Selasa Siang Berdarah di Hotel JW Marriott


Masih Menyala
Ledakan bom di Hotel JW Mariott dan Plaza Mutiara, Jakarta Selatan, 5 Agustus 2003. KOMPAS/ROBERT ADHI KSP

 

ROBERT ADHI KSP

Selasa, 5 Agustus 2003. Restoran Sailendra, restoran buffet di Hotel JW Marriott, setiap jam makan selalu ramai. Pada jam makan siang, banyak kalangan eksekutif yang suka makan di restoran yang menyajikan aneka hidangan lokal dan internasional itu. Bagi kalangan ekspatriat, makan siang di restoran hotel bintang lima itu relatif ”murah” dibandingkan dengan di negeri mereka. Sebab, hanya dengan 15 dollar AS (sekitar Rp 125.000, harga pada tahun 2003) per orang, mereka sudah bisa makan enak dengan pilihan beragam. Restoran ini disukai karena dari balik kaca transparan, pengunjung dapat melihat view lapangan hijau di kawasan Mega Kuningan dengan latar belakang gedung-gedung jangkung.

Sejak dibuka resmi pada September 2001, Hotel JW Marriott, Jakarta, waralaba jaringan hotel pengusaha Amerika, yang dimiliki pengusaha Indonesia, Tan Kian, itu langsung menjadi salah satu primadona bagi kalangan ekspatriat, pebisnis, dan pejabat Indonesia, terutama karena lokasinya strategis, di kawasan segitiga emas Kuningan, Jakarta Selatan.

Beberapa perusahaan asing multinasional yang sebelumnya bekerja sama dengan hotel lain langsung beralih ke Hotel JW Marriott. Hotel ini menawarkan tarif kamar relatif lebih murah dengan tambahan fasilitas antar jemput ke bandara dan ke kantor mereka di sekitar Kuningan. Tak heran jika banyak rapat penting dan pertemuan bisnis digelar di hotel ini. Pada masa normal, tingkat hunian hotel ini 70- 80 persen, sebagian besar ekspatriat dan orang Indonesia yang bekerja di perusahaan asing.

JW Marriott selama ini sering dianggap sebagai hotelnya orang-orang Amerika Serikat. Selain karena waralaba jaringan hotel itu memang milik pengusaha Amerika, juga karena banyak perusahaan Amerika dan perusahaan multinasional memilih hotel ini sebagai basis. Hari Kemerdekaan Amerika Serikat, 4 Juli, misalnya, dirayakan di hotel ini.

Pada hari itu, pegawai restoran cukup sibuk melayani sekitar 200 tamu yang akan menikmati makan siang di restoran yang sejuk dan lapang itu. Di luar hotel, matahari terik menyengat Jakarta. Tak banyak tamu yang lalu lalang di jalan masuk ke lobi yang bentuknya setengah lingkaran itu. Di ujung jalan dekat Plaza Mutiara–yang bersebelahan dengan bangunan Hotel JW Marriott–tampak berderet taksi Silver Bird menunggu penumpang.

Saat itu jam menunjukkan pukul 12.44.10. Suara gelegar disertai guncangan keras membuat orang-orang di dalam hotel itu kaget dan shock. Lampu di Restoran Sailendra berjatuhan. Dinding kaca rontok. Tetamu pun panik, berlarian ke luar. Busy lunch di Sailendra pun berubah menjadi bloody lunch. Sebab, di tempat ini banyak korban yang mengalami cedera berat dan ringan.

Getaran yang keras membuat kaca-kaca kamar di hotel itu hancur berantakan. Kantor Java Musikindo di lantai dua Plaza Mutiara termasuk yang hancur. Adri Subono, pemilik Java Musikindo yang biasanya ada di dalam kantornya, lolos dari maut karena saat ledakan terjadi dia sedang ke kamar kecil.

Kaca-kaca di gedung Menara Rajawali yang juga bersebelahan dengan hotel itu tampak pecah meski tak separah Hotel JW Marriott dan Plaza Mutiara. Di gedung itu sejumlah kedutaan besar asing berkantor, seperti Peru, Denmark, Swedia, Norwegia, dan Finlandia.

Dari sembilan korban (kemudian menjadi 10) yang tewas yang masuk kamar jenazah RSCM dan sudah diidentifikasi, delapan di antaranya ”orang-orang kecil”. Mereka tidak tahu-menahu dengan urusan politik, tetapi harus terkena dampaknya.

Hanya satu korban tewas yang berkebangsaan asing, yaitu Hans Winkelmolen, bankir warga negara Belanda, mantan Presiden Direktur Rabobank Indonesia, yang pada hari naas itu sedang makan siang bersama penggantinya, Antonio Costa, warga negara Kanada.

Makan siang Winkelmolen dan Antonio Costa itu sebetulnya diagendakan bersama Miranda Goeltom, mantan petinggi Bank Indonesia. Namun, karena mobil Miranda terjebak macet di depan Mal Ambassador, di seberang Hotel JW Marriott, Miranda akhirnya lolos dari maut.

 

Periksa Nama
Seorang warga negara asing memeriksa nama-nama korban pasca ledakan bom di Hotel JW Marriott Jakarta Selatan, 5 Agustus 2003. KOMPAS/ROBERT ADHI KSP

 

Rangkaian bom tahun 2003

Bom yang mengguncang Hotel JW Marriott itu merupakan ledakan bom kelima yang terjadi di Jakarta dalam tahun 2003.

Diawali dengan ledakan bom di lobi Wisma Bhayangkari Mabes Polri yang ”menampar” wajah polisi sendiri pada 3 Februari, ledakan bom berikutnya terjadi di belakang Gedung PBB, Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, dan di Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 27 April, dan di Gedung MPR/DPR pada 15 Juli.

Pelaku peledakan bom di Wisma Bhayangkari sudah ditangkap, yaitu ”orang dalam” Polri, Anang Sumpena, yang kini disidangkan dan diancam hukuman seumur hidup. Peledakan di Wisma Bhayangkari ini dilatarbelakangi rasa sakit hati Anang terhadap kebijakan pimpinan Polri.

Tiga kasus bom di Gedung PBB, bandara, dan Gedung MPR/DPR, menurut Kepala Polri Jenderal (Pol) Da’i Bachtiar, dilakukan kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Polisi sudah menahan dua tersangka pelakunya, Adityawarman dan Fadli, dan seorang lagi kabur ke Aceh.

Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Erwin Mappaseng mengatakan, tiga kasus bom di tempat strategis di Jakarta itu bermotif politis, dilakukan anggota GAM. Dari sana, disimpulkan, ada kesamaan benda di tiga tempat itu. Ini menguatkan indikasi bahwa ketiga kasus ini saling berkait dan dilakukan kelompok yang sama.

Dalam kasus peledakan bom di Marriott, Polri menemukan titik terang setelah melakukan penyisiran ulang di lokasi kejadian. Ini berkat ditemukannya kepala tanpa tubuh di lantai atas hotel itu. Kepala misterius itu dilacak lebih jauh. Polisi membolak-balik arsip lama para tersangka peledakan bom yang sudah tertangkap dan foto- foto yang masih buron.

 

Kompas 5 Agustus 2003
Halaman muka Harian Kompas Rabu 6 Agustus 2003

 

Kepala yang tidak utuh lagi itu oleh petugas forensik dicoba direkonstruksi sampai akhirnya menjadi satu wajah yang bisa dikenali. Meski tidak persis sama, kepala itu dikenali sebagai Asmar Latin Sani (28), lelaki kelahiran Padang yang tinggal di Bengkulu.

Asmar disebutkan direkrut oleh dua orang yang sudah lebih dahulu ditangkap, Muhammad Rais dan Sardono Siliwangi, anggota kelompok peledakan bom di Medan dan Pekanbaru. Saudara kandung Asmar, Amanda, meyakini kepala itu kepala kakaknya dari pitak dan tahi lalat yang ada. Polisi tetap memeriksa DNA untuk memastikan identitas si pemiik kepala. Sejauh ini, polisi belum bisa memastikan apakah Asmar melakukan bom bunuh diri atau bukan.

