Hidup Sederhana Orang-orang Superkaya Dunia


ROBERT ADHI KSP

Ketika menulis buku Panggil Aku King tahun 2009, saya mendapat kesempatan mewawancarai Robert Budi Hartono, pendiri klub Djarum, klub bulu tangkis yang ikut membesarkan pebulu tangkis Indonesia, Liem Swie King, pada zamannya.

Saya bersama King mendatangi Pak Budi Hartono di kantornya di Jakarta Pusat. Dari luar, kantor itu tidak tampak mencerminkan kantor orang terkaya di negeri ini.

Pak Budi Hartono bercerita bagaimana dia mengajak King berlatih di gudang tembakau yang pada malam hari ”disulap” menjadi lapangan bulu tangkis. Pak Budi sendiri yang mengangkut genset untuk menerangi tempat berlatih.

Seusai wawancara, Pak Robert Budi Hartono mengajak saya dan Liem Swie King makan siang di kantin perusahaan. Pak Budi dengan santai antre bersama karyawannya untuk mengambil menu buffet sembari mengajak kami juga untuk ikut antre.

Peristiwa itu sudah lama, tahun 2009, tetapi sampai sekarang saya masih terkesan pada sosok Pak Budi Hartono yang bersahaja dan sederhana. Padahal, Pak Robert Budi Hartono selalu dinobatkan sebagai orang terkaya di Indonesia bersama saudaranya, Michael Budi Hartono.

Apa yang dilakukan Robert Budi Hartono itu tidak jauh berbeda dengan Amancio Ortega, pendiri Zara, yang masih makan siang bersama karyawannya di kantin perusahaan.

Lanjutkan membaca Hidup Sederhana Orang-orang Superkaya Dunia

Iklan

Satu Windu Setelah Bom Guncang Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta


 

Ritz KSP1
Hotel Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta Selatan pasca-ledakan bom, 17 Juli 2009. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KSP

 

ROBERT ADHI KSP

Jumat, 17 Juli 2009. Ruang pertemuan Hotel JW Marriott di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan tampak ramai. Para CEO dan pimpinan perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, energi, sumber daya alam, ketenagalistrikan mengadakan breakfast meeting Indonesia Country Programme (ICP) yang digelar CastleAsia. 

CastleAsia adalah penyedia jasa intelijen bisnis. Perusahaan tersebut memberikan informasi dan laporan tentang isu-isu terkini di bidang politik dan ekonomi yang akan dihadapi para pebisnis. Topik yang dikupas hari Jumat itu adalah tentang industri pertambangan dan industri berat. 

Harian Kompas, Sabtu 18 Juli 2009 mewartakan, dalam daftar eksekutif yang hadir dalam breakfast meeting di Hotel JW Marriott terdapat nama Timothy David Mackay, Presiden Direktur Holcim Indonesia, yang termasuk dalam korban tewas; David Potter, Direktur Eksplorasi PT Freeport Indonesia; Adrianto Machribie, Komisaris PT Freeport Indonesia; Kevin Moore, Presiden Direktur Husky Energy; Gary Ford, Presiden Direktur Anadarko Oil; Edward Thiessen dan Pedro Sole, Chief Executive Officer (CEO) Alstom Power; Patrick Foo, CEO AEL Indonesia; Noke Kiroyan, Managing Partner pada Kantor Pengacara Kiroyan and Partners; dan James Castle, CEO CastleAsia.

Adrianto Machribie, salah seorang warga negara Indonesia yang hadir dalam breakfast meeting tersebut dan saat itu menjabat Komisaris dan Senior Adviser untuk Chairman Freeport Mcmoran Copper & Gold. Selebihnya para pimpinan perusahaan dari berbagai kebangsaan, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Belanda, Jerman, Kanada, India, Jepang sampai Norwegia.

