Lee Ritenour, Gitaris Jazz Dunia, Sang “Captain Fingers”


Lee Ritenour

ROBERT ADHI KSP

Dikenal dengan sebutan ”Captain Fingers” karena kepiawaiannya bermain gitar, Lee Ritenour adalah gitaris jazz, musisi, dan komposer asal Amerika Serikat yang terkemuka sejak awal 1970-an. Ritenour juga dikenal sebagai salah satu personel grup jazz kontemporer Fourplay yang berjaya pada 1990-an. Setelah kembali berkarier solo, Ritenour tetap berkibar dalam kancah musik jazz.

Nama Ritenour (62) dikenal dengan sangat baik oleh penggemar jazz di Indonesia. Beberapa kali dia tampil dalam panggung pesta jazz tahunan Java Jazz di Jakarta. Pada Mei 2014, Ritenour bahkan tampil di Kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Ritenour produktif mencipta lagu. Sebanyak 19 lagu ciptaannya pernah mendapat nominasi Grammy Award, termasuk karya kolaborasinya bersama pianis Dave Grusin ”Harlequin” (1985). Lebih dari 30 lagu jazznya masuk dalam tangga lagu jazz kontemporer sejak 1976.

Lahir di Los Angeles, California, Amerika Serikat, pada 11 Januari 1952, Lee Mack Ritenour mulai bermain gitar pada usia 8 tahun dan memutuskan untuk menekuni musik ketika usianya 12 tahun.

Orangtua Ritenour mendukung cita-citanya dan mendorong anaknya belajar kepada beberapa guru gitar terbaik di California selatan. Pada usia 15 tahun, dia bergabung dengan band The Esquires.

Ketika musisi John Phillips (alm) yang juga promotor musik mendengar permainan Ritenour, dia langsung mengundangnya bermain dalam grup bandnya, The Mamas & The Papas.

Dia tampil untuk kali pertama di depan publik pada usia 16 tahun bersama grup band tersebut dan menciptakan lagu ”Captain Fingers” yang kemudian menjadi sebutan bagi dirinya. Taste Ritenour mulai disukai.

 

Ritenour memiliki passion khusus pada jazz dan menyebut nama gitaris jazz Wes Montgomery (alm) sangat memengaruhinya. Untuk menghormati Wes Montgomery, Ritenour menciptakan ”Wes Bound” dalam album bernama sama yang dirilis tahun 1993. ”Wes Bound” merupakan karya Ritenour yang menginterpretasikan musik Wes Montgomery. Ritenour juga menyebut nama-nama gitaris-gitaris jazz Joe Pass (65), Kenny Burrell (83), dan John McLaighlin (72) memengaruhi musiknya.

Sejak usia 18 tahun, selama lima tahun, Ritenour bermain bersama artis prestisius, seperti Lena Horne (alm) dan Tony Bennett (88).

Ritenour sempat berhenti sejenak untuk melanjutkan studi di University of Southern California, tempat dia belajar gitar klasik kepada Christopher Parkening. Dua setengah tahun kemudian, Ritenour kembali melanjutkan kariernya di bidang musik. Dia pernah meraih predikat ”Alumnus of the Year” dari almamaternya.

Sampai pertengahan 1970-an, Ritenour adalah musisi top di Los Angeles. Beberapa artis yang pernah berkolaborasi dalam album Lee Ritenour di antaranya Steely Dan, Pink Floyd, Barbra Streisand, Aretha Franklin, Carly Simon, Bobby ”Blue” Bland, Natalie Cole, the Bee Gees, dan Quincy Jones, demikian pula musisi jazz Sonny Rollins, Dizzy Gillespie, Alphonso Johnson, dan Stanley Turrentine.

Ritenour dua kali meraih penghargaan sebagai Best Studio Guitarist versi majalah Guitar Player pada tahun 1970-an. Dia menggunakan gitar Gibson ES-335 dan Gibson L5.

Ritenour juga memiliki minat pada musik Brasil dan Latin. Dia pernah berduet bersama Sergio Mendes pada 1973 dan membuat album rekaman bersama Flora Purim, Gato Barbieri, dan Paulinho Da Costa.

Pada 1976, Ritenour mulai membuat album solo pertamanya First Course yang bergenre crossover jazz dan jazz pop. Album ini menunjukkan musik funk/jazz yang kuat pada pertengahan 1970-an.

Ritenour merilis album The Captain’s Journey (1978) dan Feel the Night (1979). Dalam album-album ini, Ritenour memperlihatkan kepiawaiannya bermain gitar Gibson ES-335.

Pada 1985, Ritenour merekam ”Harlequin” bersama pianis Dave Grusin. Keduanya sering berkolaborasi. Berkat ”Harlequin”, Ritenour bersama Dave Grusin menerima Grammy Award pada 1986 untuk kategori Best Arrangement on an Instrumental.

Di sini, Ritenour memperlihatkan kepiawaiannya memainkan gitar akustik klasik. Album ini juga menampilkan penyanyi dan penulis lagu asal Brasil, Ivan Lins.

Ritenour memiliki dua video promosi untuk lagu-lagunya, ”Is It You” dan ”Mr Briefcase” yang diputar selama hari-hari pertama MTV. Dalam berbagai jajak pendapat di seluruh dunia, Ritenour selalu berada di posisi puncak.

Grup Fourplay
Pada 1990, Ritenour membentuk grup band jazz kontemporer paling sukses, Fourplay, bersama pemain keyboard Bob James, pemain bas Nathan East, dan penabuh drum Harvey Mason.

Grup band itu merilis album pertama Fourplay pada 1991. Album itu, tak terduga, sangat laris, terjual satu juta keping dan bertengger di posisi pertama tangga lagu jazz kontemporer Billboard selama 33 minggu.

Dua tahun kemudian, album Fourplay Between the Sheets dirilis pada 1993, juga menangguk sukses setelah bertengger di posisi puncak, menerima predikat gold dan meraih nominasi Grammy.

Pada 1994, grup Fourplay merilis album ketiga Elixir. Mengulang sukses album pertama dan kedua, album ketiga ini pun mencapai posisi pertama tangga lagu jazz kontemporer Billboard, bahkan bertahan di daftar tangga lagu selama lebih dari 90 minggu!

Pada 1997, grup ini merilis album kompilasi The Best of Fourplay berisi lagu-lagu terbaik dari tiga album Fourplay sebelumnya. Fourplay meraih sukses komersial berkat menggabungkan elemen R&B dan pop dalam album-album mereka.

Setelah Ritenour keluar dari Fourplay pada 1998, posisi Ritenour digantikan Larry Carlton. Pada 2010, Larry Carlton keluar dan digantikan gitaris Chuck Loeb.

Berkarier solo
Setelah berpisah dari Fourplay, Ritenour sibuk dengan jadwal yang padat, mengerjakan proyek solo dan proyek bersama Dave Grusin dan Bob James. Dia melanjutkan merilis album dan tampil dalam konser-konser di seluruh dunia.

Pada 2005, Ritenour merilis album Overtime yang terdiri atas 13 lagu. Dia memberi sentuhan swing pada lagu pembuka, ”Boss City”, ciptaan Wes Montgomery, gitaris yang selama ini memengaruhi musik-musiknya.

Ritenour juga memberi sentuhan mellow pada lagu kedua ”Blue in Green” karya Miles Davis. Ritenour mengajak peniup terompet jazz Chris Botti berkolaborasi dalam ”Papa was a Rolling Stone”.

Album Ritenour Smoke n’ Mirrors yang dirilis Agustus 2006 menambah legasinya. Dalam album ini, putranya, Wesley, membuat debut dan muncul sebagai penabuh drum pada usia ke-13.

Pada Juni 2010, untuk merayakan 50 tahun berkarya sebagai gitaris, Ritenour merilis album Six String Theory. Album ini menampilkan sejumlah gitaris terkenal di antaranya Steve Lukather, Neal Schon, John Scofield, Slash, Pat Martino, BB King, George Benson, Keb’ Mo’, Mike Stern, serta gitaris muda Andy McKee, Joe Robinson, dan Guthrie Govan.

Pada 2012, Ritenour merilis album kolaborasi, menampilkan artis tamu Dave Grusin, Stanley Clarke, George Duke, Chick Corea, dan Patrice Rushen.

Sungguh jalan yang panjang sejak 1970-an ketika Ritenour muncul setiap Selasa malam di klub jazz Baked Potato yang terkenal di Studio City, Los Angeles, dengan band bersama Dave Grusin, Patrice Rushen, Harvey Mason, dan Ernie Watts, selama lima tahun.

Eric Clapton, Jeff Beck, George Benson, Al Jarreau, Joe Sample, bahkan Bob Dylan dan Joni Mitchell terlihat dalam deretan penonton yang bertahan di klub jazz itu hingga dini hari.

Sepanjang karier, Ritenour memainkan musik dengan berbagai gaya.

Sebagai fusionis sejati, dia sering menggabungkan elemen-elemen funk, pop, rock, blues, dan irama Brasil.

Dari rock hingga blues dan jazz, itulah diversifikasi musik Ritenour. Itu semua menjadi landasan bagi lebih dari 3.000 penampilannya sebagai gitaris.

(LEERITENOUR.COM/ALLABOUTJAZZ.COM/ALLMUSIC.COM)

 

SUMBER: DIMANA DIA SEKARANG, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SABTU 4 OKTOBER 2014

Iklan