Da’i dan Mappaseng masih hati-hati menyampaikan komentar soal keterlibatan Jemaah Islamiyah (JI) di balik peledakan bom di Marriott. ”Ledakan bom di Marriott memiliki kesamaan modus dengan ledakan bom di Bali,” kata Da’i. Hotel JW Marriott yang dipilih karena hotel ini bisa jadi salah satu simbol Amerika Serikat. Perayaan Hari Kemerdekaan Amerika pada 4 Juli diselenggarakan di hotel mewah berkamar 333 tersebut. Kalau memang orang Amerika yang jadi sasaran, mengapa yang jadi korban peledakan bom itu justru banyak orang Indonesia?

Diledakkan melalui ponsel

Bom di Hotel JW Marriott diledakkan melalui sebuah telepon seluler yang ditemukan di tempat kejadian peristiwa. Kepala Bareskrim Polri Komjen Erwin Mappaseng kepada pers di Jakarta, Rabu (6/8/2013) malam, mengungkapkan, ponsel itu ditemukan di lokasi kejadian. Bom ditaruh di jok tengah mobil Toyota Kijang nomor B 7462 ZN dan meledak pada pukul 12.44.

Kawasan Kuningan, tempat Hotel JW Marriott berada, merupakan salah satu dari 56 sasaran bom oleh JI, seperti yang tercantum dalam dokumen JI yang ditemukan di Semarang beberapa waktu lalu. Para pejabat kepolisian Indonesia menegaskan, dalam dokumen JI, memang tidak disebutkan secara rinci nama Hotel JW Marriott. Ada beberapa nama lokasi strategis, seperti kawasan Kuningan dan Sudirman. Polri belum menyebutkan secara jelas apakah JI berada di balik teror di Marriott karena itu perlu pembuktian lebih dahulu.

Menurut Mappaseng, bom yang meledak di Hotel JW Marriott terbuat dari gabungan bahan-bahan low explosive berupa bubuk hitam dan high explosive yang terdiri atas unsur trinitrotoluene (TNT) dan RDX.

Mappaseng menyebutkan, dari penyelidikan kepolisian, bom itu dikelilingi empat jeriken bensin. Ketika terjadi ledakan, jeriken itu terlempar keluar dan menimbulkan ledakan. Salah satu jeriken menimpa beberapa taksi dan mobil. Di lokasi itu ditemukan enam mayat.

Polisi juga menemukan antara lain potongan tubuh di lokasi kejadian dan delapan sidik jari dari telapak tangan yang ada di dalam mobil Kijang itu.

Dari keterangan saksi-saksi, mobil Kijang itu dibeli di Cibubur, Jakarta Timur, oleh seseorang yang berlogat Sumatera. Mobil itu dibeli Rp 26 juta dan akan dibawa ke Lampung.

Mappaseng juga mengungkapkan, Polri menerima tawaran kerja sama dari polisi mancanegara, di antaranya dari Kepolisian Federal Australia (AFP), Interpol, Malaysia, Singapura, dan Amerika Serikat.

Kepala Polri Jenderal (Pol) Da’i Bachtiar menegaskan, bom yang meledak di Hotel JW Marriott adalah bom yang berasal dari mobil. ”Kalau mencegahnya hanya dengan metal detector atau security gate/security doors, bom mobil tidak dapat dideteksi. Yang paling baik adalah pemeriksaan fisik. Bagasi perlu dibuka, tempat-tempat duduk digeledah. Tentu itu butuh waktu,” kata Da’i.

Sambil menunjukkan gambar yang diambil dari kamera tersembunyi, Da’I menjelaskan, belum jauh dari halaman hotel, pusat ledakan yang berdiameter 1 meter x 2 meter persegi mendapat tekanan dari roda mobil. Tekanan ke bawah itu membuat tenaga loncatan agak berkurang. Barangkali, jika tenaga bom itu lebih kuat, daya kerusakan ke atas dan samping jauh lebih besar dari yang terjadi saat itu.

Terkait JI

Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer menyatakan, bom di Jakarta berkaitan dengan JI. Downer mengingatkan kemungkinan serangan baru oleh kelompok militan yang berkaitan dengan Al Qaeda.

Downer mengatakan kepada wartawan agar warga negara Australia memperhatikan larangan bepergian ke Indonesia dengan serius.

