Richard Clayderman, Pianis Dunia ”Prince of Romance”


Richard Clayderman

ROBERT ADHI KSP

Richard Clayderman (60), pianis asal Perancis, dijuluki Nancy Reagan sebagai ”Prince of Romance” (Pangeran Cinta) karena mahir memainkan aneka musik bernuansa romantis. Clayderman yang sudah melanglang buana ke lima benua itu tercatat dalam Guinness Book of World Records sebagai ”pianis paling sukses di dunia”.

Julukan “Prince of Romance” diberikan Nancy Reagan (waktu itu Ibu Negara Amerika Serikat) kepada Richard Clayderman yang tampil dalam konser amal ”Waldorf Astoria” di New York, Amerika Serikat. ”Anda tahu Richard, Anda sungguh seorang Prince of Romance,” kata Nancy, menggambarkan betapa gaya musik Clayderman begitu romantis: lembut, membangkitkan gairah cinta, emosi, dan perasaan para penontonnya.

Musik Clayderman yang dimainkannya sebagian besar memang sangat romantis dan menguras perasaan.

”Saya memang tipe orang yang agak tenang, pemalu, dan pendiam. Saya kurang begitu suka pergi ke disko, klub malam, atau bar. Saya lebih suka mendatangi tempat yang tenang untuk menyegarkan kembali energi dan konsentrasi bermain piano,” kata Clayderman.

Dia mengaku jarang berbicara dengan suara keras dan jarang kesal. ”Saya menjaga sesuatunya. Dengan cara itu, saya pikir saya seorang romantis dan mudah terharu,” paparnya.

”Menjadi seorang yang romantis artinya peduli dengan keindahan angkasa dan laut, keindahan alam, serta mencintai segala sesuatu yang indah,” kata Clayderman tentang makna romantis.

Sejauh ini, Clayderman sudah merekam lebih dari 1.300 lagu dan menciptakan ”gaya romantis baru” melalui repertoarnya, yang menggabungkan gaya aslinya dengan musik klasik dan pop.

Pada tahun 2006, dia meraih rekor perjualan, sekitar 150 juta, dan memiliki 267 album emas dan 70 album platinum.

Clayderman mendedikasikan lebih banyak waktu untuk tampil dalam berbagai konser. Sejauh ini, dia sudah tampil dalam 200 pertunjukan dalam 250 hari.

”Saya sungguh menikmati momen tampil di panggung saat saya melakukan komunikasi langsung dengan para penonton. Saya merasakan itu dan saya menikmati momen-momen ini. Dalam konser, bersama 10 musisi atau orkestra simponi, saya suka menggabungkan tempo, rhythm, dan gaya yang berbeda untuk membangkitkan beragam emosi,” jelasnya.

Menurut Clayderman, penonton konsernya terdiri dari semua generasi, mulai orangtua bersama anak-anak yang sedang belajar piano, remaja pencinta piano, sampai kakek-nenek penggemar fanatiknya. ”Saya senang bermain untuk mereka yang menikmati permainan piano saya dan merasakan perasaan yang sama dengan saya,” ucapnya.

Clayderman sangat populer di Asia. Dia pernah tampil dalam konser di Tiongkok dan Taiwan.

Lahir di lingkungan musik

Lahir dengan nama Philippe Pages pada 28 Desember 1953, Clayderman belajar piano dari ayahnya, seorang guru piano, dan mendapatkan dasar-dasar bermain piano yang kuat dari sang ayah. Ini membuat Clayderman sukses dalam usia sangat muda. Pada usia 6 tahun, Clayderman sudah mampu membaca not balok, lebih cepat ketimbang rata-rata anak Perancis.

”Saya lahir di lingkungan musik. Tak ada hari tanpa musik di rumah kami. Saya mulai menekan tuts-tuts piano sejak usia tiga atau empat tahun. Ayah saya kemudian mengajarkan bagaimana bermain piano yang benar,” ungkap Clayderman.

Pada usia 12 tahun, dia diterima di Conservatoire de Paris, tempat dia untuk kali pertama memenangi lomba piano. Sejak itu, dia meraih juara di berbagai lomba piano pada usia remajanya. Clayderman pun diprediksi menjadi pianis klasik yang menjanjikan.

Masa-masa sulit

Clayderman kemudian ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Bersama beberapa temannya, dia membentuk grup rock. ”Itu masa-masa berat. Penghasilan kami kecil,” ujarnya.

Clayderman menghadapi masa-masa yang sulit ketika ayahnya menderita sakit serius. Ayahnya tak mampu lagi mendukung keuangan putranya. Kesulitan keuangan yang membelit keluarganya, setelah ayahnya jatuh sakit, mendorong dia merintis karier sebagai seorang pianis klasik.

Untuk membiayai hidupnya, dia bekerja sebagai pegawai bank dan pengiring band kontemporer. Dia mengiringi sejumlah penyanyi Perancis, di antaranya Johnny Hallyday, Thierry Le Luron, dan Michel Sardou. ”Saya sungguh tidak menginginkan menjadi seorang bintang. Saya cukup bahagia bisa mengiringi dan bermain dalam grup band ini,” ungkapnya.

Clayderman menikmati masa-masa itu. Dia mendapatkan bayaran yang cukup. ”Pengalaman itu mengajarkan kepada saya bagaimana menarik diri dari musik klasik, meski musik klasik telah memberi saya dasar yang kuat terhadap apa yang saya kerjakan saat ini,” paparnya.

”Ballade pour Adeline”

Pada tahun 1976, hidup Clayderman berubah dramatis ketika dia menerima telepon dari Olivier Toussaint, produser rekaman Perancis, yang bersama mitranya, Paul de Senneville, mencari seorang pianis untuk merekam sebuah balad piano yang lembut. De Senneville menciptakan balada tersebut untuk anak perempuannya bernama Adeline.

Philippe Pages, yang waktu itu berusia 23 tahun, satu-satunya pianis yang terpilih setelah mengikuti audisi bersama 20 pianis lainnya.

”Dia musisi yang luar biasa, memiliki sentuhan lembut dan teknik yang bagus. Penampilannya juga menawan,” kata Toussaint tentang Clayderman. ”Kami membuat keputusan dengan cepat untuk memilih dia,” kata Senneville.

Philippe Pages kemudian mengganti namanya menjadi Richard Clayderman. Dia mengadopsi nama akhir nenek buyutnya dan menggunakan nama Richard Clayderman setelah merilis singel pertamanya, ”Ballade pour Adeline”. Singel itu terjual 22 juta kopi di 38 negara.

Namun, nama panggilan Clayderman adalah Phiphi. Semua teman dekatnya memanggil dia Phiphi.

Tak pernah bermimpi

Richard Clayderman mengaku tidak pernah bermimpi menjadi pianis solo yang sukses seperti sekarang, yang mampu memainkan musik dari easy listening, musik etnik, soundtrack film, musik pop, sampai musik klasik.

”Impian saya ketika saya masih muda adalah menjadi seorang pianis, dalam arti bukan sebagai pemain musik solo, tetapi sebagai seorang pengiring. Saya tidak pernah membayangkan menjadi seorang pemain musik solo karena saya merasa tidak realistis,” ungkapnya.

”Bahkan ketika saya selesai melakukan rekaman pertama ’Ballade pour Adeline’, saya tidak membayangkan bahwa itu mengantarkan saya menjalankan karier sebagai pemain piano solo,” katanya.

Saya sering ditanya apa cita-cita saya jika saya bukan seorang pianis, dan pada umumnya saya menjawab, salah satu impian saya adalah menjadi juara tenis. Saya mulai bermain tenis pada usia 30 tahun dan saya kagum luar biasa terhadap juara-juara tenis dunia.

Satu hal terbaik menjadi seorang Richard Clayderman adalah mendapat kesempatan tampil di panggung (lagi dan lagi) di lima benua di dunia.

Dia mengaku tak ada sesuatu yang buruk menjadi seorang Richard Clayderman. ”Kadang-kadang saya ingin menjadi seseorang yang tidak dikenal sehingga tidak dikejar-kejar orang yang ingin berfoto atau minta tanda tangan saya. Namun, saya percaya itu bagian dari hal terbaik menjadi Richard Clayderman. Saya gembira dan senang diterima di mana-mana,” katanya.

Bagaimana Anda hidup dalam privasi? ”Saya sering menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di hutan atau pantai yang jarang didatangi banyak orang. Saya juga sering mengantar atau menjemput putra saya dari sekolah atau dari klub basketnya. Anak saya mencintai basket dan dia bermain dengan sangat baik. Saya suka berbelanja dan melakukan hal-hal sederhana,” katanya.

Apa yang membuat Anda sangat bahagia ketika bangun pada pagi hari? ”Ketika saya harus mengejar pesawat paling pagi, saya benci melakukan itu. Namun ketika saya tahu saya memiliki banyak waktu untuk melakukan joging sepanjang pantai atau di taman yang indah, saya senang,” katanya.

Berapa jumlah piano yang dimiliki? ”Di masa lalu, saya memiliki tiga piano di rumah. Sekarang, saya hanya memiliki satu grand piano di sebuah ruangan dan beberapa piano elektrik di ruangan lainnya. Saat ini, piano elektrik juga keren. Keyboard-nya sangat mirip dengan piano akustik. Saya bisa berlatih pada malam hari atau pagi hari, dan saya bisa mengatur volumenya tanpa mengganggu keluarga ataupun tetangga. Saya senang menyimpan piano-piano lama saya, tetapi pertanyaannya, berapa luas rumah yang harus saya bangun hanya untuk piano-piano favorit saya,” jelasnya.

Pernikahan nan indah

Richard Clayderman senang menghabiskan waktunya bersama istrinya, Typhaine. Menikah pada Mei 2010, acara pernikahan itu betul-betul dirahasiakan dari publik. Hanya anjing mereka, Cookie, yang hadir. ”Richard dan saya tidak mengharapkan pernikahan tradisional yang megah,” jelas Typhaine. ”Kami hanya menginginkan pernikahan itu untuk kami berdua,” lanjutnya.

”Tak ada hari seindah hari itu. Ketika kami meninggalkan balai kota bersama cincin di jari kami, matahari bersinar cerah dan burung- burung bernyanyi. Itu merupakan hari
paling bahagia bagi kami berdua!” ungkap Typhaine.

Harga paling besar yang harus dibayar Richard Clayderman dari ketenaran internasionalnya adalah kehilangan waktu bersama keluarganya. Namun, keluarganya menerima hal itu. Clayderman memiliki tugas menghibur jutaan penggemarnya. ”Keluarga sangat penting bagi saya,” katanya berulang kali. ”Mereka adalah alasan mengapa saya tetap hidup dan bermain musik,” katanya.

Clayderman tinggal di Saint-Quen, dekat kota Paris, bersama istri serta putranya, Peter, dan putrinya, Maud.

Clayderman sangat peduli dengan apa yang dia makan demi menjaga berat badannya. ”Tetapi ketika saya melihat dessert yang enak, sulit untuk tidak menikmatinya. Saya suka pastries,” katanya terus terang. (clayderman.co.uk)

SUMBER: DI MANA DIA SEKARANG, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SABTU 13 SEPTEMBER 2014

Iklan