Arsip Tag: Kompas Gramedia

Universitas Multimedia Nusantara Bangun Menara Ketiga


Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang berlokasi di Gading Serpong, Tangerang, membangun menara (tower) ketiga. Ground breaking menara ini diadakan Senin (18/1/2016) pagi.

Menara ketiga kampus UMN akan memiliki 18 lantai dengan ketinggian hingga 80 meter. Menara ini dapat menampung lebih dari 5.000 mahasiswa dan ditargetkan rampung pada Agustus 2017. Menara ini mengusung konsep hemat energi. Banyak ruang terbuka menggunakan ventilasi udara alam yang masih sejuk sehingga penggunaan AC dikurangi.

UMN2
Dari kanan ke kiri: Komisaris Utama PT Medialand dan Komisaris Kompas Gramedia Irwan Oetama; Ketua Yayasan Medialand Teddy Surianto; Thomas Sigit; Budiman (arsitek); dan Rektor UMN DR Ninok Leksono. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Kampus baru UMN ini akan menggunakan double skin yang memungkinkan pengelola gedung mengendalikan intensitas cahaya dan panas matahari yang masuk ke ruangan sehingga ruangan dingin dan terang. Menara ini juga menggunakan roof garden sehingga kampus UMN tetap asri dan udara tetap sejuk. Cerobong-cerobong udara memanfaatkan perbedaan tekanan udara dan membuat basement tak perlu lagi menggunakan kipas listrik.

Kampus baru UMN akan dilengkapi dengan fasilitas laboratorium Program Studi Teknik Fisika, Teknik Elektro, Teknik Arsitektur, dan Lecture Theatre. Juga sarana olahraga indoor, di antaranya lapangan basket, lapangan futsal, dan lapangan bulu tangkis.

Mengapa mendirikan UMN?

Irwan Oetama, Komisaris Kompas Gramedia dan Komisaris Utama PT Medialand, menjelaskan, Jakob Oetama, pendiri Kompas Gramedia dan juga pendiri UMN, selalu peduli dengan UMN dan selalu menanyakan kabar terbaru UMN.

”Pak Jakob selalu mengatakan bahwa beliau dulu seorang guru. Demikian juga Pak PK Ojong dan Pak IJ Kasimo. Seorang romo kemudian memberikan nasihat kepada Pak Jakob bahwa guru sudah banyak, tetapi yang menjadi wartawan masih sedikit. Karena itu, Pak Jakob memilih menjadi wartawan. Setelah mengelola perusahaan Kompas Gramedia, Pak Jakob selalu menempatkan diri sebagai wartawan, bukan pengusaha,” papar Irwan Oetama, salah satu putra Jakob Oetama.

”Di usia senjanya, Pak Jakob berpikir sudah waktunya beliau juga memiliki universitas. Teman-temannya, yaitu almarhum Pak Frans Seda, mendirikan Universitas Katolik Atma Jaya; almarhum Pak PK Ojong mendirikan Universitas Tarumanagara. Almarhum Pak IJ Kasimo mendirikan LPPM (Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Manajemen). Pak Jakob ingin mendirikan universitas. Beliau ingin ada sesuatu yang ditinggalkan untuk bangsa dan negara ini,” ungkap Irwan lagi.

UMN3.jpg
Irwan Oetama, Komisaris Kompas Gramedia. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

”Pak Jakob mengingatkan kami bahwa surat kabar, majalah, hotel, toko buku ada masanya. Pemiliknya bisa berganti. Tetapi, kepemilikan universitas tetap,” kata Irwan.

Lanjutkan membaca Universitas Multimedia Nusantara Bangun Menara Ketiga

Iklan

ICE dan Gairah MICE di Indonesia


ROBERT ADHI KSP

Indonesia Convention Exhibition, gedung konvensi dan ekshibisi yang dibangun di lahan seluas 22 hektar di kawasan BSD City, Tangerang, Banten, akan menggairahkan industri MICE (meeting, incentive, conference, and exhibition) di Indonesia.

Indonesia Convention Exhibition (ICE) yang kini memiliki luas 117.257 meter persegi dan kelak akan memiliki luas sampai 200.000 meter persegi merupakan gedung konvensi dan ekshibisi terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Jika ICE diperluas hingga 200.000 meter persegi, gedung konvensi dan ekshibisi itu akan berada di posisi dua besar di Asia, di bawah China Import and Export Fair Complex di Guangzhou, Tiongkok (338.167 meter persegi).

