Pak IGM Putera Astaman yang Energik dan Positif


KSP SCOTLAND YARD

OLEH ROBERT ADHI KSP

Saya mengenal Pak I Gusti Made Putera Astaman ketika saya bertugas sebagai wartawan Harian Kompas yang ngepos di bidang kepolisian. Pada tahun 1990-an, Pak Putera Astaman adalah Deputi Kapori bidang Operasi (Deops) Kapolri. Jabatan Deops pada masa itu merupakan jabatan orang nomor dua setelah Kapolri karena belum ada jabatan Wakil Kapolri seperti sekarang.

Suatu hari pada bulan November 1992, saya mendapat tugas dari kantor tempat saya bekerja (Harian Kompas) untuk meliput Sidang Interpol di Dakar, Senegal di kawasan barat Afrika atas biaya Kompas.

Delegasi Polri dalam Sidang Interpol 1992 itu dipimpin Pak Putera Astaman, didampingi Mayjen Pol Aji Komaruddin (Kapolda Jawa Tengah), Kolonel Pol Ismet Ibrahim (Sekretaris Direktorat Reserse Polri), Kolonel Pol Suharyono (Kepala Sekretariat NCB-Interpol Indonesia), Sutardi (pejabat Biro Hukum Bank Indonesia), dan M. Chariri (Kasubdit Intel Ditjen Bea dan Cukai). Saya satu-satunya wartawan yang masuk dalam daftar resmi delegasi Indonesia.

Saya sangat beruntung karena Pak Putera Astaman mengizinkan saya terlibat langsung, mendengarkan isi Sidang Umum Interpol dari lokasi. Saya dianggap bagian dari delegasi Indonesia. Sungguh pengalaman yang sangat berkesan dalam perjalanan jurnalistik saya.

1e1b5-senegal13

Dalam Sidang Interpol di Dakar, persoalan narkotika sudah dibahas. Perdagangan gelap narkotika sudah menjadi ancaman serius bagi setiap bangsa dan negara di dunia. Namun pada tahun 1992, Putera Astaman mengatakan, Indonesia masih merupakan tempat transit para sindikat pengedar narkotika dunia dan menjadi tempat persembunyian pengedar narkotika. Salah satunya, John Steven Fagan, pengedar narkotika buronan DEA Amerika Serikat (AS), ditangkap polisi Indonesia di Bali atas informasi Interpol AS.

Pada tahun itu, Indonesia belum memiliki undang-undang tentang tindak pidana pencucian uang atau money laundering. Padahal uang hasil kejahatan narkotika seringkali “dicuci” dan menjelma menjadi bisnis legal.

Dari meliput Sidang Interpol inilah, saya makin memahami persoalan perdagangan gelap narkotika di dunia internasional.

Berkunjung ke Markas Besar Interpol
Dari Dakar, Senegal, saya diajak Pak Putera Astaman melanjutkan perjalanan ke Lyon, Perancis. Kami mengunjungi Markas Besar Interpol-ICPO/International Criminal Police Organization). Di sana, saya melihat bagaimana petugas Interpol menunjukkan kecanggihan teknologi pada masa itu, yaitu wajah Pablo Escobar, salah satu raja kokain dari Kolombia yang paling diburu.

Saya merasa beruntung dapat berkunjung ke Markas Besar Interpol di Lyon tersebut karena bisa jadi sampai saat ini saya satu-satunya wartawan Indonesia yang pernah berkunjung ke markas besar Interpol. Meski singkat, namun banyak pengetahuan dan pengalaman baru yang saya dapatkan.

Satu hal yang saya kagumi dari Pak Putera Astaman adalah kegigihannya memperjuangkan Indonesia menjadi tuan rumah Sidang Interpol. Pak Putera melihat Indonesia akan mendapat keuntungan promosi pariwisata jika berhasil menjadi tuan rumah. Karena itu Pak Putera berusaha melobi staf Sekretariat Jenderal Interpol tentang kemungkinan tersebut. Pak Putera juga sudah berkomunikasi dengan Departemen Luar Negeri dan Mabes ABRI (saat itu Polri masih di bawah ABRI).

Kedua instansi tersebut meminta masukan-masukan Polri tentang kemungkinan Indonesia menjadi tuan rumah Interpol. Hasil penjajakan Polri dengan pihak Setjen Interpol di Dakar dan Lyin merupakan bahan masukan. Pak Putera Astaman (akan) menjelaskan rencana ini ke Sidang Polkam.

Perjuangan Pak Putera Astaman ini, menurut saya, luar biasa. Sejak awal beliau sadar betul keuntungan yang akan diperoleh Indonesia, terutama dari sisi pariwisata. Namun saya tidak tahu kelanjutan “perjuangan” Pak Putera Astaman karena pada tahun 1993, beliau diganti oleh Koesparmono Irsan sebagai Deops Kapolri.

Bertahun-tahun kemudian, pada 2016, Indonesia akhirnya menjadi tuan rumah Sidang Umum Interpol di masa kepemimpinan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian.

45ade-senegal6 (1)

Berkunjung ke Markas Besar Scotland Yard di London
Hal lain yang saya ingat dari Pak Putera Astaman adalah ketika beliau juga mengajak saya untuk ikut berkunjung ke markas besar Scotland Yard di London, Inggris. Dari Lyon, kami menuju London.

Sebenarnya, jujur saya, staf Kedubes RI di London sudah mengatakan kepada saya bahwa wartawan tidak diperkenankan masuk ke markas kepolisian. Namun Pak Putera Astaman bersikukuh untuk tetap mengikutsertakan saya melihat-lihat “isi perut” markas besar Scotland Yard.

“Kalau mereka bertanya lagi, jawab saja bahwa Adhi staf saya,” kata Pak Putera waktu itu. Pada tahun 1992, usia saya masih relatif muda. Nyatanya ketika Pak Putera Astaman dan delegasi Polri masuk markas Scotland Yard, saya diikutsertakan dan saya tetap diizinkan masuk. Sekali lagi, saya merasa beruntung mendapat kesempatan langka ini.

Kesempatan mengikuti Sidang Umum Interpol di Dakar, Senegal dan menjadi bagian dari delegasi resmi Polri, merupakan kesempatan berharga. Dan ini ditambah lagi dengan kesempatan berkunjung ke markas besar Interpol di Lyon, Perancis, dan ke markas besar Scotland Yard di London, Inggris. Semua perjalanan ini dibiayai kantor tempat saya bekerja, yaitu Harian Kompas.

Tetapi jangan lupa, kemudahan saya untuk bisa masuk dalam ruang sidang umum dan masuk ke dalam markas-markas besar itu, tentu seizin pimpinan delegasi Polri. Jika saya mengingat ini semua, yang saya ingat hanyalah Pak Putera Astaman.

Konseptor Samsat dan Patroli Keamanan Sekolah
Ketika menjabat Kepala Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya tahun 1973-1978, Putera Astaman memperkenalkan konsep Patroli Keamanan Sekolah sekaligus memassalkannya. (Tentu saja pada tahun 1970-an, saya belum menjadi wartawan).

Astaman berpendapat, polisi tak bisa selamanya nongkrong terus-menerus di sekolah untuk mencegah perkelahian pelajar. Karena itu para siswa perlu dilatih secara swakarsa mengamankan lingkungan sekitarnya. Jika satu sekolah memiliki 30 siswa berdisiplin tinggi dan memiliki visi kamtibmas, mereka diharapkan dapat mempengaruhi teman-temannya. Pada tahun 1970-an, Patroli Keamanan Sekolah didukung Pemerintah DKI Jakarta.

Sebelum menjabat Kaditlantas Polda Metro Jaya, Putera Astaman menjabat Kepala Bagian Operasi Ditlantas. Pada 1973, dia mencetuskan konsep Samsat (Sistem Manunggal Satu Atap), dan diterima Kapolda Metro Jaya (waktu itu) Mayjen Widodo Budidarmo dan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

Usia 80 tahun tetap sehat dan energik
Bertahun-tahun setelah bertemu Pak Putera Astaman pada 1992, saya sempat bertemu beliau pada 2011, dan kemudian pada Maret 2018. Saya melihat Pak Putera Astaman tetap sehat dan energik. Apa rahasianya?

IMG_1051

“Saya menerapkan gaya hidup sehat. Jarang makan daging, lebih banyak makan buah-buahan dan sayuran, serta rajin berolah raga,” kata Pak Putera yang pada bulan Juni 2018 berusia 80 tahun.

Dari 113 teman seangkatannya (angkatan VIII PTIK), yang masih hidup tinggal 17 orang. Dari 17 orang tersebut, hanya tiga orang yang masih kuat bermain golf. Saat ini Pak Putera aktif sebagai Ketua Umum Bersama, lembaga swadaya masyarakat yang aktif dalam pencegahan penyalahgunaan narkotika di Indonesia.

Saya jarang bertemu dengan Pak Putera Astaman. Tetapi setiap kali saya bertemu dengan beliau, saya selalu merasakan aura positif dan energik. Tetap sehat, Pak Putera Astaman!

** ROBERT ADHI KSP, wartawan Harian Kompas dan penulis buku

*** Tulisan ini bagian dari buku “80 Tahun Putera Astaman, Ketua Umum Bersama — Berjuang Tiada Henti, Bersyukur Tiada Henti”

Putera Astaman

Iklan