningkatkan pelayanan di DJPb.  Dia menantang anak-anak muda yang muda yang energik lulusan STAN untuk menciptakan ide yang inovatif untuk meningkatkan pelayanan yang ramah di KPPN. Banyak ide cemerlang yang masuk ke mejanya.

Selama Marwanto menjabat Direktur Jenderal Perbendaharaan, LKPP meraih Opini WTP tiga tahun berturut-turut dari Badan Pemeriksa Keuangan . Mempertahankan Opini WTP bukan tugas yang mudah tetapi mampu dilaksanakan Marwanto. Makna WTP tiga tahun berturut-turut ini menunjukkan kepemimpinan Marwanto yang berintegritas. “Mengoordinasikan seluruh kementerian dan lembaga untuk menyusun laporan keuangan dengan benar, tepat waktu dan tepat asas, dan selanjutnya melakukan  konsolidasi laporan keuangan pemerintah pusat dalam LKPP merupakan kerja besar yang memerlukan semangat kerja sama dan sinergi yang  besar sekali,”  ungkap Marwanto menanggapi ini. 

⁣Tahun 2020, BPK telah memeriksa LKPP Tahun 2019, termasuk  Laporan Keuangan Bendahara Umum Negara (LKBUN) 2019 dan memberikan Opini WTP atas keduanya.  Opini terbaik dari empat kategori opini pemeriksaan atas laporan keuangan. Ini merupakan kali keempat  Pemerintah memperoleh Opini WTP sejak LKPP Tahun 2016.⁣  LKPP 2019 ini “setengah” hasil kerja keras Marwanto, dan “setengah” lainnya upaya Dirjen Perbendaharaan yang baru.

Wakil Menteri Keuangan periode 2014-2019 Mardiasmo mengatakan, dengan pengalamannya bertugas di beberapa posisi strategis sebelumnya, Marwanto mampu dengan cermat melakukan koordinasi dan komunikasi dengan stakeholder LKPP, dari awal penyusunan laporan, proses audit,  hingga pertemuan trilateral dengan BPK untuk membahas berbagai temuan saat itu. Koordinasi tersebut dilanjutkan sampai dengan monitor dan evaluasi bersama  atas berbagai langkah tindak lanjut  hasil pemeriksaan BPK.

“Berkat kerja keras yang dilakukan bersama dengan tim dan pemangku kepentingan LKPP, maka LKPP 2016 akhirnya mendapat Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Opini tertinggi dalam ranah audit pengelolaan keuangan negara ini  baru dapat dicapai setelah Indonesia menyusun LPPP selama dua belas tahun, sejak tahun 2004. Malahan ini merupakan Opini WTP pertama sejak Indonesia melaksanakan  kegiatan pemerintahan dan pembangunan  dengan APBN , sejak kita merdeka,” papar Mardiasmo dalam Prolognya. 

Marwanto tidak hanya berhasil melakukan reformasi birokrasi di internal Direktorat Jenderal Perbendaharaan, namun lebih dari itu,  Marwanto juga berhasil melaksanakan reformasi birokrasi pada instansi lain di luar Direktorat Jenderal Perbendaharaan, yaitu di tubuh Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Salah satu legacy Marwanto Harjowiryono adalah Museum Perbendaharaan di Kota Bandung, Jawa Barat. Museum ini menyimpan berbagai koleksi benda yang digunakan dalam pelaksanaan tugas di bidang perbendaharaan negara, dan catatan peristiwa penting sejarah pelaksanaan dan pertanggungjawaban keuangan negara di Indonesia.

Di era Marwanto, Hari Bakti Perbendaharaan ditetapkan setiap 14 Januari . Hari Perbendaharaan dapat menjadi media penguat esprit de corps DJPb mengingat institusi ini mempunyai pegawai dengan latar belakang unit dan pengalaman berbeda, serta merupakan bagian dari komunikasi publik DJPb.

Salah satu legacy Marwanto Harjowiryono adalah Museum Perbendaharaan di Kota Bandung, Jawa Barat. Museum ini menyimpan berbagai koleksi benda yang digunakan dalam pelaksanaan tugas di bidang perbendaharaan negara, dan catatan peristiwa penting sejarah pelaksanaan dan pertanggungjawaban keuangan negara di Indonesia.

Selain itu, di era Marwanto, program pembiayaan kredit ultra mikro dicanangkan. Program ini terbukti bermanfaat bagi masyarakat lyang tidak tersentuh perbankan (unbankable) dan belum terfasilitasi melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Bahkan pada masa pandemi ini, kredit ultra mikro makin terasa manfaatnya. 

Di era Marwanto, program pembiayaan kredit ultra mikro dicanangkan. Program ini terbukti bermanfaat bagi masyarakat lyang tidak tersentuh perbankan (unbankable) dan belum terfasilitasi melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Bahkan pada masa pandemi ini, kredit ultra mikro makin terasa manfaatnya. 

Di era Marwanto pula, laporan SPJ disederhanakan dari 44 menjadi dua. Ini didorong oleh arahan  Presiden Joko Widodo yang mengungkapkan keheranannya melihat banyak Aparatur Sipil Negara yang masih berada di kantor hingga larut malam untuk menyelesaikan SPJ.  

Marwanto juga menginisiasi cash management, manajemen kas negara, dengan menyederhanakan 35.000-an rekening pemerintah menjadi 1.000 rekening saja. Inovasi yang dilakukan Marwanto adalah memperkenalkan  rekening virtual (virtual account) yang mengurangi banyak rekening. Jika sebelumnya satu kementerian memiliki 200 rekening misalnya, kini cukup satu rekening virtual, semua bisa dilakukan dengan mudah. Reformasi dalam manajemen kas negara ini mengefisienkan pengelolaan kas. Simplifikasi dan reformasi dalam manajemen kas negara ini mengefisienkan pengelolaan kas.

Marwanto menginisiasi cash management, manajemen kas negara, dengan menyederhanakan 35.000-an rekening pemerintah menjadi 1.000 rekening saja. Inovasi yang dilakukan Marwanto adalah memperkenalkan  rekening virtual (virtual account) yang mengurangi banyak rekening. Jika sebelumnya satu kementerian memiliki 200 rekening misalnya, kini cukup satu rekening virtual, semua bisa dilakukan dengan mudah.

DYDYK CHOIROEL, DIREKTUR PENGELOLAAN KAS NEGARA

Didyk Choiroel, Direktur Pengelolaan Kas Negara mengungkapkan ikut terlibat dalam beberapa kebijakan yang dibuat Marwanto, di antaranya memberi kewenangan kepada kantor-kantor KPPN di daerah untuk menyalurkan dana desa dan dana alokasi khusus (DAK).

Pada tahun anggaran 2017, pada era Marwanto menjabat Dirjen Perbendaharaan, Dana Desa yang berasal dari dana APBN mulai disalurkan melalui KPPN untuk 74.882 desa di seluruh Indonesia – kecuali DKI Jakarta yang tidak mempunyai wilayah dengan struktur pemerintahan desa.  Selain Dana Desa, Dana Alokasi Khusus untuk pemerintah daerah juga disalurkan lewat KPPN. Dalam hal ini, KPPN berperan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) Penyaluran Dana Desa maupun Dana Alokasi Khusus Fisik.

Pada tahun anggaran 2017, pada era Marwanto menjabat Dirjen Perbendaharaan, Dana Desa yang berasal dari dana APBN mulai disalurkan melalui KPPN untuk 74.882 desa di seluruh Indonesia – kecuali DKI Jakarta yang tidak mempunyai wilayah dengan struktur pemerintahan desa.

Salah satu pengalaman berkesan RM Wiwieng Handayaningsih bekerja bersama Marwanto Harjowiryono (saat itu Dirjen Perbendaharaan) adalah ketika dia menjabat Direktur Sistem Perbendaharaan dan menetapkan jabatan fungsional. Konsep ini disusun pada akhir 2018. Dengan diterbitkannya Peraturan Menteri PAN-RB pada September 2018,  amanah Undang-undang No 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan sudah terwujud.  

Selain itu, Direktorat Sistem Perbendaharaan berhasil menyusun sertifikasi bendahara. Dengan dinamika yang ada, sertifikasi bendahara sempat terancam tidak terealisasi karena dikhawatirkan akan menelan banyak biaya. “Tetapi nyatanya malah tak ada biaya yang dikeluarkan untuk sertifikasi bendahara. Pak Marwanto mendukung upaya kami, mendorong agar sertifikasi bendahara terealisasi dengan bekerja sama dengan BPK, berdiskusi dengan banyak pihak, termasuk dengan Bank Dunia, dengan Sekjen dan Biro Hukum Kementerian Keuangan,” ungkap Wiwieng, saat ini Sekretaris Ditjen Perbendaharaan.

Pak Marwanto mau turun ke bawah. Saat kami harus lembur, tengah malam, Pak Marwanto tiba-tiba hadir menyemangati kami dan jajaran Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan. Buat kami dan tim, ini sesuatu banget. Sangat memotivasi kami. Menyusun laporan keuangan membutuhkan ketelitian dan kadang kami merasa jenuh ketika berhadapan dengan angka-angka. Tetapi tidak boleh ada toleransi kesalahan. Dalam situasi seperti itulah, Pak Marwanto turun langsung menyemangati kami.

R. WIWIN ISTANTI, DIREKTUR AKUNTANSI DAN PELAPORAN KEUANGAN

Pengalaman berkesan R. Wiwin Istanti, Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan, dalam menyelesaikan tugas berat di antaranya Wiwin menilai Marwanto sangat concern dengan segala pekerjaan. “Pak Marwanto mau turun ke bawah. Saat kami harus lembur, tengah malam, Marwanto tiba-tiba hadir menyemangati kami dan jajaran Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan. Buat kami dan tim, ini sesuatu banget. Sangat memotivasi kami,” ungkap Wiwin. “Menyusun laporan keuangan membutuhkan ketelitian dan kadang kami merasa jenuh ketika berhadapan dengan angka-angka. Tetapi tidak boleh ada toleransi kesalahan. Dalam situasi seperti itulah, Pak Marwanto turun langsung menyemangati kami,” papar Wiwin.

Banyak inovasi muncul di era kepemimpinan Marwanto saat menjabat Dirjen Perbendaharaan, mulai dari Tapera (Tabungan Perumahan Rakyat), perbaikan tata kelola PK BLU sampai pembenahan SMI. Di era Marwanto, BLU digunakan secara tepat sebagai alat untuk mengendalikan cash management.  Pusat Investasi Pemerintah kini menjadi cangkang bagi Direktorat SMI yang  menyalurkan dana APBN ke LKBB dalam program pembiayaan ultra mikro untuk diteruskan kepada masyarakat yang tidak tersentuh perbankan. “Di era Marwanto juga lahir Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS),” kata Djoko Hendratto, yang pernah menjabat Direktur Sistem Manajemen Investasi. 

Di era Marwanto juga lahir Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

DJOKO HENDRATTO, PERNAH MENJABAT DIREKTUR SISTEM MANAJEMEN INVESTASI

Ari Wahyuni, Direktur Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum menilai, Marwanto pemimpin yang prudent, hati-hati sekali. Ini sangat berkesan bagi dia. Mulai dari membereskan utang macet sampai memberdayakan UMKM. Bersama Marwanto, Ari membereskan database perjanjian PLN, Pertamina, PDAM, dan BUMN/BUMD lainnya. Mereka mengawal dana bantuan Rp 70 triliun dari Bank Dunia, ADB, Jerman dan lainnya. Mereka meneliti dokumen perjanjian, dan ternyata sekitar 1.000-an dokumen tersebut hilang. 

Bersama Marwanto, Ari membereskan itu, menagih utang ke pemda-pemda (dan pemda meneruskannya ke PDAM masing-masing). Utang 107 PDAM di berbagai daerah sangat banyak dan umumnya mereka tak mampu membayarnya. Semua utang macet. Dia dan Marwanto bisa menyelesaikannya dengan  menagihkannya ke pemda. Mereka minta pemda ikut bertanggung jawab. Kalau tidak, Kemenkeu akan memotongnya melalui Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus. Ketika menghapuskan utang macet 107 PDAM, prosesnya luar biasa. Persoalan ini diselesaikan dengan cara hibah pemerintah pusat ke pemda, dan dari pemda ke PDAM dalam penyertaan modal daerah. Peran Marwanto dalam menyelesaikan utang PDAM ini mendapat apresiasi dari Jajaran Kantor Wapres yang sejak awal memang  sangat mendorong penyelesaian masalah ini. 

Sudarso, Direktur Pelaksanaan Anggaran berpendapat, salah satu inisiatif strategis DJPb di era Marwanto adalah jabatan fungsional di bidang perbendaharaan. Semangatnya untuk meningkatkan kompetensi penyelenggara pengelolaan keuangan negara. Pengakuan atas kompetensi tersebut berupa jabatan fungsional. Profesionalitas bendahara negara diakui dengan melihat kinerja, dan memberi jabatan karier dan tunjangan jabatan fungsional. Namun karena perangkat peraturan belum tersedia, Marwanto berkoordinasi dengan Kementerian PAN-RB, untuk segera menyetujui landasan  legal terbentuknya  jabatan fungsional perbendaharaan.

Di era Marwanto, Direktorat Jenderal Perbendaharaan satu-satunya unit pemerintah yang memiliki data pegawai yang sangat lengkap, berikut riwayat histori penghasilannya. Berbekal database ini juga, Ditjen Perbendaharaan dapat menghitung jumlah iuran jumlah pensiun, tabungan hari tua, iuran BPJS Kesehatan, dengan sangat akurat.

AGUNG YULIANTA, DIREKTUR SISTEM PERBENDAHARAAN

Agung Yulianta, Direktur Sistem Perbendaharaan mengatakan, di era Marwanto, Direktorat Jenderal Perbendaharaan satu-satunya unit pemerintah yang memiliki data pegawai yang sangat lengkap, berikut riwayat histori penghasilannya. Berbekal database ini juga, Ditjen Perbendaharaan dapat menghitung jumlah iuran jumlah pensiun, tabungan hari tua, iuran BPJS Kesehatan, dengan sangat akurat. Bahkan TNI memanfaatkan database ini untuk kebijakan SDM mereka. 

Syafriadi, kini Kepala Kanwil Perbendaharaan Provinsi Aceh mengungkapkan,  Marwanto berhasil menata organisasi, menyempurnakan, memperbaiki yang kurang, dan menjadikan Ditjen Perbendaharaan sebagai benchmark bagi unit kerja yang lain. 

***

Bab Kesepuluh, bab pamungkas dalam buku ini memuat pendapat istri dan anak-anak tentang  Marwanto sebagai suami dan ayah. Marwanto mendukung istrinya untuk tetap berkarier dan bekerja agar mandiri.  Bagi Nur Shabrina Listiyani, si anak sulung, Marwanto adalah sosok ayah yang sederhana, pekerja keras, berhati lembut, positive thinking, penuh perhatian, detail oriented, reminder, membuat orang tegar dan penenang hati.

Bhaskara Adiwena, anak kedua, menyerap tiga pembelajaran hidup dari sang ayah, yaitu pribadi yang berintegritas, pribadi yang bersahaja, dan pribadi yang menbantu banyak orang.

Malinda Ghassani, si anak bungsu, mengatakan, setiap kali dia mengalami kesulitan, kata-kata yang selalu diingatnya dari sang ayah adalah, “Be tough, you can do it! Ingat ada Allah yang selalu membantu kamu.” Kata-kata itu selalu membangkitkan semangat Malinda dalam keadaan sulit. 

Dalam bab ini diungkapkan juga filosofi Jawa yang memengaruhi kehidupan Marwanto. Urip iku urup. Hidup itu cahaya. Hidup itu cahaya yang menyala, dan berfungsi menerangi sekitarnya. Filosofi Jawa lainnya yang melekat pada dirinya adalah  ngluruk tanpo bolo; menang tanpo ngasorake; sekti tanpo aji-aji; sugih tanpo bondho. Berjuang  ke medan laga tanpa perlu membawa massa; menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan, kekayaan atau keturunan; kaya tanpa didasari kebendaaan atau orang merasa kaya tanpa harus memiliki harta. 

Robert Adhi Ksp, 14 September 2020 

CATATAN: Dikutip dari “Catatan Penulis” dalam buku biografi profesional “Marwanto Harjowiryono, Maestro Simfoni Perbendaharaan”

Buku ke-13 yang ditulis Robert Adhi Ksp adalah “Marwanto Harjowiryono, Maestro Simfoni Perbendaharaan — Pengawal ‘Die-Hard’ APBN, Pendobrak Reformasi Birokrasi”.

***

Buku ke-12

AB Susanto, Sang Begawan Konsultan Bisnis Keluarga

Pada pekan ketiga bulan April 2020, telepon seluler saya berdering. Pak Rikard Bagun menelepon saya dan memberitahu bahwa Pak AB Susanto, Founder dan Chairman Jakarta Consulting Group, perusahaan jasa konsultan terkemuka di Indonesia, akan merayakan ulang tahun ke-70 pada 9 September 2020. Pak AB bermaksud membuat buku perjalanan hidupnya dan Pak Rikard merekomendasikan nama saya untuk menuliskan dan menuangkannya dalam buku. 

Ini kali ketiga Pak Rikard Bagun merekomendasikan nama saya untuk menulis biografi pengusaha. Pertama,  biografi Johnny Widjaja, Cuplikan Kehidupan (Sintesa Publisher) yang ditulis menyambut HUT ke-80 Johnny Widjaja pada 30 Maret 2014. Kedua, biografi Sofjan Wanandi dan Tujuh Presiden (Penerbit Buku Kompas) yang ditulis menyambut Pesta Emas Perkawinan Sofjan Wanandi dan istrinya Riantini pada 5 Mei 2018. Untuk kesempatan ini, saya menyampaikan terima kasih kepada Pak Rikard Bagun.

Wawancara dengan Pak AB Susanto dilakukan 17 kali sejak 27 April hingga 16 Juni 2020 melalui aplikasi Zoom, WhatsApp video call, dan telepon. Hal ini dilakukan mengingat buku ini ditulis pada masa pandemi Covid-19. Selain itu saya juga mewawancarai dan mengolah testimoni 70 narasumber tentang sosok AB, mulai dari istri, anak, cucu, saudara kandung, sepupu, ipar, kerabat, sahabat, karyawan, mantan staf, sampai pada klien-klien penting Jakarta Consulting Group dan sejumlah tokoh nasional.

Ini merupakan kali pertama saya menulis buku berdasarkan wawancara melalui Zoom, WhatsApp video call, dan telepon. Pada buku-buku biografi yang saya tulis sebelumnya, saya selalu datang bertatap muka menemui narasumber. Namun masa pandemi Covid-19 telah mengubah banyak hal, termasuk cara mewawancarai narasumber dengan memanfaatkan teknologi terkini. 

Catatan kaki yang ada dalam buku ini  merupakan pertanggungjawaban saya sebagai penulis agar pembaca mengetahui asal-usul isi buku ini. 

Buku ini diberi judul AB Susanto, Sang Begawan Konsultan Bisnis Keluarga dengan sub-judul Menapak Persada, Melintasi Cakrawala. Saya dan Pak AB Susanto mendiskusikan judul ini pada Jumat 19 Juni malam, menjelang finalisasi buku ini. Diberi judul AB Susanto, Sang Begawan Konsultan Bisnis Keluarga karena “roh” buku ini memang tentang family business,  yang menjadi keahlian utama AB Susanto sebagai konsultan  selama ini. 

pastedGraphic.png
Wawancara penulis dengan AB Susanto pada masa pendemi Covid-19 dilakukan melalui Zoom dan WA video call (atas). Demikian pula wawancara dengan narasumber lainnya untuk melengkapi isi buku ini, dengan dr Frans Tshai (bawah kiri) dan dengan Gandi Sulistiyanto (bawah kanan). Foto dokumentasi Robert Adhi Ksp

Kata-kata Menapak Persada, Melintasi Cakrawala pada subjudul buku bermakna AB Susanto menjejakkan kaki di Tanah Air dengan mengamalkan berbagai ilmu yang dimilikinya dalam aneka kegiatan. Selain begawan dalam konsultasi tentang family business, AB memang memiliki banyak keahlian lainnya, mulai sebagai gemologist (ahli perhiasan, berlian) sampai sebagai gerontologist (ahli tentang lanjut usia), dari pakar Konfusianisme sampai pakar Manajemen Bela Negara. 

Buku ini bukan hanya mengisahkan perjalanan hidup AB Susanto semata, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai yang relevan dengan masa kini. Ini tercermin dari testimoni mantan staf AB Susanto -kaum milenial. Buku ini layak dibaca oleh semua kalangan, tidak terbatas pada mereka yang sudah berumur, yang sarat dengan pengalaman dan penuh kebijaksanaan (wisdom), tetapi juga patut dibaca oleh generasi milenial. Anak-anak muda dapat memetik pelajaran dari nilai-nilai kehidupan seorang AB Susanto. 

***

Dalam prolognya, Lilik Oetama, CEO Kompas Gramedia mengungkapkan, sudah menjadi keharusan melakukan transformasi pengelolaan perusahaan dari manajemen yang bersifat tradisional kekeluargaan ke sistem manajemen modern yang lebih terbuka. Proses transformasi tentu saja tidak selalu gampang, perlu dipandu oleh praktisi berpengalaman seperti AB Susanto. 

Sudah menjadi keharusan melakukan transformasi pengelolaan perusahaan dari manajemen yang bersifat tradisional kekeluargaan ke sistem manajemen modern yang lebih terbuka. Proses transformasi tentu saja tidak selalu gampang, perlu dipandu oleh praktisi berpengalaman seperti AB Susanto. 

LILIK OETAMA, CEO KOMPAS GRAMEDIA

Gandi Sulistiyanto, Managing Director Sinar Mas dalam Prolognya menilai, apa yang disampaikan AB Susanto tidak sekadar teori tapi juga berhasil dalam praktik. Ini terbukti dari bisnis konsultan yang didirikan AB pada 1983, kini sudah dipimpin putrinya, Patricia Susanto.

Prijono Sugiarto, Presiden Komisaris PT Astra International Tbk,  dalam Prolog mengatakan, hingga mencapai usia 70 tahun, AB Susanto masih bekerja sebagai Chairman JCG. Padahal biasanya bila sudah memasuki usia pensiun, orang memilih menikmati hidupnya. Tetapi AB Susanto tetap mengikuti perkembangan bisnis di era digital dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Biasanya bila sudah memasuki usia pensiun, orang memilih menikmati hidupnya. Tetapi AB Susanto tetap mengikuti perkembangan bisnis di era digital dan adaptif terhadap perubahan zaman.

PRIJONO SUGIARTO, PRESIDEN KOMISARIS PT ASTRA INTERNATIONAL TBK

Rikard Bagun, Direktur Utama Kompas TV yang pernah menjadi Pemimpin Redaksi danWakil Pemimpin Umum Harian Kompas yang menulis Epilogmenilai, proses belajar mengajar terus-menerus dilakukan AB Susanto. Tidak hanya menjadi praktisi, tetapi secara paralel mengembangkan diri sebagai akademisi sampai menggapai posisi bergengsi guru besar, profesor, dalam bidang manajemen bisnis. 

Buku ini terdiri dari sembilan Bab, dan setiap bab mengisahkan episode perjalanan hidup AB Susanto. Bab Satu mengisahkan episode masa kecil AB Susanto yang penuh warna-warni. 

Sahabatnya pada masa SMA di Kolese de Britto Yogyakarta, FX Sri Martono dalam testimoninya menilai AB Susanto tidak membedakan atau memilih teman berdasarkan status sosial. Martono ingat pada saat kelas II SMA, dia dirawat di RS Panti Rapih, AB menjenguknya. 

Bab Dua menceritakan episode masa mudanya saat kuliah di Jerman, dan Bab Tiga tentang episode masa dewasa setelah AB Susanto mulai bekerja di Schering.

Bab Empat merupakan episode saat AB mendirikan dan mengembangkan Jakarta Consulting Group. Bab Empat mendapat porsi halaman relatif banyak, terutama mengupas tentang bidang family business atau bisnis keluarga yang menjadi keahlian AB Susanto sebagai konsultan selama ini, sekaligus menjadi “roh” buku biografi ini. 

Bab ini juga memuat testimoni delapan klien utama AB dan JCG yang untuk jangka waktu yang lama bersama dalam program konsultasi dan sebagian putra-putrinya di-coaching AB Susanto yang menangani perusahaan keluarga mereka. Bab ini juga memuat testimoni sejumlah karyawan dan mantan karyawan JCG tentang AB Susanto. 

Delapan klien utama JCG yang saya wawancarai mengungkapkan bahwa AB Susanto memang begawan dalam konsultasi tentang bisnis keluarga. Stefanus Lo, pemilik PT Central Mega Kencana yang memiliki brand-brand  Mondial Jeweler, Miss Mondial, Frank & Co, dan The Palace misalnya, menyebutkan AB Susanto seorang yang sangat langka karena memiliki tiga keahlian sekaligus sebagai negosiator, komunikator, dan mediator yang ulung. 

Wulani Wihardjono, pendiri dan pemilik Tatalogam Lestari mengakui, setelah perusahaannya dibedah oleh AB Susanto dan tim JCG, hal-hal yang selama ini tersembunyi antara anak dan orangtua menjadi terbuka semua. Menurut Wulani, AB Susanto tokoh yang tepat untuk membantu dia membenahi perusahaan keluarganya. 

Soedomo Mergonoto, pendiri dan pemilik Kapal Api Group menyebutkan perusahaannya sudah sembilan tahun menjadi klien JCG. Dia menilai  AB Susanto berpengalaman menangani problem dan mencari solusi yang terjadi  dalam perusahaan-perusahaan keluarga. 

Lalu apa kata staf dan mantan karyawan JCG tentang AB Susanto? Direktur JCG Himawan Widjanarko menilai, AB Susanto adalah tipe pemimpin yang tidak kenal menyerah.  Filosofi Pak AB adalah kita tidak boleh menyerah dengan keadaan tetapi kita harus “menunggangi keadaan”.

Bagi Dyah Suyono, Office Manager dan HR JCG, yang bekerja sejak tahun 2000, “Pak AB tahu cara mempersuasi orang sehingga apa yang diharapkannya tercapai.  Pak AB mampu memilah-milah bagaimana berkomunikasi dengan klien, dengan pebisnis, dengan satpam, ataupun dengan office boy, sehingga semuanya segan dan tetap hormat pada beliau.” 

Bagi Grace Lim, Personal Assistant AB Susanto 2008-2010, “Sosok AB inspiratif banget, seorang yang baik, sangat pandai dan berwawasan luas. “Pak AB seorang pemimpin yang sangat diidolakan bawahan karena beliau memimpin dengan sangat baik. Kami sayang banget dengan Pak AB.”

Di JCG, Glory Oyong belajar banyak dari AB Susanto, bagaimana melakukan komunikasi ke luar, bagaimana AB sebagai pimpinan mau turun ke lapangan, menyapa masyarakat penderita kusta. “Ini pelajaran bagi saya bahwa pimpinan yang memberi teladan akan lebih berdampak dibandingkan pimpinan yang hanya memberi arahan. Saya diajari bahwa seorang pimpinan tidak hanya menyuruh tetapi juga wajib memberi contoh,” kata Glory Oyong,  saat ini bekerja di Kompas Gramedia. 

Bagi Vesperina Ujudeda, AB Susanto sosok yang luar biasa karena mampu mendidik orang biasa seperti dia menjadi seseorang. “Saya dididik dalam hal pola pikir, dari seorang perawat biasa -setelah bekerja dengan Pak AB- saya akhirnya mampu membuka usaha home care sendiri berkat Pak AB,” kata Vesperina, Special Health  Assistant AB Susanto periode 2014-2017.

Bab Lima merupakan episode pengalaman AB dalam berbagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, mulai dari Forum Masyarakat Katolik Indonesia sampai Gempita yang peduli pada penderita lepra. 