Sehubungan dengan bom tersebut, seorang operator JI yang tidak diketahui namanya menyebutkan kepada surat kabar Singapura, The Straits Times, bahwa ledakan bom di Hotel JW Marriott itu sebagai ”peringatan berdarah” kepada Presiden Megawati Soekarnoputri.

Operator JI itu menyatakan, bom yang menewaskan 10 orang itu sebagai ”Pesan untuk dia (Presiden Megawati) dan seluruh musuh kami. Apabila mereka mengeksekusi saudara-saudara Muslim kami, kami akan terus melancarkan kampanye teror di Indonesia dan di kawasan ini”.

Mappaseng yang ditanya ihwal klaim JI itu mengaku terkejut. Ia tak bisa membenarkan atau tidak membenarkan klaim itu. Yang jelas, katanya, dalam mengembangkan kasus ini, polisi berpegang pada bukti- bukti di lokasi kejadian dan keterangan saksi-saksi.

Rekonstruksi wajah

Polisi merekonstruksi wajah tersangka pembawa bom yang meledak di Hotel JW Marriott. Rekonstruksi wajah itu dibuat berdasarkan kepala tanpa tubuh yang ditemukan di lokasi kejadian.

Kepala Bareskrim Polri Komjen Erwin Mappaseng, Kamis (7/8/2003) petang, mengungkapkan, kepala tanpa tubuh yang ditemukan itu berciri- ciri khusus, antara lain di kepalanya ada pitak (bekas luka). Bentuk garis tumbuh rambutnya seperti angka tiga menghadap ke bawah.

”Ada jenggot hitam, lurus agak ikal, yang tumbuh cukup lebat sepanjang 2,5 sentimeter. Bibir atasnya memiliki ketebalan 9 milimeter dan bibir bawahnya 10 milimeter,” kata Mappaseng yang didampingi Brigadir Jenderal (Pol) Eddy Saparwoko dan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Prasetyo.

Bagian itulah yang bisa direkonstruksi. Polisi masih mengidentifikasi siapa orang tersebut. Siapa pemilik kepala misterius yang ditemukan di lokasi. ”Kami sedang coba mencocokkan DNA-nya dengan DNA korban lainnya, termasuk jari-jari yang ditemukan,” katanya.

Dari jari-jari tersebut, polisi dapat mengambil delapan sidik jari dengan baik. ”Kami akan cari, di mana diambil sidik jari itu, apakah ketika sedang membuat surat izin mengemudi,” katanya.

Ketika ditanya apakah saksi yang diperiksa mengenali kepala misterius itu, Mappaseng mengatakan, belum ada saksi yang mengenalinya, termasuk petugas satpam hotel yang melihat mobil Toyota Kijang (yang kemudian meledak dan di dalamnya ada satu orang), dan pemilik mobil Kijang terakhir, Sonny Dalagi, yang telah menjual mobilnya dua minggu yang lalu.

Hasil rekaman kamera pemantau (CCTV) sirkuit yang ada di hotel itu tidak menunjukkan mobil Kijang yang meledak. ”Kamera CCTV itu hanya memberikan gambaran kepada kami, peristiwa sebelum ledakan, saat ledakan, dan setelah ledakan. Sebelum ledakan, di lobi hotel itu lengang. Setelah ledakan, banyak yang berlarian,” ujarnya.

Kepala tanpa tubuh yang ditemukan di lantai atas hotel, kata Mappaseng, dianggap sebagai Mr X. Sembilan orang yang sudah dikenali identitasnya dan seorang lainnya belum. ”Pemilik kepala tanpa tubuh inilah yang identitasnya belum diketahui,” katanya.

Ditanya apakah pemilik kepala itu adalah orang yang disebut sebagai Asmal atau Akmal, Mappaseng mengatakan, pihaknya belum mengarah ke sana. ”Kami bisa menjawab akurat jika pemeriksaan DNA sudah selesai,” ujarnya.

Brigjen (Pol) Eddy SP yang pernah menjadi ketua tim identifikasi korban peledakan bom di Bali menjelaskan, usia pemilik kepala tanpa tubuh itu sekitar 30 tahun. Namun, Eddy tak bersedia menyebutkan jenis ras orang tersebut.

