Rahasia Umur Panjang dan Hidup Bahagia Johnny Widjaja


Gambar

ROBERT ADHI KSP

Johnny Widjaja (80) dikenal sebagai pengusaha Indonesia yang berbisnis sejak pemerintahan Soekarno. Bisnisnya berkembang hingga kini. Johnny merupakan keturunan Oey Tambahsia, salah satu legenda Tionghoa Indonesia yang populer pada zaman kolonial Belanda.

Lahir di Jakarta, 30 Maret 1934, Johnny Widjaja adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara dari pasangan Oey Kim Tjiang dan Hetty Liem Sioe Loan. Bakat bisnisnya sudah terlihat sejak usianya masih belia.

Setelah lulus dari HBS Kanisius Jakarta, Johnny melanjutkan pendidikan di negeri Belanda. Dia mendalami ilmu ekonomi di Gemeente Universiteit, Amsterdam, hingga S-2.

Menikah dengan Martina Widjaja (72)—mantan Ketua Umum PB Pelti, dua periode—Johnny dikaruniai dua putri, yaitu Shinta Widjaja Kamdani dan Paquita Widjaja. Shinta kini menjadi CEO Grup Sintesa yang membawahi 17 perusahaan, sedangkan Paquita, yang memiliki passion di bidang seni dan budaya, mengelola production house.

”Bon vivant”

Selain piawai dalam berbisnis, Johnny Widjaja adalah seorang petualang sejati dan penikmat hidup. Dia seorang bon vivant, yang sangat menikmati hidupnya. Banyak uang, banyak rezeki, banyak teman. Dan itu semua dinikmatinya dengan gembira.

Apa rahasia umur panjang Johnny Widjaja? ”Ini bukan masalah usia. Berapa pun umur kita, 50, 60, 70, atau 80 tahun, kuncinya bagaimana menikmati hidup kita semaksimal mungkin,” katanya.

Johnny masih berolahraga berenang dan bermain tenis tiga kali seminggu di rumah secara rutin. Selain itu, dia masih bermain golf dua kali seminggu bersama teman-teman, dan juga menyelam.

Bukan hanya itu, Johnny Widjaja, bersama keluarganya, berencana ke South Pole, akhir tahun ini. ”Dokter mengatakan, saya dalam kondisi sehat,” katanya, bersemangat.

Salah satu yang membuat Johnny selalu enteng menghadapi persoalan adalah dia selalu berpikir positif dan mengambil hikmah atas semua yang terjadi. Johnny juga lebih sering melihat peristiwa dari sisi terang.

Pergaulan Johnny sangat luas. Johnny adalah salah satu sahabat dekat BJ Habibie, mantan Presiden RI, yang dikenalnya sejak di Aachen, Jerman.

”Ketika Ainun mengandung putra pertama, Ilham, Pak Habibie menemui saya dan bertanya apakah saya punya belimbing. Ainun rupanya ngidam belimbing. Untung saya punya dua kaleng belimbing,” cerita Johnny tentang persahabatan mereka.

Berkeliling dunia

Sejak usia muda, Johnny sudah berkeliling dunia. Dia berani naik skuter Lambretta ke Gurun Negev di Israel, pada tahun 1950-an. Johnny juga menikmati perjalanan dengan sedan BMW 525 dari Asia ke Eropa, melalui Khyber Pass, pada tahun 1970-an. Johnny juga menikmati perjalanan dengan Volvo berkeliling Amerika Latin.

Johnny pernah mendatangi kampung komunitas Arab di Israel, yaitu Abu Gosh, pada tahun 1950-an. Dia memiliki sahabat bernama Sufri, yang mengantarnya naik skuter. Karena pengalaman dengan Sufri sangat berkesan, bertahun-tahun kemudian, pada 2007, Johnny melakukan napak tilas ke Abu Gosh. Namun, sahabat lamanya, Sufri, sudah tiada.

Pada tahun 1980-an, Johnny pernah ikut lomba layar Darwin- Ambon, Darwin-Ambon Yacht Race bersama tujuh temannya.

