ICE dan Gairah MICE di Indonesia


ROBERT ADHI KSP

Indonesia Convention Exhibition, gedung konvensi dan ekshibisi yang dibangun di lahan seluas 22 hektar di kawasan BSD City, Tangerang, Banten, akan menggairahkan industri MICE (meeting, incentive, conference, and exhibition) di Indonesia.

Indonesia Convention Exhibition (ICE) yang kini memiliki luas 117.257 meter persegi dan kelak akan memiliki luas sampai 200.000 meter persegi merupakan gedung konvensi dan ekshibisi terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Jika ICE diperluas hingga 200.000 meter persegi, gedung konvensi dan ekshibisi itu akan berada di posisi dua besar di Asia, di bawah China Import and Export Fair Complex di Guangzhou, Tiongkok (338.167 meter persegi).

Indonesia Convention Exhibition (ICE) merupakan gedung MICE terbesar di Asia Tenggara. Dibangun di lahan seluas 22 hektar di BSD City, Tangerang, Banten, ICE menjadi ikon MICE dan kebanggaan Indonesia. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KSP
Indonesia Convention Exhibition (ICE) merupakan gedung MICE terbesar di Asia Tenggara. Dibangun di lahan seluas 22 hektar di BSD City, Tangerang, Banten, ICE menjadi ikon MICE dan kebanggaan Indonesia.
FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KSP

Saat ini ICE memiliki luas 117.257 meter persegi dan menjadi gedung konvensi dan ekshibisi terbesar dan terluas di Asia Tenggara, serta salah satu yang terbesar di Asia. ICE di atas Singapore Expo (SGExpo) seluas 92.000 meter persegi, Suntec Singapore International Convention & Exhibition Centre (82.000 meter persegi), Jakarta International Expo (JIExpo) yang memiliki luas 74.171 meter persegi, Hongkong Convention and Exhibition Center (HKCEC) seluas 72.991 meter persegi, dan Jakarta Convention Center (JCC) seluas 35.000 meter persegi.

Jika luasnya sudah 200.000 meter persegi, posisi ICE akan berada di atas Shanghai New International Expo Centre di Shanghai, Tiongkok (199.741 meter persegi), IMPACT Exhibition and Convention Center di Nonthaburi, Thailand (140.283 meter persegi), Guangdong Modern International Exhibition Center di Dongguan, Tiongkok (116.128 meter persegi), KINTEX di Goyang-si, Korea Selatan (108.696 meter persegi), China International Exhibition Center di Beijing, Tiongkok (106.838 meter persegi), Shenzhen Convention & Exhibition Center di Shenzhen, Tiongkok (104.980 meter persegi), Singapore Expo Convention Center (100.335 meter persegi), Tokyo Big Sight di Tokyo, Jepang (80.825 meter persegi), dan Cotai Expo di Makau (75.251 meter persegi).

Namun, berapa pun posisi ICE di Asia, yang pasti kehadiran ICE di BSD City bakal menggairahkan industri MICE di Indonesia dan Asia. ICE dioperasikan oleh Deutsche Messe, perusahaan operator global asal Jerman yang diakui dunia. Deutsche Messe adalah organizer pameran dagang terkemuka, di antaranya Hannover Messe, CeBIT, CeMAT, Domotex, dan LIGNA. Deutsche Messe juga operator Shanghai New International Expo Centre (SNIEC), venue paling sukses di Asia.

Saat ini ICE memiliki sepuluh ruangan dengan luas total 50.000 meter persegi; ruang konvensi seluas 4.000 meter persegi, berkapasitas 10.000 orang; 33 ruang rapat berbagai ukuran; area outdoor seluas 50.000 meter persegi; dan area selasar seluas 12.000 meter persegi.

Indonesia Convention Exhibition (ICE) memiliki ruang konvensi (grand ballroom) seluas 4.000 meter persegi. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KSP
Indonesia Convention Exhibition (ICE) memiliki ruang konvensi (grand ballroom) seluas 4.000 meter persegi.
FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KSP

Lanjutkan membaca ICE dan Gairah MICE di Indonesia

Iklan

Sisca Soewitomo, Memasak dengan Cinta


ROBERT ADHI KSP

Ketika usianya masih lima tahun, Sis Cartica (66) atau akrab dipanggil Sisca sering membantu ibu dan neneknya membuat kue keju kering (kastengel), terutama menjelang Lebaran. Pengalaman dari dunia masak yang menyenangkan pada masa kecilnya itu membekas dalam hidupnya dan membuat perjalanan hidupnya penuh makna.

Pakar kuliner dan penulis buku masak, Sisca Soewitomo ketika bertamu ke kantor Bapak Jakob Oetama, Kamis 23 Julli 2015
Pakar kuliner dan penulis buku masak, Sisca Soewitomo ketika bertamu ke kantor Bapak Jakob Oetama, Kamis 23 Julli 2015

Semula, Sisca yang lahir di Surabaya, 8 April 1949, ini bercita-cita menjadi dokter. Setelah tamat dari SMA Negeri 4 Surabaya tahun 1968, dia sempat kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta. Namun, pada tahun kedua, Sisca menikah dengan Soewitomo Soeleiman dan dia memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah kedokteran.

Setelah menikah dan melahirkan anak pertamanya, Sisca melanjutkan kuliahnya agar dapat membantu ekonomi keluarga. Dia melanjutkan pendidikan ke Akademi Pariwisata Trisakti, Jakarta, dan lulus tahun 1976. Sejak 1977, Sisca menjadi asisten dosen di almamaternya kemudian menjadi dosen senior merangkap Kepala Bagian Humas, Kepala Bagian Pengabdian Masyarakat, dan Sekretaris Direktur Akademi (sampai 1991).

Jalan hidup Sisca memang bukan bergelut di ruang praktik ataupun di rumah sakit. Sisca justru asyik bergelut di dapur, di dunia masak-memasak. Sisca mendapatkan beasiswa di luar negeri, belajar di China Baking School di Taipei, Taiwan (1980), dan di American Institute of Baking di Kansas, Amerika Serikat (1983). Sejak itu, keahliannya dalam bidang kuliner makin mendalam.

”Saya sekarang menjadi ’dokter dapur’,” kata Sisca dalam percakapan dengan Kompas, Kamis (23/7), di Jakarta.

Sisca 270715

Lanjutkan membaca Sisca Soewitomo, Memasak dengan Cinta