Dijelaskan, wajah pada kepala tanpa tubuh itu sudah tidak utuh lagi. ”Kami coba menjahitnya sampai menjadi satu wajah yang bisa dikenali. Wajah itu tidak persis sama dengan wajah aslinya, tetapi paling tidak sudah mengarah ke sana. Untuk mengetahui siapa dia, harus dilakukan pemeriksaan DNA,” kata Eddy.

Yang paling menentukan dari pemeriksaan identitas, jika mengacu pada aturan Interpol, adalah fingerprint, dental identification, single identification, dan DNA.

Hasil pemeriksaan DNA, kata Eddy, tak bisa dibuat cepat karena itu tergantung partikelnya. ”Untuk satu pembanding saja, misalnya, dibutuhkan waktu satu minggu,” kata Eddy.

Mappaseng juga menjelaskan gambaran jaringan pelaku peledakan bom di sejumlah tempat di Indonesia yang bisa saling berkaitan.

Sejak terjadi peledakan bom tahun 1999 hingga tragedi di Bali 2002, sudah cukup banyak pelaku peledakan bom yang ditangkap. ”Setelah para pelaku peledakan bom di Bali ditangkap, yang kini disidangkan, barulah diketahui siapa mereka dan jaringan mereka,” katanya.

Menurut Mappaseng, ada empat orang dari kelompok JI yang ditangkap di Semarang yang berada di Jakarta.

”Sejak ditangkapnya anggota kelompok JI di Semarang dan ada cukup banyak bom yang disita, sebenarnya kami sudah memberikan peringatan agar semua pihak waspada,” kata Mappaseng.

Namun, ia tidak mau menyebutkan secara tegas bahwa kelompok JI yang berada di balik peledakan bom di Hotel JW Marriott. ”Kami menyelidiki kasus secara ilmiah. Tidak melihat sesuatu, kemudian langsung memberi tanggapan,” ujarnya.

Rencana aksi dalam dokumen

Kepala Polda Jawa Tengah Inspektur Jenderal Didi Widayadi menyatakan, dari pengakuan empat tersangka anggota JI yang tertangkap di Jalan Taman Sri Rejeki Selatan VI/2, Semarang, memang terungkap rencana pengiriman bom dan peledakan bom di Jakarta.

Dokumen itu menyebutkan adanya pembinaan JI terhadap 141 pondok pesantren dan 368 tokoh ulama di Jateng yang dalam sasaran pembinaan JI.

Untuk mengungkap kaitan dengan kasus meledaknya bom di Marriott, polisi masih intensif menyelidiki dan memeriksa empat pelaku anggota JI yang masih ditahan di Markas Polda Jateng.

”Dalam dokumen JI di Jalan Taman Sri Rejeki, memang betul ada rencana soal itu. Hanya saja untuk menegaskan apakah itu terkait langsung dengan bom di Marriott atau bom kiriman dari tempat lain, itu masih dalam penyelidikan,” kata Didi.

Dokumen itu berada dalam file di laptop ataupun dokumen tertulis yang disita bersama sejumlah bahan peledak, amunisi, dan senjata api yang disimpan anggota JI di rumah kontrakan di Semarang.

Menurut Didi, meski dalam dokumen itu sudah jelas digambarkan tentang rencana aksi teror, polisi tetap menyandarkan penyelidikan kasus ini dengan pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

”Polda Jateng bekerja sama dengan Polda Metro Jaya dan Mabes Polri. Hingga saat ini, kami belum menyimpulkan bom yang meledak itu kiriman dari Semarang atau kota lain dan dilakukan kelompok Semarang atau kelompok lain,” katanya.

Menurut Didi, pihaknya juga menemukan dokumen JI yang menyebutkan telah melakukan ”pembinaan” terhadap 141 pondok pesantren dan 368 tokoh ulama di Jateng.

Soal ini pun, ujarnya, belum dapat dipastikan karena dokumen itu sepenuhnya versi kelompok JI. Nama tokoh-tokoh tersebut terlampir berikut alamat masing-masing.

Kelompok JI membagi tokoh yang dijadikan sasaran pembinaan itu ke dalam lima daerah, yakni Pati 54 orang, Semarang (67), Kedu (74), Pemalang (22), dan Purwokerto (141).

Pemerintah Amerika Serikat  memberikan bantuan 500.000 dollar AS untuk para korban dan keluarga korban akibat peledakan bom di Hotel JW Marriott.

Duta Besar AS untuk Indonesia Ralph L Boyce dalam siaran persnya, kemarin, menyebutkan bantuan AS untuk membantu langsung korban dan keluarga yang terkena dampak dari tragedi bom itu. Boyce juga mengutuk aksi teror yang menimbulkan korban tak berdosa itu.

Dikenali sebagai Asmar

Identitas kepala tanpa tubuh yang ditemukan di lokasi ledakan bom di Hotel JW Marriott, Jakarta Selatan, dikenali sebagai Asmar Latin Sani (28), lelaki kelahiran Padang yang tinggal di Bengkulu.

Kepala Polri Jenderal (Pol) Da’i Bachtiar kepada pers hari Jumat (8/8/2003) mengatakan, sejumlah saksi mengenali identitas kepala tanpa tubuh yang sudah direkonstruksi petugas forensik Polri itu. Meski demikian, polisi masih akan memastikannya dengan teknik deoxyribonucleic acid (DNA) melalui pemeriksaan forensik.

Dua teman Asmar yang ditahan polisi sejak bulan Juni lalu, dan diduga anggota JI, yakni Sardono Siliwangi dan Muhammad Rais, mengenali wajah yang sudah direkonstruksi itu sebagai Asmar.

Namun, Da’i belum dapat memastikan yang meledak bom di Marriott itu sebagai bom bunuh diri. Polisi masih menyelidikinya, apakah bom itu dibawa oleh orang yang menjadi bagian dari peristiwa peledakan bom itu atau bom meledak akibat kesalahan semata.

”Kami harus memastikan lebih dulu, apakah Asmar sendirian di sana atau tidak. Yang menjadi pertanyaan kita semua, siapa mastermind (dalang) peristiwa di Hotel JW Marriott itu?” kata Da’i seraya menegaskan kembali modus peledakan bom di Marriott dan di Bali memiliki kemiripan.

Hal yang menarik, menurut informasi yang diperoleh, dua tahanan itulah yang merekrut Asmar sebagai anggota JI.

Da’i mengatakan, penyelidikan tentang Asmar memang mengarah pada kelompok JI. Namun, ia belum secara tegas menyebutkan JI di balik aksi teror bom di Marriott karena untuk itu harus disertai bukti cukup.

Menurut Kepala Bareskrim Polri Komjen Erwin Mappaseng, Asmar direkrut dua tersangka peledakan bom di Medan dan Pekanbaru, Muhammad Rais dan Sardono Siliwangi. ”Asmar dikenali Muhammad Rais dan Sardono Siliwangi dari ciri-ciri pitak dan tahi lalat di wajahnya,” kata Mappaseng.

Keterangan yang lebih akurat diyakinkan oleh saudara kandung Asmar, Amanda.

Menurut Mappaseng, dari penjelasan Amanda, diketahui bahwa pitak Asmar akibat terjatuh dan dijahit dokter lima tahun lalu. Tinggi Asmar sekitar 164 sentimeter. Untuk menguatkan keterangan itu, polisi mengambil DNA keluarganya.

Da’i menyebutkan, dari hasil olah tempat kejadian peristiwa di Hotel JW Marriott, diperoleh bukti material berupa potongan korban yang diduga sebagai tersangka.

Selain berupa kepala yang sudah dikenali sebagai Asmar, potongan yang ditemukan lainnya adalah potongan tangan. Upaya mengumpulkan serpihan tubuh sehingga dapat muncul wajah Asmar merupakan kerja keras polisi dan Tim Forensik Polri.

Berdasarkan identifikasi awal itu, lanjut Da’i, polisi sudah bisa mencari teman-teman dan kelompok Asmar. Di antaranya ada yang sudah ditahan sebelumnya dari penyelidikan kasus bom Bali.

Da’i minta maaf kepada masyarakat atas terjadinya peledakan bom di Hotel JW Marriott. ”Kami terus mendeteksi alat komunikasi yang digunakan mereka, tetapi setelah itu, sinyal tak bisa ditangkap,” katanya.

Da’i menyebutkan, dalam dokumen JI yang diperoleh di Semarang, tidak disebutkan secara rinci nama hotel yang akan diledakkan, seperti nama JW Marriott.

Namun, Da’i menjelaskan, dalam dokumen itu tercantum gambar Mal Ciputra. Dia tidak tahu persis apakah Mal Ciputra jadi target JI atau hanya jebakan.

Menjawab pertanyaan, Da’i menegaskan, tidak ada surat elektronik (e-mail) yang diperoleh enam pekan sebelumnya yang mengingatkan akan ada ledakan bom, seperti yang dilansir media asing.

Kepala Polri menyatakan tak punya niat melempar tanggung jawab. ”Tekad kami adalah mengamankan wilayah. Kami sampaikan kepada masyarakat akan ada polisi berseragam di tempat-tempat umum agar masyarakat tidak resah.”

Ia menegaskan kembali bahwa bom mobil sulit dideteksi dengan alat- alat seperti metal detector dan security doors. ”Yang paling baik adalah dengan cara manual. Petugas melakukan penggeledahan di dalam mobil hingga ke bagasinya,” kata Da’i lagi.

Seorang perwira di Sekretariat National Central Bureau (NCB)-Interpol Indonesia kepada Kompas menyebutkan, kemarin enam anggota badan intelijen Jerman datang menawarkan bantuan untuk mengungkap kasus peledakan bom di Hotel JW Marriott.

Sebelumnya, dua anggota International Criminal Police Organization (ICPO)-Interpol yang bermarkas di Lyon, Perancis, datang menawarkan bantuan yang sama.

Demikian pula Kepolisian Federal Australia, Biro Investigasi Federal AS (FBI), kepolisian Singapura, dan Malaysia menawarkan kerja sama untuk mengungkap jaringan teroris internasional yang meledakkan Hotel JW Marriott.

”Mereka umumnya menawarkan bantuan dan kerja sama. Namun, mereka juga memuji hasil pekerjaan polisi Indonesia,” kata perwira tinggi yang tak mau disebut namanya itu.

Baterai bom di lantai 7

Petugas Pusat Laboratorium Forensik Polri hari Sabtu (9/8) menemukan barang bukti baru dari lokasi ledakan di Hotel JW Marriott di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Barang bukti itu berupa satu baterai 9 volt yang tidak dijual di Indonesia dan satu jeriken pengisi bahan bakar.

”Dari hasil pengolahan tempat kejadian perkara, hari Sabtu, kami menemukan satu baterai dan satu jeriken bensin lagi,” kata Kepala Bareskrim Polri Komjen Erwin Mappaseng menjawab wartawan seusai meninjau lokasi ledakan, Sabtu sore.

Mappaseng menyebutkan, baterai itu ditemukan di lantai tujuh hotel bintang lima tersebut, sementara jeriken masih di sekitar lokasi ledakan. Baterai ini memiliki ciri khusus, yaitu tidak dijual di Indonesia dan bukan buatan Indonesia.

”Bom di Hotel JW Marriott dihubungkan ke baterai 9 volt yang ditemukan. Baterai itu berfungsi sebagai power. Mereknya HW,” jelas Mappaseng. Dengan ditemukannya baterai itu kemarin, berarti sudah dua baterai 9 volt yang sama yang diperoleh petugas Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) dari lokasi ledakan Hotel JW Marriott.

Baterai seperti itu, kata Mappaseng, mirip baterai yang ditemukan polisi di sejumlah gereja yang menjadi korban ledakan bom pada malam Natal 2000.

Adapun tentang jeriken, Mappaseng menyebutkan, jeriken yang ditemukan itu sama dengan empat jeriken yang sudah ditemukan sebelumnya. Jeriken-jeriken tersebut diduga kuat ditaruh di dalam mobil Kijang biru metalik B 7642 ZN tahun 1986 yang hancur tak berbentuk dan yang diparkir di mulut jalan masuk menuju lobi hotel.

Ledakan itu menimbulkan lubang sekitar 1 meter dengan diameter 2 meter yang menembus ke lantai basemen. Satu jeriken ditemukan di lantai basemen.

Satu jeriken berisi bensin itu terlempar ke arah taksi-taksi Silver Bird yang berjejer di samping gedung Plaza Mutiara. Itulah yang membuat empat sopir taksi Silver Bird tewas terbakar di tempat dan dua orang lainnya.

Filipina, Bali, Marriott

Dari pengalamannya menangani berbagai kasus ledakan bom di Indonesia, Mappaseng menyimpulkan ada kemiripan pada modus ledakan bom Hotel JW Marriott 5 Agustus 2003 dengan ledakan bom Bali pada 12 Oktober 2002 dan ledakan bom di depan rumah Duta Besar Filipina untuk Indonesia di Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, pada 1 Agustus 2000. Semuanya memiliki unsur trinitrotoluene (TNT).

Meski demikian, kata Mappaseng, dia tidak menyimpulkan pelaku peledakan bom dari kelompok yang sama. ”Saya hanya menyampaikan fakta, bukan memberikan pendapat,” ujarnya.

kesimpulan tentang DNA itu membutuhkan waktu relatif lama karena polisi mengacu pada scientific crime investigation, penyelidikan kasus kriminal secara ilmiah.

Erwin Mappaseng yang pernah menjadi Kepala Puslabfor Polri itu menambahkan, bom yang meledak di Hotel JW Marriott diduga kuat diledakkan melalui sebuah handphone yang ditemukan di lokasi ledakan. Karena itu, jenderal polisi berbintang tiga itu mengatakan sejak awal, ledakan bom itu belum tentu bom bunuh diri.

Mappaseng mengatakan belum tahu ada berapa banyak bom lagi yang dikirim ke Jakarta oleh orang-orang yang diduga dari kelompok JI di Semarang. Apakah ada kesamaan antara bom Marriott dan bom yang ditemukan di Semarang, Mappaseng juga belum bisa menjawab pasti. ”Saya hanya menyampaikan fakta,” katanya.

 

Palsukan identitas

Asmar Latin Sani, mayat yang kepalanya ditemukan di Hotel JW Marriott, bukan warga Kota Bengkulu. Menurut Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Provinsi Bengkulu Chaeruddin, Asmar telah memalsukan alamat di dalam kartu tanda penduduk (KTP) yang dibuatnya di kota itu.

”Tidak benar dia warga Bengkulu. Dari hasil pengecekan yang dilakukan Ketua RT 04 Kelurahan Kampung Bali, tidak ada warga yang bernama Asmar. Alamat rumahnya pun tidak ada di kawasan itu,” kata Chaeruddin.

Chaeruddin menyebutkan, di dalam KTP Asmar tertera alamatnya di Jalan Nuzirwan Zainal Nomor 1, Kelurahan Kampung Bali, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu. Alamat tersebut tidak benar karena di Jalan Nuzirwan Zainal nomor rumah dimulai dari angka 100.

”Ketua RT 04 Roslaeni telah mengecek ke alamat itu. Di sana ternyata tidak ada nama Asmar dan tidak ada rumah nomor satu di Jalan Nuzirwan Zainal. Dia telah memalsukan identitasnya saat membuat KTP Bengkulu,” katanya. Perihal identitas Asmar di Bengkulu juga telah dicek pihak Kepolisian Daerah Bengkulu.

Sementara mengenai terbitnya KTP atas nama Asmar Latin Sani, Chaeruddin mengakui, hal itu terjadi akibat keteledoran aparat pemerintah daerah setempat. Ia sendiri menyatakan tidak mengerti mengapa KTP dengan identitas salah atas nama Asmar tersebut bisa diterbitkan.

”Yang pasti, Asmar bukan warga dan orang asli Bengkulu. Dia pendatang dan berasal dari Sumatera Barat. Dia telah memalsukan identitas saat membuat KTP dengan memanfaatkan kelengahan petugas,” kata Chaeruddin yang menyatakan tidak mengetahui kapan KTP itu diterbitkan.  (DIOLAH DARI ARSIP KOMPAS BULAN AGUSTUS 2003)

SUMBER: KOMPAS.ID, SELASA 8 AGUSTUS 2017

Iklan