Salah satu testimoni dalam bab ini diberikan oleh Mgr Ignatius Kardinal Suharyo Pr. Uskup Agung Jakarta itu menilai, mediasi yang diambil oleh  AB Susanto sangat bermacam-macam: giat di berbagai macam forum, politik, sosial kemasyarakatan, bisnis dan sekian banyak yang lain. Dengan inspirasi iman, melalui mediasi yang dipilih, akan terjadi transformasi sosial. 

Bab Enam mengisahkan episode musibah medis yang pernah dialami AB Susanto pada 2008, yang menyebabkan kaki kirinya lumpuh. Semangat AB membuat dirinya cepat pulih.

Bab Tujuh menguraikan episode pencapaian tertinggi AB Susanto dalam dunia akademis yaitu meraih Guru Besar dan gelar Profesor. Bab ini dilengkapi dengan uraian tentang keahlian AB dalam memediasi konflik dan tentang publikasi jurnal serta buku-buku yang pernah ditulis AB Susanto. 

Purnomo Yusgiantoro, mantan Menteri ESDM dan mantan Menteri Pertahanan dalam testimoninya menilai,  AB Susanto memiliki prinsip yang sejalan dengan prinsipnya yaitu bekerja sambil belajar dan belajar sambil bekerja. Dengan prinsip long life study, sudah sepatutnya Pak AB menyandang Guru Besar (Profesor). 

Bab Delapan  merupakan episode keluarga. Diawali dengan  kisah perjodohan Pak AB dengan Ibu Suhartati, bab ini dilengkapi dengan testimoni istri, dua anak, dan tujuh cucu, serta 10 saudara kandung dan 7 sepupu, ipar, kerabat tentang sosok AB Susanto.

Menurut Patricia Susanto, “Papa selalu mengatakan, bila menghadapi masalah, cari jalan tengahnya, dan keputusan yang dibuat harus keputusan bersama. Dan Papa selalu memberi dukungan penuh.” Patricia menjabat CEO Jakarta Consulting Group (JCG) sejak September 2010. 

Adik AB Susanto, Dipl Ing Budi Singputramas menilai, sejak kuliah di Jerman, kakaknya sudah menonjol dan di atas rata-rata. Tak hanya lulus sebagai dokter, kakaknya  juga mengambil program Doktor dengan spesialisasi diabetes. Sedangkan dokter Philipus Budi Agung menilai, AB Susanto adalah contoh seorang kakak yang mandiri bagi adik-adiknya. Ketika AB kuliah di Jerman, tidak semua pengeluaran AB dibiayai orangtua. AB memperoleh beasiswa yang gemuk  di negeri orang dan tidak mengandalkan kiriman uang dari Yogyakarta.

Dalam usianya ke-70, AB Susanto tetap aktif meski sebenarnya dia berhak untuk menikmati hidup pada usia senjanya. “Saya masih sering berpikir, kok hari ini saya tidak ngapa-ngapain. Padahal sebenarnya tidak ngapa-ngapain juga baik karena itu bagian dari keseimbangan hidup,” ungkap AB.

Pada bab Sembilan, bab terakhir buku ini, AB membagikan kiat untuk bahagia di usia senja dan tetap berkualitas.  AB memperkenalkan konsep QARL yang memiliki empat komponen, yaitu memiliki quality of ageing, realigning (menyelaraskan kembali) dan losening attachment (melepaskan keterikatan).

Rudhy Lontoh, pengacara senior dalam testimoninya mengatakan, orang yang menguasai banyak bidang ilmu dan pengetahuan, pada umumnya  tinggi hati. Tetapi AB Susanto sangat humble. Ibaratnya, punya ilmu sekampung, tetapi AB tetap low profile. Amal AB sangat besar, tidak pelit, dan tidak hitungan. Sampai-sampai saya mengatakan kepada AB Susanto, satu kek yang jelek dari Anda,” kata Rudhy. 

***

Dalam kesempatan ini, saya menyampaikan terima kasih kepada Pak AB Susanto yang memberi kepercayaan kepada saya untuk menulis biografinya. Saya  selalu “mengganggu” Pak AB setiap saat – bahkan pada dinihari saat waktu tidur nyenyak – untuk memastikan akurasi data dan angka. Kadang Pak AB dengan cepat memberi jawaban melalui pesan WhatsApp -entah bagaimana, kok Pak AB juga begadang padahal kami tidak pernah janjian

Izinkan saya mengucapkan selamat ulang tahun ke-70 kepada Pak AB Susanto, 9 September 2020. Semoga Bapak tetap sehat dan selalu menjadi berkat bagi banyak orang. 

Akhir kata, semoga buku AB Susanto, Sang Begawan Konsultan Bisnis Keluarga – Menapak Persada, Melintasi Cakrawala ini bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi pembaca. 

Robert Adhi Ksp

21 Juni 2020

(DIKUTIP DARI CATATAN PENULIS DALAM BUKU BIOGRAFI “AB SUSANTO, SANG BEGAWAN KONSULTAN BISNIS KELUARGA – MENAPAK PERSADA, MELINTASI CAKRAWALA, PENERBIT BUKU KOMPAS, 2020)

***

Buku ke-11 (Agustus 2019)

“Jonner Napitupulu: The Inspiring Story – Sebuah Biografi”

buku-jonner5-ksp
Sampul buku “The Inspiring Story – Sebuah Biografi Jonner Napitupulu”

Buku ke-11 yang saya tulis dan diterbitkan berjudul “The Inspiring Story: Sebuah Biografi Jonner Napitupulu”. Buku ini diterbitkan Gramedia Pustaka Utama dan diluncurkan pada 9 Agustus 2019 bertepatan dengan HUT ke-60 Emma Siahaan (istri Jonner Napitupulu).

Buku ini memuat kisah kehidupan Jonner Napitupulu, pengusaha asal Medan, Konsul Kehormatan Polandia di Medan, seorang Doktor lulusan Leeds University, Inggris. Diberi judul “The Inspiring Story” karena kisah kehidupan Jonner memberi inspirasi bagi anak-anak muda yang masih berjuang untuk tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita dan impian.

Diberi judul “The Inspiring Story” karena kisah kehidupan Jonner memberi inspirasi bagi anak-anak muda yang masih berjuang untuk tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita dan impian.

Lahir dari keluarga sederhana, Jonner sejak kecil sudah menunjukkan daya juang dan sikap pantang menyerah. Dia pernah membantu ayahnya menjaga kios beras di Pasar Pringgan dan membantu ibunya menjual kain di Pasar Muara Takus, Medan. “Hidup ini keras, terutama bagi keluarga yang berpenghasilan pas-pasan seperti kita. Kalian harus berhemat agar hari esok masih ada,” demikian pesan ayah Jonner, Intan Napitupulu, dan ibunya Dame boru Siagian.

Kultur masyarakat Batak rela tidak makan enak, rela tidak membeli perhiasan emas, rela tidak membeli baju baru –seperti tergambar dalam lagu karya Nahum Situmorang “Anakkon Hi Do Hamoraon di Au” (Anakku adalah harta paling indah dalam hidupku).

Banyak orangtua yang meskipun kondisi ekonomi lemah, bahkan berkekurangan, namun rela bekerja keras, membanting tulang asalkan anak-anak mereka dapat menyelesaikans sekolah, melanjutkan kuliah di perguruan tinggi dan lulus sebagai sarjana. Jonner sadar betul pengorbanan ibu dan ayahnya yang sangat bernilai bagi dirinya.

Kultur masyarakat Batak rela tidak makan enak, rela tidak membeli perhiasan emas, rela tidak membeli baju baru –seperti tergambar dalam lagu karya Nahum Situmorang “Anakkon Hi Do Hamoraon di Au” (Anakku adalah harta paling indah dalam hidupku)

bukujonner-ksp2
Saya berfoto bersama Jonner Napitupulu dalam acara peluncuran buku di Hotel JW Marriorr Jakarta, 9 Agustus 2019.

Meski tidak “extraordinary”, namun kehidupoan Jonner peniuh warna dan bervariasi. Dia pernah menjadi dosen di Fakultas Teknik Universitas Sumatra Utara (USU) Medan, juga pernah menjabat Gubernur Distrik Lions Clubs Indonesia sampai dijuluki sebagai “Gubernur Distrik Tsunami”.

Aktivitasnya sebagai Konsul Kehormatan Polandia di Medan mengharuskannya terus berkomunikasi dengan Duta Besar H.E. Beata Stoczynska. Pengalaman ini menambah eksposur kehidupannya di antara para konsul dan duta besar negara-negara sahabat Indonesia.

Bersama Ketua Umum Kadin Sumatra Utara Ivan I Batubara dan pengurus lainnya, Jonner Napitulu bersama-sama mengembangkan Kadin di provinsi tersebut. Bisnis Jonner saat ini bergerak dalam bidang “civil engineering”, infrastruktur, dan perkebunan sawit. Selama aktif di Kadin, Jonner belajar tentang bisnis, tentang perlunya membangun jejaring. Dia termotivasi kalimat, “Make friends and do business among friends and do business with busy people because busy people are effective”.

Di Perkumpulan Gaja Toba Semesta -komunitas alumni ITB yang berasal dari Sumtra Utara yang diketuai Ramles M Silalahi-, Jonner peduli membantu mengembangkan bidang pendidikan dan berharap generasi muda Batak berkarakter unggul. Tak ada jalan lain untuk meraihnya selain dengan belajar, berbuat terbaik, menguasai iptek, dan menerapkan GRIT, passion and preserverance.

bukujonner4-ksp
Saya bersama Siti Gretiani, GM Penerbit Gramedia Pustaka Utama (tengah) dan Jonner Napitupulu membahas finalisasi buku di Plaza Senayan Jakarta.

Sampai usianya saat ini (pada 2019 usianya 63 tahun), Jonner Napitupulu bersyukur memiliki istri yang setia yaitu Emma Siahaan, perkawinan mereka diberkati, sepasang putra-putri dan seorang cucu yang kehadirannya membawa suka cita dalam keluarga, juga rumah yang nyaman di Medan dan Jakarta. Jonner juga bersyukur memiliki bisnis yang masih berjalan dan menghasilkan, berkehidupan sosial: diberkati menjadi berkat bagi orang lain.

Do the best and let God do the rest,” demikian pesan Jonner yang selalu diingat putrinya, Lydia Napitupulu, sampai sekarang. “Daddy sosok superhero,” ungkap Britto tentang sosok sang ayah.

“Jonner adalah tipe lelaki yang penuh perhatian dan bertanggung jawab pada keluarga, berani mengambil inisiatif untuk bertindak kalau dia yakin itu benar. Jonner bukan tipe no action talking only,” kata Emma Siahaan, istrinya.

Jonner adalah tipe lelaki yang penuh perhatian dan bertanggung jawab pada keluarga, berani mengambil inisiatif untuk bertindak kalau dia yakin itu benar. Jonner bukan tipe no action talking only,

EMMA SIAHAAN, ISTRI JONNER NAPITUPULU

“Jonner adalah sahabat yang rendah hati dan sportif,” kata Samuel Hutagalung, sahabatnya di SD Negeri I Medan. “Sudah sepantasnya Jonner sukses dalam hidup,” ungkap Franz S Simanjuntak, sahabatnya di SMP Negeri I Medan. “Jonner adalah sahabat yang dipercaya dan menenangkan hati,” kata Sri Umiyati, sahabatnya di SMA Negeri I Medan. “Jonner sosok pendiam dan baik hati. Hidupnya rapi dan teratur,” kata Ricardo Simanjuntak, keponakannya.

“Jonner pengusaha daerah yang sukses dan salah satu prominent businessman di Medan,” kata Yasonna H. Laoly, Menteri Hukum dan HAM, sahabatnya di USU Medan. “Jonner pengusaha daerah berwawasan nasional yang berhasil mengoptimalkan network,” kata Edy Rahmayadi, Gubernur Sumatra Utara, sesama alumni SMA Negeri I Medan.

“Semoga kisah hidup Jonner yang dituangkan dalam buku ini menjadi inspirasi bagi generasi muda Batak dan kaum muda Indonesia,” kata Beata Stoczynska, Duta Besar Polandia untuk Indonesia. 

***

Buku ke-10 (Mei 2018)

“Sofjan Wanandi dan Tujuh Presiden”

SOFJAN WANANDI DAN TUJUH PRESIDEN SAMPUL-KSP2018  .jpg
Sampul buku “Sofjan Wanandi dan Tujuh Presiden – My Love for My Country” (Penerbit Buku Kompas, Mei 2018)

“Sofjan Wanandi dan Tujuh Presiden – My Love for My Country” adalah buku ke-10 saya, yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas (2018), diberi kata pengantar oleh Jusuf Kalla (Wakil Presiden), Prolog oleh Rikard Bagun, dan Epilog Jusuf Wanandi.

Buku “Sofjan Wanandi dan Tujuh Presiden” mengisahkan perjalanan hidup Sofjan Wanandi yang dikenal sebagai aktivis mahasiswa 1966 kemudian menjadi pengusaha besar yang berhasil. Sofjan mengenal dan dikenal oleh tujuh presiden Republik Indonesia sejak Sukarno sampai Joko Widodo — hanya di era BJ Habibie, Sofjan dicari-cari dan “dikerjai”.

Sofjan Wanandi memiliki pandangan jauh ke depan, kreatif menciptakan terobosan, dan memiliki energi sangat kuat ketika bekerja. Beberapa kelebihan ini dilengkapi dengan kemampuan melobinya yang prima. Tidak heran jika Sofjan menjadi pengusaha yang memiliki jaringan sangat luas.

JAKOB OETAMA

Sofjan mengalami dua “musibah” bernuansa politis, yakni pada saat Malari 1974 dan pada 1998-1999. Perjalanan hidupnya seperti yo-yo, naik-turun. Pada suatu masa dia dipuji-puji dan pada masa lain dimaki-maki. Sejak mahasiswa hingga pada usia senjanya saat ini, Sofjan tetap bersuara lantang dan kritis. Dia mengkritisi berbagai kebijakan ekonomi pemerintah yang dianggapnya tidak tepat. Itu semua karena kecintaannya pada bangsa dan negara. Cintaku untuk negaraku. My love for my country.

Saya bersama Pak Sofjan Wanandi (ketiga dari kiri), Liliek Oetama (kedua dari kanan), Luki Wanandi, putra Sofjan (kedua dari kiri), Rikard Bagun (paling kiri) dalam acara bedah buku di Hotel JW Luwansa, 2018.
Saya bersama Pak Sofjan Wanandi dan Ibu Riantini di rumah mereka di kawasan Menteng, Januari 2018
Saya bersama Pak Sofjan Wanandi, Ibu Riantini, dan keluarga Luki Wanandi di Jepang, akhir 2017.

Pak Sofjan yang egaliter dan rendah hati

Wawancara dengan Pak Sofjan Wanandi secara intensif dilakukan pada bulan Oktober, November, Desember 2017, berlanjut pada Januari dan Februari 2018. Koreksi dan tambahan bahan dan finalisasi dilakukan pada Maret dan April 2018.

Sungguh asyik mendengarkan kisah perjalanan hidup Pak Sofjan Wanandi sejak awal hingga akhir. Sebagai triple-minority, sebagai seorang chinese, Katolik, dan berasal dari Padang (luar Jawa). Sofjan mampu membuktikan bahwa dia mencintai bangsa dan negara Indonesia secara total.

Selain teguh memegang prinsip, Sofjan Wanandi adalah sosok yang sangat berkomitmen terhadap pluralisme. Pak Sofjan adalah sosok yang berwawasan luas namun tetap membumi.

YENNY WAHID, PUTRI KEDUA (ALM ) KH ABDURRAHMAN WAHID

Banyak kisah menarik yang diungkap Pak Sofjan secara blak-blakan, dan menurut dia, baru diceritakan kepada saya (penulis). Terutama bagaimana dia ikut berperan di balik layar dalam Pilpres 2004, Pilgub DKI 2012, dan Pilpres 2014. Juga bagaimana persahabatannya dengan Gus Dur dan Jusuf Kalla terjalin sejak puluhan tahun sebelumnya.

Sebagian besar wawancara dengan Pak Sofjan dilakukan dalam keadaan santai dan informal terutama ketika saya “menemani” Pak Sofjan dan keluarganya berlibur ke Jepang, akhir 2017. Saya tinggal hampir satu minggu di sebuah unit apartemen di Niseko, Jepang, bersama Pak Sofjan dan Ibu Riantini. Di sanalah Pak Sofjan bercerita tentang dirinyta sepanjang hari.

Banyak kisah menarik yang diungkap Pak Sofjan secara blak-blakan, dan menurut dia, baru diceritakan kepada saya (penulis). Terutama bagaimana dia ikut berperan di balik layar dalam Pilpres 2004, Pilgub DKI 2012, dan Pilpres 2014. Juga bagaimana persahabatannya dengan Gus Dur dan Jusuf Kalla terjalin sejak puluhan tahun sebelumnya.

ROBERT ADHI KSP

Yang menarik bagi saya ketika saya tinggal bersama Pak Sofjan dan Ibu, hanya terpisah oleh kamar berbeda di unit apartemen yang sama. Saya melihat keseharian Pak Sofjan dan Ibu: sangat egaliter dan rendah hati. Kami makan pagi bersama, ngopi bersama. Pernah suatu kali, alat pembuat kopi rusak. Pak Sofjan dan Ibu ikut “sibuk” membetulkan alat itu.

Pada saat malam tiba, saya disuguhi bir, wine, dan sake. Pak Sofjan tergelak melihat wajah saya cepat memerah setelah menikmati minuman beralkohol itu semua. Pernah suatu pagi saya bangun lebih siang dari biasanya. Saya tersipu malu karena saya melihat Pak Sofjan sudah membuatkan kopi.

Saya bersama Pak Sofjan Wanandi dan Ibu Riantini di Niseko, Jepang, akhir 2017.

Pada akhir 2017, hujan salju turun di Niseko setiap saat. Beberapa kali kami berjalan kaki di tengah hujan salju itu untuk mencapai restoran.

Di Jakarta, beberapa kali saya diajak Pak Sofjan untuk makan bersama di kediamannya di Jalan Gereja Theresia, Menteng, menikmati makanan khas Sumatera Barat, juga menikmati buah-buahan dari kebun di halaman rumah. “Ini mangga dari kebun kami,” kata Ibu Riantini, yang selalu menghidangkan “makanan rumahan” yang lezat.

Dalam suasana santai, akrab, dan penuh kekeluargaan itulah, saya mewawancarai Pak Sofjan Wanandi. Saya merasakan aura positif dari sosok pengusaha besar yang memulai kariernya sebagai aktivis mahasiswa 1966. Egaliter, rendah hati, energik, selalu Penuh semangat, dan menikmati usia senja bersama keluarganya dengan bahagia.

Jusuf Kalla tentang Sofjan Wanandi

Apa komentar Jusuf Kalla tentang Sofjan Wanandi yang dikenalnya sejak masa perjuangan mahasiswa tahun 1966? Saat itu Jusuf Kalla Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) cabang Sulawesi Selatan dan Sofjan Wanandi Ketua KAMI Jakarta Raya.

Di Balik Biografi “Sofjan Wanandi dan Tujuh Presiden”. Video oleh Robert Adhi Ksp

“Yang saya kagumi dari Sofjan Wanandi adalah dia memiliki jaringan yang sangat luas dan luar biasa hebat. Dia mengenal dan dikenal semua duta besar yang bertugas di Indonesia. Saya menjuluki Sofjan sebagai Ketua Korps Diplomat di Indonesia. Hampir semua duta besar negara-negara besar dan kecil, yang baru bertugas di Indonesia selalu berkonsultasi lebih dahulu dengan Sofjan Wanandi untuk bertukar pikiran tentang tugas-tugas mereka dan tentang kondisi Indonesia saat ini. Bagi saya, inilah kelebihan Sofjan Wanandi selama ini,” ungkap Jusuf Kalla dalam kata pengantar buku ini.

Sofjan Wanandi yang mengusulkan saya agar menjadi calon wakil presiden dan berpasangan dengan Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilihan presiden 2004 silam. Sofjan menginginkan ada saudagar atau pengusaha yang menjadi wakil presiden karena selama ini pengusaha sering menjadi “kambing hitam” bila terjadi apa-apa di negeri ini.

JUSUF KALLA DALAM KATA PENGANTAR BUKU

Jusuf Kalla juga membeberkan bahwa Sofjan Wanandi yang mengusulkan dia agar menjadi calon wakil presiden dan berpasangan dengan Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilihan presiden 2004 silam. Sofjan menginginkan ada saudagar atau pengusaha yang menjadi wakil presiden karena selama ini pengusaha sering menjadi “kambing hitam” bila terjadi apa-apa di negeri ini.

Saya bersama Bapak Jusuf Kalla di kantor Wakil Presiden, awal 2018

Pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012, Jusuf Kalla pernah meminta Sofjan menghubungi Ibu Megawati agar mencalonkan Joko Widodo, Wali Kota Solo, untuk menjadi calon gubernur di Jakarta. Jusuf Kalla dan Sofjan Wanandi berusaha meyakinkan Ibu Mega bahwa Jokowi pantas menjabat Gubernur DKI Jakarta.

“Pada 2014, Sofjan mengusulkan agar saya dicalonkan sebagai wakil presiden mendampingi Joko Widodo yang dicalonkan sebagai presiden. Sofjan Wanandi tidak hanya sekadar mengusulkan, tetapi juga mengajak teman-temannya di Apindo untuk mendukung kami,” ungkap Jusuf Kalla.

Pada 2014, Sofjan mengusulkan agar saya dicalonkan sebagai wakil presiden mendampingi Joko Widodo yang dicalonkan sebagai presiden. Sofjan Wanandi tidak hanya sekadar mengusulkan, tetapi juga mengajak teman-temannya di Apindo untuk mendukung kami.

JUSUF KALLA DALAM KATA PENGANTAR BUKU.

Setelah Jusuf Kalla bekerja di kantor Wakil Presiden pada 2014, dia mengajak Sofjan Wanandi menjadi Tim Ahli Wapres membantu pekerjaannya. Sofjan menerima tugas itu dengan syarat: tidak mau menerima semua fasilitas dari negara, termasuk tidak mau menerima gaji dan mobil dinas. “Saya melihat Sofjan betul-betul ingin mengabdi kepada bangsa dan negara ini secara tulus dan ikhlas,” kata Jusuf Kalla.

Nasionalisme Sofjan Wanandi tidak perlu diragukan lagi. Dia seorang pejuang bangsa yang teguh dengan prinsipnya, mencintai bangsa Indonesia dengan segenap hatinya, dan tidak rela Indonesia menjadi sarang pengusaha hitam dan sarang koruptor.

AHMAD SJAFII MAARIF, PENDIRI MAARIF INSTITUTE, KETUA UMUM PP MUHAMMADIYAH (1999-2004)

Sementara itu, Rikard Bagun menilai, gaya bicara Sofjan Wanandi yang cenderung berapi-api terkesan mencolok di tengah budaya yang serba menjaga perasaan, kurang mau berterus terang, serba terukur, dan enggan melakukan kritik. Posisi yang diambil Sofjan selalu sikap kritis, tidak mau sembunyi-sembunyi, dan penuh percaya diri.

“Sikap percaya diri Sofjan yang begitu kuat semakin menarik untuk diperbincangkan, tidak hanya dalam konteks budaya Indonesia secara keseluruhan, tetapi lebih-lebih jika diletakkan dalam kajian kosmologi dan sosiologi kontemporer Indonesia tentang ruang lingkup kehidupannya yang tergolong kompleks,” tulis Rikard dalam Prolog di buku ini.

Sikap percaya diri Sofjan yang begitu kuat semakin menarik untuk diperbincangkan, tidak hanya dalam konteks budaya Indonesia secara keseluruhan, tetapi lebih-lebih jika diletakkan dalam kajian kosmologi dan sosiologi kontemporer Indonesia tentang ruang lingkup kehidupannya yang tergolong kompleks

RIKARD BAGUN DALAM PROLOG

“Suka tidak suka, secara sosiologis, Sofjan sulit melepaskan diri dari sorotan dan mungkin juga prasangka atas identitas dirinya, terutama dari perspektif etnis, agama, dan lokalitas. Bagi kalangan yang masih mengacu dan berpijak pada paradigma komunalisme, Sofjan dapat dimasukkan ke dalam tiga lipatan kompleksitas minoritas,” ungkap Rikard.

Saya hargai segala kritik, koreksi, dan yang diperjuangkan Sofjan Wanandi. Sofjan menyampaikan koreksi terhadap kebijakan pemerintah secara baik, dengan semangat dan tanpa beban. Dia memaparkan realitas yang terjadi. Di antaranya pemerintah harus efisien dan menciptakan lapangan kerja.

SRI MULYANI, MENTERI KEUANGAN RI (2005-2010, 2016-2019, 2019-SEKARANG)

Jusuf Wanandi, abang Sofjan, dalam Epilognya mengungkapkan, kepandaian Sofjan dalam bergaul dengan banyak orang didapatkan dari ayah mereka yang berteman dengan siapa saja. “Penduduk Kota Sawahlunto sekitar 26.000 orang. Dari jumlah itu, hanya ada 100 orang keturunan tionghoa. Jadi pegaulan kami tak mungkin sebatas komunitas tionghoa. Kami harus bergaul dengan semuanya di kota itu, tanpa melihat perbedaan agama, suku, ras, dan golongan,” ungkap Jusuf.

Kepandaian Sofjan dalam bergaul dengan banyak orang didapatkan dari ayah kami yang berteman dengan siapa saja.

JUSUF WANANDI DALAM EPILOG

Sejak kecil, kata Jusuf Wanandi, mereka sudah diajak ayah ke kedai kopi, tempat ayah berdiskusi. “Kami sering mendengarkan orang-orang di kedai kopi ‘mengatur dunia’, mengupas berbagai persoalan internasional dan nasional, seakan merekalah yang ‘menentukan’ negara dan dunia ini,” papar Jusuf.

Buku ke-9 (Mei 2018)

“Strela Senjaya: A Simple Woman with a Golden Heart”

Strela Senjaya1 -cover.jpg
sampul buku “Strela Senjaya: A Simple Woman with a Golden Heart: Stella Maris School Founder” (Gramedia Pustaka Utama, Mei 2018)

A SIMPLE WOMAN WITH A GOLDEN HEART

A simple woman with golden heart. Seorang ibu sederhana berhati emas. Julukan ini sangat tepat disematkan pada Ibu Strela Senjaya, founder Stella Maris School. Strela adalah sosok perempuan yang memiliki hati yang luar biasa, yang menaburkan cinta kepada anak-anak yang telah kehilangan cinta dan kasih sayang dari orangtua kandung mereka. Strela merawat dan membesarkan anak-anak yang dengan sengaja ditinggal orangtua mereka menjadi anak sebatang kara, sendirian, kedinginan, dan kesepian.

Strela mengangkat anak-anak yang “terbuang” itu, lalu mengembalikan mereka dalam keadaan terhormat, dan menjadikan mereka sosok insan yang mandiri.  Sungguh beruntung anak-anak yang ditampung, dirawat dan dibesarkan Strela dengan penuh cinta itu.

Strela mengangkat anak-anak yang “terbuang” itu, lalu mengembalikan mereka dalam keadaan terhormat, dan menjadikan mereka sosok insan yang mandiri.  Sungguh beruntung anak-anak yang ditampung, dirawat dan dibesarkan Strela dengan penuh cinta itu.

Yang menarik dari sosok Strela sebenarnya adalah dia melakukan itu semua pada saat kehidupan keluarganya belum mapan.

Bisa dibayangkan bagaimana di sela-sela kesibukannya bekerja sebagai dokter gigi di sejumlah klinik kesehatan, Strela dengan telaten merawat dan membesarkan anak-anak asuhnya dengan cinta.  Sementara pada saat yang sama, Strela juga masih harus berjuang membesarkan kedua putranya, Michel dan Pierre, hasil pernikahannya dengan Lukman Senjaya.

Strela menabur cinta dan kebaikan tersebut mengalir begitu saja. Ketika menampung anak-anak asuhnya, Strela belum memikirkan anak-anak itu akan tidur di mana, bagaimana merawat dan membesarkan mereka semua, termasuk mengurus pendidikan dan kesehatan mereka. Strela membawa lima anak asuh pertamanya ke rumahnya di kawasan Kelapa Gading, tidur di kamar ber-AC dan bermain bersama dua putranya.

Ketika suaminya, Lukman Senjaya, mendadak terkena serangan jantung pada 1993, Strela langsung tersentak. Bagaimana dia bisa menghidupi anak-anak asuhnya yang jumlahnya terus bertambah, sementara dia sendiri masih harus membesarkan kedua putranya?

Sebenarnya Strela bisa saja menyerahkan anak-anak asuhnya ke panti asuhan lain, namun itu tidak dilakukannya. Strela malah berpikir keras bagaimana anak-anak asuhnya dapat melanjutkan pendidikan.

Pikirannya sederhana: daripada harus mengeluarkan biaya besar untuk pendidikan anak-anak asuhnya, lebih baik dia mendirikan sekolah sendiri. Strela ingin pendidikan anak-anak asuh yang dia rawat dan dia besarkan terjamin.  Betapa mulianya hati Ibu Strela.

Pikirannya sederhana: daripada harus mengeluarkan biaya besar untuk pendidikan anak-anak asuhnya, lebih baik dia mendirikan sekolah sendiri. Strela ingin pendidikan anak-anak asuh yang dia rawat dan dia besarkan terjamin.  Betapa mulianya hati Ibu Strela.

Strela memilih lokasi di Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang karena harga tanah di wilayah itu masih relatif murah. Pada 1995, atau dua tahun setelah suaminya meninggal, Strela mulai membuka sekolah Stella Maris di ruko di BSD. Di sini, mukjizat Tuhan terjadi. Jumlah siswa yang mendaftar melebih ekspetasi. Bahkan banyak orangtua siswa yang meminta Strela membuka kelas-kelas berikutnya.

Mereka berupaya mewujudkan sekolah itu meski dalam keterbatasan dana. Strela dan guru-guru pionir yang direkrutnya bahkan tidak pernah berpikir Stella Maris akan berkembang dan menjadi besar seperti sekarang.

Strela dan anak-anaknya tidak memiliki latar belakang dalam dunia pendidikan ketika mendirikan Stella Maris. Kepedulian dan kecintaannya pada anak-anak asuh mengantarkan dia pada keputusan untuk mendirikan sekolah sendiri untuk anak-anak itu. Tangan Tuhan bekerja dalam perjalanan Stella Maris.                                                                                                                                 ***

Lahir di Lasem, kota kecil di pantai utara Jawa Tengah, yang menyimpan sejarah panjang kehidupan bertoleransi, Strela sejak kecil sudah terlatih menjadi anak yang tangguh dan mandiri.

Dia terkesan dengan gurunya, Pak Mustopo, yang membantu mengarahkannya melanjutkan pendidikan SMP dan SMA (sampai kelas I) di Rembang. Merasakan kebaikan guru yang begitu besar, pernah terlintas dalam benak Strela untuk bercita-cita menjadi guru.

Jalan hidupnya membuat Strela tidak menjadi guru. Dia menjadi dokter gigi. Tetapi, bertahun-tahun kemudian, dia mendirikan sekolah Stella Maris. Tentu saja dia masih ingat kebaikan hati gurunya, Pak Mustopo, yang pernah membantunya mencarikan sekolah terbaik. Karena itulah tidak heran bila Strela sangat menghormati profesi guru. Pada masa awal Stella Maris didirikan, Strela sering membawakan makanan dan buah-buahan untuk guru-guru pionir sekolah itu.

Tuhan memberkati apa yang dilakukan Strela Senjaya. Cintanya pada anak-anak asuh yang dirawat dan dibesarkannya sejak kecil merupakan cinta yang tulus dan ikhlas. Apa yang sudah diberikan drg Strela untuk anak-anak itu, “dikembalikan” Tuhan lewat Stella Maris. Sekolah itu berkembang pesat dan menjadi salah satu sekolah unggulan di kawasan Serpong, Tangerang.

Tuhan memberkati apa yang dilakukan Strela Senjaya. Cintanya pada anak-anak asuh yang dirawat dan dibesarkannya sejak kecil merupakan cinta yang tulus dan ikhlas. Apa yang sudah diberikan drg Strela untuk anak-anak itu, “dikembalikan” Tuhan lewat Stella Maris. Sekolah itu berkembang pesat dan menjadi salah satu sekolah unggulan di kawasan Serpong, Tangerang.

Penulis mewawancarai Ibu Strela Senjaya dalam sepuluh kali pertemuan pada bulan September – Desember 2017 dan Januari-Februari 2018 di ruang praktik dokter giginya di ruang depan rumahnya di Kelapa Gading.

Beberapa kali wawancara sempat terhenti sejenak karena drg Strela harus melayani pasiennya yang datang pada pagi hari. Dia tidak menolak pasien yang datang, apalagi jika pasien itu orang tidak berada. Ibu Strela bahkan tidak memungut biaya untuk pasien-pasien tersebut.

Kesan saya: Ibu Strela memang seorang sosok ibu yang rendah hati dan penuh perhatian.   

Bersama Ibu Strela Senjaya, “Founder” Stella Maris School, Januari 2018

Ketika saya berangkat ke Kelapa Gading, saya memilih memesan taksi daring. Begitupun saat akan pulang. Sambil menunggu taksi daring tiba, saya menunggu di bawah pohon di depan rumahnya.  Ibu Strela ikut menemani saya sampai taksi daring datang meski saya sudah meminta agar Ibu Strela tidak perlu repot-repot menunggui saya.  

Pada pertemuan keempat, Ibu Strela menyerahkan kartu undangan. “Ini undangan pesta pernikahan anak asuh pertama saya, Dharma. Datang ya,” kata Ibu Strela kepada saya.

Saya menyempatkan hadir dalam resepsi pernikahan anak asuhnya yang meriah di sebuah restoran di Jakarta Pusat. Saya melihat Ibu Strela tampil sebagai sosok seorang ibu yang betul-betul sayang pada Dharma. Kerendahan hatinya terlihat bagaimana dia membagi cinta tulusnya untuk anak-anak asuhnya.

Sungguh luar biasa Ibu Strela. Tidak hanya menampung, merawat, membesarkan anak-anak asuh yang telah kehilangan cinta sejak mereka lahir di dunia, tetapi juga mengantarkan mereka sampai ke jenjang pernikahan.

Tidak banyak orang yang memiliki hati emas seperti Ibu Strela. Itulah salah satu alasan mengapa saya bersedia meluangkan waktu untuk menulis perjalanan hidup seorang ibu sederhana berhati emas ini.

Dokter gigi ataupun kalangan profesional yang menampung anak-anak tidak beruntung, jumlahnya banyak. Yang mungkin langka adalah dokter gigi Strela melakukan itu ketika kondisi finansial keluarganya masih belum mapan. Saat itu dia masih berjuang keras, mencari uang untuk menghidupi keluarganya sendiri.

Dalam kondisi seperti itulah, drg Strela mau menampung, merawat anak-anak asuh dengan biaya pribadinya sejak bayi sampai mencapai usia dewasa. Sosok keibuannya terlihat benderang karena dia berusaha agar anak-anak asuhnya tetap sehat dan mengenyam pendidikan berkualitas sampai mereka menjadi insan mandiri.

Semoga buku ini memberi inspirasi bagi para pembaca untuk tetap berbagi kepada mereka yang membutuhkan.  (BSD, 16 Februari  2018, Robert Adhi Ksp) — DIKUTIP DARI KATA PENGANTAR  BUKU “STRELA SENJAYA: A SIMPLE WOMAN WITH A GOLDEN HEART”–

Buku kedelapan (2017)

“TONY WENAS, CHIEF ENTERTAINMENT OFFICER – WORK AND FUN ARE SOULMATES”

Chief Entertainment Officer_C-1+4_Page_1.jpg
Sampul buku “Tony Wenas, Chief Entertainment Officer – Work and Fun Are Soulmates”, April 2017

Chief Entertainment Officer. Julukan ini sangat pas diberikan kepada Tony Wenas, yang sehari-harinya menjabat Chief Executive Officer atau CEO PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) dan Managing Director APRIL Group. Mulai 1 Maret 2017, Tony kembali ke PT Freeport Indonesia. “Menyanyi adalah pekerjaan utama Tony, dan CEO pekerjaan sampingannya,” demikian banyak sahabat dan koleganya menggambarkan diri Tony Wenas saat ini.

Menyanyi adalah pekerjaan utama Tony, dan CEO pekerjaan sampingannya

Julukan Chief Entertainment Officer keluar dari mulut Nico Kanter, Presiden Direktur dan CEO PT VALE Indonesia, yang juga sepupu Tony. Nico yang menjadi teman main Tony sejak kecil, tahu persis siapa Tony.

IMG_8908 (1)
Bersama Pak Tony Wenas di Burgundy, Grand Hyatt Jakarta, November 2016

Nico Kanter dan kakaknya, Johnny Kanter, serta semua kakak adik Tony Wenas terkagum-kagum dan mengakui betapa Tony seorang genius sejak kecil. Pada usia 4 tahun, Tony sudah mampu menyanyikan lagu orang dewasa, yang saat itu sedang populer, “Ten Guitars”, yang awalnya dibawakan penyanyi Inggris Engelbert Humperdinck pada 1967.

Pada usia 13 tahun, Tony mampu memainkan semua lagu berirama ragtime dan soundtrack film “The Sting” yang dirilis akhir tahun 1973, di antaranya “The Entertainer” ciptaan Scott Joplin yang digubah Marvin Hamlisch. Tony tak pernah belajar piano dengan benar. Dia hanya mendengar dan melihat, lalu mempraktikkannya.

Teman masa kecilnya, Inoe Arya Damar terheran-heran melihat kepiawaian Tony bermain piano. “Saya menilai Tony bukan orang yang senang menonjolkan diri secara berlebihan. Dia akan menunjukkan kehebatannya ketika diminta,” ungkap Inoe, sahabat SD. Adapun sahabat SMP-nya, Dion Simatupang sering membalas surat-surat cinta teman perempuan yang naksir Tony. Bahkan Tony tidak pernah tahu Dion yang membalas surat cinta itu.

Tony jujur, pemberani, antusias, dan pembangun semangat.

Hendrasly Ahmad Sulaiman

Di SMA Kanisius, Tony menghidupkan band sekolah dan sering merebut juara lomba vocal group antar-SMA se-Jakarta. Tony latihan bersama teman- temannya, di antaranya Dwi Hartanto. “Berkat aktivitasnya dalam dunia nyanyi dan musik sejak SMA, Tony punya modal kuat dalam pergaulan,” kata Dwi Hartanto, yang kini pengusaha listrik.

Rhenald Kasali, teman sekelasnya di Kanisius menilai Tony mampu memaksimalkan otak kiri dan otak kanannya. “Jarang ada orang seperti Tony,” kata Kasali, kini guru besar di Universitas Indonesia.

Ketika berusia remaja, Tony bercita-cita ingin menjadi musisi beken. Tony berhasil mewujudkannya dalam waktu enam sampai tujuh tahun kemudian. Melalui band “Solid 80”, band yang dibentuk Tony dan kawan-kawannya saat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Tony tampil sebagai musisi terkenal pada masa itu.

Sampai saat ini Tony memiliki ikatan emosional yang kuat dengan teman- teman band “Solid 80”, yaitu Setiawan Adi, Kurnia Wamilda Putra, Hendrasly Ahmad Sulaiman, Glenn Tumbelaka, Boyke Sidharta dan Edi ‘Achink’ Nugroho. “Tony jujur, pemberani, antusias, dan pembangun semangat,” kata Hendrasly.

Pada masa itu, profesi musisi belum memberi jaminan masa depan. Tony memilih untuk bekerja sebagai profesional. Sesama “anak band”, Triawan Munaf (kini Kepala Badan Ekonomi Kreatif) yang pada masa itu bergabung dalam band “Giant Step” menilai Tony tetap bermusik secara profesional meski menjabat sebagai CEO.

Kepemimpinan yang efektif

Pada awal kariernya, Tony lebih fokus pada pekerjaan. Setelah mulai mapan, Tony tetap “ngeband”, menyanyi dan memainkan alat musik di tempat kerjanya. Tony berpindah-pindah tempat kerja, mulai dari perusahaan migas ARCO (yang kemudian berubah menjadi BP), kemudian perusahaan perbankan dan telekomunikasi.

Tony memiliki leadership yang sangat efektif. Dia mampu menggerakkan orang-orang dalam organisasi tanpa menonjolkan dirinya. Tony fleksibel dalam arti positif, terbuka, tidak arogan, mudah bergaul, mau mendengar orang lain, dan juga bisa keras. Tony juga tidak pernah mengatakan, “Aku yang menentukan.”

ADRIANTO MACHRIBIE, MANTAN PRESIDEN DIREKTUR PT FREEPORT INDONESIA

Tony melamar bekerja di Freeport, dan dalam tujuh tahun, kariernya melesat sampai menduduki jabatan Executive Vice President. Bagi Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (saat itu) Adrianto Machribie, Tony memiliki leadership yang sangat efektif. Dia mampu menggerakkan orang-orang dalam organisasi tanpa menonjolkan dirinya. Tony fleksibel dalam arti positif, terbuka, tidak arogan, mudah bergaul, mau mendengar orang lain, dan juga bisa keras. Tony juga tidak pernah mengatakan, “Aku yang menentukan.”

Adrianto Machribie berpendapat, banyak orang yang mencoba naik ke atas dengan cara “menendang” ke kiri dan kanan, tetapi Tony berkembang tanpa harus “menyikut”, “melukai” ataupun “menendang” orang lain. Dia dipilih karena prestasi yang diukirnya sendiri.

