Buku ke-15 yang ditulis Robert Adhi Ksp, diterbitkan Penerbit Buku Kompas, 2021

ROBERT ADHI KSP

Setiap kali menulis buku biografi, saya selalu merasa bahagia. Mengapa? Karena saya bisa belajar kehidupan dari sosok yang saya wawancarai dan saya tulis, termasuk dari buku “Semangat Baja Ibnu Susanto” buku ke-15 yang diterbitkan. “Semangat Baja Ibnu Susanto” merupakan biografi profesional yang mengisahkan perjalanan hidup Ibnu Susanto, pengusaha besi dan baja terkemuka di Indonesia, yang pada 16 Mei 2021 genap berusia 80 tahun. Buku ini juga diterbitkan untuk menyambut Pesta Emas PT Spindo Tbk, perusahaan yang dibesarkan Ibnu Susanto selama ini.

Dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana dan berkekurangan, Ibnu Susanto harus membantu ayahnya, U Ie Neng, menghidupi 12 orang saudaranya. Setamat SMA, Ibnu langsung bekerja di perusahaan pamannya yang membuka toko onderdil sepeda di wilayah Toko Tiga, Jakarta Barat. Pada masanya, Ibnu Susanto merupakan generasi sandwich yang harus membiayai orangtua dan saudara-saudaranya, selain menghidupi keluarganya sendiri. 

Setelah diberhentikan dari pekerjaannya — pada saat kariernya sedang melesat, Ibnu yang sempat terpukul, langsung bangkit dan bertekad menjadi pebisnis yang sukses. Ibnu berpikir kalau saja saat itu dia masih terlena di zona nyaman, mungkin dia tidak menjadi pengusaha tangguh dan tahan banting. Justru karena sempat terpuruk dan jatuh, Ibnu mampu tumbuh menjadi pengusaha besi-baja yang berhasil, dan perusahaannya salah satu yang terkemuka di Indonesia. Justru karena menghadapi kondisi “ditekan dan tertekan”, Ibnu tumbuh menjadi pebisnis tangguh. 

Pembuatan buku ini berawal dari telepon Pak Teddy Surianto — Ketua Yayasan Universitas Multimedia Nusantara Gading Serpong Tangerang, yang merekomendasikan nama saya sebagai penulis buku biografi. Buku ini merupakan hadiah ulang tahun ke-80 untuk Pak Ibnu Susanto dari seorang sahabat dekatnya yang tak mau disebut namanya. 

Pertemuan pertama dilaksanakan pada 9 Desember 2020 di kediaman beliau di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, diawali dengan makan siang di salah satu restoran di PIK. Pak Ibnu mengajak serta tiga asisten rumah tangganya serta seorang sopirnya untuk makan siang bersama. Hampir setiap Sabtu, Pak Ibnu mengajak mereka makan siang bersama. “Saya dulu terlahir sebagai orang susah dan berkekurangan,” ungkapnya. 

Penulis mewawancarai Pak Ibnu 13 kali, satu kali di antaranya di ruang kerja beliau di Gedung Baja, satu kali melalui telepon, dan satu kali di salah satu restoran di Jakarta Barat. 

Wawancara lebih sering dilakukan secara tatap muka di rumah Pak Ibnu pada akhir pekan, diselingi makan siang dengan menu rumahan. Pernah suatu hari Pak Ibnu memesan duren dari kampung asisten rumah tangganya di Jawa Tengah. Kami pun “pesta” duren pada hari itu di tengah waktu wawancara. 

Suasana akrab dan santai dalam setiap pertemuan membuat wawancara mengalir. Penulis menilai Pak Ibnu Susanto masih berpikir jernih dan ingatannya masih tajam. Fisiknya pun masih tampak sehat. Untuk orang yang berusia 80 tahun, Pak Ibnu seorang yang luar biasa. 

