Daoed Joeosoef, Tetap Menulis di Usia Senja


Daoed Joesoef

ROBERT ADHI KSP

Tidak banyak orang yang mencapai usia 88 tahun dalam kondisi yang sehat dan bugar. Daoed Joesoef adalah salah seorang yang beruntung. Dia baru saja merayakan ulang tahun ke-88 pada 8 Agustus 2014 lalu. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1978-1983) era pemerintahan Soeharto ini bahkan tetap rajin menulis sampai sekarang.

Apa rahasia Daoed Joesoef tetap sehat di usia senjanya? ”Saya termasuk orang yang beruntung. Istri saya, Sri Soelastri, berasal dari Yogyakarta, telaten mengurus saya, terutama makanan saya,” ujar Daoed Joesoef, dalam percakapan dengan Kompas, pertengahan Agustus lalu. ”Kami sebenarnya sama-sama berasal dari daerah istimewa. Saya dari Daerah Istimewa Aceh, istri saya dari Daerah Istimewa Yogyakarta,” kata Daoed Joesoef terkekeh.

Tanpa bantuan tongkat ataupun kursi roda, Daoed Joesoef masih berjalan tegak meski langkahnya lebih lambat.

”Saya tidak merokok. Saya makan kenyang cukup satu kali sehari. Pada pagi hari, saya sarapan roti karena lebih praktis. Siang hari, saya makan nasi satu piring dengan sayur asem atau sayur bening. Saya tidak bisa makan gulai kepala ikan yang mengandung santan. Itu bisa bikin kolesterol naik. Jadi, saya bukan orang Sumatera lagi, yang suka makan santan dan pedas. Sementara pada malam hari, saya makan buah-buahan pepaya atau pisang,” kata Daoed Joesoef membeberkan rahasia sehatnya.

Selain menjaga pola makan, Daoed Joesoef mengungkapkan selalu memberi nutrisi bagi body(badan), mind (pikiran), dan soul (jiwa), tiga unsur penting dalam hidup manusia. Menurut Daoed, banyak orang sering salah mengira. Yang diberi makan hanya badan. Padahal, pikiran dan jiwa juga butuh nutrisi.

”Nutrisi untuk pikiran adalah pengetahuan. Cara mendapatkan pengetahuan adalah dengan membaca dan menulis,” ungkap lelaki berdarah Aceh kelahiran Medan itu. Nutrisi untuk soul adalah dengan melakukan retret atau bertapa.

Selain rajin menulis, Daoed Joesoef juga masih suka membaca. ”Teman-teman saya dari luar negeri sering membawakan buku untuk saya,” kata Daoed. Dia memuji bangsa Jepang yang gila membaca. Di mana pun, terlihat orang Jepang asyik membaca. Setelah buku selesai dibaca, orang Jepang meletakkan bukunya begitu saja. Mereka tahu rumah mereka sempit dan tidak cukup untuk menyimpan banyak buku.

Kebiasaan membaca

Menulis dan membaca memang menjadi salah satu perhatiannya ketika menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Daoed Joesoef sudah berpikir jauh ke depan, anak-anak Indonesia harus memiliki kebiasaan membaca sejak dini.

Lelaki kelahiran Medan, 8 Agustus 1926, itu mengidam-idamkan masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan membaca karena masyarakat yang tidak punya kebiasaan membaca akan dilindas dan ditinggalkan. Dia melihat perpustakaan sekolah merupakan sarana penyiap bagi anak-anak usia sekolah yang menjalani pendidikan formal untuk mencapai masyarakat yang memiliki kebiasaan membaca.

”Bagaimana bisa menciptakan masyarakat yang mempunyai kebiasaan membaca jika anak didik sejak dini tidak disiapkan melalui kebiasaan membaca di sekolah? Bangsa Indonesia tidak akan mampu bersaing dengan bangsa lain jika kebiasaan membaca tidak ditanamkan sejak dini,” kata Daoed.

Dalam berbagai kesempatan saat menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef menilai makin banyak keluarga yang mampu membeli bahan bacaan bermutu untuk keluarga. Jika buku sudah selesai dibaca, supaya tak jadi hiasan belaka, sebaiknya diserahkan ke perpustakaan agar masyarakat tak mampu dapat ikut menikmati buku-buku itu.

Daoed Joesoef yang juga Pembina Yayasan CSIS berpendapat, penciptaan dan penyebarluasan buku di kalangan masyarakat Indonesia merupakan bagian integral dari proses membaca, menulis, berpikir, dan belajar. Proses itu bagian dari pendidikan kemanusiaan sehingga penciptaan dan penyebaran buku merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional.

Negara-negara maju yang jumlah penduduknya hanya 30 persen dari jumlah penduduk dunia menghasilkan 81 persen jumlah judul buku yang terbit di dunia. Sementara rakyat negara-negara berkembang yang jumlahnya 70 persen dari rakyat seluruh dunia hanya menghasilkan 19 persennya. Indonesia termasuk negara terendah yang memproduksi buku.

Ketika menjadi menteri, Daoed Joesoef mewajibkan siswa mengarang dan mengulas buku-buku fiksi dan ilmiah populer dan itu masuk dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Daoed Joesoef yang sudah menulis sedikitnya delapan judul buku dan ratusan artikel itu berpendapat, bangsa Indonesia harus belajar terus-menerus seumur hidup. Buku terbarunya berjudul Studi Strategi, Logika Ketahanan dan Pembangunan Nasional diterbitkan Penerbit Buku Kompas tahun 2014 ini.

Kesenian dan kebudayaan

Daoed Joesoef, sarjana ekonomi Indonesia (1959) yang menyelesaikan program master dan doktor di Universite de Paris, Perancis, mengatakan, kampus akan menjadi terlalu kering jika kesenian dan kebudayaan tidak mendapat tempat yang wajar. Rektor harus memberi perhatian kepada peningkatan apresiasi seni, olahraga, dan kegiatan penyegaran jasmani. Rektor harus menyadari bahwa perguruan tinggi tidak hanya merupakan lingkungan belajar-mengajar, tetapi juga lingkungan pendidikan dan pembinaan mental.

Dia berpendapat, pendidikan kesenian harus ditangani sungguh-sungguh dan dikaitkan dalam pendidikan anak sejak dini. Tujuannya memberikan cakrawala lebih luas kepada anak didik sehingga dia bisa mengembangkan sendiri citra keseniannya dengan tetap pada lingkup kebudayaan nasional Indonesia.

Saat menjadi menteri, Daoed membangun Taman Budaya di seluruh provinsi di Indonesia. Hal itu untuk menanggulangi pengaruh kebudayaan kaset yang menggusur kesenian tradisional.

Daoed mengatakan, modal pokok pendidikan adalah rasa hormat masyarakat dan murid terhadap guru. Rasa hormat terhadap guru akan tercapai jika guru memiliki empat unsur, yaitu sikap dan watak sebagai guru, kemampuan dan pengalaman profesional, kesejahteraan hidup yang memadai, dan tanggung jawab sosial.

Komunikasi tatap muka antara guru dan murid dalam pendidikan, katanya, sangat diperlukan. Murid dapat mendiskusikan masalah dengan guru.

Menurut dia, para dosen selain mampu bertindak sebagai guru juga harus bisa tampil sebagai bapak dan wali serta teman mahasiswa yang menunjukkan jalan dan pemecahan persoalan dengan penuh pengertian dan kesabaran.

Pendidikan prasekolah

Daoed Joesoef menilai, peranan pendidikan prasekolah (0-6 tahun) penting. Namun, karena keterbatasan anggaran, pendidikan prasekolah belum dikembangkan. Berdasarkan hasil penelitian, kecerdasan anak tumbuh pada usia sebelum tujuh tahun. Setelah usia tujuh tahun, kecerdasan anak manusia tidak berkembang lagi dan yang berkembang adalah keterampilannya. Karena itu, kata Daoed, pendidikan anak sebelum tujuh tahun sangat penting, sama pentingnya dengan pendidikan anak pada jenjang lebih tinggi.

Di negara maju, anak mulai masuk sekolah pada usia 2-3 tahun. Pada usia itu, mereka sudah dibina melalui pendidikan formal di sekolah. ”Tidak heran jika banyak tokoh di negara-negara maju sebenarnya hasil dari pendidikan secara baik sebelum mereka berusia enam tahun,” ungkapnya.

Tak setuju perpeloncoan

Daoed Joesoef sejak awal tidak setuju dengan perpeloncoan. Ketika menjadi menteri, dalam surat keputusan, 8 Juni 1979, dia melarang semua bentuk perpeloncoan atau cara lain yang bersifat menjurus ke arah perpeloncoan, dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, termasuk kursus-kursus di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Daoed Joesoef menilai perpeloncoan tidak sesuai dengan tujuan pendidikan. Pengalaman masa lalu, bentuk-bentuk Mapram, Masa Perkenalan, Psoma di SD dan perguruan tinggi, merupakan pemborosan biaya dan tenaga, membahayakan keselamatan mahasiswa dan siswa baru.

Kehidupan kampus

Salah satu kebijakan Daoed Joesoef yang dianggap kontroversial adalah normalisasi kehidupan kampus (NKK).

Daoed Joesoef memulihkan kehidupan kampus secara antarsektor dan antar-kementerian. Dalam menormalisasi kehidupan kampus, dia sudah memperhitungkan mekanisme komunikasi antara mahasiswa dan pemerintah. Para rektor mendapat tugas mempersiapkan pelaksanaan penataan kembali kehidupan kampus dalam waktu satu bulan.

Konsep Daoed Joesoef tentang normalisasi kampus tidak menyempitkan aktivitas mahasiswa, tetapi malah memperluasnya. Dalam konsep itu, Daoed Joesoef menggariskan bahwa mahasiswa bertugas memperkuat penalaran individual, sedangkan pikiran sesuatu yang paling luas.

Dua kebijakan lain yang diterapkan sampai sekarang adalah penerapan awal tahun ajaran baru dimulai pada Juli dan kebijakan siswa tetap bersekolah selama Ramadhan.

Daoed Joesoef adalah intelektual yang langka. Di usia senja, tubuh dan pikirannya tetap sehat. Dia masih rajin menulis dan membaca.

Daoed Joesoef tinggal bersama istri, Sri Soelastri. Dari anaknya, Sri Sulaksmi Damayanti yang menikah dengan Bambang Pharmasetiawan, Daoed Joesoef memiliki dua cucu, yaitu Natasha Primyanti dan Garin Dwiyanto.

SUMBER: DI MANA DIA SEKARANG, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SABTU 23 AGUSTUS 2014

Iklan