Arsip Kategori: Penulis

Di Balik Buku “Andy Noya: Kisah Hidupku”


B

                       

Buku “Andy Noya, Kisah Hidupku” adalah buku keenam yang saya garap. Buku yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas (2015) ini hasil kolaborasi saya dengan Andy Noya. Wawancara dilakukan sejak 2011, dan buku ini baru diterbitkan pada 2015. Cukup lama juga ya? Harus menunggu empat tahun!

Bagaimana awal mula persahabatan saya dengan Bang Andy Noya? Buku ini digarap setelah buku pertama saya “Panggil Aku King” (biografi legenda pebulu tangkis Indonesia Liem Swie King) terbit pada 2009.

Bang Andy Noya dan Kang Dhony Rahajoe — kami sesama warga BSD — terlibat dalam proses awal buku biografi King. Bang Andy-lah yang “memaksa” King agar mau mengisahkan pengalamannya ke dalam buku. “Kalau Anda tak mau menceritakan, Anda tidak nasionalis,” kata Bang Andy kepada King pada awal 2009. King kaget dan akhirnya bersedia. “Nah, King sudah OK. Sekarang kita cari penulisnya,” kata Bang Andy. Dhony lalu mengusulkan nama saya sebagai penulis buku. Singkat cerita, saya menjadi penulis dan Bang Andy Noya menjadi editor buku “Panggil Aku King”. (Khusus “Di Balik Buku Panggil Aku King“, akan saya tulis terpisah di blog ini).

Setelah buku “Panggil Aku King” terbit pada pertengahan 2009, kami bertiga beberapa kali bertemu. Setelah ngobrol santai sana-sini bersama Bang Andy Noya dan Kang Dhony Rahajoe, suatu hari saya memprovokasi, “Sudah waktunya buku tentang Andy Noya ditulis dan diterbitkan.”

Namun saat itu Bang Andy mengatakan,” Ah, siapa yang mau membaca kisah hidup saya?” Pada masa itu program Kick Andy memang masih baru. Saya sering menerima SMS dari Bang Andy soal ajakan menonton acara itu di Metro TV. Tampaknya saat itu Bang Andy belum percaya diri. Meski demikian, saya meyakini sosok Andy Noya sosok yang disukai pembaca dan penggemarnya.

Tahun 2011, Bang Andy mengontak saya dan mengajak saya ngobrol. Dia setuju saya menulis biografinya. Hampir setiap hari Sabtu atau hari Minggu, saya bertandang ke rumah Bang Andy. Jaraknya hanya sekitar 2 kilometer dari rumah saya. Kami sama-sama warga BSD, tapi beda klaster. Kadang-kadang saya diajak makan siang oleh Bang Andy dan Mbak Upi (Palupi) di rumahnya dengan menu rumahan, seperti sayur asem dan ikan asin.

Saat buku hampir selesai, Bang Andy tiba-tiba mengatakan, “Sepertinya belum waktunya buku saya ini terbit. Kita tunda dulu ya,” katanya. Bang Andy masih menunggu waktu yang pas.

Sementara saya menyelesaikan buku-buku lainnya, saya tetap gigih menanyakan kelanjutan buku ini. “Bagaimana Bang? Buku Karni Ilyas sudah terbit nih, masak buku Bang Andy belum juga?” tanya saya. (Kebetulan waktu itu saya sedang di toko buku Gramedia dan melihat buku Karni dipajang). Bang Andy masih masih mengatakan, “Belum waktunya.”

Setiap tahun saya mengontak Bang Andy, sampai akhirnya pada tahun 2014, Bang Andy mengatakan, “Adhi, kita lanjutkan buku saya.” Wawancara pun diperdalam lagi. Bang Andy ikut memoles sana-sini.

Sama seperti buku “Panggil Aku King“, buku Andy Noya juga diberi pengantar oleh Bapak Jakob Oetama. (Terima kasih kepada Pak St Sularto dan Mbak Etty yang membuka jalan).

Buku Andy Noya akhirnya terbit pada 2015. Sebelumnya, Penerbit Buku Kompas melakukan “pre-order”, sekaligus tes pasar. Tanggapannya luar biasa. Pada masa “pre-order” saja, buku terjual lebih dari 2.000 eksemplar. Ini bukti “feeling” saya tepat. Bang Andy memang sosok yang merakyat.