Adrie duduk di kursi nomor tiga di meja panjang yang berkapasitas maksimal 24 orang itu. “Saya sengaja memilih tempat duduk di dekat pilar,” kata Adrie dalam percakapan dengan Kompas, beberapa waktu lalu.  Dia mengaku merasa terlindungi bila duduk di dekat tiang atau pilar bila terjadi gempa ataupun ledakan yang menyebabkan gedung runtuh.

Lanjutkan membaca Satu Windu Setelah Bom Guncang Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta

Ketika Perancis Terlibat Deportasi 13.000 Orang Yahudi ke Auschwitz


ROBERT ADHI KSP

Tanggal 16-17 Juli 1942. Polisi Perancis di bawah rezim Vichy —pemerintahan boneka Nazi Jerman — meluncurkan Operasi “Spring Breeze”, yang menangkap lebih dari 13.000 orang Yahudi di Paris. Awalnya mereka dibawa ke stadion Velodrome d’Hiver (Vel d’Hiv) di Paris, sebelum dikirim ke kamp konsentrasi di Auschwitz, Polandia.

Hanya kurang dari 100 orang yang selamat. Salah satunya Sarah Lichtsztejn-Montard (saat ini berusia 89 tahun). Sarah adalah satu dari segelintir korban Vél d’Hiv; yang berhasil melarikan diri dari stadion yang dijadikan kamp Nazi itu.

Auschwitz KSP1
Bangunan kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz, Polandia, yang kini dijadikan museum. Foto diambil 26 Juni 2017. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Untuk waktu yang lama, setiap malam Sarah mengalami mimpi buruk yang sama. “Pada malam hari, saya melihat hantu hijau kecil di Vel d’Hiv,” katanya dengan suara yang jelas. “Hantu itu mengeluarkan cahaya,” ungkapnya kepada France24.

Pada tahun 1942, Sarah baru berusia 14 tahun. Remaja kelahiran Polandia itu tinggal bersama ibunya di sebuah apartemen sederhana di distrik ke-20 Paris. Ayahnya, Moise, ditangkap pada Juli 1941 dan dikirim ke kamp pengasingan Pithiviers, dan berhasil melarikan diri. Ayahnya bersembunyi di sebuah kamar di Paris dan menggunakan surat palsu.

Pada 15 Juli, Sarah dan teman-teman sekelasnya merayakan hari terakhir sekolah sebelum liburan musim panas. Pada hari itu, seorang teman sekelasnya, keturunan Yahudi memberitahu kepada Sarah bahwa orangtuanya, “mengenal seorang komisaris polisi yang mengatakan kepada mereka bahwa dia sedang mempersiapkan sebuah pabrik yang akan mempekerjakan perempuan, anak-anak dan orang tua dalam jumlah yang besar. Dia menambahkan bahwa mereka akan meninggalkan apartemen mereka dan saya harus melakukan hal yang sama.”

Setibanya di rumah, Sarah memberi tahu ibunya, Maria, tentang hal itu. Namun ibunda Sarah tidak mempercayai rumor itu. “Tidak mungkin Perancis menangkap perempuan dan anak-anak. Bagi ibu, Perancis adalah negara yang melindungi hak asasi manusia,” ungkap Sarah.

Lanjutkan membaca Ketika Perancis Terlibat Deportasi 13.000 Orang Yahudi ke Auschwitz

Benarkah Telegram Sarana Komunikasi Kelompok Teroris?


ROBERT ADHI KSP

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengumumkan pemblokiran aplikasi percakapan Telegram karena bermuatan konten negatif, di antaranya propaganda radikalisme, paham kebencian, ajakan merakit bom dan melakukan serangan teror. Sedikitnya ada 17.000 halaman mengandung terorisme dan radikalisme.

Kementerian Komunikasi dan Informatika meminta internet service provider (ISP) memutus akses sebelas domain name system (DNS) milik Telegram, yaitu t.metelegram.metelegram.orgcore.telegram.orgdesktop.telegram.org, venus.web.telegram.org, web.telegram.orgphoto.web.telegram.orgflora.web.telegram.org, dan flora-i.web.telegram.org.Pemblokiran ini menyebabkan layanan Telegram versi web tak bisa diakses lagi melalui komputer.

