Siapa yang meledakkan Bangkok?


ROBERT ADHI KSP

Bangkok diguncang ledakan bom. Senin (17/8) pukul 18.55, Kuil Erawan, tempat ibadah masyarakat Hindu yang berlokasi di jantung kota Bangkok di persimpangan Phloen Chit dan Ratchadamri Road, dibom. Sampai Selasa (18/8) pagi, tercatat 22 orang tewas dan 100-an orang lainnya luka-luka. Sejauh ini belum ada pihak yang bertanggung jawab atas insiden ini.

Kepala Kepolisian Thailand Jenderal Somyot Pumpunmuang menilai serangan bom itu sebagai aksi yang kejam yang menargetkan warga sipil yang tak berdaya.

Situs berita Thailand “The Nation” Selasa pagi menyebutkan bahwa polisi Thailand saat ini memburu seorang tersangka dengan wajah Timur Tengah yang terlihat meninggalkan sebuah tas di Kuil Erawan sesaat sebelum terjadi ledakan bom.

Lelaki itu terekam dalam kamera pengintai yang terpasang di kawasan kuil. Setelah meletakkan tas, lelaki itu berdiri dan menekan ponselnya, kemudian bergegas menjauh dari area (The Nation, “Arab-like man seen leaving bag at Erawan shrine before explosion”, 18 Agustus 2015).

Bangkok Blast

Sejumlah warga negara asing termasuk korban yang tewas. Kedutaan Besar Tiongkok di Bangkok seperti dikutip kantor berita Xinhua menyebutkan dua warga negara Tiongkok tewas dalam insiden itu (Bangkok Post, “City Bomb Horror”, 18 Agustus 2015).

Situs berita Singapura, The Straits Times, menyebutkan, seorang perempuan Singapura termasuk dalam daftar korban tewas setelah sebelumnya mengalami luka serius. Korban tewas lainnya selain dari Tiongkok dan Singapura berasal dari Hongkong, Malaysia, dan Filipina. Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong dalam akun Facebook-nya menyebutkan beberapa warga negara Singapura menjadi korban serangan bom di Bangkok (The Straits Times, “Bangkok Blast: Singaporean Woman Among Those Killed”, 18 Agustus 2015).

Sementara situs berita Malaysia, “The Star”, menyebutkan, dua warga negara Malaysia termasuk yang menjadi korban tewas. (The Star, “Two Malaysians Killed in Bangkok Blast”, 18 Agustus 2015).

Lokasi ramai

Ledakan terjadi di dekat Patung Brahmana di kuil itu pada malam yang penuh dengan pekerja komuter yang baru pulang kerja dan wisatawan yang sebagian di antaranya mengunjungi kuil itu. “Tiba-tiba terjadi ledakan keras dan seluruh ruangan berguncang, seperti seseorang menaruh bola raksasa di atap gedung,” kata Pim Noyomwan, instruktur asal Inggris yang bekerja di lantai delapan gedung yang bersebelahan dengan kuil tersebut.

Bom itu bertujuan membunuh banyak orang karena kuil itu selalu ramai sekitar pukul 18.00-19.00, kata juru bicara Kepolisian Thailand, Prawut Thavornsiri, kepada AFP, Selasa. Empat belas orang tewas seketika di lokasi kejadian. Delapan lainnya menyusul setelah dirawat di rumah sakit.

Apa yang dapat kita ketahui dari peristiwa ledakan bom di Bangkok itu? Dr Jeff Moore, CEO Muir Analytics, perusahaan yang menganalisis pemberontakan, teror, dan kekerasan politik terhadap korporasi, dan pernah bertugas di Pentagon, memberikan analisisnya di situs The Diplomat.

Pertama, melihat lokasi dan waktu ledakan, para penyerang bertujuan agar ledakan bom menimbulkan jumlah korban yang tinggi.

Dari sisi lokasi, Kuil Erawan sangat ramai karena terus-menerus dipenuhi wisatawan dan jemaah. Lokasinya berada di persimpangan yang sibuk, di kawasan belanja paling populer di Thailand, di bawah Skywalk/Skytrain (dekat stasiun kereta Chitlom), dan dekat dengan sejumlah restoran dan Hotel Grand Hyatt. Ratusan orang melintasi kuil itu setiap 30 menit setiap hari. Menariknya, kuil itu bersebelahan dengan Rumah Sakit Polisi dan berdekatan dengan markas kepolisian.

Jam pada kamera pengintai (CCTV) menunjukkan, ledakan terjadi pukul 18.55 ketika orang di Bangkok sudah pulang kerja dan keluar pada malam hari.

Kedua, penempatan perangkat peledak juga mengindikasikan para penyerang menginginkan dampak yang besar. Ledakan terjadi di dalam garis pagar kuil. Ini terlihat dari foto-foto yang diambil pasca ledakan.

Di luar di jalan terlihat sepeda motor yang hancur dan dipotong setengah. Ini mengindikasikan bahwa mereka sangat dekat dengan ledakan. Ini juga menunjukkan salah satu sepeda motor dijadikan perangkat bom meski Polisi Thailand menyatakan bom ditaruh di lokasi oleh penyerang, bukan di sepeda motor. Selain itu, terdapat satu sepeda motor yang terbalik dengan kondisi tidak terlalu rusak. Ini berarti jaraknya agak jauh dari lokasi ledakan. Ini memberikan kecurigaan tambahan bahwa ada sepeda motor lain yang berpotensi sebagai operator bom.

Bagian inti kuil tidak mengalami kerusakan. Namun, daya ledak bom berdampak langsung. Beberapa korban ledakan yang tewas dalam kondisi mengenaskan.

Belum ada laporan lebih lanjut tentang jenis bom yang digunakan, tetapi yang pasti berkekuatan penuh. Bom komersial atau bom militer tidak dapat dikesampingkan. Pada saat yang sama, pemberontak di Thailand selatan memproduksi beberapa bom berdaya ledak tinggi dari amonium nitrat dan bahan bakar minyak, yang biasa disebut sebagai ANFO. Bom jenis ini biasa digunakan pihak komersial atau militer sebagai pemacu ledakan.

Dalam waktu 24 jam atau kurang setelah bom meledak, residu ledakan akan mengungkap jenis senyawa yang digunakan. Pihak berwenang akan tahu lebih dahulu sebelum publik. Namun, tentunya terlalu dini untuk menyalahkan pihak-pihak tertentu.

Beberapa kemungkinan

Salah satu kemungkinan adalah serangan bom ini dilakukan kelompok anti pemerintah, faksi radikal “Kaos Merah” atau “Red Shirt”, pendukung mantan Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra, yang digulingkan junta militer bulan Mei lalu. Jika itu benar, ini akan menjadi eskalasi yang mengejutkan.

Bagaimanapun serangan pembakaran mereka di Bangkok dan provinsi lainnya telah menyebabkan kerusakan properti yang dahsyat, tetapi tidak menimbulkan korban jiwa yang besar. Serangan yang menyebabkan kerusakan yang hebat dan korban jiwa yang banyak seperti ini akan menyebabkan faksi utama kelompok merah kehilangan moral yang tinggi di mata publik Thailand.

Kemungkinan lainnya adalah serangan bom ini dilakukan kelompok separatis di Thailand selatan yang menjadi pemberontak melawan pemerintah selama beberapa dekade terakhir.

Jika ini serangan pemberontak, hal itu juga mewakili eskalasi utama konflik tersebut. Meski tidak jelas mengapa pemberontak memilih waktu untuk melakukan serangan, mereka sebelumnya sudah pernah melakukan serangan di luar zona pemberontakan. Pada Mei 2013, faksi mahasiswa yang diduga pemberontak meledakkan bom di sebelah Universitas Ramkhamhaeng. Sel pemberontak lainnya menyerang Danok dan Phuket pada 2014.

Sesuai hipotesis ini, serangan terhadap kuil Hindu atau Buddha menjadi sasaran utama kaum radikal di wilayah selatan negeri itu.

Baik kelompok kaos merah maupun pemberontak menekan pemerintah agar menerima tuntutan mereka. Kerusakan terhadap ekonomi Thailand, industri pariwisata, dan reputasi pemerintah yang berkuasa merupakan keuntungan bagi kelompok-kelompok tersebut.

Melihat jumlah korban yang relatif banyak, serangan teror ini merupakan salah satu yang terburuk- jika bukan yang terburuk- dalam sejarah Bangkok dan salah satu yang terburuk dalam sejarah Thailand. Ini menimbulkan pertanyaan bagi kedua kelompok itu, kelompok kaos merah ataupun kelompok pemberontak, apakah mereka mau mengambil risiko atas jumlah korban yang banyak dan konsekuensi lainnya.

Kemungkinan lainnya adalah ledakan ini dilakukan oleh kelompok teror berbeda atau faksi politik lainnya. Bisa saja itu pekerjaan kelompok NIIS. Jika benar, mengapa Thailand yang jadi sasaran? Dan, mengapa sekarang?

Kemungkinan lainnya, serangan bom mungkin juga dilakukan oleh orang yang mengalami gangguan jiwa. Itu mungkin saja terjadi mengingat kuil itu pernah menjadi sasaran orang sakit jiwa. Pada 21 Maret 2006 dini hari, kuil itu dirusak seorang lelaki Thailand bernama Thanakorn Pakdeepol yang diketahui mengalami sakit mental. Pakdeepol kemudian dipukuli sampai mati oleh dua penyapu jalanan yang marah dengan aksi perusakan itu. Dua bulan kemudian, patung Brahma yang baru dipasang di kuil itu.

Dibangun 1956

Kuil Erawan dibangun pada 1956 untuk mengeliminasi karma buruk yang diyakini terjadi karena pembangunan Hotel Erawan yang dilakukan salah tanggal. Pembangunan hotel sempat ditunda karena terjadi serangkaian insiden di antaranya biaya yang membengkak, pekerja yang luka-luka, tenggelamnya kapal yang membawa marmer Italia untuk gedung itu.

Pakar astrologi menyarankan pemerintah membangun kuil untuk menangkal pengaruh buruk. Setelah didesain, Patung Brahma dibangun pada 9 November 1956. Sejak itu konstruksi hotel diselesaikan tanpa insiden. Pada 1987 Hotel Erawan dirobohkan dan lokasinya digunakan untuk Grand Hyatt Erawan, sampai sekarang.

Siapa sebenarnya yang meledakkan kuil Erawan? Apa motifnya? Siapa yang ingin membuat Bangkok serta Thailand rusuh dan membuat warganya resah? Siapa yang ingin membuat warga asing yang datang ke Thailand takut dan pada gilirannya menghancurkan industri pariwisata negeri itu?

Semoga Kepolisian Thailand segera mengungkap kasus peledakan bom di Bangkok itu.

SUMBER: KOLOM, KOMPAS PRINT.COM, SELASA 18 AGUSTUS 2015

Iklan