Catatan dari Sisilia, Pulau Asal Mafia


Di sela-sela liputan sidang Interpol di Roma, Italia tahun 1994, saya menyempatkan diri berkunjung ke Pulau Sisilia (diindonesiakan menjadi Sisilia) yang berlokasi di selatan Italia. Tujuan saya jelas: menulis tentang Sisilia dan hubungannya dengan mafia. Saya memesan tiket pesawat Alitalia p.p Roma-Palermo dan melakukan perjalanan jurnalistik.

Saya ditemani seorang staf Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma, dan staf KBRI ini memperkenalkan saya kepada  wartawan Harian “Giornale di Sicilia” Marco Romano. Marco bercerita banyak tentang sepak terjang mafia yang (pada waktu itu) belum lama membunuh dua hakim antimafia, Giovanni Falcone dan Paulo Borselinno.

Marco Romano mengatakan senang berjumpa dengan wartawan asing yang menanyakan soal mafia di tempat kelahirannya dan bisa menjelaskan soal itu. Menurut Romano, banyak pemuda Palermo yang malu jika berjumpa dengan orang asing yang menanyakan soal mafia.

Laporan perjalanan ke Sisilia, Italia itu dimuat bersambung di halaman 1 Harian Kompas, 31 Oktober dan 1 November 1994.

=========================================

                                Catatan dari Sisilia, Pulau Asal Mafia (1)

                                  “Sisilia Bukan Semuanya Mafia…”

Pengantar Redaksi

Sisilia, nama sebuah pulau di selatan Italia. Namun pulau yang terletak di Laut Tengah ini lebih dikenal sebagai daerah asal kelompok mafia, gangster yang merajalela di kota-kota besar di Amerika Serikat dan Eropa sejak awal abad ini. Wartawan Kompas Robert Adhi Kusumaputra pada akhir September 1994 lalu mengunjungi Pulau Sisilia menyajikan pengalamannya dalam dua tulisan.

PESAWAT Alitalia lepas landas dari Bandara Leonardo da Vinci di Fiumicino Roma menuju Bandara Punta Raisi di Palermo, ibu kota Sisilia. Cuaca pagi itu sangat cerah.

Selama perjalanan selama satu jam di pesawat, terbayang bagaimana rupa Pulau Sisilia, yang sangat terkenal sejak awal abad ini akibat ulah mafia asal Sisilia. Nama-nama seperti Lucky Luciano, pimpinan “Cosa Nostra” New York, gangster terkemuka di Amerika; dan Vito Genevese, bos dari semua bos Mafia di Amerika yang menguasai pasaran narkotika, sampai sekarang masih melegenda. Muncul pertanyaan di benak, benarkah kelompok Mafia sudah tinggal legenda di tempat asalnya di Sisilia?

Sicilia1
Laporan perjalanan dari Sisilia, Italia, dimuat bersambung di halaman 1 Harian Kompas,  Senin 31 Oktober 1994 dan Selasa 1 November 1994.

 

Begitu tiba di Bandara Palermo, yang “menyambut” penumpang adalah seekor anjing herder yang mendengus-denguskan hidungnya di pintu masuk bandara, dikawal oleh pawangnya -seorang polisi bersenjata. Mungkin sang herder sedang melacak barang-barang haram yang dibawa ke Sisilia.

Selain di gerbang bandara, tidak tampak tentara atau polisi bersenjata lengkap dalam jumlah banyak. Yang terlihat malah rombongan turis yang berusia lanjut, sebagian dari Perancis. Kelihatannya Sisilia aman-aman saja. Soalnya, wajah turis-turis itu tampak ceria. Mereka baru saja turun dari bus wisata yang diparkir di halaman bandara dan hendak terbang lagi. Tak tampak perasaan takut sedikit pun di raut wajah para turis. Mereka rupanya sudah menikmati Sisilia yang bercuaca cerah dan menawarkan keindahan pantai, gunung dan bangunan tua.

Pulau Sisilia seluas 25.707 km persegi sesungguhnya merupakan obyek turis. Seperti, Gunung Etna (3.363 m) di Sisilia timur yang memuntahkan lava yang indah. Banyak pula bangunan dengan arsitektur yang berbeda, sebagai akibat pengaruh kehadiran berbagai bangsa asing di Sisilia pada abad-abad silam.