Ibnu Susanto dan Robert Adhi Ksp, 27 Maret 2021

Kerja Keras 

Lima anak Pak Ibnu Susanto (Endang Fifi, Fangriati, Irawanty, Handaja, dan Entario Widjaja), lima menantu (Damien Walter Kwong, Sudjono Warsito, Sugiarto Gunawan, Jennifer Lai Heng Chia, dan Nancy Meisisca Halim), 10 cucu (Billy Sebastian Kwong, Jansen Amadeus Kwong, Madelin Warsito, Natalia Warsito, Jason Warsito, Angela Gunawan, Warren Gunawan, Audrey Yu Nian Cheng, Arvin Meng Shiue Yu, Valerie Priscilla), tiga saudara kandung (Ratna Indahwati atau U Tjeng Sen, Kamtono Kosasih atau U Tjeng Hwat, dan U Tjeng Giok), dan tiga keponakan (Tedjasukmana Hudianto, Herliana Siervia, dan Nathaniel Sebastian) memberi testimoni mereka yang memberi gambaran benderang tentang sosok Ibnu Susanto: ayah, kakek, adik dan kakak, serta paman mereka. 

“Papi bukan tipe orang yang bisa mengajarkan step by step. Tetapi saya belajar banyak saat papi membagikan cara berpikirnya yang kritis dan analisisnya yang cukup tajam dalam menghadapi berbagai persoalan,” kata Endang Fifi Susanto, anak sulung Ibnu. 

“Papi belajar berbisnis secara otodidak. Saya pun belajar dari papi melalui praktik kerja di lapangan. Prinsip-prinsip dasar papi berbisnis, kami pelajari melalui percakapan keluarga pada saat kami berkumpul dan makan bersama,” tutur Fangriati Susanto, anak kedua Ibnu. 

“Di mata saya, papi seorang yang sangat ambisius, pekerja keras, dan seorang yang memiliki integritas. Papi mendidik kami, anak-anaknya dengan contoh, work hard, work hard, work hard. Papi terus berupaya mengembangkan bisnis intinya, menambah produksi baru dan layanannya, serta memperluas wilayah baru,” urai Irawanty Susanto, anak ketiga Ibnu. 

Papi seorang yang sangat cerdas dan pandai mengelola bisnis. Saya mengagumi cara papi berbisnis. Pengalaman papi sangat banyak dan sudah puluhan tahun lamanya. Papi tahu cara menghadapi berbagai situasi dan apa yang harus dilakukan. Jaringan papi sangat luas.

HANDAJA SUSANTO, ANAK KEEMPAT KELUARGA IBNU SUSANTO

Handaja Susanto, anak keempat dan anak lelaki pertama dalam keluarga Ibnu Susanto berpendapat, “Papi seorang yang sangat cerdas dan pandai mengelola bisnis. Saya mengagumi cara papi berbisnis. Pengalaman papi sangat banyak dan sudah puluhan tahun lamanya. Papi tahu cara menghadapi berbagai situasi dan apa yang harus dilakukan. Jaringan papi sangat luas.” 

Entario Widjaja Susanto, anak bungsu dan anak lelaki kedua dalam keluarga Ibnu mengatakan, “Papi mengajari kami bagaimana cara perusahaan tetap survive di masa sulit, bagaimana perusahaan memiliki cashflow, tidak rugi, dan meraih keuntungan jangka panjang. Kami harus terus maju walaupun ada masalah di depan. Hal ini sudah ditanamkan papi sejak awal kami terlibat. Papi mengajari anak-anaknya dengan cara meminta kami mencari sendiri solusi atas persoalan. Papi tidak terlalu mendikte tetapi hanya memberi arahan, dan saya harus mencar sendiri solusinya.” 

Tiga keponakannya yang dilibatkan Ibnu Susanto dalam perusahaannya menyampaikan pendapat mereka. 

Tedjasukmana Hudianto, Wakil Presiden Direktur PT ISSP Tbk (Spindo) mengatakan, “Bagi saya, Pak Ibnu Susanto, selain sebagai seorang paman, adalah juga sosok yang visioner dan energik, serta positive thinking. Beliau selalu bisa mendengar, memberi dukungan, dan menyampaikan solusi terhadap permasalahan (win-win solution). Pak Ibnu juga sering memberi wawasan dan pemahaman tentang industri baja, serta mampu melihat potensi-potensi yang ada. Bahkan beliau bisa melihat dan mengutamakan potensi dibandingkan persoalan yang muncul.” 

