Pembangunan LRT dan Kemacetan di Ibu Kota


ROBERT ADHI KSP
PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta berencana membangun kereta ringan (light rail transit) sebagai salah satu moda transportasi massal di Ibu Kota. Pembangunan LRT itu tidak akan menggunakan dana APBD DKI Jakarta, tetapi dari dana para pengembang yang memiliki proyek properti di Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pekan lalu menggelar rapat dengan para pengembang yang akan menyandang dana pembangunan kereta ringan (LRT) tersebut. (Kompas.com, 22/1/2015).  LRT dipilih karena tidak banyak membebaskan lahan dan dapat dibangun di atas jalan-jalan yang sudah ada. LRT juga lebih fleksibel karena dapat dibangun di antara gedung-gedung jangkung. Kapasitas daya angkut LRT juga lebih besar dibandingkan dengan monorel dan bustransjakarta.

LRT

Menurut rencana, akan ada tujuh rute LRT, yaitu Kebayoran Lama-Kelapa Gading (21.6 kilometer), Tanah Abang-Pulomas (17,6 km), Joglo-Tanah Abang (11 km), Puri Kembangan-Tanah Abang (9,3 km), Pesing-Kelapa Gading (20,7 km), Pesing-Bandara Internasional Soekarno-Hatta (18,5 km), dan Cempaka Putih-Ancol (10 km).

Pengembang yang akan terlibat dalam pembangunan LRT Jakarta adalah Agung Sedayu Group, Agung Podomoro Group, JIExpo, PT Intiland, Lippo Group, Panin Group, Summarecon Agung, dan Pakuwon Group. Dua BUMD DKI Jakarta yang terlibat adalah PT Pembangunan Jaya Ancol dan PT Jakarta Propertindo (Jakpro).

Para pengembang ini memiliki berbagai proyek properti di Jakarta. Masuk akal apabila para pengembang itu ramai-ramai sepakat membangun LRT yang akan melintasi lokasi properti mereka. Selain akan membantu mengurangi kemacetan lalu lintas di Jakarta, kehadiran LRT akan memberi nilai tambah bagi properti itu.

LRT yang akan melintasi gedung perkantoran, apartemen, dan pusat perbelanjaan yang dibangun dan dioperasikan para pengembang itu diharapkan dapat mengurangi penggunaan mobil dan motor di Jakarta. Bagaimanapun, kehadiran mal-mal di seputar Jakarta ikut memberi kontribusi pada kemacetan lalu lintas.

Upaya Pemprov DKI Jakarta dan para pengembang properti itu layak didukung. Apalagi pembangunan LRT ini salah satu upaya menyambut Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games 2018 (bersama Palembang di Sumatera Selatan).

Publik berharap pembangunan LRT bersinergi dengan transportasi massal cepat (MRT), KRL Commuter Line Jabodetabek, dan bus transjakarta. Masyarakat sudah lama mendambakan transportasi publik yang nyaman, aman, manusiawi, dan saling terhubung di Ibu Kota.

Sudah saatnya Jakarta memiliki sistem transportasi massal berkualitas internasional yang sama baiknya dengan kota-kota di dunia. Pemerintah harus memberi alternatif bagi warganya untuk melakukan mobilitas dan aktivitas. Kalau tidak naik mobil atau motor, warga harus menggunakan alternatif apa? Pemerintah tidak cukup dengan melarang kendaraan melintasi jalan tertentu, menaikkan pajak kendaraan, atau menerapkan jalan berbayar, tetapi juga wajib menyediakan transportasi massal yang baik. Publik berharap Gubernur Basuki Tjahaja Purnama dapat mewujudkan harapan tersebut.

robert.adhiksp@kompas.com

SUMBER: SUDUT PANDANG, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SELASA 27 JANUARI 2015

Iklan

Boko Haram dan Kekerasan di Nigeria


Boko Haram dan Kekerasan di Nigeria

ROBERT ADHI KSP

SERANGAN simultan Boko Haram ke berbagai kota di Nigeria beberapa tahun terakhir ini mencerminkan kegagalan pemerintahan Nigeria pimpinan Presiden Goodluck Ebele Azikiwe Jonathan melepaskan negeri itu dari kekacauan. Amnesti Internasional menyatakan, ratusan ribu warga sipil di Nigeria kini dalam bahaya.

Boko Haram, kelompok militan yang dicap sebagai organisasi teroris oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyerang Maiduguri, salah satu kota penting di Nigeria, Minggu (25/1).

Maiduguri adalah ibu kota Negara Bagian Borno. Kota itu menjadi pusat kendali operasi militer untuk menghadapi kelompok militan di tiga negara bagian, yaitu Adamawa, Borno, dan Yobe di timur laut Nigeria. Operasi militer dilancarkan menyusul pengumuman negara dalam keadaan darurat oleh Presiden Nigeria pada Mei 2013 selama enam bulan dan diperpanjang lagi pada 15 November untuk enam bulan berikutnya. Namun, yang terjadi, kekerasan semakin menjadi-jadi. Ironisnya, pada Januari 2015, kota Maiduguri jatuh ke tangan Boko Haram.

Belum lama, kelompok militan ini menyerang kota Monguno dan membakar ratusan rumah di wilayah itu. Monguno, kota berpenduduk 100.000 orang di timur laut Nigeria, berjarak sekitar 135 km dari Maiduguri yang berpenduduk 600.000 jiwa. Kedua kota itu terselip di sudut negara, dekat perbatasan Chad dan Kamerun (Strategic city falls in Nigeria’s battle against Boko Haram, CNN, 25 Januari 2015).

Kelompok militan memobilisasi lebih banyak orang dan kembali dengan kekuatan penuh sehingga pasukan pemerintah kewalahan.

Serangan ini merupakan rangkaian serangan yang dilakukan secara simultan oleh kelompok militan ini. Hingga kini, Boko Haram mengendalikan beberapa kota di wilayah timur laut Nigeria, yaitu kota-kota Baga, Marte, Ngala, Dikwa, Bama, Banki, Gwoza, Madagali, Gulak, Michika, Chibok, Buni Yadi, Monguno dan Maiduguri.

Boko Haram belum lama ini juga menyerang negara tetangga, Kamerun. Pada Mei 2014, sejumlah negara di Afrika, yaitu Benin, Chad, Kamerun, dan Niger, bergabung dengan Nigeria, bersama-sama menghadapi Boko Haram, menyusul penculikan yang dilakukan kelompok militan itu terhadap 276 pelajar sekolah di Chibok di Negara Bagian Borno, April 2014.

Presiden Nigeria Goodluck Jonathan menyebutkan, serangan Boko Haram di berbagai wilayah di negeri itu menyebabkan sedikitnya 12.000 orang tewas dan 8.000 orang lumpuh. Sampai saat ini, sebanyak 1,5 juta orang mengungsi dari zona konflik.

Lanjutkan membaca Boko Haram dan Kekerasan di Nigeria

Celine Dion, Peraih Dua Kali Oscar


Celine Dion

ROBERT ADHI KSP

Celine Dion, penyanyi Kanada yang sukses meraih dua Academy Awards untuk lagu soundtrack ”Beauty and The Beast” dan ”My Heart Will Go On”. Vokalis pop kontemporer ini juga mengoleksi penghargaan musik di seluruh dunia, mulai dari Grammy Awards di Amerika Serikat, Juno dan Felix Awards di Kanada, hingga World Music Awards yang mengukuhkan dirinya sebagai ”the best-selling female artist of all time”.

Lahir di Charlemagne, sebuah kota kecil sekitar 30 mil dari Montreal timur, Quebec, Kanada, pada 30 Maret 1968, Celine, anak bungsu dari 14 bersaudara, adalah keluarga pemusik. Kedua orangtuanya adalah musisi, mengoperasikan klub kecil, dan setiap akhir pekan keluarga itu tampil serta menghibur warga setempat.

Sejak usia 5 tahun, Celine bernyanyi bersama saudara-saudaranya, dengan cepat mampu tampil di depan publik. Pada usia 12 tahun, bersama ibunda dan kakak lelakinya, Celine menciptakan sebuah lagu Perancis, yang mengubah hidupnya selamanya. Tape demo yang berisi lagu ciptannya itu membuat René Angélil, manajer personal, melihat talentanya. Pada Januari 1981, René terpesona oleh suara Celine muda. René kemudian mengantarkan Celine ke kancah musik internasional. René bahkan menggadaikan rumahnya agar dapat membiayai rekaman album debut Celine!

