Mabuk Laut Selama 28 Jam di Kapal Patroli Polisi


Menertawakan diri sendiri itu sesekali memang perlu. Saya selalu tertawa geli jika mengingat pengalaman memalukan pada tahun 1991 ketika saya mengalami mabuk laut selama 28 jam di atas kapal patroli polisi. Mabuk laut kok sampai 28 jam ? Asyik sih asyik, tapi pengalaman yang satu ini asyik dalam kondisi tersiksa.

Bulan Juli 1991, saya mendapat tugas dari kantor untuk ikut dalam kapal patroli polisi dari Jakarta menuju Batam. Kapal itu menjadi salah satu peserta Latihan Bersama Aman Malindo ke-10 antara Kepolisian RI dan Polis Di Raja Malaysia (PDRM).

Kapal patroli polisi itu hanya berkapasitas 17 orang. Saya merupakan salah satu penumpangnya. Selebihnya ya anggota Polisi Perairan. Tak ada wartawan lain yang ikut.

Perompakan1991

Laporan tentang Aman Malindo ke-10 dimuat di Harian Kompas, Sabtu  14 September 1991 halaman 8

Berbekal semangat tinggi dan ingin mencoba sesuatu yang baru, saya putuskan ikut kapal patroli polisi itu. Kalau sebelumnya saya sudah ikut mobil patroli kota, kali ini saya mencoba naik kapal patroli polisi.

Dua jam pertama, saya masih bisa bercanda dan tertawa dengan anggota Polri. Saya menikmati desiran angin laut yang bersih. Tetapi setelah itu, saya merasakan kepala mulai pusing. Perut terasa mual. Mau muntah tapi kok tak ada yang dikeluarkan. Aduh, saya mengalami mabuk laut.

“Ini belum seberapa,” kata seorang polisi. “Nanti kalau kita lewat daerah Bangka, gelombangnya bisa lebih tinggi,” lanjutnya.

Ucapan polisi itu bikin saya stres. Astaga. Gelombang yang tidak tinggi saja sudah bikin kepala saya pusing tujuh keliling, apalagi terkena gelombang tinggi.

Saya bertanya kepada polisi-polisi itu, apa obat mengatasi mabuk laut. “Obatnya tidak ada Mas. Obatnya cuma tidur,” kata mereka.

Alhasil, perjalanan dari Jakarta ke Batam selama 28 jam itu benar-benar menyiksa saya.  Bolak-balik saya membalikkan badan, tetap saja saya tak bisa tidur.

“Paksakan tidur saja Mas, coba memikirkan yang enak-enak,” kata salah satu anggota Polisi Perairan. Saya mencoba memejamkam mata, memikirkan yang enak-enak, tetapi tetap saja tak bisa tidur. Guncangan kapal terlalu keras akibat dihantam ombak. Bagaimana bisa memikirkan yang enak-enak dalam kondisi seperti itu?

Lanjutkan membaca Mabuk Laut Selama 28 Jam di Kapal Patroli Polisi

Iklan

Bermalam di Ladang Ganja Aceh


Bulan Mei 1990, saya mendapat tugas Kompas ke Aceh, memenuhi undangan Mabes Polri terkait Operasi Nila. Waktu itu Polri gencar menggelar operasi pemberantasan ganja di Aceh Tenggara, Aceh Besar, dan Aceh Timur.

Aceh merupakan daerah pertama di luar Jawa yang saya datangi dalam kaitan tugas jurnalistik di luar kota. Sebelumnya, dari tahun 1987 sampai April 1990, tugas jurnalistik saya hanya seputar Tasikmalaya, Garut, Ciamis, Bandung, dan Tangerang. Tugas di Jakarta baru dimulai bulan Juli 1990.

 

Operasi Ganja di Aceh
Bersama anggota Gegana Polri, saya menginap di ladang ganja di Aceh, Mei 1990.

Ini kali kedua saya ditugaskan meliput acara di Aceh. Beberapa bulan sebelumnya, awal tahun 1990, saya meliput acara Menteri Perumahan Rakyat Siswono Yudohusodo meresmikan perumahan karyawan PT Pupuk Iskandar Muda di Lhokseumawe.
.
Meski dinas luar kota ke Aceh hanya beberapa hari, bagi saya tugas ini mengasyikkan. Pagi-pagi sekali saya ke Bandar Udara Kemayoran. Ada tiga media nasional yang diundang. Dua lagi, kalau tak salah ingat, dari majalah Tempo (Robin) dan majalah Editor (Dadi). Dari Dispen Polri, ada Kapten Anton Tabah.

Lanjutkan membaca Bermalam di Ladang Ganja Aceh

Disemprot Dandim


Tahun 1989. Waktu itu baru satu tahun saya bertugas di Tangerang. Suatu hari pada pertengahan bulan Mei, saya menulis berita berjudul  “Tersangka Penjahat Dibakar oleh Massa” yang dimuat di halaman 1 Harian Kompas 15 Mei 1989. Dalam berita itu disebutkan, Kam (25) dihakimi dan dibakar massa setelah kepergok mencuri di rumah H Samid, penduduk Kampung Selon, Desa Kaliasin, Kecamatan Balaraja, Tangerang.

 

15051989.jpg
Berita berjudul “Tersangka Penjahat Dibakar oleh Massa” dimuat di halaman 1 Harian Kompas, Senin 15 Mei 1989

Sore harinya, saya menerima telepon dari Redaktur Desk Kota, Purnama Kusumaningrat, yang juga Wakil Redaktur Pelaksana. Mas Pur, panggilan akrabnya, meminta saya menemui Komandan Kodim (Dandim) 0506 Tangerang di rumahnya.

Saya pikir ada apa gerangan? Mengapa saya harus menemui Pak Dandim malam itu juga? Dari sisi jurnalistik, berita itu tidak ada kesalahan.  Mas Pur menjelaskan, Pak Dandim Tangerang  keberatan dengan berita halaman 1 hari itu. Saya diminta menemui Dandim.

Lanjutkan membaca Disemprot Dandim

Ketika Melintasi Hutan Karet Serpong


Setiap kali melintasi kawasan BSD yang gemerlap, saya selalu ingat kawasan ini pernah merupakan hamparan hutan karet.  Setiap kali memandang gedung-gedung tinggi yang makin banyak bermunculan di BSD dan rumah-rumah baru yang dijual miliaran rupiah, saya teringat saya pernah meliput peresmian Kota Mandiri  Bumi Serpong Damai di daerah Serpong, Kabupaten Tangerang, pada 16 Januari 1989.

Pada hari Senin yang cerah itu, Menteri Dalam Negeri (waktu itu) Rudini datang bersama Menteri Perumahan Rakyat Siswono Yudohusodo, Menteri Pekerjaan Umum Radinal Mochtar, Menteri Tenaga Kerja Cosmas Batubara, Menteri Perhubungan Azwar Anas, Gubernur Jawa Barat Yogie S Memet dan Pangdam Jaya Mayjen TNI Surjadi Soedirdja.

BSD.jpg

Menteri Dalam Negeri Rudini ketika meresmikan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai 16 Januari 1989. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

 

Lanjutkan membaca Ketika Melintasi Hutan Karet Serpong

Terjeblos Masuk ke Tanah Longsor di Tasikmalaya


Suatu hari pada tahun 2012, saya rindu masakan sunda. Kebetulan di dekat tempat tinggal saya, di BSD, ada rumah makan “Bumbu Desa”. Sambil menikmati sayur asem dan ikan asin jambal, sayup-sayup saya mendengar suara penyanyi pop sunda Nining Meida yang membawakan lagu-lagu “Kalangkang”, “Kang Haji”, “Potret Manehna”, “Anjeun”, “Borondong Garing”. “Ka Bulan”, “Tisaprak”, “Ngalamun” dan lainnya. (Sayangnya “Bumbu Desa” BSD sudah tutup untuk kali kedua)

Pikiran saya langsung melayang ke tahun 1987. Saya ingat lagu-lagu inilah yang selalu diputar di angkutan kota di Tasikmalaya pada saat itu.  Ketika itu saya mendapat tugas sebagai calon koresponden Kompas di wilayah Priangan Timur (Tasikmalaya, Ciamis, dan Garut). Ketiga daerah itu wilayah penugasan saya yang pertama di luar Bandung.

Saya mangkal di Tasikmalaya dan nge-kos di rumah warga. Kemana-mana, saya naik angkot. Setiap kali saya naik angkot di Tasikmalaya, sopirnya selalu memutar lagu yang sama, “Kalangkang”, “Kang Haji”, “Potret Manehna” yang dinyanyikan Nining Meida. Karena naik angkot setiap hari, saya pun akhirnya hapal melantunkan lagu-lagu pop sunda bernuansa cinta itu.

TANAH LONGSOR DI TASIKMALAYA4-05

Longsor di Desa Cikuya, Kecamatan Bantarkalong, Kemantren Culamega, Tasikmalaya, Jawa Barat, sekitar 82 km dari Kota Tasikmalaya, awal Desember 1987. Foto yang saya ambil di lokasi longsor ini dimuat di Harian Kompas, 6 Desember 1987. KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

 

Lanjutkan membaca Terjeblos Masuk ke Tanah Longsor di Tasikmalaya

VIDEO: Liburan ke Venesia


Saat berlibur ke Venesia, Italia, bulan Mei 2013 silam, saya sempat merekam video dan mengunggahnya ke kanal Youtube. Video satu lagi berisi kompilasi foto perjalanan di Venesia, Italia.

Video pertama berlatar belakang lagu instrumental “O Sole Mio”, sedangkan video kedua berlatar belakang lagu instrumental “Vieni sul mar”.

 

 

Ponsel Cerdas yang Terjangkau


 

ROBERT ADHI KSP

Siapa bilang produk Tiongkok mudah rusak? Siapa bilang ponsel cerdas harus mahal? Smartfren, operator telko Indonesia yang memiliki kepentingan strategis membawa teknologi terbaru ke Indonesia, mematok harga perangkat Andromax  di bawah Rp 2 juta dengan target segmen menengah dan menengah bawah.  

Sejak menjalin kerja sama dengan Smartfren tahun 2012 lalu, Hisense, perusahaan elektronik asal Tiongkok itu memasok perangkat berteknologi terbaru untuk Smartfren di bawah merek Andromax sesuai perkembangan zaman.

Jumlah pengguna Smartfren saat ini 13,5 juta. Masih relatif kecil bila dibandingkan dengan pengguna Telkomsel yang mencapai 100 juta.

Survei yang dilakukan Smartfren  menunjukkan, umumnya usia pengguna Smartfren, termasuk perangkat  Andromax,  antara  15 tahun dan 30 tahun, sebagian besar tinggal di Jakarta dan Bodetabek, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Mereka  melek internet dan menggunakan media sosial. Bila di kota-kota kecil, orang lebih banyak menggunakan telepon seluler hanya untuk menelepon, lain halnya dengan pengguna di kawasan perkotaan.

Mahasiswa dan karyawan baru haus teknologi, beraktivitas dengan internet, sehingga butuh perangkat yang memiliki memori besar, kamera bagus, dan harganya terjangkau, serta dilengkapi after services di 109 di seluruh Indonesia. Bila ada masalah di perangkat, mereka dapat langsung ke galeri dan menghubungi call center 24 jam. 

Lanjutkan membaca Ponsel Cerdas yang Terjangkau

Raksasa Elektronik Tiongkok Hisense Penetrasi Pasar Indonesia


IMG_0229.jpg
Hisense Tower di kota Qingdao, Tiongkok. Foto diambil 10 Mei 2016. KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

ROBERT ADHI KSP

Hisense, salah satu perusahaan raksasa elektronik dari Tiongkok yang menguasai pasar global lewat produk-produk televisi pintar (smart TV), peralatan rumah tangga, dan ponsel cerdas (smartphone), mencari pasar baru di Indonesia. Khusus ponsel cerdas, sejak 2012, produk Hisense sebenarnya sudah masuk ke Indonesia di bawah brand Andromax milik Smartfren. Namun, mulai Juni 2016, Hisense akan membawa produk terbaru ponsel cerdas dengan brand sendiri.

Hisense tak ingin nasibnya seperti perusahaan-perusahaan elektronik Tiongkok lainnya, yang bersemangat di awal tetapi kemudian loyo di belakang. ”Kami sadar perlu proses waktu, tak bisa jalan pintas untuk bisa dikenal secara luas oleh pengguna ponsel Indonesia,” ungkap Stephen.

Kata ”Hisense” dalam bahasa mandarin bermakna visi yang luas seperti lautan dan menunjukkan kredibilitas bahwa Hisense selalu bernilai. Pada nama Inggris, Hisense adalah kombinasi kata-kata ”high” (tinggi) dan ”sense” (rasa) yang bermakna Hisense gigih mengejar teknologi tinggi, kualitas tinggi, dan selera tinggi. Budaya Hisense adalah ”teknologi, kualitas, integritas, dan tanggung jawab” yang menjadi empat elemen kunci perusahaan itu.

Lanjutkan membaca Raksasa Elektronik Tiongkok Hisense Penetrasi Pasar Indonesia