Berhenti “Ngantor”, Artha Capai Kebebasan Finansial Lewat Bisnis Properti


ROBERT ADHI KSP

YULIARTA Sianturi, Co-Founder, The Premium Property (konsultan dan pengembang properti) dan Direktur PT Bangun Multikreasi Selaras (perusahaan furnitur), pada awalnya arsitek di salah satu perusahaan pengembang terkemuka di Indonesia. Lulusan Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, ini menangani sejumlah proyek besar di Jakarta. Namun, pada suatu hari pada saat Artha-nama panggilannya-hamil tujuh bulan, suaminya, Bintang Sitompul, terbaring di rumah sakit selama hampir dua bulan karena sakit di bagian pencernaannya yang tak kunjung sembuh.

Dalam kondisi hamil anak keduanya, Artha setiap hari Senin sampai Sabtu naik kereta rel listrik dari Bintaro ke kantornya di kawasan Jakarta Kota. Dia juga harus memikirkan pengobatan suaminya yang sakit keras dan berpikir bagaimana melunasi biaya rumah sakit.

Pada saat itulah Artha berpikir ada yang salah dalam hidupnya. Selama ini dia sibuk mengejar karier untuk menjadi arsitek yang top. Karya-karya arsiteknya antara lain ITC Fatmawati Jakarta, Kota Bunga Cipanas, Four Season Plaza Batam, Wisma Eka Jiwa, Borobudur Intercontinental Hotel Jakarta, rumah mewah di Pantai Indah Kapuk, Cirendeu dan Pondok Indah Jakarta.

Yulia Sianturi

Dia menghadiri rapat-rapat penting agar proyek properti yang dikerjakan cepat selesai. Tetapi, ketika suaminya jatuh sakit, dia harus memilih, merawat suaminya yang tak kunjung sembuh atau tetap menghadiri rapat-rapat di kantor? Dia tak mungkin tidak masuk kantor setiap hari karena perusahaannya juga membutuhkan tenaga dan pikirannya. Namun, suaminya yang terbaring lemah lebih membutuhkan perhatiannya. Dia merasa Tuhan menegurnya.

Artha bertanya dalam hatinya, apakah ada cara lain di luar bekerja “9 to 5”? Artha belum punya role model yang bisa dicontoh dalam keluarga besarnya karena latar belakang keluarganya dan keluarga suaminya semua bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Ayahnya PNS di Kejaksaan, sedangkan ayah mertua PNS dan ibu mertuanya guru bahasa Indonesia. “Bapak dan ibu berpesan agar anak-anaknya menjadi PNS. Hanya saya yang menjadi arsitek di perusahaan swasta, tetapi belum ada yang bekerja di perusahaan swasta atau menjadi wirausaha,” ceritanya.

Setelah baca “Rich Dad Poor Dad”

Perempuan kelahiran Tondano, 9 Juli 1969, itu tidak putus asa. Dia sudah terbiasa hidup mandiri. Ketika kuliah di UGM Yogyakarta, perempuan yang belajar piano sejak kelas 6 SD itu pernah membuka les piano untuk mendapatkan tambahan uang kuliah. Setelah menikah dan bekerja, perjalanan hidup tidak selalu mulus. Tetapi, Artha menghadapi masa-masa sulit itu dengan mengikuti berbagai seminar dan membaca banyak buku, di antaranya buku Robert Kiyosaki, “Rich Dad Poor Dad”.

Selain itu, dia mencoba bisnis sendiri mulai dari agen asuransi, MLM, hingga bermain saham. Setelah 11 tahun bekerja di perusahaan properti, pada 2003 Artha akhirnya memutuskan untuk keluar dan menjadi agen properti di kawasan elite Pondok Indah. Artha diajak teman kuliahnya, Thomas Sugiarto, untuk bergabung di waralaba miliknya, Century 21. Saat itu kantor tersebut adalah kantor cabang pertama di Indonesia yang berlokasi di Pondok Indah.

