Industri MICE dan Gairah Pariwisata


MICE

ROBERT ADHI KSP

Konser musik penyanyi jazz asal Kanada Michael Buble di Indonesia Convention Exhibition, BSD City, Serpong, Banten, Kamis (29/1), ditonton sekitar 9.000 orang. Tingginya minat penggemar musik terhadap musisi internasional ini menunjukkan kegairahan industri  MICE  yang merupakan bagian dari   pariwisata di Indonesia.

Suksesnya konser Michael Buble yang digelar Dyandra Entertainment, anak perusahaan Dyandra Media International, tampaknya membuat promotor musik lainnya, Ismaya, percaya diri. Lewat Twitter-nya, Jumat (30/1), Ismaya mengumumkan konfirmasi kehadiran penyanyi pop Amerika Serikat, Katy Perry, yang akan manggung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) pada 9 Mei 2015.

Venue di ICE memang sangat representatif.  ICE yang dibangun pengembang Medialand International dan Sinar Mas Land di lahan seluas 22 hektar di kota mandiri BSD City, Tangerang, Banten, ini memiliki 10 hall.

ICE dikelola Deutsche Messe, yang memiliki pengalaman selama 67 tahun, di antaranya mengelola gedung konvensi ekshibisi terbesar di dunia di Hannover (Jerman) dan Shanghai New International Expo Center (SNIEC) di Shanghai, Tiongkok. Deutsche Messe juga organisator beberapa acara, antara lain Hannover Messe, CeBIT, ceMAT, Domotex dan Ligna.

ICE, kata Presiden Direktur Deutsche Messe, operator ICE, Mark Schloesser, merupakan tempat yang fantastis, paling menarik di Indonesia dan Asia Tenggara. Gedung konvensi dan ekshibisi terbesar di Asia Tenggara ini juga berteknologi canggih dan ramah lingkungan. Kabel-kabel berada di bawah lantai dan tidak berseliweran di lantai.

Infrastruktur pendukung, seperti akomodasi hotel, juga sudah siap. Di kawasan Serpong saat ini sudah tersedia 3.500 kamar di berbagai hotel. Itu cukup untuk mendukung acara-acara konvensi dan ekshibisi di ICE. Grup  Santika dan Accor juga akan membangun hotel-hotel baru di kawasan ini. Saat ini sedang dibangun Hotel Santika Premiere (bintang 4). Rencananya akan dibangun dua hotel lainnya, yaitu Santika (bintang 3) dan Amaris (bintang 2).

Acara-acara konvensi, ekshibisi, dan konser musik memang membutuhkan venue yang representatif. Tidak hanya gedungnya, tata cahaya dan kualitas suara pun harus prima. Gedung yang berteknologi canggih itu juga harus dilengkapi dengan infrastruktur pendukung, seperti akomodasi yang cukup, akses jalan yang mudah, dan lahan parkir yang luas.

Saat ini ICE dapat diakses dari jalan tol lingkar luar ke arah BSD dan tol Jakarta-Tangerang. Akses baru, tol BSD-Bandara Soekarno-Hatta, diharapkan sudah beroperasi sebelum Asian Games 2018. Kemudahan akses ini menjadi kelebihan ICE.

Dyandra Media International yang menguasai 80 persen pangsa meeting, incentive, conference/convention, exhibition (MICE) di Indonesia merupakan perusahaan MICE terintegrasi. Selain gedung konvensi dan hotel, Dyandra juga memiliki perusahaan pendukung lainnya. Grup usaha ini berekspansi ke Medan (Santika Premiere Dyandra Hotel and Convention), Bali (Nusa Dua Convention Center), Surabaya (Gramedia Expo) dan Makassar, serta di BSD Tangerang (ICE).

Indonesia harus menjadi raja di negeri sendiri, terutama, kata Lilik Oetama, CEO Dyandra Media International, pada saat ini perekonomian di Eropa turun, di Amerika Serikat stagnan, dan di Tiongkok dan India jenuh (Kompas, 18 Februari 2013).

Permintaan tinggi
Direktur Dyandra Promosindo Hendra Noor Saleh mengatakan, ICE hadir karena kebutuhan dan permintaan atas MICE makin tinggi di Indonesia. Gedung ICE merupakan jawaban atas surplus permintaan MICE. Selama ini, kata Hendra, banyak peluang MICE terlepas dari tangan Indonesia karena keterbatasan venue sehingga yang menikmati berbagai acara MICE adalah negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia dan Thailand.

Di Indonesia, industri MICE berkembang di Jakarta dan Bali. Kota-kota besar yang punya potensi wisata, seperti Bandung, Yogyakarta, Solo, Balikpapan, Manado, Medan, dan Lombok, belum memiliki infrastruktur MICE memadai.

Di Jakarta dan sekitarnya, selama ini acara-acara MICE hanya mengandalkan venue yang terbatas, seperti Jakarta Convention Center di Senayan, Jakarta International Expo (JIExpo) di Kemayoran, dan Sentul City. Adapun ballroom hotel-hotel berbintang lima belum cukup menampung ribuan orang untuk konser musik skala besar, seperti konser Michael Buble belum lama ini.

Namun, pada 2015, wajah pelaku industri MICE tersenyum lebar. Apabila dulu Indonesia belum memiliki gedung konvensi dan ekshibisi yang besar dan luas, kini Indonesia boleh bangga memiliki ICE di BSD City yang sangat representatif.

Makin banyaknya kegiatan MICE di Indonesia akan memberikan efek domino bagi perekonomian bangsa karena MICE membuka peluang bisnis yang lebih luas.

Indonesia memang ”surga” wisata MICE dunia. Tahun 2013, MICE memberi kontribusi 40 persen dari jumlah kunjungan wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia. Sedikitnya 282.000 orang mengikuti berbagai acara MICE pada tahun itu, yang menghasilkan sekitar Rp 19,9 triliun dan menciptakan 262.000 pekerjaan. Industri MICE memberi kontribusi besar dalam industri pariwisata. Pengeluaran  wisatawan untuk MICE tiga kali lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran kegiatan pariwisata lainnya.

Kehadiran ICE di BSD City diharapkan mampu menjadi pemacu perkembangan industri MICE di Indonesia. Selain akan memacu perkembangan wilayah Tangerang dan sekitarnya di Banten, ICE BSD City diharapkan menjadi ikon baru industri MICE Indonesia.

Membanjirnya penggemar musik, seperti terlihat dalam konser musik Michael Buble beberapa waktu lalu, juga menunjukkan pesatnya pertumbuhan kelas menengah di Indonesia. Harga tiket paling murah Rp 850.000 dan paling mahal Rp 6 jutaan. Faktanya, 9.000 tiket terjual habis tanpa tersisa! Tumbuhnya kelas menengah di Indonesia ini ditunjukkan dengan kebutuhan mereka akan dunia hiburan yang berkelas.

Publik tentu berharap, selain mengundang musisi internasional ke Indonesia, pengelola MICE juga   menggelar acara-acara khas Indonesia yang mengundang wisatawan mancanegara dan wisatawan Nusantara, termasuk mengangkat musisi Indonesia   dalam konser-konser musik.

Kita juga berharap industri MICE di Indonesia mampu mengangkat usaha kecil dan menengah Indonesia melalui berbagai pameran yang digelar dan menghidupkan serta membesarkan ekonomi kreatif dalam negeri melalui berbagai acara yang diadakan.

SUMBER: DUDUK PERKARA, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SENIN 2 FEBRUARI 2015

Iklan