Bagi saya, Pak Ibnu Susanto, selain sebagai seorang paman, adalah juga sosok visioner dan energik, serta positive thinking. Beliau selalu bisa mendengar, memberi dukungan, dan menyampaikan solusi terhadap permasalahan (win-win solution). Pak Ibnu juga sering memberi wawasan dan pemahaman tentang industri baja, serta mampu melihat potensi-potensi yang ada.

TEDJASUKMANA HUDIANTO, KEPONAKAN IBNU SUSANTO, WAKIL PRESIDEN DIREKTUR PT SPINDO TBK

Herlina Siervia, yang dipercaya mengelola bisnis properti di Tangerang mengungkapkan, “Pak Ibnu Susanto dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana dengan belasan saudara. Beliau telah mengalami masa-masa sulit dan susah dalam kehidupan. Beliau tidak pernah lelah dan letih berjuang dalam hidup ini untuk dapat memberikan kehidupan yang lebih baik kepada keluarga beliau. Reputasi dan prestasi yang dimiliki Pak Ibnu saat ini adalah hasil nyata dari kerja keras beliau. Perjuangan hidup harus dimulai dari diri sendiri.” 

Adapun Nathaniel Sebastian berpendapat, “Seberapa pun suksesnya Pak Ibnu sampai usia 80 tahun, beliau tetap irit, disiplin, rajin dan humble. He is the most hardworking, disciplined and ambitious person I know. Hidupnya juga fokus ke family dan kerja tidak neko-neko. His spirit is an example to us all younger generations.” 

Ibnu Susanto dan Robert Adhi Ksp

Bisnis dan Sosial 

Penulis juga mewawancarai mitra bisnis Pak Ibnu Susanto yaitu Nishiguchi Shigeatsu, Soediarto Soerjoprahono, Soedjono Halim, dan Purwono Widodo (Direktur Pengembangan Usaha PT Krakatau Steel), serta empat orang lainnya yang berkaitan dengan Sekolah Pah Tsung Indonesia yaitu Nurhajati (pengusaha, teman satu sekolah), Tjokro Setia Widjaja (teman satu sekolah), serta Teddy Sugianto (Ketua Umum Perhimpunan INTI), dan Irwan Budihartono (Bendahara Yayasan Panca Cemerlang yang mengelola Sekolah Pah Tsung Indonesia). 

Nishiguchi Shigeatsu, mitra bisnis Ibnu dari Jepang mengungkapkan, “Saya belajar banyak hal dari Pak Ibnu, yang saya anggap sebagai mentor, guru terbaik, dan kakak tertua. Pak Ibnu memengaruhi saya dalam banyak hal sebagai pribadi dan sebagai pebisnis. Saya belajar banyak dari kebijaksanaan Pak Ibnu dan cara beliau melakukan kesepakatan bisnis dengan pelanggan, staf, dan lainnya.” 

Meski beliau sudah berumur tapi pemikiran beliau sebagai pebisnis sangat progresif. Saya menilai keputusan Pak Ibnu terlalu berani pada masanya ketika grup usahanya akan membangun pabrik lembaran baja untuk otomotif untuk mendukung industri otomotif. Sebelum perusahaan-perusahaan keluarga go public, dua perusahaan keluarganya sudah lebih dulu go public, dan itu cukup mengejutkan. Sangat jarang pabrik yang dijalankan keluarga menjadi perusahaan publik.

PURWONO WIDODO, DIREKTUR PENGEMBANGAN USAHA PT KRAKATAU STEEL

Direktur Pengembangan Usaha PT Krakatau Steel, Purwono Widodo menilai, Ibnu Susanto seorang yang optimistis dan berpikiran maju ke depan. “Meski beliau relatif sudah berumur tapi pemikiran beliau sebagai pebisnis sangat progresif. Ketika grup usahanya akan membangun pabrik baja lembaran untuk otomotif untuk mendukung industri otomotif, saya menilai keputusan Pak Ibnu terlalu berani pada masa itu. Sebelum perusahaan-perusahaan keluarga go public, dua perusahaan keluarganya sudah lebih dulu go public dan itu cukup mengejutkan. Sangat jarang pabrik yang dijalankan keluarga lalu menjadi perusahaan publik.” 