Karena lokasinya yang khas dan strategis di Laut Tengah, Sisilia sering diserang oleh pendatang asing pada abad-abad yang lalu. Sisilia juga merupakan tempat pertemuan orang-orang yang tinggal di sekitar Laut Tengah, “jembatan” antara Timur dan Barat. Ini terjadi selama penjajahan Yunani pada abad ke-8 hingga ke-3 Sebelum Masehi, penyerangan Arab pada abad ke-9 dan 10 Masehi, dan penguasaan orang Normandia pada abad ke-11 dan 12. Pengaruh bangsa- bangsa ini tampak pada bentuk dan arsitektur bangunan tua di Sisilia.

Keindahan alam Sisilia membuat penyair Jerman, Goethe dalam salah satu karyanya menyebut, Gunung Pellegrino yang terlihat dari pelabuhan kecil Mondello, sebagai “gunung terindah di dunia”. Ucapan Goethe itu hingga sekarang masih terngiang di telinga orang Sisilia dan turis-turis yang setiap musim panas memenuhi pantai Mondello.

                                                                         ***

KETIKA kendaraan yang ditumpangi melewati jalan tol -dalam perjalanan dari bandara menuju pusat kota Palermo-, aku teringat berita yang pernah menggemparkan Italia dan seluruh dunia. Seorang hakim antimafia, Giovanni Falcone (53) yang baru saja mendarat di Bandara Punta Raisi Palermo dengan pesawat militer rahasia dari Roma, menjadi korban teror mafia. Mobil yang ditumpangi Falcone dan istrinya Francesca meledak akibat bom TNT satu ton yang didetonasi dengan remote-control dari sebuah pesawat kecil. Ledakan bom yang juga menewaskan tiga polisi itu, meninggalkan kubangan raksasa sedalam 50 meter di jalan itu. Ada tanda merah di sisi jalan tol, untuk memperingati kematian sang hakim jujur itu.

Pembunuhan atas Falcone -yang tahu persis bagaimana mafia mengeruk trilyunan lira lewat jaringan gelap penyelundupan narkotika dan pemerasan- terjadi tahun 1992. Tapi bayangan peristiwa ledakan bom itu membuat perasaan sedikit was-was. Masihkah mafia menebar teror di Sisilia ?

Dari pertemuan dengan Marco Romano (25), seorang wartawan Harian Giornale di Sicilia yang terbit di Palermo -yang diatur oleh pemandu dari Kedubes RI di Roma-, ada gambaran tentang situasi Sisilia dan aksi mafia saat ini. Dalam percakapan dengan Romano di sebuah restoran khas Italia itu, tercetus pula harapannya sebagai pemuda kelahiran Sisilia.

Menurut Romano, suasana di Pulau Sisilia sejak dua tahun terakhir memang mulai berubah. Terutama sejak dua penegak hukum terkemuka yang gigih membasmi mafia, Giovanni Falcone dan Paolo Borsellino tewas dibantai kelompok Mafia Sicilia di Palermo masing- masing pada 23 Mei 1992 dan 19 Juli 1992. Setelah pembunuhan kedua hakim antimafia itu terjadi, rakyat Sisilia berontak dan marah. Pengumpulan pendapat yang dilakukan menyatakan, 75 persen rakyat Sisilia ingin kelompok mafia yang terlibat pembunuhan, dihukum mati.

Sicilia7
1994: Saya bertemu dengan wartawan Harian “Giornale di Sicilia” di Palermo, Sisilia, Italia,  FOTO: DOKUMENTASI KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

“Saya sudah bosan dengan cerita-cerita tentang mafia,” kata Marco Romano yang sudah tujuh tahun menjadi wartawan Giornale di Sicilia. Ia mengakui, mafia sudah menjadi kultur orang Sisilia. “Tapi orang-orang muda Sisilia seperti saya memberontak, ingin kultur jelek itu dihilangkan. Kami merasa tertekan dengan citra yang telanjur sudah melekat bahwa mafia adalah Sisilia. Tak semua orang Sisilia adalah mafia. Kami yakin, jika semua orang muda Sisilia hidup dalam jalan yang benar, mafia akan tinggal legenda,” kata Marco Romano.