Indonesia Convention Exhibition (ICE) merupakan gedung MICE terbesar di Asia Tenggara. Dibangun di lahan seluas 22 hektar di BSD City, Tangerang, Banten, ICE menjadi ikon MICE dan kebanggaan Indonesia. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KSP
Indonesia Convention Exhibition (ICE) merupakan gedung MICE terbesar di Asia Tenggara. Dibangun di lahan seluas 22 hektar di BSD City, Tangerang, Banten, ICE menjadi ikon MICE dan kebanggaan Indonesia.
FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KSP

Saat ini ICE memiliki luas 117.257 meter persegi dan menjadi gedung konvensi dan ekshibisi terbesar dan terluas di Asia Tenggara, serta salah satu yang terbesar di Asia. ICE di atas Singapore Expo (SGExpo) seluas 92.000 meter persegi, Suntec Singapore International Convention & Exhibition Centre (82.000 meter persegi), Jakarta International Expo (JIExpo) yang memiliki luas 74.171 meter persegi, Hongkong Convention and Exhibition Center (HKCEC) seluas 72.991 meter persegi, dan Jakarta Convention Center (JCC) seluas 35.000 meter persegi.

Jika luasnya sudah 200.000 meter persegi, posisi ICE akan berada di atas Shanghai New International Expo Centre di Shanghai, Tiongkok (199.741 meter persegi), IMPACT Exhibition and Convention Center di Nonthaburi, Thailand (140.283 meter persegi), Guangdong Modern International Exhibition Center di Dongguan, Tiongkok (116.128 meter persegi), KINTEX di Goyang-si, Korea Selatan (108.696 meter persegi), China International Exhibition Center di Beijing, Tiongkok (106.838 meter persegi), Shenzhen Convention & Exhibition Center di Shenzhen, Tiongkok (104.980 meter persegi), Singapore Expo Convention Center (100.335 meter persegi), Tokyo Big Sight di Tokyo, Jepang (80.825 meter persegi), dan Cotai Expo di Makau (75.251 meter persegi).

Namun, berapa pun posisi ICE di Asia, yang pasti kehadiran ICE di BSD City bakal menggairahkan industri MICE di Indonesia dan Asia. ICE dioperasikan oleh Deutsche Messe, perusahaan operator global asal Jerman yang diakui dunia. Deutsche Messe adalah organizer pameran dagang terkemuka, di antaranya Hannover Messe, CeBIT, CeMAT, Domotex, dan LIGNA. Deutsche Messe juga operator Shanghai New International Expo Centre (SNIEC), venue paling sukses di Asia.

Saat ini ICE memiliki sepuluh ruangan dengan luas total 50.000 meter persegi; ruang konvensi seluas 4.000 meter persegi, berkapasitas 10.000 orang; 33 ruang rapat berbagai ukuran; area outdoor seluas 50.000 meter persegi; dan area selasar seluas 12.000 meter persegi.

Indonesia Convention Exhibition (ICE) memiliki ruang konvensi (grand ballroom) seluas 4.000 meter persegi. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KSP
Indonesia Convention Exhibition (ICE) memiliki ruang konvensi (grand ballroom) seluas 4.000 meter persegi.
FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KSP

Lanjutkan membaca ICE dan Gairah MICE di Indonesia

Obesitas dan Ancaman Ekonomi Global


ROBERT ADHI KSP

Obesitas kini menjadi masalah kesehatan publik yang lebih besar dibandingkan kelaparan. Lebih dari 2,1 miliar penduduk dunia atau hampir 30 persen dari populasi global mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Menurut Global Burden of Disease Study yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan Inggris, The Lancet, jumlah itu hampir dua setengah kali jumlah orang dewasa dan anak-anak yang kekurangan gizi.

Obesitas menyumbang angka 5 persen penyebab kematian di seluruh dunia karena obesitas meningkatkan risiko penyakit diabetes, jantung, stroke, dan kanker. Pada 2010, kelebihan berat badan dan obesitas telah menyebabkan 3,4 juta orang meninggal.

Krisis ini tidak hanya merupakan tekanan besar bagi dunia kesehatan, tetapi juga merupakan ancaman bagi ekonomi global. Menurut penelitian terbaru McKinsey Global Institute (MGI), dampak obesitas terhadap ekonomi secara keseluruhan mencapai 2 triliun dollar AS per tahun atau sekitar 2,8 persen dari produk domestik bruto dunia. Ini setara dengan kerusakan ekonomi yang disebabkan oleh kebiasaan merokok atau kekerasan bersenjata, perang, dan terorisme (How the world could better fight obesity, McKinsey & Company, November 2014).

Obesitas

Problem ini akan makin memburuk terutama jika kecenderungan ini terus berlanjut. Hampir setengah dari populasi orang dewasa di dunia akan mengalami kelebihan berat badan atau obesitas pada 2030. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) Margaret Chan menyatakan, ”Tak satu pun negara yang berhasil mengatasi epidemi obesitas di semua kelompok umur.”

Studi The Lancet menunjukkan, di seluruh dunia proporsi indeks massa tubuh (body mass index/BMI) orang dewasa meningkat pada periode 1980-2013 dari 28,8 persen menjadi 36,9 persen untuk laki-laki dan dari 29,8 persen menjadi 38 persen untuk perempuan. Padahal, indeks massa tubuh normal antara 18,5 persen dan 25 persen.

Di Indonesia, lebih dari 40 juta orang dewasa mengalami obesitas. Modernisasi telah membuat asupan kalori penduduk Indonesia tidak seimbang, demikian kata Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Ekowati Rahajeng (Kompas, 2 Juni 2014).

Tingkat obesitas penduduk Indonesia, menurut BBC, berada di urutan ke-10 dunia, setelah Amerika Serikat, Tiongkok, India, Rusia, Brasil, Meksiko, Mesir, Jerman, dan Pakistan.

Diatasi secara komprehensif

Menurut Organisasi untuk Kerja Sama dan Pengembangan Ekonomi (Organization for Economic Cooperation and Development/OECD), epidemi global ini tidak terbatas pada negara maju. Di negara berkembang yang sebagian penduduknya baru keluar dari kemiskinan, kegemukan menjadi masalah baru. Lebih dari 60 persen penderita obesitas di dunia hidup di negara berkembang. Industrialisasi dan urbanisasi yang pesat meningkatkan pendapatan dan asupan kalori penduduk. Di India dan Tiongkok, misalnya, prevalensi obesitas di kota-kota 3-4 kali lebih tinggi dibandingkan di desa-desa.

Sampai tahun 1980, satu dari 10 orang mengalami obesitas di negara-negara yang tergabung dalam OECD. Tiga dekade kemudian, angka ini naik dua-tiga kali lipat.

Penelitian terbaru OECD menyebutkan, pada 2014, satu dari lima anak mengalami kelebihan berat badan atau obesitas di negara-negara di wilayah OECD. Epidemi obesitas menyebar dalam lima tahun terakhir, meningkat 2 persen-3 persen di Australia, Kanada, Perancis, Meksiko, Spanyol, dan Swiss. Namun, angka obesitas mulai relatif stabil di Inggris, Italia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

Lanjutkan membaca Obesitas dan Ancaman Ekonomi Global

Media Baru, Peluang Baru dan Bisnis Baru


Media Baru

ROBERT ADHI KSP

Perkembangan internet telah melahirkan banyak peluang bisnis baru dan media baru dengan berbagai kreativitas baru. Bukan hanya mengubah dunia media ”mainstream”, tetapi juga dunia periklanan. Suka tidak suka, itulah yang terjadi. Perubahan di depan mata harus dihadapi, baik oleh pelaku media maupun pelaku periklanan dan bidang terkait lainnya.

”Apa yang terjadi pada masa depan sangat bergantung pada apa yang kita lakukan sekarang,” kata Anand Tilak, Country Head of Facebook Indonesia saat berbicara dalam Asia Pacific Media Forum (APMF) 2014 yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, 19-20 September.

Ucapan Tilak seakan ingin menegaskan, bila pada saat ini kita tidak mempersiapkan diri, kita akan digilas zaman. Facebook sendiri sudah memanfaatkan perkembangan secara cerdas. Dengan jumlah pengguna Facebook di dunia yang sudah mencapai 1,23 miliar, Facebook menjadi salah satu media baru yang digemari pengguna internet. Iklan-iklan yang dipasang di Facebook termasuk yang disukai pengguna media sosial. Potensi pengguna Facebook asal Indonesia yang jumlahnya 70 jutaan, membuat perusahaan ini membuka kantor cabangnya di Jakarta.

Lanjutkan membaca Media Baru, Peluang Baru dan Bisnis Baru

Writing is the Painting of the Voice

%d blogger menyukai ini: