Johannes Hariyanto: Dulu “Sales” Sekarang Pemilik Pengembang TreePark Group


ROBERT ADHI KSP

Tahun 1974, Johannes Hariyanto (59) bekerja sebagai pegawai promosi penjualan atau sales promotion di perusahaan rokok Djarum di Surabaya dan berkeliling ke kota-kota di Jawa Timur. Tahun 1976, dia dipindahkan ke Manado, Sulawesi Utara. Tugasnya berkeliling mempromosikan rokok Djarum ke kota-kota di Pulau Sulawesi dan Maluku.

Johannes Hariyanto, pemilik perusahaan pengembang TreePark Group.
Johannes Hariyanto, pemilik perusahaan pengembang TreePark Group.

Masih di Manado, pada 1980, Hariyanto pindah kerja, menjadi sales promotion perusahaan bir hitam Guinness. Dia sempat mengalami guncangan karena penjualannya merosot. Sebagai pemuda yang mulai belajar berusaha, kondisi saat itu tidaklah mudah karena sebelumnya Hariyanto bekerja sebagai profesional di sebuah perusahaan kayu di Semarang sambil menyelesaikan kuliahnya di Universitas Diponegoro.

Suatu hari pada tahun 1982, Hariyanto bertemu dengan Muktar Widjaja, saat itu Kepala Cabang Sinar Mas di Indonesia timur. Hariyanto diajak bergabung di PT Bimoli (Bitung Manado Oil) yang berkantor di Manado dan menjadi kepala unit.

Yang menarik bagi Johannes Hariyanto ketika kali pertama bekerja di Sinar Mas adalah dia ditempatkan di Unit Pembelian Kopra Sindulang Manado dan diminta belajar menimbang kopra dan belajar mengetahui kualitas Kopra Mas.

“Awalnya saya malu karena pekerjaan itu tidak sesuai dengan jabatan saya sebelumnya. Namun, saya akhirnya memahami bahwa itu merupakan tempat latihan yang luar biasa bagi saya sebelum saya ditempatkan di posisi yang strategis,” ungkap Hariyanto. Di tempat itu, dia dapat melihat langsung banyak sekali lubang yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan kecurangan, di antaranya mencuri timbangan. Hampir semua anak-anak Eka Tjipta Widjaja, pemilik Sinar Mas, melakukan pekerjaan ini di awal karier mereka.

Setelah menimbang kopra di Unit Pembelian Kopra Sindulang Manado, Hariyanto dipindahkan ke Ternate ketika Sinar Mas membangun pabrik di sana. Setelah Bimoli menjalin kerja sama dengan Grup Salim, Hariyanto menjabat Kepala Bagian Pembelian (Purchasing). Jabatan itu biasanya dipegang putra-putra dan keluarga Eka Tjipta Widjaja. Di sana, Hariyanto bertanggung jawab atas pembelian bahan baku kopra untuk keperluan PT Bimoli. Dia mencari kopra di Sangir Talaud, Lubukbanggai, Gorontalo, sampai Ternate.

Johannes Hariyanto mengakui betapa indahnya panorama Indonesia timur setelah dia mengelilingi Sulawesi mulai dari Selayar sampai Miangas. “Alangkah indahnya negeri ini. Apalagi bila rakyat saling menghormati keberagaman,” katanya.

Tahun 1989, Sinarmas dan Grup Salim pecah kongsi dalam kerja sama PT Bimoli. Wilayah Manado diambil alih oleh Grup Salim. Hariyanto dipindahkan ke Jakarta, menjadi Kepala Bagian Personalia Divisi Perkebunan Sinar Mas II.

Pada waktu itu, tahun 1990, Sinar Mas baru membangun perkebunan di Riau, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Lampung. Setiap bulan Hariyanto mengawasi perkebunan-perkebunan sawit itu. Dia mengirim karyawan baru untuk magang di perkebunan kelapa sawit tertua milik Sinar Mas di Padang Halapan, Sumatera Utara.