Kejamnya tindakan mafia memang membuat sebagian besar rakyat marah. Seorang wartawan Giornale di Sicilia, Mario Francese yang membongkar kebobrokan Mafia dalam kasus pembangunan bendungan di Sisilia yang dikuasai Cosa Nostra, tewas diberondong peluru di depan putranya pada tahun 1979. Kini putra sang jurnalis, Julio, mengikuti jejak ayahnya menjadi wartawan. Sama dengan Romano, Julio dan orang- orang muda Sisilia lainnya berusaha melepaskan “belenggu” citra buruk Sisilia.

Sicilia18
1994: Saya berfoto di depan kantor Harian “Giornale di Sicilia”, Palermo.

***

SEUSAI santap siang, Marco mengajak kami ke lokasi terbunuhnya hakim antimafia Paulo Borselinno di depan flat ibunya di Via (jalan) D’Amelio. Seperti yang dialami Falcone dua bulan sebelumnya, nasib Borselinno yang gigih melawan mafia ini pun tewas akibat ledakan bom waktu. Rupanya mafia sudah lama mengincar Borselinno, yang diketahui setiap hari Minggu acapkali mengunjungi ibunya di apartemennya.

Kini di bekas lokasi ledakan bom, dibuat sebuah monumen untuk memperingati peristiwa mengenaskan itu. Selain Paulo Borselinno, lima pengawalnya pun ikut terbunuh, yaitu Agustino, Claudio, Emmanuela, Vincenso dan Walter. Seikat kembang tampak di dekat nisan monumen itu. “Setiap waktu ada saja warga kota yang bersimpati pada Borselinno dan menaruh bunga di sana,” kata Romano.

Sicilia21
1994: Lokasi terbunuhnya hakim antimafia Paulo Borselinno di depan flat ibunya di Via D’Amelio, Palermo, Sisilia, Italia. FOTO: DOKUMENTASI KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Dari lokasi terbunuhnya Borselinno, Marco Romano mengantar kami ke rumah Giovanni Falcone di Jalan Notar Bartolo No. 23, Palermo. Tampak dua carabinieri (Brimobnya polisi Italia) bersenjata lengkap berjaga-jaga di depan rumah almarhum hakim antimafia itu. Polisi itu tersenyum ramah ketika Kompas datang ke sana, dan menyebutkan identitas sebagai wartawan.

Falcone dan istrinya tewas setelah mobilnya meledak di jalan tol dalam perjalanan dari bandara. Setelah kejadian itu, banyak anak sekolah di Palermo mengungkap perasaan sedih mereka dengan menulis surat, puisi atau apa pun namanya perihal Falcone. Hakim asal Sisilia itu begitu dicintai rakyat Palermo. Persis di depan rumah Falcone, tumbuh sebatang pohon, dan pada dahan dan ranting pohon itulah puluhan kertas berisi surat dan puisi ditempel.

Sicilia15
1994: Saya berfoto di depan rumah Giovanni Falcone di Jalan Notar Bartolo no 23, Palermo, Sisilia, Italia. Falcone dan istrinya tewas setelah mobilnya meledak di jalan tol dalam perjalanan dari bandara. Banyak anak sekolah di Palermo mengungkapkan perasaan sedih mereka dengan menulis surat, puisi dan lainnya dan ditempel di pohon di depan rumahnya. FOTO: DOKUMENTASI KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Kematian dua penegak hukum yang gigih mengurai jaringan mafia itu membangkitkan amarah penduduk Palermo, yang kemudian turun ke jalan, menuntut pemerintah memberantas mafia yang sudah bertindak sadis dan kejam. Ribuan carabinieri Italia dikerahkan, dan meringkus ratusan anggota mafia.

Salah satu pentolan Mafia Sicilia, Salvatore “Toto” Riina ditangkap carabinieri Italia pertengahan Januari 1993. Riina, bos dari semua bos mafia yang sudah buron selama 20 tahun ini, kepala keluarga Mafia Corleonese yang bermarkas di Corleone, dekat Palermo. “Bagi rakyat Palermo, tertangkapnya Riina ibarat menang dalam pertandingan sepak bola internasional,” tambah Marco Romano.

Tewasnya Falcone dan Borselinno merupakan kesalahan mafia sendiri. Sejak itu, ratusan anggota Cosa Nostra ditangkap dan masuk bui. Wali Kota Palermo yang baru terpilih tahun 1993, Luca Orlando disayangi rakyat karena berani melawan mafia. “Orlando mau menunjukkan bahwa Sisilia bukan semuanya mafia,” kata Romano.

