Arsip Tag: Jurnalistik

Pengalaman Meliput Konflik Masyarakat di Kalimantan Barat


Liputan Sambas, Jumat 19 Maret 1999

Dor, dor, dor…. Suara tembakan berkali-kali terdengar keras memekakkan telinga. Saya langsung keluar dari mobil Daihatsu Rocky, mobil dinas kantor Kompas di Kalimantan Barat, dan langsung berlindung. Tembakan terus terdengar sekitar 20 menit. Massa yang sebelumnya ”membajak” mobil itu dengan memaksa masuk, duduk di dalam dan di kap mobil langsung lari berhamburan.

Sebelumnya, massa ”membajak” masuk ke dalam mobil. Dengan tenang, saya memenuhi permintaan mereka dan tetap menyetir untuk melanjutkan perjalanan. Dari dalam mobil, sekelompok orang yang membawa senjata duduk sambil berteriak-teriak ke luar. Empat-lima orang juga duduk di atas mobil, dan di bagian depan, di atas kap mesin sehingga menghalangi pandangan saya. Massa bermaksud ke markas Polres Sambas untuk ”menekan” polisi agar melepaskan teman-teman mereka yang ditahan.

Hari itu, Rabu, 7 April 1999, Daihatsu Rocky itu saya kendarai sendirian tanpa kawan menemani. Sejak pertikaian antaretnis terjadi pada  Februari 1999, saya berupaya ke lokasi peristiwa.

Kali itu, tujuan saya memang ke Markas Polres Sambas di Singkawang. Namun, saya bertujuan untuk meminta konfirmasi tentang kondisi terkini kepada Kapolda Kalimantan Barat (saat itu) Kolonel (sekarang disebut Komisaris Besar/Kombes) Chaerul Rasjidi yang saat itu saya ketahui berada di Markas Polres Sambas.

Mobil dinas Kompas baru melaju beberapa ratus meter ketika letusan tembakan terdengar. Ternyata di depan, Pasukan Anti-Huru-Hara (PHH) menghadang di Desa Sungaigaram, Kecamatan Tujuhbelas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Massa menggunakan truk, sepeda motor, dan berjalan kaki berusaha menembus hadangan polisi dan menerobos pagar betis PHH. Pada saat itulah aparat melepaskan tembakan dengan peluru karet dan peluru tajam.

Chaerul Rasjidi bersama Komandan Korem 121 (saat itu) Kolonel (Inf) Encip Kadarusman ternyata memimpin langsung pengamanan. ”Saya tidak akan memenuhi tuntutan massa yang menghendaki tersangka dilepas. Sebab, untuk meminta penangguhan penahanan, ada prosedur yang harus dipenuhi,” ujar Chaerul.

Korban berjatuhan. Dari 11 korban tewas, delapan orang terkena peluru karet dan tiga orang terkena peluru tajam. ”Saya mendapat perintah langsung dari Menhankam dan Kapolri untuk mengambil tindakan keras. Tembakan dilepaskan karena massa yang menggunakan truk mencoba menabrak pasukan keamanan di Desa Sungaigaram. Massa betul-betul sudah liar,” kata Chaerul. Hari Rabu itu, 15 orang ditahan.

Pengalaman saya ketika mobil dinas Kompas itu dibajak merupakan salah satu dari sekian banyak pengalaman saya selama meliput pertikaian etnis di Kalimantan Barat.

Mengetahui kejadian itu, Chaerul kemudian menepuk-nepuk pundak saya dan mengatakan, ”Anda memang pemberani!”

Lanjutkan membaca Pengalaman Meliput Konflik Masyarakat di Kalimantan Barat

Iklan

“Obor Rakyat” Bukan Produk Jurnalistik


Gambar

ROBERT ADHI KSP

Kasus tabloid ”Obor Rakyat” yang melibatkan Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah Setyardi Budiyono menjadi perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Melalui juru bicara kepresidenan, Presiden SBY menegaskan bahwa Istana tidak tahu-menahu tindakan Setyardi menerbitkan ”Obor Rakyat”. Isi tabloid ini semuanya fitnah dan meniupkan isu SARA, yang mendiskreditkan calon presiden Joko Widodo.

Juru bicara kepresidenan kepada pers, Sabtu (14/6), mengungkapkan, Presiden sangat terganggu dengan berita tersebut dan menjanjikan akan ada investigasi dan tindakan dari Sekretariat Kebinet yang membawahi staf khusus.

Selain menjabat staf khusus presiden, Setyardi Budiyono saat ini juga menjabat komisaris PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XIII. Nama Setyardi berada dalam tabloid Obor Rakyat sebagai pemimpin redaksi.

Setyardi bersikukuh tabloidnya merupakan karya jurnalistik. Dia mencantumkan namanya dalam tabloid itu. Namun, Dewan Pers menegaskan, tulisan-tulisan yang dimuat dalam tabloid Obor Rakyat bukan karya jurnalistik yang dikerjakan dengan menghormati kode etik jurnalistik, di antaranya tidak menyinggung suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA).

Dewan Pers menilai penulisan Obor Rakyat tidak didasarkan pada fakta-fakta yang ada dan dikonfirmasi dengan benar. Pengelola Obor Rakyat telah menyalahi Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 tentang Kode Etik Jurnalistik.

Ketua Komisi Hukum Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo menegaskan, apa yang dilakukan oleh Setyardi Budiyono dan Darmawan Sepriyossa melalui tabloid Obor Rakyat jelas melanggar prinsip-prinsip jurnalistik. Dewan Pers tidak bisa melindungi Setyardi dan Darmawan yang bekerja tanpa berpegang pada prinsip jurnalistik. Dewan Pers meminta Polri untuk tidak ragu menindak siapa pun yang melakukan pelanggaran berat (Kompas, 16/6/2014).

Lanjutkan membaca “Obor Rakyat” Bukan Produk Jurnalistik