Arsip Kategori: Profil

Tony Wenas, Chief Entertainment Officer


Chief Entertainment Officer_C-1+4_Page_1Sampul buku “Tony Wenas, Chief Entertainment Officer: Work and Fun are Soulmates” (oleh Robert Adhi Ksp). Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Terbit April 2017.  DOKUMENTASI PT GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

Chief Entertainment Officer. Julukan ini sangat pas diberikan kepada Tony Wenas, yang sehari-harinya menjabat Chief Executive Officer atau CEO PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) dan Managing Director APRIL Group. Mulai 1 Maret 2017, Tony kembali ke PT Freeport Indonesia. “Menyanyi adalah pekerjaan utama Tony, dan CEO pekerjaan sampingannya,” demikian banyak sahabat dan koleganya menggambarkan diri Tony Wenas saat ini.

Julukan Chief Entertainment Officer keluar dari mulut Nico Kanter, Presiden Direktur dan CEO PT VALE Indonesia, yang juga sepupu Tony. Nico yang menjadi teman main Tony sejak kecil, tahu persis siapa Tony.

Nico Kanter dan kakaknya, Johnny Kanter, serta semua kakak adik Tony Wenas terkagum-kagum dan mengakui betapa Tony seorang genius sejak kecil. Pada usia 4 tahun, Tony sudah mampu menyanyikan lagu orang dewasa, yang saat itu sedang populer, “Ten Guitars”, yang awalnya dibawakan penyanyi Inggris Engelbert Humperdinck pada 1967.

Pada usia 13 tahun, Tony mampu memainkan semua lagu berirama ragtime dan soundtrack film “The Sting” yang dirilis akhir tahun 1973, di antaranya “The Entertainer” ciptaan Scott Joplin yang digubah Marvin Hamlisch. Tony tak pernah belajar piano dengan benar. Dia hanya mendengar dan melihat, lalu mempraktikkannya.

Teman masa kecilnya, Inoe Arya Damar terheran-heran melihat kepiawaian Tony bermain piano. “Saya menilai Tony bukan orang yang senang menonjolkan diri secara berlebihan. Dia akan menunjukkan kehebatannya ketika diminta,” ungkap Inoe, sahabat SD. Adapun sahabat SMP-nya, Dion Simatupang sering membalas surat-surat cinta teman perempuan yang naksir Tony. Bahkan Tony tidak pernah tahu Dion yang membalas surat cinta itu.

IMG_8908 (1)
Bersama Pak Tony Wenas di Burgundy, Grand Hyatt Jakarta, November 2016

Di SMA Kanisius, Tony menghidupkan band sekolah dan sering merebut juara lomba vocal group antar-SMA se-Jakarta. Tony latihan bersama teman- temannya, di antaranya Dwi Hartanto. “Berkat aktivitasnya dalam dunia nyanyi dan musik sejak SMA, Tony punya modal kuat dalam pergaulan,” kata Dwi Hartanto, yang kini pengusaha listrik.

Rhenald Kasali, teman sekelasnya di Kanisius menilai Tony mampu memaksimalkan otak kiri dan otak kanannya. “Jarang ada orang seperti Tony,” kata Kasali, kini guru besar di Universitas Indonesia.

Ketika berusia remaja, Tony bercita-cita ingin menjadi musisi beken. Tony berhasil mewujudkannya dalam waktu enam sampai tujuh tahun kemudian. Melalui band “Solid 80”, band yang dibentuk Tony dan kawan-kawannya saat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Tony tampil sebagai musisi terkenal pada masa itu.

Sampai saat ini Tony memiliki ikatan emosional yang kuat dengan teman- teman band “Solid 80”, yaitu Setiawan Adi, Kurnia Wamilda Putra, Hendrasly Ahmad Sulaiman, Glenn Tumbelaka, Boyke Sidharta dan Edi ‘Achink’ Nugroho. “Tony jujur, pemberani, antusias, dan pembangun semangat,” kata Hendrasly.

Pada masa itu, profesi musisi belum memberi jaminan masa depan. Tony memilih untuk bekerja sebagai profesional. Sesama “anak band”, Triawan Munaf (kini Kepala Badan Ekonomi Kreatif) yang pada masa itu bergabung dalam band “Giant Step” menilai Tony tetap bermusik secara profesional meski menjabat sebagai CEO.

Tony Wenas di studio musik di rumahnya - foto KSP
Tony Wenas di studio musik di rumahnya, Desember 2016

Kepemimpinan yang efektif

Pada awal kariernya, Tony lebih fokus pada pekerjaan. Setelah mulai mapan, Tony tetap “ngeband”, menyanyi dan memainkan alat musik di tempat kerjanya. Tony berpindah-pindah tempat kerja, mulai dari perusahaan migas ARCO (yang kemudian berubah menjadi BP), kemudian perusahaan perbankan dan telekomunikasi.

Tony melamar bekerja di Freeport, dan dalam tujuh tahun, kariernya melesat sampai menduduki jabatan Executive Vice President. Bagi Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (saat itu) Adrianto Machribie, Tony memiliki leadership yang sangat efektif. Dia mampu menggerakkan orang-orang dalam organisasi tanpa menonjolkan dirinya. Tony fleksibel dalam arti positif, terbuka, tidak arogan, mudah bergaul, mau mendengar orang lain, dan juga bisa keras. Tony juga tidak pernah mengatakan, “Aku yang menentukan.”

Adrianto Machribie berpendapat, banyak orang yang mencoba naik ke atas dengan cara “menendang” ke kiri dan kanan, tetapi Tony berkembang tanpa harus “menyikut”, “melukai” ataupun “menendang” orang lain. Dia dipilih karena prestasi yang diukirnya sendiri.