Dalam perjalanan pulang ke kantornya, Romano menegaskan kembali banyak pemuda Palermo yang malu jika berjumpa dengan orang asing yang menanyakan soal mafia di tempat kelahirannya. Oleh karenanya ia senang bertemu dengan wartawan Indonesia, dan bisa menjelaskan suasana Sisilia dewasa ini yang sudah mulai berubah. Jumlah penduduk Pulau Sisilia sekitar 1,5 juta, dan 700.000 jiwa di antaranya tinggal di Palermo.

Sicilia28
1994: Suasana kota Palermo, Sisilia, Italia. Saya berfoto bersama Marco Romano. wartawan Harian “Giornale di Sicilia”. FOTO: DOKUMENTASI KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Berapa persenkah mafia yang tersisa di sana sejak pembunuhan Falcone dan Borselinno? Sulit untuk dijawab. Pertanyaan itu sama dengan pertanyaan “Siapakah mafia itu ?”. Sebab, “Kalau sudah tahu siapa saja mafia, tentu sudah lama ditangkap carabinieri,” kata Romano.

Surat kabar tempat Romano bekerja, sebenarnya saksi sejarah bagaimana Mafia Sicilia beraksi. Giornale di Sicilia merupakan salah satu koran tertua di Italia, terbit pertama kali tahun 1860, dan tiras saat ini sekitar 100.000 eksemplar. Koran yang sudah mendarah daging bagi orang Sisilia ini, tak pernah berpihak pada salah satu partai dan tak ada campur tangan pemerintah. Mungkin karena sikapnya yang independen, wartawan Giornale di Sicilia sering terancam jiwanya, dan beberapa terpaksa hijrah ke wilayah lain. Tapi Marco Romano sebagai seorang wartawan muda kelahiran Sisilia menyatakan, tidak takut terhadap ancaman mafia.

Sebagai orang muda, ia ingin menghapus kesan buruk tentang Sisilia. Ia akan berjuang terus melawan mafia, seperti halnya Falcone dan Borselinno, ataupun seniornya Mario Francese, meskipun nyawa taruhannya …

==================================

                                 Catatan dari Sisilia, Pulau “Mafia” (2-Habis)

                                          DARI LUCIANO HINGGA RIINA

TAK ada yang meragukan mafia berasal dari Sisilia. Juga tak ada yang ragu Sisilia telah menjadi organisasi kriminal selama berabad- abad. Namun yang menjadi pertanyaan, dari mana asal-usul kata “mafia” dan bagaimana perkembangan mafia hingga menjadi sindikat kejahatan terorganisir yang ditakuti ?

Joe Dorigo dalam bukunya berjudul “Mafia” menyebutkan ada dua cerita utama tentang asal mafia yang tak langsung berhubungan. Ada yang bilang, mafia adalah akronim dari kata-kata Morte alla Francia Italia anela (“Death to the French is Italy’s cry!”) yang mengacu pada masa lalu ketika Sicilia didominasi oleh Dinasti Angevin Perancis. Yang lainnya mengatakan, itu mengacu pada peristiwa perkosaan pada Hari Paskah tahun 1282. Beberapa serdadu Perancis memperkosa seorang gadis Sisilia pada hari pernikahannya. Sang ibu histeris berlari ke jalan dan berteriak “Ma fia! Ma fia!” (My daughter! My daughter!), dan itu membangkitkan amarah orang Sisilia. Esok harinya ratusan orang Perancis terbunuh.

Sicilia2
Laporan perjalanan dari Sisilia, Italia dimuat di halaman 1 Harian Kompas, Selasa 1 November 1994.

Sulitnya, bagaimana menghubungkan mafia pada Abad Pertengahan dengan Mafia pada abad ke-19. Jumlah geng di Sisilia antara 1.300 dan 1.800, namun mereka tidak kelihatan memiliki hubungan dengan apa yang diuraikan sebelumnya. Namun yang jelas, kata “mafia” pada abad ini memiliki konotasi pada kekerasan dan darah.

                                                                  ***

PADA mulanya mafia adalah ikatan rahasia masyarakat Sicilia yang dibentuk untuk menentang kekuasaan tuan tanah yang menguasai lahan di Sisilia pada abad ke-17. Pemberontak militan yang tak puas dengan kekuasaan dan kekayaan tuan tanah ini merebut tanah dari orang asing dan tuan tanah pribumi, mencuri ternak dan membagikannya kepada keluarga dan teman-teman. Mereka membentuk kelompok masyarakat yang lengkap dengan geng-nya, dan inilah yang dikenal sebagai “mafia”, artinya kira-kira “Tanah Kebebasan”.

Pimpinan ikatan keluarga ini disebut “Don”, yang menjadi bapak dari anak kawan-kawannya dan berjanji akan senantiasa melindungi mereka. Tapi sebaliknya anak-anak itu harus bersumpah tetap setia pada “Don” sampai mati. Mereka yang berkhianat, hukumannya pasti: mati.

Awal abad ini mafia menguasai daerah Sisilia Barat-Tengah, dari Palermo, Monreale, Trapani, Segesta, Marsala, Sciacca dan Corleone. Mereka memeras politisi dan mengembangkan politik sendiri. Tak jarang “Godfather-Mafia” menjabat Walikota di daerah-daerah itu. Siapa yang berani menentang, bakal kehilangan nyawa.

Ikatan masyarakat Sisilia ini pada mulanya memiliki “kode etik” untuk tidak menyakiti wanita dan anak-anak, serta menghormati gereja. Para mafioso tersebut dianggap sebagai “masyarakat terhormat”.

Masyarakat rahasia Sisilia berubah menjadi masyarakat kriminal seiring dengan berimigrasinya orang-orang Sisilia ke Italia Utara, Eropa dan Amerika. Dua tokoh Mafia Sicilia yang pernah berkibar di Amerika Serikat adalah “Lucky” Luciano dan “Don” Gito Genevese. Kedua nama itu merupakan contoh textbook dari kejahatan terorganisasi di AS.

Salvatore Lucania yang mengganti namanya menjadi Charles Luciano dan terkenal sebagai “Lucky” Luciano lahir di Sisilia pada tahun 1897 dan “hijrah” ke New York tahun 1906. Pada usia 10 tahun Luciano ditangkap karena pencurian barang di toko. Ia mulai melakukan keributan dan mencari uang secara tidak jujur di antara anak-anak sekolah. Salah seorang yang mengikutinya adalah Maier Suchowljansky -yang belakangan dikenal sebagai Meyer Lansky-, yang lebih muda lima tahun dari Luciano. Keduanya kemudian menjadi teman bisnis. Pada 1915-1916 Luciano yang belum 20 tahun, menjadi pemimpin “Geng Lima”.

Bos dari semua bos mafia (Capo di Tutti Capi) yang terkenal dan terlibat dalam perdagangan narkotika di Amerika adalah Vito Genovese. Sama dengan Luciano, Genovese lahir pada tahun 1897 dan menjadi sahabat karib Luciano pada tahun 1920-an. Namun pada tahun 1937, ketika Genovese sudah berusia 40 tahun-, ia terlibat kasus pembunuhan dan terbang ke Italia.

Kemudian dengan kombinasi yang luar biasa dari daya tarik dan kelihaian, Genovese mengendalikan dirinya untuk mengambil hati Mussolini, yang mengawasi persediaan narkotika untuk Count Ciano – sepupu Mussolini dan Menlu Italia. Genovese pun berkibar lagi, sampai akhirnya ditangkap Polisi AS dan mendekam di penjara.

Albert Anastasia yang lahir di Italia tahun 1903, menjadi tokoh terkemuka dalam keanggotaan the Murder Inc. di Amerika. Ia dan anggota the Murder Inc. -seperti Lucky Luciano, Meyer Lansky dan Frank Costello- membunuh orang sesuai “aturan” yang dibuat mafia sendiri. Mereka tidak membunuh orang sipil, polisi, politisi atau wartawan karena itu berakibat buruk bagi “bisnis” yang dijalankan. Mereka hanya membunuh mobster dengan alasan yang jelas. Setidaknya sekitar 400-500 orang dibunuh the Murder Inc. dalam kurun waktu 10- 12 tahun.

Ada pula nama capo mafia yang kelahiran Amerika tapi berdarah Italia seperti John Gotti (lahir di Bronx tahun 1940). Gotti pernah terlibat pembajakan pesawat di JFK Airport. Godfather lainnya seperti Carmine Lombardozzi, Carlo Gambino, Joe Bonanno (atau Joe Bananas), Tonny Accardo merupakan nama-nama besar yang menguasai organisasi kejahatan di kota-kota besar Amerika.

Selain itu nama lain yang berkibar di negeri sendiri adalah Salvatore Giulano, raja bandit Sisilia. Giulano yang lahir di Montelepre, 22 November 1922, memelopori perang dengan penguasa, tuan tanah, polisi dan tentara. Ia bersama ratusan anak buahnya merampok orang-orang kaya dan membagi-bagikannya kepada orang miskin. Giulano yang seakan-akan menjadi “Robin Hood” Sisilia, ditemukan tewas di tempat persembunyiannya di teras sebuah rumah di daerah Castelvetrano dengan selusin peluru di tubuhnya pada 4 Juli 1950. Siapa pembunuh Giulano, hingga kini masih misterius.

Yang masih hangat, Salvatore “Toto” Riina, boss dari semua boss Mafia yang setahun lalu ditangkap setelah 20 tahun jadi buronan. Kepala keluarga Mafia Corleonese yang bermarkas di Corleone, tak jauh dari Palermo ini diduga terlibat dalam pembunuhan ratusan orang.

                                                                     ***

SAMPAI saat ini mafia masih hidup membaur dengan masyarakat. Mereka merasuk hingga ke tingkat pemerintahan dan kalangan bisnis. Empat kekuatan Cosa Nostra: manusia, kekerasan, politik dan keuangan, membuat kelompok ini menguasai semua sendi kehidupan masyarakat Sisilia dan Italia. Dari yang kecil-kecil seperti menguasai pasar nelayan di pelabuhan Mondello di Palermo hingga yang besar seperti mengatur kedudukan pejabat negara Italia.

Bisnis mafia beraneka ragam, dari perdagangan gelap narkotika, penyelundupan barang-barang ilegal, perampokan, perjudian kasino hingga berbagai penipuan. Dalam setahun, pemghasilan Mafia mencapai ratusan milyar dollar AS. Pemutihan uang (money laundering) hasil kejahatan yang dilakukan organisasi kriminal ini diwujudkan dalam berbagai investasi pembangunan proyek yang legal. Mafia tak segan- segan menghabisi nyawa orang-orang yang mengutak-atik eksistensi kelompok itu.

Pembunuhan hakim antimafia Paolo Borselinno dan Giovanne Falcone dua tahun silam misalnya, hingga kini masih dikenang warga Palermo, Sisilia. Kedua hakim itu begitu dicintai rakyat karena sikap mereka yang berani melawan Mafia dan berusaha mengikis habis mafia sampai ke akar-akarnya.

Marco Romano, wartawan harian Giornale di Socilia menyebutkan, pembunuhan kedua penegak hukum itu merupakan kesalahan terbesar kelompok mafia. Setidaknya, untuk jangka waktu beberapa tahun mendatang, aksi-aksi kelompok Mafia akan berkurang di tempat asalnya di Sisilia dan Italia.

Sicilia16
1994: Suasana kota Palermo, Sisilia, Italia. Saya berfoto bersama Marco Romano, wartawan Harian “Giornale di Sicilia”.  FOTO: DOKUMENTASI KOMPAS/ROBERT ADHI KUSIUMAPUTRA

Tapi bagaimana dengan mafia di luar Italia? Siapa yang berani menganggu Mafia yang sudah menyusup di kalangan pemerintahan dan bisnis yang saat ini makin mapan ? Sampai saat ini Mafia menguasai kasino-kasino legal di Las Vegas di Nevada, AS dan di Havana, Kuba. Selain itu, mafia -yang bekerja sama dengan Kartel Medellin Kolombia, Triads Hongkong, Chinese Organized Crime dan berbagai organisasi kejahatan lainnya di Amerika, masih menguasai pasaran narkotika dan obat bius, serta barang-barang ilegal.

Setelah Lucky Luciano, Vito Genovese, Albert Anastasia, Salvatore Guilano, atau Salvatore “Toto” Riina, akan muncul lagi nama-nama dari generasi baru mafia. Sungguh tak ada yang tahu kapan mafia dapat dihapuskan dari muka bumi ini… (Robert Adhi Kusumaputra dari Sisilia, Italia).

Sicilia288
1994: Seorang staf KBRI di Roma yang menemani saya ke Palermo, Sisilia. Laporan perjalanan dari Sisilia, Italia, dimuat bersambung di halaman 1 Harian Kompas,  Senin 31 Oktober 1994 dan Selasa 1 November 1994.

 

Sicilia31
1994: Saya berfoto bersama staf KBRI di Roma, Italia

 

 

Iklan