Selama beberapa tahun Artha meraih prestasi sebagai top agent, pemasar properti yang sukses di tingkat nasional. Dia selalu masuk dalam Top Agent Based on Commision, bahkan mencapai peringkat 5 besar nasional dari 2.000 agen properti di seluruh Indonesia.

Sejak itu, dia makin memahami seluk-beluk investasi properti berkelas dan bernilai arsitektur tinggi. “Padahal, saya tidak pernah berpikir terjun dalam dunia marketing. Saya berpikir profesi arsitek lebih bergengsi dibandingkan dengan marketer. Dalam pikiran saya sebelumnya, bekerja di dunia marketing adalah pilihan ke-1.000,” ungkapnya. Hal ini juga didasari karena Artha merasa dirinya tidak pintar bicara dan lebih suka menggeluti hal-hal teknis bangunan.

Namun, setelah bergelut dalam dunia properti, relasi Artha makin banyak, mulai dari pengusaha, politikus, artis, pejabat, sampai yang lainnya. “Bisnis properti adalah bisnis silaturahmi,” katanya. Bisnis properti, kata Artha, bukan sekadar menjual rumah.

“Saya harus menjaga kepercayaan klien. Saya tak pernah melakukan mark-updan mendapat komisi sesuai ketentuan,” ujarnya. “Ternyata ilmu marketingbukan soal bakat, tetapi suatu hal yang bisa dipelajari asal ada kemauan. Buktinya saya yang tidak pintar bicara bisa berhasil di bidang Marketing. Teman-teman kuliah dan teman kerja yang mengenal saya dulu sebagai seorang arsitek yang pendiam sangat heran dengan perubahan saya sekarang….”

Pada 2009, Artha dan suaminya yang pernah menempuh studi di University of California Los Angeles (UCLA) berangkat ke Beverly Hills, California, Amerika Serikat. Dia bertemu beberapa agen properti top di dunia dan belajar dari mereka. Artha juga meneliti psikologi para investor properti. Bagi sebagian orang, properti ibarat barang koleksi yang mencerminkan pribadi penghuninya. Karena itu, sebagian orang rela membayar harga untuk mendapatkan lokasi dan desain terbaik properti pilihannya.

Buka usaha sendiri

Ketika menjadi pemasar properti, dia mendapat pelajaran terbaik segala sesuatu tentang properti. Dia mengasah kepekaan dan kejeliannya menilai properti serta melihat potensinya. Artha banyak belajar dari pengusaha dan investor, bagaimana mengelola risiko, mengelola uang dari lembaga pembiayaan. Klien-kliennya merupakan guru yang terbaik. Mereka dengan senang hati membagi kiat-kiat yang tidak pernah diajarkan di mana pun.

“Suatu hari saya harus menjadi investor dan pengembang properti juga,” begitu tekadnya. “Selain itu, saya ingin membantu banyak orang untuk berani mengubah kehidupannya jadi lebih baik dengan menjadi seorang pemasar properti yang profesional” ujarnya.

Berbekal pengalamannya, pada 2011 Artha berani mengembangkan perusahaan sendiri, The Premium Property, dan sesuai namanya, menyasar kelas premium (niche market), yang belum banyak disentuh agen-agen properti lain. Perusahaannya memasarkan properti premium, mulai dari gedung perkantoran, rumah, pusat perbelanjaan, hotel, rumah sakit, sampai bank tanah. Artha juga terkadang menangani properti orang-orang Indonesia yang tinggal di luar negeri dengan bermitra dengan Southebys Realty di San Francisco dan mitra lain di Los Angeles.

“Para investor dan pembeli kami adalah orang-orang yang kami kenal secara personal,” kata Artha yang mengaku tidak terlalu sering beriklan karena modal utamanya adalah kepercayaan dan memahami analisis-teknis karena menyangkut privasi. Saat ini beberapa anggota tim marketing yang telah dirintis sejak awal telah membuktikan menjadi pemasar properti yang andal. Hal ini terbukti dengan perusahaannya telah meraih penghargaan Forward Thinker Company tingkat nasional dari salah satu situs properti terbesar di Indonesia pada Mei lalu.

Sebagai investor properti, Artha memulainya tahun 2006 sejak masih menjadi agen properti dengan berinvestasi di sebuah rumah kecil di Bintaro dengan pinjaman bank. Rumah itu direnovasi lalu sempat disewakan dan dijual kembali. Hal itu dilakukan terus-menerus sampai 2011. Beberapa rumah di Bintaro yang dibeli adalah rumah tua dengan kondisi memprihatinkan. Tetapi, Artha merenovasi total rumah-rumah tersebut sampai detail-detailnya dengan kualitas bangunan tinggi dengan model tropis minimalis yang punya keunikan/desainnya tidak pasaran sehingga mudah menarik minat pembeli karena relatif tidak banyak pesaing.

Setelah itu, Artha memberanikan diri mulai berinvestasi beberapa rumah di kawasan elite Pondok Indah, Kebayoran Baru, dan Kemang, beberapa di antaranya direnovasi dan dijual kembali, tetapi beberapa yang lain menjadi portofolio investasi pribadi yang menghasilkan passive income. Beberapa rumah yang dimiliki kini ada yang menjadi rumah kos, ada juga yang disewakan ke ekspatriat. Kini The Premium Property berpartner dengan seorang pengusaha dari daerah menjadi pengembang Naya Town House di kawasan Kemang Selatan. Artha juga mengembangkan proyek baru town house di Pondok Indah yang akan dibangun pada semester kedua 2015 ini.

“Banyak klien saya termotivasi berinvestasi di bidang properti setelah melihat contoh nyata pengalaman saya sebagai agen properti mereka. Meski dengan modal sangat terbatas, bahkan dengan pinjaman bank, jika dikelola dengan baik, bisnis properti sangat menjanjikan,” kata Artha. Beberapa kliennya bahkan menawarkan tanah milik mereka untuk diolah dan dimaksimalkan potensinya dengan sistem kerja sama atau bagi hasil.

“Saya terlibat langsung dalam pencarian lahan, pembuatan konsep dan desain, sampai strategi pemasaran. Latar belakang saya sebagai arsitek sangat membantu usaha ini. Saya harus punya kemampuan analisis finansial dan mengelola risiko, bukan sekadar berjualan dan harus tahu pasarnya siapa,” kata ibu dari Nadya Naulita (19) dan Raissa Cristabel (15) itu.

Artha membuktikan bahwa modal bukan hal utama dalam bisnis properti, tetapi harus dibarengi kerja keras, integritas, dan kejujuran, serta relasi yang luas. “Siapa pun bisa sukses asal dibekali niat baik, ketulusan, kejujuran, pengetahuan memadai, dan yang terpenting berserah kepada Tuhan,” kata Artha yang rutin bermain piano dan saat ini Artha juga memulai belajar bermain Cello sebagai bagian dari kegiatan pelayanannya. Dia mempunyai prinsip tidak ada kata-kata terlambat untuk mempelajari sesuatu yang baru, apalagi bertujuan untuk memuliakan Tuhan.

Perjalanan hidup yang diwarnai kesulitan telah menempa Artha menjadi perempuan tangguh dan berani. Ia pun dengan senang hati membagikan pengalamannya kepada siapa saja yang ingin mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Keberaniannya mengambil keputusan untuk mengubah jalan hidupnya pada saat-saat sulit, dan membuatnya berpikir ulang tentang pekerjaannya sebagai arsitek di perusahaan pengembang, telah mengantarnya menjadi wirausaha properti yang berhasil.

SUMBER: KOMPAS PRINT.COM, SABTU 8 AGUSTUS 2015

Iklan