KSP dan Adrianto Machribie.jpg
Bersama Pak Adrianto Machribie, mantan Presdir PT Freeport Indonesia, yang sekarang menjabat Presdir Metro TV, Februari 2017 

Tony Wenas dinobatkan sebagai “The Indonesia Most Admired CEO 2016” atau CEO Idaman Indonesia pada 8 Desember 2016 dari majalah “Warta Ekonomi”. Sebelumnya, pada 2 Maret 2016, Tony Wenas dinobatkan sebagai salah satu CEO Terbaik (The Best CEO) versi “Men’s Obsession” dan menerima “Obsession Awards 2016” sebagai “Best Individual Achiever Category CEO Private Sector”. Penghargaan-penghargaan sebagai CEO Terbaik yang diterima Tony Wenas sepanjang 2016 merupakan apresiasi pihak luar kepada dia dan apa yang telah dia lakukan. Tony selalu mengatakan, keberadaannya di perusahaan harus memberi manfaat lebih bagi semua pihak. Sebab bila sama saja, artinya dia hanya “CEO rata-rata”.

Tidaklah heran bila nama Tony Wenas masuk dalam daftar headhunter mengingat kemampuan Tony melakukan lobbying, menjalin networking, dan kemampuan teknisnya. Dia paham masalah kehutanan, pertambangan, dan perbankan, meski tidak sampai detail.

Kalimat kunci yang sering disampaikan Tony adalah dia mengelola perusahaan seperti pengalamannya mengelola band. Dia mengelola orang-orang dalam perusahaan itu seperti dia mengelola para pemain dalam grup band. “It’s about managing people,” kata Tony. Memimpin perusahaan ibarat memimpin orkestra dan band. Seorang pemimpin orkestra tahu kapan pemain tertentu harus dominan dan kapan dia harus lembut, instrumen apa yang perlu tampil di depan, dan kapan di belakang. Bagi Tony, memimpin lima manajer dalam perusahaan jauh lebih mudah dibandingkan memimpin lima pemain band yang memiliki ego yang cenderung tinggi.

Cara Tony menangani persoalan selalu mujarab. Apapun persoalan yang dihadapinya, Tony mampu menyelesaikan dengan baik. “Saya mengagumi kemampuan Tony menangani berbagai persoalan yang dihadapi perusahaan. Dia memiliki kemampuan menyeimbangkan tekanan (pressure),” kata Bernardus Irmanto, Wakil Presiden Direktur PT VALE Indonesia. “Saya terkesan pada Tony karena logical thinking-nya sangat kuat. Sekompleks apapun persoalan, dia melakukan pendekatan logical thinking sehingga persoalan cepat diurai, penerapan solusi lebih tepat, dan penyelesaian masalah pun cepat terlaksana,” kata Hendra Sinadia, sahabat Tony yang sekarang aktif di Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia dan Apindo.

KSP dan Dan Bowman
Bersama Daniel A. Bowman di Restoran Le Quartier, Januari 2017

Problem is my middle name. Tony mengibaratkan namanya Tony “Problem” Wenas. Semua perusahaan tempat dia bekerja, menghadapi banyak persoalan hukum, dan sebagai lawyer, Tony mampu membereskan problem yang dihadapi perusahaan.

Daniel A Bowman yang pernah menjadi atasan Tony di Freeport menilai, Tony Wenas lawyer terbaik yang pernah bekerja sepanjang sejarah Freeport, bahkan terbaik di Indonesia. “Saya sering melihat lawyer di Indonesia hanya profesional tetapi tidak bertanggung jawab sebagai problem solver. Tapi Tony berbeda. Dia ikut memecahkan persoalan yang sangat berat yang dihadapi Freeport, dari masalah lingkungan, keamanan, capital market, dan dia menyelesaikannya dengan baik. Banyak lawyer mempromosikan diri, tetapi Tony melakukan secara confidential karena dia memikirkan kliennya, Freeport,” kata Bowman.

KSP dan HS Dillon.jpg
Bersama Pak HS Dillon di Restoran Ambiente, Hotel Aryaduta Tugutani Jakarta, Januari 2017 

HS Dillon, yang pernah menjabat Senior Advisor di PT Freeport Indonesia, menilai Tony Wenas memiliki integritas dan dignity di perusahaan tempat dia bekerja.

Esterini Wahyudisheno, Head of Legal PT RAPP, yang pernah bekerja dengan Tony di Freeport dan RAPP menilai, Tony selalu menginginkan perusahaan yang dipimpinnya taat hukum. Semua langkah dan kebijakan perusahaan harus dipastikan sesuai dengan peraturan hukum.

Di mata sekretarisnya, Winda Herlina (saat di INCO/VALE), “Pak Tony sosok pemimpin mandiri”, sedangkan di mata Yenny Lie (sekretaris di RAPP), “Pak Tony memiliki daya ingat yang luar biasa.”

Tony masih sering menyanyi dan tampil bersama band “Solid 80” yang dipimpinnya hingga kini. Bahkan Tony bisa jadi satu-satunya CEO yang masih “ngeband” dan dibayar secara profesional. Dengan cara itu, Tony ingin menegaskan, musisi harus dihargai secara profesional.

“Tony sukses dalam kehidupan profesional dan sebagai musisi. Ini bukti nyata, bila seorang seniman dan musisi diberi kepercayaan memimpin perusahaan, dia mampu melakukannya dengan baik,” kata Tantowi Yahya, sahabat Tony. Tantowi Yahya adalah Ketua Umum PAPPRI (Persatuan Artis, Penyanyi dan Pemusik Rekaman Indonesia) dimana Tony juga duduk sebagai Bendahara Umum, dan juga politisi Partai Golkar yang kini Duta Besar RI untuk Selandia Baru.

Tony juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan organisasi probono. Dia membangun Rumah Retret di Tomohon, Sulawesi Utara yang dikhususkan untuk kegiatan keagamaan. Tony aktif di Indonesia Business Council for Sustainable Development, The Nature Conservancy, KADIN, Indonesia Mining Association, Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia, Asosiasi Emiten Indonesia, Persatuan Artis, Penyanyi dan Pemusik Rekaman Indonesia, alumni Canisius College, alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Kerukunan Keluarga Kawanua dan Komunitas Keluarga Wenas se-Indonesia.

