
Merawat Legacy SMA Xaverius 1 Palembang
Sejak puluhan tahun lalu, SMA Xaverius 1 menyandang predikat sebagai SMA favorit, bukan hanya di Palembang, tetapi juga di Sumatera Selatan. SMA ini telah melahirkan setidaknya 30.000 alumni yang menekuni berbagai profesi, tersebar di seluruh Indonesia dan di mancanegara.
Buku ini bukan sekadar merawat memori kolektif, tetapi juga merawat warisan SMA Xaverius 1 Palembang. Bagi sekolah, buku ini membuktikan bahwa kualitas pendidikan yang diberikan selama ini sudah sesuai dengan visi dan misi sekolah.
Ingatan manusia terbatas. Tanpa dokumentasi yang dibukukan, sejarah sekolah, kisah perjuangan para guru di masa lalu, cerita prestasi siswa, dan kisah sukses alumni rentan hilang dan terkikis oleh waktu. Buku ini berfungsi sebagai arsip hidup yang menjaga agar identitas dan akar sekolah tetap dikenal oleh generasi mendatang. Kita menghormati para pendiri, kepala sekolah, dan guru-guru legendaris SMA Xaverius 1, yang masih melekat dalam ingatan alumni — yang telah meletakkan dasar dan fondasi pendidikan yang berkualitas.
Kisah sukses para alumni yang dimuat di buku ini dapat menjadi sumber inspirasi dan role model bagi siswa-siswi aktif SMA Xaverius 1 Palembang —dan berucap, “Kalau Kakak dan Ayuk yang lulus dari SMA Bangau bisa sukses, kami pun punya peluang sukses yang sama.” Buku ini diharapkan dapat menumbuhkan kebanggaan pada siswa-siswi yang masih bersekolah, terutama setelah mengetahui bahwa sekolah mereka telah melahirkan banyak tokoh hebat di berbagai bidang.
Rekam jejak alumni yang sukses merupakan portofolio terbaik bagi SMA Xaverius 1 Palembang untuk menunjukkan kepada siapa saja bahwa sekolah ini telah berhasil mencetak alumni yang unggul dan berkontribusi bagi masyarakat. Profil alumni di berbagai bidang yang ditulis di buku ini dapat berdampak positif bagi generasi muda, baik yang masih bersekolah, maupun yang masih meniti karier.
Buku “75 Tahun SMA Xaverius 1 Palembang – Dari Generasi ke Generasi Membangun Karakter dan Prestasi” yang merupakan hasil kerja kolektif alumni SMA Xaverius 1 Palembang ini, bukan hanya untuk mengenang masa lalu, melainkan juga untuk membangun masa depan melalui alumni yang telah sukses dalam berbagai profesi dan bidang pekerjaan. Selain itu, buku ini diharapkan dapat mempererat hubungan antara alumni dan almamater melalui IKAXA.
Penyusunan buku ini berawal dari usul yang disampaikan Robert Adhi Ksp dalam suatu rapat virtual IKAXA tentang perlunya sebuah buku untuk menyambut 75 tahun SMA Xaverius 1 Palembang. Ketua Umum IKAXA, Chichi Soelaiman Pramudita, merespons usul ini dengan antusias dengan menelepon Adhi Ksp. Pada 10 April 2026, Chichi SP, Edward Pryadi, Fifi Rahmi, Burlita, dan Adhi Ksp bertemu dalam rapat perdana tim buku di Resto Sari Sanjaya, Alam Sutera, Serpong. Chichi menetapkan Robert Adhi Ksp (IKAXA 1982) sebagai ketua tim redaksi buku sekaligus sebagai penulis, dan meminta Burlita (IKAXA 1982) sebagai ketua panitia buku. Rapat juga membahas nama-nama alumni yang perlu ditulis di buku ini, dan linimasa penyusunan buku.
Dalam perjalanan penyusunan buku, Chichi SP, Edward Pryadi, Fifi Rahmi, dan Burlita, sering turun langsung untuk mewawancarai alumni yang menjadi narasumber buku, baik senior maupun junior. Ini menunjukkan betapa kompak dan solidnya tim ini untuk membuat buku ini benar-benar terwujud. Bahan-bahan mentah dari wawancara inilah yang diolah dan dijadikan tulisan dalam buku ini oleh Adhi Ksp.
Tetap Cinta SMA Xaverius dan Guru-gurunya
Buku ini menceritakan sekilas sejarah sekolah, yang dilengkapi dengan pendapat kepala sekolah Andreas Sudarsana, tentang perkembangan sekolah masa kini dan masa depan; juga kisah kepala sekolah legendaris Pak Tarcisius Soedadi dan istrinya, Ibu Tien Soedadi, serta rahasia langgeng hingga usia senja.
Buku ini juga memuat sejarah Ikatan Alumni SMA Xaverius 1 Palembang (IKAXA). Nama IKAXA ternyata sudah diperkenalkan pada tahun 1980-an oleh sekelompok mahasiswa yang kuliah di sekitar kawasan Grogol, Jakarta Barat. Bahkan, Ketua Umum IKAXA pada 1983/1984 (waktu itu masih gabungan SMA Xaverius 1 dan 2) adalah Edwardus Pryadi Halim (yang menjabat sebagai Wakil Ketua Umum IKAXA 2023-2027). IKAXA, yang awalnya bergerak secara sporadis, kemudian menjadi organisasi berbadan hukum pada 2011, sehingga wadah alumni ini semakin hidup hingga kini.
Kisah 47 alumni SMA Xaverius 1 Palembang, mulai dari angkatan pertama (1954) hingga angkatan 2024, yang menekuni berbagai profesi, menjadi bagian penting dalam buku ini. Umumnya, alumni SMA Xaverius 1 Palembang mengungkapkan rasa cinta mereka kepada sekolah dan para guru yang pernah mengajar mereka. Sebagian alumni berharap SMA Xaverius 1 Palembang tetap bersinar, sebagian mengakui nilai-nilai yang diajarkan guru-guru di sekolah — disiplin dan toleransi — berpengaruh bagi karier di masa dewasa, dan sebagian lagi berharap IKAXA dapat berkembang menjadi jaringan alumni yang kuat.
Nilai-nilai Kedisiplinan dan Kemajemukan
Salah satu nilai penting dari SMA Xaverius 1 yang diingat oleh Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Muhammad Ali (IKAXA 1985), adalah pelajaran Budi Pekerti. Pelajaran moral dan karakter seperti ini, menurut Ali, sangat bermanfaat dan tidak ditemukan di sekolah-sekolah lain pada masa itu. Muhammad Ali berharap SMA Xaverius 1 tetap mempertahankan kualitas pendidikannya yang tinggi seperti dulu, sehingga terus mampu melahirkan generasi alumni yang sukses di berbagai bidang. “Kesuksesan bisa diraih di banyak bidang, baik di militer, sebagai entrepreneur, maupun di bidang olahraga dan seni. Jalan sukses sangat banyak dan tidak harus selalu menjadi pegawai negeri,” kata Ali.
Bagi Mulia Lie (IKAXA 1989), ada beberapa alasan utama yang berakar pada kualitas, reputasi, dan nilai-nilai persaudaraan yang ditanamkan oleh sekolah ini. “Pada masa saya bersekolah, institusi pendidikan tidaklah banyak, sehingga bisa diterima di SMA Xaverius 1 Palembang menjadi kebanggaan tersendiri. SMA Bangau pada waktu itu merupakan jaminan mutu dan standar sekolah berkualitas tinggi di Palembang. Kita bangga disebut sebagai budak Bangau,” cerita Mulia Lie, Board of Directors PT Kalbe Farma Tbk.
Bagi Marsma TNI Bursok Pardede (IKAXA 1990), SMA Xaverius merupakan gambaran nyata dari kebinekaan dan keragaman Indonesia. Nilai-nilai kebinekaan terasa di sekolah ini. Lingkungan sekolah mendidik para siswanya untuk tidak memandang perbedaan, sehingga siswa tumbuh menjadi pribadi yang lebih mudah menerima (accepting) dan beradaptasi (adaptable) terhadap nilai-nilai serta perbedaan orang lain. “Ini hal terindah dari SMA Xaverius 1 Palembang. Atmosfer keberagaman sekolah ini adalah potret kebinekaan Indonesia secara nyata. Murid-murid dari berbagai latar belakang suku dan agama yang berbeda dapat membaur, saling menghormati, dan berbagi dengan sangat harmonis tanpa pernah terpecah-belah,” ungkap Bursok.
Veri Anggrijono (IKAXA 1984) berpendapat, SMA Xaverius 1 Palembang memiliki tingkat toleransi sangat tinggi. Di sekolah ini, tak ada perbedaan perlakuan berdasarkan latar belakang suku, ras, maupun agama. Baik siswa maupun guru dari berbagai latar belakang, membaur dalam kesetaraan, menciptakan lingkungan belajar harmonis,” kata Veri, yang pernah menjabat Irjen dan Dirjen di Kementerian Perdagangan RI.
Didikan disiplin di SMA Xaverius 1 Palembang membentuk keyakinan yang kuat dalam diri Farah Dewi (IKAXA 1987), Vice President, Business Support – PT Pertamina Hulu Indonesia. Menurut Dewi, kedisiplinan di SMA Xaverius 1 nomor satu dan tidak tertandingi (dak katek lawan). Bersekolah di SMA Xaverius 1, yang memiliki latar belakang lingkungan heterogen dan merangkul kalangan non-muslim, membentuk rasa toleransi yang sangat tinggi dalam diri Dewi. Nilai saling menghargai perbedaan ini adalah salah satu hal yang paling membanggakan baginya dan tidak pernah dilupakan, bahkan hingga sekarang.
Sebagai seorang Muslim yang bersekolah di bawah naungan Yayasan Katolik, Zuryati Simbolon (IKAXA 1991) merasakan langsung indahnya toleransi. Sekolah sangat menghargai siswa yang berpuasa dan merayakan Lebaran. Salah satu kenangan paling berkesan baginya adalah ketika sekolah meliburkan siswa pada Tahun Baru Imlek (Sincia) agar mereka bisa saling bersilaturahmi ke rumah teman yang merayakannya. Ketiadaan pengelompokan eksklusif (geng-gengan) mendidik Zuryati —saat ini Director of PSO Stakeholder Management, PT Danantara Asset Management — untuk cakap mengelola kebersamaan dalam keberagaman di dunia kerja.
Nilai disiplin yang konsisten dan tegas, menurut Natalia Firmansyah (IKAXA 1993), sangat berperan penting dalam membentuk fondasi karakter dirinya untuk menghadapi kehidupan setelah sekolah. Kedisiplinan yang ia bawa dari masa sekolah ini kemudian ia terapkan di dunia kerja. Natalia disiplin dalam menetapkan target pribadi dan milestone karier yang jelas setiap tahun (misalnya, target promosi atau peningkatan kapasitas diri dalam beberapa tahun). Kedisiplinan untuk terus fokus pada target inilah yang sukses meraih posisi puncak sebagai CFO, dan kini pelaksana tugas CEO Bukalapak.
Chichi Soelaiman Pramudita (IKAXA 1984) mengakui bahwa nilai disiplin dalam segala aspek dan nilai toleransi dari SMA Xaverius 1 menjadi fondasi penting yang terus ia bawa dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan menjadi prinsip kepemimpinannya saat menjabat sebagai Ketua Umum IKAXA 2023-2027.
Bagi Tinny Bambang Utoyo (IKAXA 1974), kenangan di SMA Xaverius 1 Palembang pada tahun 1970-an adalah kenangan tentang sekolah yang kental dengan nilai toleransi, kesetaraan, dan mutu pendidikan yang tinggi. Tinny sangat membanggakan atmosfer kebersamaan, dan toleransi yang begitu murni dan setara seperti saat dia bersekolah dulu. Selama bersekolah di SMA Xaverius Maria di Jalan Kolonel Atmo, Tinny —Ketua Umum IKAXA 2011–2019 — menyerap berbagai nilai toleransi dan kebersamaan yang mendalam yang terus dipegang teguh hingga kini. Sekolah mengajarkan siswa-siswi tentang kesetaraan tanpa sekat. Tinny belajar untuk melihat semua orang secara setara. “Di lingkungan sekolah, tak ada batasan atau jurang pemisah antara siswa yang berpunya dan yang tidak berpunya. Semua murid bergaul secara setara dan merasa bahagia bersama,” ungkap Tinny — yang juga putri ke-5 (alm) Jenderal TNI (Anumerta) Bambang Utoyo, mantan Kepala Staf Angkatan Darat.
Agus J. Alwie (IKAXA 1976) berharap almamaternya dapat bersinar kembali sebagai SMA favorit di Sumatera Selatan. AJA —nama panggilannya—berpendapat bahwa nilai-nilai SMA Xaverius 1 Palembang yang sampai sekarang masih melekat di hati AJA adalah kemajemukan dan heterogenitas. “Sekolah ini tidak membeda-bedakan suku, agama, bahkan tingkat sosial,” kata AJA, Ketua Umum IKAXA 2019-2023.
Artha Theresia Silalahi (IKAXA 1981) mengungkapkan, sejak dulu sekolah Katolik ini telah menanamkan nilai-nilai universal tentang kemajemukan dan gender, yang melampaui zamannya. “Saat itu kan belum mengenal isu gender, tetapi Xaverius sudah menanamkan nilai-nilai ini melalui contoh-contoh nyata,” ungkap Artha Silalahi, saat ini Ketua Pengadilan Tinggi Bangka Belitung.
Lingkungan SMA Xaverius 1 Palembang yang sangat beragam dari segi suku, agama, hingga latar belakang ekonomi, mengajarkan arti penting toleransi. Pengalaman membaur ini membuat Burlita Chan (IKAXA 1982) memiliki kemampuan interpersonal yang baik dan luwes dalam bergaul dengan siapa saja, tanpa memandang golongan, hingga saat ini.
Nilai kedisiplinan dan kekompakan yang didapatkan Apri Reza Factoni (IKAXA 1979) atau Tony Tatung selama di SMA Xaverius 1 Palembang menjadi fondasi karakter yang terus dibawanya hingga berhasil membangun kariernya. Selain itu, nilai kekompakan sangat melekat pada dirinya sejak masa SMA, salah satunya terbentuk dari kebiasaannya bermain sepak bola bersama teman-temannya di lapangan belakang sekolah. Tony menerapkan nilai kekompakan ini ke dalam dunia bisnis, karena ia meyakini bahwa sebuah perusahaan sangat membutuhkan kekompakan tim untuk bisa berjalan dengan baik.
Pengalaman di SMA memberikan fondasi mental yang kuat bagi Annisa Ayu Soraya (IKAXA 2004), membangun rasa tanggung jawab yang tinggi serta kepercayaan diri, yang sangat penting saat menghadapi dunia profesional yang dinamis. Annisa — saat ini Vice President of Research and Product Development, PT IDSurvey (Persero)— selalu beradaptasi dengan kondisi apa pun, tidak mudah menyerah, dan memiliki kemauan keras untuk terus belajar. Berbagai nilai ini membuat Annisa menyadari bahwa bekal yang ia dapatkan dari SMA Xaverius 1 Palembang jauh melampaui sekadar prestasi akademis.
Bagi David Brendi (IKAXA 2012), YouTuber GadgetIn, kedisiplinan membentuk karakter dan etos kerja melalui tanggung jawab serta penerimaan konsekuensi. David memiliki pengalaman berkesan saat duduk di bangku kelas 3 SMA ketika ia terlambat untuk pertama kali dan terkena razia. Awalnya ia kesal dan tidak terima, namun wali kelasnya memberikan pemahaman yang meluruskan pola pikirnya. Ia diajarkan bahwa jika memang berbuat salah, seseorang harus mau menyadari dan menerima konsekuensinya dengan lapang dada.
Bagi Diana Kartika Arma (IKAXA 1986) — saat ini Rektor Universitas Bung Hatta Padang, nilai-nilai kedisiplinan, kerapian, kebersihan, dan kekompakan yang ditanamkan oleh guru-guru SMA Xaverius 1 Palembang adalah fondasi utama yang membentuknya menjadi sosok pemimpin yang tangguh dan memiliki kemampuan membangun jaringan (networking).
Hari Susanto (IKAXA 1984) berpendapat, SMA Xaverius 1 Palembang harus tetap mempertahankan nilai-nilai kemajemukan dan toleransi. Diakuinya, sekolah Katolik tidak pernah mempermasalahkan suku, agama, ras, dan golongan. Hari yang pernah menjadi salah satu petinggi di Grup MNC ini berpendapat, kiprah IKAXA sebagai wadah alumni juga luar biasa dan memuji alumni Xaverius yang solid dan tetap berkomitmen memajukan almamater serta memperhatikan guru-guru yang sudah pensiun.
Joe Taslim (IKAXA 1999) mengungkapkan, tingkat kedisiplinan yang tinggi dan keseriusan akademis di SMA Xaverius 1 merupakan modal utama yang membentuk dirinya menjadi generasi yang siap berkompetisi di dunia kerja. “Sekolah harus mempertahankan nilai-nilai luhur seperti kedisiplinan dan semangat belajar yang tinggi. Namun, sekolah juga harus adaptif terhadap perkembangan zaman dengan memperbarui infrastruktur dan merangkul teknologi modern,” kata Joe Taslim, yang dikenal sebagai bintang film laga dan model iklan.
Bagi Mel Ahyar (IKAXA 1999), kenangan paling membekas selama di SMA Xaverius 1 adalah tingginya rasa toleransi antarmurid. Meskipun sekolahnya Katolik, siswa-siswanya berasal dari berbagai latar belakang budaya dan agama yang sangat beragam, mulai dari keturunan Tionghoa-Palembang (Chindo), Batak, Jawa, Minang, hingga daerah lainnya. “Rasa toleransi di sekolah ini luar biasa tinggi. Kita benar-benar bermain dan belajar bareng tanpa memandang perbedaan agama atau suku,” kenang Mel, kini dikenal sebagai perancang busana kelas internasional.
Di SMA Xaverius 1 Palembang, Safrita Aryana (IKAXA 1984) dipertemukan dengan lingkaran pertemanan yang sangat beragam. Rita, pendiri IdeaRun, belajar hidup berdampingan dengan teman-teman dari berbagai latar belakang agama—mulai dari Katolik, Protestan, Buddha, hingga Islam. Lingkungan inklusif ini menanamkan pola pikir (mindset) yang kuat di dalam dirinya tentang indahnya hidup dalam keberagaman serta pentingnya menjunjung tinggi toleransi. “Saya akan terus membawa semangat Santo Fransiskus Xaverius, Keep The Spirit Alive, dalam IdeaRun,” kata Rita.
Bagi Urgyen Rinchen Sim (IKAXA 1993), nilai kedisiplinan yang ia peroleh di SMA Xaverius 1 sangat berguna dalam membentuk karakter hidupnya. Sim, yang pernah menjadi promotor tinju yang melahirkan juara tinju dunia Chris John, Daud Yordan, dan Ongen Saknosiwi, sangat bangga terhadap almamaternya.
Dokter Wirya Ayu Graha (IKAXA 2005) menekankan bahwa pendidikan di SMA Xaverius 1 Palembang sangat membekalinya dengan karakter yang kuat untuk masa depannya sebagai dokter spesialis bedah jantung. “SMA Xaverius 1 mendidikku dengan keras untuk memiliki daya juang yang tinggi serta selalu menaruh rasa hormat kepada orang lain, guru, dan sekolah. Nilai-nilai di SMA mengajarkanku untuk menjadi pribadi yang baik kepada sesama, tidak egois, tidak saling menjegal rekan sejawat (‘makan teman“), dan mampu bekerja sama dengan baik di dunia kerja,” katanya.
Jejak kegemilangan Yulie Nasution (IKAXA 1984) bermula dari tempaan keras di SMA Xaverius 1 Palembang. Memasuki SMA pada awal 1980-an identik dengan memasuki Kawah Candradimuka, sekolah Katolik papan atas yang menuntut ketangguhan mental di tengah standar akademis yang nyaris tak kenal kompromi. Yulie, pemilik galeri lukisan di Kemang, mengakui etos kerjanya berakar pada “Disiplin Xaverian”— larangan terlambat meski hanya 5 menit dan beban tugas yang masif.
Kenangan yang membekas dan paling berkesan bagi Yundi Tenggono (IKAXA 1990) selama di SMA Xaverius 1 Palembang adalah saat mengikuti retret di kelas 2, sebuah kegiatan di luar rutinitas sekolah. “Kegiatan itu sangat bermanfaat karena berhasil meningkatkan rasa disiplin, toleransi, dan kebersamaan yang sangat kuat antarteman tanpa membedakan suku, agama, ras, dan status sosial keluarga. Sejak retret tersebut, hubungan pertemanan menjadi lebih dekat dan akrab,” cerita Yundi, Strategic Enterprise Channel Director – PT Realta Chakradarma Indonesia.
Bagi Yufrizal Ari (IKAXA 1991), toleransi di SMA Xaverius 1 bukanlah sekadar jargon, melainkan praktik budaya yang mendarah daging. Sebagai murid Muslim di sekolah Katolik, Ari —fotografer profesional dan perencana perjalanan — merasakan langsung bagaimana sekolah menciptakan ruang aman bagi keberagaman melalui pelajaran Budi Pekerti. Praktik toleransi ini termanifestasi dalam tradisi sanjo, yaitu saling berkunjung lintas agama saat Lebaran, Natal, maupun Imlek (Sincia).
Mengenang Guru-guru Berdedikasi Tinggi
Bagi Budi Karya Sumadi (IKAXA 1975), sosok guru yang paling berkesan dan menginspirasinya adalah Pak Tarcisius Soedadi (atau biasa dipanggil Pak Dadi), kepala SMA Xaverius pada masa Budi bersekolah. “Pak Dadi adalah figur pemimpin sekolah yang sangat teduh dan bertutur kata lembut. Selain pembawa kesejukan, Pak Dadi sangat mengenal murid-muridnya dan menaruh perhatian (atensi) khusus kepada siswa-siswa yang bukan dari kalangan berpunya maupun siswa yang bukan yang paling pintar. Waktu itu saya sangat merasakan kebaikan dan apresiasi dari beliau,” cerita Budi Karya, yang pernah menjabat Menteri Perhubungan RI.
Marzuki Alie (IKAXA 1973) mengingat momen paling menentukan menjelang kelulusannya dari SMA Xaverius 1 Palembang pada tahun 1973. “Pastor memanggil orang tua saya, dan menyarankan agar saya tidak masuk ke Fakultas Kedokteran. Alasan pastor adalah bahwa saya memiliki karakter yang berani mengambil risiko, suka mencoba-coba, dan berjiwa bisnis,” ceritanya. Marzuki Alie, yang pernah menjabat sebagai Ketua DPR RI. Marzuki baru menyadari 20 tahun kemudian, betapa tepatnya saran pastor untuk masa depannya. Dunia kedokteran adalah bidang yang sangat ketat dan harus selalu berbasis bukti (evidence-based)—suatu bidang yang tidak memperbolehkan tindakan coba-coba. Sebaliknya, karakter Marzuki yang berani mengambil risiko dinilai jauh lebih cocok untuk dunia bisnis. Dalam bisnis, risiko merupakan hal yang biasa dihadapi selama masih dapat dihitung dan dimitigasi.
Idrus Alwi (IKAXA 1980) menilai, Pak Kinardi adalah guru terbaik (the best) meskipun memiliki kebiasaan unik mengajar sambil merokok di kelas. “Kehebatan Pak Kinardi tidak hanya dirasakan di dalam kelas, tetapi juga diakui secara luas karena beliau termasuk salah satu guru yang diperhitungkan di tim nasional sebagai guru yang bagus,” papar Idrus, guru besar Kedokteran dari Universitas Indonesia.
Iswandi Imran (IKAXA 1982) mengagumi kualitas para guru SMA Xaverius 1 yang sangat pintar dibandingkan dengan sekolah lain, seperti Pak Joko (Goneometri), Pak Sandhya (Kimia), Pak Kinardi (Fisika), dan Pak Noersinggih (Aljabar). “Metode pengajaran guru-guru Xaverius membentuk fondasi yang kuat. Siswa belajar menggunakan buku-buku klasik seperti Goneometri dan Stereometri, tanpa mengandalkan buku paket. Ini sangat baik karena memberi fondasi yang sangat kokoh,” cerita Iswandi, guru besar dan pakar konstruksi dari ITB.
Menurut Djono Darmaputera (IKAXA 1983), guru-guru SMA Xaverius 1 Palembang memiliki karakter yang kuat dan sangat menjunjung tinggi integritas serta kejujuran. Nilai-nilai ini tidak hanya menjadi kenangan masa sekolah, tetapi juga bertransformasi menjadi fondasi utama bagi Djono dalam menjalani kehidupan dewasa dan membangun bisnis kopinya, “Kopi Benua”, yang telah menembus pasar global.
Sebagai angkatan pertama SMA Xaverius Palembang, Pisi Lukitto (IKAXA 1954) dan beberapa teman seangkatannya selalu bersama-sama bersekolah sejak SD, SMP, hingga SMA Xaverius. Pisi, guru besar kedokteran, mengungkapkan bahwa dia sangat menghormati guru-gurunya. Salah satu yang paling diingat adalah seorang frater asal Belanda yang mengajar ilmu alam. Sebagai wujud rasa cintanya kepada almamater, Pisi Lukitto selalu menyempatkan diri untuk mampir ke SMA Xaverius 1 setiap kali pulang dari liburan kuliahnya di Jakarta.
Peran guru dan nilai kedisiplinan di SMA Xaverius 1 memiliki kontribusi yang sangat besar dalam merintis jalan dan membentuk karakter Timothy Otniel Adi Kristara (IKAXA 2024) hingga meraih kesuksesan sebagai juara sambo. Dua sosok guru yang berperan langsung dalam mengarahkan dan mendukung karier atletik Timothy adalah Pak Khewel Sembiring— guru olahraga— dan Pak Richardus Prasetyo (Eko) — guru PKN dan Kesiswaan.
Robert Adhi Ksp (IKAXA 1982) —saat ini penulis 35 buku — berterima kasih kepada Pak Sjahroelsjam, guru Bahasa Indonesia, yang jeli melihat talenta dan bakatnya dalam menulis, kemudian mengarahkannya untuk mengelola majalah GITA sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Di sinilah, hobi dan bakatnya tersalurkan dengan sangat baik. Sejak itu, Adhi Ksp sudah tahu bahwa masa depannya adalah menjadi jurnalis dan penulis. Memulai menulis sejak usia remaja di majalah GITA, Adhi Ksp hingga kini masih menikmati dan menekuni hobinya sebagai penulis buku. Sesuai renjana (passion)-nya, Adhi sudah tiga kali dilibatkan dalam penulisan buku alumni SMA Xaverius 1 Palembang, yaitu pada 2026 (75 tahun SMA), 2011 (60 tahun SMA), dan 1991 (40 tahun SMA).
Sejak di bangku SMA Xaverius 1 Palembang, minat dan bakat seni Erwan Suryanegara (IKAXA 1983) sudah menonjol. Erwan menjadi ilustrator di majalah sekolah GITA. Tugasnya, membuat ilustrasi untuk setiap cerpen atau puisi yang dikirimkan oleh siswa lain. Erwan sempat tidak naik kelas karena kenakalannya. “Kebebasan berekspresi dan disiplin baris-berbaris di SMA telah membentuk karakter positif serta memotivasi saya untuk terus maju,” kata Erwan, doktor bidang seni rupa ITB, dan pencipta logo IKAXA.
Ketika bersekolah di SMA Xaverius 1 Palembang (1993-1996), Sandra Constantine (IKAXA 1996) aktif dalam kegiatan ekskul, di antaranya menjadi anggota Paskibraka, PPSK (OSIS), regu gerak jalan, serta selalu dipercaya menjadi ketua kelas setiap tahun. Masa sekolah itu membentuk kedisiplinan dan mental kepemimpinan Sandra yang kuat. Saat ini Sandra yang menetap di Singapura, menekuni bidang BaZi.
IKAXA Harus Menjadi Jaringan Alumni Bangau yang Kuat
“IKAXA lahir secara informal di sebuah kamar kos di Grogol, Jakarta Barat. Sekitar 10 orang berdiskusi, dan akhirnya memutuskan untuk membentuk wadah ikatan alumni ini,” cerita Pryadi, kini Direktur Vinilon. Dalam dokumen administrasi organisasi yang dibuat dengan ketikan di stensilan, tercantum bahwa Edward Pryadi (IKAXA 1980) menjabat sebagai ketua umum pertama IKAXA di Jakarta (saat itu masih gabungan sekolah pagi dan sore). Sebagian besar alumni Bangau di Jakarta yang terlibat di IKAXA saat itu berstatus mahasiswa, dan sebagian besar kuliah di Universitas Trisakti.
Agustinus Tan (IKAXA 1992) berharap IKAXA dapat berkembang menjadi jaringan alumni yang kuat dan saling mendukung. Reuni dan silaturahmi akan memiliki dampak yang lebih besar bila berkembang menjadi jejaring profesional yang membantu sesama alumni dalam dunia kerja, usaha, maupun pengembangan masyarakat. Agustinus, saat ini CEO Laman Mining dan Group CEO Taeyang, berharap IKAXA terus melaksanakan kegiatan sosial dan memperhatikan para guru yang telah berjasa dalam mendidik para siswa. Baginya, guru adalah profesi yang sangat mulia, dan sepantasnya mendapatkan apresiasi serta dukungan dari alumni.
Bernardus Buntomi (IKAXA 1985), pengusaha garmen, melihat IKAXA memiliki potensi luar biasa dengan jumlah anggota sekitar 30.000 orang. Agar berdampak nyata bagi alumni dan masyarakat, IKAXA diharapkan menjadi jembatan kolaborasi lintas generasi. Alumni senior yang mapan dapat menyediakan modal (fund), jaringan (network), dan bimbingan, sementara alumni junior yang produktif berkontribusi sebagai tenaga penggerak sekaligus memanfaatkan jaringan tersebut untuk mengembangkan diri. “IKAXA perlu mendirikan badan usaha berbadan hukum yang dikelola secara profesional, menjadi sumber pendanaan mandiri, dan menyediakan lapangan kerja profesional bagi para alumni,” katanya.
Novan Ivanhoe (IKAXA 1989) menitipkan pesan kuat kepada IKAXA agar terus memperkuat jaringan profesional. Dia mendorong kolaborasi konkret, seperti dukungan bagi alumni yang memasuki masa purna tugas—mengambil inspirasi dari model kemitraan strategis dengan perusahaan seperti Japfa untuk pemberdayaan ekonomi. Novan —saat ini Kepala Perwakilan RI di Myanmar — berharap IKAXA tidak hanya menjadi wadah nostalgia, tetapi juga mesin kolaborasi antargenerasi.
Andika Sutedja (IKAXA 1992) berharap IKAXA tumbuh menjadi ekosistem belajar dan jaringan kolaborasi yang sangat dinamis serta relevan dengan perkembangan zaman. “Kontribusi alumni tidak hanya didominasi oleh mereka yang sukses di bidang sains atau akademis, melainkan juga lintas industri (multiple industries). Setiap alumni yang berkecimpung di sektor perbankan, ekspor, manufaktur, otomotif, hingga teknologi, memiliki talenta dan pengalaman berharga, yang perlu dibagikan untuk memotivasi serta menjadi teladan nyata bagi siswa-siswi SMA,” kata Andika, Initiator, Founder & Shareholder PT Smart Meter Indonesia; PT Aruna Energie Semesta; PT Harapan Energie Indonesia.
Then Sik Kwang (IKAXA 1993), saat ini Employee Success Director – The Access Group, berharap IKAXA sebagai komunitas alumni bukan sekadar jaringan pertemanan biasa, tetapi juga fondasi pembentukan karakter kepemimpinan dan sarana kolaborasi profesional lintas generasi yang dapat menunjang kesuksesan karier alumni.
Vincent Kohar (IKAXA 1992) berharap sistem komunikasi IKAXA dirancang agar lebih sederhana. Aliran informasi harus dipastikan lancar agar seluruh alumni tetap mendapatkan kabar terbaru (update) tentang kegiatan alumni. Karena mengumpulkan ribuan alumni sekaligus tidak mudah, koordinasi harus dilakukan melalui klaster-klaster kecil (koordinator angkatan). Deputi Direktur PT Dua Kelinci ini berharap koordinator angkatan dapat lebih aktif dan diselaraskan sebagai bagian dari tim inti kepengurusan. Hal ini penting agar tidak terjadi miskomunikasi saat menyebarkan program kerja kepada angkatan masing-masing. IKAXA bisa lebih menggalakkan pengelolaan Instagram secara konsisten, aktif membagikan kegiatan alumni secara berkelanjutan—tidak hanya ramai saat ada acara besar. Dengan demikian, nama dan eksistensi IKAXA akan terus terjaga di hati para anggotanya.
Buku ini juga memuat segmen yang mengupas Dana Pensiun Guru. Di sini, alumni berbagi kasih dengan menyisihkan rezeki untuk membantu guru-guru dan karyawan sekolah yang purnabakti, termasuk membantu mereka saat sakit dan membutuhkan pertolongan. Dana Pensiun Guru merupakan bukti betapa alumni SMA Xaverius 1 Palembang tetap memuliakan guru-guru yang telah mendidik dengan cinta, dan membentuk karakter mereka sejak usia remaja — yang menjadi fondasi bagi keberhasilan karier di masa dewasa.
Serpong, September 2026
Robert Adhi Ksp (IKAXA 1982)
Penulis Buku & Ketua Tim Redaksi Buku
NB: Yang berminat memesan buku ini, hubungi Instagram IKAXA @ikaxaofficial. Buku ini diluncurkan pada acara Reuni Akbar 75 Tahun SMA Xaverius 1 Palembang di Balai Samudera, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Sabtu 7 November 2026.
SUMBER: Laman Pustaka KSP Kreatif

