Arsip Tag: Hotel JW Marriott

Selasa Siang Berdarah di Hotel JW Marriott


Masih Menyala
Ledakan bom di Hotel JW Mariott dan Plaza Mutiara, Jakarta Selatan, 5 Agustus 2003. KOMPAS/ROBERT ADHI KSP

 

ROBERT ADHI KSP

Selasa, 5 Agustus 2003. Restoran Sailendra, restoran buffet di Hotel JW Marriott, setiap jam makan selalu ramai. Pada jam makan siang, banyak kalangan eksekutif yang suka makan di restoran yang menyajikan aneka hidangan lokal dan internasional itu. Bagi kalangan ekspatriat, makan siang di restoran hotel bintang lima itu relatif ”murah” dibandingkan dengan di negeri mereka. Sebab, hanya dengan 15 dollar AS (sekitar Rp 125.000, harga pada tahun 2003) per orang, mereka sudah bisa makan enak dengan pilihan beragam. Restoran ini disukai karena dari balik kaca transparan, pengunjung dapat melihat view lapangan hijau di kawasan Mega Kuningan dengan latar belakang gedung-gedung jangkung.

Sejak dibuka resmi pada September 2001, Hotel JW Marriott, Jakarta, waralaba jaringan hotel pengusaha Amerika, yang dimiliki pengusaha Indonesia, Tan Kian, itu langsung menjadi salah satu primadona bagi kalangan ekspatriat, pebisnis, dan pejabat Indonesia, terutama karena lokasinya strategis, di kawasan segitiga emas Kuningan, Jakarta Selatan.

Beberapa perusahaan asing multinasional yang sebelumnya bekerja sama dengan hotel lain langsung beralih ke Hotel JW Marriott. Hotel ini menawarkan tarif kamar relatif lebih murah dengan tambahan fasilitas antar jemput ke bandara dan ke kantor mereka di sekitar Kuningan. Tak heran jika banyak rapat penting dan pertemuan bisnis digelar di hotel ini. Pada masa normal, tingkat hunian hotel ini 70- 80 persen, sebagian besar ekspatriat dan orang Indonesia yang bekerja di perusahaan asing.

JW Marriott selama ini sering dianggap sebagai hotelnya orang-orang Amerika Serikat. Selain karena waralaba jaringan hotel itu memang milik pengusaha Amerika, juga karena banyak perusahaan Amerika dan perusahaan multinasional memilih hotel ini sebagai basis. Hari Kemerdekaan Amerika Serikat, 4 Juli, misalnya, dirayakan di hotel ini.

Pada hari itu, pegawai restoran cukup sibuk melayani sekitar 200 tamu yang akan menikmati makan siang di restoran yang sejuk dan lapang itu. Di luar hotel, matahari terik menyengat Jakarta. Tak banyak tamu yang lalu lalang di jalan masuk ke lobi yang bentuknya setengah lingkaran itu. Di ujung jalan dekat Plaza Mutiara–yang bersebelahan dengan bangunan Hotel JW Marriott–tampak berderet taksi Silver Bird menunggu penumpang.

Saat itu jam menunjukkan pukul 12.44.10. Suara gelegar disertai guncangan keras membuat orang-orang di dalam hotel itu kaget dan shock. Lampu di Restoran Sailendra berjatuhan. Dinding kaca rontok. Tetamu pun panik, berlarian ke luar. Busy lunch di Sailendra pun berubah menjadi bloody lunch. Sebab, di tempat ini banyak korban yang mengalami cedera berat dan ringan.

Getaran yang keras membuat kaca-kaca kamar di hotel itu hancur berantakan. Kantor Java Musikindo di lantai dua Plaza Mutiara termasuk yang hancur. Adri Subono, pemilik Java Musikindo yang biasanya ada di dalam kantornya, lolos dari maut karena saat ledakan terjadi dia sedang ke kamar kecil.

Kaca-kaca di gedung Menara Rajawali yang juga bersebelahan dengan hotel itu tampak pecah meski tak separah Hotel JW Marriott dan Plaza Mutiara. Di gedung itu sejumlah kedutaan besar asing berkantor, seperti Peru, Denmark, Swedia, Norwegia, dan Finlandia.

Dari sembilan korban (kemudian menjadi 10) yang tewas yang masuk kamar jenazah RSCM dan sudah diidentifikasi, delapan di antaranya ”orang-orang kecil”. Mereka tidak tahu-menahu dengan urusan politik, tetapi harus terkena dampaknya.

Hanya satu korban tewas yang berkebangsaan asing, yaitu Hans Winkelmolen, bankir warga negara Belanda, mantan Presiden Direktur Rabobank Indonesia, yang pada hari naas itu sedang makan siang bersama penggantinya, Antonio Costa, warga negara Kanada.

Makan siang Winkelmolen dan Antonio Costa itu sebetulnya diagendakan bersama Miranda Goeltom, mantan petinggi Bank Indonesia. Namun, karena mobil Miranda terjebak macet di depan Mal Ambassador, di seberang Hotel JW Marriott, Miranda akhirnya lolos dari maut.

 

Periksa Nama
Seorang warga negara asing memeriksa nama-nama korban pasca ledakan bom di Hotel JW Marriott Jakarta Selatan, 5 Agustus 2003. KOMPAS/ROBERT ADHI KSP

 

Lanjutkan membaca Selasa Siang Berdarah di Hotel JW Marriott

Iklan