Soebronto Laras: Tetap Cinta Industri Otomotif


Gambar

ROBERT ADHI KSP

Nama Soebronto Laras identik dengan industri otomotif, Indomobil, dan Suzuki. Di tangan dialah merek Suzuki berkibar di Indonesia. Lelaki kelahiran Jakarta, 5 Oktober 1943, itu hingga kini masih tetap menjabat ”chairman” sejumlah perusahaan di grup Indomobil, perusahaan yang didirikannya tahun 1975.

Soebronto pensiun dari Indomobil tahun 2008, tetapi masih dipercaya menjabat komisaris utama. ”Saya tidak lagi terlibat langsung. Sebagai komisaris utama, saya lebih banyak mengawasi dan memberikan nasihat. Namun, saya masih tetapngantor di Wisma Indomobil. Dengan pengalaman saya sekian lama, masih banyak mitra Jepang yang menemui saya,” cerita Soebronto Laras dalam percakapan dengan Kompas di Jakarta, Selasa (11/2) sore.

Sebagai Muslim, Soebronto selalu bangun pukul 04.30. Setelah shalat Subuh, dia berolahraga pagi. Dalam seminggu, Soebronto tiga kali main tenis dan dua kali bersepeda. Porsi jarak bersepeda dikurangi dari 100 kilometer menjadi 80 kilometer. ”Saya merasa fit, sementara banyak kawan seumuran yang sekarang menggunakan tongkat saat berjalan,” katanya.

Soebronto dibesarkan dalam keluarga terdidik. Ayahnya, Murdono, pengusaha otomotif, sementara ibunya, Sjamsidar, campuran Padang-Palembang, anggota DPR dan pekerja sosial. Bengkel otomotif Djanaka Motor milik ayahnya di Jalan KH Wahid Hasyim (sekarang menjadi Gedung Jaya). Dia besar di sana. Di samping rumahnya terletak pabrik kecap Cap Bango.

Kini usianya mencapai 70 tahun. Soebronto Laras masih aktif sebagai Ketua Dewan Penasihat Gaikindo dan AISI, Chairman Indomobil Group, salah satu Ketua Apindo, Ketua Kompartemen Multilateral KADIN, Wakil Komisaris Utama dan Pemimpin Perusahaan Bisnis Indonesia, Dewan Pembina Yayasan Cikini (bersama Ibu Mega), dan Pembina Jakarta Cycling Club.

Berikut petikan wawancara dengan Soebronto Laras.

Dalam usia 70 tahun, Anda masih terlihat segar dan bugar. Apa rahasianya?

Rahasianya sederhana, hidup sehat. Pikiran banyak, tetapi saya tidak membawanya saat pulang ke rumah. Kawan-kawan masih hang-out, minum wine, saya memilih tidur cepat. Saya pulang ke rumah pukul tujuh malam dan tidur pukul sembilan malam.

Selain itu saya tidak makan nasi putih. Saya memilih nasi merah dengan sayuran. Dan yang paling penting adalah jangan terbuai pada kondisi ”siapa saya”. Saya pernah menjabat presiden direktur selama lebih 30 tahun. Apakah saya punya ajudan dan asisten? Tidak. Saya ke mana saja check insendiri. Dengan begitu saya bisa mengecek sendiri apakah layanan penerbangan dan imigrasi bagus. Saya biasakan mengurus sendiri.

Banyak pengusaha yang sudah berlaku seperti pejabat. Saya menganggap tidak perlu begitu.

Anda dikenal sebagai pengusaha otomotif. Bagaimana Anda dulu memulainya?

Saya sudah hampir 40 tahun di Indomobil. Saya yang membesarkan industri Suzuki pada 1975. Indomobil makin besar setelah bergabung dengan Grup Salim. Awalnya saya bekerja sama dengan bos kasino Atang Latif alias Apiang. Dia pemodalnya yang punya duit waktu itu. Kami besarkan industri Suzuki.

Ini salah satu kontribusi terbesar saya dalam sejarah industri otomotif di Indonesia. Saya membawa Pak Atang masuk kelas internasional. Dari sebelumnya mengelola judi, Pak Atang berkembang menjadi pengusaha nasional. Pada 1977, dia membangun apartemen di Singapura. Waktu itu belum ada pengusaha nasional berinvestasi di sana.

Saya mendampingi Pak Atang yang tak punya latar belakang ekonomi, tapi memiliki intuisi bisnis dan berani mengambil risiko. Pak Atang mengelola kasino, saya membantu mengembangkan industri plastik untuk komponen otomotif, dengan membuat kabinet radio untuk mobil.

Tahun 1976, merek Suzuki berkembang. Demikian pula merek VW dan Audi, yang awalnya dikelola Kostrad, dan Nissan dikelola Pepabri. Karena kondisi usaha mereka tak bagus, kami ambil alih. Tahun 1981, kami ambil alih Mazda dan Hino dari kelompok usaha Hasjim Ning. Di bawah Indomobil, merek-merek itu dikenal dan bangkit kembali.

Ketika pada 1982 semua kasino ditutup, saya menyarankan agar Indomobil dijual ke kelompok Salim yang waktu itu lebih mapan. Indomobil akhirnya makin berkembang.

Tahun 1990, saya sudah mengembangkan mobil rakyat, Mazda MR. Sejak itu Indomobil identik dengan otomotif. Banyak pengusaha asing mengajak kami bekerja sama.

Saat krisis moneter 1997-1998, industri otomotif nasional mengalami malapetaka. Semua perusahaan nasional yang besar-besar, yang berinvestasi, sudah setengah bangkrut. Semuanya sudah patah semangat karena nilai utang naik berlipat ganda.

Butuh dua tahun sampai kondisi mulai pulih. Tapi utang, ya, utang, harus tetap dibayar.

Krisis ini berdampak pada kepemilikan pabrik otomotif. Kelompok kami Suzuki, Hino, Mazda, dan Nissan berpindah tangan. Tadinya partnership, kemudian diambil alih. Ini dialami semua pengusaha otomotif.

Anda masih aktif di Gaikindo dan AISI?

Saat ini saya Ketua Dewan Pembina Gabungan Agen Tunggal Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI). Awalnya Gaikindo itu Gaakindo (Gabungan Agen Tunggal Assembler Kendaraan Bermotor Indonesia). Saya yang ubah menjadi Gaikindo untuk mengubah kesan seolah hanya sebagai perakit (assembler), padahal kita sudah mengarah pada industri pembuat kendaraan bermotor. Demikian pula AISI itu dulu Pasmi (Perhimpunan Agen Tunggal Assembler Sepeda Motor Indonesia).

Saya yang memulai menggelar pameran mobil. Awalnya di Jakarta Hilton Convention Center (JHCC). Waktu itu belum ada event organizer seperti Dyandra. Kami merangkap penyelenggara.

Sekarang pameran mobil makin besar. Lokasi pameran pindah ke Kemayoran. Saat pameran di JHCC, kami diomeli terus karena kemacetan lalu lintas merambat hingga Semanggi. Nanti pameran mobil akan pindah ke BSD, ke lokasi yang lebih luas. Tapi saya berharap akses ke lokasi baru nanti semakin mudah.

Peluang apa yang bisa dimanfaatkan dalam Pasar Bebas ASEAN tahun 2015 ?

Jabatan saya saat ini ASEAN Business Adviser untuk Pemerintah Indonesia. Untuk mempersiapkan pasar bersama ASEAN 2015, para pelaku industri di Indonesia harus mempersiapkan industri yang andal agar bisa bersaing. Pasar bersama ASEAN ini memiliki pasar lebih banyak dengan 600 jutaan penduduk.

Salah satu yang dipersiapkan adalah industri otomotif. Mobil murah yang diproduksi di Indonesia akan cocok diekspor ke Laos, Vietnam, Myanmar, dan Kamboja. Pendapatan per kapita negara-negara itu relatif masih rendah dengan upah rata-rata 700 dollar AS.

Toyota-Daihatsu, Honda, Suzuki, dan Nissan Datsun memproduksi mobil murah masing- masing 5.000 unit sebulan atau total 25.000 unit sebulan. Sebagian besar akan diekspor ke negara-negara ASEAN. Toyota sudah mengekspor 500 unit mobil murahnya ke Filipina. Menperin Pak Hidayat meminta agar 100 persen komponen otomotif mobil murah dibuat di Indonesia. Sekarang masih 80 persen.

Mobil murah menambah kemacetan. Komentar Anda?

Jangan salahkan kami, dong! Industri otomotif selama ini sudah memberikan kontribusi pajak bernilai triliunan rupiah per tahun, mulai dari pajak kendaraan bermotor, pajak pertambahan nilai, bea masuk. Lalu, setiap kota dan kabupaten menarik 10-20 persen dari harga mobil untuk bea balik nama STNK setiap kendaraan bermotor.

Tahun 2013 pendapatan industri otomotif Rp 230 triliun. Kalau dihitung jumlah pemasukan pemerintah dari pajak mobil dan motor sekitar Rp 70 triliun sampai Rp 80 triliun. Coba Anda bayangkan, bila uang sebanyak itu digunakan untuk membangun infrastruktur jalan baru dan membangun transportasi massal yang aman dan nyaman. Jumlahnya puluhan triliun! Seharusnya uang itu dikembalikan pemerintah dengan membangun jalan baru dan menyediakan angkutan umum yang nyaman seperti MRT dan monorel. Hampir semua kota di dunia melakukannya, tetapi Jakarta?

Anda melihat peluang pasar otomotif masih besar?

Masih sangat besar. Industri otomotif Indonesia masuk ke pasar ASEAN, selain domestik. Kita lihat pemerintah sudah mempersiapkan MP3EI. Masterplan ini luar biasa. Kalau industri otomotif Indonesia bisa ikut, bagus karena anggarannya Rp 1.500 triliun. Konsepnya pembangunan infrastruktur. Bisa dibayangkan jenis kendaraan yang dibutuhkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur.

Saya mengkritik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang mengimpor bus gandeng transjakarta dari China. Mengapa DKI tidak menggunakan bus buatan dalam negeri? Industri otomotif dalam negeri, kan, lebih mengerti kebutuhan Jakarta.

SUMBER: DI MANA DIA SEKARANG, KOMPAS SIANG DIGITAL, SABTU 15 FEBRUARI 2014

Iklan