ROBERT ADHI KSP

Berita utama dimuat 3 April 1995

April 1995, ketika Gubernur DKI Jakarta (waktu itu) Surjadi Soedirdja mengumumkan membentuk konsorsium untuk membangun kereta bawah tanah (subway) Blok M–Kota, saya (saat itu) bekerja sebagai pewarta bersemangat menulis berita tersebut yang menjadi headline halaman satu surat kabar Kompas. Tahun berikutnya, 1996, saya pernah menulis, “Seandainya Jakarta punya trotoar lebar seperti di Orchard Road”. Jalur pedestrian yang lebar dan nyaman di Singapura berkaitan dengan pembangunan stasiun kereta bawah tanah.

Subway Blok M–Kota direncanakan selesai dan beroperasi pada tahun 2000. Saya membayangkan pada pergantian abad, Jakarta akan menjadi kota modern yang memiliki sistem transportasi massal yang dibanggakan dengan jalur pedestrian yang lebar dan nyaman. Sayangnya, pada 1998, Indonesia masuk dalam jurang krisis moneter. Semua rencana penataan metropolitan Jakarta pun berantakan.

Gubernur Jakarta silih berganti, tetapi pembangunan transportasi massal masih sebatas wacana. Setelah Joko Widodo terpilih sebagai gubernur Jakarta pada Oktober 2012, terlihat titik terang. Jokowi berjanji merealisasikan pembangunan MRT Jakarta. Janji itu diwujudkannya ketika Jokowi memenangi pemilihan presiden pada 2014. 

Lima tahun kemudian, pada Maret 2019, MRT Jakarta fase ke-1 rute Lebak Bulus–Bundaran HI  resmi beroperasi. Pada tahun itu, Jokowi terpilih kembali sebagai Presiden RI. MRT menjadi lokasi rekonsiliasi dengan rivalnya di pilpres, Prabowo Subianto. Tidak mudah memang mewujudkan pembangunan transportasi massal di Jakarta. Namun, di tangan pemimpin yang tepat, semuanya dapat direalisasikan.

Menyaksikan Jakarta sudah mempunyai MRT yang bersih, tertib, nyaman, dan aman, saya merasa “wow”. Luar biasa. Naik MRT punya sensasi yang berbeda. Stasiun MRT relatif lebih bersih, tertib, dan sejuk. Sudah mirip stasiun kereta di Singapura dan Jepang.

Saya termasuk orang yang berpikir praktis, senang bepergian dengan transportasi publik. Saya memilih naik MRT jika perjalanan point to point, membuat janji di koridor Sudirman–Thamrin dan sekitarnya.

Sebelumnya saya sering naik KRL dari Rawabuntu ke Palmerah. Pada jam sibuk pagi dan sore/malam hari, penumpang KRL rela berdesak-desakan, berebut naik dan keluar kereta. Bahkan, saat itu penumpang bebas naik ke atap kereta (sebelum ditertibkan Ignasius Jonan, Dirut PT KAI saat itu). Penumpang KRL masih membeli tiket yang dilubangi petugas pemeriksa. Sampai kemudian tiba suatu masa, pengguna KRL diwajibkan menggunakan uang digital (Flazz BCA atau e-money bank pelat merah).

Kehadiran MRT membahagiakan banyak orang. Mengapa? MRT telah menciptakan peradaban baru dalam transportasi massal. Situasi di MRT sungguh berbanding terbalik dengan KRL. Penumpang KRL biasanya harus mempersiapkan pakaian pengganti mengingat untuk masuk kereta KRL penuh perjuangan dan keringat. Sedangkan penumpang MRT untuk masuk ke kereta, antre dengan tertib. Keluar dari kereta dan stasiun, mereka tetap wangi. Stasiun MRT selalu sejuk. Jika ada penumpang disabilitas dan atau lansia, penumpang yang lebih muda mempersilakan mereka untuk duduk di tempat yang disediakan. Penumpang MRT naik eskalator dengan tertib, berdiri di bagian kiri dan mengosongkan bagian kanan —biasanya untuk orang yang buru-buru.

Intinya, disiplin dan kebiasaan tertib di Singapura dan Jepang dapat diterapkan di MRT Jakarta. Inilah yang saya anggap sebagai sesuatu yang luar biasa. Sering ada pertanyaan, “Mengapa orang Indonesia ketika di Singapura, bisa tertib dan disiplin?” Ternyata kini di negeri sendiri, khususnya di stasiun dan di dalam kereta MRT, orang Indonesia pun bisa antre dengan tertib.

Kita mesti menaruh hormat setinggi-tingginya dan memberi apresiasi kepada segenap jajaran MRT Jakarta yang saat itu dipimpin William Sabandar yang berhasil mewujudkan impian puluhan tahun dengan membangun MRT. Bukan hanya itu, William Sabandar dan insan MRT berhasil mencontoh Jepang dan Singapura menerapkan kedisiplinan dan ketertiban di stasiun-stasiun. Hasilnya? Peradaban baru di Jakarta.

Integrasi

Satu usul saya kepada PT MRT Jakarta adalah agar memperluas jangkauan rute MRT ke wilayah suburban, di antaranya Serpong. Ini bisa menjadi pangsa pasar yang “gemuk” bagi MRT. Beberapa kali saya mengamati penumpang KRL diantar mobil ke stasiun. Ini menunjukkan adanya kebutuhan akan transportasi yang nyaman. Pasar KRL dan MRT tidak sama sehingga tidak akan “saling menelan”.

Jauh hari sebelum MRT resmi beroperasi, saya pernah menulis catatan ini di harian Kompas dengan judul “MRT ke Serpong?” Narasumbernya selain William Sabandar, juga Airin Rachmi Diany (saat itu Wali Kota Tangerang Selatan) dan Michael Widjaja (Group CEO Sinar Mas Land). Rute MRT ke Serpong saat ini memang belum terealisasi, tetapi sudah ada dalam daftar rencana perluasan rute MRT. Mungkin suatu hari nanti.

Warga Bekasi lebih dulu menikmati transportasi massal. Bukan MRT, tetapi LRT, yang kini sudah terhubung di Stasiun Dukuh Atas. Penumpang MRT yang akan ke Bekasi, dapat berpindah moda transportasi di Dukuh Atas, naik LRT ke arah Jatimulya atau Harjamukti, tergantung tujuan. Integrasi moda transportasi massal di Jakarta dan Bodetabek bukan hanya antara MRT dan LRT, tetapi juga KRL, Transjakarta, dan Kereta Bandara.

Interkoneksi

Selain itu, interkoneksi antara stasiun MRT dan gedung-gedung di sekitar jalur MRT perlu dikembangkan. Blok M Plaza yang nyaris mati, menjadi hidup kembali setelah Pakuwon Jati memutuskan membangun akses masuk dari stasiun MRT ke mal tersebut. Poins Square/Poins Mall yang membangun jembatan khusus dari mal itu ke stasiun MRT, juga mulai bergairah kembali. Kedai-kedai kopi bermunculan.

Saya membayangkan ada “kehidupan baru” di bawah tanah di jantung Jakarta, misalkan underground mall yang memungkinkan orang berjalan kaki di lorong-lorong bawah tanah, yang menghubungkan kawasan Senayan (Plaza Senayan, Senayan City, fX Sudirman, Gelora Bung Karno) dengan SCBD (Pacific Place, Astha 8, dan lainnya). Underground mall di Thamrin misalnya menghubungkan antara Plaza Indonesia, Grand Indonesia, Sarinah, dan gedung-gedung perkantoran di sepanjang jalur MRT. Suatu hari nanti, saya yakin akan terwujud.

CATATAN: Tulisan ini dimuat di dalam buku Membangun MRT: Pengalaman Kepemimpinan William Sabandar, kolaborasi Robert Adhi Ksp dan William Sabandar, Pustaka KSP Kreatif, Agustus 2024.

MRT Route Expansion, Integration, and Life in the “Underground”

by Robert Adhi Ksp

In April 1995, when the Governor of DKI Jakarta (at that time) Surjadi Soedirdja announced that he was forming a consortium to build the Blok M–Kota subway, I (at that time) worked as a journalist, enthusiastically writing the news, which became the headline on page one of the Kompas newspaper. The following year, 1996, I wrote, “If only Jakarta had wide sidewalks like Orchard Road.” Wide and comfortable pedestrian paths in Singapore are related to the construction of subway stations.

By highlighting Jakarta’s MRT history and development, this section can foster pride and help readers feel connected to the city’s ongoing progress and potential.

While the MRT development under Jokowi’s leadership marked a significant milestone, challenges such as securing funding, land acquisition, and political support have historically slowed infrastructure projects in Jakarta. Recognizing these hurdles can inspire hope and resilience, emphasizing that progress is achievable despite difficulties.

Five years later, in March 2019, Phase 1 of the MRT Jakarta route, Lebak Bulus – Bundaran HI, officially opened. That year, the Indonesian people re-elected Jokowi as President of the Republic of Indonesia. The MRT became a location for reconciliation with his rival in the presidential election, Prabowo Subianto. It is not easy to realize the development of mass transportation in Jakarta. However, the right leader can build everything.

Seeing that Jakarta already has a clean, orderly, comfortable, and safe MRT, I felt ‘wow’. Extraordinary. Riding the MRT feels different, especially when compared to train stations in Singapore, Japan, and other Asian cities, which set a high standard for urban transit.

I am a practical person who likes traveling by public transportation. I choose to take the MRT when traveling point-to-point, making an appointment on the Sudirman–Thamrin corridor and its surroundings.

Previously, I often took the KRL from Rawabuntu to Palmerah. During morning and afternoon/evening rush hours, KRL passengers are willing to jostle and scramble to get on and off the train. In fact, at that time, passengers were free to climb onto the train’s roof (before Ignasius Jonan, the Managing Director of PT KAI at the time, took control). KRL passengers still buy tickets that are punched by checking officers. Until the time comes, KRL users are required to use digital money (Flazz BCA or state-owned bank e-money).

The positive impact of MRT on urban life can evoke hope and optimism, encouraging readers to believe in Jakarta’s bright future.

Meanwhile, MRT passengers queue in an orderly line to board the train. Coming out of trains and stations, they still smell good. The MRT station is always cool. If there are disabled or elderly passengers, younger passengers should help them sit in the provided seats. MRT passengers board the escalator in an orderly manner, standing on the left and leaving the right empty — usually reserved for people in a hurry.

Discipline and orderly habits in Singapore and Japan can inspire Jakarta to foster pride and motivation among its residents. Highlighting these qualities can help residents see their potential for progress and feel proud of their city’s development.

We must have the highest respect and appreciation for all ranks of the Jakarta MRT, led by William Sabandar, whose discipline and order reflect the potential for progress. Highlighting these qualities can inspire residents to feel Proud of their city’s development and motivated to uphold similar standards.

Integration

One of my suggestions to PT MRT Jakarta is to clarify whether the extension of the MRT route into suburban areas like Serpong is confirmed or still under discussion, as this information can help manage expectations and build excitement among residents eager to see more connectivity in Jakarta and its suburbs.

Long before the MRT officially operated, I wrote this note in the Kompas Daily with the title “MRT to Serpong?” The speakers, apart from William Sabandar, were also Airin Rachmi Diany (then Mayor of South Tangerang) and Michael Widjaja (Group CEO of Sinar Mas Land). The MRT Jakarta plans to expand the route to Serpong. Maybe someday.

Bekasi residents first enjoyed mass transportation. Not the MRT, but the LRT has connected to Dukuh Atas Station. MRT passengers going to Bekasi can change to another mode of transportation in Dukuh Atas and take the LRT towards Jatimulya or Harjamukti, depending on their destination. The integration of mass transportation modes in Jakarta and Bodetabek extends beyond MRT and LRT to include KRL, Transjakarta, and the Airport Train.

Interconnection

In addition, MRT Jakarta must build interconnections between MRT stations and buildings along the line. Blok M Plaza almost collapsed, but came back to life after Pakuwon Jati decided to construct an entrance from the MRT station to the mall. Poins Square/Poins Mall, which built a special bridge from the mall to the MRT station, is also starting to get excited again. Coffee shops are popping up.

Imagine a vibrant underground life in Jakarta, with malls connecting key areas such as Plaza Senayan, Senayan City, and SCBD via subterranean passages. This vision of an interconnected underground space can inspire curiosity and optimism about Jakarta’s future urban development, motivating support for ongoing projects.

NOTE: This article has been published in the book Building MRT: William Sabandar’s Leadership Experience, in collaboration with Robert Adhi Ksp and William Sabandar, Pustaka KSP Kreatif, August 2024.