Mencintai keluarga

Tony dijuluki sebagai family man, lelaki yang mencintai keluarganya. Dari sejumlah wawancara yang dilakukan, sahabat dan keluarga Tony mengakui Tony hanya mencintai perempuan bernama Shita Manik-Wenas yang sekarang menjadi istrinya. “Dia tidak pernah berpacaran dengan perempuan lain. Cinta Tony hanya pada Shita,” kata Paul Nelwan, sahabat dekat Tony.

Hanya Shita yang berhasil mendampingi Tony dan membuat hidupnya kembali normal. Sebelumnya Tony sempat seperti “layang-layang putus” dan sering minum dan dugem dan mabuk, terutama pada masa dia sempat berpisah dengan Shita. Namun Tony tidak menyerah dan itulah yang membuat Shita kembali pada Tony. “Jodoh tak lari ke mana,” kata Johnny Kanter, sepupu dan teman Tony sejak kecil. Johnny mengakui, Tony memang bandel di masa kecil dan remajanya tetapi dia sukses dalam hidupnya.

Di mata istrinya, Shita, “Tony is the best husband.”, sedangkan di mata putranya, Diego Wenas, “Papa sudah seperti teman dekat.”

“Bon vivant”

“Tony seorang bon vivant,” kata HS Dillon, sahabat Tony. Dan memang, Tony menerapkan prinsip work hard, play hard dalam kehidupannya. Meski sibuk dalam bekerja, dia tetap punya waktu untuk bergembira. Dia seorang penikmat wine. Pada masa remajanya, Tony sudah puas minum whisky dan sejenisnya.

“Tony menggabungkan antara pekerjaan, pleasure dan fun. Meski dia pulang larut malam setelah ‘ngeband’ atau nyanyi-nyanyi, tetapi pagi harinya dia sudah tiba di kantor lagi tepat waktu,” kata Clementino Lamury, Director & Executive Vice President PT Freeport Indonesia di bidang External Affairs. Clementino mengakui Tony Wenas adalah guru dan mentornya. “Tony hidup dalam keseimbangan antara sebagai profesional dan sebagai penyanyi. Dia CEO yang bisa hidup di dua dunia berbeda. Dia bukan CEO yang hanya memikirkan masalah finansial dan urusan perusahaan,” kata Agung Laksamana, Corporate Affairs Director APRIL Group.

tony-wenas-dan-ksp
Bersama Bapak Tony Wenas di Burgundy, Grand Hyatt Jakarta, Oktober 2016

Work and fun are soulmates. Kalimat itu diambil dari cendera mata yang diberikan karyawan Freeport Indonesia kepada Tony ketika dia mengundurkan diri dari perusahaan itu. Tony setuju ketika disampaikan usul kata-kata yang menggambarkan dirinya itu menjadi judul buku ini.

Buku ini bukan sekadar mengungkap perjalanan hidup seorang Tony Wenas, tetapi juga memaparkan kiat-kiat seorang seniman pencinta musik dan musisi berhasil memimpin perusahaan pertambangan dan kehutanan. Buku ini layak dibaca para profesional dan siapa saja yang suka membaca buku biografi.

                                                                               ***

Suasana wawancara yang hidup

Saya mewawancarai Tony Wenas sejak pertengahan Oktober 2016 sampai pertengahan Desember 2016 di Burgundy, Hotel Grand Hyatt Jakarta, di MO Bar, Hotel Mandarin Jakarta, dan di kediamannya yang asri di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, serta wawancara tambahan pada awal Februari 2017 di Social House di Grand Indonesia. Setiap saya mewawancarai Pak Tony di Burgundy, MO Bar, Social House, dan di rumahnya, saya selalu disuguhi wine. 

tony-wenas-dan-ksp-0
Bersama Bapak Tony Wenas di Burgundy, Grand Hyatt Jakarta, Oktober 2016

Karena Pak Tony Wenas seorang penyanyi, dalam beberapa bagian wawancara, Tony memberi ilustrasi dengan mendendangkan lagu. Misalnya ketika bercerita saat dia berusia 4 tahun dan sudah fasih menyanyikan lagu berjudul “Ten Guitars”. Tony memberi contoh dengan menyanyikan beberapa bait lagu yang dibawakan kali pertama oleh penyanyi Inggris kelahiran Madras, India, Engelbert Humperdinck.

Saat bercerita pada usia 13 tahun, dia fasih memainkan soundtrack film “The Sting”, Tony mendendangkan satu lagu, dan saya langsung menebak dengan tepat, “The Entertainer”. Juga ketika Tony menceritakan satu momen hidupnya saat pemakaman ayahnya, dia menyanyikan lagu berjudul “Papa” ciptaan Titiek Puspa. Di depan saya, Tony menyanyikan lagu itu dengan penuh perasaan.

Tony Wenas dan KSP3 - pelengkap tulisan KSP
Bersama Pak Tony Wenas di studio musik di lantai dua rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Desember 2016

Pada lain waktu, wawancara dilakukan di rumahnya di Jalan Sindanglaya, Menteng. Tony mengajak saya ke studio musik di lantai dua rumahnya. Tony menyalakan lampu sorot seolah kami berada di atas panggung, kemudian dia memainkan keyboard sambil menyanyikan lagu-lagu Phil Collins dari grup Genesis, dan Queen. Suasana wawancara dengan Tony Wenas menjadi hidup dan saya sangat menikmatinya. (Robert Adhi Ksp)

(Dikutip dari kata pengantar penulis dalam buku “Tony Wenas, Chief Entertainment Officer: Work and Fun are Soulmates, PT Gramedia Pustaka Utama, terbit April 2017)

BACA JUGA: Buku-buku Robert Adhi Ksp

Iklan

Pemikiran Awaloedin Djamin tentang Polri Masih Relevan


Menjelang peringatan Hari Bhayangkara 1 Juli 1992 silam, saya bersama Mas Indrawan Sasongko M (alm) mewawancarai mantan Kapolri Jenderal Pol Purn Prof Dr Awaloedin Djamin MPA. Ini kali pertama saya mewawancarai seorang tokoh nasional dan mantan Kapolri secara khusus dan panjang lebar.