Rudiantara seperti diwartakan Harian Kompas, Sabtu 15 Juli 2017, sedang mempersiapkan proses penutupan aplikasi Telegram secara menyeluruh di Indonesia, jika Telegram tidak membuat prosedur standar operasi penanganan konten-konten yang melanggar hukum dan perundangundangan di Indonesia. Rudiantara menegaskan, pemblokiran ini langkah untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan bukan untuk memberangus kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia.

Awal Juli lalu, Telegram mengumumkan aplikasi percakapan itu mampu menampung 10.000 anggota, mampu mengirim pesan lebih cepat dibandingkan aplikasi serupa manapun dan dapat mengirim foto, video, dokumen berbagai jenis (doc, zip, mp3, dan sebagainya) sampai 1,5 GB. Jumlah pengguna aktif Telegram di seluruh dunia saat ini mencapai 100 juta, yang mengirim 15 miliar pesan setiap hari. Pengguna baru Telegram yang mendaftar setiap hari sekitar 350.000. Telegram dapat diakses dari perangkat apapun, mulai dari Android, iOS, WindowsPhone, sampai pada platform versi web, macOS, sampai PC, Mac, dan Linux. (Kompas.id, 3 Juli 2017).

 

Aplikasi Telegram

 

Digunakan kelompok teroris

Pertanyaannya, benarkah Telegram kini digunakan oleh kelompok militan untuk berkomunikasi?  Pada Mei 2017  The Huffington Post menulis, seiring langkah media sosial Facebook dan Twitter yang meningkatkan upaya untuk menutup akun-akun pro-NIIS, Telegram malah mengisi kekosongan tersebut. Sejak sekitar tahun 2015, para analis mengatakan terjadi eksodus kalangan ekstremis ke aplikasi dengan privasi dan kebebasan yang lebih baik.

“Kami telah melihat kecenderungan yang benderang atas berkembangnya penggunaan Telegram oleh hampir semua kelompok teroris di seluruh dunia,” kata Gabriel Weimaan, profesor di Universitas Haifa, Israel, dan penulis masalah-masalah ekstremisme di jagat maya.

Telegram kini sudah menjadi salah satu sarana utama kelompok militan NIIS menyebarkan informasi dan mempersatukan para pendukungnya.

Terlihat kecenderungan yang benderang atas berkembangnya penggunaan telegram oleh hampir semua kelompok teroris di seluruh dunia.

Beberapa jam setelah serangan teror mematikan di kota Manchester, Inggris Raya, terjadi serangkaian aktivitas di aplikasi favorit kelompok militan, sebuah layanan pesan terenskripsi yang disebut sebagai Telegram. Bahkan sebelum pihak berwenang menjelaskan ihwal serangan Manchester, para pendukung NIIS membanjiri saluran pribadi dan publik aplikasi tersebut dengan “pesan perayaan”. Telegram menjadi penghubung bagi propaganda NIIS dan sumber bagi kelompok militan itu untuk menyatakan bertanggung jawab.

 

Meningkatnya penggunaaan Telegram sebagai bagian dari strategi komunikasi NIIS dan kelompok teroris lainnya beberapa tahun ini telah menunjukkan bagaimana ekstremisme mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dalam menghadapi upaya pemerintah menutup kehadiran mereka di dunia maya. NIIS telah lama menggunakan platform media sosial untuk menyebarluaskan propaganda dan merekrut pengikut mereka.

Weimaan menjelaskan, umumnya kelompok teror awalnya mengadopsi platform-platform baru di dunia maya, yang dapat mereka eksploitasi. Telegram bekerja seperti WhatsApp (yang kini dimiliki Facebook), menggunakan enskripsi end-to-end untuk melindungi informasi bersama. Perusahaan yang mengoperasikan Telegram mengklaim memiliki lebih dari 100 juta pengguna, dan menawarkan fitur-fitur seperti menghapus sendiri pesan sampai menyediakan ruang privasi yang lebih besar. Para pengguna dapat berkomunikasi secara langsung dalam kelompok pribadi maupun melalui saluran (kanal).