Celine mulai menerima pengakuan atas bakatnya pada 1982 setelah dia meraih medali emas dalam Yamaha World Song Festival di Tokyo, Jepang, dan meraih predikat Top Performer. Pada 1983, Celine menjadi orang Kanada pertama yang menerima Gold Record di Perancis.

Pada 1988, Celine sukses membuat namanya sebagai brand dirinya dari Quebec, tempat dia menikmati status superstar yang menerima sejumlah Felix Awards dan meraih predikat platinum untuk album-albumnya. Pada tahun yang sama, Celine memenangi penghargaan Eurovision Song Contest di Dublin, Irlandia, tempat dia tampil yang disiarkan langsung dan ditonton sekitar 600 juta orang di seluruh Eropa, Uni Soviet, Timur Tengah, Jepang, dan Australia.

Pada September 1990, Celine merilis Unison, albumnya berbahasa Inggris pertama dan album pertamanya yang digarap Sony Music. Lagu ”Where Does My Heart Beat Now” sukses menembus lima besar di AS. Karier internasional Celine berkibar ketika dia merekam lagu soundtrack untuk film animasi Disney berjudul Beauty and the Beast. .

”Beauty and the Beast” menjadi landasan bagi Celine merekam album kedua berbahasa Inggris yang bertajuk Celine Dion. Album itu memuat empat lagu lainnya, yaitu ”Love Can Move Mountains”, ”Water From The Moon”, ”If You Asked Me To”, dan ”Did You Give Enough Love”. Di Kanada, album itu meraih enam kali predikat platinum dan memenangi Juno Awards.

Lanjutkan membaca Celine Dion, Peraih Dua Kali Oscar

Menyoal Pembatasan Usia Kendaraan


ROBERT ADHI KSP

PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta berencana membatasi usia kendaraan bermotor di Jakarta maksimal 10 tahun.

Rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini sesungguhnya bukanlah solusi yang bijak. Mengapa? Pemerintah tidak punya hak melarang warga negara memiliki kendaraan, berapa pun usianya. Mobil tua yang usianya lebih dari 10 tahun, kalau dirawat dengan baik, tentu masih bisa berfungsi. Jadi, apa masalahnya?

Pemprov Jakarta tidak boleh semena-mena dengan beranggapan semua warga Ibu Kota memiliki daya beli yang kuat. Harus diingat, tidak semua orang mampu membeli mobil baru. Masih banyak warga yang, karena keterbatasan dana, terpaksa membeli mobil bekas. Mereka dipaksa keadaan untuk membeli mobil karena pemerintah belum mampu menyediakan transportasi publik yang memadai.

Pembatasan KendaraanPemerintah sebaiknya fokus menyediakan transportasi publik yang aman dan nyaman lebih dahulu. Apakah layanan bus transjakarta sudah dibenahi? Apakah bus-bus yang berumur tua, reyot, dan alat pendingin tak berfungsi maksimal sudah diganti dengan bus yang baru? Apakah jangkauan layanan bus transjakarta sudah diperluas hingga ke jantung wilayah permukiman di Bogor, Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Bekasi? Pada kenyataannya, layanan bus transjakarta masih belum maksimal. Masih banyak keluhan pengguna bus transjakarta, mulai dari kondisi bus sampai waktu tunggu yang terlalu lama.

Pemprov Jakarta juga harus mendukung penuh PT Kereta Api Indonesia Jabodetabek yang mengoperasikan commuter line di wilayah Jabodetabek. Dukungan itu bisa dalam bentuk kemudahan akses dari dan ke stasiun-stasiun. Penumpang kereta rel listrik (KRL) yang baru turun dari stasiun KRL dengan mudah mencari angkutan umum ke tempat kerja. Pemerintah daerah juga wajib membangun trotoar di seputar stasiun agar penumpang dengan mudah berjalan kaki dari dan ke stasiun. Sejauh ini, fasilitas bagi pejalan kaki masih sangat kurang! Kalaupun ada, fungsinya berubah menjadi lokasi pedagang kaki lima. Sungguh memprihatinkan!

Dukungan yang sama harus diberikan pemda di Bodetabek. Selain memperluas lahan parkir di dekat stasiun agar konsep park and ride diterapkan, pemda juga wajib memperlebar akses ke stasiun dan menyediakan angkutan umum. Intinya, stasiun-stasiun KRL di Jabodetabek dipercantik dan ramah bagi penggunanya.