Kami mewawancarai Pak Awaloedin Djamin yang enerjik dan penuh semangat itu di kantornya di Gedung Jamsostek di Jalan Gatot Subroto.

 

Awaloedin Djamin
Wawancara dengan mantan Kapolri Prof Dr Awaloedin Djamin MPA dimuat di Harian Kompas, Minggu 28 Juni 1992. 

 

Di Indonesia baru ada satu polisi yang bisa meraih gelar doktor (PhD) dan kemudian diangkat menjadi profesor dalam ilmu administrasi negara. Keberuntungan dan koinsidensi sejarah menyebabkan dirinya memegang jabatan penting di dalam pemerintahan Republik Indonesia. Menjadi Kepala Polisi Republik Indonesia, Ketua Lembaga Administrasi Negara, Menteri Tenaga Kerja, Duta Besar Indonesia untuk Republik Federasi Jerman, anggota DPR-GR, MPRS dan DPA dan berbagai jabatan lainnya.

Kesempatan-kesempatan yang diperoleh Awaloedin membuat dirinya menjadi ahli tidak saja dalam soal kepolisian, tetapi juga administrasi negara dan sumber daya manusia.

Dalam wawancara selama lebih tiga jam, Jenderal Polisi Purnawirawan Awaloedin Djamin kelahiran Padang 26 September 1927 itu, memang banyak berbicara tentang berbagai masalah, termasuk masalah administrasi negara dan sumber daya manusia. Tetapi penulisan lebih difokuskan kepada masalah kepolisian. Pada masa itu, Kepolisian RI masih bergabung dengan ABRI, belum terpisah seperti sekarang.

Pak Awaloedin berpendapat, polisi masa depan bergerak di tengah-tengah kemajuan dan tidak boleh seperti katak di bawah tempurung. Polisi yang bertugas, harus bisa menguasai wilayahnya, kebiasaannya, suku bangsanya, keadaan ekonominya, wataknya.

“Lulusan PTIK itu harus jadi police middle manager. Dia tidak hanya jadi pemimpin anggotanya, ia juga harus berusaha meningkatkan diri menjadi pemimpin masyarakat lingkungannya. Jadi harus keluar. Kapolres misalnya, selain jadi pemimpin anak buahnya, juga harus jadi pemimpin masyarakat luas di lingkungannya. Mengembangkan diri jadi pemimpin, tidak gampang. Masyarakat sekarang adalah masyarakat yang kompleks. Kalau Polri saja tidak bisa mengantisipasi ini, ya susah. Kita bertugas di tengah-tengah mereka,” demikian pendapat Pak Awaloedin Djamin yang disampaikan dalam wawancara tersebut.

Lanjutkan membaca Pemikiran Awaloedin Djamin tentang Polri Masih Relevan

Johannes Hariyanto: Dulu “Sales” Sekarang Pemilik Pengembang TreePark Group


ROBERT ADHI KSP

Tahun 1974, Johannes Hariyanto (59) bekerja sebagai pegawai promosi penjualan atau sales promotion di perusahaan rokok Djarum di Surabaya dan berkeliling ke kota-kota di Jawa Timur. Tahun 1976, dia dipindahkan ke Manado, Sulawesi Utara. Tugasnya berkeliling mempromosikan rokok Djarum ke kota-kota di Pulau Sulawesi dan Maluku.

Johannes Hariyanto, pemilik perusahaan pengembang TreePark Group.
Johannes Hariyanto, pemilik perusahaan pengembang TreePark Group.

Masih di Manado, pada 1980, Hariyanto pindah kerja, menjadi sales promotion perusahaan bir hitam Guinness. Dia sempat mengalami guncangan karena penjualannya merosot. Sebagai pemuda yang mulai belajar berusaha, kondisi saat itu tidaklah mudah karena sebelumnya Hariyanto bekerja sebagai profesional di sebuah perusahaan kayu di Semarang sambil menyelesaikan kuliahnya di Universitas Diponegoro.

Suatu hari pada tahun 1982, Hariyanto bertemu dengan Muktar Widjaja, saat itu Kepala Cabang Sinar Mas di Indonesia timur. Hariyanto diajak bergabung di PT Bimoli (Bitung Manado Oil) yang berkantor di Manado dan menjadi kepala unit.

Yang menarik bagi Johannes Hariyanto ketika kali pertama bekerja di Sinar Mas adalah dia ditempatkan di Unit Pembelian Kopra Sindulang Manado dan diminta belajar menimbang kopra dan belajar mengetahui kualitas Kopra Mas.

“Awalnya saya malu karena pekerjaan itu tidak sesuai dengan jabatan saya sebelumnya. Namun, saya akhirnya memahami bahwa itu merupakan tempat latihan yang luar biasa bagi saya sebelum saya ditempatkan di posisi yang strategis,” ungkap Hariyanto. Di tempat itu, dia dapat melihat langsung banyak sekali lubang yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan kecurangan, di antaranya mencuri timbangan. Hampir semua anak-anak Eka Tjipta Widjaja, pemilik Sinar Mas, melakukan pekerjaan ini di awal karier mereka.

Setelah menimbang kopra di Unit Pembelian Kopra Sindulang Manado, Hariyanto dipindahkan ke Ternate ketika Sinar Mas membangun pabrik di sana. Setelah Bimoli menjalin kerja sama dengan Grup Salim, Hariyanto menjabat Kepala Bagian Pembelian (Purchasing). Jabatan itu biasanya dipegang putra-putra dan keluarga Eka Tjipta Widjaja. Di sana, Hariyanto bertanggung jawab atas pembelian bahan baku kopra untuk keperluan PT Bimoli. Dia mencari kopra di Sangir Talaud, Lubukbanggai, Gorontalo, sampai Ternate.

Johannes Hariyanto mengakui betapa indahnya panorama Indonesia timur setelah dia mengelilingi Sulawesi mulai dari Selayar sampai Miangas. “Alangkah indahnya negeri ini. Apalagi bila rakyat saling menghormati keberagaman,” katanya.

Tahun 1989, Sinarmas dan Grup Salim pecah kongsi dalam kerja sama PT Bimoli. Wilayah Manado diambil alih oleh Grup Salim. Hariyanto dipindahkan ke Jakarta, menjadi Kepala Bagian Personalia Divisi Perkebunan Sinar Mas II.

Pada waktu itu, tahun 1990, Sinar Mas baru membangun perkebunan di Riau, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Lampung. Setiap bulan Hariyanto mengawasi perkebunan-perkebunan sawit itu. Dia mengirim karyawan baru untuk magang di perkebunan kelapa sawit tertua milik Sinar Mas di Padang Halapan, Sumatera Utara.

Amankan ITC saat kerusuhan 1998

Pada tahun 1992, Hariyanto ditarik ke Divisi Properti yang membawahi antara lain PT Duta Pertiwi dan berkantor di ITC Mangga Dua di lantai 8. Tugas utamanya adalah memajukan ITC Mangga Dua. Di Divisi Properti, Hariyanto menjabat Kepala Hubungan Masyarakat dan Hubungan Masalah atau Direktur General Affairs. Kalau ada masalah apa pun, Hariyanto yang menyelesaikannya. Ketika ditempatkan di divisi inilah Hariyanto berteman dengan banyak pihak.

Ketika terjadi kerusuhan Mei 1998, ITC Mangga Dua tidak tersentuh dan menjadi satu-satunya pusat perdagangan dan perbelanjaan yang tidak dijarah. Padahal, tetangga ITC, Harco Mangga Dua, menjadi korban penjarahan. Mengapa ITC Mangga Dua aman?

Lanjutkan membaca Johannes Hariyanto: Dulu “Sales” Sekarang Pemilik Pengembang TreePark Group

Berhenti “Ngantor”, Artha Capai Kebebasan Finansial Lewat Bisnis Properti


ROBERT ADHI KSP

YULIARTA Sianturi, Co-Founder, The Premium Property (konsultan dan pengembang properti) dan Direktur PT Bangun Multikreasi Selaras (perusahaan furnitur), pada awalnya arsitek di salah satu perusahaan pengembang terkemuka di Indonesia. Lulusan Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, ini menangani sejumlah proyek besar di Jakarta. Namun, pada suatu hari pada saat Artha-nama panggilannya-hamil tujuh bulan, suaminya, Bintang Sitompul, terbaring di rumah sakit selama hampir dua bulan karena sakit di bagian pencernaannya yang tak kunjung sembuh.

Dalam kondisi hamil anak keduanya, Artha setiap hari Senin sampai Sabtu naik kereta rel listrik dari Bintaro ke kantornya di kawasan Jakarta Kota. Dia juga harus memikirkan pengobatan suaminya yang sakit keras dan berpikir bagaimana melunasi biaya rumah sakit.

Pada saat itulah Artha berpikir ada yang salah dalam hidupnya. Selama ini dia sibuk mengejar karier untuk menjadi arsitek yang top. Karya-karya arsiteknya antara lain ITC Fatmawati Jakarta, Kota Bunga Cipanas, Four Season Plaza Batam, Wisma Eka Jiwa, Borobudur Intercontinental Hotel Jakarta, rumah mewah di Pantai Indah Kapuk, Cirendeu dan Pondok Indah Jakarta.

Yulia Sianturi

Dia menghadiri rapat-rapat penting agar proyek properti yang dikerjakan cepat selesai. Tetapi, ketika suaminya jatuh sakit, dia harus memilih, merawat suaminya yang tak kunjung sembuh atau tetap menghadiri rapat-rapat di kantor? Dia tak mungkin tidak masuk kantor setiap hari karena perusahaannya juga membutuhkan tenaga dan pikirannya. Namun, suaminya yang terbaring lemah lebih membutuhkan perhatiannya. Dia merasa Tuhan menegurnya.

Artha bertanya dalam hatinya, apakah ada cara lain di luar bekerja “9 to 5”? Artha belum punya role model yang bisa dicontoh dalam keluarga besarnya karena latar belakang keluarganya dan keluarga suaminya semua bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Ayahnya PNS di Kejaksaan, sedangkan ayah mertua PNS dan ibu mertuanya guru bahasa Indonesia. “Bapak dan ibu berpesan agar anak-anaknya menjadi PNS. Hanya saya yang menjadi arsitek di perusahaan swasta, tetapi belum ada yang bekerja di perusahaan swasta atau menjadi wirausaha,” ceritanya.

Lanjutkan membaca Berhenti “Ngantor”, Artha Capai Kebebasan Finansial Lewat Bisnis Properti

Sisca Soewitomo, Memasak dengan Cinta


ROBERT ADHI KSP

Ketika usianya masih lima tahun, Sis Cartica (66) atau akrab dipanggil Sisca sering membantu ibu dan neneknya membuat kue keju kering (kastengel), terutama menjelang Lebaran. Pengalaman dari dunia masak yang menyenangkan pada masa kecilnya itu membekas dalam hidupnya dan membuat perjalanan hidupnya penuh makna.

Pakar kuliner dan penulis buku masak, Sisca Soewitomo ketika bertamu ke kantor Bapak Jakob Oetama, Kamis 23 Julli 2015
Pakar kuliner dan penulis buku masak, Sisca Soewitomo ketika bertamu ke kantor Bapak Jakob Oetama, Kamis 23 Julli 2015

Semula, Sisca yang lahir di Surabaya, 8 April 1949, ini bercita-cita menjadi dokter. Setelah tamat dari SMA Negeri 4 Surabaya tahun 1968, dia sempat kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta. Namun, pada tahun kedua, Sisca menikah dengan Soewitomo Soeleiman dan dia memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah kedokteran.

Setelah menikah dan melahirkan anak pertamanya, Sisca melanjutkan kuliahnya agar dapat membantu ekonomi keluarga. Dia melanjutkan pendidikan ke Akademi Pariwisata Trisakti, Jakarta, dan lulus tahun 1976. Sejak 1977, Sisca menjadi asisten dosen di almamaternya kemudian menjadi dosen senior merangkap Kepala Bagian Humas, Kepala Bagian Pengabdian Masyarakat, dan Sekretaris Direktur Akademi (sampai 1991).

Jalan hidup Sisca memang bukan bergelut di ruang praktik ataupun di rumah sakit. Sisca justru asyik bergelut di dapur, di dunia masak-memasak. Sisca mendapatkan beasiswa di luar negeri, belajar di China Baking School di Taipei, Taiwan (1980), dan di American Institute of Baking di Kansas, Amerika Serikat (1983). Sejak itu, keahliannya dalam bidang kuliner makin mendalam.

”Saya sekarang menjadi ’dokter dapur’,” kata Sisca dalam percakapan dengan Kompas, Kamis (23/7), di Jakarta.

Sisca 270715

Lanjutkan membaca Sisca Soewitomo, Memasak dengan Cinta

Suksesi Raja Media Rupert Murdoch dan Tantangan Generasi Kedua


ROBERT ADHI KSP

Rupert Murdoch (84) berencana menyerahkan kendali perusahaan 21st Century Fox kepada putra-putranya. James Murdoch akan menjadi Chief Executive Officer, sedangkan Lachlan Murdoch akan berperan sebagai Co-Executive Chairman.

Ini merupakan bagian dari rencana suksesi jangka panjang Rupert Murdoch. Namun, belum jelas kapan perubahan kepemimpinan di perusahaan itu ditetapkan. “Masalah suksesi merupakan agenda pertemuan komisaris,” kata juru bicara Fox, Nathaniel Brown.

Rupert Murdoch 130615

Meskipun mundur, Rupert Murdoch tetap menjadi Executive Chairman. Dia diharapkan terus melakukan pengawasan strategis dan mempertahankan kendali utama perusahaannya. Keluarga Murdoch mengendalikan baik 21st Century Fox dan News Corporation secara efektif. Mereka juga menguasai sebagian kerajaan media Murdoch melalui kepemilikan hampir 40 persen saham di kedua perusahaan itu.

Usia Murdoch sudah 84 tahun, tetapi dia tidak sakit-sakitan. Dia masih muncul di kantornya dengan penuh energi. Banyak yang berharap Murdoch tetap datang ke kantor secara rutin. “Ini masih tetap menjadi perusahaan Murdoch sampai kapan pun,” kata Rich Greenfield, analis media BTIG Research.

Sebagai bagian dari reorganisasi, Chase Carey akan mundur dari perannya sebagai Chief Operating Officer di Fox dan bekerja sebagai penasihat perusahaan. Carey menjabat eksekutif tertinggi kedua di Fox sejak tahun 2009 dan dihormati di Wall Street Journal. Dia memainkan peran integral dalam rencana suksesi ini.

Menurut orang dekat keluarga Murdoch, James dan Lachland memiliki hubungan yang baik. James akan menjabat CEO, sedangkan Lachlan menduduki pos Chairman. Ini sesuai rencana sang ayah.

James dan Lachlan naik ke puncak Fox yang didirikan ayah mereka. Namun, industri media saat ini mengalami perubahan. Kakak-adik itu harus memandu dunia baru media yang lebih kompleks dengan teknologi distribusi dan periklanan digital pada tahun-tahun mendatang. Eksekutif media dan analis menggambarkan James sebagai eksekutif yang memiliki pengalaman mengoperasikan perusahaan media di berbagai negara, juga seorang yang lebih segar, lebih muda, dan memiliki perspektif dalam bisnis. Peran James mendorong ayahnya mengambil saham di Vice, perusahaan media muda, dan mengakuisisi TrueX, perusahaan teknologi periklanan (“Rupert Murdoch to Put Media Empire in Sons’ Hands”, The New York Times, 11 Juni 2015). James digambarkan sebagai “seorang lelaki yang sangat berbakat, dan akan menjadi pelayan yang jujur dan terhormat di perusahaan,” kata Leo Hindery Jr, mantan CEO Tele-Communications Inc yang bekerja sama dengan kerajaan Murdoch selama puluhan tahun dan kini managing partner InterMedia Partners.

Lanjutkan membaca Suksesi Raja Media Rupert Murdoch dan Tantangan Generasi Kedua

Jack Ma, Tak Pernah Juara di Sekolah, Kini Orang Terkaya di Tiongkok


ROBERT ADHI KSP

Jack Ma (50) tidak pernah menjadi juara di sekolah. Dia berulang kali mengalami penolakan. Dia pernah ditolak masuk universitas. Berulang kali pula dia melamar pekerjaan dan ditolak berbagai perusahaan. Tak seorang pun yakin dengan masa depan Jack Ma. Namun, lelaki kelahiran Hangzhou, Tiongkok ini tidak pernah menyerah.

Jack Ma, pendiri dan Pemimpin Alibaba.com, perusahaan e-dagang asal Tiongkok, menjadi orang terkaya di Tiongkok setelah penjualan saham perdana Alibaba di bursa Amerika Serikat mencatat rekor 25 miliar dollar AS pada September 2014. Dia menjadi orang Tiongkok daratan pertama yang masuk dalam daftar orang terkaya dunia versi majalah Forbes, dengan kekayaan bersih 25,5 miliar dollar AS (per Juni 2015).

Jack Ma

Jack Ma kini menjadi contoh inspirasi bagi banyak orang yang memulai e-dagang. Pelajaran yang dapat dipetik dari seorang Jack Ma adalah dia tumbuh dari kehidupan yang sangat miskin dan dia bukan seorang juara di sekolahnya. Dia pernah tiga kali gagal masuk ke universitas, namun terus mencobanya sampai berhasil.

Ketika akhirnya berhasil menikmati pendidikan tinggi, Jack Ma memastikan, dia juga menggunakan waktunya untuk bekerja praktik. Dia bekerja sebagai seorang pemandu wisata di Tiongkok. Dia belajar dari kerja keras dan interaksi dengan penduduk setempat serta wisatawan asing. Dia mulai mengembangkan pandangan pribadinya tentang kapitalisme dan kewirausahaan serta melihat web sebagai masa depan bisnis.

Richard Branson dalam situs Virgin.com menyatakan setuju dengan Jack Ma bahwa internet akan menciptakan, bukan menghancurkan, banyak pekerjaan dalam tahun-tahun mendatang. Salah satu tugas paling penting bagi kemanusiaan adalah memberi setiap orang di bumi ini kesempatan untuk terhubung secara online.

Terinspirasi oleh kisah-kisah Seribu Satu Malam, Jack Ma kemudian memutuskan menggunakan nama Alibaba untuk perusahaannya yang membuka pintu bagi usaha kecil dan menengah. “Suatu hari, saya di San Francisco dan saya berpikir Alibaba adalah nama yang baik. Alibaba membuka akses untuk perusahaan-perusahaan kecil dan menengah,” katanya. Filosofi Jack Ma semuanya tentang hubungan pribadi, juga bagaimana dia merekrut orang. “Jangan mempekerjakan orang yang paling berkualitas, tetapi carilah yang paling gila,” katanya tertawa. “Anda membutuhkan orang dengan ide-ide yang berbeda untuk membuat perusahaan ini hidup, bukan orang-orang yes men,” ujarnya.

Guru Bahasa Inggris

Ketika berbicara dalam acara makan siang pada Economic Club of New York, Selasa (9/6/2015), Jack Ma mengungkapkan, periode menjadi guru Bahasa Inggris menjadi masa terbaik dalam hidupnya. Setelah lulus dari perguruan tinggi tahun 1988, dia bekerja sebagai guru Bahasa Inggris di universitas di kota kelahirannya, Hangzhou. Dia hanya mendapatkan gaji 12 dollar AS sebulan, menurut program dokumenter tentang hidup Jack Ma berjudul Crocodile in the Yangtze. “Ketika tidak memiliki banyak uang, Anda tahu bagaimana menghabiskannya,” ucap Ma. “Uang 1 miliar dollar AS bukanlah uang Anda. Uang yang saya miliki hari ini adalah tanggung jawab. Itu merupakan kepercayaan orang terhadap saya,” katanya.

Ini bukan pertama kali Jack Ma berbicara tentang bebannya menjadi seorang miliarder. Ketika berbicara dalam sebuah panel di Clinton Global Initiative di New York, Ma melihat hari-harinya sebagai guru Bahasa Inggris sebagai pengalaman fantastis, menurut CNN Money. Dia mengatakan kepada setiap orang, “Dengan 1 juta dollar AS, Anda menjadi beruntung, tetapi ketika Anda memiliki 10 juta dollar AS, Anda mendapat masalah.”

Setelah penjualan saham perdana Alibaba, Jack Ma kepada CNBC mengatakan, tekanan datang dengan tanggung jawab pada dia, apalagi kini dunia berfokus pada nilai saham Alibaba. “Penjualan saham perdana besar karena saya senang dengan hasilnya. Tapi, ketika orang berpikir terlalu tinggi tentang Anda, Anda memiliki tanggung jawab untuk tenang dan menjadi diri sendiri,” katanya.

Lanjutkan membaca Jack Ma, Tak Pernah Juara di Sekolah, Kini Orang Terkaya di Tiongkok

Burhanuddin Maras, Tak Ragu Bercita-cita Tinggi


ROBERT ADHI KSP

Lahir sebagai anak polisi di pelosok desa di Lahat, Sumatera Selatan, justru mendorong Bur Maras (79) berjuang keras untuk kehidupan yang lebih baik. Ia bercita-cita bisa belajar di luar negeri, meski saat itu tak punya biaya. Itu sebabnya, ia terpacu untuk mendapatkan beasiswa. Kerja kerasnya rupanya sejalan dengan rencana Yang Maha Kuasa. Ia mendapatkan beasiswa pendidikan di ”college” di Jacksonville, Amerika Serikat

Ketika belajar di AS, untuk mencukupi biaya hidup di negeri orang, Bur bekerja sebagai pencuci piring di sebuah restoran. Namun, Bur yang bergelar Ratu Prabu Sira Alam Muda itu kini menjadi pengusaha minyak dan gas sukses, pemilik Ratu Prabu Energy Tbk. Ia juga pemilik Gedung Ratu Prabu 1 dan 2 di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Tahun ini, ia berencana membangun apartemen, hotel, serta gedung Ratu Prabu 3.

Ketika kuliah di Oklahoma State University, Bur mengikuti pendidikan militer, dan menjadi orang Indonesia pertama di kampus itu yang berpangkat letnan dua tentara AS. Namun, ketika akan terjun ke Perang Vietnam, Bur diancam pencabutan paspor oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di AS, dia pun memutuskan keluar dari militer.

Bur melanjutkan pendidikan di New Mexico Institute Mining Technology di Kota Socoro. Ketika itu, dia pun nyambi bekerja di pusat riset, dan bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran di kawasan wisata.

Sebelum tahun 1980, Bur makin sukses setelah perusahaan yang dia dirikan, PT Lekom Maras, mendapat proyek inspeksi las pipa di Laut Jawa, dan berkembang menjadi perusahaan terbesar di bidang non-destructive testing inspection di Indonesia.

Demikian juga ketika merintis perusahaan sendiri di Indonesia, Bur menghadapi banyak tantangan. Namun, dia berhasil melalui masa-masa sulit itu.

Kini pada usianya menjelang 79 tahun, Bur masih bersemangat, terutama ketika berdiskusi tentang Indonesia masa depan.

Bur Maras

Lanjutkan membaca Burhanuddin Maras, Tak Ragu Bercita-cita Tinggi

Andrea Corr, Si Cantik dari Irlandia


Andrea Corr

ROBERT ADHI KSP

Andrea Jane Corr (41) merupakan anggota grup musik Celtic dan Irlandia, The Corrs. Berwajah cantik dan bersuara merdu, Andrea membawakan sejumlah lagu, di antaranya ”Breathless”, ”What Can I Do”, ”Everybody Hurts”, dan ”Runaway”, yang pernah populer di seluruh dunia.

Permainan alat tiup Andrea, yang dikombinasikan dengan permainan biola saudaranya, Sharon, membuat grup The Corrs menonjolkan ciri khas Irlandia. Musik The Corrs menunjukkan adanya pengaruh kuat dari budaya Celtic tradisional serta pop modern, seperti The Eagles dan The Carpenters. Andrea lahir di Dundalk,County Louth, Irlandia, pada 17 Mei 1974. Ia putri bungsu dari empat bersaudara pasangan Gerry Corr, manajer di Electricity Supply Board, dan Jean, ibu rumah tangga. Mereka tinggal di Dundalk. Andrea yang punya kebiasaan mengisap jempol itu memiliki saudara kandung, yaitu Sharon Corr, Caroline Corr, dan Jim Corr.

Orangtua Corr bersaudara merupakan musisi yang sangat peduli agar anak-anaknya mendalami musik. Andrea belajar bermain piano, demikian juga saudara-saudaranya. Gerry dan Jean memiliki band sendiri, Sound Affair, yang memainkan lagu-lagu ABBA dan The Eagles di pub-pub di Dundalk. Mereka selalu membawa serta anak-anak mereka ke sana. Andrea memainkan alat tiup dan diajari oleh sang ayah. Melalui masa remaja, Andrea dan saudara kandungnya sering berlatih di kamar tidur rumah yang disewa.

Andrea tampil sebagai penyanyi, Sharon bermain biola, sedangkan Caroline dan Jim bermain keyboard. Pada masa mudanya, Andrea merupakan pelajar terbaik di antaranya saudara-saudaranya. Dia memulai kehidupan musiknya dengan bergabung dalam grup band ketika lulus dari sekolah menengah. Pada 1990, Andrea dan saudara-saudaranya membentuk band kuartet The Corrs. Dalam grup band The Corrs, Andrea adalah penyanyi utama yang membawakan lirik lagu-lagu yang sebagian besar diciptakannya. Andrea mengatakan menulis lagu saat berada di dalam bak mandi.

”Musik itu sesuatu yang seksi dan sensual. Musik itu mengekspresikan dirimu,” kata Andrea. ”Ketika saya menulis sebuah lagu bersama saudara-saudara saya, faktanya saya adalah saudara kecil, dan mama berada di antara kami. Ketika dalam sebuah lagu terselip lirik mengandung seks, saya langsung berpikir, ’Oh saya seharusnya tidak memikirkan tentang seks!’,” ungkap Andrea. ”Saya ingat ketika pertama kali menulis lagu ”Runaway” dengan kata-kata make love to me through the night dan ketika mulai menyanyikannya, saya memalingkan wajah, saya tahu ibu akan mengatakan, ’Ya Tuhan, dari mana kamu mempelajari hal itu?’. Dan saya menjawab, ’Dari televisi, Mami!’,” ceritanya.

Lanjutkan membaca Andrea Corr, Si Cantik dari Irlandia

Kenny Rogers, Legenda Musik Amerika


Kenny Rogers

ROBERT ADHI KSP

Lebih dari setengah abad, Kenny Rogers (75) mendedikasikan hidupnya dalam dunia musik dan menerima ratusan penghargaan, di antaranya 3 Grammy Awards, 18 American Music Awards, 8 Academy of Country Music Awards, dan 5 Country Music Association Awards. Kenny Rogers juga terpilih sebagai ”Penyanyi Favorit Sepanjang Masa” pada 1986 dalam jajak pendapat pembaca ”USA Today” dan ”People”.

Kenny Rogers adalah salah satu dari sedikit artis yang menikmati sukses dalam karier musik dengan berbagai genre, jazz, folk, rock, country, dan pop. Lebih dari lima dekade, Kenny Rogers, penyanyi, penulis lagu, musisi, produser, aktor, fotografer, dan penghibur, berkiprah dalam dunia musik dan hiburan Amerika serta memiliki jutaan penggemar dari berbagai latar belakang. ”Saya sungguh, sungguh mencintai apa yang saya kerjakan,” kata Rogers. ”Orang bisa bertahan lebih lama apabila mereka mencintai apa yang mereka kerjakan,” katanya.

Dikenal sebagai penyanyi bersuara serak dan memiliki kemampuan luar biasa untuk mengeksplorasi setiap lagu yang dia nyanyikan, Kenny Rogers sukses membuat albumnya terjual lebih dari 120 juta keping di seluruh dunia. Rogers membuat lebih dari 65 album rekaman selama 52 tahun berkarier dalam dunia musik.

Beberapa lagunya menjadi lagu evergreen dan abadi adalah ”The Gambler”, ”Lady”, ”Lucille”, ”She Believes in Me”, ”Islands in the Stream”, dan ”We’ve Got Tonight”.

Dua album Kenny Rogers, The Gambler dan Kenny, masuk dalam jajak pendapat situs about.com sebagai ”200 Album Country Paling Berpengaruh Sepanjang Masa”. Album Greatest Hits-nya terjual lebih dari 24 juta keping di seluruh dunia. Kenny Rogers menjadi artis lelaki nomor delapan paling laris sepanjang masa versi the Recording Industry Association of America (RIAA) di mana album-albumnya meraih predikat 1 Diamond, 19 Platinum, dan 31 Gold.

Kenny Rogers menerima penghargaan ”Star on the Hollywood Walk of Fame for Recording” di 6666 Hollywood Boulevard, Hollywood, California, dan masuk dalam ”Country Music Hall of Fame” pada 27 Oktober 2013.

Lanjutkan membaca Kenny Rogers, Legenda Musik Amerika