Tony Wenas dinobatkan sebagai “The Indonesia Most Admired CEO 2016” atau CEO Idaman Indonesia pada 8 Desember 2016 dari majalah “Warta Ekonomi”. Sebelumnya, pada 2 Maret 2016, Tony Wenas dinobatkan sebagai salah satu CEO Terbaik (The Best CEO) versi “Men’s Obsession” dan menerima “Obsession Awards 2016” sebagai “Best Individual Achiever Category CEO Private Sector”. Penghargaan-penghargaan sebagai CEO Terbaik yang diterima Tony Wenas sepanjang 2016 merupakan apresiasi pihak luar kepada dia dan apa yang telah dia lakukan. Tony selalu mengatakan, keberadaannya di perusahaan harus memberi manfaat lebih bagi semua pihak. Sebab bila sama saja, artinya dua hanya “CEO rata-rata”.

Tidaklah heran bila nama Tony Wenas masuk dalam daftar headhunter mengingat kemampuan Tony melakukan lobbying, menjalin networking, dan kemampuan teknisnya. Dia paham masalah kehutanan, pertambangan, dan perbankan, meski tidak sampai detail.

Bagi Tony, memimpin lima manajer dalam perusahaan jauh lebih mudah dibandingkan memimpin lima pemain band yang memiliki ego yang cenderung tinggi.

Kalimat kunci yang sering disampaikan Tony adalah dia mengelola perusahaan seperti pengalamannya mengelola band. Dia mengelola orang-orang dalam perusahaan itu seperti dia mengelola para pemain dalam grup band. “It’s about managing people,” kata Tony.

Memimpin perusahaan ibarat memimpin orkestra dan band. Seorang pemimpin orkestra tahu kapan pemain tertentu harus dominan dan kapan dia harus lembut, instrumen apa yang perlu tampil di depan, dan kapan di belakang. Bagi Tony, memimpin lima manajer dalam perusahaan jauh lebih mudah dibandingkan memimpin lima pemain band yang memiliki ego yang cenderung tinggi.

Cara Tony menangani persoalan selalu mujarab. Apapun persoalan yang dihadapinya, Tony mampu menyelesaikan dengan baik. “Saya mengagumi kemampuan Tony menangani berbagai persoalan yang dihadapi perusahaan. Dia memiliki kemampuan menyeimbangkan tekanan (pressure),” kata Bernardus Irmanto, Wakil Presiden Direktur PT VALE Indonesia.

Saya mengagumi kemampuan Tony menangani berbagai persoalan yang dihadapi perusahaan. Dia memiliki kemampuan menyeimbangkan tekanan (pressure).

BERNARDUS IRMANTO, PT VALE INDONESIA

“Saya terkesan pada Tony karena logical thinking-nya sangat kuat. Sekompleks apapun persoalan, dia melakukan pendekatan logical thinking sehingga persoalan cepat diurai, penerapan solusi lebih tepat, dan penyelesaian masalah pun cepat terlaksana,” kata Hendra Sinadia, sahabat Tony yang sekarang aktif di Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia dan Apindo.

Problem is my middle name. Tony mengibaratkan namanya Tony “Problem” Wenas. Semua perusahaan tempat dia bekerja, menghadapi banyak persoalan hukum, dan sebagai lawyer, Tony mampu membereskan problem yang dihadapi perusahaan.

Daniel A Bowman yang pernah menjadi atasan Tony di Freeport menilai, Tony Wenas lawyer terbaik yang pernah bekerja sepanjang sejarah Freeport, bahkan terbaik di Indonesia.

“Saya sering melihat lawyer di Indonesia hanya profesional tetapi tidak bertanggung jawab sebagai problem solver. Tapi Tony berbeda. Dia ikut memecahkan persoalan yang sangat berat yang dihadapi Freeport, dari masalah lingkungan, keamanan, capital market, dan dia menyelesaikannya dengan baik. Banyak lawyer mempromosikan diri, tetapi Tony melakukan secara confidential karena dia memikirkan kliennya, Freeport,” kata Bowman.

HS Dillon, yang pernah menjabat Senior Advisor di PT Freeport Indonesia, menilai Tony Wenas memiliki integritas dan dignity di perusahaan tempat dia bekerja.

Esterini Wahyudisheno, Head of Legal PT RAPP, yang pernah bekerja dengan Tony di Freeport dan RAPP menilai, Tony selalu menginginkan perusahaan yang dipimpinnya taat hukum. Semua langkah dan kebijakan perusahaan harus dipastikan sesuai dengan peraturan hukum.

Tony selalu menginginkan perusahaan yang dipimpinnya taat hukum. Semua langkah dan kebijakan perusahaan harus dipastikan sesuai dengan peraturan hukum.

ESTERINI WAHYUDISHENO, PT RAPP

Di mata sekretarisnya, Winda Herlina (saat di INCO/VALE), “Pak Tony sosok pemimpin mandiri”, sedangkan di mata Yenny Lie (sekretaris di RAPP), “Pak Tony memiliki daya ingat yang luar biasa.”

Tony masih sering menyanyi dan tampil bersama band “Solid 80” yang dipimpinnya hingga kini. Bahkan Tony bisa jadi satu-satunya CEO yang masih “ngeband” dan dibayar secara profesional. Dengan cara itu, Tony ingin menegaskan, musisi harus dihargai secara profesional.

“Tony sukses dalam kehidupan profesional dan sebagai musisi. Ini bukti nyata, bila seorang seniman dan musisi diberi kepercayaan memimpin perusahaan, dia mampu melakukannya dengan baik,” kata Tantowi Yahya, sahabat Tony. Tantowi Yahya adalah Ketua Umum PAPPRI (Persatuan Artis, Penyanyi dan Pemusik Rekaman Indonesia) dimana Tony juga duduk sebagai Bendahara Umum, dan juga politisi Partai Golkar yang kini Duta Besar RI untuk Selandia Baru.

Tony juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan organisasi probono. Dia membangun Rumah Retret di Tomohon, Sulawesi Utara yang dikhususkan untuk kegiatan keagamaan. Tony aktif di Indonesia Business Council for Sustainable Development, The Nature Conservancy, KADIN, Indonesia Mining Association, Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia, Asosiasi Emiten Indonesia, Persatuan Artis, Penyanyi dan Pemusik Rekaman Indonesia, alumni Canisius College, alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Kerukunan Keluarga Kawanua dan Komunitas Keluarga Wenas se-Indonesia.

Tony Wenas dan KSP3 - pelengkap tulisan KSP
Bersama Tony Wenas di studio musik di rumahnya, Desember 2016

Mencintai keluarga


Tony dijuluki sebagai family man, lelaki yang mencintai keluarganya. Dari sejumlah wawancara yang dilakukan, sahabat dan keluarga Tony mengakui Tony hanya mencintai perempuan bernama Shita Manik-Wenas yang sekarang menjadi istrinya. “Dia tidak pernah berpacaran dengan perempuan lain. Cinta Tony hanya pada Shita,” kata Paul Nelwan, sahabat dekat Tony.

Tony is the best husband

SHITA MANIK-WENAS, ISTRI TONY WENAS

Hanya Shita yang berhasil mendampingi Tony dan membuat hidupnya kembali normal. Sebelumnya Tony sempat seperti “layang-layang putus” dan sering minum dan dugem dan mabuk, terutama pada masa dia sempat berpisah dengan Shita. Namun Tony tidak menyerah dan itulah yang membuat Shita kembali pada Tony. “Jodoh tak lari ke mana,” kata Johnny Kanter, sepupu dan teman Tony sejak kecil. Johnny mengakui, Tony memang bandel di masa kecil dan remajanya tetapi dia sukses dalam hidupnya.

Di mata istrinya, Shita, “Tony is the best husband.”, sedangkan di mata putranya, Diego Wenas, “Papa sudah seperti teman dekat.”

“Bon vivant”


“Tony seorang bon vivant,” kata HS Dillon, sahabat Tony. Dan memang, Tony menerapkan prinsip work hard, play hard dalam kehidupannya. Meski sibuk dalam bekerja, dia tetap punya waktu untuk bergembira. Dia seorang penikmat wine. Pada masa remajanya, Tony sudah puas minum whisky dan sejenisnya.

“Tony menggabungkan antara pekerjaan, pleasure dan fun. Meski dia pulang larut malam setelah ‘ngeband’ atau nyanyi-nyanyi, tetapi pagi harinya dia sudah tiba di kantor lagi tepat waktu,” kata Clementino Lamury, Director & Executive Vice President PT Freeport Indonesia di bidang External Affairs. Clementino mengakui Tony Wenas adalah guru dan mentornya.

“Tony hidup dalam keseimbangan antara sebagai profesional dan sebagai penyanyi. Dia CEO yang bisa hidup di dua dunia berbeda. Dia bukan CEO yang hanya memikirkan masalah finansial dan urusan perusahaan,” kata Agung Laksamana, Corporate Affairs Director APRIL Group.

Work and fun are soulmates. Kalimat itu diambil dari cendera mata yang diberikan karyawan Freeport Indonesia kepada Tony ketika dia mengundurkan diri dari perusahaan itu. Tony setuju ketika disampaikan usul kata-kata yang menggambarkan dirinya itu menjadi judul buku ini.

Buku ini bukan sekadar mengungkap perjalanan hidup seorang Tony Wenas, tetapi juga memaparkan kiat-kiat seorang seniman pencinta musik dan musisi berhasil memimpin perusahaan pertambangan dan kehutanan. Buku ini layak dibaca para profesional dan siapa saja yang suka membaca buku biografi.

ROBERT ADHI KSP

Buku ini bukan sekadar mengungkap perjalanan hidup seorang Tony Wenas, tetapi juga memaparkan kiat-kiat seorang seniman pencinta musik dan musisi berhasil memimpin perusahaan pertambangan dan kehutanan. Buku ini layak dibaca para profesional dan siapa saja yang suka membaca buku biografi.
***

Suasana wawancara yang hidup

Saya mewawancarai Tony Wenas sejak pertengahan Oktober 2016 sampai pertengahan Desember 2016 di Burgundy, Hotel Grand Hyatt Jakarta, di MO Bar, Hotel Mandarin Jakarta, dan di kediamannya yang asri di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, serta wawancara tambahan pada awal Februari 2017 di Social House di Grand Indonesia. Setiap saya mewawancarai Pak Tony di Burgundy, MO Bar, Social House, dan di rumahnya, saya selalu disuguhi wine. Sungguh menyenangkan.

Karena Pak Tony Wenas seorang penyanyi, dalam beberapa bagian wawancara, Tony memberi ilustrasi dengan mendendangkan lagu. Misalnya ketika bercerita saat dia berusia 4 tahun dan sudah fasih menyanyikan lagu berjudul “Ten Guitars”. Tony memberi contoh dengan menyanyikan beberapa bait lagu yang dibawakan kali pertama oleh penyanyi Inggris kelahiran Madras, India, Engelbert Humperdinck.

Tony Wenas di studio musik di rumahnya - foto KSP Tony Wenas di studio musik di rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Desember 2016

Saat bercerita pada usia 13 tahun, dia fasih memainkan soundtrack film “The Sting”, Tony mendendangkan satu lagu, dan saya langsung menebak dengan tepat, “The Entertainer”. Juga ketika Tony menceritakan satu momen hidupnya saat pemakaman ayahnya, dia menyanyikan lagu berjudul “Papa” ciptaan Titiek Puspa. Di depan saya, Tony menyanyikan lagu itu dengan penuh perasaan.

Pada lain waktu, wawancara dilakukan di rumahnya di Jalan Sindanglaya, Menteng. Tony mengajak saya ke studio musik di lantai dua rumahnya. Tony menyalakan lampu sorot seolah kami berada di atas panggung, kemudian dia memainkan keyboard sambil menyanyikan lagu-lagu Phil Collins dari grup Genesis, dan Queen. Suasana wawancara dengan Tony Wenas menjadi hidup dan saya sangat menikmatinya. (Robert Adhi Ksp)

(Dikutip dari kata pengantar penulis dalam buku “Tony Wenas, Chief Entertainment Officer: Work and Fun are Soulmates, PT Gramedia Pustaka Utama, terbit April 2017)

***

Buku ketujuh (terbit Agustus 2016)

“Tanto Kurniawan  – Cash Flow is King – Pembangunan Jaya – Paramount Serpong – Jababeka” 

Buku ketujuh yang saya tulis berjudul “Tanto Kurniawan – Cash Flow is King – Pembangunan  Jaya-Paramount Serpong-Jababeka”. Buku yang diterbitkan Bhuana Ilmu Populer ini beredar di toko buku Gramedia pertengahan Agustus 2016.

Sampul Cash Flow is King
Sampul buku “Tanto Kurniawan: Cash Flow is King”. Buku ini akan beredar di toko buku Gramedia, pertengahan Agustus 2016. FOTO: DOK PENERBIT BHUANA ILMU POPULER
Tanto Kurniawan
Bersama Pak Tanto Kurniawan, Oktober 2015
Bersama Pak Tanto Kurniawan, November 2015
Bersama Pak Tanto Kurniawan, November 2015

Mengapa menulis Tanto Kurniawan?

Pembangunan Jaya dan Bintaro Jaya


Mengapa menulis Tanto Kurniawan? Siapa sebenarnya Tanto Kurniawan? Tanto mengawali karier profesionalnya pada tahun 1981 di PT Pembangunan Jaya, pengembang properti terbesar dan perusahaan paling bergengsi pada masanya. Dia menguasai bidang keuangan dan masalah pertanahan. “Tanto seorang perfeksionis,” kata Teras Narang, sahabat Tanto.

Ketika bertugas di Biro Keuangan, Tanto mengawasi keuangan Proyek Senen Blok I dan II, pertokoan sangat modern pada masanya. Tanto tidak berkompromi dengan orang-orang yang menyalahgunakan keuangan di perusahaan itu. Tanto juga mendapat tugas “menyehatkan” PT Capitol Mutual Corporation (CMC) yang sudah karut-marut dan hampir “karam”. Banyak aset perusahaan tidak produktif dan banyak utang tidak terbayarkan. Dia mengamputasi bagian-bagian yang busuk dan memperkuat bagian-bagian yang sehat, sampai “cash flow” PT CMC menguat kembali.

Tanto juga memperbaiki “cash flow” dan citra Ancol. Dia menemukan banyak kebocoran tiket masuk Ancol dan inefisiensi di unit-unit usaha di antaranya Gelanggang Samudera dan Dunia Fantasi. Berkat Tanto, Ancol berhasil melunasi kredit dari Bank BNI sehingga unit usaha Rekreasi tak lagi “minus”, malah “cash flow”-nya bersaldo positif.

ksp tanto2
Bersama Pak Tanto Kurniawan, 28 Juli 2016 di rumahnya

Ketika ditugaskan mengelola Bintaro Jaya tak lama setelah PT Pembangunan Jaya mengakuisisi lahan di Bintaro dari PT Metropolitan Devindo, Tanto melakukan banyak terobosan. Itu membuat Bintaro Jaya dikenal sebagai hunian selebritas dan profesional muda.

Ketika ditugaskan mengelola Bintaro Jaya tak lama setelah PT Pembangunan Jaya mengakuisisi lahan di Bintaro dari PT Metropolitan Devindo, Tanto melakukan banyak terobosan. Itu membuat Bintaro Jaya dikenal sebagai hunian selebritas dan profesional muda.

Meskipun tidak bergelar MBA, gelar yang digandrungi banyak perusahaan pada masanya, pada Juni 1991 Tanto dipilih menjadi direktur paling muda dari sembilan direktur di Pembangunan Jaya. Dia membawahi bidang real estate yaitu Bumi Serpong Damai, Jaya Property, Jaya Realty, Bukit Semarang Jaya Metro, Pembangunan Timur Sejahtera, Pembangunan Sulut Sejahtera; dan bidang keuangan di Jaya Bank. Tanto diminta mempersiapkan unit-unit di Pembangunan Jaya yang bisa “go public”.

Tanto berhasil merelokasi sekolah internasional British International School dan Jakarta Japanese School ke Bintaro Jaya, serta Sekolah Global Jaya dibangun. Fasilitas Bintaro Jaya secara bertahap makin bertambah dan makin lengkap. Itu menjadi nilai tambah bagi Bintaro Jaya.

Tanto berhasil merelokasi sekolah internasional British International School dan Jakarta Japanese School ke Bintaro Jaya, serta Sekolah Global Jaya dibangun. Fasilitas Bintaro Jaya secara bertahap makin bertambah dan makin lengkap. Itu menjadi nilai tambah bagi Bintaro Jaya.

Tanto berhasil membuat Jaya Real Property mengakuisisi Kebayoran Regency dari Kalbe Group, dan membangunnya menjadi Graha Raya. Tanto juga hampir saja membuat Jaya mengakusisi Alam Sutera dan Kedaton di Tangerang. Tetapi Tanto menyadari, “enough is enough”.

Penasihat Keuangan


Ketika terjadi krisis ekonomi mengguncang ekonomi Indonesia tahun 1998, Tanto Kurniawan diminta menjadi penasihat keuangan (financial advisor) sejumlah perusahaan, mulai dari pusat pertokoan di Surabaya, pabrik tekstil di Bandung, resort di Bali, perusahaan kimia di Jakarta, sampai perusahaan perbankan, pertambangan, dan jasa keuangan di Jakarta.

Ketika menjadi “financial advisor”, Tanto mengamati banyak perusahaan properti baru bermunculan setelah terjadi alih kepemilikan. Tanto juga mengamati terjadi banyak keanehan di BPPN. Tenaga-tenaga Indonesia di BPPN adalah eks-bankir dari bank-bank yang ditutup atau dilikuidasi, yang dianggap sebagai pihak yang ikut membawa bank-bank itu ke posisi sulit. Namun setelah mereka mengenakan baju BPPN, mereka malah bertugas menyehatkan perbankan. “Kok bisa ya, orang yang sama, setelah tukar baju, mengendarai kendaraan yang berbeda,” tanyanya.

Ambassador Gading Serpong dan Paramount Serpong


Setelah krisis ekonomi berlalu, pada 2006 Tanto Kurniawan diminta membetulkan perusahaan properti yang nyaris bangkrut, yaitu Ambassador Gading Serpong, perusahaan pengembang properti itu dalam kondisi minus, utangnya menumpuk. Untuk membayar gaji pegawai saja susah, apalagi membayar kontraktor.

Namun dalam 6 tahun, Tanto berhasil membawa Paramount Serpong (nama baru Ambassador) menjadi perusahaan properti terkemuka. Dia berhasil membangun pilar-pilar kokoh. Ketika mengundurkan diri dari Paramount, Tanto meninggalkan dana segar triliunan rupiah di deposito perusahaan itu!

Di bawah kepemimpinan Tanto-lah, Paramount sukses membangun berbagai fasilitas yaitu Hotel Aston (berganti nama menjadi Hotel Atria), Rumah Sakit Bethsaida, Paramount Plaza, Pasar Modern Paramount, Giant, serta ribuan unit rumah dan ruko. Kawasan Paramount langsung terbangun dari tidur panjang. Paramount tak kalah dari pengembang Summarecon Agung yang membangun Summarecon Serpong, dan bersama-sama membuat Gading Serpong hidup.

Di bawah kepemimpinan Tanto-lah, Paramount sukses membangun berbagai fasilitas yaitu Hotel Aston (berganti nama menjadi Hotel Atria), Rumah Sakit Bethsaida, Paramount Plaza, Pasar Modern Paramount, Giant, serta ribuan unit rumah dan ruko. Kawasan Paramount langsung terbangun dari tidur panjang. Paramount tak kalah dari pengembang Summarecon Agung yang membangun Summarecon Serpong, dan bersama-sama membuat Gading Serpong hidup.

Karena Paramount sudah mapan, Tanto mencari tantangan baru. Dia diminta pemilik Jababeka, SD Darmono, untuk menghidupkan kembali kawasan Jababeka yang saat itu kalah jauh dari tetangganya, Lippo Cikarang. Di Jababeka, Tanto seakan berada di “medan perang” yang hampir sama beratnya dengan di Gading Serpong.

Namun berkat pengalamannya, Tanto berhasil membuat Jababeka yang ketika dia datang, dalam kondisi minus, menjadi plus. Dalam waktu empat bulan, “cash flow” Jababeka menguat, setelah Tanto meluncurkan tiga produk baru. Dana segar ratusan miliar rupiah mengalir ke kas Jababeka. Tanto merasakan kepuasan itu.

Seperti halnya mata angin, ada selatan, utara, barat dan timur, seperti itu pulalah petualangan Tanto dalam karirnya di bidang bisnis real estate. Selatan diwakili Bintaro Jaya, utara oleh Ancol, barat oleh Paramount Serpong, dan timur oleh Jababeka. Tanto menguasai tantangan dan peluang di empat wilayah: selatan Jakarta, utara Jakarta, barat Jakarta dan timur Jakarta.

“Bad guy”


Prinsip Tanto keras. Dia mempersiapkan dirinya pada situasi hidup atau mati. “Kalau ingin mengubah situasi dari kematian ke kehidupan, kita harus radikal dalam arti positif. Kita harus mengesampingkan perasaan-perasaan sentimentil. Kita harus bekerja keras untuk mewujudkan itu,” kata Tanto.

Kalau ingin mengubah situasi dari kematian ke kehidupan, kita harus radikal dalam arti positif. Kita harus mengesampingkan perasaan-perasaan sentimentil. Kita harus bekerja keras untuk mewujudkan itu

TANTO KURNIAWAN

Tanto memang mengesampingkan suara-suara sumbang karena buat dia, fokusnya adalah tetap hidup terhormat, bukan yang biasa-biasa saja. Dia rela bekerja ekstra keras untuk mewujudkan impiannya.

Tanto acapkali menyandang predikat “bad guy” dalam tiga perusahaan yang dipimpinnya. Tanto paham betul, tak ada “nice guy” yang mampu berperang dengan keras. “Nice guy” hanya mengambil keputusan-keputusan yang indah dengan tata bahasa yang indah. Tanto Kurniawan bukan tipe “nice guy”.

KSP tanto1
Bersama Pak Tanto Kurniawan, 28 Juli 2016 di rumahnya.

“Cash flow is King”

Tidaklah heran bila dalam situasi kritis, banyak orang mencari Tanto agar dia membantu menyelamatkan perusahaannya. Seluruh permasalahan yang muncul adalah kesulitan keuangan berupa arus kas (cash flow) yang sangat buruk. Pengeluaran yang lebih besar dari pemasukan yang membuat seluruh aktivitas operasional sangat terganggu dan pada saatnya, akan mengganggu citra perusahaan di mata seluruh pemangku kepentingan (stakeholders).

Cash flow” seperti peredaran darah dalam tubuh manusia. Ketika peredaran tersebut tidak lancar, maka kondisi tubuh menjadi tidak sehat. Bagi Tanto, cash flow adalah segalanya dalam operasional perusahaan. “Cash flow is King”

“Cash flow” seperti peredaran darah dalam tubuh manusia. Ketika peredaran tersebut tidak lancar, maka kondisi tubuh menjadi tidak sehat. Bagi Tanto, cash flow adalah segalanya dalam operasional perusahaan. “Cash flow is King”

Ditempa kehidupan masa kecil yang keras Sikap keras dan pantang menyerah ditempa dari kehidupan masa kecilnya yang keras. Tanto Kurniawan lahir di tengah keluarga tionghoa yang sangat sederhana dan ekonominya pas-pasan di Cilegon, Banten. Ayahnya seorang pedagang kecil. Hasil yang didapat hari ini cukup digunakan untuk hari ini. Untuk besok, tergantung dagangan esok hari.

Dalam kondisi ekonomi seperti itu, Tanto bertahan hidup. Untuk tiba sekolah SMP di Serang, Tanto harus menumpang truk barang. Itu dilakukannya setiap hari. Melalui perjuangan keras semacam itu, Tanto tumbuh menjadi anak yang tangguh dan mandiri. Bekal ini sangat berguna bagi masa depannya kelak.

Kebiasaannya membaca, menonton film, dan mendengarkan musik sejak kecil juga sangat berguna. Tanto membaca berita-berita Harian Kompas, menonton berbagai film, dan menikmati musik. Hobi ini yang dijalankannya hingga kini, membuat hidupnya seimbang.

Buku biografi Tanto Kurniawan ini bukan sekadar kisah hidup sukses seorang profesional properti tetapi juga merupakan catatan sejarah industri properti Indonesia: Pembangunan Jaya/Bintaro Jaya, Paramount Serpong, dan Jababeka. Buku ini memuat kisah bagaimana Tanto sebagai seorang profesional mampu menyelesaikan berbagai persoalan di perusahaan tempatnya bekerja.

“Tanto sangat menguasai bidang keuangan,” kata Budi Karya Sumadi, koleganya di Pembangunan Jaya.

Tanto Kurniawan sangat menguasai bidang keuangan

BUDI KARYA SUMADI, KOLEGA TANTO DI PT PEMBANGUNAN JAYA

Pengalaman Tanto Kurniawan dalam dunia properti, bagaimana dia mampu membuat Pembangunan Jaya/Bintaro Jaya berjaya, dan bagaimana Tanto membuat dua perusahaan properti; Ambassador Gading Serpong yang sudah nyaris bangkrut, dan Jababeka yang kesulitan cash flow, mampu bangkit kembali, bahkan meraup laba berkali-kali lipat, menjadi pelajaran penting bagi mereka yang terjun di bisnis properti.

“Tanto mampu mewujudkan apa yang dianggap tidak mungkin menjadi mungkin,” kata John Flood, Presiden dan CEO Archipelago International.

Buku yang mengisahkan pengalaman Tanto Kurniawan ini layak dibaca oleh mereka yang bergelut di dunia real estat dan properti, dan oleh siapa saja yang suka membaca kisah sukses tokoh dari bawah.

***

Bersama Pak Tanto Kurniawan, November 2015
Bersama Pak Tanto Kurniawan, November 2015
Bersama Pak Tanto Kurniawan, 2 Desember 2015
Bersama Pak Tanto Kurniawan, 2 Desember 2015

***

 Buku keenam (2015)

    “Andy Noya, Kisah Hidupku”

Buku keenam adalah “Andy Noya, Kisah Hidupku”, diterbitkan Penerbit Buku Kompas (2015). Buku ini hasil kolaborasi saya dengan Andy Noya. Wawancara dilakukan  sejak empat tahun lalu (2011).

Foto-foto ini merupakan rekaman peristiwa ketika saya mewawancarai Andy Noya di rumahnya dalam berbagai kesempatan sejak Andy Noya masih berambut kribo dan sering bertopi sampai Andy berkepala plontos.

AFN12
Bersama Bang Andy Noya, 17 Juli 2011
249733_10150199021852311_6680361_n
afn11
Wawancara Andy Noya
Bersama Andy F Noya, Juni 2014
Bersama Andy F Noya di sela-sela wawancara penulisan buku biografi, 23 Juni 2014
Bersama Andy Noya, 13 September 2014
Bersama Andy Noya, 13 September 2014
andy noya kisah hidupku
Sampul buku “Andy Noya, Kisah Hidupku”, Juli 2015
bersama Andy Noya
bersama Bang Andy Noya di rumahnya, Agustus 2015
Bersama Andy Noya dan Sarah Sechan
Bersama Andy Noya dan Sarah Sechan sesuai rekaman program Kick Andy, akhir Juli 2015 di stasiun Metro TV.

***

Buku kelima (2015)

“Bur Maras, Keturunan ke-13 Raden Patah”

Buku kelima adalah “Bur Maras, Keturunan ke-13 Raden Patah”, diterbitkan Bhuana Ilmu Populer (BIP), Kelompok Gramedia.  Bur Maras adalah juga pengusaha migas, pemilik Ratu Prabu.

burmaras
Bersama Bur Maras, keturunan ke-13 Raden Patah di sela-sela wawancara penulisan buku biografi
Bur Maras buku
Bersama Pak Bur Maras, 2015
bersama Pak Bur Maras, 2015

***

    Buku keempat (2014)

“Johnny Widjaja, Cuplikan Kehidupan”

JW DAN KSP
Sampul belakang buku “Johnny Widjaja, Cuplikan Kehidupan” (2014)

Buku keempat, “Johnny Widjaja, Cuplikan Kehidupan”, diterbitkan pada Maret 2014, untuk kalangan terbatas. Buku ini memuat kehidupan Johnny Widjaja yang  pada tahun 2014 berusia 80 tahun.

Johnny Widjaja, pengusaha yang berbisnis sejak zaman Soekarno, seorang petualang sejati, yang berani menempuh perjalanan yang penuh risiko dan tantangan. Kisah perjalanannya ke berbagai belahan dunia mengundang decak kagum.

Johnny Widjaja, pengusaha yang berbisnis sejak zaman Soekarno, seorang petualang sejati, yang berani menempuh perjalanan yang penuh risiko dan tantangan. Kisah perjalanannya ke berbagai belahan dunia mengundang decak kagum

Johnny Widjaja juga seorang “bon vivant” sejati, yang sangat menikmati hidupnya dengan gayanya tersendiri.

JW KSP
Bersama Pak Johnny Widjaja, 30 Maret 2014.

Buku ini diberi kata pengantar oleh Shinta Widjaja Kamdani, CEO Sintesa Group, yang juga putri sulung keluarga Johnny Widjaja. “Apa yang saya harapkan dengan diterbitkannya biografi ini” tanya Shinta dalam kata pengantarnya. “Sederhana saja: saya ingin ayah saya mendapatkan kesempatan berbagi kisah hidupnya yang sarat dengan pengalaman dan asam-garam kehidupan kepada masyarakat luas. Kalau saya bisa menyampaikan satu kalimat: my father has live his life to the fullest.”

“Kita kerap kali lupa apa makna hidup yang sebenarnya. Banyak uang, banyak rezeki, banyak teman. Inilah pembelajaran yang bisa kita dapatkan dari seorang Johnny Widjaja. Kerja keras menghasilkan uang bukanlah segala-galanya kalau kita tidak bisa menikmatinya,”  demikian Shinta Widajaja.

bersama-johnny-widjaja-family.jpg
Dari kiri ke kanan: Bapak Joe Kamdani, Bapak Johnny Widjaja, Ibu Martina Widjaja, Bapak Soebronto Laras, dan saya Robert Adhi Ksp, di sela-sela penulisan buku “Johnny Widjaja, Cuplikan Kehidupan”, 2014.

Buku ketiga (2011)

“Rahasia Sukses Pengusaha Properti”

PROPERTI KSP
Sampul buku “Rahasia Sukses Pengusaha Properti”, 2011

“Rahasia Sukses Pengusaha Properti” adalah buku ketiga saya yang diterbitkan tahun 2011 oleh Bhuana Ilmu Populer. Buku setebal 244 halaman ini memuat hasil wawancara eksklusif dengan berbagai tokoh properti, baik pemilik maupun CEO perusahaan yang bergerak di bidang properti, termasuk perhotelan, konsultan properti, konsultan arsitektur, dan furnitur, serta pengusaha muda dan profesional yang memiliki idealisme dan semangat tinggi mengembangkan bisnis properti mereka.

Dari Ciputra, Trihatma K Haliman, Hendro Gondokusumo, sampai Soetjipto Nagaria. Generasi kedua yang muncul, James Riady, Budiarsa Sastrawinata, Harun Hajadi, Aninditha Bakrie, Rudy Margono, Utama Gondokusumo, Lilik Oetama, Soegianto Nagaria, Herman Nagaria. Buku ini juga memuat profesional properti seperti Tanto Kurniawan, Budikarya Sumadi, Handaka Santosa.

Buku ini memuat beragam kisah sukses yang menjadi tonggak sejarah perkembangan properti di Indonesia dalam satu dekade terakhir ini. Benang merah yang dapat ditarik dari beragam wawancara dengan para pengusaha properti ini antara lain keinginan membangun “green property”, “eco-property”.

ROBERT ADHI KSP

PAK CI dan KSP
Bersama Pak Ciputra
Pak Trihatma dan KSP
Bersama Pak Trihatma Haliman (Agung Podomoro Group)
Pak Hendro dan KSP
Bersama Pak Hendro Gondokusumo (Intiland)
Pak Tjip dan KSP
Bersama Pak Soetjipto Nagaria (Summarecon Agung)
Pak James dan KSP
Bersama Pak James Riady (Lippo Group)
bersama Pak Lilik Oetama (Santika Group/Kompas Gramedia Group)
saya bersama Pak Lilik Oetama (Santika Group/Kompas Gramedia Group), 9 September 2011 di Jakarta. Pak Lilik Oetama sejak 8 Oktober 2015 resmi menjabat CEO Kompas Gramedia.
bersama Tanto Kurniawan
bersama Pak Tanto Kurniawan
bersama Michael Widjaja (Sinarmas Land)
bersama Michael Widjaja (Sinarmas Land)

Buku ini memuat beragam kisah sukses yang menjadi tonggak sejarah perkembangan properti di Indonesia dalam satu dekade terakhir ini. Benang merah yang dapat ditarik dari beragam wawancara dengan para pengusaha properti ini antara lain keinginan membangun “green property”, “eco-property”. Mereka mewujudkan konsep “green property” dalam berbagai produk properti. Ini bukti bahwa dalam dekade ini, kesadaran pengembang membangun hunian yang ramah lingkungan, makin mengemuka.

Green property yang dikembangkan para pengusaha properti ini tidak sekadar memberi nuansa hijau pada produk properti, akan tetapi membuatnya berkelanjutan (sustainable), mulai dari melakukan daur ulang air dan sampah, menghemat penggunaan listrik, menggunakan produk ramah lingkungan, sampai membuat desain bangunan ramah lingkungan dan hemat energi.
***

         Buku kedua (2010)

“Banjir Kanal Timur, Karya Anak Bangsa”

BKT KSP2
Saat peluncuran buku “Banjir Kanal Timur, Karya Anak Bangsa”, 2010
BKT KSP
2010: Bersama Pitoyo Subandrio (Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane), Jenderal TNI Djoko Santoso (Panglima TNI), Hermanto Dardak (Wakil Menteri Pekerjaan Umum), Marsanto (mantan pejabat PU) dan Putu (Dinas PU DKI Jakarta). FOTO DOKUMENTASI KEMENTERIAN PU

Buku kedua, “Banjir Kanal Timur, Karya Anak Bangsa”, diterbitkan tahun 2010 oleh Grasindo (Gramedia Widiasarana Indonesia). Banjir Kanal Timur adalah proyek monumental kebanggaan bangsa Indonesia. BKT sepanjang 23,5 kilometer dibangun oleh kontraktor Indonesia dan dari kantong Indonesia (APBN dan APBD).

BKT menjadi model bagi pembangunan proyek infrastruktur strategis lainnya di Indonesia. Anggaran dikucurkan sekaligus agar proyek berjalan cepat. BKT juga contoh proyek dengan tender yang transparan, otak, otot, dan dana Indonesia. BKT tidak menghilangkan banjir di Jakarta, akan tetapi mengurangi risiko banjir dan menyelamatkan dua juta warga Jakarta Timur dan sebagian Jakarta Utara dari ancaman banjir rutin.

Memberi sambutan saat peluncuran buku di gedung Kementerian Pekerjaan Umum RI
Memberi sambutan saat peluncuran buku di gedung Kementerian Pekerjaan Umum RI

BKT menjadi promenade, show window daerah aliran sungai di Jakarta dengan penataan yang asri dan hijau. BKT menjadi tonggak sejarah pembangunan infrastruktur Kota Jakarta.

BKT menjadi promenade, show window daerah aliran sungai di Jakarta dengan penataan yang asri dan hijau. BKT menjadi tonggak sejarah pembangunan infrastruktur Kota Jakarta.

Buku setebal 300 halaman ini diberi kata pengantar oleh Jusuf Kalla (mantan Wakil Presiden) dan kata sambutan oleh Djoko Kirmanto (Menteri Pekerjaan Umum). Banjir Karya Timur dapat dibangun setelah Pitoyo Subandrio (Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, yang kemudian menjabat Direktur Sungai, Waduk – Kementerian Pekerjaan Umum) dan timnya bekerja keras mewujudkannya.

Pak Pitoyo Subandrio dan tim, bersama saya sebagai penulis buku BKT, bertandang ke rumah Jusuf Kalla untuk minta Pak JK memberi sambutan di dalam buku.
Pak Pitoyo Subandrio dan tim, bersama saya sebagai penulis buku BKT, bertandang ke rumah Jusuf Kalla untuk minta Pak JK memberi sambutan di dalam buku.

Mengapa Jusuf Kalla? Dalam kata pengantarnya, JK menjelaskan, ketika banjir merendam Jakarta tahun 2007 lalu, dia meninjau lokasi banjir dari udara dengan helikopter.

Di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, dia bertanya kepada Pitoyo Subandrio, berapa biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan Proyek BKT itu. Ketika JK mendapat jawaban bahwa dana yang dibutuhkan sekitar Rp 2,5 triliun untuk pembangunan fisik, JK langsung memutuskan agar Proyek BKT segera dikerjakan.

Menurut JK, untuk mengambil keputusan penting itu, dia tidak perlu harus menjadi insinyur terlebih dahulu. Cukup dengan logika angka-angka, proyek BKT dapat dihitung dengan cermat. Dia bukan orang teoritis. Pengalaman JK sebagai kontraktor, membuat dia cepat menghitung angka-angka.

Lebih baik mengucurkan anggaran sekaligus besar untuk pembangunan infrastruktur seperti BKT dan jumlahnya hanya Rp 2 triliunan. Karena saat banjir melumpuhkan Jakarta, kerugian bisa empat kali lipat, mencapai Rp 8 triliun

JUSUF KALLA DALAM PENGANTAR BUKU “BANJIR KANAL TIMUR KARYA ANAK BANGSA”

“Lebih baik mengucurkan anggaran sekaligus besar untuk pembangunan infrastruktur seperti BKT dan jumlahnya hanya Rp 2 triliunan. Karena saat banjir melumpuhkan Jakarta, kerugian bisa empat kali lipat, mencapai Rp 8 triliun,” kata Jusuf Kalla. Keputusan penting menyelesaikan Proyek BKT diambil pada waktu yang tepat, dua hari setelah banjir melumpuhkan Jakarta Februari 2007.
***

      Buku pertama (2009)

“Panggil Aku King”

KING KSP
Bersama Liem Swie King saat peluncuran buku “Panggil Aku King” di Wisma BII Jakarta, 2009

 

“Panggil Aku King” merupakan kisah perjalanan hidup Liem Swie King. Buku ini dibuat dengan harapan kisah perjalanan King ini mampu membangkitkan semangat generasi muda untuk mencintai olahraga bulu tangkis dan mengembalikan kejayaan bulu tangkis Indonesia di kancah dunia.

ROBERT ADHI KSP

“Panggil Aku King”, biografi legenda pebulu tangkis Indonesia, Liem Swie King, merupakan buku pertama saya yang diterbitkan tahun 2009 oleh Penerbit Buku Kompas. “Panggil Aku King” merupakan kisah perjalanan hidup Liem Swie King.

Buku ini dibuat dengan harapan kisah perjalanan King ini mampu membangkitkan semangat generasi muda untuk mencintai olahraga bulu tangkis dan mengembalikan kejayaan bulu tangkis Indonesia di kancah dunia.

Liem Swie King seorang juara besar, sama seperti jenderal besar. King muncul ketika kekuatan bulu tangkis dunia merata, terutama setelah China bergabung dengan IBF. Indonesia tidak bisa sendirian lagi seperti era Rudy Hartono. Jadi kalau King menang, artinya dia benar-benar jago karena dia mengalahkan pemain-pemain kelas dunia dari China, Denmark, Malaysia,  dan Indonesia.

TAN JOE HOK, JUARA ALL ENGLAND 1959

Mengapa saya menulis King? Saya termasuk satu dari jutaan orang Indonesia yang mengagumi Liem Swie King. Ketika berusia belasan tahun, saya selalu menonton pertandingan King di televisi dan mendengar siaran langsung di RRI.

King tujuh kali masuk final turnamen bulu tangkis bergengsi All England (1976, 1977, 1978, 1979, 1980, 1981, dan 1984), tiga di antaranya menjadi juara (1978, 1979, dan 1981). King juga enam kali memperkuat tim Piala Thomas (1976, 1979, 1982, 1984, 1986, 1988), dan tiga di antaranya ikut mengantar tim Indonesia menjadi juara (1976, 1979, 1984).

Buku setebal 476 halaman ini diberi kata pengantar oleh Jakob Oetama, Pemimpin Umum Harian Kompas.

“Prestasi-prestasi optimal olahraga, khususnya bulu tangkis oleh para juara All England, Olimpiade, serta panggung kejuaraan-kejuaraan lainnya itu dinilai sebagai ikut mempercepat berlangsungnya proses asimilasi dan integrasi serta surutnya diskriminiasi. Aktual dan relevan kiranya, menghadarapkan dari biografi Panggil Aku King ini, kehendak kita bersama membangun kemajuan dan kesejahteraan bangsa, bertambah kuat, cerdas, dan serentak,” demikian antara lain yang disampaikan Pak Jakob Oetama dalam pengantarnya.

Aktual dan relevan kiranya, menghadarapkan dari biografi Panggil Aku King ini, kehendak kita bersama membangun kemajuan dan kesejahteraan bangsa, bertambah kuat, cerdas, dan serentak

JAKOB OETAMA DALAM PENGANTAR “PANGGIL AKU KING”

Sementara itu Tan Joe Hok, juara All England 1959 berpendapat, “Liem Swie King seorang juara besar, sama seperti jenderal besar. King muncul ketika kekuatan bulu tangkis dunia merata, terutama setelah China bergabung dengan IBF. Indonesia tidak bisa sendirian lagi seperti era Rudy Hartono. Jadi kalau King menang, artinya dia benar-benar jago karena dia mengalahkan pemain-pemain kelas dunia dari China, Denmark, Malaysia,  dan Indonesia.”

“Without words, without writing, without books, there would be no history, there could be no concept of humanity”  (Oliver Goldsmith)

Without words, without writing, without books, there would be no history, there could be no concept of humanity 

OLIVER GOLDSMITH

ROBERT ADHI KSP

Kontak: Twitter: @RobertAdhiKsp

Email: RobertAdhiKsp@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: