Robert De Niro, Peraih Dua Oscar


Robert De Niro

ROBERT ADHI KSP

Nama Robert De Niro (70) terus berkibar di dunia Hollywood. Aktor, sutradara, dan produser film kelahiran New York itu sudah dua kali meraih Piala Oscar berkat penampilannya sebagai aktor pendukung terbaik dalam ”The Godfather Part II” pada 1974 dan sebagai aktor terbaik dalam ”Raging Bull” pada 1980.

De Niro juga nomine Academy Awards atas aktingnya di Taxi Driver (1976), The Deer Hunter (1978), Awakenings (1990), Cape Fear (1991), dan Silver Linings Playbook (2012).

De Niro menguasai metode teknik akting karakter-karakter yang diperankannya dengan mempelajari latar belakang tokoh secara serius. Dia mempersiapkan fisik dan mentalnya agar bisa bermain dengan baik.

De Niro yang memiliki tahi lalat di pipi kanannya dan memiliki aksen New York yang kental itu sering memainkan karakter sebagai pria pemarah yang kasar dan lelaki yang tertekan.

Dia belajar akting di The Stella Adler Conservatory dan The American Workshop. Dia dikenal atas perannya dalam Bang The Drum Slowly (1973), tetapi mendapatkan reputasi sebagai aktor di Mean Streets (1973) yang menjadi film pertamanya bersama sutradara Martin Scorsese.

De Niro beberapa kali bekerja sama dengan Martin Scorsese. Sebenarnya pada masa mudanya, De Niro dan Martin Scorsese tinggal di kawasan Greenwich Village di Manhattan, tetapi mereka belum pernah bertemu secara formal. Ketika keduanya bertemu dalam sebuah pesta tahun 1972, mereka menyadari pernah bertemu berulang kali tetapi belum bertegur sapa.

Lanjutkan membaca Robert De Niro, Peraih Dua Oscar

Iklan

Saatnya Bersatu Kembali


SaatnyaBersatuKembali

ROBERT ADHI KSP

Pesta demokrasi di Indonesia sudah usai. Komisi Pemilihan Umum akan mengumumkan hasil pemilihan presiden sesuai jadwal, Selasa (22/7). Setelah kampanye yang menguras energi, kini saatnya rakyat Indonesia bersatu kembali membangun negeri.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merekatkan kembali dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang berkompetisi dalam pemilihan presiden. Di Istana Negara, mereka duduk satu meja dalam acara buka puasa bersama, Minggu (20/7).

Sejak kampanye pemilihan presiden, rakyat Indonesia terbelah. Ingar-bingar pilpres ini betul-betul menguras emosi, pikiran, dan tenaga. Tiba-tiba banyak orang merasa perlu turun tangan, membantu capresnya. Mulai dari politisi, akademisi, seniman dan artis, sampai rakyat biasa. Mereka menjadi relawan dalam berbagai bidang, termasuk mengikuti perbincangan di media sosial Facebook dan Twitter.

Tiada hari tanpa posting yang berkaitan dengan pilpres di Facebook. Tiada hari tanpa hashtag (#) atau tagar tentang pilpres atau capres-cawapres di Twitter. Saling berdebat di media sosial. Lima acara debat capres-cawapres menjadi acara yang paling ditunggu-tunggu. Semua menyimak, semua memberikan komentar dan penilaian atas penampilan capres-cawapres. Rakyat Indonesia mengikuti proses demokrasi dengan saksama.

Namun, kini semuanya sudah usai. Dalam setiap kompetisi pasti ada yang kalah dan yang menang. Semua peserta pilpres harus siap kalah dan siap menang. Peserta yang mengakui kekalahannya memiliki sikap ksatria dan jiwa besar. Sebaliknya, peserta yang menang tetap rendah hati dan tidak sombong. Itulah makna sebuah kompetisi dalam bidang apa pun, termasuk pemilihan umum presiden.

Hari Senin ini, hampir semua media di Indonesia memberitakan kemenangan pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla berdasarkan hasil rekapitulasi nasional suara pemilihan umum Presiden dari 33 provinsi di seluruh Indonesia dan luar negeri yang dikerjakan Komisi Pemilihan Umum.

Harian Kompas misalnya menyebutkan, pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla meraih suara 53,15 persen (70.633.576 pemilih), unggul sekitar 6 persen (8 jutaan) dari pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang meraih suara 46,85 persen (62.262.844 pemilih). Angka ini memang belum final, tetapi kalaupun ada perubahan persentasenya tak banyak berubah.

Jutaan relawan pendukung Jokowi-Jusuf Kalla tetap mengawal suara pemilu di KPU. Beberapa di antaranya adalah upaya sekelompok anak muda yang kuliah di Singapura dan Amerika Serikat. Mereka membuat situs kawalpemilu.org. Semua data di situs itu berasal dari pindaian formulir C1 yang dipublikasikan KPU dan didigitisasi dengan bantuan relawan netizen yang independen. Lewat situs ini, semua orang dapat mengikuti perkembangan terakhir hasil pilpres.

Lanjutkan membaca Saatnya Bersatu Kembali

John Grisham Pernah Ditolak 28 Penerbit


JohnGrisham

ROBERT ADHI KSP

John Grisham adalah salah satu penulis novel ”best seller” internasional. Novel-novelnya sebagian besar berkaitan dengan persoalan hukum dan sistem peradilan. Sembilan novel John Grisham diangkat ke layar lebar. Namun, sebelum meraih sukses besar ini, novel pertama Grisham, ”A Time to Kill”, yang diselesaikannya selama tiga tahun pernah ditolak oleh 28 penerbit.

John Grisham tidak menyerah. Dia menawarkan lagi naskah novelnya kepada penerbit ke-29, yaitu Wynwood Press. Penerbit itulah yang menerima naskah Grisham dan kemudian mencetak 5.000 eksemplar novel A Time to Kill pada Juni 1988.

Tak disangka-sangka novel itu menjadi novel paling laris di Amerika Serikat, bahkan diterjemahkan ke berbagai bahasa di banyak negara, termasuk Indonesia.

Grisham menghabiskan waktu tiga tahun untuk menyelesaikan novel A Time to Kill pada 1987. Dia mulai menulis novel tersebut sejak 1984.

Setiap hari dia bangun pukul 05.00 dan meluangkan waktu beberapa jam sebelum berangkat bekerja di kantor firma hukum dan mengikuti sidang-sidang pengadilan.

Jauh hari sebelum namanya identik dengan thriller hukum modern, Grisham bekerja selama 60-70 jam per minggu di kota kecil Southaven, Mississippi, Amerika Serikat.

Lanjutkan membaca John Grisham Pernah Ditolak 28 Penerbit

Menikmati Salju Gunung Titlis di Swiss


Titlis

ROBERT ADHI KSP

Titlis adalah nama gunung di gugusan Pegunungan Alpen di Swiss dengan ketinggian 3.020 meter di atas permukaan laut. Titlis adalah mutiara di mahkota Swiss, dan satu-satunya ”glacier” yang dapat diakses masyarakat umum. Ketika berada di puncak gunung bersalju ini, kita dapat menikmati panorama menakjubkan. Hamparan salju melapisi puncak gunung tersebut.

Pengunjung yang akan menikmati panorama salju di puncak Gunung Titlis harus naik cable car dari Engelberg, desa di lembah Pegunungan Alpen. Turis yang mengunjungi negara Swiss pada umumnya diajak operator perjalanan wisata ke Gunung Titlis, selain ke kota tua Lucerne.

Upaya Pemerintah Swiss menjadikan puncak Gunung Titlis yang selalu ditutupi salju itu sebagai destinasi wisata dimulai sejak satu abad yang lalu.

Lanjutkan membaca Menikmati Salju Gunung Titlis di Swiss

Pilpres Paling Bergairah


Pilpres Paling Bergairah

ROBERT ADHI KSP

Pemilihan Presiden 2014 bisa disebut paling bergairah sepanjang sejarah Republik Indonesia. Jutaan warga negara Indonesia di mancanegara dan di seluruh negeri berbondong-bondong datang ke tempat pemungutan suara. Belum pernah rakyat merasa bergairah memilih calon presiden pilihan mereka seperti 9 Juli lalu.

Seorang ketua KPPS di wilayah Serpong, Tangerang Selatan, mengaku baru kali ini surat suara habis. Rakyat pemilih datang ke tempat pemungutan suara (TPS) melebihi prediksi. Padahal, bila mengacu pemilihan umum tingkat daerah, tingkat provinsi, pemilu legislatif, dan pemilu presiden yang pernah diadakan sebelumnya, jumlah pemilih tidak sebanyak Pilpres 2014.

