Peristiwa empat pastor Jesuit yang selamat dari ledakan bom atom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dikenal sebagai Mukjizat Hiroshima (“The Rosary Miracle of Hiroshima”).

Bangunan pastoran Jesuit berdiri di tengah kehancuran total akibat bom Hiroshima, 6 Agustus 1945
Sumber: National Catholic Register/”The Jesuit Priests Who Survived Hiroshima

Tanggal 6 Agustus 1945 pukul 08.15 pagi. Sebuah B-29 Superfortress bernama Enola Gay menyerang melintasi Pasifik dan menjatuhkan bom atom uranium-235 di Hiroshima, Jepang. Salah satu bom meledak di sekitar 1,2 kilometer atau delapan blok dari Gereja Katolik Maria Diangkat ke Surga, dan pastoran tempat tinggal para imam Jesuit.

Serangan di Hiroshima dan serangan bom atom berikutnya di kota Nagasaki tiga hari kemudian mengakhiri Perang Dunia II, karena para pemimpin militer Jepang menyadari bahwa mereka tidak bisa menang.

Ledakan bom atom dengan kode “Little Boy” itu menghancurkan area seluas beberapa kilometer persegi dan menewaskan puluhan ribu orang seketika. Namun, bangunan pastoran yang terbuat dari kayu-beton di Hiroshima tetap tegak. Keempat pastor di dalamnya hanya mengalami luka ringan akibat pecahan kaca dan puing-puing. Mereka bahkan tidak mengalami gangguan pendengaran.

Dokter yang merawat mereka setelah ledakan memperingatkan bahwa keracunan radiasi yang mereka alami dapat menyebabkan luka serius, penyakit, dan bahkan kematian. Namun, 200 pemeriksaan medis pada tahun-tahun berikutnya tidak menunjukkan efek buruk, sehingga membingungkan para dokter yang telah memprediksi konsekuensi yang mengerikan.

Puluhan ilmuwan dan dokter militer yang memeriksa keempat imam Jesuit itu berulang kali di kemudian hari tidak menemukan adanya gangguan kesehatan akibat radiasi atom—seperti leukemia, penurunan jumlah sel darah putih, atau kanker—yang umumnya dialami para penyintas (hibakusha) pada radius serupa. Ketika ditanya alasan ilmiah keselamatan mereka, salah satu pastor Jesuit, yaitu Pastor Hubert Schiffer, S.J., memberikan jawaban spiritual, “Kami percaya bahwa kami selamat karena kami hidup dalam pesan Bunda Maria di Fatima. Kami berdoa rosario bersama setiap hari di rumah tersebut.

Keempat pastor Jesuit asal Jerman tersebut hidup hingga usia lanjut tanpa dampak radiasi yang mematikan. Pertama, Pastor Hugo Enomiya-Lassalle, S.J. (1898–1990). Saat ledakan terjadi, ia menjabat sebagai Superior Misi Jesuit di Jepang. Pasca-perang, ia memprakarsai pembangunan World Peace Memorial Church di lokasi gereja yang hancur dan menjadi pionir dialog lintas agama antara Katolik dan Meditasi Zen. Pastor Hugo Enomiya-Lassalle, S.J., meninggal dunia pada 7 Juli 1990 di Essen, Jerman, pada usia 91 tahun.

Kedua, Pastor Hubert Schiffer, S.J. (1915–1982). Ia baru saja selesai merayakan Misa Kudus dan sedang sarapan ketika bom meledak. Setelah Perang Dunia II berakhir, ia melanjutkan studi doktoral di Universitas Fordham, AS, dan menjadi profesor ekonomi di St. Joseph’s College, Philadelphia, AS. Ia aktif bersaksi mengenai pengalamannya, ”The Rosary of Hiroshima”. Pastor Hubert Schiffer, S.J., meninggal dunia pada 27 Maret 1982 di Frankfurt, Jerman, pada usia 66 tahun.

Ketiga, Pastor Wilhelm Kleinsorge, S.J. (1906–1977). Ia menetap di Jepang untuk melayani umat dan kemudian menjadi warga negara Jepang dengan nama Makoto Takakura. Kisah keberaniannya dalam menyelamatkan korban bom diabadikan oleh jurnalis John Hersey dalam buku terkenal Hiroshima (1946). Pastor Wilhelm Kleinsorge, S.J., meninggal dunia pada 19 November 1977 di Hiroshima pada usia 71 tahun.

Keempat, Pastor Hubert Cieslik, S.J. (1914–1998). Ia melanjutkan karyanya di Jepang sebagai pastor dan sejarawan Gereja Katolik Jepang, dan meninggal dunia pada 24 September 1998 di Tokyo pada usia 84 tahun.

Foto dramatis yang diambil tak lama setelah pemboman menunjukkan gereja Pastor Schiffer, berdiri sendirian di tengah kota yang hancur. Di sana, di jalan, berdiri empat imam Jesuit yang setia, menatap rumah dan bisnis yang rata, bermil-mil menuju cakrawala, dan bersyukur bahwa Tuhan telah menyelamatkan mereka untuk melanjutkan pekerjaan-Nya.

Takhta Suci Vatikan mengakui kesaksian iman ini sebagai peristiwa perlindungan Allah (Providentia Dei) yang nyata. Paus Pius XII memberikan dukungan penuh terhadap misi perdamaian para imam Jesuit di Hiroshima pasca-ledakan bom atom. Peristiwa ini menjadi pendorong utama gerakan doa dan perdamaian di lingkungan Katolik global, termasuk dukungan terhadap pembangunan Gereja Peringatan Perdamaian Dunia (World Peace Memorial Church) di Hiroshima, Jepang.

Sumber: “The Jesuit Priests Who Survived Hiroshima” (https://www.ncregister.com/blog/the-jesuit-priests-who-survived-hiroshima) – National Catholic Register