Martina Widjaja Kini Sibuk Kelola Hotel


Martina Widjaja

 

ROBERT ADHI KSP

Selama 30 tahun, Martina Widjaja (71) mengabdikan hidupnya untuk dunia tenis. Sepuluh tahun terakhir, Martina menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia selama dua periode. Setelah tidak lagi aktif di PB Pelti, apa yang dikerjakan Martina Widjaja saat ini? Ibu dua anak dan tujuh cucu ini ternyata tetap energik.

”Kalau saya berhenti beraktivitas, berhenti berpikir, saya khawatir akan cepat pikun, dan biasanya penyakit mulai berdatangan. Saya ingat orangtua saya. Ketika mereka tak mau dengar berita, kesehatan mulai menurun. Nah, daripada nganggur di rumah, kan lebih baik saya bekerja,” kata Martina dalam percakapan dengan Kompas, Jumat (31/1) petang, di kantornya, di Hotel Menara Peninsula, Slipi, Jakarta.

Di sana pula, Martina menjalankan perannya sebagai Ketua Umum Yayasan AIDS Indonesia dan Ketua Yayasan Pemberdayaan Perempuan Indonesia. Di sela-sela rapat yang padat, Martina yang kelihatan tetap energik menerima Kompas di ruang kerjanya.

Martina kelihatan tetap bugar karena ia rajin berolahraga tenis tiga kali seminggu dan berenang sekali seminggu di rumahnya yang asri di Ragunan, Jakarta Selatan.

Meski tidak aktif lagi secara full time dalam dunia tenis, Martina masih sering diminta bantuan untuk memikirkan dunia pertenisan di Indonesia. Saat ini, Martina masih menjabat Penasihat Komite Olahraga Indonesia (KOI) dan Lifetime Vice President Asia Tennis.

Sebagai istri pengusaha Indonesia, Johnny Widjaja (80), Martina kini sibuk menjalankan bisnis perhotelan. Martina mengelola Hotel Menara Peninsula di Slipi (Jakarta) dan Sintesa Peninsula (Manado, Palembang, dan Muara Enim).

”Sekarang saya bekerja untuk anak saya, Shinta. Apa yang Shinta putuskan, saya menerimanya,” ungkap perempuan kelahiran Surabaya, 26 Agustus 1942 itu.

Putri sulungnya, Shinta Widjaja Kamdani (47), kini CEO Sintesa Group yang membawahi 17 perusahaan yang bergerak dalam bidang consumer product, energi, industri, dan properti. Adapun putri bungsunya, Paquita Widjaja (44), seniman yang memiliki production house.

Berikut petikan wawancara KOMPAS  dengan Martina.Gambar 

Anda mengatakan sekarang bos Anda adalah putri Anda….

Tak ada yang salah dari pernyataan itu. Bekerja untuk anak, kan tidak apa-apa. Saya pikir bagus bila melihat anak berkembang. Sekarang sudah waktunya Shinta menjalankan grup perusahaan ini.

Dalam urusan pekerjaan, Shinta is my boss. Saya karyawan Shinta. Saya harus menerima apa yang dia putuskan. Kalau Shinta bilang, ”Tak usah, ya Ma”, ya tak usah dibikin.

Kalau kami tak sejalan, kami cari jalan kompromi yang paling tepat. Akan tetapi dalam keluarga, saya tetap ibunda Shinta. Dia tetap ngobrol dan minta masukan.

Apa aktivitas Anda saat ini?

Sebelumnya saya sibuk sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Tenis Lapangan Seluruh Indonesia (PP Pelti) sehingga tak sempat mengurus bisnis perhotelan. Sekarang, saya punya waktu mengelola bisnis ini.

Kesibukan saya sekarang, membangun hotel baru di Jimbaran, Bali, yaitu Sintesa Peninsula. Hotel ini merupakan hotel bintang lima. Dari desain hotel sampai urus kontraktor, saya yang melakukan supervisi. Sejak muda, saya memang suka mendesain sesuatu.

Hotel ini dijadwalkan beroperasi tahun 2015. Sekarang baru selesai 20 persen. Namun terus terang, saya cukup pusing akibat nilai rupiah melemah. Karena sudah tercebur, saya harus berpikir keras bagaimana merevisi anggaran hotel ini. Saya sudah terbiasa pusing, tetapi selalu menemukan solusinya.

