Menikmati Danau Titisee dan Black Forest


Gambar

ROBERT ADHI KSP

Titisee adalah nama danau yang berlokasi di Jerman selatan. Danau seluas 1,3 kilometer persegi dan dikelilingi hutan Black Forest ini menjadi lokasi wisata alam yang menyehatkan. Di kawasan Titisee, turis dapat menikmati kue ”black forest” dengan resep orisinal dan meneguk bir Jerman.

Nama Titisee diambil dari nama Kaisar Romawi, Titus. Hingga kini, Titisee menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan dari berbagai negara

Danau ini terbentuk setelah gletser yang terbentuk pada zaman es sejak 10.000 tahun lalu meleleh. Gletser yang merupakan endapan salju yang membatu terbentuk ketika suhu di Bumi menurun dalam jangka waktu yang lama, yang menyebabkan es meluas di kutub dan gunung.

Dari danau itu, mengalir Sungai Gutach yang membelah kota Titisee-Neustadt.

Danau Titisee berada di ketinggian 858 meter di atas permukaan laut dan memiliki kedalaman sekitar 40 meter. Danau ini berada di antara lereng hutan Black Forest Feldberg dan Hochfirst.

Selama ratusan tahun, keindahan kawasan ini masih terpendam.

Sejak tahun 1929, mulai banyak orang yang bermukim di daerah yang disebut ”Viertaler”— yang berarti empat lembah—itu. Stasiun kereta api di Titisee dibangun sejak akhir abad ke-19.

Danau Titisee populer menjadi lokasi wisata sejak awal abad ke-20. Di sekitar danau itu dibangun resor-resor tempat beristirahat. Banyak hotel dan penginapan bermunculan.

Danau ini menjadi lokasi sempurna bagi mereka yang suka berenang, berlayar, dan berselancar angin pada musim panas. Turis bisa naik kapal atau sampan untuk mengelilingi danau.

Hutan dan bir

Bukan hanya olahraga tirta yang menarik di danau ini, melainkan kawasan hutan Black Forest yang ada di sekelilingnya juga menjadi daya tarik.

Titisee adalah jantung Taman Alam Black Forest Selatan (Southern Black Forest Natural Park) yang juga menawarkan atraksi olahraga, mulai dari hiking sampai sepeda gunung.

Di sekitar danau terdapat kota kecil Triberg yang jumlah penduduknya tak lebih dari 7.000 orang. Di sini bertaburan kafe dan restoran.

Salah satu kafe menyajikan kue black forest yang orisinal. Resep kue black forest yang diolah Josef Keller pada tahun 1915 itu konon merupakan resep pertama dan asli.

Di sini pula terdapat German Clock Museum yang berusia lebih dari 350 tahun. Tradisi membuatcuckoo clock masih tetap hidup di Triberg. Hingga kini, Triberg masih disebut sebagai ”ibu kota cuckoo clock dunia”.

Setelah menikmati panorama danau dengan hutan Black Forest-nya, serta mencicipi kue black forestdengan resep orisinal, belum afdal apabila belum meneguk bir Jerman.

”Harga segelas bir di sini cuma 50 sen Euro,” kata seorang pekerja kafe ketika menawarkan bir Jerman.

Meneguk bir Jerman dalam cuaca dingin membuat badan menjadi hangat.

Selain dengan bus pariwisata, Titisee dapat dijangkau dengan kereta api. Perjalanan dari Stasiun Titisee menuju danau dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

Di Titisee, turis menikmati danau alami, hutan Black Forest yang gelap, kue black forest dengan resep asli, dan bir Jerman yang menyegarkan.

Auf Wiedersehen, Titisee….

SUMBER: KELANA, KOMPAS SIANG, SABTU 8 FEBRUARI 2014

Iklan