Biasanya warga apatis dan tak terlalu peduli dengan pemilu. Siapa yang menjadi wali kota atau bupati, gubernur, atau wakil rakyat, warga tidak terlalu antusias ke TPS. Namun, kali ini berbeda. Tampaknya ”Jokowi effect” atau ”dampak Jokowi” membuat pilpres kali ini lebih berwarna, lebih semarak, dan lebih meriah.

Jumlah pemilih dalam Pilpres 2014, menurut KPU, tercatat 190.307.134 orang di 33 provinsi. Mereka memilih di 478.339 TPS. Dalam pemilu legislatif April lalu, jumlah pemilih tercatat 187.852.992 orang dengan tingkat partisipasi pemilih 75,11 persen. Menurut Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah suara sah dalam pileg tercatat 124.972.491, dan angka golput mencapai 24,89 persen.

Lanjutkan membaca Pilpres Paling Bergairah

Franz Beckenbauer, “Sang Kaisar”


Franz Beckenbauer

ROBERT ADHI KSP

Franz Beckenbauer adalah satu-satunya orang yang sukses terlibat di Piala Dunia sebagai pemain dan manajer/pelatih.

Perannya sangat unik. Dia menjadi kapten ketika tim Jerman Barat meraih juara di Piala Dunia 1974 (setelah menaklukkan tim Belanda 2-1) dan Piala Eropa UEFA tahun 1972 (setelah menekuk tim Uni Soviet 3-0).

Ketika menjadi pelatih, Beckenbauer mengantarkan timnas Jerman meraih juara Piala Dunia 1990 di Italia (setelah menang 1-0 atas Argentina).

Beckenbauer juga kapten klub Bayern Munich yang memimpin klub utama Jerman meraih juara Liga Champions tiga kali (juara musim 1973-1974 setelah melibas Atletico Madrid 4-0 di Brussel, juara musim 1974-1975 setelah menaklukkan Leeds United 2-0 di Paris, dan juara musim 1975-1976 setelah mengalahkan Saint-Etienne 1-0 di Glasgow).

Franz Beckenbauer memegang rekor sebagai pemain dunia yang terbanyak memperkuat tim nasional: 103 kali. Dia memulai kariernya di timnas sejak 1966 ketika masih berusia 20 tahun. Dia mencetak gol ke gawang Uni Soviet, yang menentukan langkah Jerman Barat ke final.

 

Namun, bukan hanya medali dan trofi yang membuat Beckenbauer dikenang. Dia dikenal sebagai pemain yang punya gaya dan juga genius. Setiap momen yang dia buat dilakukannya dengan elegan. Ada semacam kesombongan dalam permainan yang dia pimpin.

”Kaisar Franz” dan ”The Kaiser” adalah julukannya. ”Saya tidak tahu mengapa orang menjuluki saya kaisar. Padahal, saya sadar saya punya kelemahan terlalu sensitif terhadap kritik. Mungkin karena ini pula saya lalu menjadi orang perfeksionis. Maunya segala sesuatu yang saya lakukan sempurna,” kata Beckenbauer dalam kolomnya di harian Kompas, 27 Mei 1990.

Lanjutkan membaca Franz Beckenbauer, “Sang Kaisar”

Karl-Heinz Rummenigge, Legenda Jerman


Rummenigge

ROBERT ADHI KSP

Siapa pemain sepak bola Jerman terbaik setelah era Franz Beckenbauer? Karl-Heinz Rummenigge (59) adalah salah satunya; selain Helmut Rahn, Uwe Seeler, dan Gerd Mueller. Merekalah yang membuat tim Jerman (Barat) menjadi tim sepak bola kelas dunia pada masanya.

Pada Maret 2004, Rummenigge disebut sebagai salah satu dari 125 legenda hidup sepak bola terbesar sepanjang masa.

Saat ini, Rummenigge adalah CEO (chief executive officer) klub sepak bola Bayern Muenchen AG, yang bermain dalam Bundesliga. Rummenigge saat ini juga pelaksana Chairman Asosiasi Klub-klub Eropa (European Club Association).

Rummenigge yang memiliki panggilan akrab Kalle adalah salah satu striker berbahaya. Dia sering mencetak gol secara individual, terutama dari sayap kanan. Selain itu, Kalle juga mampu mengalihkan perhatian pemain belakang lawan untuk menempelnya secara ketat agar teman-temannya memiliki peluang mencetak gol. Kalle dikenal sebagai pemain yang memiliki teknik bagus dan kualitas atletik menyeluruh.

Pada 1980, Karl-Heinz Rummenigge dinobatkan sebagai Pemain Sepak Bola Terbaik Jerman dan kemudian Pemain Terbaik Eropa. Tahun 1981, Rummenigge mendapatkan penghargaan terbaik Eropa untuk kali kedua. Pada masa itu, tidak banyak pemain sepak bola yang dinobatkan sebagai pemain terbaik Eropa lebih dari satu kali. Di antaranya Alfredo di Stefano (1957, 1959), Johan Cruyff (1971, 1973, 1974), Franz Beckenbauer (1972, 1976), dan Kevin Keegan (1978, 1979).

Bersama timnas Jerman Barat, Kalle masuk dalam tim Piala Dunia 1978, 1982, dan 1986. Pada Piala Dunia 1978, Jerman Barat terhenti di putaran kedua. Pada Piala Dunia 1982 dan 1986, Jerman Barat lolos ke babak final, tetapi kalah dari Italia dan Argentina.

Lanjutkan membaca Karl-Heinz Rummenigge, Legenda Jerman

Mendambakan Polri yang Dicintai Rakyat


Gambar

ROBERT ADHI KSP

Sejak tahun 2000, Kepolisian Negara Republik Indonesia atau Polri berada di bawah Presiden, setelah bertahun-tahun lamanya di bawah kendali Angkatan Bersenjata RI. Setelah 14 tahun, bagaimana wajah Polri? Apakah harapan agar Polri makin profesional dan melayani rakyat dengan tulus sudah terwujud?

Pasca Reformasi, Polri memang terus berbenah diri. Setiap tahun, pimpinan Polri mengumumkan jumlah anggota yang dipecat sebagai bukti keseriusan Polri membersihkan institusi ini. Langkah itu tentu saja belum cukup untuk membuat Polri dicintai rakyat.

Pada 2013, Kapolri Jenderal (Pol) Sutarman menyebutkan, sebanyak 144 anggota Polri dipecat. Jumlah ini berkurang dibandingkan dengan jumlah polisi yang dipecat tahun 2012 yang tercatat 595 orang. Sebagian di antaranya terlibat kasus narkoba dan pungli.

Kapolri Sutarman mencatat, pada 2013 sebanyak 4.315 anggota Polri melakukan berbagai pelanggaran. Jumlah ini naik dibandingkan jumlah anggota Polri yang melakukan pelanggaran pada 2012 sebanyak 3.416.

Memecat anggota Polri yang bermasalah sudah menjadi kewajiban pimpinan Polri. Namun, mengapa citra Polri tak juga berubah? Kasus yang menimpa jenderal polisi berbintang dua, Djoko Susilo, beberapa waktu lalu, merupakan salah satu bukti nyata bagaimana korupsi di tubuh Polri merajalela. Mata rakyat terbelalak. Jenderal yang lama bertugas di bidang lalu lintas ini dihukum 18 tahun penjara. Puluhan asetnya berupa rumah dan tanah di sejumlah lokasi disita.

Lanjutkan membaca Mendambakan Polri yang Dicintai Rakyat

Mario Kempes, Pahlawan Argentina di Piala Dunia 1978


Gambar

ROBERT ADHI KSP

Mario Alberto Kempes adalah pahlawan Argentina dalam Piala Dunia 1978. Ketika itu, dalam final, Kempes mencetak dua gol dan memberi satu asis kepada Bertoni. Argentina menang 3-1 atas Belanda. Mario Kempes adalah salah satu dari bintang-bintang sepak bola Argentina.

Mario Alberto Kempes yang lahir di Belle Ville, Provinsi Cordoba, barat laut Buenos Aires, Argentina, pada 15 Juli 1954 itu mencintai sepak bola sejak kecil. Kempes bermain di gang sempit dan lapangan kecil di kota kelahirannya. Saat itu Kempes sudah bermimpi dan bercita-cita menjadi pesepak bola terkenal.

Ayahnya, Mario Chiodi, penggila sepak bola. Ketika berusia 10 tahun, Kempes dimasukkan ayahnya berlatih di klub Talleres di kota kelahirannya. Sejak kecil Kempes sudah bermain di posisi penyerang. Karier Kempes melesat.

Lanjutkan membaca Mario Kempes, Pahlawan Argentina di Piala Dunia 1978

Writing is the Painting of the Voice

%d blogger menyukai ini: