Insiden Trisakti Mei 1998 dalam Arsip “Kompas”


ROBERT ADHI KSP

Peristiwa 12 Mei 1998 mengguncang negeri ini. Insiden penembakan mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta, tak sekadar menjadi catatan sejarah perguruan tinggi swasta tersebut, tetapi sudah merupakan bagian penting dari sejarah Indonesia. Insiden penembakan yang menewaskan empat mahasiswa dan melukai sembilan mahasiswa lainnya merupakan awal kebangkitan reformasi dan pemicu yang menjatuhkan rezim pemerintahan Soeharto yang sudah berkuasa 32 tahun.

Harian Kompas, Rabu 13 Mei 1998, menurunkan berita utama “Enam Mahasiswa Tewas”. Semula kabar yang beredar memang enam mahasiswa yang tewas, tetapi keesokannya dipastikan mahasiswa yang tewas empat orang. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana (Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Arsitektur), Hafidhin Royan (Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Teknik Sipil), Hery Hartanto (Fakultas Teknologi Industri), dan Hendriawan Sie (Fakultas Ekonomi).

Insiden Trisakti Mei 1998

Namun, 17 tahun berlalu, sampai tahun 2015 keluarga empat mahasiswa yang tewas masih menyimpan kesedihan dan menanti keadilan. Apakah pemerintahan Joko Widodo berkomitmen menuntaskan kasus penembakan mahasiswa Trisakti itu?

Setiap tahun peringatan kasus Trisakti dan Mei 1998 hanya sekadar acara seremonial belaka dan repetisi janji pemerintah yang akan menyelesaikan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) masa lalu. “Pernyataan Jaksa Agung M Prasetyo, April 2015 lalu, bahwa Kejaksaan Agung membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) hanya repetisi pernyataan-pernyataan pemerintah dari rezim ke rezim. Sampai saat ini tak ada kemajuan berarti, bahkan hasilnya nol besar,” kata Ketua Setara Institute Hendardi dalam pernyataan persnya, Rabu (13/5).

Rezim Joko Widodo-Jusuf Kalla, kata Hendardi, sejak awal tidak menunjukkan kemauan politik yang kuat untuk menyelesaikan pelanggaran HAM pada masa lalu. Ini terlihat dari sosok Jaksa Agung yang dipilih, yang dinilainya tidak sungguh-sungguh berkehendak memutus mata rantai impunitas. Pengguna media sosial Kartika Djoemadi dalam akun Twitter-nya mengingatkan pengungkapan penembakan ini harus dituntaskan dan reformasi belum selesai.

Kilas balik

Ketika terjadi penembakan, Selasa 12 Mei 1998, empat mahasiswa yang tewas itu berada di antara ribuan mahasiswa yang menggelar aksi keprihatinan di Kampus Universitas Trisakti di kawasan Grogol, Jakarta Barat. Aksi keprihatinan yang digelar di halaman parkir kampus dimulai sekitar pukul 11.00 dan diikuti mahasiswa, dosen, pegawai, serta para alumnus universitas swasta terkemuka di Indonesia tersebut. Semula mereka akan mendengar orasi Jenderal Besar AH Nasution, tetapi tidak jadi datang sehingga mereka mendengar berbagai orasi dari para guru besar, dosen, dan mahasiswa.

Dua jam kemudian, sekitar pukul 13.00, peserta aksi keluar dari kampus menuju ke Jalan S Parman, Grogol (yang persis berada di depan kampus) dan berencana ke Gedung MPR/DPR di Senayan. Di barisan paling depan, para mahasiswi membawa mawar dan membagikannya kepada aparat kepolisian. Beberapa di antaranya mencium para petugas.

Puluhan petugas yang sejak pagi siaga di depan kampus tidak mampu membendung mahasiswa, kemudian mundur bertahap. Pimpinan mahasiswa, para alumnus, Dekan Fakultas Hukum Trisakti Adi Andojo SH, dan Komandan Kodim Jakarta Barat Letkol (Inf) A Amril sepakat aksi damai ini hanya sampai di depan Kantor Wali Kota Jakarta Barat yang lokasinya sekitar 300 meter dari pintu utama Kampus Trisakti.

Melalui pengeras suara, Adi Andojo meminta agar tidak melanjutkan perjalanan ke Senayan. “Saya minta kalian berjanji bahwa di tempat ini tidak ada aksi kekerasan, tidak ada tindakan perusakan atau membuat keributan,” katanya. Mahasiswa bertepuk tangan dan berjanji menepati permintaan itu. Setelah itu, mahasiswa menggelar mimbar bebas. Intinya, mereka menuntut pemerintah secepatnya melaksanakan reformasi politik, ekonomi, dan hukum, serta menuntut pelaksanaan Sidang Umum Istimewa MPR.

Sekitar 500 petugas keamanan gabungan dari berbagai kesatuan yang bersenjata lengkap berjaga-jaga di bagian depan (kantor kejaksaan di samping kantor wali kota), di bagian samping (pagar pembatas Jalan S Parman dan jalan tol) dan bagian belakang (di bawah jalan layang Grogol).

Hingga pukul 17.00, aksi damai Universitas Trisakti berjalan tenang. Tak ada ketegangan. Para mahasiswa tampak bercanda dengan aparat. Beberapa mahasiswa membagi-bagikan minuman kemasan, permen, dan bunga mawar kepada petugas. Mereka juga berfoto dengan petugas keamanan yang membentuk barikade.

Pada jam yang sama, pimpinan mahasiswa, Dandim Jakarta Barat, dan Kapolres Jakarta Barat bersepakat menyudahi aksi ini. Aparat meminta agar mahasiswa kembali ke dalam kampus. Pimpinan mahasiswa mengumumkan kepada mahasiswa agar segera kembali ke dalam kampus. Jumlah mahasiswa begitu banyak, sementara pintu masuk sangat kecil. Tak ada kekerasan dalam proses masuk ke dalam kampus ini.

Tembakan

Pada saat 70 persen peserta aksi sudah masuk ke dalam kampus, tak disangka-sangka, dari arah belakang mahasiswa (yang masih berada di depan kantor wali kota) terdengar letusan senjata para petugas. Mahasiswa lari tunggang langgang ke dalam kampus. Puluhan lainnya menyelamatkan diri dengan melompat pagar jalan tol. Beberapa mahasiswa yang tidak sempat lari dipukuli petugas. Juru kamera televisi, Yasushi Takahashi, luka memar terkena pukulan petugas.

Kompas 13 Mei 1998

Mahasiswa yang marah kemudian melempari para petugas dari dalam kampus. Pelemparan ini dibalas oleh aparat keamanan dengan melepaskan gas air mata dan menembaki para mahasiswa yang ada di dalam kampus.

Tangis pilu dan teriakan kemarahan mahasiswa terdengar di mana-mana. Suasana mencekam. Mahasiswa berupaya lari menyelamatkan diri. Sebagian lain menolong teman-temannya yang luka-luka terkena tembakan dan lemparan batu petugas.

Pada awalnya diberitakan ada enam mahasiswa yang tewas di RS Sumber Waras, tetapi keesokannya dipastikan jumlah mahasiswa yang tewas empat orang. Adapun mahasiswa yang mengalami luka-luka terkena tembakan di antaranya Ketua Senat Mahasiswa Universitas Trisakti (SMUT) Hendra, Rico (Fakultas Ekonomi), Agus Rerwanti (Fakultas Teknik Sipil), Ari Pramono (Fakultas Teknik Sipil), Ason (Fakultas Teknik Industri), Yonatan Hendrik (Fakultas Teknik Lingkungan), Ufur (Fakultas Ekonomi Akuntan), Hendrawan (Fakultas Ekonomi), Ade Rizka Lubis (Fakultas Ekonomi), Eko, Otty (Fakultas Teknik Lingkungan), Poltak Silalahi (Fakultas Hukum), Yose Noviardi (Fakultas Ekonomi), Alfan (Fakultas Ekonomi), Riga (Ketua Himpunan Mahasiswa), Boy Harry Budiman, Disyon (Fakultas Teknik Industri), Boy (Fakultas Seni Rupa dan Desain), Alfis (Fakultas Ekonomi), Mico (Fakultas Hukum), dan Kardianti (Fakultas Ekonomi).

Ketua Crisis Centre Universitas Trisakti Adi Andojo Soetjipto dalam jumpa pers, Selasa malam harinya, mengemukakan, Universitas Trisakti mengajukan protes keras kepada Kapolri dan Menhankam/Pangab atas kejadian itu dan akan melakukan konsultasi dengan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

Andi Andojo sudah mengingatkan aparat untuk tidak bersikap represif, tetapi malah ditembaki dengan peluru tajam dan itu terjadi di dalam kampus. Pada saat itu mahasiswa tidak melakukan kekerasan dan sudah berangsur-angsur kembali ke kampus. Adi Andojo ikut mengawasi mahasiswa Trisakti yang berunjuk rasa sampai di luar kampus. Ketika mahasiswa akan ke gedung DPR dan kemudian dihalang-halangi pasukan keamanan yang datang berlapis-lapis, Adi Andojo mengatakan bahwa dia berhasil menahan mahasiswa untuk berhenti di depan bekas kantor Wali Kota Jakarta Barat. “Bahkan, Kapolres Jakarta Barat Letkol (sekarang disebut Ajun Komisaris Besar Polisi/AKBP) Timur Pradopo mengakui dan mengucapkan terima kasih atas ketertiban yang ditunjukkan mahasiswa,” kata Adi Andojo.

Mahasiswa bersedia mundur apabila pihak keamanan juga mundur. “Akhirnya mahasiswa saya bubar dengan tertib dan mereka semua kembali ke kampus. Bahkan, saya merasa itu sudah selesai sehingga saya pulang ke rumah,” ujarnya. Tak berapa lama, Adi Andojo memperoleh kabar empat mahasiswa Trisakti meninggal dunia. Adi melihat sendiri jenazah mahasiswa-mahasiswa Trisakti tersebut. Bekas darah yang tercecer di dalam kampus menunjukkan bahwa para mahasiswa itu jelas ditembak di dalam kampus. Kaca-kaca di lokasi itu pecah karena tembakan.

Kapolda Metro Jaya Mayjen (sekarang disebut Irjen) Hamami Nata dalam jumpa pers Rabu dini hari mengatakan, kematian empat mahasiswa diteliti dan membantah melakukan penembakan. “Polisi hanya menggunakan tongkat pemukul, peluru kosong, peluru karet, dan gas air mata,” katanya.

Kejahatan kemanusiaan

Wakil Ketua Komnas HAM Marzuki Darusman dan anggota Komnas HAM Albert Hasibuan menegaskan, peristiwa ini bukti telah terjadi serangan terhadap kemanusiaan.

Dalam berita harian Kompas, Kamis 14 Mei 1998, berjudul “Insiden di Universitas Trisakti Tindak Kejahatan” disebutkan bahwa insiden di Kampus Universitas Trisakti pada Selasa (12/5) lalu merupakan tindak kejahatan terhadap kemanusiaan. Selain cara-cara kekerasan seperti itu harus dihentikan, mereka yang terlibat juga harus dimintai pertanggungjawaban.

Para tokoh masyarakat berbondong-bondong datang ke Kampus Trisakti, Rabu, untuk menyatakan belasungkawa terhadap tewasnya mahasiswa perguruan tinggi itu akibat terkena peluru yang dilepaskan aparat keamanan. Mereka di antaranya Amien Rais, Megawati Soekarnoputri, Ali Sadikin, Emil Salim, Kwik Kian Gie, Hariman Siregar, Adnan Buyung Nasution, Karlina Leksono, dan Ny Sri Bintang Pamungkas. Meski tidak diundang dan hanya untuk mengucapkan belasungkawa, mereka juga didaulat mahasiswa untuk berpidato.

Insiden ini juga mendapat perhatian dunia internasional. Uni Eropa (UE) mendesak Pemerintah Indonesia menyelidiki secara tuntas penembakan, penculikan, dan penyiksaan belakangan ini. UE juga mendesak pemerintah menahan diri sesabar-sabarnya dalam menghadapi unjuk rasa mahasiswa, juga tidak menggunakan senjata mematikan, serta menghargai hak individu rakyat. Menlu Amerika Serikat Madeleine Albright mengecam pembunuhan mahasiswa dan mendesak aparat keamanan menahan diri. “Kami mengecam pembunuhan itu yang terjadi ketika aparat keamanan Indonesia sedang menghadapi para demonstran,” kata Albright.  (Sumber: Harian Kompas, Rabu 13 Mei 1998 dan Kamis 14 Mei 1998)

SUMBER: KOMPAS SIANG DIGITAL, KOMPAS PRINT.COM, RABU 13 MEI 2015

Iklan