Google, Usaha Rintisan, dan UKM Indonesia


ROBERT ADHI KSP

Diajeng Lestari Soekotjo (30), Founder dan CEO Hijup.com, melihat potensi dan peluang bisnis busana muslim Indonesia begitu besar. Pengalamannya sebagai marketing researcher menunjukkan betapa para desainer busana muslimah bermunculan. Namun, mereka umumnya berjualan dari bazar ke bazar, juga melalui media sosial.

Ben Galbraith (Vice President Developer Product Group Google) dan Erica Hanson (Program Manager Developer Relations Google) bersama enam usaha rintisan Launchpad Accelerator Class 2, yakni Hijup, CodaShop, Talenta, RuangGuru.com, IDN Media, dan Jarvis Store.
Ben Galbraith (VP Developer Product Group Google) dan Erica Hanson (Program Manager Developer Relations Google) bersama enam pendiri usaha rintisan yang mengikuti Launchpad Accelerator Class 2, yaitu Hijup, CodaShop, Talenta, RuangGuru, IDN Media, dan Jarvis Store. FOTO: ARSIP GOOGLE

 

”Sebelumnya saya kesulitan menemukan busana muslimah yang fashionable untuk penampilan saya. Jadwal saya padat dan saya tak punya waktu mencarinya ke mal. Saya menganggap datang ke mal, memilih-milih busana, hanya buang waktu dan buang energi,” ungkap Diajeng dalam percakapan dengan Kompas, pekan pertama Agustus lalu.

Setelah mendapat dukungan dari suaminya, Achmad Zaky (Founder dan CEO Bukalapak), pada 1 Agustus 2011, Diajeng mendirikan usaha rintisan (start up) Hijup. Kata ”hijup” kependekan dari ’hijab up’ (seperti kata-kata make up atau dress up). Platform e-dagang ini memfokuskan pada busana perempuan muslimah.

”Saya bilang kepada suami saya, Achmad Zaki, yang sudah lebih dulu membuka bisnis online Bukalapak, bahwa saya mau membuka bisnis online khusus busana muslimah. Mas Zaky sangat mendukung. Kami memulai usaha ini dengan berbagi kantor bersama Bukalapak sehingga biaya tidak besar. Ruangan kantor Hijup awalnya hanya 2 meter x 3 meter, diisi dua pegawai, yaitu admin media sosial dan admin gudang,” ungkap Diajeng.

Dia membuka usahanya bertepatan pada masa Ramadhan sehingga momentumnya tepat. Pesanan busana muslimah sangat banyak. Nama Hijup pun melesat sebagai usaha rintisan baru yang berkembang pesat. Hijup menjadi islamic fashion e-commerce pertama di dunia yang didirikan dengan konsep online. Hijup menyediakan berbagai macam produk terbaik karya desainer busana muslimah Indonesia, mulai dari kerudung hingga aksesori. Hijup berperan sebagai perantara antara para desainer dan calon pembeli di seluruh dunia.

Melalui Hijup, para desainer meningkatkan keuntungan secara lebih efisien, sedangkan calon pembeli lebih mudah mencari produk yang dibutuhkan.

Sarjana FISIP Universitas Indonesia ini optimistis pasar bisnis online di Indonesia berkembang. Mengutip prediksi McKinsey Global Institute, pada 2020, jumlah kelas menengah Indonesia mencapai 85 juta dan meningkat pesat pada 2030 menjadi 135 juta. Ini potensi terbesar bisnis online. Di era Masyarakat Ekonomi ASEAN, pemain dari luar negeri berbondong-bondong masuk ke pasar Indonesia.

”Agar mampu berkompetisi, orang Indonesia harus mengubah paradigma dari konsumen menjadi produsen. Sangat penting bagi kita untuk tidak sekadar men-deliver produk, tetapi juga brand value. Kami harus melakukan diferensiasi produk,” paparnya.

”Bukan sekadar baju bagus, tetapi juga inspirasi. Kami memiliki banyak konten positif di berbagai platform media sosial, seperti Youtube dan Instagram. Kami menemani mereka dengan cara memberi inspirasi, bukan sekadar menjajakan baju,” lanjut Diajeng.