Soediarto Soerjoprahono, mitra bisnis Ibnu sejak 1970-an menilai Ibnu Susanto seorang pebisnis yang tangguh. Adapun Soedjono Halim, mitra bisnis Ibnu di bidang properti berpendapat, “Seorang pengusaha itu harus punya dua, yaitu pertama, mampu membuat keputusan yang cepat, tepat, dan tidak bertele-tele (agar kesempatan tidak hilang), dan kedua, harus bijaksana. Di mata saya, Pak Ibnu Susanto adalah pebisnis senior yang mampu mengambil keputusan yang cepat dan bijaksana.” 

Ketua Umum Perhimpunan INTI Teddy Sugianto menilai Ibnu Susanto pelit untuk dirinya sendiri tetapi royal dan mempunyai jiwa sosial untuk sahabat dan masyarakat banyak. “Beliau kaya tetapi tidak pernah memamerkan dirinya orang kaya. Sampai-sampai naik pesawat saja, beliau tidak mau naik di kelas bisnis (business class). Tetapi untuk menyumbang bakti sosial, Pak Ibnu tidak mau kalah dengan orang lain,” kata Teddy Sugianto. 

Beliau kaya tetapi tidak pernah memamerkan dirinya orang kaya. Sampai-sampai naik pesawat saja, beliau tidak mau naik di kelas bisnis (business class). Tetapi untuk menyumbang bakti sosial, Pak Ibnu tak mau kalah dengan orang lain.

TEDDY SUGIANTO, KETUA UMUM PERHIMPUNAN INTI

Nurhajati, teman satu sekolah Ibnu mengatakan, “Kalau Pak Ibnu Susanto tidak memulainya, Sekolah Pah Tsung tidak jadi.” Meskipun pada 2008 terjadi krisis keuangan global dan harga baja turun drastis, tetapi Ibnu bertekad tetap akan mendirikan Sekolah Pah Tsung. 

Kalau Pak Ibnu Susanto tidak memulainya, Sekolah Pah Tsung tidak jadi.

NURHAJATI, PENGUSAHA, TEMAN SEKOLAH IBNU SUSANTO,
Ibnu Susanto duduk santai di teras rumahnya.

Tjokro Setia Widjaja, teman satu sekolah di Pah Tsung mengatakan, “Ibnu sangat ulet. Dia mau kerja apa saja. Mukanya tebal sekali. Awalnya dia menjadi pesuruh. Jika ada tamu datang, dia memberikan rokok, teh, dan lainnya. Apa saja, dia kerjakan. Yang penting halal, dan dia dapat membantu adik-adiknya. Tapi akhirnya, justru Ibnu yang paling maju, berhasil, dan berkembang, sampai saat ini.” 

Irwan Budihartono, Bendahara Yayasan Panca Cemerlang yang mengelola Sekolah Pah Tsung Indonesia mengatakan, “Sekolah Pah Tsung berdiri kembali dan berkembang berkat dukungan semua alumni, terutama Pak Ibnu Susanto. Pak Ibnu sangat peduli pada pembangunan sekolah ini. Beliau berharap sumbangan untuk masyarakat Tionghoa Indonesia ini dapat membantu generasi penerus mampu berbahasa Mandarin dan mendapatkan pendidikan yang layak.” 

Saya menyebut beliau from zero to hero. Bapak di mata seluruh staf merupakan sosok pimpinan yang punya strategi berbisnis yang bagus, berani menghadapi tantangan, dan hebatnya lagi hampir semua keputusan yang diambil selalu berhasil.

SANIE DARMAWAN, SEKRETARIS PRIBADI IBNU SUSANTO

Sekretaris pribadi Pak Ibnu, Sanie Darmawan, juga memberi testimoni tentang atasannya. Sanie orang yang hampir setiap hari, setiap saat berkomunikasi dengan Ibnu Susanto untuk urusan pekerjaan di kantor. Sanie Darmawan, sekretaris pribadi Ibnu Susanto yang sudah 20 tahun bekerja menilai Ibnu Susanto seorang pejuang yang hebat dan gigih. 

“Berangkat dari keluarga biasa yang bekerja serabutan di toko saudaranya, kemudian berbekal tekad dan semangat pantang menyerah, beliau merintis usaha importir dari nol sampai berhasil menjadi konglomerat di usia yang relatif muda. Saya menyebut beliau from zero to hero. Bapak di mata seluruh staf merupakan sosok pemimpin yang punya strategi berbisnis yang bagus, berani menghadapi tantangan dan spekulatif, dan hebatnya lagi hampir semua keputusan yang diambil selalu berhasil dengan baik,” kata Sanie. 

Johanes W. Edward, Chief Strategy & Business Development, Corporate Secretary & Investor Relation PT Steel Pipe industry of Indonesia Tbk, berpendapat, “Pak Ibnu Susanto senantiasa belajar dan mengembangkan diri. Pada usianya yang tidak bisa dibilang muda, Pak Ibnu masih terus mau mempelajari hal-hal yang baru. Minatnya untuk memahami hal-hal terkait pasar modal, teknologi, serta dinamika politik dunia yang terus bergerak memungkinkan beliau menganalisis dan mengambil keputusan yang terukur. Beliau pernah bercerita bahwa beliau memanfaatkan waktu perjalanan di pesawat terbang untuk belajar bahasa Inggris, bahkan membawa kamus untuk memahami kata yang sulit dimengerti. Sebuah semangat yang jarang ditemukan pada saat ini.” 

Prinsip yang selalu ditekankan Pak Ibnu dalam berbagai kesempatan adalah hanya kita sendirilah yang menentukan nasib kita dan jangan bergantung pada orang lain. Prinsip ini masih berkaitan dengan sebelumnya, di mana kita harus memacu diri untuk dapat menguasai hal-hal baik yang umum dan khusus, yang relevan dengan pekerjaan dan kepentingan kita. Prinsip ini akan memungkinkan kita percaya diri dalam menghadapi setiap permasalahan yang muncul dalam hidup.

JOHANED EDWARD, CHIEF STRATEGY & BUSINESS DEVELOPMENT, CORPORATE SECRETARY & INVESTOR RELATIONS PT SPINDO TBK

Johanes Edward juga menilai Ibnu Susanto sosok yang mandiri. “Prinsip yang selalu ditekankan oleh Pak Ibnu dalam berbagai kesempatan adalah hanya kita sendirilah yang menentukan nasib kita dan jangan bergantung pada orang lain. Prinsip ini masih berkaitan dengan prinsip sebelumnya, dimana kita harus memacu diri untuk dapat menguasai hal-hal baik umum maupun khusus yang relevan dengan pekerjaan dan kepentingan kita. Prinsip ini akan memungkinkan kita percaya diri dalam menghadapi setiap permasalahan yang timbul dalam hidup,” kata Edward. 

Sementara itu Tantri Dyah Kiranadewi, konsultan yang mengurus pajak semua perusahaan milik Ibnu Susanto mengungkapkan, “Selama mengenal dan berkomunikasi dengan Pak Ibnu, saya merasakan sifat kebapakan beliau. Tegas, berwibawa tetapi tidak temperamental seperti pimpinan perusahaan umumnya yang saya kenal.” 

Pada bab pertama buku ini, penulis sengaja memberi konteks sejarah agar pembaca dapat memahami situasi pada masa itu, dengan mengutip sejumlah literatur yang terkait. Hal ini penting agar pembaca dapat membayangkan suasana Tiongkok dan Asia Tenggara pada awal abad ke-20, saat masa kecil dan masa muda ayah Ibnu Susanto. 

Dalam bab tentang Pah Tsung, untuk memberi konteks sejarah, penulis sengaja mengutip sejumlah literatur yang mengupas sejarah sekolah Tionghoa di Indonesia dan di Asia Tenggara. Ini penting agar pembaca memahami konteks sejarah isi buku ini.

Demikianlah, buku “Semangat Baja Ibnu Susanto” dengan tujuan dapat menjadi dokumen berharga bagi generasi penerus perusahaan-perusahaan yang didirikan Ibnu Susanto, dan tentu saja menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia yang ingin menjadi wirausaha.

Ibnu Susanto dan Robert Adhi Ksp, 10 April 2021