ROBERT ADHI KSP
Saya menikmati perjalanan dari Jakarta (Lebak Bulus) ke Bandung, pergi-pulang, tanpa terjebak dalam macet berkepanjangan.

Hari Kamis, 6 Agustus 2026, saya harus menemui narasumber buku terbaru saya di Bandung/Padalarang. Awalnya, saya berencana memarkirkan kendaraan di Stasiun Whoosh di Halim, Jakarta Timur. Tetapi setelah saya pikir, jarak dan waktu tempuhnya relatif terlalu jauh dari Serpong. Saya membayangkan jika saya pulang sore hari, saya pasti bakal terjebak dalam kemacetan panjang yang melelahkan. Akhirnya saya memutuskan untuk memarkirkan kendaraan di Poins Square di Lebak Bulus di Jakarta Selatan.
Selebihnya, saya memanfaatkan infrastruktur transportasi di Jakarta yang semakin modern dan lengkap. Saya menikmati perjalanan dengan kereta, dari MRT, LRT, sampai kereta supercepat Whoosh.
Nah, dari Stasiun MRT Lebak Bulus, saya berhenti di Stasiun MRT Dukuh Atas. Dibutuhkan waktu sekitar 28 menit dari Stasiun MRT Lebak Bulus ke Stasiun MRT Dukuh Atas yang berjarak sekitar 14,5 kilometer. Setelah itu, saya berjalan kaki sekitar 8–10 menit menuju Stasiun LRT Dukuh Atas melalui Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM). Di jalur ini, saya harus melewati peron Stasiun Commuterline Sudirman yang pada jam sibuk selalu ramai.
(Dalam kaitan ini, untuk memudahkan perpindahan penumpang antarstasiun/halte tanpa harus turun ke jalan raya yang padat, Pemerintah Provinsi Jakarta sedang membangun infrastruktur melingkar, jembatan “donat” senilai Rp 361 miliar yang menghubungkan semua moda transportasi yang berpusat di Dukuh Atas. Jembatan berbentuk cincin melingkar di kawasan Dukuh Atas yang mengelilingi kawasan sekitar itu, rencananya beroperasi pada 2028. Ini sungguh langkah yang cerdas!)

Dari Stasiun LRT Dukuh Atas, saya menuju Stasiun LRT Halim. Situasi di gerbong kereta LRT relatif sepi karena perjalanan saya berlawanan arah dengan para komuter yang akan ke Jakarta dan memanfaatkan LRT Jabodebek. Waktu tempuh dari Stasiun LRT Dukuh Atas ke Stasiun LRT Halim sekitar 25 menit (berjarak 13 kilometer).
Dari Stasiun LRT Halim menuju Stasiun Whoosh Halim, dibutuhkan waktu sekitar 5-10 menit untuk berjalan kaki (tergantung apakah santai atau cepat). Setelah tiba di Stasiun Whoosh pukul 09.35, saya lebih tenang karena jam keberangkatan saya tepat pukul 11.00. Saya masih punya waktu satu jam untuk sarapan di sana dan berselancar di internet.

Jam 10.35, saya ke ruang tunggu, dan beberapa menit kemudian saya diminta menunjukkan tiket atau barcode pemesanan agar bisa masuk ke peron di lantai atas. Tak ada suasana desak-desakan karena semuanya sudah diatur dengan baik.
Tepat pukul 11.00, Whoosh melaju. Waktu tempuh benar-benar hanya setengah jam dari Stasiun KCIC Halim ke Stasiun KCIC Padalarang. Sungguh luar biasa.
Setelah 4 jam di Padalarang (sudah termasuk makan siang dan ngopi), saya kembali ke Jakarta naik Whoosh, tanpa harus menginap karena masih banyak pekerjaan lain yang harus saya selesaikan. Saya langsung memesan tiket di mesin, dan caranya sangat mudah. Bisa dibayar pakai QRIS atau kartu kredit. Rute pulang ke Lebak Bulus, tetap sama. Naik LRT dan MRT. Memang kelihatan ribet dan rumit, tetapi kalau dijalani dengan sabar, perjalanan ini asyik lho. Toh saya sekaligus mencoba infrastruktur transportasi Jakarta yang semakin modern.
Dan – ini yang terpenting- daripada harus terjebak macet di jalan menuju Serpong dari Halim (terbayang kan kemacetan pada jam sibuk sore hari/peak hours), maka saya memilih parkir di Lebak Bulus. Memang, saat pulang ke Serpong, lalu lintas sedikit tersendat karena banyak truk yang melintas di Tol JORR, tetapi jaraknya pendek. Setelah melalui tol ke arah Bintaro/BSD, situasi di tol ramai lancar. Demikianlah, sekilas pengalaman saya melakukan perjalanan naik Whoosh pergi-pulang.
O ya, dari perjalanan ini, saya juga menuntaskan target 10.000 langkah dengan berjalan kaki: naik-turun tangga di stasiun MRT dan LRT, serta menyusuri jalan penghubung antarstasiun. (Bagi saya, salah satu sensasi naik MRT/LRT adalah ketika naik-turun tangga stasiun yang curam. Sekalian mengetes kekuatan jantung dan seberapa bugar saya).



“Transportasi Indonesia Semakin Modern”
Bulan Juli 2026 lalu, saya mengajak kakak perempuan saya dan suaminya, seorang warga Prancis yang berkunjung ke Indonesia, untuk naik Whoosh dari Stasiun Halim ke Stasiun Bandung. Mereka mengagumi kemajuan yang dicapai Indonesia yang memiliki kereta cepat. “Indonesia sekarang sudah modern, jauh sekali jika dibandingkan dengan saat kami ke Indonesia sekitar 20–30 tahun yang lalu,” katanya. Sebelumnya, mereka pernah ke Indonesia pada awal 1990-an dan pada tahun 2005.
Pada hari yang berbeda, saya juga mengajak kakak saya dan suaminya dari Prancis untuk mencoba naik MRT Jakarta rute Lebak Bulus–Bundaran HI. Ya, setidaknya mereka bisa bercerita kepada anak-anak dan kerabat di Prancis bahwa transportasi di Indonesia, termasuk di Jakarta, sekarang sudah modern. Tidak malu-maluin lah.
Pada tahun 1992 dan 1994, saat bertugas sebagai jurnalis, saya pernah mencoba naik TGV, kereta cepat Prancis, dari Paris ke Lyon. Ketika itu saya bertanya di dalam hati, “kapan ya Indonesia punya kereta cepat seperti TGV ini?” Pertanyaan itu akhirnya terjawab sekitar 30 tahun kemudian.

Terlepas dari utang Whoosh yang memang masih sangat tinggi, menurut pendapat pribadi saya, sebagai warga Indonesia, kita tetap patut berbangga punya Whoosh. Bahkan rutenya perlu diperpanjang hingga ke barat Pulau Jawa (setidaknya sampai Tangerang dulu) dan ke timur (Surabaya). Pangsa pasar penumpangnya besar, lho: warga BSD, Gading Serpong, Alam Sutera, dan sekitarnya. Kalau pun itu belum memungkinkan, solusinya adalah membangun MRT rute Lebak Bulus–Serpong agar segera terhubung.