Pemprov DKI Jakarta sebaiknya mempercepat penyelesaian pembangunan transportasi massal cepat (MRT) agar dapat digunakan warga. Selesaikan semua persoalan yang menghambat agar MRT dapat beroperasi tepat waktu. Pemprov sebaiknya juga segera menerapkan kebijakan electronic road pricing (ERP) atau jalan berbayar elektronik. Pajak progresif bagi pemilik kendaraan yang memiliki kendaraan kedua, ketiga, dan seterusnya juga lebih logis. Pemprov perlu merealisasikan jalur khusus sepeda yang aman di wilayah Ibu Kota untuk mendorong lebih banyak orang beralih naik sepeda. Pengendara motor yang memasuki jalur sepeda harus ditilang!

Banyak solusi lain yang lebih pas untuk mengurangi kemacetan lalu lintas di Ibu Kota. Publik berharap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama bersikap bijak dan manusiawi dalam mengeluarkan kebijakan. Apabila layanan transportasi publik sudah aman dan nyaman di seluruh Jabodetabek, tentu otomatis akan banyak warga yang beralih ke transportasi publik.

robert.adhiksp@kompas.com

SUMBER: SUDUT PANDANG, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SELASA 20 JANUARI 2015

Genderang Perang terhadap Mafia Narkoba Ditabuh


Perang terhadap Mafia Narkoba

ROBERT ADHI KSP

DI bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, Pemerintah Indonesia akhirnya mengeksekusi enam terpidana mati kasus kejahatan narkotika. Dibutuhkan tindakan tegas untuk mengatasi persoalan ”Indonesia darurat narkotika” yang membahayakan generasi muda. Inilah sinyal yang benderang, genderang perang terhadap mafia dan bandar narkoba sudah ditabuh. Negara hadir dalam ”pertempuran” melawan sindikat narkoba!

Indonesia saat ini bukan lagi sebagai tempat transit sindikat narkoba internasional, melainkan sudah menjadi ”pasar” yang menggiurkan. Jika pada 1990-an, dalam setiap sidang umum Interpol, nama Indonesia hanya disebut sebagai tempat transit, kondisi ini sudah berubah sejak tahun 2000-an.

Salah satu bukti adalah terbongkarnya kasus penyelundupan 862 kilogram sabu oleh warga negara asing, Wong Ping Ching, belum lama ini. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Anang Iskandar menggambarkan, seandainya sabu itu beredar, sedikitnya 3,2 juta orang akan diracuni narkoba itu. Masa depan mereka suram. Apa yang didapatkan BNN ini termasuk yang terbesar.

Meski sudah berulang kali aparat penegak hukum menangkap bandar dan menyita barang bukti, kasus kejahatan narkoba di Indonesia tak juga berhenti.

Vonis mati untuk para bandar narkoba selama ini dianggap basa-basi. Bandar-bandar narkoba terus merajalela. Mereka tidak peduli berapa banyak anak muda Indonesia kehilangan masa depan dan mati sia-sia akibat narkoba yang mereka perdagangkan. Sedikitnya 50 orang Indonesia meninggal dunia setiap hari karena narkoba.

Karena itulah, tidaklah heran apabila banyak orang Indonesia mendukung penuh kebijakan Presiden Joko Widodo menolak grasi bandar narkoba dan memutuskan agar vonis mati mereka segera dieksekusi.

”Perang terhadap mafia narkoba tidak boleh setengah-setengah karena narkoba benar-benar sudah merusak kehidupan, baik kehidupan penggunanya maupun kehidupan keluarga pengguna narkoba. Tak ada kebahagiaan hidup yang didapat dari menyalahgunakan narkoba. Negara harus hadir dan langsung bertempur melawan sindikat narkoba. Indonesia sehat, Indonesia tanpa narkoba,” demikian ungkap Presiden Joko Widodo dalam Facebook-nya, Minggu (18/1).

Lanjutkan membaca Genderang Perang terhadap Mafia Narkoba Ditabuh

Michael Bublé, Anak Nelayan yang Sukses Jadi Penyanyi


Michael Buble

Tanggal 29 Januari 2015, Michael Bublé akan tampil di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Serpong, Tangerang Selatan. Sudah siap menghibur kami, Michael?