Setelah itu, buku ini “meledak”. Penggemar Bang Andy Noya di seluruh Indonesia memburu buku ini. Bukan hanya itu, Bang Andy juga rajin mempromosikan buku ini pada saat dia diundang ke berbagai acara (bahkan ketika Bang Andy bertemu dengan Presiden Joko Widodo akhir Februari 2019 lalu). Sampai 2019, buku ini sudah dicetak ulang ke-24.

Buku tentang Andy Noya ini buku ke-6 yang saya garap, sedangkan sampai 2018, saya sudah menulis 10 buku. Sementara buku ke-7, 8, 9, dan 10 yang saya tulis muncul silih berganti dan terpajang di toko buku Gramedia, buku “Andy Noya: Kisah Hidupku” tetap terus terterpajang, dan masuk kelompok “best seller”.

Saya bersyukur bisa berkolaborasi dengan Bang Andy Noya yang murah hati dan rendah hati. Terima kasih untuk Bang Andy Noya yang sudah bersedia berkolaborasi dengan saya.

Foto-foto ini merupakan rekaman peristiwa ketika saya mewawancarai Andy Noya di rumahnya dalam berbagai kesempatan sejak Andy Noya masih berambut kribo dan sering bertopi sampai Andy berkepala plontos.

AFN12
Bersama Bang Andy Noya, 17 Juli 2011
249733_10150199021852311_6680361_n
afn11
Wawancara Andy Noya
Bersama Andy F Noya, Juni 2014
Bersama Andy F Noya di sela-sela wawancara penulisan buku biografi, 23 Juni 2014
Bersama Andy Noya, 13 September 2014
Bersama Andy Noya, 13 September 2014

bersama Andy Noya
bersama Bang Andy Noya di rumahnya, Agustus 2015
Bersama Andy Noya dan Sarah Sechan
Bersama Andy Noya dan Sarah Sechan sesuai rekaman program Kick Andy, akhir Juli 2015 di stasiun Metro TV.

Frederick Forsyth, Dari Jurnalis Menjadi Penulis Novel “Thriller”


Gambar

ROBERT ADHI KSP

Penggemar novel-novel ”thriller” pasti ingat dengan nama Frederick Forsyth. Novel-novelnya, antara lain, ”The Day of The Jackal”, ”The Odessa File”, dan ”The Dogs of War,” yang ditulisnya pada 1970-an merupakan buku-buku ”best-seller” dan dijadikan film. Novel-novelnya ditulis dengan gaya jurnalistik, enak dibaca. Tokoh-tokoh dan plot cerita selalu berdasarkan pada persoalan politik internasional terkini. Di mana Frederick Forsyth sekarang?

Frederick Forsyth tetap menulis novel meskipun usianya kini sudah lebih dari 75 tahun. Novel terbarunya yang berjudul The Kill List diterbitkan Random House pada 20 Agustus 2013. Seperti novel-novel sebelumnya, Forsyth selalu mengemas ceritanya dengan situasi global masa kini yang masih hangat. Ada agen rahasia, aksi teroris, konflik dalam pemerintahan, dan ada ketegangan antarnegara.

Novel ini mengisahkan sejumlah tokoh di Amerika Serikat (AS) dan Inggris dibunuh secara brutal oleh kelompok teroris dan ekstremis. Para pembunuh tersebut dikendalikan oleh seseorang yang dikenal sebagai ”pengkhotbah”, yang kemudian dimasukkan dalam daftar orang paling dicari oleh AS. Seorang agen pemburu, yang ayahnya salah satu korban pembunuhan ”sang pengkhotbah”, ditugaskan untuk mengejar, mengungkap identitas ”sang pengkhotbah”, dan menghabisinya.

Novel The Kill List akan difilmkan dan disutradarai oleh Rupert Sanders.

Selain masih menulis novel, melakukan riset, dan melakukan perjalanan untuk melengkapi deskripsi novelnya, Frederick Forsyth sampai saat ini juga tetap menulis kolom di surat kabar Inggris, Express. Dia menjadi komentator politik yang mengupas dan mengulas berbagai persoalan politik internasional.

Lanjutkan membaca Frederick Forsyth, Dari Jurnalis Menjadi Penulis Novel “Thriller”