Hari Berdarah di Kelab Malam di Orlando


ROBERT ADHI KSP

Kelab malam Pulse yang berlokasi di 1912 South Orange Avenue, dekat Kaley Street, Orlando, Florida, Amerika Serikat, Minggu (12/6/2016) dini hari, ingar-bingar dengan musik berirama Latin. Kelab malam yang menyebut diri sebagai “Hotspot Latin Orlando” itu sedang menggelar pesta kelas atas “Sabtu Latin” yang menampilkan tiga DJ dan pertunjukan midnight.

“Setiap ruangan di kelab malam ini penuh sesak,” kata DeAngelo Scott (30), yang meninggalkan kelab Pulse pukul 01.58.

Seorang lelaki duduk di kelab malam itu sejak pukul 01.00 dinihari, menikmati minuman sendirian. Wajahnya sudah dikenal oleh beberapa pengunjung yang sering ke sana.

Beberapa menit setelah jarum jam menunjukkan angka 2, lelaki itu bangkit dari tempat duduknya, mengeluarkan senjata AR-15, sepucuk pistol, berikut amunisi yang dibawanya, dan mulai melepaskan tembakan secara membabi buta ke arah pengunjung di ruang utama. Dalam sekejap, Pulse yang dikenal sebagai ”kelab malam paling hot bagi para gay di Orlando” itu berubah menjadi lautan darah.

Peluru-peluru beterbangan mengenai 103 orang yang berada di dekat si penembak. Sebanyak 49 orang tewas bersimbah darah, sedangkan 53 korban lain mengalami luka-luka dan kini dirawat di rumah sakit. Ketika peristiwa terjadi, kelab malam itu dipenuhi 320 orang.

Sementara di ruang Patio yang lokasinya di sebelah ruang utama, DJ Ray Rivera (42) sedang memainkan musik reggae ketika suara tembakan terdengar. “Saya pikir suara petasan,” kata Rivera. “Tapi suara itu tak juga reda. Saya melihat banyak orang bergelimpangan di lantai,” ungkapnya.

Seorang pengunjung melihat satu orang membawa senjata dan melepaskan tembakan ke semua arah di dalam kelab malam itu. Saat terdengar rentetan tembakan, para pengunjung bergegas keluar melalui pintu belakang kelab malam, kata seorang saksi mata kepada News 6. Sebagian lagi bersembunyi di kamar mandi kelab malam itu.

Seorang pengunjung kelab malam mendengarkan sekitar 40 tembakan. Pengunjung  lain menyebutkan mendengar sekitar 100 kali tembakan. ”Saya melihat darah di mana-mana,” katanya.

Kepala Kepolisian Orlando John Mina mengatakan, seorang anggota polisi berseragam yang bertugas di kelab malam itu mendengarkan suara tembakan. Dia terlibat baku tembak dengan si penembak yang masuk ke dalam kelab malam dan kemudian menyandera sedikitnya 100 pengunjung.

Seorang saksi mata mengungkapkan, lelaki itu meminta para sandera untuk tidak menelepon ataupun mengirim pesan singkat melalui ponsel. Ketika beberapa sandera tidak mengindahkan perintahnya, lelaki itu meminta semua ponsel dikumpulkan.
“Apakah kalian berkulit hitam?” tanya lelaki itu. Lalu sepasang sandera berkulit hitam menjawab, “Ya”. “Saya tidak punya persoalan dengan kalian orang berkulit hitam,” kata lelaki itu.

Setelah itu, lelaki bersenjata berbicara dengan orang tak dikenal di ponsel -kemungkinan penegak hukum atau stasiun berita, dan mengatakan kepada mereka, “Amerika harus berhenti mengebom NIIS.”

Lelaki itu juga menelepon 911 dan menyatakan kesetiaannya pada NIIS. Tak lama kemudian, dia menelepon seseorang yang dia kenal. Lelaki itu kemudian masuk ke kamar mandi dan melepaskan tembakan. Saksi mata yang mengisahkan ini mengungkapkan, dia dan seorang temannya yang terbaring di antara puluhan jenazah lainnya. Selama tiga jam, keduanya pura-pura sudah meninggal dunia, sampai akhirnya diselamatkan tim penyelamat.

Lelaki itu masuk ke kamar mandi untuk “mencuci tangannya” dan menggunakan pengering, dan menyangka saksi mata yang berkisah ini, sudah tewas.

Satu pesan yang dipublikasikan di laman Facebook Pulse sekitar pukul 03.00 menyebutkan, “Setiap orang diminta keluar dari Pulse dan berlarilah.”