”Saya yakin, ketika perempuan aktif, perempuan memberikan kekuatan dua kali lipat untuk kemajuan Indonesia. Dengan teknologi, perempuan mampu mengakselerasi ekonomi,” ungkapnya.

Diajeng termasuk salah satu orang muda Indonesia pendiri usaha rintisan yang mengikuti program Google Developers Launchpad Accelerator. Program ini ditujukan untuk usaha rintisan yang sedikit lebih mapan supaya bisa belajar langsung dari ahlinya di bidang user interface, user experience, marketing, untuk menyempurnakan produk, aplikasi, game yang berkaitan dengan bisnis mereka.

”Kami mendapatkan insight yang bermanfaat dari mentor-mentor Google yang berpengalaman lebih dari 20 tahun, mulai dari mengerjakan bisnis, studi kelayakan, membangun start up. Temanya banyak dan sangat mudah diterapkan,” katanya.

Menurut Diajeng, setelah dua minggu ikut acara di markas Google di Mountain View, California, Amerika Serikat, para peserta diberi objective key result yang dapat dipantau setiap minggu. ”Gunanya untuk mengetahui perkembangan usaha, bagaimana kami mengimplementasikan apa yang didapat selama di sana, dan perkembangan start up kami,” jelasnya.

Pada akhirnya, seorang mentor mengatakan, ”Kalian maju bukan karena mentor, melainkan karena diri kalian sendiri, with or without mentor, kalian bisa lebih baik. Jadi kuncinya bukan pada mentor, bukan pada apa yang kami pelajari, tetapi bagaimana peserta mengimplementasikan yang telah dipelajari.”

Lanjutkan membaca Google, Usaha Rintisan, dan UKM Indonesia

Iklan

Gelombang Ledakan Bom di Thailand dan Pengolakan Politik Pasca Referendum


Kamis (11/8/2016) malam, Mark Gainsford, warga negara Inggris sedang menikmati bir di sebuah bar di kawasan night life di kota Hua Hin, kota resort di Teluk Thailand, Provinsi Prachuap Khiri Khan. Tiba-tiba dia mendengar teriakan orang-orang, “bom, bom.” Mark berlari keluar dan mendekati lokasi ledakan. “Saya melihat delapan sampai sepuluh orang tergeletak di jalan. Polisi sangat cepat tiba di lokasi,” ungkap Mark kepada BBC.

Ledakan itu terjadi di kawasan night life yang populer, di luar bar yang menjual bir di Soi Bintabat, di dekat persimpangan Fah Pah di kota Hua Hin. Kawasan ini dikenal sebagai kawasan kehidupan malam yang dikunjungi orang asing dan orang Thailand. Banyak bar yang menjual bir dan toko-toko yang buka hingga larut malam dan menarik wisatawan asing.

Dua ledakan bom di Hua Hin Kamis malam itu menewaskan satu perempuan dan melukai 21 orang lainnya, tiga di antaranya dalam kondisi kritis. Sembilan korban di antaranya wisatawan mancanegara, termasuk dari Inggris, Jerman, Italia, dan Austria.

Menurut polisi, dua bom disembunyikan di dalam pot tanaman dalam jarak 50 meter, dan diledakkan secara terpisah melalui ponsel pada pukul 22.00 dan pukul 22.20 waktu Thailand. Bom kedua meledak 20 menit setelah bom pertama. Semua korban akibat ledakan bom kedua adalah mereka yang berkumpul di sekitar area ledakan pertama.

Kepala Kepolisian Kota Hua Hin, Kolonel Pol Sutthichai Srisopacharoenrat mengungkapkan, ledakan pertama terjadi di dekat pedagang makanan di depan bar yang menjual bir. Pedagang makanan ini mengalami luka parah dan akhirnya meninggal dunia setelah dibawa ke rumah sakit.

Jumlah korban ledakan bom ini diperkirakan bertambah. Serpihan bom yang dikumpulkan sebagai barang bukti mengindikasikan bahwa ledakan bom itu direncanakan untuk membunuh dan menyebabkan banyak korban jiwa.

Bom-bom itu meledak selang 20 menit, merusak libur panjang warga Thailand yang merayakan Hari Ulang Tahun ke-84 Ratu Sirikit, istri Raja Bhumibol Adulyadej .

Lanjutkan membaca Gelombang Ledakan Bom di Thailand dan Pengolakan Politik Pasca Referendum