Arsip Kategori: Jurnalistik

Bermalam di Ladang Ganja Aceh


Bulan Mei 1990, saya mendapat tugas Kompas ke Aceh, memenuhi undangan Mabes Polri terkait Operasi Nila. Waktu itu Polri gencar menggelar operasi pemberantasan ganja di Aceh Tenggara, Aceh Besar, dan Aceh Timur.

Aceh merupakan daerah pertama di luar Jawa yang saya datangi dalam kaitan tugas jurnalistik di luar kota. Sebelumnya, dari tahun 1987 sampai April 1990, tugas jurnalistik saya hanya seputar Tasikmalaya, Garut, Ciamis, Bandung, dan Tangerang. Tugas di Jakarta baru dimulai bulan Juli 1990.

 

Operasi Ganja di Aceh
Bersama anggota Gegana Polri, saya menginap di ladang ganja di Aceh, Mei 1990.

Ini kali kedua saya ditugaskan meliput acara di Aceh. Beberapa bulan sebelumnya, awal tahun 1990, saya meliput acara Menteri Perumahan Rakyat Siswono Yudohusodo meresmikan perumahan karyawan PT Pupuk Iskandar Muda di Lhokseumawe.
.
Meski dinas luar kota ke Aceh hanya beberapa hari, bagi saya tugas ini mengasyikkan. Pagi-pagi sekali saya ke Bandar Udara Kemayoran. Ada tiga media nasional yang diundang. Dua lagi, kalau tak salah ingat, dari majalah Tempo (Robin) dan majalah Editor (Dadi). Dari Dispen Polri, ada Kapten Anton Tabah.

Lanjutkan membaca Bermalam di Ladang Ganja Aceh

Iklan

Disemprot Dandim


Tahun 1989. Waktu itu baru satu tahun saya bertugas di Tangerang. Suatu hari pada pertengahan bulan Mei, saya menulis berita berjudul  “Tersangka Penjahat Dibakar oleh Massa” yang dimuat di halaman 1 Harian Kompas 15 Mei 1989. Dalam berita itu disebutkan, Kam (25) dihakimi dan dibakar massa setelah kepergok mencuri di rumah H Samid, penduduk Kampung Selon, Desa Kaliasin, Kecamatan Balaraja, Tangerang.

 

15051989.jpg
Berita berjudul “Tersangka Penjahat Dibakar oleh Massa” dimuat di halaman 1 Harian Kompas, Senin 15 Mei 1989

Sore harinya, saya menerima telepon dari Redaktur Desk Kota, Purnama Kusumaningrat, yang juga Wakil Redaktur Pelaksana. Mas Pur, panggilan akrabnya, meminta saya menemui Komandan Kodim (Dandim) 0506 Tangerang di rumahnya.

Saya pikir ada apa gerangan? Mengapa saya harus menemui Pak Dandim malam itu juga? Dari sisi jurnalistik, berita itu tidak ada kesalahan.  Mas Pur menjelaskan, Pak Dandim Tangerang  keberatan dengan berita halaman 1 hari itu. Saya diminta menemui Dandim.

Lanjutkan membaca Disemprot Dandim

Ketika Melintasi Hutan Karet Serpong


Setiap kali melintasi kawasan BSD yang gemerlap, saya selalu ingat kawasan ini pernah merupakan hamparan hutan karet.  Setiap kali memandang gedung-gedung tinggi yang makin banyak bermunculan di BSD dan rumah-rumah baru yang dijual miliaran rupiah, saya teringat saya pernah meliput peresmian Kota Mandiri  Bumi Serpong Damai di daerah Serpong, Kabupaten Tangerang, pada 16 Januari 1989.

Pada hari Senin yang cerah itu, Menteri Dalam Negeri (waktu itu) Rudini datang bersama Menteri Perumahan Rakyat Siswono Yudohusodo, Menteri Pekerjaan Umum Radinal Mochtar, Menteri Tenaga Kerja Cosmas Batubara, Menteri Perhubungan Azwar Anas, Gubernur Jawa Barat Yogie S Memet dan Pangdam Jaya Mayjen TNI Surjadi Soedirdja.

