PK Ojong Wariskan Nilai-nilai Kejujuran, Kedisiplinan, dan Semangat Pantang Menyerah


ROBERT ADHI KSP

Petrus Kanisius Ojong mewariskan nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, dan semangat pantang menyerah. Nilai-nilai itu masih tertanam dalam perusahaan Kompas Gramedia yang didirikannya bersama Jakob Oetama.

Warisan PK Ojong

Demikian intisari pendapat yang disampaikan Rikard Bagun, H Dedy Pristiwanto, Cherly Priktiyani, DJ Pamoedji, dan Ignatius Sunito tentang sosok PK Ojong dalam wawancara khusus dengan Kompas di sela-sela ziarah ke makam PK Ojong di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Rabu (3/6).

Dalam wawancara, Rikard Bagun, Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas, mengatakan, secara pribadi, dia tidak kenal PK Ojong. Namun, dia melihat keteladan Ojong menjadi bagian dari kekuatan Kompas Gramedia. Menurut Rikard, nilai-nilai yang ditanamkan Ojong dalam perusahaan ini adalah kejujuran, kedisiplinan, totalitas, kerja keras, serta kepedulian dan perhatian kepada orang lain yang sampai sekarang masih terasa.

Cherly P, Direktur Keuangan Kompas Gramedia, memiliki kenangan khusus dengan PK Ojong. Suatu hari, kata Cherly, dia diajak ke lapangan untuk menagih piutang dan bertemu agen. “Pak Ojong mengajarkan kami bagaimana bersikap kepada agen, beramah tamah, jujur, dan terus terang,” kata Cherly.

“Pak Ojong menjadi inspirasi bagi kita semua. Setiap tindakan kita harus dilakukan secara cermat dan hati-hati sehingga kita bisa melakukan pekerjaan sebaik mungkin. Satu hal lagi, saya diminta untuk terus belajar dan belajar,” ungkapnya.

H Dedy Pristiwanto juga mengungkapkan kesan-kesannya tentang PK Ojong. Dedy tidak berhubungan langsung dengan Ojong karena dia berkantor di Palmerah, sedangkan Ojong di kawasan Gajah Mada. Meski demikian, katanya, sosok Ojong sangat berkesan bagi dirinya.

Yang masih diingat, Ojong di kantor selalu mengenakan kemeja warna putih. Wajahnya terlihat kaku, tetapi hatinya sangat baik.

Ketika Ojong meninggal pada 31 Mei 1980, Dedy mendapat tugas dari salah satu unsur pimpinan untuk mendatangi rumah Ojong di Permata Hijau, Jakarta Selatan. “Pak Ojong meninggal dunia di tempat tidur, masih mengenakan kimono (baju tidur),” ujarnya.

content

Bagi Dedy, warisan berharga PK Ojong adalah kejujuran, kedisiplinan, dan semangat untuk tidak menyerah. “Sejak saya bergabung dengan Kompastahun 1978 dan sampai hari ini setelah pensiun pun, kejujuran, kedisiplinan, dan semangat untuk tidak menyerah menjadi pegangan hidup saya sehari-hari,” ucapnya.

Ignatius Sunito (70), mantan Pemimpin Umum Tabloid Bola, mengatakan, PK Ojong seorang yang sempurna. Dia berpikir melebihi zamannya. Ketika Sunito masuk Kompas tahun 1970, Ojong sudah tidak lagi aktif di redaksi dan lebih banyak mengurusi bidang bisnis.

Menurut Sunito, Ojong yang baru saja mendirikan harian Kompas dan belum tahu seperti apa Kompas di masa depan sudah mempersiapkan nasib wartawan dan karyawan Kompas dengan mempersiapkan Dana PensiunKompas. “Bagi saya, itu luar biasa,” kata Sunito yang memulai karier sebagai wartawan olahraga Kompas.

Dia menuturkan, sejak dulu Kompas sudah menjadi acuan. Beritanya tepercaya, tidak memihak, independen, dan tetap kritis meski tidak vulgar. “Itu tecermin dari tulisan-tulisan editorial yang ditulis Pak Jakob Oetama yang humanis transendental,” ungkapnya. Warisan PK Ojong dan Jakob Oetama, lanjut Sunito, bisa dilihat sekarang. “Karena fondasi bagus dan ditangani orang-orang yang bagus pula, wajah Kompas bisa kita lihat sekarang,” katanya.

DJ Pamoedji, pensiunan wartawan Kompas, mengungkapkan kesannya terhadap PK Ojong. “Beliau lebih mengutamakan kejujuran, bukan pendidikan. Beliau tidak pernah membeda-bedakan,” ujarnya.

Karyawan aset perusahaan

Sementara itu, CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo mengatakan, PK Ojong tidak melihat perusahaan hanya dari sisi bisnis, tetapi juga menganggap karyawan sebagai aset berharga bagi perusahaan.

Kebanggaan karyawan terhadap perusahaan itu datang dari mana? “Saya yakin betul itu muncul dari pendiri Kompas, Pak Ojong dan Pak Jakob Oetama. Warna apa yang diinginkan para pendiri, itulah yang kita rasakan dan itulah yang membedakan kita dengan perusahaan lain,” kata Agung.

“Setiap kali kita berziarah ke makam Ojong dan merayakan ulang tahun, yang paling penting adalah merasakan bagaimana pendiri perusahaan ini menghargai karyawan,” ucapnya.

Agung yang sudah 33 tahun bekerja di Kompas Gramedia itu menambahkan, “Saya mendapat pelajaran dari Pak Binawarman yang setiap pagi menceritakan filosofi Pak Ojong. Bahwa orang bekerja di Kompas Gramedia bukan karena pintar, melainkan karena sikapnya.”

PK Ojong yang bernama asli Auw Jong Peng Koen lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 25 Juli 1920 dan wafat di Jakarta pada 31 Mei 1980.

Sebelum menjadi wartawan tahun 1946, Ojong sempat menjadi guru di sekolah yang kini bernama Budi Mulia. Sambil kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (1946-1951), Ojong bekerja menjadi anggota redaksi harian Keng Po dan mingguan Star Weekly, kemudian menjabat pemimpin redaksi. Tahun 1961, dua media itu ditutup pemerintah.

Pada Agustus 1963, PK Ojong, Jakob Oetama, dan J Adisubrata menerbitkan majalah Intisari. Dua tahun kemudian, 28 Juni 1965, PK Ojong dan Jakob Oetama menerbitkan harian Kompas. Di bawah kepemimpinan PK Ojong dan Jakob Oetama, Kompas tumbuh berkembang menjadi surat kabar nasional yang berpengaruh.

Selain mewariskan Kompas Gramedia, PK Ojong juga memberikan warisan visi, nilai-nilai, semangat, dan kultur perusahaan. “Kejujuran, kerja keras, janganngomong saja, tapi lakukan. Manajemen harus bersedia turun ke lapangan. Karyawan merupakan aset utama. Perhatikan, pedulikan, dan libatkan karyawan. Gaji cukup bukan hanya cukup untuk karyawan, melainkan juga untuk keluarganya”, demikian antara lain nilai-nilai yang ditanamkan PK Ojong di perusahaan Kompas Gramedia seperti ditulis Jakob Oetama dalam pengantar buku PK Ojong: Hidup Sederhana Berpikir Mulia.

SUMBER: KOMPAS SIANG DIGITAL, KOMPAS PRINT.COM, RABU 3 JUNI 2015

Iklan