Amankan ITC saat kerusuhan 1998

Pada tahun 1992, Hariyanto ditarik ke Divisi Properti yang membawahi antara lain PT Duta Pertiwi dan berkantor di ITC Mangga Dua di lantai 8. Tugas utamanya adalah memajukan ITC Mangga Dua. Di Divisi Properti, Hariyanto menjabat Kepala Hubungan Masyarakat dan Hubungan Masalah atau Direktur General Affairs. Kalau ada masalah apa pun, Hariyanto yang menyelesaikannya. Ketika ditempatkan di divisi inilah Hariyanto berteman dengan banyak pihak.

Ketika terjadi kerusuhan Mei 1998, ITC Mangga Dua tidak tersentuh dan menjadi satu-satunya pusat perdagangan dan perbelanjaan yang tidak dijarah. Padahal, tetangga ITC, Harco Mangga Dua, menjadi korban penjarahan. Mengapa ITC Mangga Dua aman?

Inilah kelebihan Johannes Hariyanto. Dia memiliki banyak teman, mulai dari tokoh masyarakat, tokoh agama di sekitar ITC Mangga Dua, sampai komandan Marinir TNI Angkatan Laut dan komandan TNI Angkatan Darat. Hariyanto menjalin persahabatan dengan banyak teman sejak awal bertugas di Divisi Properti. Berkat persahabatannya itulah Hariyanto dapat membuat ITC Mangga Dua dan juga ITC Roxy Mas aman.

“Sementara bos-bos dan juga sebagian para pemilik kios sudah kabur, saya tetap harus berada di ITC Mangga Dua, memastikan agar tempat ini tetap aman,” cerita Hariyanto. Dia tidak pulang ke rumah berhari-hari sampai situasi betul-betul pasti aman. Sementara istri dan anak-anaknya pulang ke Manado.

Johannes Hariyanto, pemilik perusahaan pengembang TreePark Group
JOHANNES HARIYANTO. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Johannes Hariyanto, pemilik perusahaan pengembang TreePark Group
JOHANNES HARIYANTO. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Pada saat itu, Komandan Marinir Mayjen Soeharto mengerahkan anggotanya mengamankan Jakarta bersama Panglima Komando Armada Barat Laksamana Muda Achmad Sutjipto, Kepala Staf Panglima Komando Armada Barat Laksamana Pertama Achmad Mudjito dan Komandan Pasukan Marinir Kolonel Nono Sampono.

Setelah Presiden Soeharto menyatakan mundur dan situasi keamanan di Jakarta berangsur-angsur pulih, seharusnya kios dan toko di ITC Mangga Dua dan ITC Roxy Mas sudah bisa dibuka.

Komandan Grup 1 Kopassus Kolonel (Inf) Pramono Edhie Wibowo dan Komandan Kodim Jakarta Utara Letkol (Inf) M Erwin Syafitri (sekarang Letjen, Wakil KSAD) datang ke ITC meminta semua kios dibuka. Namun, yang menjadi persoalan, para pemilik kios dan toko belum kembali ke Jakarta. Hanya gerai McDonald’s yang sudah buka. Namun, karena ITC masih sepi pengunjung, akhirnya McDonald’s membagikan makanan dan minuman mereka kepada pegawai yang sudah datang tetapi tak bisa bekerja karena kios masih tutup, dan juga ke manajemen ITC.

Dua minggu setelah 17 Mei 1998, barulah pemilik toko dan kios di ITC Mangga Dua membuka dagangan mereka. Mereka takjub melihat toko dan kios mereka utuh, tak tersentuh penjarah. Dari 2.500 kios, hanya satu toko yang kacanya pecah.

Ketika krisis terjadi, Hariyanto tidak ikut-ikutan kabur. Dia merasa ikut memiliki Sinar Mas. Dia ikut bertanggung jawab menjaga properti Sinar Mas meski barang itu milik orang lain.