Salah satu hobi yang membuat hidupnya selalu bergairah adalah menyelam (diving). Johnny bahkan hampir hilang di perairan Pulau Komodo setelah terbawa arus. Meski demikian, Johnny tak pernah kapok. Sampai sekarang, Johnny tetap menyelam di tempat-tempat indah, di pelosok Indonesia, antara lain di Pulau Komodo dan Raja Ampat.

Salah seorang teman menyelamnya adalah Ginandjar Kartasasmita, yang pernah beberapa kali menjabat menteri pada pemerintahan Orde Baru, dan kini menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden.

Intuisi bisnis

Wawasan bisnis Johnny sangat luas. Dia adalah pengusaha Indonesia pertama yang bermitra dengan sejumlah perusahaan multinasional. Dia pernah bekerja sama dengan Johnson & Johnson, BASF, Remy Martin, Unilever, dan American Home Wyeth.

Johnny dan dua saudara kandungnya adalah pengusaha Indonesia pertama yang menjadi mitra perusahaan ritel Carrefour asal Perancis, sebelum dibeli oleh pengusaha Chairul Tanjung.

Pada awal membangun bisnisnya, Johnny juga mengembangkan Sari Husada melalui perusahaannya, PT Tigaraksa, bekerja sama dengan Kimia Farma. Sekarang, Tigaraksa menjadi salah satu anak perusahaan Sintesa Group, yang memfokuskan diri di bidang consumer products.

Johnny merintis usahanya di Indonesia pada 1968, berkongsi dengan pemilik Bank Bali, Djaja Ramli, dan pengacara Liman Sanjaya (keduanya sudah almarhum), dengan membeli perkebunan karet seluas 110 hektar di Pondok Indah (PI).

Lahan itu lalu dibeli oleh Otorita Pengembangan Properti PI yang dipimpin oleh Liem Sioe Liong, dan pembangunannya dilaksanakan oleh Ciputra. Di lahan bekas perkebunan karet itulah, otorita itu membangun permukiman mewah PI.

Jauh hari sebelum pengusaha membangun gedung perkantoran, Johnny sudah membangun gedung perkantoran untuk disewakan, pada 1970-an, di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Gedung yang dibangunnya disewa oleh Dick Gelael dan Inter Delta (Kodak).

Johnny juga pernah merintis kapal Island Explorer, yang membawanya menjelajahi pelosok Indonesia melalui laut.

Menurut Ginandjar Kartasasmita, ”Johnny pengusaha yang baik, tidak ngemplang pajak, tak punya utang di bank, tak tersangkut perkara. Bisnisnya bersih. Dia bukan pengusaha yang curang, bukan pengusaha yang menghalalkan segala cara. Johnny seorang yang sportif dan tulus.”

Sementara itu, Soebronto Laras berkomentar, ”Johnny Widjaja adalah seorang yang energik dan tidak pernah menyerah. Dia entrepreneur sejati, pandai melihat peluang bisnis dan menekuninya. Intuisi bisnisnya luar biasa tajam.”

Joe Kamdani, pemilik Datascrip, distributor Canon, yang juga besannya, mengungkapkan, Johnny mampu melihat peluang bisnis di tengah kondisi sulit. Dia memiliki jaringan di banyak kalangan. Johnny adalah seorang yang menikmati hidupnya dengan gayanya.

Masa depan perusahaan

Saat ini, Johnny Widjaja tidak lagi aktif mengendalikan bisnisnya. Tahun 1999, setelah Sari Husada dijual, dia membentuk perusahaan holding baru. Putri Johnny, Shinta, memberanikan diri membuat konsep bisnis perusahaan keluarga di masa depan. Shinta menyampaikan bahwa dia sudah bekerja profesional sesuai tugas yang diberikan ayahnya. Shinta sudah menunjukkan kemampuan di perusahaan keluarga selama 10 tahun.

Shinta menyampaikan keinginan untuk membuktikan kemampuan entrepreneurship yang dia miliki. Shinta membuat business plan dan melakukan restrukturisasi perusahaan. Lalu lahirlah Sintesa Group.

”Shinta mengusulkan kepada saya, tidaklah fair bila kami tetap menggunakan nama Tigaraksa lagi, karena perusahaan itu bukan milik saya sendiri, tetapi juga saudara-saudara saya,” jelas Johnny.

”Ketika saya mengelola perusahaan keluarga bersama dua saudara saya, adik saya, Robert Widjaja, yang meneruskan usaha. Tapi, sekarang, setelah perusahaan keluarga dipisah, dan masing- masing (saudara saya) punya perusahaan sendiri, saya kira sudah sepantasnya putri saya, Shinta, yang melanjutkan perusahaan kami,” ungkap Johnny.

Johnny yakin Shinta bisa lebih baik daripada dia. Johnny sering mendapat komentar dari kawan- kawannya bahwa Shinta lebih serius dibandingkan dia.

”Saya bahagia melihat Shinta meneruskan perusahaan ini, dan melihat cucu-cucu berkembang,” katanya. Namun, Johnny tidak ingin memberi beban kepada tujuh cucunya.

”Mereka harus menempuh jalan hidup mereka sendiri. Sebagai opa, saya tidak terlalu mau ikut campur. Saya bangga kepada mereka,” kata Johnny.

Gambar
Johnny Widjaja dan dua cucunya pada perayaan HUT ke-80, 30 Maret 2014. FOTO: ROBERT ADHI KSP

HUT ke-80

Pada HUT ke-80-nya, hari Minggu (30/3) malam, sejumlah sahabat, kerabat, dan keluarganya merayakan ulang tahun Johnny Widjaja di rumahnya, di tepi Jalan TB Simatupang, Ragunan, Jakarta Selatan. Arifin Siregar, Pia Alisjahbana, Soebronto Laras, dan Poppy Dharsono adalah beberapa di antaranya yang hadir. Pada kesempatan itu dibagikan buku otobiografinya yang berjudul Johnny Widjaja, Cuplikan Kehidupan, yang diterbitkan untuk kalangan terbatas.

dari kiri ke kanan: Bapak Joe Kamdani, Bapak Johnny Widjaja, Ibu Martina Widjaja, Bapak Subronto Laras, dan saya (Robert Adhi Kusumaputra).  Foto diambil di sela-sela wawancara penulisan buku biografi Johnny Widjaja. DOKUMENTASI ROBERT ADHI KSP
dari kiri ke kanan: Bapak Joe Kamdani, Bapak Johnny Widjaja, Ibu Martina Widjaja, Bapak Subronto Laras, dan saya (Robert Adhi Kusumaputra). Foto diambil di sela-sela wawancara penulisan buku biografi Johnny Widjaja.
DOKUMENTASI ROBERT ADHI KSP

Dalam buku itu, istri Johnny, Martina, mengatakan, ”Di mata Johnny, tak ada orang jahat. Dia selalu melihat orang dari sisi terang. Dengan demikian, hidup dengan Johnny selalu gampang.”

Putrinya, Shinta, merasa beruntung memiliki ayah seperti Johnny, yang memberi kesempatan kepada dia untuk berkembang sesuai jati dirinya sendiri, tanpa bayang-bayang orangtua.

Adapun Paquita berpendapat, bagi dia, ayahnya memiliki arti yang sangat besar. ”Papa sangat menarik luar biasa dan sama sekali jauh dari membosankan,” kata Paquita.

Adik iparnya, Mawarwati Djamaluddin, melukiskan, ”Johnny selalu mempunyai jalan keluar bila menghadapi masalah. Dia memberi solusi dan opsi.”

SUMBER: DI MANA DIA SEKARANG, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SABTU 5 APRIL 2014

Gambar
Johnny Widjaja dan Robert Adhi Ksp (di sela-sela perayaan Lunar Year, Februari 2014, di rumahnya). FOTO: DOK KSP
Gambar
Johnny Widjaja dan Robert Adhi Ksp, 30 Maret 2014. FOTO: DOK KSP

Iklan