Le Constellation (Sumber foto: https://www.bluewin.ch/en/news/switzerland/the-catastrophe-occurred-in-this-bar-3031642.html)

Kebakaran di Bar Le Constellation di resort ski mewah Crans-Montana di pengunungan Alpen di selatan Swiss pada hari pertama tahun 2026 menewaskan sedikitnya 40 orang dan melukai 115 lainnya. Otoritas Swiss sejauh ini belum menjelaskan secara resmi penyebab utama kebakaran mematikan itu.

Resor ski Crans-Montana kelas atas milik pasangan Perancis ini berlokasi di dataran tinggi yang menghadap ke selatan di Lembah Rhone. Area ini berada 1.500 meter di atas permukaan laut, dengan pemandangan Pengunungan Alpen yang membentang dari Matterhorn hingga Mont Blanc, salah satu puncak tertinggi di Eropa.

Lokasi Crans-Montana (Sumber: Google Maps)

Ratusan orang -sebagian besar kaum muda dari berbagai negara- merayakan malam pergantian tahun di bar Le Constellation itu. Sejumlah saksi mata mendeskripsikan pada Kamis (1/1/2026) pukul 01.30 dinihari, pelayan membawa botol sampanye dengan kembang api (sparklers) menyala. Api itulah yang menyambar dekorasi yang mudah terbakar di langit-langit kayu bangunan, memicu flashover (ledakan api serentak). Ratusan pengunjung panik, berusaha keluar berdesak-desakan melalui tangga dari area klub bawah tanah — yang melebihi kapasitas normal. Sebagian besar korban tewas akibat menghirup asap tebal dan beracun sebelum sempat keluar.

Di Bar Le Constellation, para ahli forensik mencurigai adanya kombinasi keduanya. Struktur bar yang tertutup rapat karena suhu musim dingin yang ekstrem menciptakan kondisi ideal untuk backdraft saat jendela dipecahkan oleh pengunjung yang panik. Di saat yang sama, material kayu chalet yang kering memicu flashover yang membuat seluruh bangunan hangus dalam waktu kurang dari lima menit.

Kebakaran di klub malam sudah berulang kali terjadi. Kebakaran yang menewaskan korban terbanyak terjadi di klub malam Cocoanut Grove di Boston, Amerika Serikat pada 1942. Penyebabnya? Dekorasi kertas dan kain terbakar, dan pintu keluar terkunci. Selain itu, kebakaran di The Kiss Nightclub, Santa Maria, Brasil pada 2013 menewaskan 242 orang. Penyebabnya adalah kembang api panggung yang membakar busa isolasi akustik di langit-langit.

Kebakaran lainnya terjadi di Rhthym Nightclub di Mississippi, AS pada 1940 yang disebabkan tanaman hias kering di langit-langit dan jendela dipaku mati, menewaskan 140 orang. Klub Republica Cromanon di Buenos Aires, Argentina (2004) menewaskan 194 orang akibat suar (flare) menghanguskan jaring plastik di langit-langit, sementara pintu darurat terkunci. Klub Lame Horse di Perm, Rusia pada 2008 akibat kembali api menyulut dekorasi ranting plastik dan kayu di langit-langit, menewaskan 152 orang. Sedangkan klub The Station di Rhode Island, Amerika Serikat pada 2003 yang menewaskan 100 orang akibat efek piroteknik band membakar busa poliuretan.

Beberapa kebakaran hebat di klub malam dijadikan film. Di antaranya film dokumenter Six Locked Doors (2020) yang sangat rinci menggembarkan kebakaran klub malam paling mematikan dalam sejarah AS yang menghanguskan Cocoanut Grove pada 1942 di Boston. Film ini menyoroti bagaimana pintu keluar yang terkunci dan dekorasi yang mudah terbakar menjadi jebakan maut bagi pengunjung.

Film dokumenter The Inferno: The Station Nightclub Fire dibuat berdasarkan tragedi kebakaran di The Station Nightclub di Rhode Island pada 2003 yang menewaskan 100 orang dalam hitungan menit. Film ini menggunakan rekaman asli dari juru kamera di lokasi saat api pertama kali muncul akibat kembang api panggung.

Film serial TV Cromañón (2024) produksi Argentina, yang didistribusikan secara global oleh Amazon Prime, menceritakan tragedi klub malam República Cromañón di Buenos Aires pada 2004 yang menewaskan 194 orang. Pola kebakaran klub-klub malam: kepanikan, asap beracun, dan pintu terkunci.

Dari kebakaran-kebakaran tersebut, ada benang merah penyebab utama, yaitu pertama, penggunaan Piroteknik dalam ruangan. Penggunaan kembang api atau api terbuka di dekat material dekorasi yang tidak tahan api (seperti busa akustik, kayu, atau plastik). Kedua, kegagalan struktural dan evakuasi. Kurangnya pintu darurat, pintu yang terkunci untuk menghindari pengunjung “kabur” tanpa membayar, serta tangga yang terlalu sempit untuk massa dalam jumlah besar. Ketiga, kapasitas berlebih (overcrowding). Jumlah orang yang terlalu banyak membuat proses evakuasi menjadi lambat dan memicu desak-desakan yang mematikan.

Tragedi di Crans-Montana menjadi pengingat keras bagi otoritas global –termasuk Indonesia – mengenai pentingnya regulasi ketat terhadap penggunaan api di dalam ruang publik yang padat.

(R. Adhi Ksp, diolah dari berbagai sumber)