“Saya memiliki utang budi kepada Pak Muktar Widjaja. Dulu waktu saya susah di Manado, saya diajak Pak Muktar bergabung ke Sinar Mas. Saya tidak mungkin mengkhianati Pak Muktar yang pernah menolong saya agar bangkit dari keterpurukan,” tutur Hariyanto.

Hampir mati disantet

Johannes Hariyanto pada 2002 ditugaskan ke PT BSD setelah pasca krisis ekonomi 1998, Sinar Mas mengakuisisi pengembang properti yang membangun wilayah di pinggiran Jakarta itu. Hariyanto yang menjabat Direktur Pembebasan Tanah dan Keamanan mengambil alih manajemen PT BSD, yang sebelumnya dipegang oleh Ciputra.

“Situasi masih transisi. Banyak masalah internal yang belum beres. Di eksternal, banyak kuli angkut yang meresahkan warga. Saya diminta membereskan semuanya,” kata Johannes Hariyanto. Dia merangkul kuli angkut, membina, dan memberi mereka pekerjaan asalkan mereka menaati aturan BSD.

Hariyanto membenahi masalah satu per satu. Salah satunya membenahi Taman Kota 1 di Jalan Letnan Sutopo BSD menjadi taman kota yang representatif dan kini menjadi salah satu pilihan warga sekitar berolahraga.

Selama bekerja di PT BSD, Hariyanto mengalami banyak peristiwa. Dia pernah hampir mati akibat disantet karena persoalan tanah antara tahun 2008 dan 2010. “Saya tidak tahu sakit apa, tetapi saya sudah menghabiskan biaya banyak. Bahkan, saya hampir meninggal. Ternyata saya disantet. Setelah berobat dan sembuh, tiga dukun yang menyantet saya meninggal dunia, tiga lainnya gila, dan tiga lainnya minta maaf. Orang yang menyuruh dukun-dukun itu supaya saya disantet, malah sudah mati duluan,” cerita Hariyanto terus terang.

Sejak 2013 Hariyanto pensiun dari Sinar Mas. “Saya sadar zaman sudah berubah. Anak-anak muda sudah pegang kendali dan saya harus tahu diri. Sudah waktunya pensiun. Saya dan teman-teman mengisi waktu pensiun supaya tidak pikun dengan membuka usaha properti,” katanya.

Johannes Hariyanto mengakui peranan keluarga Eka Tjipta Widjaja sangat besar dan membuat dia mendapat banyak kesempatan mengembangkan diri. Dia menyebut nama Muktar Widjaja, Sukmawati Widjaja, dan Franky Oesman Widjaja yang memberi kesempatan kepadanya berkarier di Sinar Mas sejak dia masih lajang, menikah, dan kini memiliki tiga anak yang dewasa.

“Saya bisa seperti ini sekarang karena jasa Sinar Mas. Yang membesarkan saya itu Sinar Mas. Saya bisa melobi sana-sini, bisa mengenal banyak kawan, itu karena fasilitas Sinar Mas,” ungkapnya terus terang.

Hotel dan apartemen

Johannes Hariyanto mempersiapkan masa pensiunnya dengan membangun Hotel Grand Zuri BSD (bintang empat) pada 2011, yang berlokasi di sebelah Ocean Park. Hotel itu dikelola Grand Zuri milik teman lamanya, Nicodemus Kasan. “Hotel itu untuk persiapan pensiun supaya dapur tetap ngebul,” katanya. Hariyanto juga memiliki saham di Favehotel Puri (Jakarta Barat) danserviced apartment Anggrek Loka (75 kamar).

Setelah pensiun tahun 2013, Hariyanto dan beberapa temannya, di antaranya Harry Hartanto (mantan Presiden Direktur PT BSD), mendirikan perusahaan pengembang TreePark Group, yang membangun apartemen dan hotel.

“Kami mendirikan perusahaan pengembang kecil-kecilan. Kami baru mulai dengan dua proyek apartemen yang saat ini sedang dibangun, yaitu TreePark BSD dan TreePark Cikokol. Kedua apartemen itu sudah terjual 80 persen,” ujarnya. Di dekat lokasi apartemen TreePark BSD, Hariyanto dan kawan-kawannya juga sudah membangun Hotel POP! yang dikelola Tauzia dengan okupansi 75 persen dan Intro Jazz Café.

Sayangnya, kata Hariyanto, krisis ekonomi yang terjadi saat ini menyebabkan turunnya daya beli. Meski demikian, situasi krisis tidak menyurutkan rencana Hariyanto dan kawan-kawannya membangun apartemen TreePark lainnya di Bintaro (Tangerang Selatan) dan Hotel TreePark di Banjarmasin (Kalimantan Selatan) dan serviced apartment di Karawang (Jawa Barat).

Hariyanto menilai saat ini semua pihak masih wait and see. “Mudah-mudahan sektor properti tetap bisa survive dan krisis segera berakhir. Saya menilai sektor properti masih bagus. Ini semacam siklus. Ada masa slow down, ada masa kejayaan,” ujarnya.

Hariyanto dan kawan-kawannya menjual apartemen TreePark dengan harga relatif terjangkau. Satu menara apartemen TreePark BSD dibangun sebanyak 600 unit di lahan seluas 5.000 meter persegi dan 90 persen sudah terjual. Adapun satu menara apartemen TreePark City, Cikokol, Kota Tangerang, dibangun sebanyak 400 unit di lahan seluas 4 hektar dan 80 persen sudah terjual. Rencananya akan dibangun enam menara, termasuk gedung perkantoran dan hotel, di TreePark City, Cokokol.

Rencana pembangunan apartemen TreePark Bintaro di lahan seluas 1 hektar tertunda karena krisis. Apartemen itu dibangun untuk kelas menengah atas.

Johannes Hariyanto optimistis kawasan Serpong akan menjadi pilihan utama karena mudah diakses dari jalan tol dari Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Selatan. Serpong juga mudah diakses melalui KRL Commuterline. Berbagai fasilitas pendukung sudah dibangun, di antaranya AEON Mall BSD City dan Indonesia Convention Exhibition (ICE) di BSD, selain Swiss German University dan Prasetiya Mulya University. Namun, dia mengingatkan agar pemerintah daerah mengantisipasi dampak lalu lintas sejak dini agar tidak menimbulkan kesemrawutan.

Lahir di Rembang, Jawa Tengah, 9 April 1956, Johannes Hariyanto mengenyam pendidikan di SD Negeri IV, SMP Katolik, SMA Negeri 1, semuanya di Rembang. Tamat SMA, Hariyanto kuliah di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, angkatan 1974. Namun, dia tak sempat lulus, sudah keburu bekerja. Hariyanto menyelesaikan pendidikan S-1 di Universitas Terbuka tahun 1988 setelah menikah dan memiliki dua anak.

Menikah dengan Elizabeth Thenouch (sekarang 57 tahun) pada tahun 1983, Hariyanto dianugerahi tiga anak, yaitu dr Ellyani Najoan (31) yang kini melanjutkan studi angiology di Jerman; Dipl Ing Dian Ariefyanto (28) membantu di Hotel Grand Zuri dan Favehotel Puri; dan Ir Edward Julian Liauw (23), insinyur desain interior yang sedang magang di TreePark BSD, dan akan melanjutkan studi di Inggris. Anak pertama dan kedua lahir di Tomohon (Minahasa), Sulawesi Utara, sedangkan anak ketiga lahir di Jakarta.

“Apa yang bisa diamal, baktikan untuk masyarakat kecil,” demikian moto hidup Johannes Hariyanto. Dia membuka warung kopi untuk melatih pemuda di sekitar BSD menjadi pembuat kopi dan pada gilirannya dapat berwirausaha membangun warung kopi sendiri.

Dari seorang sales promotion yang berkeliling dari kota ke kota, Hariyanto kini menjadi pengusaha properti. Semua berkat kerja keras dan kemauan untuk maju berkembang.

SUMBER: SOSOK, KOMPAS PRINT.COM, JUMAT 11 SEPTEMBER 2015

Iklan