Tiga jam setelah itu, atau sekitar pukul 05.00 menjelang pagi, Mina mengungkapkan, otoritas Orlando mengambil keputusan untuk menyelamatkan para sandera. Satu tim SWAT dikerahkan ke lokasi. Sembilan petugas menggunakan “dua peledak yang dikendalikan” untuk mengalihkan perhatian pelaku. Dalam baku tembak dengan sembilan polisi itulah, pelaku penembakan tersebut tewas. Salah satu polisi terluka. “Tapi, helm polisi menyelamatkan nyawa anggota kami,” kata Mina. Tim SWAT menyelamatkan 30 sandera yang bersembunyi di kamar mandi kelab malam itu.

Kepolisian Orlando mengumumkan lewat Twitter agar masyarakat tidak mendekati kawasan penembakan. Beberapa jalan di sekitar lokasi ditutup untuk kepentingan penyelidikan.

Wali Kota Orlando Buddy Dyer dalam jumpa pers Minggu pagi waktu setempat menyatakan, banyak orang selamat karena aksi heroik Orlando Police Department, Orange County Sheriffs, dan Seminole County Sheriff.

Pukul 06.00, Kepolisian Orlando @OrlandoPolice mengumumkan lewat Twitter, “Penembakan Pulse: Penembak di dalam kelab malam tewas.” Media sosial di Amerika Serikat sepanjang Minggu dipenuhi dengan laporan dan komentar tentang penembakan massal di Orlando itu.

Gedung Pusat Medis Regional Orlando dikunci sekitar pukul 02.00 setelah menerima beberapa korban penembakan. “Hanya beberapa pekerja penting yang diizinkan masuk ke gedung,” kata petugas. Adapun Rumah Sakit Arnold Palmer dan Rumah Sakit Winnie Palmer juga dikunci dan baru dibuka Minggu pukul 08.30. Rumah sakit mengumumkan membutuhkan lebih banyak darah golongan O untuk para korban yang terluka.

Penembakan massal di Orlando merupakan penembakan paling berdarah dan paling mematikan di Amerika Serikat sepanjang sejarah negeri itu. Presiden Amerika Serikat Barack Obama berkomentar, penembakan di kelab malam Pulse merupakan “aksi terorisme” dan “aksi kebencian”.   Obama melukiskan pelaku penembakan itu  sebagai, “seorang yang dipenuhi kebencian”.

Presiden Obama bersama Direktur FBI James Comey dan Pembantu Presiden Bidang Keamanan Dalam Negeri dan Antiterorisme Lisa Monaco menggelar rapat khusus membahas penembakan di Orlando.

Marah terhadap “gay” dan terkait NIIS?

Pelaku penembakan itu diketahui bernama Omar S Mateen (29), warga negara Amerika Serikat keturunan Afganistan, tinggal di Fort Pierce, Port St Lucie, yang berjarak 193,1 kilometer dari Orlando, Florida.

Ayah Omar Mateen, Mir Seddique, mengungkapkan, beberapa bulan lalu, putranya marah melihat dua lelaki berciuman di Miami. ”Ini tak ada hubungannya dengan agama,” kata Seddique.

”Kami berada di pusat kota Miami, Bayside, ketika orang bermain musik. Omar melihat dua lelaki berciuman di depan istri dan anaknya yang berusia tiga tahun. Ketika itu Omar marah. Kedua lelaki itu berciuman dan berpegangan tangan. ’Lihat, di depan anakku, mereka melakukan itu’,” kata Seddique menirukan Omar Mateen seperti dikutip Daily Mail.

”Kami menyampaikan permohonan maaf atas penembakan ini. Saya ikut berduka cita dan sangat terpukul. Kami tidak menyadari aksi penembakan yang dilakukan Omar,” lanjutnya kepada NBC News. Sang ayah mengaku tidak tahu putranya menyimpan dendam dalam hatinya terhadap kaum “gay“.

Omar Mateen lahir di New York tahun 1986 dan menikah pada 2009 dengan Sitora Alisherzoda Yusufiy yang lahir di Uzbekistan. Sitora hidup bersama dengan Mateen selama empat bulan pada 2009. Namun setelah itu, ungkap Sitora Yusufiy, dia dan keluarganya “menyelamatkan diri” dari Omar Mateen karena lelaki itu disebutnya sering melakukan kekasaran secara fisik terhadap dirinya. Mateen sering memukul Sitora untuk hal-hal kecil, seperti bila tidak mencuci pakaian.

“Ketika Mateen marah, dia melampaiaskan kebenciannya pada semuanya. Mentalnya tidak stabil. Dia mengalami gangguan mental. Hanya itu yang dapat saya jelaskan,” papar Sitora Alisherzoda Yusufiy seperti dikutip BBC.

Setelah bercerai, Mateen tinggal di sebuah kondo di Fort Piece, Florida, bersama istri keduanya, Noor Salman dan memiliki seorang putra berusia 3,5 tahun.

Pada 2006, Mateen bekerja di penjara Martin Correctional Institution di Indiantown selama enam bulan. Pada tahun yang sama, dia meraih gelar sarjana dalam peradilan pidana dari Indian River Community College, menurut juru bicara Robert Lane. Gelar itu memungkinkan dia menjadi petugas penegak hukum di Florida.

Pada 2007, dia direkrut oleh G4S, salah satu perusahaan keamanan swasta terbesar di dunia, yang berkantor di Jupiter. Tugasnya adalah bekerja sebagai penjaga keamanan di komunitas pensiunan di South Florida, menurut perusahaan G4S.

Sebelum itu, G4S memberinya tugas di Pengadilan St Lucie di Fort Pierce sampai tahun 2013, menurut administrator pengadilan, Thomas Genung. Tetangganya mengatakan, Mateen sering berada di depan gedung pengadilan, memeriksa pengunjung dengan metal detector.

Dia memiliki lisensi menggunakan senjata api dan mendapat pelatihan dalam penggunaan senjata api. Pimpinan perusahaan jasa keamanan tempat Omar Mateen bekerja sudah diperiksa dua kali.

Pihak berwenang meyakini Mateen melakukan pengamatan di kelab Pulse dan Walt Disney World awal Juni ini antara 1 Juni dan 6 Juni. Tanggal-tanggal itu terkait dengan perayaan Hari Gay 2016 di Disney World dan beberapa lokasi lainnya antara 31 Mei dan 6 Juni.

Pada periode yang sama, Omar Mateen membeli senjata yang digunakan untuk membantai pengunjung kelab malam Pulse. Mateen membeli senjata-senjata yang dia gunakan, yaitu pistol semi-otomatis 9 mm dan peluru senapan serbu kaliber .223 di   St. Lucie Shooting Center, beberapa hari sebelum penembakan massal. Pemilik toko senjata api  Edward Henson, hari Senin, mengatakan   dia samar-samar mengingat Mateen.  “Dia bukan siapa-siapa. Dia seorang pembeli. Dia datang ke toko ini, membeli senjata api, dan pergi,” kata Henson seperti dikutip Orlando Sentinel. 

Sehari sebelum serangan mematikan, Mateen menghabiskan waktu beberapa jam di Disney Springs, kawasan belanja dan hiburan di dalam Walt Disney World Resort. Pihak keamanan Amerika meyakini Mateen seorang diri pada saat itu.

Juru bicara FBI Ron Hopper menyebutkan, penembakan yang membabi buta itu diselidiki sebagai aksi terorisme. FBI melihat kemungkinan aksi itu teror domestik atau teror internasional, dan apakah sang penembak hanya beraksi sendirian. ”Kami melihat dari semua sisi,” kata Ron Hoppler yang menambahkan adanya dugaan si penembak yang condong Islam radikal. Hopper mengatakan tidak yakin ada ancaman lain di wilayah Orlando yang berkaitan dengan penembakan massal itu.

Satu akun Twitter mengklaim penembak itu berafiliasi dengan NIIS, tetapi pernyataan itu tidak dapat diverifikasi dan dikonfirmasi.

Seorang pejabat AS menyebutkan, Omar Mateen sempat menelepon 911 saat terjadi penembakan untuk menyatakan janji kesetiaan kepada NIIS dan menyebut pelaku pengeboman Boston. FBI melihat kemungkinan Omar Mateen seorang simpatisan NIIS. Petugas penegak hukum AS menyebut ada dua kasus hukum di masa lalu (2007 dan 2013) yang melibatkan Omar Mateen, tetapi tidak ditemukan bukti apa pun yang bisa menyeret Omar Mateen.

FBI menyita berbagai dokumen dari rumah Mateen, demikian juga dari rumah orangtuanya, serta rumah saudaranya, menurut CNN. Barang sitaan itu termasuk komputer Dell, ponsel cerdas, kamera digital dan yang terkait.

Ponsel Omar Mateen ditemukan di Pulse. Namun Direktur FBI James Comey hari Selasa (14/6) tidak menjelaskan apakah pihaknya sudah mengakses ponsel Mateen.
Mateen bisa jadi marah melihat dua lelaki berciuman. Tetapi dia merupakan wajah yang akrab dan bersahabat di kelab gay itu. Para penyelidik berupaya memahami mengapa Mateen menembaki puluhan pengunjung di kelab Pulse.

Chris Callen, yang bekerja di Pulse kepada Anderson Cooper dari CNN mengatakan, dia sering melihat Omar Mateen belasan kali di kelab itu. Dia memperkirakan, Mateen mengunjungi Pulse dua kali dalam satu bulan selama kurun waktu tiga tahun.
“Dia terlihat sangat bersahabat ketika kami menyapanya, ‘hai’. Dia tidak tampak seperti orang kejam,” ungkap Callen.

Kevin West kepada  Los Angeles Times menyebutkan, Mateen mengirim pesan kepada dia selama satu tahun terakhir, menggunakan aplikasi obrolan (chat) kelompok gay. Keduanya  tidak pernah bertemu, kata West, tetapi dia melihat Mateen masuk ke dalam kelab Pulse sekitar pukul 01.00, satu jam sebelum penembakan massal terjadi.

Tidak terkait penembakan penyanyi

Penembakan massal itu terjadi kurang dari 6,5 kilometer dari lokasi penembakan penyanyi ”The Voice” dan bintang Youtube, Christine Grimmie (22), di The Plaza Live, Orlando, Jumat (10/6/2016) pukul 22.45 waktu setempat. Saat itu Christine sedang menggelar “meet and greet” dengan para penggemarnya. membubuhkan tanda tangan dan menjual “merchandise“.

Tiba-tiba seorang lelaki berkulit putih menghampirinya dan langsung menembak perempuan muda itu. Saudara laki-laki Christine, Marcus, melakukan aksi heroik, menghadang pelakunya yang membawa dua pistol dan pisau pemburu, sehingga jumlah korban tidak banyak.

Motif penembakan penyanyi itu masih misterius. Pelakunya Kevin James Loibi (26) berasal dari St Petersburg di Florida. Setelah menembak Christine Grimmie, Keven menembak dirinya sendiri.

Kepala Kepolisian Orlando John Mina mengatakan, penembakan di Pulse tidak berkaitan dengan penembakan di The Plaza Live.

Penembakan massal di Pulse bukan kali pertama yang terjadi di Orlando. Februari lalu, penembakan yang menewaskan dua orang dan melukai sembilan lainnya terjadi di kelab malam Glitz Ultra Lounge di kawasan wisata Orlando. Semua korban adalah pengunjung kelab malam. Pelaku, Jose Jaime Brull-Lopez, ditangkap sehari setelah penembakan terjadi.

Penembakan massal di AS

Penembakan massal di Amerika Serikat paling banyak terjadi dibandingkan dengan negara lain di dunia. Antara 1996 dan 2012 terjadi 90 penembakan massal di negeri ini. Penembakan massal di Orlando paling buruk, paling berdarah, dan paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat.

Sebelumnya, jumlah penembakan massal dengan korban terbanyak terjadi pada 2007, ketika mahasiswa Universitas Virginia Tech, Seung-Hui Cho menembak mati 32 orang mahasiswa, sebelum akhirnya menembak dirinya sendiri.

Pada 2012 terjadi penembakan massal di gedung bioskop Aurora, Colorado, yang menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 70 orang. Pelaku, menurut CNN, James Holmes, dipenjara seumur hidup.

Pada Desember 2012 terjadi penembakan massal di Sandy Hook Elementary School di Connecticut yang menewaskan 20 siswa dan 6 orang dewasa. Pelaku penembakan di Sandy Hook, Adam Lanza, juga menggunakan senapan serbu semi-otomatis AR-15. Senjata ini jugalah yang digunakan Omar Mateen untuk menembak korbannya di klab malam Pulse di Orlando. Dalam satu menit, senjata ini melepaskan 45 kali tembakan.

Pada 1992, George Hennard mengemudikan mobilnya ke dinding kafe di Killeen, Texas, sebelum menembak mati 23 orang dan membunuh dirinya sendiri.

Pada 2015, penembakan dilakukan Syed Rizwan Farook dan Tashfeen Malik dalam gathering staf di San Bernardino dan menewaskan 14 orang.

Amerika Serikat merupakan negara yang peredaran senjata apinya paling banyak di dunia, antara 270 juta dan 310 juta senjata. Dengan jumlah penduduk 319 juta jiwa, ini berarti satu orang AS memiliki satu senjata api.

Aksi penembakan yang terjadi berulang kali ini merupakan dampak langsung begitu mudahnya warga Amerika memiliki senjata api.

robert.adhiksp@kompas.com

SUMBER: DUDUK PERKARA, KOMPASPRINT.COM, SENIN 13 JUNI 2016

CATATAN: Tulisan ini direvisi pada Senin 13 Juni 2016 pukul 19.00 dan Rabu 15 Juni pukul 00.05.

 

Iklan