Tony Wenas, Chief Entertainment Officer


Chief Entertainment Officer_C-1+4_Page_1Sampul buku “Tony Wenas, Chief Entertainment Officer: Work and Fun are Soulmates” (oleh Robert Adhi Ksp). Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Terbit April 2017.  DOKUMENTASI PT GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

Chief Entertainment Officer. Julukan ini sangat pas diberikan kepada Tony Wenas, yang sehari-harinya menjabat Chief Executive Officer atau CEO PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) dan Managing Director APRIL Group. Mulai 1 Maret 2017, Tony kembali ke PT Freeport Indonesia. “Menyanyi adalah pekerjaan utama Tony, dan CEO pekerjaan sampingannya,” demikian banyak sahabat dan koleganya menggambarkan diri Tony Wenas saat ini.

Julukan Chief Entertainment Officer keluar dari mulut Nico Kanter, Presiden Direktur dan CEO PT VALE Indonesia, yang juga sepupu Tony. Nico yang menjadi teman main Tony sejak kecil, tahu persis siapa Tony.

Nico Kanter dan kakaknya, Johnny Kanter, serta semua kakak adik Tony Wenas terkagum-kagum dan mengakui betapa Tony seorang genius sejak kecil. Pada usia 4 tahun, Tony sudah mampu menyanyikan lagu orang dewasa, yang saat itu sedang populer, “Ten Guitars”, yang awalnya dibawakan penyanyi Inggris Engelbert Humperdinck pada 1967.

Pada usia 13 tahun, Tony mampu memainkan semua lagu berirama ragtime dan soundtrack film “The Sting” yang dirilis akhir tahun 1973, di antaranya “The Entertainer” ciptaan Scott Joplin yang digubah Marvin Hamlisch. Tony tak pernah belajar piano dengan benar. Dia hanya mendengar dan melihat, lalu mempraktikkannya.

Teman masa kecilnya, Inoe Arya Damar terheran-heran melihat kepiawaian Tony bermain piano. “Saya menilai Tony bukan orang yang senang menonjolkan diri secara berlebihan. Dia akan menunjukkan kehebatannya ketika diminta,” ungkap Inoe, sahabat SD. Adapun sahabat SMP-nya, Dion Simatupang sering membalas surat-surat cinta teman perempuan yang naksir Tony. Bahkan Tony tidak pernah tahu Dion yang membalas surat cinta itu.

IMG_8908 (1)
Bersama Pak Tony Wenas di Burgundy, Grand Hyatt Jakarta, November 2016

Di SMA Kanisius, Tony menghidupkan band sekolah dan sering merebut juara lomba vocal group antar-SMA se-Jakarta. Tony latihan bersama teman- temannya, di antaranya Dwi Hartanto. “Berkat aktivitasnya dalam dunia nyanyi dan musik sejak SMA, Tony punya modal kuat dalam pergaulan,” kata Dwi Hartanto, yang kini pengusaha listrik.

Rhenald Kasali, teman sekelasnya di Kanisius menilai Tony mampu memaksimalkan otak kiri dan otak kanannya. “Jarang ada orang seperti Tony,” kata Kasali, kini guru besar di Universitas Indonesia.

Ketika berusia remaja, Tony bercita-cita ingin menjadi musisi beken. Tony berhasil mewujudkannya dalam waktu enam sampai tujuh tahun kemudian. Melalui band “Solid 80”, band yang dibentuk Tony dan kawan-kawannya saat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Tony tampil sebagai musisi terkenal pada masa itu.

Sampai saat ini Tony memiliki ikatan emosional yang kuat dengan teman- teman band “Solid 80”, yaitu Setiawan Adi, Kurnia Wamilda Putra, Hendrasly Ahmad Sulaiman, Glenn Tumbelaka, Boyke Sidharta dan Edi ‘Achink’ Nugroho. “Tony jujur, pemberani, antusias, dan pembangun semangat,” kata Hendrasly.

Pada masa itu, profesi musisi belum memberi jaminan masa depan. Tony memilih untuk bekerja sebagai profesional. Sesama “anak band”, Triawan Munaf (kini Kepala Badan Ekonomi Kreatif) yang pada masa itu bergabung dalam band “Giant Step” menilai Tony tetap bermusik secara profesional meski menjabat sebagai CEO.

Tony Wenas di studio musik di rumahnya - foto KSP
Tony Wenas di studio musik di rumahnya, Desember 2016

Kepemimpinan yang efektif

Pada awal kariernya, Tony lebih fokus pada pekerjaan. Setelah mulai mapan, Tony tetap “ngeband”, menyanyi dan memainkan alat musik di tempat kerjanya. Tony berpindah-pindah tempat kerja, mulai dari perusahaan migas ARCO (yang kemudian berubah menjadi BP), kemudian perusahaan perbankan dan telekomunikasi.

Tony melamar bekerja di Freeport, dan dalam tujuh tahun, kariernya melesat sampai menduduki jabatan Executive Vice President. Bagi Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (saat itu) Adrianto Machribie, Tony memiliki leadership yang sangat efektif. Dia mampu menggerakkan orang-orang dalam organisasi tanpa menonjolkan dirinya. Tony fleksibel dalam arti positif, terbuka, tidak arogan, mudah bergaul, mau mendengar orang lain, dan juga bisa keras. Tony juga tidak pernah mengatakan, “Aku yang menentukan.”

Adrianto Machribie berpendapat, banyak orang yang mencoba naik ke atas dengan cara “menendang” ke kiri dan kanan, tetapi Tony berkembang tanpa harus “menyikut”, “melukai” ataupun “menendang” orang lain. Dia dipilih karena prestasi yang diukirnya sendiri.

KSP dan Adrianto Machribie.jpg
Bersama Pak Adrianto Machribie, mantan Presdir PT Freeport Indonesia, yang sekarang menjabat Presdir Metro TV, Februari 2017 

Tony Wenas dinobatkan sebagai “The Indonesia Most Admired CEO 2016” atau CEO Idaman Indonesia pada 8 Desember 2016 dari majalah “Warta Ekonomi”. Sebelumnya, pada 2 Maret 2016, Tony Wenas dinobatkan sebagai salah satu CEO Terbaik (The Best CEO) versi “Men’s Obsession” dan menerima “Obsession Awards 2016” sebagai “Best Individual Achiever Category CEO Private Sector”. Penghargaan-penghargaan sebagai CEO Terbaik yang diterima Tony Wenas sepanjang 2016 merupakan apresiasi pihak luar kepada dia dan apa yang telah dia lakukan. Tony selalu mengatakan, keberadaannya di perusahaan harus memberi manfaat lebih bagi semua pihak. Sebab bila sama saja, artinya dia hanya “CEO rata-rata”.

Tidaklah heran bila nama Tony Wenas masuk dalam daftar headhunter mengingat kemampuan Tony melakukan lobbying, menjalin networking, dan kemampuan teknisnya. Dia paham masalah kehutanan, pertambangan, dan perbankan, meski tidak sampai detail.

Kalimat kunci yang sering disampaikan Tony adalah dia mengelola perusahaan seperti pengalamannya mengelola band. Dia mengelola orang-orang dalam perusahaan itu seperti dia mengelola para pemain dalam grup band. “It’s about managing people,” kata Tony. Memimpin perusahaan ibarat memimpin orkestra dan band. Seorang pemimpin orkestra tahu kapan pemain tertentu harus dominan dan kapan dia harus lembut, instrumen apa yang perlu tampil di depan, dan kapan di belakang. Bagi Tony, memimpin lima manajer dalam perusahaan jauh lebih mudah dibandingkan memimpin lima pemain band yang memiliki ego yang cenderung tinggi.

Cara Tony menangani persoalan selalu mujarab. Apapun persoalan yang dihadapinya, Tony mampu menyelesaikan dengan baik. “Saya mengagumi kemampuan Tony menangani berbagai persoalan yang dihadapi perusahaan. Dia memiliki kemampuan menyeimbangkan tekanan (pressure),” kata Bernardus Irmanto, Wakil Presiden Direktur PT VALE Indonesia. “Saya terkesan pada Tony karena logical thinking-nya sangat kuat. Sekompleks apapun persoalan, dia melakukan pendekatan logical thinking sehingga persoalan cepat diurai, penerapan solusi lebih tepat, dan penyelesaian masalah pun cepat terlaksana,” kata Hendra Sinadia, sahabat Tony yang sekarang aktif di Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia dan Apindo.

KSP dan Dan Bowman
Bersama Daniel A. Bowman di Restoran Le Quartier, Januari 2017

Problem is my middle name. Tony mengibaratkan namanya Tony “Problem” Wenas. Semua perusahaan tempat dia bekerja, menghadapi banyak persoalan hukum, dan sebagai lawyer, Tony mampu membereskan problem yang dihadapi perusahaan.

Daniel A Bowman yang pernah menjadi atasan Tony di Freeport menilai, Tony Wenas lawyer terbaik yang pernah bekerja sepanjang sejarah Freeport, bahkan terbaik di Indonesia. “Saya sering melihat lawyer di Indonesia hanya profesional tetapi tidak bertanggung jawab sebagai problem solver. Tapi Tony berbeda. Dia ikut memecahkan persoalan yang sangat berat yang dihadapi Freeport, dari masalah lingkungan, keamanan, capital market, dan dia menyelesaikannya dengan baik. Banyak lawyer mempromosikan diri, tetapi Tony melakukan secara confidential karena dia memikirkan kliennya, Freeport,” kata Bowman.

KSP dan HS Dillon.jpg
Bersama Pak HS Dillon di Restoran Ambiente, Hotel Aryaduta Tugutani Jakarta, Januari 2017 

HS Dillon, yang pernah menjabat Senior Advisor di PT Freeport Indonesia, menilai Tony Wenas memiliki integritas dan dignity di perusahaan tempat dia bekerja.

Esterini Wahyudisheno, Head of Legal PT RAPP, yang pernah bekerja dengan Tony di Freeport dan RAPP menilai, Tony selalu menginginkan perusahaan yang dipimpinnya taat hukum. Semua langkah dan kebijakan perusahaan harus dipastikan sesuai dengan peraturan hukum.

Di mata sekretarisnya, Winda Herlina (saat di INCO/VALE), “Pak Tony sosok pemimpin mandiri”, sedangkan di mata Yenny Lie (sekretaris di RAPP), “Pak Tony memiliki daya ingat yang luar biasa.”

Tony masih sering menyanyi dan tampil bersama band “Solid 80” yang dipimpinnya hingga kini. Bahkan Tony bisa jadi satu-satunya CEO yang masih “ngeband” dan dibayar secara profesional. Dengan cara itu, Tony ingin menegaskan, musisi harus dihargai secara profesional.

“Tony sukses dalam kehidupan profesional dan sebagai musisi. Ini bukti nyata, bila seorang seniman dan musisi diberi kepercayaan memimpin perusahaan, dia mampu melakukannya dengan baik,” kata Tantowi Yahya, sahabat Tony. Tantowi Yahya adalah Ketua Umum PAPPRI (Persatuan Artis, Penyanyi dan Pemusik Rekaman Indonesia) dimana Tony juga duduk sebagai Bendahara Umum, dan juga politisi Partai Golkar yang kini Duta Besar RI untuk Selandia Baru.

Tony juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan organisasi probono. Dia membangun Rumah Retret di Tomohon, Sulawesi Utara yang dikhususkan untuk kegiatan keagamaan. Tony aktif di Indonesia Business Council for Sustainable Development, The Nature Conservancy, KADIN, Indonesia Mining Association, Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia, Asosiasi Emiten Indonesia, Persatuan Artis, Penyanyi dan Pemusik Rekaman Indonesia, alumni Canisius College, alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Kerukunan Keluarga Kawanua dan Komunitas Keluarga Wenas se-Indonesia.

Mencintai keluarga

Tony dijuluki sebagai family man, lelaki yang mencintai keluarganya. Dari sejumlah wawancara yang dilakukan, sahabat dan keluarga Tony mengakui Tony hanya mencintai perempuan bernama Shita Manik-Wenas yang sekarang menjadi istrinya. “Dia tidak pernah berpacaran dengan perempuan lain. Cinta Tony hanya pada Shita,” kata Paul Nelwan, sahabat dekat Tony.

Hanya Shita yang berhasil mendampingi Tony dan membuat hidupnya kembali normal. Sebelumnya Tony sempat seperti “layang-layang putus” dan sering minum dan dugem dan mabuk, terutama pada masa dia sempat berpisah dengan Shita. Namun Tony tidak menyerah dan itulah yang membuat Shita kembali pada Tony. “Jodoh tak lari ke mana,” kata Johnny Kanter, sepupu dan teman Tony sejak kecil. Johnny mengakui, Tony memang bandel di masa kecil dan remajanya tetapi dia sukses dalam hidupnya.

Di mata istrinya, Shita, “Tony is the best husband.”, sedangkan di mata putranya, Diego Wenas, “Papa sudah seperti teman dekat.”

“Bon vivant”

“Tony seorang bon vivant,” kata HS Dillon, sahabat Tony. Dan memang, Tony menerapkan prinsip work hard, play hard dalam kehidupannya. Meski sibuk dalam bekerja, dia tetap punya waktu untuk bergembira. Dia seorang penikmat wine. Pada masa remajanya, Tony sudah puas minum whisky dan sejenisnya.

“Tony menggabungkan antara pekerjaan, pleasure dan fun. Meski dia pulang larut malam setelah ‘ngeband’ atau nyanyi-nyanyi, tetapi pagi harinya dia sudah tiba di kantor lagi tepat waktu,” kata Clementino Lamury, Director & Executive Vice President PT Freeport Indonesia di bidang External Affairs. Clementino mengakui Tony Wenas adalah guru dan mentornya. “Tony hidup dalam keseimbangan antara sebagai profesional dan sebagai penyanyi. Dia CEO yang bisa hidup di dua dunia berbeda. Dia bukan CEO yang hanya memikirkan masalah finansial dan urusan perusahaan,” kata Agung Laksamana, Corporate Affairs Director APRIL Group.

tony-wenas-dan-ksp
Bersama Bapak Tony Wenas di Burgundy, Grand Hyatt Jakarta, Oktober 2016

Work and fun are soulmates. Kalimat itu diambil dari cendera mata yang diberikan karyawan Freeport Indonesia kepada Tony ketika dia mengundurkan diri dari perusahaan itu. Tony setuju ketika disampaikan usul kata-kata yang menggambarkan dirinya itu menjadi judul buku ini.

Buku ini bukan sekadar mengungkap perjalanan hidup seorang Tony Wenas, tetapi juga memaparkan kiat-kiat seorang seniman pencinta musik dan musisi berhasil memimpin perusahaan pertambangan dan kehutanan. Buku ini layak dibaca para profesional dan siapa saja yang suka membaca buku biografi.

                                                                               ***

Suasana wawancara yang hidup

Saya mewawancarai Tony Wenas sejak pertengahan Oktober 2016 sampai pertengahan Desember 2016 di Burgundy, Hotel Grand Hyatt Jakarta, di MO Bar, Hotel Mandarin Jakarta, dan di kediamannya yang asri di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, serta wawancara tambahan pada awal Februari 2017 di Social House di Grand Indonesia. Setiap saya mewawancarai Pak Tony di Burgundy, MO Bar, Social House, dan di rumahnya, saya selalu disuguhi wine. 

tony-wenas-dan-ksp-0
Bersama Bapak Tony Wenas di Burgundy, Grand Hyatt Jakarta, Oktober 2016

Karena Pak Tony Wenas seorang penyanyi, dalam beberapa bagian wawancara, Tony memberi ilustrasi dengan mendendangkan lagu. Misalnya ketika bercerita saat dia berusia 4 tahun dan sudah fasih menyanyikan lagu berjudul “Ten Guitars”. Tony memberi contoh dengan menyanyikan beberapa bait lagu yang dibawakan kali pertama oleh penyanyi Inggris kelahiran Madras, India, Engelbert Humperdinck.

Saat bercerita pada usia 13 tahun, dia fasih memainkan soundtrack film “The Sting”, Tony mendendangkan satu lagu, dan saya langsung menebak dengan tepat, “The Entertainer”. Juga ketika Tony menceritakan satu momen hidupnya saat pemakaman ayahnya, dia menyanyikan lagu berjudul “Papa” ciptaan Titiek Puspa. Di depan saya, Tony menyanyikan lagu itu dengan penuh perasaan.

Tony Wenas dan KSP3 - pelengkap tulisan KSP
Bersama Pak Tony Wenas di studio musik di lantai dua rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Desember 2016

Pada lain waktu, wawancara dilakukan di rumahnya di Jalan Sindanglaya, Menteng. Tony mengajak saya ke studio musik di lantai dua rumahnya. Tony menyalakan lampu sorot seolah kami berada di atas panggung, kemudian dia memainkan keyboard sambil menyanyikan lagu-lagu Phil Collins dari grup Genesis, dan Queen. Suasana wawancara dengan Tony Wenas menjadi hidup dan saya sangat menikmatinya. (Robert Adhi Ksp)

(Dikutip dari kata pengantar penulis dalam buku “Tony Wenas, Chief Entertainment Officer: Work and Fun are Soulmates, PT Gramedia Pustaka Utama, terbit April 2017)

BACA JUGA: Buku-buku Robert Adhi Ksp

Iklan

Korupsi Proyek Pemerintah dan Rekayasa Sejak Perencanaan


 

R. ADHI KUSUMAPUTRA

Dugaan korupsi proyek kartu tanda penduduk elektronik (KTP-el) pada tahun 2017 ini merugikan negara Rp 2,3 triliun dan melibatkan eksekutif, legislatif, BUMN dan swasta. Korupsi di berbagai proyek pemerintah sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 1960-an.

Harian Kompas Kamis 14 Oktober 1965 misalnya, mewartakan kasus manipulasi dan penggelapan uang negara hampir satu miliar rupiah dalam Proyek Conefo di Jakarta dan Lembaga Atom.  Pelakunya, Direktur “Trayan Art Association” dan “Nirmala Ltd”, Soediamto Dimjati (35 tahun) ditangkap Reserse Kriminal Komdak VIII Jawa Barat ketika sedang berfoya-foya di sebuah kamar di Hotel Savoy Homann Bandung awal Oktober 1965.

Surat kabar Kompas sejak 1965 memang berulang kali memberitakan kasus-kasus korupsi sejak awal terbit. Berulang kali pula Tajuk Rencana mengupas berbagai kasus korupsi. Termasuk yang dimuat Kompas Jumat 4 Juli 1969. “Korupsi, bahkan kecenderungan untuk korupsi benar-benar menghambat pelaksanaan pembangunan. Maka soal ini tidak bisa dianggap sepi. Kita tidak bisa menerima anggapan, ah korupsi toh sudah begitu umum, untuk apa masih harus diributkan lagi?” tulis Tajuk Rencana berjudul “Penghambat Pembangunan”.

Pencegahan korupsi perlu diusahakan. Salah satu jalan adalah menciptakan suasana yang tidak korup. Memberantas anggapan umum bahwa korupsi asal tidak ketahuan tidaklah mengapa. Memberantas anggapan umum bahwa korupsi kalau dilakukan orang-orang kuat, tak akan diambil tindakan.

Tajuk Kompas menyebutkan pula, “Kita mengetahui  bahwa korupsi tumbuh menjadi semacam lembaga, menjadi perbuatan kolektif. Tetapi semua itu tidak bisa membenarkan terciptanya anggapan umum bahwa ada pilih bulu dalam menindak. Anggapan umum ini amat merugikan.”

Opini Harian Kompas, Kamis 22 Maret 1973 berjudul “Praktik-praktik Pembocoran Uang Negara Sudah Menjurus ke Mumpung-isme” yang ditulis Soegandhi SH mengungkapkan, masih ada kebocoran-kebocoran keuangan negara, yang bersumber dari mentalitas pelaksananya dan prosedur yang masih memungkinkan terjadinya penyelewengan. Sampai sekarang memang sukar untuk menentukan secara pasti berapa persen sebenarnya uang proyek yang benar-benar efektif digunakan untuk keperluan proyek dan berapa yang masuk ke dalam kantong-kantong pribadi pelaksananya.

Tajuk Rencana Harian Kompas Rabu 14 Maret 1979 mengingatkan kembali masalah korupsi. “Sungguh prihatin hati kita apabila kita perhatikan ketujuh tempat rawan itu. Sebab hampir semua segi kehidupan dan pembangunan merupakan tempat rawan korupsi dan penyelewengan sehingga hampir tidak ada lagi tempat tersisa yang masih bersih,” tulis tajuk berjudul “Tujuh Tempat Rawan Sumber Penyelewengan” tersebut.

Ketujuh tempat rawan itu adalah proyek pusat, proyek daerah, bank, apartur negara, pajak dan bea cukai, pemberian layanan umum, dan pos pungutan di pinggir jalan. Bila diperas lagi, maka sumber korupsi dan penyelewengan itu adalah APBN, pelayanan pejabat, dan pungutan liar. Ini merupakan bidang-bidang kehidupan bangsa yang penting.

Jaksa Agung Singgih SH seperti diwartakan Harian Kompas 19 Desember 1992 menyebutkan, lemahnya disiplin dalam ketertiban anggaran, ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan kurangnya ketertiban dalam pengeluaran anggaran menimbulkan kebocoran dan pemborosan keuangan negara. Padahal pemerintah sudah menyusun dan menerapkan sistem pengawasan berlapis-lapis. Dari pengalaman kejaksaan menangani berbagai kasus pidana menyangkut keuangan negara, khususnya yang terkait penggunaan dana pembangunan, rekayasa sudah dilakukan sejak awal perencanaan, pada tahap pelaksanaan, dan pada tahap pemanfaatan hasil pembangunan.

SUMBER: TOPIK HARI INI, KOMPAS.ID, 15 MARET 2017

Pembelian Mobil Anggota DPR-GR di Antara Jeritan Rakyat


Tahun 1967, perekonomian Indonesia masih morat-marit. Inflasi masih tinggi, dan rakyat menjerit karena terpaksa antre sejak pukul tiga pagi untuk mendapatkan 3 liter beras kualitas rendah. Namun, para wakil rakyat di DPR-GR berebutan memesan mobil Holden.

Harian Kompas pada Kamis, 12 Oktober 1967, mengutip kantor berita Antara, mewartakan, DPR-GR telah memesan 380 mobil Holden 1967 melalui sebuah perusahaan swasta di Singapura. Prosedur pembelian dilakukan atas dasar kerja sama antara perusahaan swasta Indonesia dan perusahaan swasta Singapura yang membuka L/C-nya.

Sebelumnya Kepala Rumah Tangga DPR-GR mengumumkan kepada para anggota DPR-GR untuk membeli tiga jenis mobil, yaitu Fiat tipe 1100, Mercedes Benz tipe 250 S, dan Holden 1967. Setelah muncul reaksi keras masyarakat yang tak setuju devisa negara keluar untuk membeli mobil-mobil tersebut, DPR-GR kemudian membantah keras pembelian mobil menggunakan devisa negara. Sumber Antara malah menyebutkan, pemesanan mobil Holden dibiayai Pemerintah Indonesia.

Agen General Motor di Singapura membantah keras berita yang menyebutkan Parlemen Indonesia telah memesan 380 mobil Holden buatan Australia melalui Singapura, seperti dikutip Harian Kompas, Senin, 16 Oktober 1967.

Namun, Panitia Rumah Tangga DPR-GR, seperti diberitakan Harian Kompas, Kamis, 19 Oktober 1967, akhirnya membenarkan berita tentang pemesanan/pembelian mobil Holden untuk anggota DPR-GR. Harga satu mobil Holden itu Rp 335.000 per unit dan melalui PT Pamos. Sampai 2 Oktober 1967, sudah 148 anggota DPR-GR yang mendaftarkan diri membeli, sebagian membayar uang muka, sebagian membayar lunas.

Jika dibeli dalam dollar AS, harganya paling tinggi 2.000 dollar AS. Jika 1 dollar AS setara dengan Rp 140, harga satu mobil Holden 1967 menjadi Rp 280.000 per unit. Apabila ditambah dengan biaya gudang dan sebagainya, harganya menjadi Rp 335.000 di tangan pemesan.

Tuntutan mahasiswa

Kelompok mahasiswa mengajukan surat terbuka kepada pimpinan DPR-GR agar membatalkan pembelian mobil oleh DPR-GR karena persoalan ini menimbulkan reaksi yang menurunkan wibawa DPR-GR. Surat terbuka itu ditandatangani Koordinator Kelompok Mahasiswa Mari’e Muhammad, seperti diberitakan Harian Kompas, Rabu 25 Oktober 1967.

Lanjutkan membaca Pembelian Mobil Anggota DPR-GR di Antara Jeritan Rakyat

Korupsi Wakil Ketua DPR-GR Tahun 1965


Dugaan korupsi yang dilakukan anggota DPR pernah diberitakan harian Kompas, Selasa, 23 November 1965, di halaman 1 dengan judul ”MH Lukman Korupsi 250 Juta Uang Rakyat”.

MH Lukman adalah Menteri/Wakil Ketua DPR-GR dari Partai Komunis Indonesia. Berita ini terkait dengan rumah di lahan seluas 2.000 meter persegi di Jalan Gondangdia Lama di Jakarta Pusat yang digunakan Lukman sebagai rumah pribadinya yang masuk kategori rumah mewah. Rumah itu disebutkan memiliki tujuh kamar tidur, serambi belakang, serambi muka, lapangan tenis, dan kolam renang yang mewah.

MH Lukman 23-11-1965

Berita Kompas itu menyebutkan, ”Rumah sebesar dan semewah itu hanya memperlihatkan feodalisme dan sangat bertentangan dengan ucapan-ucapannya di mana dia selalu menganjurkan agar para pemimpin harus hidup sederhana, hingga perbedaan penghidupan pemimpin dan rakyatnya tidak terlalu mencolok.”

Pembuatan rumah tersebut dan bagaimana sampai uang rakyat sebesar Rp 250 juta digunakan tanpa pertanggungjawaban, semuanya dilakukan di luar pengetahuan pimpinan DPR-GR lainnya. Benar bahwa pimpinan DPR-GR MH Lukman dan Sjaichu akan diberikan rumah jabatan, dalam arti mereka memegang jabatan pimpinan DPR-GR. Sjaichu menggunakan prosedur umum, sebaliknya Lukman bertindak sendiri. Rumah jabatannya akan dijadikannya sebagai rumah pribadinya, dengan merombaknya menjadi rumah mewah, dan menggunakan uang rakyat sebesar Rp 250 juta. Untuk ukuran tahun 1965, jumlah uang itu sangat besar.

MH Lukman bersama 56 anggota DPR-GR lainnya sudah dipecat oleh Menko/Ketua DPR-GR Arudji Kartawinata pada awal November 1965, sesuai keputusan Pangdam V/Jaya guna meningkatkan kewaspadaan dan keamanan menyusul dugaan keterlibatan mereka dalam Gerakan 30 September (Kompas, Rabu, 3 November 1965). (KSP)

SUMBER: TOPIK HARI INI, KOMPAS.ID, KAMIS 9 MARET 2017

QLED, Teknologi Pertama TV di Dunia dengan Kekayaan Warna 100 Persen


Bayangkan Anda berada di dalam rumah yang dilengkapi televisi berteknologi terbaru QLED, teknologi pertama televisi di dunia yang memberikan kekayaan warna 100 persen. Anda dapat menikmati warna-warni yang sangat menakjubkan di layar TV QLED, dilihat dari sudut mana pun dan dalam suasana apa pun. Dan dengan smart remote, Anda dapat mengendalikan suara dan memilih kanal pilihan hanya dengan satu sentuhan tombol.

Bukan hanya itu. Pengalaman menikmati TV berteknologi mutakhir ini menjadi lebih asyik dan nyaman karena didukung perangkat soundbar M650 yang menghasilkan suara bioskop rumah (home cinema) yang powerful. Perangkat pendukung ini tidak membutuhkan sub-woofer yang terpisah, dan dapat dikendalikan dengan smart remote yang diciptakan khusus.

Pengalaman menikmati TV berteknologi canggih disempurnakan dengan sistem kabel optik tunggal yang rapi, yang memecahkan persoalan kabel kusut yang sering mengganggu estetika interior rumah. Aksesori tambahan, seperti no-gap wall mount, menjadikan pemasangan televisi yang ditempel di dinding lebih cepat dan lebih sederhana.

Keunggulan dan kecanggihan TV QLED yang menjadi flagship Samsung tahun ini diperkenalkan kepada awak media dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara dan Oceania, termasuk harian Kompas, dalam Samsung Forum 2017 di Marina Bay Sands, Singapura, pertengahan Februari 2017. TV QLED ini awalnya diperkenalkan Samsung untuk kali pertama dalam ajang teknologi digital dunia Consumer Electronics Show (CES) 2017 awal tahun ini di Las Vegas, Amerika Serikat.

Presiden dan CEO Samsung Electronics Asia Tenggara dan Oceania Yong Sung-jeon di Singapura mengungkapkan, Samsung QLED (singkatan dari quantum dot LED) merupakan standar baru dalam home entertainment, dan menghadirkan kemajuan luar biasa dalam pengembangan teknologi quantum dot.

Sebagai pemimpin pasar televisi dunia selama 11 tahun terakhir, Samsung kali ini memimpin industri televisi masuk ke dunia teknologi quantum dot yang menyajikan kualitas gambar yang menakjubkan.

QLED 07-03-17.png

Lanjutkan membaca QLED, Teknologi Pertama TV di Dunia dengan Kekayaan Warna 100 Persen

Raja Arab Saudi Faisal Bertamu ke Indonesia pada Juni 1970


Kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz al-Saud ke Indonesia pada 1-9 Maret 2017 menarik perhatian khalayak. Ini merupakan kali kedua Raja Arab Saudi berkunjung ke Indonesia. Sebelumnya, pada 10-12 Juni 1970 atau 47 tahun yang lalu, Raja Arab Saudi Faisal bin Abdul Aziz pernah melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia.

 

11-06-1970-raja-arab
Berita Harian “Kompas” Kamis 11 Juni 1970 berjudul “Raja Faisal Tiba di Jakarta”

 

Harian Kompas, Senin, 8 Juni 1970, mengabarkan, Raja Faisal kelahiran Riyadh yang berusia 65 tahun itu juga menjabat menteri luar negeri. Faisal diangkat ayahnya, Raja Arab (saat itu) Abdul Aziz, pada 1929 ketika mengubah direktorat urusan luar negeri menjadi kementerian luar negeri. Beberapa kali Faisal memimpin misi ke luar negeri, menghadiri konferensi dan pertemuan internasional. Faisal ke Bahrain dan kota-kota di Eropa sebagai Utusan Raja Abdul Azis. Faisal ikut dalam proses pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan menandatangani pernyataan bersama untuk membentuk PBB di San Francisco (Amerika Serikat) pada 1945, serta hadir dalam sidang yang membahas rencana Piagam PBB.

Faisal mengunjungi AS pada 1937 atas undangan Presiden AS Franklin Delano Roosevelt, menghadiri Konferensi Menteri-menteri Luar Negeri Negara-negara Arab yang diselenggarakan di Kairo, Mesir.

Kunjungan Raja Arab Faisal ke Indonesia pada Juni 1970 untuk memperat hubungan persahabatan kedua negara. Menteri Luar Negeri Indonesia Adam Malik, seperti dikutip harian Kompas, Rabu, 10 Juni 1970, mengatakan, Raja Faisal membicarakan masalah Arab-Israel, hubungan ekonomi-perdagangan Indonesia-Arab Saudi, dan masalah haji. Menurut Adam Malik, kunjungan Raja Faisal tidak dapat dipisahkan dari hasil Konferensi Islam di Jeddah sebelumnya.

Lanjutkan membaca Raja Arab Saudi Faisal Bertamu ke Indonesia pada Juni 1970