BSD.jpg

Menteri Dalam Negeri Rudini ketika meresmikan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai 16 Januari 1989. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

 

Lanjutkan membaca Ketika Melintasi Hutan Karet Serpong

Terjeblos Masuk ke Tanah Longsor di Tasikmalaya


Suatu hari pada tahun 2012, saya rindu masakan sunda. Kebetulan di dekat tempat tinggal saya, di BSD, ada rumah makan “Bumbu Desa”. Sambil menikmati sayur asem dan ikan asin jambal, sayup-sayup saya mendengar suara penyanyi pop sunda Nining Meida yang membawakan lagu-lagu “Kalangkang”, “Kang Haji”, “Potret Manehna”, “Anjeun”, “Borondong Garing”. “Ka Bulan”, “Tisaprak”, “Ngalamun” dan lainnya. (Sayangnya “Bumbu Desa” BSD sudah tutup untuk kali kedua)

Pikiran saya langsung melayang ke tahun 1987. Saya ingat lagu-lagu inilah yang selalu diputar di angkutan kota di Tasikmalaya pada saat itu.  Ketika itu saya mendapat tugas sebagai calon koresponden Kompas di wilayah Priangan Timur (Tasikmalaya, Ciamis, dan Garut). Ketiga daerah itu wilayah penugasan saya yang pertama di luar Bandung.

Saya mangkal di Tasikmalaya dan nge-kos di rumah warga. Kemana-mana, saya naik angkot. Setiap kali saya naik angkot di Tasikmalaya, sopirnya selalu memutar lagu yang sama, “Kalangkang”, “Kang Haji”, “Potret Manehna” yang dinyanyikan Nining Meida. Karena naik angkot setiap hari, saya pun akhirnya hapal melantunkan lagu-lagu pop sunda bernuansa cinta itu.

TANAH LONGSOR DI TASIKMALAYA4-05

Longsor di Desa Cikuya, Kecamatan Bantarkalong, Kemantren Culamega, Tasikmalaya, Jawa Barat, sekitar 82 km dari Kota Tasikmalaya, awal Desember 1987. Foto yang saya ambil di lokasi longsor ini dimuat di Harian Kompas, 6 Desember 1987. KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

 

Lanjutkan membaca Terjeblos Masuk ke Tanah Longsor di Tasikmalaya

PK Ojong Wariskan Nilai-nilai Kejujuran, Kedisiplinan, dan Semangat Pantang Menyerah


ROBERT ADHI KSP

Petrus Kanisius Ojong mewariskan nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, dan semangat pantang menyerah. Nilai-nilai itu masih tertanam dalam perusahaan Kompas Gramedia yang didirikannya bersama Jakob Oetama.

Warisan PK Ojong

Demikian intisari pendapat yang disampaikan Rikard Bagun, H Dedy Pristiwanto, Cherly Priktiyani, DJ Pamoedji, dan Ignatius Sunito tentang sosok PK Ojong dalam wawancara khusus dengan Kompas di sela-sela ziarah ke makam PK Ojong di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Rabu (3/6).

Dalam wawancara, Rikard Bagun, Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas, mengatakan, secara pribadi, dia tidak kenal PK Ojong. Namun, dia melihat keteladan Ojong menjadi bagian dari kekuatan Kompas Gramedia. Menurut Rikard, nilai-nilai yang ditanamkan Ojong dalam perusahaan ini adalah kejujuran, kedisiplinan, totalitas, kerja keras, serta kepedulian dan perhatian kepada orang lain yang sampai sekarang masih terasa.

Cherly P, Direktur Keuangan Kompas Gramedia, memiliki kenangan khusus dengan PK Ojong. Suatu hari, kata Cherly, dia diajak ke lapangan untuk menagih piutang dan bertemu agen. “Pak Ojong mengajarkan kami bagaimana bersikap kepada agen, beramah tamah, jujur, dan terus terang,” kata Cherly.

“Pak Ojong menjadi inspirasi bagi kita semua. Setiap tindakan kita harus dilakukan secara cermat dan hati-hati sehingga kita bisa melakukan pekerjaan sebaik mungkin. Satu hal lagi, saya diminta untuk terus belajar dan belajar,” ungkapnya.

Lanjutkan membaca PK Ojong Wariskan Nilai-nilai Kejujuran, Kedisiplinan, dan Semangat Pantang Menyerah

Ancaman terhadap Jurnalis yang Tak Kunjung Reda


ROBERT ADHI KSP

Setiap tanggal 3 Mei, jurnalis di seluruh dunia memperingati Hari Kebebasan Pers Dunia (World Press Freedom Day). Namun, setiap tahun pula, kalangan jurnalis masih harus prihatin. Dalam 10 tahun terakhir, sedikitnya 675 jurnalis terbunuh. Negara-negara yang sedang dilanda perang di kawasan Timur Tengah menjadi negara yang mematikan bagi para jurnalis. Setelah Suriah dan Irak di Timur Tengah, Filipina merupakan negara di kawasan Asia Tenggara yang paling berbahaya bagi jurnalis.