Ketika membangun Peninsula Palembang, saya dikejar-kejar waktu, tetapi hotel bisa selesai pada waktunya. Peninsula Palembang dibangun delapan bulan 24 jam nonstop sebelum SEA Games digelar.

Saya lihat Palembang belum memiliki banyak hotel yang memadai. Saya pikir saya bisa bangun hotel, minimal untuk para petenis yang bertanding di SEA Games. Masak mereka disuruh menginap di atas kapal? Peninsula Palembang, berlantai sembilan, akhirnya kelar pada waktunya.

Bagaimana Anda melihat dunia tenis Indonesia?

Meski saya tidak lagi aktif berkecimpung di PB Pelti, saya masih diminta membantu dunia tenis Indonesia. Saya masih penasihat KOI. Namun, saya mengambil jarak. Saya tak mau minterin. Lagipula sekarang kondisi dunia olahraga Indonesia sedang susah. Sarana olahraga terus berkurang, bahkan dikomersialkan.

Misalnya begini. Kalau pemain tenis menggunakan lapangan tenis di Senayan, mereka harus membayar, padahal mereka petenis nasional. Pengelola Gelora Senayan hanya melihat Senayan lahan utama yang harus dibisniskan. Menurut saya, yang pantas membayar sewa lapangan tenis itu adalah petenis yang sudah mapan dan hanya bermain untuk hura-hura. Kalau petenis yang harus berlatih dalam kaitan pembinaan, sebaiknya digratiskan. Kan, mereka akan membela nama bangsa? Masak disuruh bayar?

Hidup tak bisa begitu. Masak yang dipikirkan cuma melulu uang? Seharusnya pemerintah membantu dunia olahraga dan dunia kesenian sepenuh hati, termasuk sarana-prasarana yang dibutuhkan. Kalau kondisinya begini, bagaimana kita berharap dunia olahraga bisa berkembang?

Untuk membina anak-anak, kan orangtua harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Demikian juga saat membina petenis, harus berkesinambungan, tak bisa terhenti. Olahraga Indonesia terlalu memanjakan atlet. Mestinya atlet itu dikumpulkan di asrama, disuruh berkompetisi sejak dini.

Mengapa ini penting? Karena kalau tinggal di rumah, mereka cenderung manja. Baju disiapkan, sepatu kotor dibersihkan ibu. Kalau tinggal di camp, mau tak mau mereka harus mengerjakan sendiri semuanya. Kalau lapar, masak sendiri. Kalau mau jadi juara, harus mau mengerjakan sendiri. Itulah yang dinamakan go the extra mile (bekerja ekstra).

Atlet yang ingin juara, dia akan berlatih lebih banyak daripada semestinya. Kalau, misalnya, latihan fisik biasanya dua jam, calon juara harus berlatih lebih dari dua jam. Semua orang sukses harus bekerja ekstra. Bagaimana bisa mengalahkan orang lain jika bekerja tidak lebih keras daripada orang lain?

Apa harapan Anda tentang tenis Indonesia?

Saya berharap anak-anak yang bermain tenis, membela bangsa, mendapatkan kehidupan yang layak di masa depan. Kalau mereka sudah mengharumkan nama bangsa, mereka harus diberi apresiasi. Atlet-atlet berprestasi harus mendapat sesuatu untuk menghidupi keluarga mereka. Kalau sudah begitu, olahraga Indonesia pasti maju.

Kalau atlet berprestasi mendapat tempat di jajaran pegawai negeri sipil dan pegawai swasta, sebaiknya mereka mendapat pendidikan agar mereka bisa belajar dan ke depan, bisa menjadi salah satu direktur. Mereka harus mendapatkan beasiswa. Karier mereka harus jelas. Kalau misalnya satu perusahaan di Indonesia mengambil dua-tiga atlet, dimasukkan ke dalam sistem mereka, sebenarnya tidak terlalu mengganggu. Kalau ini dijalankan, kita membantu atlet berprestasi menjadi manusia utuh.

SUMBER: DI MANA DIA SEKARANG, KOMPAS SIANG DIGITAL, SABTU 1 FEBRUARI 2014

Gambar

Iklan

One thought on “Martina Widjaja Kini Sibuk Kelola Hotel”

Komentar ditutup.