Badan Keamanan Rusia FSB seperti dikutip BBC mengakui, Telegram telah digunakan pelaku bom bunuh diri di St Petersburg yang menewaskan 15 orang, April 2017 lalu.  Pemerintah Rusia mengancam memblokir aplikasi itu karena pemilik dan pengelola Telegram menolak mengizinkan pemerintah mengakses data pengguna.  Kelompok radikal di Perancis dan Timur Tengah juga menggunakan Telegram untuk berkomunikasi.

Aplikasi Telegram dimulai tahun 2013 sebagai sarana untuk menyediakan layanan pesan yang lebih aman. Penciptanya, Pavel Durov berkebangsaan Rusia menyebutkan, aplikasi ini untuk mencegah layanan keamanan Rusia mengakses komunikasi antarpengguna. Durov ini mirip Mark Zuckerbeg, pencipta Facebook.  Durov mulai menonjol pada 2006 setelah menciptakan VKontake, platform media sosial yang lebih populer di Rusia dibandingkan Facebook.

Ketika kebebasan berinternet di Rusia dibatasi dan Pavel Durov ditekan, Durov memutuskan kabur dari Rusia pada 2014 dan menjual sahamnya di perusahaan tersebut dengan nilai ratusan juta dollar AS. Durov kini warga negara St Kitts dan Nevis, negara kecil Kepulauan Karibia yang mendukung privasi online.

Dalam sejumlah wawancara, Durov membantah pendapat yang menyatakan penggunaan Telegram oleh ekstremis dan mengatakan sebagian penggunanya menggunakan aplikasi itu dengan alasan yang sah. Durov menolak permintaan untuk memberi akses bagi pejabat keamanan untuk melacak percakapan di aplikasi tersebut. Meskipun Telegram dimatikan, Durov yakin itu tidak akan menghentikan teroris untuk berkomunikasi satu sama lain.

Meski Durov menolak campur tangan pemerintah dan pembatasan kebebasan di jagat maya, sebenarnya Telegram sudah berupaya menutup 78 kanal pro-NIIS,  menyusul serangan Paris November 2015. Sejak itu, Telegram menutup ratusan kanal pro-NIIS lainnya.

Namun faktanya, Telegram memang gagal mencegah aktivitas kelompok pro-NIIS di aplikasi tersebut dibandingkan Twitter yang berhasil menutup lebih dari 360.000 akun yang mempromosikan terorisme sejak pertengahan 2015 silam.

Pada saat perusahaan media sosial tertinggal menangani masalah ekstremisme di jagat maya, kelompok teroris malah semakin piawai mengubah strategi komunikasi mereka. Teroris kini cepat belajar dan mampu beradaptasi dengan platform baru.

Pergeseran kelompok militan ke Telegram merupakan bagian dari gerakan NIIS menuju aplikasi dengan jaringan pribadi yang lebih luas. Weimaan menyebutkan, pada saat perusahaan media sosial tertinggal menangani masalah ekstremisme di jagat maya, kelompok teroris malah semakin piawai mengubah strategi komunikasi mereka. Teroris kini cepat belajar dan mampu beradaptasi dengan platform baru.

Bulan Juni 2017 lalu, 28 pemimpin Uni Eropa sepakat untuk menekan secara hukum raksasa-raksasa internet seperti Google, Twitter, dan Facebook untuk menghilangkan konten-konten yang diposting kelompok radikal secepatnya dan meminta mereka mendeteksi terorisme di jagat maya.

Melihat fakta-fakta ini, langkah Menteri Kominfo Rudiantara memblokir Telegram memang harus dilihat dari sisi positif, yaitu upaya pemerintah mencegah radikalisme berkembang di negeri ini dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan bukan memberangus kebebasan berekspresi.

SUMBER: KOLOM, KOMPAS.ID, SABTU 15 JULI 2017 

Writing is the Painting of the Voice