Bahkan, menjelang peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia, John Kituyi (63), editor The Mirror Weekly, surat kabar di kota Eldoret, Kenya barat, tewas setelah diserang orang tak dikenal, Kamis (30/4). Jurnalis setempat mengatakan, pembunuhan John Kituyi diduga terkait tulisan yang diturunkan seminggu sebelumnya. Tulisan itu tentang Wakil Presiden Kenya William Ruto dan pejabat lain yang diseret Mahkamah Kriminal Internasional karena terlibat dalam kejahatan kemanusiaan yang menewaskan lebih dari 1.000 orang dan menyebabkan ratusan ribu orang mengungsi menyusul pemilu Desember 2007 silam.

Hari Kebebasan Pers Dunia

Di Somalia, seorang jurnalis radio, Daud Ali Omar (35), tewas diberondong tembakan oleh lelaki bersenjata di rumahnya di kota Baidoa, Rabu (29/4). Daud, produser Radio Baidoa yang pro pemerintah, sering meliput kekerasan regional dan politik lokal. Belum ada kelompok yang bertanggung jawab, tetapi jurnalis setempat dan polisi menduga kelompok militan Al-Shabab yang melakukan pembunuhan tersebut.

Masih pada bulan April, seorang jurnalis televisi Libya, Muftah al-Qatrani (33), ditembak mati di kantornya di kota Benghazi, Libya timur, Rabu (22/4). Libyan Center for Freedom of the Press dalam pernyataan persnya menyebutkan, pembunuhan jurnalis televisi itu terkait dengan pekerjaannya.

Menurut situs Committee to Protect Journalists (CPJ), sejak Januari sampai awal Mei 2015, tercatat 21 jurnalis terbunuh dengan motif yang sudah dikonfirmasi. Mereka berasal dari Banglades (2), Brasil (1), Guatemala (1), Ukraina (1), Suriah (1), Sudan Selatan (5), Perancis (8), Meksiko (1), dan Yaman (1). Sementara enam jurnalis lain terbunuh dengan motif yang belum terkonfirmasi. Mereka berasal dari Kolombia (2), Yaman, Guatemala, Brasil, dan Filipina (masing-masing satu orang). Lanjutkan membaca Ancaman terhadap Jurnalis yang Tak Kunjung Reda

Pembunuhan Jurnalis dan Kebebasan Pers


Pembunuhan Jurnalis dan Kebebasan Pers

ROBERT ADHI KSP

Seorang pewarta foto Amerika Serikat, Luke Somers (33), yang menjadi sandera Al Qaeda di Yaman, tewas ditembak militan Al Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) setelah tim Seal AS gagal melakukan penyelamatan. Somers adalah jurnalis ketiga AS yang tewas di tangan kelompok radikal pada tahun 2014 setelah James Foley dan Steven Sotloff dieksekusi NIIS di Suriah.

Somers lahir di Inggris dan lebih banyak menghabiskan waktunya di AS. Dia tinggal di Yaman sudah tiga tahun, bekerja sebagai fotografer lepas untuk BBC dan koran-koran lokal di Yaman. Somers disandera sejak September 2013. Lewat video yang diunggah di dunia maya pada 3 Desember, AQAP sudah mengancam akan mengeksekusi Somers.

Kematian Somers menambah jumlah jurnalis yang tewas setelah dijadikan sandera oleh kelompok teroris di Timur Tengah. Committee to Protect Journalist (CPJ) menyebutkan, Somers adalah jurnalis ketiga AS yang tewas setelah ditangkap dan dijadikan sandera. Dua jurnalis lain adalah James Foley dan Steven Sotloff yang tewas dipenggal di Suriah oleh kelompok militan NIIS.

”Somers ke Yaman untuk membawa berita untuk kita, tetapi justru dia kini menjadi berita. Kelompok militan kini menggunakan jurnalis sebagai pion dalam permainan politik yang mematikan,” kata Deputi Direktur CPJ Robert Mahoney dalam pernyataannya, Sabtu (6/12). ”Sebagai jurnalis, kita harus melanjutkan pekerjaan kolega kita, mencari keadilan dan melindungi mereka yang pergi ke lapangan setiap hari meski dalam bahaya,” katanya.

”Kematian Somers merupakan refleksi dari meningkatnya ancaman bahaya pekerjaan seorang jurnalis. Banyak jurnalis yang dijadikan sandera dalam dua tahun terakhir ini. Dampak tragis akan menjadi lebih sering” kata Sekretaris Jenderal Reporters Without Borders Christophe Deloire, Sabtu.

Lanjutkan membaca Pembunuhan Jurnalis dan Kebebasan Pers

“Obor Rakyat” Bukan Produk Jurnalistik


Gambar

ROBERT ADHI KSP

Kasus tabloid ”Obor Rakyat” yang melibatkan Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah Setyardi Budiyono menjadi perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Melalui juru bicara kepresidenan, Presiden SBY menegaskan bahwa Istana tidak tahu-menahu tindakan Setyardi menerbitkan ”Obor Rakyat”. Isi tabloid ini semuanya fitnah dan meniupkan isu SARA, yang mendiskreditkan calon presiden Joko Widodo.

Juru bicara kepresidenan kepada pers, Sabtu (14/6), mengungkapkan, Presiden sangat terganggu dengan berita tersebut dan menjanjikan akan ada investigasi dan tindakan dari Sekretariat Kebinet yang membawahi staf khusus.

Selain menjabat staf khusus presiden, Setyardi Budiyono saat ini juga menjabat komisaris PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XIII. Nama Setyardi berada dalam tabloid Obor Rakyat sebagai pemimpin redaksi.

Setyardi bersikukuh tabloidnya merupakan karya jurnalistik. Dia mencantumkan namanya dalam tabloid itu. Namun, Dewan Pers menegaskan, tulisan-tulisan yang dimuat dalam tabloid Obor Rakyat bukan karya jurnalistik yang dikerjakan dengan menghormati kode etik jurnalistik, di antaranya tidak menyinggung suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA).

Dewan Pers menilai penulisan Obor Rakyat tidak didasarkan pada fakta-fakta yang ada dan dikonfirmasi dengan benar. Pengelola Obor Rakyat telah menyalahi Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 tentang Kode Etik Jurnalistik.

Ketua Komisi Hukum Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo menegaskan, apa yang dilakukan oleh Setyardi Budiyono dan Darmawan Sepriyossa melalui tabloid Obor Rakyat jelas melanggar prinsip-prinsip jurnalistik. Dewan Pers tidak bisa melindungi Setyardi dan Darmawan yang bekerja tanpa berpegang pada prinsip jurnalistik. Dewan Pers meminta Polri untuk tidak ragu menindak siapa pun yang melakukan pelanggaran berat (Kompas, 16/6/2014).

Lanjutkan membaca “Obor Rakyat” Bukan Produk Jurnalistik

Hilangnya Kebebasan Pers di Mesir


Mesir

ROBERT ADHI KSP

KEBEBASAN pers di Mesir sudah hilang. Sejak terjadi gejolak politik tahun 2011, terutama sejak kudeta militer 2013, jurnalis Mesir tidak lagi bebas menyampaikan laporannya. Kasus terakhir, delapan jurnalis Al Jazeera yang ditangkap pada akhir 2013 diadili pengadilan di Kairo dengan tuduhan ”melakukan konspirasi dengan kelompok teroris” dan didakwa ”menyebar- luaskan informasi yang salah dan rumor kepada masyarakat internasional tentang Mesir”.

Al Jazeera adalah stasiun televisi yang bermarkas di Doha, Qatar. Kedelapan jurnalis Al Jazeera tersebut termasuk warga Australia, Peter Greste, dan warga Mesir, Baher Mohamed dan Mohamed Fahmy, yang ditangkap otoritas Mesir sejak 29 Desember 2013.

Lanjutkan membaca Hilangnya Kebebasan Pers di Mesir

Jangan Runtuhkan Pilar Keempat!


Jangan Runtuhkan Pilar Keempat!
Jangan Runtuhkan Pilar Keempat!

oleh ROBERT ADHI KSP

Juru kamera jaringan TV SkyNews dari Inggris, Mick Deane (61), tewas tertembak ketika meliput bentrokan antara pasukan keamanan dan massa pendukung presiden yang dikudeta, Muhammad Mursi, di Rabaa Al-Adawiya Square, Kairo, Mesir, Rabu (14/8). Mick Deane yang saat itu bersama koresponden Sky News untuk Timur Tengah, Sam Kiley, mengembuskan napas terakhirnya beberapa jam setelah dibawa ke rumah sakit.

Lanjutkan membaca Jangan Runtuhkan Pilar Keempat!