ROBERT ADHI KSP

MICHAEL Bublé (39) adalah penyanyi dan pencipta lagu yang memenangi empat penghargaan Grammy serta mengantongi sertifikat multiplatinum di lebih dari 15 negara. Anak nelayan salmon asal Kanada yang sejak kecil sudah bercita-cita menjadi penyanyi ini digemari para penggemar musik semua usia karena lagu-lagu yang dibawakannya berasal dari berbagai generasi.

Michael Bublé mulai diterima penggemar musik di seluruh dunia setelah albumnya, It’s Time (2005) dan Call Me Irresponsible (2007), mencapai posisi puncak di tangga album Kanada, Inggris, Australia, serta Billboard 200 di Amerika Serikat, dan beberapa negara di Eropa.

Album Crazy Love (2009) sukses bertengger di posisi pertama Billboard 200 di AS, tiga hari setelah dirilis di pasar, dan bertahan di sana selama dua pekan. Album Christmas (2011) bertengger di posisi pertama Billboard 200 dan bertahan selama empat pekan pada akhir 2011 dan pekan pertama 2012, atau total lima minggu di posisi puncak. Album itu juga masuk lima besar di Inggris Raya. Dengan demikian, album Christmas menjadi album ketiganya yang berada di puncak tangga album.

Album To Be Loved yang dirilis April 2013 memuat beberapa single dan komposisi orisinal Michael Bublé, di antaranya ”It’s a Beautiful Day”, ”Close Your Eyes”, dan ”After All”, bersama Bryan Adams.

Salah satu lagu ciptaan Bublé (bersama Alan Chang dan Amy Foster-Gilles) adalah ”Haven’t Met You Yet” yang masuk dalam album Crazy Love (2009). Dalam video lagu itu muncul seorang perempuan cantik berambut pirang dan bertubuh ramping. Perempuan itu adalah Luisana Lopilato (27), aktris terkenal Argentina, saat itu menjadi tunangannya, kini menjadi istri Bublé. ”Video ini tentang impian setiap orang yang mencari hubungan dan cinta,” kata Bublé, yang menciptakan lagu itu khusus untuk istri tercinta.

Michael Bublé dan Luisana Lopilato menikah pada 2011, dua tahun setelah mereka bertunangan. Lopilato, aktris Argentina yang membintangi acara-acara TV lokal yang populer, di antaranya Chiquititas,Rebelde Way, Alma Pirata, Casados con Hijos, mengungkapkan, awalnya Michael yang mengejar dirinya saat awal menjalin hubungan. ”Saya menonton pertunjukan Bublé karena saya menyukai lagu-lagunya. Dia melihat saya di halaman parkir, tetapi saya tidak melihat dia. Lalu, anggota staf Bublé bertanya apakah saya ingin berfoto bareng dengan Michael, saya jawab, ”Tidak, terima kasih. Saya pikir gengsi dong. Saya, kan, aktris terkenal di negara saya,” ungkap Lopilato.

Bublé dan Lopilato kemudian bertemu dalam sebuah pesta yang digelar perusahaan rekaman setelah pertunjukannya di Buenos Aires, Argentina. Bos perusahaan rekaman ingin memperkenalkan Michael kepada aktris paling terkenal di Argentina. Ketika bertemu Lopilato dalam acara itu, Bublé menyatakan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama kepada gadis cantik Argentina itu.

Bublé sebelumnya sudah bertunangan dengan aktris dan penyanyi Debbie Timuss, tetapi pasangan ini berpisah pada November 2005. Bublé juga pernah berpacaran dengan aktris Emily Blunt selama dua tahun sebelum berpisah pada 2008.

Lanjutkan membaca Michael Bublé, Anak Nelayan yang Sukses Jadi Penyanyi

Musibah AirAsia dan Kehadiran Negara


ROBERT ADHI KSP

HARI Senin (12/1) atau 16 hari setelah pesawat bertarif murah AirAsia QZ 8501 jurusan Surabaya-Singapura jatuh di perairan Selat Karimata- Laut Jawa, Badan SAR Nasional menemukan satu bagian kotak hitam pesawat Airbus A320 itu.

Dua hari sebelumnya, penyelam-penyelam Badan SAR Nasional (Basarnas) berhasil mengangkat ekor pesawat tersebut dari dasar laut.

Tim Basarnas yang melaksanakan tugas kemanusiaan tanpa henti ini patut diberi apresiasi tinggi. Anggota TNI dan Polri dari berbagai kesatuan dan unit itu merelakan hari-hari libur akhir tahun yang seharusnya dimanfaatkan untuk berkumpul dengan keluarga diisi dengan melaksanakan tugas kemanusiaan.Kehadiran Negara

Berhari-hari mereka berada di laut, mencari jenazah penumpang dan awak AirAsia, serta mengantarkannya ke daratan. Berhari-hari mereka bergelut dengan jenazah dan puing-puing pesawat yang dievakuasi dari laut. Berhari-hari mereka memeriksa jenazah-jenazah itu agar bisa dikenali dan dikembalikan kepada keluarga. Tentu ada saat-saat lelah dan jenuh. Namun, mereka tetap bersemangat menjalani tugas kemanusiaan ini. Jika Kepala Basarnas Marsekal Madya FHB Soelistyo berhari-hari belum pulang ke rumah, apalagi anggota di lapangan.

Kehadiran Panglima TNI Jenderal Moeldoko di lapangan belum lama ini tentu dalam konteks memberi semangat kepada anggota-anggota TNI yang mengemban tugas kemanusiaan itu.

Selain itu, kita juga melihat bagaimana Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini begitu peduli kepada keluarga korban AirAsia yang sedang berduka. Dia selalu menghibur mereka yang kehilangan anggota keluarga yang dicintai. Sebanyak 81 penumpang AirAsia yang jatuh di laut itu adalah warga Surabaya, Jawa Timur. Risma sejak awal sudah meminta aparat keamanan serta ketua rukun warga/rukun tetangga membantu mengamankan rumah-rumah keluarga penumpang AirAsia. Risma juga sempat memindahkan kantornya ke posko di Bandara Juanda. Setelah jenazah dievakuasi dan berdatangan ke Surabaya, Risma menjamin biaya pemakaman dan kremasi para korban.

Ada benang merah dalam penanganan musibah AirAsia ini, yaitu kepedulian dan empati. Karakter positif bangsa Indonesia pada umumnya adalah selalu berempati, bersimpati, dan peduli kepada mereka yang mengalami musibah. Ini tidak hanya terjadi pada musibah AirAsia, tetapi juga pada musibah-musibah lainnya yang terjadi di sejumlah tempat.

Sejak awal Presiden Joko Widodo sudah menginstruksikan semua jajaran pemerintahan, TNI, dan Polri untuk menangani jatuhnya AirAsia dengan tepat. Presiden menegaskan, negara akan selalu hadir ketika musibah datang, ketika muncul persoalan-persoalan dalam masyarakat. Negara harus selalu hadir agar rakyat tidak merasa ditinggal sendirian.

Apa yang dilakukan Presiden Joko Widodo, Kepala Basarnas dan jajarannya, Panglima TNI, Kapolri, dan Wali Kota Surabaya dalam penanganan jatuhnya AirAsia membuktikan bahwa negara secara nyata hadir di tengah-tengah rakyat yang mengalami musibah. Tidak berlebihan apabila kita memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua yang melaksanakan tugas kemanusiaan ini.

robert.adhiksp@kompas.com

SUMBER: SUDUT PANDANG, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SELASA 13 JANUARI 2015

Pekerjaan Rumah Kapolri Baru pada Era Revolusi Mental


Kapolri Baru

ROBERT ADHI KSP

Pergantian jabatan kepala Polri sebenarnya merupakan hal yang biasa. Namun, yang menjadi berbeda kali ini adalah pergantian kepala Polri dilaksanakan pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo yang menggaungkan revolusi mental. Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan kepala Polri baru pada era revolusi mental.

Publik berharap sosok kepala Polri betul-betul sosok yang dapat membawa institusi Polri disegani dan dihormati. Kapolri yang baru adalah sosok yang bersih dari masalah korupsi dan suap sehingga dapat menjadikan lembaga Polri bersih dari korupsi. Jangan sampai kasus yang memalukan Polri, yaitu kasus mantan Kepala Korps Lalu Lintas Polri Djoko Susilo, terulang lagi.

Djoko Susilo terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan korupsi pengadaan simulator kemudi roda dua dan roda empat di Korps Lalu Lintas pada 2010-2011. Jenderal polisi berbintang dua itu juga terbukti melakukan tindak pidana pencucian uang dalam periode 2003-2010 dan 2010-2012. Djoko Susilo divonis pidana 18 tahun penjara oleh Pengadilan Tinggi Jakarta yang menolak banding, dan diperkuat Mahkamah Agung yang menolak kasasinya. Selain diwajibkan membayar denda, hak memilih dan dipilih jabatan publiknya dicabut.

Pelayanan publik

Salah satu roh revolusi mental yang digaungkan Presiden Joko Widodo adalah pelayanan publik. Dalam konteks ini, publik berharap Polri meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Selama ini, pencari keadilan dan hukum yang berhubungan dengan polisi acap kali tidak dilayani dengan baik.

Sebuah survei pada Oktober 2012, yang melibatkan 10.000 keluarga di 33 provinsi, yang dikutip Wall Street Journal, menyebutkan, satu dari tiga orang Indonesia menganggap menyuap polisi sebagai hal normal dan wajar. Memberi uang lebih kepada polisi agar urusan lancar. Persoalan ini terjadi bertahun-tahun. (”Many in Indonesia See Bribing Police as Normal”, Wall Street Journal, 2 Januari 2013).

Anekdot yang hingga sampai saat ini masih sering terucap, ”lapor kehilangan ayam malah kehilangan kambing”. Artinya, masih banyak yang enggan melaporkan kejahatan yang dialami kepada polisi karena si pelapor khawatir harus kehilangan banyak uang lagi untuk ”membantu” polisi mengejar penjahat.

Lanjutkan membaca Pekerjaan Rumah Kapolri Baru pada Era Revolusi Mental

Nicole Kidman, Si Seksi dari Australia


Nicole KidmanROBERT ADHI KSP

Nicole Kidman (47) adalah aktris dan produser film yang pernah meraih penghargaan Oscar untuk kategori Aktris Terbaik dalam film ”The Hours” (2002). Mantan istri bintang film Tom Cruise itu pernah dinobatkan sebagai perempuan Australia terkaya di bawah usia 40 tahun oleh majalah bisnis Australia ”Business Review Weekly” pada Agustus 2004. Pada saat itu, kekayaan Kidman 155 juta dollar Australia.

Nicole Kidman adalah aktris pertama Australia dan aktris ke-123 yang menerima Academy Awards. Dia memenangi Piala Oscar kategori Aktris Terbaik dalam film The Hours yang digelar pada 23 Maret 2003. Kidman membintangi 11 film yang mendapat nomine, tapi hanya satu yang meraih kemenangan.

Ketika memberi komentar setelah menerima Piala Oscar dalam Academy Awards ke-75, Kidman mengatakan, ”Saya berdiri di depan ibunda saya, dan sepanjang hidup saya, saya ingin ibu saya bangga kepada anaknya. Saya juga ingin anak perempuan saya bangga kepada saya.”

Perempuan berambut merah dan bermata biru itu sering bermain dengan karakter dingin dan emosional. Tubuhnya yang langsing dan tinggi berpenampilan mirip model. Kidman memiliki adik kandung, Antonia Kidman, bintang televisi Australia.

Kidman yang memiliki keturunan Inggris, Irlandia, dan Skotlandia ini lahir di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat, pada 20 Juni 1967. Ibunya, Janelle Ann (Glenny), instruktur perawat. Aayahnya, Antony David Kidman, psikolog klinik dan ahli biokimia. Tak lama setelah Kidman lahir, keluarganya pindah ke Washington DC. Di kota itu, ayahnya melanjutkan penelitian tentang kanker payudara, tetapi tiga tahun kemudian kembali ke Sydney, Australia.

Ketika ibunya didiagnosis mengidap kanker payudara, Kidman yang berusia 17 tahun berhenti bekerja dan mengambil kursus pijat sehingga dia dapat melakukan terapi fisik. Sang ibu akhirnya dapat mengalahkan kanker. Ayahnya meninggal dunia akibat serangan jantung di Singapura pada usia 75 tahun.

Kehidupan keluarga menjadi prioritas bagi Kidman. Lahir sebagai aktivis sosial (ibunya seorang feminis, sedangkan ayahnya seorang advokat buruh), Kidman dan adiknya, Antonia, mendiskusikan berbagai peristiwa dalam meja makan dan berperan serta dalam kampanye-kampanye yang diikuti kedua orangtuanya di sudut-sudut jalan.

Lanjutkan membaca Nicole Kidman, Si Seksi dari Australia

Saatnya Memberi Tempat bagi Pejalan Kaki


ROBERT ADHI KSP

Sudah saatnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pemerintah kota-kabupaten di sekitar Jakarta memberi fasilitas bagi pejalan kaki. Hingga saat ini, Jakarta dan kota-kota penyangganya sangat tidak ramah pada pejalan kaki.

Di kota-kota besar di dunia, pejalan kaki mendapat tempat terhormat. Singapura, misalnya, menyediakan kawasan pejalan kaki yang lebar sehingga orang leluasa berjalan kaki tanpa khawatir disenggol kendaraan. Di Shanghai, Tiongkok, kawasan belanja Nanjing Road menyediakan tempat bagi pejalan kaki. Demikian pula kota-kota di Eropa, seperti Paris, Amsterdam, dan London. Kota-kota yang memiliki sistem tranpsortasi massal yang terintegrasi menyediakan tempat yang nyaman dan aman bagi pejalan kaki.

Pejalan KakiNamun, bagaimana dengan Jakarta dan kota-kota penyangganya? Masih banyak trotoar yang seharusnya digunakan pejalan kaki malah dibiarkan diokupasi pedagang kaki lima atau pihak lain.

Ketika banyak pekerja komuter menggunakan kereta api sebagai angkutan menuju tempat kerja, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih mengabaikan penyediaan tempat bagi pejalan kaki yang nyaman dari dan ke stasiun-stasiun kereta. Ambil contoh Stasiun Palmerah, Jakarta Pusat. Mereka yang akan ke stasiun atau baru keluar dari stasiun kesulitan berjalan kaki dengan perasaan aman karena cemas sewaktu-waktu dapat disenggol kendaraan yang melaju kencang. Trotoarnya sempit. Itu pun masih terganggu dengan kehadiran bangunan posko dan warung kaki lima. Ini hanya salah satu contoh.

Pemerintah kota dan kabupaten di pinggiran Jakarta juga harus menyediakan tempat bagi pejalan kaki agar mereka yang akan ke dan dari stasiun kereta dan terminal merasa nyaman.

Bukan hanya trotoar di sekitar stasiun dan terminal yang perlu disediakan pemerintah, tetapi juga di kawasan-kawasan belanja. Apakah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah membangun trotoar di kawasan-kawasan belanja? Pusat perbelanjaan yang berdekatan, seperti Mal Taman Anggrek dan Central Park, seharusnya saling terhubung dan dapat diakses melalui trotoar pejalan kaki. Demikian juga Plaza Indonesia, Grand Indonesia, dan Thamrin City yang berdekatan sebaiknya dapat diakses pejalan kaki melalui trotoar yang nyaman.

Fasilitas bagi pejalan kaki juga bisa disediakan melalui terowongan bawah tanah. Di Fukuoka, Jepang, misalnya, antara satu pusat perbelanjaan dan lainnya bisa terhubung satu sama lain melalui kawasan pejalan kaki bawah tanah. Demikian pula di Singapura dan kota-kota lainnya di mancanegara. Di Jakarta, kawasan belanja Senayan, misalnya, sebaiknya terhubung satu sama lain dan bisa diakses pejalan kaki melalui terowongan bawah tanah. Plaza Senayan, Senayan City, Senayan Trade Center, dan fX Sudirman, bahkan sampai ke Pacific Place di SCBD.

Kita berharap fasilitas pejalan kaki ini disediakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, bekerja sama dengan para pengembang. Apalagi bila MRT dan kereta bandara sudah beroperasi, kebutuhan fasilitas bagi pejalan kaki harus menjadi prioritas.

Publik mengharapkan keberpihakan pemerintah pada pejalan kaki. Kini sudah waktunya, pemerintah memberi tempat terhormat bagi pejalan kaki!

robert.adhiksp@kompas.com

SUMBER: SUDUT PANDANG, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SELASA 6 JANUARI 2015

Writing is the Painting of the Voice

%d blogger menyukai ini: